1. Fakultas Psikologi
Universitas Mercu Buana
Modul 1
Pengertian Sosiologi dan Keterkaitannya dengan Psikologi
TIK :
Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan pengertian sosiologi dan keterkaitannya
dengan ilmu psikologi
Sri Rahayu Handayani, MM
A. Pengertian Sosiologi
Asal kata Sosiologi adalah berasal dari kata sofie, yaitu bercocok tanam atau bertanam,
kemudian berkembang menjadi Socius (bhs. Latin) yang berarti teman, kawan. Arti kata
tersebut akhirnya berkembang lagi menjadi kata social yang berarti berteman, bersama,
berserikat. Kata sosial secara khusus adalah hal-hal mengenai berbagai kejadian dalam
masyarakat yaitu persekutuan manusia, dan selanjutnya dengan pengertian itu bermaksud
untuk mengerti kejadian-kejadian dalam masyarakat yaitu persekutuan manusia, dan
selanjutnya dengan pengertian itu untuk dapat berusaha mendatangkan perbaikan dalam
kehidupan bersama. (Shadily, 1993:1-2). Logos berarti kata atau berbicara
Dengan kata lain menurut Hassan Shadily, Sosiologi adalah ilmu masyarakat atau
ilmu kemasyarakatan yang mempelajari manusia sebagai anggota golongan atau
masyarakatnya (tidak sebagai individu yang terlepas dari golongan atau masyarakatnya ),
dengan ikatan-ikatan adat, kebiasaan, kepercayaan atau agamanya, tingkah laku serta
keseniannya atau yang disebut kebudayaan yang meliputi segala segi kehidupannya. (1993:2)
Selanjutnya dalam mengartikan sosiologi ini Pitirim Sorokin ( Soekanto, 2003: 19)
mengemukakan sosiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal
balik antara aneka macam gejala-gejala sosial (misalnya antara gejala ekonomi dengan agama;
keluarga dengan moral; hukum dengan ekonomi; gerak masyarakat dengan politik dan lain
sebaginya); hubungan dengan pengaruh timbal balik antara gejala sosial dengan gejala non
2. sosial (misalnya gejala geografis, biologis dan sebagainya ); ciri-ciri umum semua jenis gejala-
gejala sosial.
Masih dalam mengartikan sosiologi soekanto dengan mengutif pendapat Roucek dan
Warren (Soekanto, 2003:19) mengemukakan bahwa sosiologi adalah ilmu yang mempelajari
hubungan antara manusia dalam kelompok, begitu pula William F. Ogburn dan Meyer F.
Nimkoff (Soekanto, 2003:19) berpendapat bahwa sosiologi adalah penelitian secara ilmiah
terhadap interaksi sosial dan hasilnya yaitu organisasi sosial.
Untuk lebih memahami pengertian sosiologi, dengan mengambil pendapat Prof. DR.
Selo Soemardjan dalam bukunya Setangkai Bunga Sosiologi, mendefinisikan bahwa sosiologi
adalah ilmu yang mempelajari struktur dan proses-proses social, termasuk perubahan-
perubahan social.
Menurut ahli sosiologi lain yakni Emile Durkheim, sosiologi adalah suatu ilmu yang
mempelajari fakta-fakta sosial, yakni fakta yang mengandung cara bertindak, berpikir,
berperasaan yang berada di luar individu di mana fakta-fakta tersebut memiliki kekuatan untuk
mengendalikan individu.
Objek dari sosiologi adalah masyarakat dalam berhubungan dan juga proses yang dihasilkan
dari hubungan tersebut. Tujuan dari ilmu sosiologi adalah untuk meningkatkan kemampuan
seseorang untuk menyesuaikan diri atau beradaptasi dengan lingkungan sosialnya.
Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang pergaulan hidup antara
seseorang dengan seseorang, perseorangan dengan golongan atau golongan dengan
golongan. Dengan demikian terdapat dua unsur pokok dalam sosiologi, yaitu manusia dan
hubungan sosial (masyarakat). Terdapat berbagai pendapat tentang kedudukan individu dan
masyarakat ini. Di satu pihak ada yang berpendapat bahwa individu lebih dominan daripada
masyarakat, tetapi di pihak lain berpendapat bahwa masyarakat lebih dominan daripada
individu. Sementara itu terdapat pendapat yang mengambil posisi tengah yang mengatakan
bahwa antara individu dan masyarakat terjadi proses saling mempengaruhi. Sejumlah kritik
diajukan kepada sosiologi, yaitu 1) sosiologi adalah ilmu yang sulit, 2) sosiologi hanya
merupakan kumpulan dari berbagai kajian ilmu sosial lainnya, dan 3) tidak ada lapangan yang
khusus bagi sosiologi karena objeknya telah banyak digarap oleh ilmu-ilmu sosial lainnya.
3. Sosiologi merupakan cabang ilmu sosial yang dahulunya berinduk pada ilmu filsafat.
Dengan demikian pokok-pokok pikiran sosiologi tidak bisa terlepas dari pemikiran para ahli
filsafat yang mengkaji tentang masyarakat. Sosiologi mengalami perkembangan yang pesat
pada abad ke-20, di mana pada masa ini mulai banyak bermunculan berbagai cabang sosiologi,
seperti sosiologi industri, sosiologi perkotaan, sosiologi pedesaan, dan lain-lain. Pemikiran para
ahli yang mengkonsentrasikan diri pada masalah kajian sosiologi ini dibedakan atas tokoh-
tokoh sosiologi klasik dan tokoh-tokoh sosiologi modern.
Berdasarkan dari sekian banyak definisi sosiologi tersebut maka, sosiologi bisa diartikan
sebagai ilmu yang mempelajari tentang masyarakat, hubungan antara masyarakat dan akibat
dari hubungan tersebut. Karena sosiologi objeknya adalah masyarakat maka cakupan dari
objek sosiologi itu adalah individu, kelompok, dan masyarakat. Proses hubungan inilah yang
biasa disebut dalam sosiologi dengan istilah interaksi sosial.
Selain mempelajari interaksi sosiologi juga mempelajari tentang proses yang muncul
akibat interaksi antar manusia tersebut, misalnya akibat manusia berinteraksi dengan manusia
lain, interaksi dengan kelompok ataupun berinteraksi dalam masyarakat maka disitu akan
terjadi proses sosialisasi, selanjutnya akan terbentuk kelompok sosial, selanjutnya kelompok
sosial akan membentuk masyarakat, didalam setiap masyarakat pasti akan kita temui
kebudayaan karena manusia menciptakan kebudayaan, dalam masyarakat juga akan ada
institusi karena manusia membutuhkan institusi untuk mengatur hubungan antar manusia,
dalam masyarakat juga akan kita temui fakta-fakta adanya stratifikasi sosial, kekuasaan dan
wewenang, terjadinya perubahan sosial, segala bentuk perilaku sosial dan perilaku kolektif,
pembedaan antara laki-laki dan perempuan sampai dengan segala masalah sosial yang ada
dalam masyarakat.
Dengan melihat pengertian sosiologi dan objek sosiologi tersebut maka dapat dikatakan
dengan mempelajari sosiologi maka akan mendapatkan pengetahuan yang sedalam-dalamnya
tentang masyarakat, selanjutnya setelah melihat fakta-fakta yang ada masyarakat terutama
berkaitan proses interaksi manusia dan proses yang muncul akibat interaksi tersebut maka ilmu
sosiologi tersebut mungkin dapat dipergunakan untuk memecahkan persoalan-persoalan yang
muncul masyarakat.
4. Masyarakat
Kata masyarakat dalam Bahasa Inggris disebut Society, asal katanya Socius yang berarti
“kawan”. Kata “Masyarakat” berasal dari bahasa Arab, yaitu Syiek, artinya “bergaul”, yang
akhirnya akhirnya dalam bahasa indonesia kata masyarakat itu diartikan kumpulan orang yang
saling bergaul.
Menurut Ralph Linton seperti yang dikutif oleh Sujono Soekanto (2003:24) mengartikan
masyarakat merupakan sekelompok manusia yang telah hidup dan bekerja bersama cukup
lama, sehingga mereka dapat mengatur diri mereka dan menganggap diri mereka sebagai
suatu kesatuan sosial dengan batas-batas yang dirumuskan dengan jelas . Masih dalam buku
yang sama, Selo Soemardjan (Soekanto, 2003:24) menyatakan masyarakat adalah orang-
orang yang hidup bersama, yang menghasilkan kebudayaan.
Suatu kesatuan sosial yang terdiri dari individu-individu tidak semuanya bisa dikatakan
sebagai masyarakat, untuk dapat dikatakan sebagai masyarakat maka kumpulan individu-
individu tersebut harus biasanya akan memiliki ciri-ciri sebagai berikut::
Adanya interaksi antar warga, potensi berinteraksi adalah bahasa. Contoh orang
Indonesia dapat beriteraksi dari Sabang sampai Merauke dengan melalui jaringan
komunikasi misalnya jalan raya, jaringan telekomunikasi radio, televisi, serta surat kabar
tingkat nasional dsb.
Adanya adat istiadat / norma-norma hukum serta aturan khas yang mengatur seluruh
pola tingkah laku warganya.
Adanya suatu kesinambungan akan waktu
Adanya suatu rasa identitas yang kuat yang mengikat seluruh warganya.
Dengan melihat ciri - ciri tersebut diatas maka dapat dikatakan bahwa masyarakat adalah
Suatu kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu satuan adat istiadat tertentu
yang berkesinambungan dan terikat oleh suatu rasa identitas bersama.
Pengertian manusia yang hidup bersama (masyarakat) dalam ilmu sosial tidak mutlak
jumlahnya, bisa saja dua orang atau lebih, tetapi minimal adalah dua orang. Manusia tersebut
hidup bersama dalam waktu cukup lama, dan akhirnya melahirkan manusia-manusia baru yang
saling berhubungan satu dengan lainnya. Hubungan antara manusia itu, kemudian melahirkan
keinginan, kepentingan, perasaan, kesan, penilaian dan sebagainya. Keseluruhan itu kemudian
5. mewujudkan adanya system komunikasi dan peraturan-peraturan yang mengatur hubungan
antara manusia dalam masyarakat tersebut. Dalam system hidup tersebut, maka munculah
budaya yang mengikat antara satu manusia dengan lainnya.
B. Bidang Kajian Sosiologi
Sosiologi sebagai ilmu sosial yang mempunyai fokus kajian mengenai tingkah laku manusia
mempunyai bidang kajian yang sangat luas, antara lain bidang kajian Sosiologi Industri,
Sosiologi Hukum, Sosiologi Pendidikan, Sosiologi Perkotaan, Sosiologi Pedesaan, Sosiologi
Kesehatan, dan lain-lain.
Sosiologi Industri mengkaji masalah fenomena industri dengan menitikberatkan kajiannya pada
faktor manusia, dan mengaitkannya dengan faktor mesin serta mekanisme kerja pabrik yang
berorientasi pada efisiensi dan efektivitas. Sedangkan Sosiologi Hukum merupakan cabang
sosiologi yang mengkaji fenomena-fenomena hukum yang ada di masyarakat. Sementara itu
Sosiologi Pendidikan mengkaji proses-proses sosiologis yang berlangsung dalam lembaga
pendidikan dengan tekanan dan wilayah tekanannya pada lembaga pendidikan. Di lain pihak
Sosiologi Perilaku Menyimpang mengkaji perilaku dan kondisi yang dianggap tidak sesuai
dengan norma-norma yang sudah disepakati dalam masyarakat.
Dalam melakukan kajiannya, terutama pada masyarakat modern, sosiologi perlu bekerja sama
dengan ilmu-ilmu sosial lainnya membentuk kajian multidisipliner. Antropologi bisa membantu
sosiologi dalam hal metodologi mengingat antropologi mempunyai pengalaman yang sangat
panjang dalam melakukan penelitian yang bersifat kualitatif. Psikologi bisa memberi masukan
bagi sosiologi dalam hal informasinya mengenai kecenderungan-kecenderungan yang sifatnya
individual. Sementara itu sosiologi juga harus meminta bantuan ahli sejarah untuk memberi
informasi tentang proses historis yang ada dalam fenomena perubahan sosial
C. Keterkaitan antara Psikologi dan Sosiologi
Manusia sebagai makhluk sosial juga menjadi obyek dari sosial. Sosiologi sebagai ilmu
pengetahuan yang berhubungan manusia, mempelajari manusia di dalam hidup
bermasyarakatnya. Karena itu baik psikologi maupun sosiologi yang membicarakan manusia,
tidaklah mengherankan kalau pada suatu pada waktu ada titik-titik di dalam meninjau
pertemuan manusia itu, misalnya manusia itu, soal tingkah laku. Tinjauan sosiologi yang
penting ialah hidup bermasyarakatnya, sedangkan tinjauan psikologi ialah bahwa tingkah laku
6. sebagai manifestasi hidup kejiwaan, yang didorong oleh motif tertentu hingga manusia itu
bertingkah laku atau berbuat. Seperti apa yang dikemukan oleh Bouman:
“sosiologi adalah ilmu pengetahuan tentang hidup manusia dalam hubungan golongan. Ia
mempelajari hubungan-hubungan antara sesama manusia, sepanjang hal ini berarti bagi kita
dalam memperdalam pengetahuan kita tentang perhubungan-perhubungan dalam masyarakat.
Dalam hal ini yang terutama menarik perhatian kita adalah bentuk-bentuk pergaulan hidup, di
mana perhubungan-perhubungan ini menunjukan sifat yang kurang atau lebih kekal: pertama-
tama golongan-golongan dan penggolongan-penggolongan (bangsa, keluarga, perhimpunan,
tingkatan, kelas, dan sebagainya.)
Bagi ahli sosiologi tinggallah satu persoalan yang tak dapat dimasukkan dalam ilmu-ilmu
pengetahuan lainnya, yakni menyelami hakikat kerja sama dan kehidupan bersama dalam
segala macam bentuk yang timbul dari perhubungan antar manusia. Jadi yang dipersoalkan di
sini ialah kehidupan bergolong-golongan yang sebenarnya.”(Bouman, 1953).
Karena adanya titik-titik persamaan ini maka timbullah cabang-cabang ilmu pengetahuan dalam
psikologi yaitu psikologi sosial yang khusus menyelidiki dan mempelajari tingkah laku manusia
dalam hubungannya dengan dengan situasi-situasi sosial. Makin lama orang makin menyadari
bahwa tingkah laku manusia tidak dapat terlepas dari keadaan sekitarnya, karena itu tidaklah
sempurna meninjau manusia itu berdiri sendiri terlepas dari masyarakat yang melatarbelakangi.
Pada dasarnya Psikologi adalah ilmu yang sangat erat kaitannya dengan ilmu- ilmu lain.
Hubungan psikologi dengan ilmu lain dapat dikatakan seperti simbiosis mutualisme, yaitu saling
membantu, saling mengisi satu sama lain. Psikologi dengan ilmu lain tidak dapat berdiri sendiri,
keduanya saling memerlukan bantuan. Psikologi mempunyai hubungan dengan ilmu-ilmu lain
seperti:
Psikologi dan sosiologi mempunyai hubungan yang sangat erat. Psikologi mempelajari tentang
perilaku manusia dalam lingkungan sedangkan Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang
perilaku hubungan antar individu, dan antar individu dan kelompok dalam perilaku sosial,
sosiologi lebih mempelajari struktur yang berubah atau konstan tanpa bergantung dengan
individu-individu lain. Namun dalam ilmu psikologi lebih mempelajari manusia sebagai individu
sedangkan dalam sosiologi memandang manusia sebagai makhluk kelompok.Antara psikologi
dan sosiologi sama-sama memerlukan bantuan dan saling memerlukan satu sama lain.
7. Sosiologi adalah juga suatu ilmu yang secara langsung berhubungan dengan tingkah laku
manusia. Para ahli sosiologi terutama memusatkan perhatiannya kepada tingkah laku
kelompok. Ia mempelajari pengaruh-pengaruh kelompok terhadap individu-individu yang
termasuk dalam kelompok itu. Melihat kepada apa yang menjadi objek sosiologi seperti tersebut
diatas, tampak oleh kita bahwa ilmu ( psikologi dan sosiologi ) inipun mempunyak banyak
persamaan atau keterkaitan. Perbedaanya psikologi menekankan pada person individu,
mengapa individu bertingkah laku seperti yang dia lakukan, sedangkan sosiologi menekankan
pada sifat-sifat dan tingkah laku kelompok. Yang dipelajari sosiologi terutama ialah hubungan
sosial manusia
D. Sosiologi sebagai ilmu pengetahuan
Sosiologi jelas merupakan ilmu sosial yang objeknya adalah masyarakat, sosiologi merupakan
ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri ( lepas dari filsafat ) karena telah memenuhi segenap
unsur-unsur ilmu pengetahuan yang ciri-ciri utamanya adalah sebagai berikut :
a. Sosiologi bersifat empiris yang berarti bahwa ilmu pengetahuan tersebut didasarkan
pada observasi terhadap kenyataan dan akal sehat serta hasilnya tidak bersifat
spekulatif
b. Sosiologi bersifat teoritis yaitu ilmu pengetahuan tersebut selalu berusaha untuk
menyusun abstraksi dari hasil-hasil observasi, serta bertujuan untuk menjelaskan
hubungan hubungan sebab akibat sehingga menjadi teori
c. Sosiologi bersifat kumulatif, yang berarti bahwa teori-teori sosiologi dibentuk atas dasar
teori-teori yang sudah ada dalam arti memperbaiki, memperluas serta memperhalus
teori-teori yang lama
d. Sosiologi bersifat nonetis, yakni yang dipersoalkan bukanlah buruk baiknya fakta
tertentu tetapi tujuannya adalah untuk menjelaskan fakta tersebut secara analitis
Pokok-pokok bahasan sosiologi menurut
a. Pandangan para perintis
1. FAKTA SOSIAL ( emile Durkeim ) : cara bertindak, berfikir, dan berperasaan
yang bersumber pada suatu kekuatan diluar individu, bersifat memaksa dan
mengendalikan individu, dan berada di luar kehendak pribadi individu ( ada
dibuku Rules of sosiologi Method )
8. 2. TINDAKAN SOSIAL ( max Weber ) : Tindakan yang dilakukan dengan
mempertimbangkan perilaku orang lain dan berorientasi pada perilaku orang lain
b. Pandangan ahli sosiologi masa kini
3. IMAJINASI / KHAYALAN SOSIOLOGI : dua unsur pokok dalam imajinasi sosial
adalah personal trouble of millieu ( berlangsung dalam ciri individu dan dalam
jangkuan hubungan langsungnya dengan orang lain ) dan Public Issues ( hal
yang berada di luar lingkungan setempat individu dan di luar jangkuan
kehidupan pribadinya bersifat umum).
Ruang lingkup kajian sosiologi lebih luas dari ilmu sosial lainnya. Hal ini dikarenakan ruang
lingkup sosiologi mencakup semua interaksi sosial yang berlangsung antara individu dengan
individu, individu dengan kelompok, serta kelompok dengan kelompok di lingkugan masyarakat.
E. Sejarah dan Perkembangan Sosiologi
Sosiologi muncul dan berkembang manakala masyarakat menghadapi ancaman. L.
Laeyendecker pun mengaitkan kelahiran sosiologi dengan serangkain perubahan berjangka
panjang yang melanda eropa barat di abad pertengahan antaralain
a. Tumbuhnya kapitalisme pada abad 15, kapitalisme lahir (menurut max weber konsultan
dan peneliti 1864-1920) dari sekte kalvinisme dalam agama prostestan dimana ajaran
kalvinisme mengharuskan umatnya untuk menjadikan dunia tempat yg makmur yg
dicapai dengan kerja keras, karena kemakmuran menuntun mereka ke arah surga. Sisi
lain dari ajaran ini adalah mewajibkan umatnya untuk hidup sederhana dan melarang
segala bentuk kemewahan dan foya-foya. Mereka yg semakin makmur
tidakmengkonsumsi melaikan ditanamkan kembali dalam usaha mereka
b. Perubahan di bidang sosial politik dan perubahan berkenaan dengan reformasi marthin
luther
c. Meningkatnya individualisme dan lahirnya ilmu pengetahuan modern
d. Berkembangnya kepercayaan pada dirinya sendiri
e. Revolusi di abad 18 : Revolusi industri serta Revolusi perancis
Kekuatan sosial yang mendorong pertumbuhan sosiologi antara lain : revolusi politik, revolusi
industri, munculnya kapitalisme, munculnya sosialisme, urbanisasi, perubahan keagamaan,
pertumbuhan ilmu
9. Para Perintis Sosiologi :
Auguste comte ( 1798-1857) pemberi nama sosiologi, Karl marx ( jerman 1818-1883), emile
Durkhiem (1858-1917), max weber (1864-1920)
F. Sejarah Perkembangan Sosiologi di Indonesia
Sejak jaman kerajaan di Indonesia sebenarnya para raja dan pemimpin di Indonesia sudah
mempraktikkan unsur-unsur Sosiologi dalam kebijakannya begitu pula para pujangga
Indonesia. Misalnya saja Ajaran Wulang Reh yang diciptakan oleh Sri PAduka Mangkunegoro
dari Surakarta, mengajarkan tata hubungan antara para anggota masyarakat Jawa yang
berasal dari golongan-golongan yang berbeda, banyak mengandung aspek-aspek Sosiologi,
terutama dalam bidang hubungan antar golongan (intergroup relations)
.
Ki Hajar Dewantoro, pelopor utama pendidikan nasional di Indonesia, memberikan sumbangan
di bidang sosiologi terutama mengenai konsep-konsep kepemimpinan dan kekeluargaan di
Indonesia yang dengan nyata di praktikkan dalam organisasi pendidikan Taman Siswa.
Pada masa penjajahan Belanda ada beberapa karya tulis orang berkebangsaan belanda yang
mengambil masyarakat Indonesai sebagai perhatiannya seperti Snouck Hurgronje, C. Van
Vollenhoven, Ter Haar, Duyvendak dll. Dalam karya mereka tampak unsur-unsur Sosiologi di
dalamnya yang dikupas secara ilmiah tetapi kesemuanya hanya dikupas dalam kerangka non
sosiologis dan tidak sebagai ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri. Sosiologi pada waktu itu
dianggap sebagai Ilmu pembantu bagi ilmu-ilmu pengetahuan lainnya. Dengan kata lain
Sosiologi ketika itu belum dianggap cukup penting dan cukup dewasa untuk dipelajari dan
dipergunakan sebagai ilmu pengetahuan, terlepas dari ilmu-ilmu pengetahuan lainnya.
Kuliah-kuliah Sosiologi mulai diberikan sebelum Perang Dunia ke dua diselenggarakan oleh
Sekolah Tinggi Hukum (Rechtshogeschool) di Jakarta. Inipun kuliah Sosiologi masih sebagai
pelengkap bagi pelajaran Ilmu Hukum. Sosiologi yang dikuliahkan sebagin besar bersifat filsafat
Sosial dan Teoritis, berdasarkan hasil karya Alfred Vierkandt, Leopold Von Wiese, Bierens de
Haan, Steinmetz dan sebagainya.
Pada tahun 1934/1935 kuliah-kuliah Sosiologi pada sekolah Tinggi Hukum tersebut malah
ditiadakan. Para Guru Besar yang bertaggung jawab menyusun daftar kuliah berpendapat
10. bahwa pengetahuan dan bentuk susunan masyarakat beserta proses-proses yang terjadi di
dalamnya tidak diperlukan dalam pelajaran hukum.
Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, seorang sarjana
Indonesia yaitu Soenario Kolopaking, untuk pertama kalinya member kuliah sosiologi (1948)
pada Akademi Ilmu Politik di Yogyakarta (kemudia menjadi Fakultas Sosial dan Ilmu Politik
UGM . Beliau memberika kuliah dalam bahasa Indonesai ini merupakan suatu yang baru,
karena sebelum perang dunia ke dua semua perguruan tinggi diberikan da;am bahasa Belanda.
Pada Akademi Ilmu Politik tersebut, sosiologi juga dikuliahkan sebagai ilmu pengetahuan dalam
Jurusan Pemerintahan dalam Negeri, hubungan luar negeri dan publisistik. Kemudian
pendidkikan mulai di buka dengan memberikan kesempatan kepara para mahasiswa dan
sarjana untuk belajar di luar negeri sejak tahun 1950, mulailah ada beberapa orang Indonesia
yang memperdalam pengetahuan tentang sosiologi.
Buku Sosiologi mulai diterbitkan sejak satu tahun pecahnya revolus fisik. Buku tersebut berjudul
Sosiologi Indonesai oleh Djody Gondokusumo, memuat tentang beberapa pengertian elementer
dari Sosiologi yang teoritis dan bersifat sebagai Filsafat. Selanjutnya buku karangan Hassan
Shadily dengan judul Sosilogi Untuk Masyarakat Indonesia yang merupakan merupakan buku
pelajaran pertama yang berbahasa Indonesia yang memuat bahan-bahan sosiologi yang
modern.
Para pengajar sosiologi teoritis filosofis lebih banyak mempergunakan terjemahan buku-
bukunya P.J. Bouman, yaitu Algemene Maatschapppijleer dan Sociologie, bergrippen en
problemen serta buku Lysen yang berjudul Individu en Maatschapppij.
Buku-buku Sosiologi lainnya adalah Sosiologi Suatu Pengantar Ringkas karya Mayor Polak,
seorang warga Negara Indonesia bekas anggota Pangreh Praja Belanda, yang telah mendapat
pelajaran sosiologi sebelum perang dunia kedua pada universitas Leiden di Belanda. Beliau
juga menulis buku berjudul Pengantar Sosiologi Pengetahuan, Hukum dan politik terbit pada
tahun 1967. Penulis lainnya Selo Soemardjan menulis buku Social Changes in Yogyakarta
pada tahun 1962. Selo Soemardjan bersama Soelaeman Soemardi, menghimpun bagian-
bagian terpenting dari beberapa text book ilmu sosiologi dalam bahasa Inggris yang disertai
dengan pengantar ringkas dalam bahasa Indonesia dirangkum dalam buku Setangkai Bunga
Sosiologi terbit tahun 1964.
11. Dewasa ini telah ada sejumlah Universitas Negeri yang mempunyai Fakultas Sosial dan politik
atau Fakultas Ilmu Sosial. Sampai saat ini belum ada Universitas yang mngkhususkan sosiologi
dalam suatu fakultas sendiri, namun telah ada Jurusan Sosiologi pada beberapa fakultas Sosial
dan Politik UGM, UI dan UNPAD.
Penelitian-penelitian sosiologi di Indonesia belum mendapat tempat yang sewajarnya, oleh
karena masyarakat masih percaya pada angka-angka yang relative mutlak, sementara sosiologi
tidak akan mungkin melakukan hal-hal yang berlaku mutlak disebkan masing-masing manusia
memiliki kekhususan. Apalagi masyarakat Indonesai merupakan masyarakat majemuk yang
mencakup beragam suku.