O slideshow foi denunciado.
Utilizamos seu perfil e dados de atividades no LinkedIn para personalizar e exibir anúncios mais relevantes. Altere suas preferências de anúncios quando desejar.

Makalah 'AM dan KHASH (Ulumul Qur'an 2)

makalah yang menjelaskan tentang 'AM dan KHASH, guna memenuhi tugas mata kuliah ULUMUL QUR'AN 2.
untuk lebih lengkapnya kunjungi blog saya di khusnulsawo.blogspot.com \(^o^)/

  • Seja o primeiro a comentar

Makalah 'AM dan KHASH (Ulumul Qur'an 2)

  1. 1. ‘AM DAN KHASH M A K A L A H Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah " Ulumul Qur’an 2 " Dosen Pengampu : Afiful Ikhwan, M.Pd.I Oleh : KHUSNUL KOTIMAH 2013.4.047.0001.1.001683 PAI – Smt 3/ Sawo PROGAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM MUHAMMADIYAH (STAIM) TULUNGAGUNG Nopember 2014
  2. 2. KATA PENGANTAR Syukur Alhamdulillah saya ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini. Shalawat dan salam kepada junjungan Nabi besar Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabat-sahabatnya yang telah memperjuangkan Agama Islam. Kemudian dari pada itu, saya sadar bahwa dalam menyusun makalah ini banyak yang membantu terhadap usaha saya, mengingat hal itu dengan segala hormat saya sampaikan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada : 1. Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Muhammadiyah (STAIM) Tulungagung Bapak Nurul Amin, M.Ag 2. Dosen pengampu yang telah memberikan bimbingan dalam penyusunan makalah ini Bapak Afiful Ikhwan, M.Pd.I 3. Teman – teman dan seluruh pihak yang ikut berpartisipasi dalam penyelesaian makalah. Atas bimbingan, petunjuk dan dorongan tersebut saya hanya dapat berdo' a dan memohon kepada Allah SWT semoga amal dan jerih payah mereka menjadi amal soleh di mata Allah SWT. Amin. Dan dalam penyusunan makalah ini saya sadar bahwa masih banyak kekurangan dan kekeliruan, maka dari itu saya mengharapkan keritikan positif, sehingga bisa diperbaiki seperlunya. Akhirnya saya tetap berharap semoga makalah ini menjadi butir-butir amalan saya dan bermanfaat khususnya bagi saya dan umumnya bagi seluruh pembaca. Amin Yaa Robbal 'Alamin. ii (PENYUSUN)
  3. 3. DAFTAR ISI Halaman Judul ……………………………………………….…..…....... i Kata Pengantar …………………………………………………..…........ ii Daftar Isi …………………………….....……………………..…. iii iii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ………………………………… 1 B. Rumusan Masalah ……………………………………… 2 C. Tujuan Masalah …………………………………………. 2 BAB II PEMBAHASAN ‘AM DAN KHASH A. Pengertian ‘Am dan Shigat-Shigatnya …………...……....... 3 B. Pembagian ‘Am …………….....................................…….... 6 C. Pengertian Khash dan Bentuk-Bentuk Mukhasshish .............. 8 D. Penjelasan Ayat ‘Am Yang Sudah Ditakhsis, Apakah Masih Merupakan Dalil/Hujjah?...................................................... 14 BAB III PENUTUP Kesimpulan …………………………………………….. 15 DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………… 17
  4. 4. BAB I PENDAHULUAN 1 A. Latar Belakang Masalah Konteks Syar’iyyah di dalam Al-Qur’an dan Al-Hadis merupakan dua sumber hukum yang redaksinya menetapkan hukum syar’i. Dalam menggali nilai-nilai hukum pada sumber tersebut, tidak sepatutnya seseorang langsung menukil darinya tanpa terlebih dahulu menimbangnya. Padahal tidak semua lafazh yang ada mudah dipahami sehingga memungkinkan untuk langsung diambil. Ada beberapa pengklasifikasian lafazh yang ada di dalam nash syar’i yang selayaknya ditafsirkan terlebih dahulu. Konteks Al-Qur’an dan Al-Hadis tersebut bisa berupa lafadz umum atau khusus. Lafadz yang umum atau al-‘am, ketetapan hukumnya harus diartikan kepada semua satuannya secara pasti bila disana tidak ada dalil yang mengkhususkannya. Jika terdapat dalil yang mengkhususkan maka mengenai arahan hukumnya apakah pasti (qoth’iy) atau dugaan (dzonny). Al-Qur’an dan Al-Hadis juga ada yang berupa lafadz khusus (khash), maka hukum bisa ditetapkan secara pasti selama tidak ada dalil yang mentakwilkan atau memindahkan dan menghendaki arti yang lain. Dalam lafadz khash ini terdapat lafadz mutlak yang dapat menetapkan hukum secara absolute dengan catatan tidak ada dalil yang mengikatnya. Jika lafadz itu berbentuk perintah (‘amar), maka obyek yang diperintahkannya wajib, atau berbentuk larangan (nahi) maka obyek yang dilarang itu haram. Hal tersebut bila tidak ada dalil yang merubah dari keharusannya atau ketidak bolehannya. Pada makalah ini selanjutnya, penulis akan membahas beberapa hal berkenaan dengan lafazh yang ‘am dan Khash. Diharapkan dengan mengkaji dan memahami lafazh ‘am dan Khash, seseorang tidak lagi gegabah dalam menarik sebuah nash sebagai sebuah landasan dalam berbuat.
  5. 5. 2 B. Rumusan Masalah Dari pemaparan pendahuluan di atas, terdapat permasalahan – permasalahan sebagai berikut: 1. Apa Pengertian Lafadz ‘Am dan Apa Saja Shigat-Shigatnya? 2. Apa Saja Pembagian ‘Am? 3. Apa Pengertian Lafadz Khash dan Apa Saja Bentuk-Bentuk Mukhasshish? 4. Apakah Ayat ‘Am Yang Sudah Di-takhsis Masih Merupakan Dalil/Hujjah? C. Tujuan Masalah 1. Untuk Mengetahui Pengertian Lafadz ‘Am Dan Shigat-Shigatnya. 2. Untuk Mengetahui Pembagian ‘Am. 3. Untuk Mengetahui Pengertian Lafadz Khash Dan Bentuk – Bentuk Mukhasshish. 4. Untuk Mengetahui Penjelasan Ayat ‘Am Yang Sudah Ditakhsis.
  6. 6. BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Ayat Yang ‘Am Dan Shighat-Shighatnya 3 1. Pengertian ‘Am Secara bahasa ‘Am berarti merata atau yang umum.1 Sedangkan secara istilah ‘Am ialah suatu lafadz yang menunjukan satu makna yang mencakup seluruh satuan yang tidak terbatas dalam jumlah tertentu.2 Atau juga lafadz yang menunjukan dimana ditempatkan secara lughowi dan semuanya itu berlaku untuk semua ifradnya.3 Para ulama Usul Fiqih memberikan definisi ‘am antara lain sebagai berikut: a. Menurut ulama Hanafiyah adalah setiap lafadz yang mencakup banyak, baik secara lafadz maupun makna. b. Menurut ulama Syafi’iyyah, diantaranya Al-Ghazali adalah satu lafadz yang dari satu segi menunjukan dua makna atau lebih. c. Menurut Al-Bazdawi adalah lafadz yang mencakup semua yang cocok untuk lafadz tersebut dengan satu kata.4 2. Bentuk-bentuk (Shigat-shigat) ‘Am Bentuk-bentuk umum ada tujuh : a. Lafadz Kullun, jami’un, kaaffah, ma’asyar (artinya seluruhnya) Masing-masing lafal tersebut meliputi segala yang menjadi mudhaf ilaihi dari lafadh-lafadh itu.5 Contohnya : 1Khairul Umam dan Ahyar Aminudin, Ushul Fiqih II (Bandung: Pustaka Setia, cet. II, 2001), hlm. 61 2Rachmat Syafe’i, Ilmu Ushul Fiqih (Bandung: Pustaka Setia, 2007), hlm. 193 3Abdul Wahab Khallaf, Ilmu Ushul Fiqih (Jakarta: Rineka Cipta, 1999), hlm. 225 4Aziz Wahied, Lafadz 'Am Dan Khash, dalam http://azizwahied.blogspot.com/2012/11/lafadz-am-dan-khash.html, diakses pada sabtu, 27 september 2014 pukul 11.52 5Zaziratul Fariza, Pembahasan Lafazd Dari Segi Kandungan, dalam http://zazirazirafariza.blogspot.com/2014/06/pembahasan-lafazd-dari-segi-kandungan.html, diakses pada sabtu, 27 september 2014, pukul 12.02
  7. 7. 4  Kullun ( (كُل كُل نٌَّ فْ سٌّ ذٌَّائِقَةٌُّ اٌّلْمَوْتٌِّ “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.”(Q.S.Ali Imran : 185)6  Jami’un ) )جََِيْعٌ هُوٌَّ اٌّلَّذِي خٌَّلَقٌَّ لٌَّكُمٌّْ مٌَّا فٌٌِّّ اٌّلَْْرْضٌِّ جٌََِّيعًا “Dialah (Allah) yang menciptakan untukmu apa yang ada dibumi, semuanya.” (QS Al Baqarah : 29)7  Kaaffah ) )كَافَّةًٌّ وَمَا أٌَّرْسَلْنَاكٌَّ إٌِّلٌَّّّكٌٌَّّافَّةًٌّ لٌِّلنَّاسٌٌِّّ “Dan kami tidak mengutus engkau (muhammad), melainkan kepada semua umat manusia.” (QS. Saba’ : 28)8  Ma’syar ) )مَعْشَرٌَّ يَا مٌَّعْشَرٌَّ اٌّلِْْ نٌّ وٌَّالِْْنْسٌِّ أٌَّلٌَّْ يٌَّأْتِكُمٌّْ رٌُّسُلٌٌّ مٌِّنْكُمٌّْ يٌَّ قُص و عٌٌَََّّلَيْكُمٌّْ آٌّيَاتٌِّ وٌَّي نُْذِرُوٌّنَكُمٌٌّّْ لِقَاءٌَّ يٌَّ وْمِكُمٌّْ هٌَّذَا “Wahai golongan jin dan manusia! bukankah sudah datang kepadamu rasul-rasul dari kalangan-mu sendiri, mereka menyampaikan kepadamu ayat-ayat-Ku kepadamu dan memperingatkanmu tentang pertemuan pada hari ini? (QS. Al- An’am : 130)9 b. Isim Istifham ialah مَنٌّْ (siapa), مَا (apa), أَيْنٌَّ (dimana), أَ يٌّ (siapakah), dan مَتٌَّ (kapan). Contohnya : مَتٌَّ نٌَّصْرٌُّ اٌّللٌَِّّّ أٌَّلٌَّّ إٌِّ نٌٌَََّّّصْرٌَّ اٌّللٌَِّّّ قٌَّرِيبٌٌّ “Kapankah datang pertolongan Allah? Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” (QS. Al-Baqarah: 214)10 6Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Bandung: Diponegoro, 2008), hlm. 74 7Ibid., hlm. 05 8Ibid., hlm. 431 9Ibid., hlm. 144 10Ibid., hlm. 33
  8. 8. 5 c. Isim Isyarat, seperti مَنٌّْ (barang siapa), مَا (apa saja), dan أَ يٌّ (yang mana saja). Contohnya : مَنٌّْ يٌَّ عْمَلٌّْ سٌُّوءًا يٌُُّْزٌَّ بٌِّهٌٌِّّ “Barang siapa mengerjakan kejahatan, niscaya akan dibalas sesuai dengan kejahatan itu.” (QS. An-Nisa’: 123)11 d. Isim Mufrad yang makrifat dengan alif lam ) ال ( atau idhafah, Contohnya: أَحَلٌَّّ اٌّللٌَُّّّ اٌّلْبَ يْعٌَّ وٌَّحَرَّمٌَّ اٌّل رِبَا “Allah telah menghalalkan jual beli dan mengaharamkan riba.” (QS. Al- Baqarah: 275)12 e. Jama’ yang dita’rifkan (makrifat) dengan alif lam atau dengan idhafah: Contohnya :  Makrifat dengan alif lam ) : )ال إِ اٌٌََّّّللٌََّّّ يٌُُِّ بٌّ اٌّلْمُقْسِطِيٌَّ “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil.” (QS. Al- Maidah: 42)13  Makrifat dengan idhafah : حُ رِمَتٌّْ عٌَّلَيْكُمٌّْ أٌُّمَّهَاتُكُمٌّْ “Diharamkan atas kamu (menikahi) ibu-ibumu.” (QS. An-Nisa’: 23)14 f. Isim Nakirah yang terletak sesudah Nafi, Contohnya : وَاتَّ قُوا يٌَّ وْمًا لٌٌَّّّ تٌََّْزِي نٌَّ فْسٌٌّ عٌَّنٌّْ نٌَّ فْ سٌّ شٌَّيْئًاٌّ “Dan takutlah kamu pada hari, (ketika) tidak seorang pun dapat membela orang lain sedikit pun.” (QS. Al-Baqarah: 48)15 11Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Bandung: Diponegoro, 2008), hlm. 98 12Ibid., hlm. 47 13Ibid., hlm. 115 14Ibid., hlm. 81 15Ibid., hlm. 07
  9. 9. 6 g. Isim Maushul ( (اللََّّتٌِّْ ,الَّتٌِّ ,الَّذِينٌَّ ,الَّذِي إِ اٌٌََّّّلَّذِينٌَّ يٌَّأْكُلُو أٌٌَََّّمْوَالٌَّ اٌّلْيَتَامَى ظٌُّلْمًا إٌِّنَََّّا يٌَّأْكُلُو فٌٌٌََِّّّ بٌٌّّطُُونِِِمٌّْ نٌَّارًاٌّ “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api dalam perutnya.” (QS. An- Nisa’: 10)16 B. Pembagian ‘Am ‘Am terbagi menjadi 2, yaitu: a) Umum Syumuliy Yaitu semua lafazh yang dipergunakan dan dihukumkan serta berlaku bagi seluruh pribadi, seperti : يَا أٌَّي هَا اٌّلنَّاسٌُّ اٌّتَّ قُوا رٌَّبَّكُمٌُّ اٌّلَّذِي خٌَّلَقَكُمٌّْ مٌِّنٌّْ نٌَّ فْ سٌّ وٌَّاحِدَ ةٌّ “Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhan-mu yang Telah menciptakan kamu dari diri yang satu (adam).” (Qs. A n-Nissa’: 1)17 Dalam Ayat ini seluruh manusia dituntut untuk bertakwa tanpa kecuali, maka lafaz yang seperti ini dinamakan umum Syumuliy. b) Umum Badaliy Bagi suatu lafaz yang dipergunakan dan dihukumkan serta berlaku seperti Afrad (pribadi) seperti : يَا أٌَّي هَا اٌّلَّذِينٌَّ آٌّمَنُوا كٌٌُّّتِبٌَّ عٌَّلَيْكُمٌُّ اٌّلصِ يَامٌُّ كٌٌَّّمَاكٌٌُّّتِبٌَّ عٌَّلَى اٌّلٌَّّذِينٌَّ مٌِّنٌّْ قٌَّ بْلِكُمٌّْ لٌَّعَلَّكُمٌّْ تٌَّ تَّ قٌُّوٌََّ “Wahai orang-orang yang beriman! diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (Q.S. Al-Baqarah: 183)18 Sedangkan dalam ketetapan nash, bahwa ‘am itu terbagi menjadi tiga:19  Pertama adalah ‘am yang dimaksud secara qathi’ umum. Yaitu ‘am yang didampingi oleh qarinah, menafikan sasaran yang ditakhsiskan, seperti ‘am yang terdapat pada firman Alloh Swt : 16Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Bandung: Diponegoro, 2008), hlm. 78 17Ibid., hlm. 77 18Ibid., hlm. 28 19Abdul Wahab Khallaf, Ilmu Ushul Fiqih (Jakarta: Rineka Cipta, 1999), hlm. 231-233
  10. 10. 7 وَمَا مٌِّنٌّْ دٌَّابَّ ةٌّ فٌٌِّّ اٌّلَْْرْضٌِّ إٌِّلٌَّّّ عٌَّلَى اٌّللٌَِّّّ رٌِّزْقُ هَا “Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. (QS. Hud: 06).20 وَجَعَلْنَا مٌِّنٌَّ اٌّلْمَاءٌِّ كٌٌُّّلٌَّّ شٌَّيْ ءٌّ حٌَّ يٌّ “Dan kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air.” (QS. Al- Anbiya’: 30)21 Pada kedua ayat ini orang menetapkan bahwa sudah menjadi sunnatulloh ada ‘am yang tidak ditakhasiskan dan tidak pula dipertukarkan letaknya. Pada kedua ayat ini terdapat ‘am qathi’ menunjuk kepada umum. Tidak mengandung hal yang dimaksud khusus dengannya.  Kedua adalah ‘am yang dimaksud secara qathi khusus. Yaitu apa yang didampingi dengan qarinah, pada umumnya tetap menafikan dan menyatakan maksud sebagian dari ifradnya itu. Seperti firmanAllah yang berbunyi: وَلِلٌَِّّّ عٌَّلَى اٌّلنَّاسٌِّ حٌِّ جٌّ اٌّلْبَ يْتٌِّ “Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah Melaksanakan ibadah haji ke Baitullah.” (QS. Ali-Imran: 97).22 Manusia pada nash ini adalah umum. Dimaksud dengannya itu khusus para mukallaf. Menurut akal, tidak termasuk anak-anak dan orang gila.  Ketiga adalah ‘am makhsus. Yaitu ‘am mutlak yang tidak didampingi oleh qarinah, meniadakan hal-hal yang ditakhsiskan. Tidak ada qarinah yang menafikan dalilnya terhadap umum. Misalnya kebanyakan nash yang terdapat padanya sighat umum. Terlepas dari qarinah-qarinah lafdziah atau aqliah atau arfiah yang menyatakan umum, sebelum dikemukakan 20Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Bandung: Diponegoro, 2008), hlm. 222 21Ibid., hlm. 324 22Ibid., hlm. 62
  11. 11. 8 dalil yang mentakhsiskannya. Misalnya, perempuan-perempuan yang ditalak oleh suaminya harus menunggu (iddah).23 وَالْمُطَلَّقَاتُ يٌَّ تَ رَبصَّْنَ بٌِّأَنْ فُسِهِنَّ ثٌَّلََّثَةَ قٌُّ رُو ءٌّ “Dan para istri yang diceraikan (wajib) menahan diri mereka (menunggu) tiga kali quru.” (Al-Baqarah: 228).24 C. Pengertian Khash Dan Bentuk-Bentuk Mukhasshis 1. Pengertian Khash اللَّفْظُ اٌّلَّذِيْ وٌُّضِعَ لٌِّمَعْنىً وٌَّاحِدِ عٌَّلَى سٌَّبِيْلِ اٌّْلِْنْفِرَادٌِّ “Lafadz yang dari segi kebahasan, ditentukan untuk satu arti secara mandiri.”25 Menurut bahasa khash artinya tertentu, sedangkan menurut istilah ushul fiqih khash ialah lafadz khash telah mengandung makna yang jelas baik jenis, jumlah, bentuk maupun ketentuan lainnya. Jika suatu nas mengandung arti khash maka dapat ditetapkan sebuah hukum yang pasti. Selama tidak terdapat dalil yang mentakwilnya, atau menghendaki arti lain dari padanya.26 Pengertian khash (khusus) adalah lawan dari pengertian ‘am (umum). Dengan demikian bila telah memahami pengertian lafazh ‘am secara tidak lansung, juga dapat memahami pengertian lafazh khash. Pengertian al-khash menurut para tokoh-tokoh ushul fiqh adalah sebagai berikut: a. Adib Shalih Mendefenisikan Lafal al-Khash yang mengandung satu pengertian secara tunggal atau beberapa pengertian yang terbatas. 23Aziz Wahied, Lafadz 'Am Dan Khash, dalam http://azizwahied.blogspot.com/2012/11/lafadz-am-dan-khash.html, diakses pada sabtu, 27 september 2014 pukul 11.52 24Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Bandung: Diponegoro, 2008), hlm. 36 25Amir Syarifuddin, Ushul Fiqh (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, cet ke-5, 2009), hlm. 87 26Abdul Wahid Mahrus As’ad, Memahami Fiqih (Bandung: Armico, 2006), hlm. 78
  12. 12. 9 b. Abu Zahra Mendefenisikan Lafal al-Khash dalam nash syara’, menunjukan kepada pengertianya yang yang khas secara qaht’i (pasti) dan hukum yang terkandung dikandungya bersifat pasti (qaht’i) selama tidak ada indikasi yang menunjukan pengertian lain. Pendapat Abu Zahra ini disepakati oleh para ulama Ushul Fiqh.27 c. Al Amidi Mendefinisikan al-Khash adalah satu lafazh yang tidak patut digunakan bersama oleh jumlah yang banyak. d. Al Khudahari Beik Mendefinisikan al-Khash adalah lafazh yang dari segi kebahasaan ditentukan untuk satu arti secara mandiri. e. Abdul Wahhab Abdul Salam Thawilah Berpendapat bahwa setiap lafal yang diungkapkan untuk menunjukkan satuan maknawi tertentu. f. Abdul Wahhab Khallaf Mendefinisikan yaitu lafal yang dipakai untuk menunjukkan seseorang, misalnya Muhammad atau semacamnya misalnya laki-laki.28 Jadi pengertian al-Khash menurut penulis sendiri adalah suatu lafal yang telah jelas hukum yang terkandung di dalam nash, baik itu al-Qur’an maupun hadis Nabi sendiri, sebelum ada dalil yang menghendaki arti lain, hukum yang diambil dari khash ini adalah pasti (qath’i) bukan zhanny.29 Adapun Pengkhususan ) التَّخْصِيْصِ ( secara bahasa : ) ضِ د اٌّلتَّ عْمِيْمِ ( lawan dari pengumuman. Dan secara istilah Takhshish ialah: 27Satria Efendi, Ushul Fiqh (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, cet ke-3, 2009), hlm. 205 28Abdul wahab khallaf, Ilmu Ushul Fiqh (Jakarta: Rineka Cipta, 2005), hlm. 241 29Handayani, Makalah- Ushul Fiqh- Lafal Al-Khash, dalam http://nandhadhyzilianz.blogspot.com/2013/01/makalah-ushul-fiqh-lafal-al-khash.html, diakses pada Senin, 29 September 2014 pukul 11.11
  13. 13. 10 إِحْراَجُ بٌَّ عْضِكٌّاَ دٌََّاَخِلًَّ تٌََّْتَ اٌّلْعُمُوْمِ عٌَّلىَ تٌَّ قْدِيْرِ عٌَّدَمِ اٌّلمخَُصَّصٌِّ “Mengeluarkan sebagian apa-apa yang termasuk dalam yang umum itu menurut ukuran ketika tidak terdapat mukhasis” 2. Bentuk-Bentuk Mukhasshis Mukhashish ada dua macam yaitu: a) Mukhasshish Muttasil Mukhasshish yang bersambung adalah apabila makna satu dalil yang mengkhususkan, berhubungan erat/bergantung pada kalimat umum sebelumnya. Adapun beberapa macam Mukhasshish muttasil antara lain :  Pengecualian Contoh firman Allah Surat Al-Ashar ayat 2-3 : إِ اٌٌََّّّلِْْنْسَا لٌٌَََّّفِي خٌُّسْ رٌّ )ٌّ 2( إٌِّلٌَّّّ اٌّلَّذِينٌَّ آٌّمَنُوا وٌَّعَمِلُوا اٌّلصَّالَِِاتٌِّ وٌَّتَ وٌَّا وََْا بٌِّالَِْ قٌٌّّ ) وَتَ وَا وََْا بٌِّالصَّبٌِّْ )ٌّ 3 “Sungguh, manusia berada dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran. (Al-‘Ashr: 2- 3)30 Jadi yang dikhususkan pada ayat tersebut adalah orang-orang yang beriman dan yang beramal Sholeh.  Syarat ) )الشرط وَب عُُولَتُ هُنٌَّّ أٌَّحَ قٌّ بٌِّرَدِ هِنٌَّّ فٌٌِّّ ذٌَّلِكٌَّ إٌِّ أٌٌََّّْرَادُوا إٌِّ لَََّْحًا “………dan para suami mereka lebih berhak kembali kepada mereka dalam (masa) itu, jika mereka (para suami) menghendaki perbaikan.” (Qs Al- Baqarah: 228)31 30Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Bandung: Diponegoro, 2008), hlm. 601 31Ibid., hlm. 36
  14. 14. 11 Dalam ayat tersebut dikatakan, lebih berhak kembali pada istrinya. Maksudnya adalah dalam masa iddah, tetapi dengan syarat bila kembalinya itu dengan maksud ialah lafaz yang menujukakan pada ayat tersebut adalah “Jika” )َْ )إ  Sifat ( ( الصِ فَةٌُّ وَمَنْ قٌَّ تَلَ مٌُّؤْمِناً خٌَّطَاءً فٌَّ تَحْرِيْ رٌُّ رٌَّقَ بَةً مٌُّؤْمِنَ ةٌّ “Dan barangsiapa membunuh seorang yang beriman karena tersalah (hendaklah) dia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman.” (Qs. Al- An-Nisa’: 92)32 Sifat yang mengkhususkan dalam ayat tersebut adalah sifat mukmin yakni yang diremehkan itu harus/dikhususkan pada hamba yang mukmin.  Kesudahan ) )الغاية Contoh firman Allah : وَلٌَّّ تٌَّ قْرَبُوهُنٌَّّ حٌَّتٌَّّ يٌَّطْهُرٌََّْ "....dan jangan kamu dekati mereka, sebelum mereka suci ... (Q.S Al-baqarah: 222)33  Sebagai Ganti Keseluruhan ) )بَدَلُ اٌّلبَ عْضِ مٌِّنْ اٌّلكُلِ Contoh firman Allah : وَلِلٌَِّّّ عٌَّلَى اٌّلنَّاسٌِّ حٌِّ جٌّ اٌّلْبَ يْتٌِّ مٌَّنٌِّ اٌّسْتَطَاعٌَّ إٌِّلَيْهٌِّ سٌَّبِيلًٌَّّ “Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana…” (Ali-Imran: 97)34 Lafazh ) مٌَّنٌّْ ( dan sesudahnya pada ayat tersebut , menghususkan keumuman sebelumnya, arti sebagian orang yang ‘mampu’ mengganti, keumuman wajibnya manusia untuk haji. 32Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Bandung: Diponegoro, 2008), hlm. 93 33Ibid., hlm. 35 34Ibid., hlm. 62
  15. 15. 12 b) Mukhasshish Munfasil Mukhasshish Munfasil adalah dalil umum / makna dalil yang sama dengan dalil atau makna dalil yang mengkhususkannya, masing- masing berdiri sendiri, Yakni tidak berkumpul tetapi terpisah. Mukhasshish Munfasil ada beberapa macam :35  Al-Qur’an di- Takhshish dengan Al-Qur’an Contohnya firman Allah : وَالْمُطَلَّقَاتٌُّ يٌَّ تَ رَبصَّْنٌَّ بٌِّأَنْ فُسِهِنٌَّّ ثٌَّلََّثَةٌَّ قٌُّ رُو ءٌّ “Dan para istri yang diceraikan (wajib) menahan diri mereka (menunggu) tiga kali quru.” (Q.S A1-Baqarah : 228)36 Ayat tersebut, umum : tercakup juga orang hamil makea datang ayat, lain yang mengkhususkan bagi wanita hamil yang berbunyi: وَاللََّّئِي لٌٌَّّْ يٌَُِّضْنٌَّ وٌَّأُولَّتٌُّ اٌّلَْْحَْْالٌِّ أٌَّجَلُهُنٌَّّ أٌَّ يٌٌََّّْضَعْنٌَّ حٌٌَّّْْلَهُنٌَّّ “ ……. dan begitu perempuan-perempuan yang tidak haid. sedangkan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu sampai mereka melahirkan kandungannya. (Q.S Al- Talaq: 4)37  Al-Qur’an di- Takhshish dengan Sunnah. Contoh firman Allah : يُو يَِكُمٌُّ اٌّللٌَُّّّ فٌٌِّّ أٌَّوْلَّدِكُمٌّْ لٌِّلذَّكَرٌِّ مٌِّثْلٌُّ حٌَّ ظٌّ اٌّلُْْنْ ثَ يَ يٌِّْ “Allah mensyari'atkan (mewajibkan) kepadamu tentang (pembagian warisan untuk) anak-anakmu, (yaitu) bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan” (An- Nisaa: 11)38 Ayat tersebut bersifat umum, yakni mencakup anak yang kafir, kemudian dataing hadist yang mengkususkannya berbunyi: 35Ali Oktoda, Makalah 'Am Dan Khas, dalam http://simba-corp. blogspot.com/2012/03/makalah-am-dan-khas.html, diakses pada Sabtu, 27 september 2014 pukul 11.11 36Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Bandung: Diponegoro, 2008), hlm. 36 37Ibid., hlm. 558 38Ibid., hlm. 78
  16. 16. 13 لَّ يٌّرُِثُ اٌّلمسُْلِمُ اٌّلكاَفِرِ وٌَّلَّ اٌّلكاَفِرِ اٌّلمسُْلِمٌِّ “Tidak boleh mewarisi seseorang musulim puda seorang kafir, dan tidak boleh (juga) kafir pada muslim (HR. Bukhari)  Sunnah di- Takhshish dengan Al-Qur’an  Sunnah di- Takhshish dengan Sunnah  Men- Takhshish dengan Qiyas لََ اٌّلْوَاجِدِ يٌُُِّل عٌِّرْضَهُ وٌَّعُقُوبَ تَهٌُّ “Menunda-nunda pembayaran bagi orang yang mampu, halal dilanggar kehormatannya dan boleh dihukum" (HR. Ahmad) Hadist tersebut ialah umum, yakni siapa saja yang menunda-nunda pembayaran hutang, padahal ia mampu untuk membayar, termasuk ibu atau bapak. Kemudian dikhususkan, yakni bukan termasuk ibu dan bapak dengan jalan meng-Qiyas firman Allah yang berbunyi : فَلٌََّّ تٌَّ قُلٌّْ لٌََّمَُا أٌُّ فٌّ “Maka sekali-kali Janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" (Qs Al-Isra: 23)39 Tidak boleh memukul melanggar kehormatan kedua orang tua adalah hasil Qiyas dari larangan mencakup "ah" terhadap-Nya. Karena memukul atau melanggar kehormatan, lebih tinggi kadar menyakitkannya dari pada mengucap "ah". Qiyas yang demikian dinamakan Qiyas Qulawi. Sebagian ulama berpandangan bahwa yang demkian bukan dinamakan Qiyas Qulawi, tetapi diaebut Mafhum Muwafaqah.40 39Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Bandung: Diponegoro, 2008), hlm. 284 40Ali Oktoda, Makalah 'Am Dan Khas, dalam http://simba-corp. blogspot.com/2012/03/makalah-am-dan-khas.html, diakses pada Sabtu, 27 september 2014 pukul 11.11
  17. 17. 14 D. Penjelasan Ayat ‘Am Yang Sudah Ditakhsis, Apakah Masih Merupakan Dalil/Hujjah? Tidak sedikit lafazh ‘am yang terdapat di dalam Al Qur’an maupun hadits Nabi. Hal ini tentu menimbulkan pertanyaan, bagaimana kedudukan lafazh ‘am khususnya yang berkenaan dengan perbuatan yang dapat dihukumi. Ternyata polemik mengenai hal ini telah menjadi topik yang ramai diperbincangkan oleh para ulama sejak berabad-abad silam. Di antara pendapat para ulama yakni: 1. Jumhur ulama menyatakan keharusan mencari dalil takhsis terlebih dahulu dan tidak mengamalkan lafazh ‘am sebelum hal tersebut dilakukan. Jika memang tidak ditemukan dalil yang mengkhususkannya, baru wajib mengamalkan lafazh yang ‘am.41 2. Pendapat lain mengatakan bahwa wajib mengamalkan lafazh ‘am tanpa menunggu adanya penjelasan ataupun takhsisnya. Mengenai pendapat di atas, penulis cukup sepakat dengan pendapat jumhur ulama bahwa apabila ditemukan lafazh yang ‘am selayaknya dicari terlebih dahulu dalil lain yang mentakhsisnya. Hal ini berkesesuaian dengan sebuah kaidah di dalam ilmu fikih. اْلعَام بٌَّ عْدَ اٌّلتَّخْصِيْصِ حٌُّجَّةٌ فٌِِّ اٌّْلب اٌّْلعَام بٌَّ عْدَ اٌّلتَّخْصِيْصِ حٌُّجٌَّّةٌ فٌِِّ اٌّْلبَاقِى “’Am yang telah dikhususkan maka selebihnya dapat dijadikan hujjah”.42 Contoh firman Allah dalam surat al A’raf ayat 32 dimana Allah memperbolehkan manusia untuk memakai segala perhiasan. Namun hal tersebut ditakhsis oleh sabda Nabi, sehingga memakai perhiasan yang terbuat dari emas dan perak adalah haram bagi laki-laki. Sedangkan apabila masih belum ditemukan dalil lain yang mentakhsiskannya setelah proses pencarian, maka wajib hukumnya untuk mengamalkan keumuman lafazh dari suatu nash hingga akhirnya ditemukan dalil yang mengkhususkan, sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh Utsaimin, seorang ulama Hijaz, dalam bukunya al Ushul min ‘Ilmil Ushul.43 41Amir Syarifuddin, Ushul Fiqh Jilid 2 (Jakarta: Kencana, cet. V, 2009), hlm. 83 42Muchlis Usman, Kaidah-Kaidah Istinbath Hukum Islam (Jakarta: Raja Grafindo Persada, cet. IV, 2002), hlm. 43. 43Muhammad al Utsaimin, Ushul Fiqih (terjemah) (Jogjakarta: Media Hidayah, 2008), hlm. 58
  18. 18. BAB III PENUTUP 15 KESIMPULAN 1. ‘Am ) العَامُ ( adalah suatu lafadz yang menunjukan satu makna yang mencakup seluruh satuan yang tidak terbatas dalam jumlah tertentu. Atau juga lafadz yang menunjukan dimana ditempatkan secara lughowi dan semuanya itu berlaku untuk semua ifradnya. Adapun Bentuk-bentuk (Shigat-shigat) ‘Am, yaitu:  Lafadz Kullun ) كُل (, Jami’un ) جََِيْعٌ (, Kaaffah ) كَافَّةًٌّ (, Ma’syar ) .)مَعْشَرٌَّ  Isim Istifham ialah مَنٌّْ (siapa), مَا (apa), أَيْنٌَّ (dimana), أَ يٌّ (siapakah), dan مَتٌَّ (kapan).  Isim Isyarat, seperti مَنٌّْ (barang siapa), مَا (apa saja), dan أَ يٌّ (yang mana saja).  Isim Mufrad yang makrifat dengan alif lam ) ال ( atau idhafah.  Jama’ yang dita’rifkan (makrifat) dengan alif lam atau dengan idhafah.  Isim Nakirah yang terletak sesudah Nafi.  Isim maushul ) )اللََّّتٌِّْ ,الَّتٌِّ ,الَّذِينٌَّ ,الَّذِي 2. Pembagian ‘Am ) العَامُ ( , yaitu: a. Umum Syumuliy: Yaitu semua lafazh yang dipergunakan dan dihukumkan serta berlaku bagi seluruh pribadi b. Umum Badaliy: Bagi suatu lafaz yang dipergunakan dan dihukumkan serta berlaku seperti Afrad (pribadi) ‘Am ) العَامُ ( juga terbagi menjadi tiga:  Pertama adalah ‘am yang dimaksud secara qathi’ umum  Kedua adalah ‘am yang dimaksud secara qathi khusus  Ketiga adalah ‘am makhsus
  19. 19. 16 3. Khash adalah Lafadz yang dari segi kebahasan, ditentukan untuk satu arti secara mandiri. Lafadz khash telah mengandung makna yang jelas baik jenis, jumlah, bentuk maupun ketentuan lainnya. Sedangkan Takhshish adalah mengeluarkan sebagian apa-apa yang termasuk dalam yang umum itu menurut ukuran ketika tidak terdapat mukhasis. Adapun Bentuk-Bentuk Mukhasshis, yaitu:  Mukhasshis Muttasil adalah apabila makna satu dalil yang mengkhususkan, berhubungan erat/bergantung pada kalimat umum sebelumnya. Dan macam-macamnya berupa: - Pengecualian - Syarat ) )الشرط - Sifat ) )الصِ فَةٌُّ - Kesudahan ) )الغاية - Sebagai Ganti Keseluruhan ) )بَدَلُ اٌّلبَ عْضِ مٌِّنْ اٌّلكُلِ  Mukhasshis Munfasil adalah dalil umum / makna dalil yang sama dengan dalil atau makna dalil yang mengkhususkannya, masing- masing berdiri sendiri. Yakni tidak berkumpul tetapi terpisah. Dan macam-macamnya berupa: Al-Qur’an di- Takhshish dengan Al-Qur’an; Al-Qur’an di- Takhshish dengan Sunnah; Sunnah di- Takhshish dengan Al-Qur’an; Sunnah di- Takhshish dengan Sunnah; Men- Takhshish dengan Qiyas 4. Ayat ‘Am yang sudah diTakhsis, apakah masih merupakan dalil/Hujjah?: Apabila ditemukan lafazh yang ‘am selayaknya dicari terlebih dahulu dalil lain yang mentakhsisnya. Hal ini berkesesuaian dengan sebuah kaidah di dalam ilmu fikih. اْلعَام بٌَّ عْدَ اٌّلتَّخْصِيْصِ حٌُّجَّةٌ فٌِِّ اٌّْلب اٌّْلعَام بٌَّ عْدَ اٌّلتَّخْصِيْصِ حٌُّجٌَّّةٌ فٌِِّ اٌّْلبَاقِى “’Am yang telah dikhususkan maka selebihnya dapat dijadikan hujjah”
  20. 20. DAFTAR PUSTAKA Al-Utsaimin, Muhammad. 2008. Ushul Fiqih (terjemah). Jogjakarta: Media 17 Hidayah As’ad, Abdul Wahid Mahrus. 2006. Memahami Fiqih. Bandung: Armico Departemen Agama RI. 2008. Al-Qur’an dan Terjemahnya. Bandung: Diponegoro Efendi, Satria. 2009. Ushul Fiqh. Jakarta: Kencana Prenada Media Group, cet. 3 Fariza, Zaziratul. Pembahasan Lafazd Dari Segi Kandungan, dalam http://zazirazirafariza.blogspot.com/2014/06/pembahasan-lafazd-dari-segi-kandungan. html, diakses pada sabtu, 27 september 2014, pukul 12.02 Handayani. Makalah- Ushul Fiqh- Lafal Al-Khash, dalam http://nandhadhyzilianz.blogspot.com/2013/01/makalah-ushul-fiqh-lafal-al- khash.html, diakses pada Senin, 29 September 2014 pukul 11.11 Khallaf, Abdul Wahab. 1999. Ilmu Ushul Fiqih. Jakarta: Rineka Cipta Oktoda, Ali. Makalah 'Am Dan Khas, dalam http://simba-corp. blogspot.com/2012/03/makalah-am-dan-khas.html, diakses pada Sabtu, 27 september 2014 pukul 11.11 Syafe’i, Rachmat. 2007. Ilmu Ushul Fiqih. Bandung: Pustaka Setia Syarifuddin, Amir. 2009. Ushul Fiqh. Jakarta: Kencana Prenada Media Group, cet. 5 Syarifuddin, Amir. 2009. Ushul Fiqh Jilid 2. Jakarta: Kencana, cet. 5 Umam, Khairul dan Ahyar Aminudin. 2001. Ushul Fiqih II. Bandung: Pustaka Setia, cet. 2 Usman, Muchlis. 2002. Kaidah-Kaidah Istinbath Hukum Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada, cet. 4 Wahied, Aziz. Lafadz 'Am Dan Khash, dalam http://azizwahied.blogspot.com/2012/11/lafadz-am-dan-khash.html, diakses pada sabtu, 27 september 2014 pukul 11.52

×