O slideshow foi denunciado.
Utilizamos seu perfil e dados de atividades no LinkedIn para personalizar e exibir anúncios mais relevantes. Altere suas preferências de anúncios quando desejar.
Próximos SlideShares
What to Upload to SlideShare
Avançar
Transfira para ler offline e ver em ecrã inteiro.

Compartilhar

Inovasi Kebijakan di Masa Pandemi Covid 19

Baixar para ler offline

Disampaikan pada Webinar Nasional dalam rangka Dies Natalis XXI STIA Bandung
Bandung, 14 Agustus 2021

Dr. Tri Widodo W. Utomo, MA
Deputi Kajian Kebijakan dan Inovasi Administrasi Negara LAN-RI

Audiolivros relacionados

Gratuito durante 30 dias do Scribd

Ver tudo

Inovasi Kebijakan di Masa Pandemi Covid 19

  1. 1. Dr.  Tri  Widodo  W.  Utomo,  MA Deputi Kajian Kebijakan dan Inovasi Administrasi Negara  LAN-­‐RI PEDULI INOVATIF INTEGRITAS PROFESIONAL Disampaikan pada Webinar  Nasional  dalam rangka Dies  Natalis XXI  STIA  Bandung Bandung,  14  Agustus 2021
  2. 2. Policy Innovation Definisi Innovation  within the  policy-­‐ making  process  itself Potential  biases  in  the   policy  making  process how  new  ideas,  techniques  and   methods  might  help  to  overcome   them  (the  biases). Mengapa penting? Bagaimana?   Sumber:  Annie  Norman,  2020,   Policy  Innovation:  What,  Why,   and  How?,  Policy  Lab  UK
  3. 3. Policy Innovation § Policy  innovations  is  formulation,  realization  and  diffusion  of new   problem  understandings,  new  political  visions  and  strategies  for   solving  them (Sumber:  Eva  Sørensen and  Susanne  Boch Waldorff,  2014,   Collaborative  policy  innovation:  Problems  and  potential,  in  “The  Innovation  Journal:   The  Public  Sector  Innovation  Journal”,  Volume  19(3). § Policy  innovations  are  not  limited  to  postulating  new  and  fascinating   ideas  but  rather  to  implementing  new  practices  implying  a   significant  change  of  commonly  accepted  protocols  (Sumber:  Bayron Paz   and  Guillaume  Fontaine,  “A  Causal  Mechanism  of  Policy  Innovation”,  Revista de   Estudios Sociales [Online],  63  |  Enero 2018,  Online  since  01  January  2018.)
  4. 4. Pandemi Covid 19 sbg Kekuatan Disruptif Mega trends PANDEMI  dan   BENCANA  ALAM TEKNOLOGI Internet,  internet  of things,  AI,   robotics,  big data. URBANISASI Tren desa  menjadi  kota,  distribusi   sumber  daya  desa-­‐kota KRISIS  KEMANUSIAAN Konflik,  terorisme,  krisis  energi,   krisis  akhlak  (narkoba,  korupsi,  dll) DEMOGRAFI Bonus  usia  produktif,  keterampilan,   lapangan  kerja,  angka  ketergantungan. PERUBAHAN  POROS  EKONOMI Dari  Eropa  ke  Asia,  dari  G7  ke  E7,   bangkitnya  kelas  menengah. 01 02 03 04 05 06 Efek  disrupsi   paling  kuat
  5. 5. Dampak Disruptif Pandemi INDONESIA   EMAS   2 045 PDB  terbesar ke-­‐5  di   dunia Pendapatan per  kapita US$  23,199   Kelas menengah sebesar 70%  total  penduduk Covid-­‐19  menebar ancaman dan memporak-­‐porandakan tata kehidupan di  segala bidang !! o Pertumbuhan ekonomi 2019   sebesar 5,4%  terkoreksi jadi 2,97%   pada kuartal 1/2020  dan mengalami kontraksi menjadi -­‐ 5,32%  pada kuartal 2/2020. o APBN  2020  mengalami defisit Rp 956,3  triliun atau setara dengan 6,09%  dari PDB. o Dibandingkan dengan realisasi 2019,  penerimaan Pajak mengalami penurunan 19,7%.  Pos yang  ambles   paling  dalam adalah PPh Migas.   o Pendapatan negara 2021  sebesar Rp.  1.743  triliun,  turun sebesar 21,9%  dibanding 2020  sebelum pandemi,  yakni Rp.  2.233  triliun.   o Belanja negara 2021  naik sebesar 8,3%  dari anggaran normal  dari Rp.   2.540  triliun menjadi Rp.  2.750   triliun.   Sebelum  Pandemi
  6. 6. Kebijakan di Era VUCA Kerumitan Kemenduaan Ketidakajegan Ketidakpastian
  7. 7. VUCA sbg Tantangan untuk Inovasi Kebijakan
  8. 8. VUCA Menghasilkan Wicked Policy Problems Masalah Kompleks:   1)  berskala besar,  2)  tidak berdiri sendiri (memiliki kaitan erat  dengan masalah lain),   3)  mengandung konsekuensi besar,   4)  pemecahannya memerlukan pemikiran yang  holistik/komprehensif. Masalah Tidak Terstruktur: 1)  penyimpangan dari  masalah organisasi yang  bersifat umum,  2)  tidak rutin  (tidak repetitif kasusnya),  3)  tidak jelas faktor   penyebab dan  konsekuensinya.
  9. 9. Inovasi Kebijakan: Merespon VUCA dengan VUCA
  10. 10. Inovasi Kebijakan: Adaptive Policies Able  People •Perlunya birokrasi diisi oleh SDM-­‐SDM  yang   kompeten dan kapabel. •Pembetukan sistem merit  dalam manajemen ASN. •Peningkatan/pengembangan kompetensi dan kapasitas SDM  secara berkelanjutan. Agile  Process •Perlunya membangun kelembagaan pemerintah yang  agile,  cepat,  efektif,  dan efisien. •Pentingnya menciptakan tata kelola kebijakan yang  berbasis pada proses  pencarian bukti/masalah (eveidence-­‐based). PENDORONG UTAMA § Dynamic  Governance  terlaksana jika ada pembelajaran terus menerus untuk menghasilkan dan mengeksekusi kebijakan adaptif (adaptive  policy)  melalui pengembangan dynamic  capabilities  (mencakup kemampuan thinking  ahead,   thinking  again  dan thinking  across)  pada proses  pembangunan able  people  dan agile  process. § Dasar dari proses  menghasilkan dynamic  governance  adalah landasan nilai budaya (institutional  culture)  yang  dimiliki oleh bangsa. Adaptive  Policies • Terlaksananya kebijakan yang  adaptif • Dihasilkan melalui inovasi,  kontekstualisasi (evidence-­‐based),  implementasi. TUJUAN Sumber: Neo  &  Chen  (2007)
  11. 11. Respon Kebijakan thd Krisis Akibat Pandemi NPV? (New  Public  Values) NPS (New  Public  Service) NPM (New  Public   Manajemen) OPA (Old  Public   Administration) Tokoh:  Woodrow  Wilson,   Frederick  Taylor,  Henry   Fayol,  Gulick &  Urwick,  dll.   Issu:  Dikotomi politik-­‐ administrasi,  fungsi2 manajemen. Krisis kapasitas Krisis finansial Krisis pandemi Krisis welfare  state Tokoh:  David  Osborne,  Ted   Gaebler,  E.S.  Savas.   Issu:  Mekanisme pasar,   privatisasi,  entrepreneurial   government. Tokoh:  Denhardt dan Denhardt.   Issu:  Citizen  first,  values  for   people,  service  equity,   leadership,  inovasi. Issu:  Agile  government,   home-­‐based  public   management,  virtual   bureaucracy,  data  talks!
  12. 12. Inovasi Kebijakan Menjawab Tantangan Pandemi - 1 Tatalaksana /  e-­‐Adm Kepemimpinan SDM Kelembagaan Home-­‐base   bureaucracy  (the   dead  of  office?); Holakrasi; Dari  stand  alone  ke networked  (multi-­‐ stakeholders)   organization; Flat,  slim  and  tiny   structure  (low-­‐cost   structure). Peralihan JS  ke JF; Proporsi PPPK  (contractual   workers)  harus lebih besar; Flexy-­‐team  dan job-­‐sharing; Literasi IT; Multi-­‐tasking  and  multi-­‐level   working; Manajemen berbasis IT   (formasi,  seleksi,  bangkom,   mutasi/promosi,  penilaian kinerja,  penggajian,  pensiun). Delegating  rather   than  directing; Collegial  rather  than   one-­‐man-­‐show;   Kompetensi transformasi &   kolaborasi. E-­‐administration  (e-­‐planning  – e-­‐budgeting  – e-­‐performance,  e-­‐ evaluation); E-­‐office  (e-­‐presencing,  e-­‐ meeting,  e-­‐correspondence,   smart  building); Spacial matters  (ergonomic   office,  single  &  compact   furniture,  etc); Shared  document  (“Outlook”); New  standard  of  working   (uniform,  working  hours,  etc.).
  13. 13. Inovasi Kebijakan Menjawab Tantangan Pandemi - 2 Data-­‐driven  untuk mewujudkan evidence-­‐based   policy; Logika terbalik:   evaluation  first; Reaching-­‐out  proses   kebijakan; Pengakuan “kebijakan tidak tertulis”  sebagai kebijakan publik. Home  schooling; Homespital (homecare); Online  services; Automatic  services; Web/android-­‐based   service  complaint  and   complaint  handling; One  Data  System  &   Data  Interoperability. Co-­‐creation  /  co-­‐ production;   Crowd-­‐sourcing   atau orkestrasi sumber daya (dari masyarakat untuk masyarakat); Kebangkitan ”sektor ketiga”  (contoh:   netizen). Prinsip rule-­‐driven harus dikurangi; Inovasi harus menjadi insentif bagi pegawai; Perubahan harus didokumentasikan (knowledge   management). Kejujuran (terutama pada diri sendiri);   Kedisiplinan; Integritas (tidak korup waktu,  korup pola pikir). Man.  Perubhn Peran Masy Pelayanan Publik Kebijakan/PK Etika
  14. 14. Epilog Negara  yang  berhasil dan  menang adalah negara  yang  membangun kebijakan unggul.  Kebijakan publik menentukan keberhasilan sebuah negara,  apapun ideologi dan   politiknya”. Mengapa kebijakan publik penting?  Kebijakan publik yang   gagal,  membawa negara  dalam krisis.” (Hatta  Rajasa pada Pidato Penganugerahan Doktor Kehormatan dari ITB,  25-­‐11-­‐2019) INOVASI  ADALAH   KENISCAYAAN   (HARGA  MATI)  BAGI   KEBIJAKAN  DI   SELURUH  LEVEL  DAN   SELURUH  SEKTOR  !!
  15. 15. PEDULI INOVATIF INTEGRITAS PROFESIONAL Semoga Bermanfaat …  !!
  • triwidodowutomo

    Aug. 14, 2021

Disampaikan pada Webinar Nasional dalam rangka Dies Natalis XXI STIA Bandung Bandung, 14 Agustus 2021 Dr. Tri Widodo W. Utomo, MA Deputi Kajian Kebijakan dan Inovasi Administrasi Negara LAN-RI

Vistos

Vistos totais

208

No Slideshare

0

De incorporações

0

Número de incorporações

1

Ações

Baixados

16

Compartilhados

0

Comentários

0

Curtir

1

×