Sejak dipublikasikannya laporan mengenai tingginya tingkat kesalahan medis di pelayanan
kesehatan dalam buku “To Err is Hu...
Teori Deming dan Juran
Paska perang dunia ke II, terjadi revolusi mutu dengan diperkenalkannya konsep Plan-Do-
Check-Act (...
sakit, dan peralatan yang dimiliki RS. Proses adalah transaksi antara pasien dan semua provider
kesehatan dalam proses pel...
keselamatan pasien dan juga keselamatan karyawan rumah sakit. Dampak berbagai macam
kebijakan terhadap performa klinis dan...
yang semakin menua dan menderita beberapa penyakit sehingga membutuhkan lebih banyak
obat dan meningkatkan resiko terjadin...
Clinical management
Bagi praktisi klinis, penelitian-penelitian terkait dengan manajemen klinik juga menjadi topik
yang bi...
 Bagaimana ketepatan dan kecepatan pengantaran hasil pemeriksaan laboratorium di
rumah sakit?
 Bagaimana pendekatan yang...
Kesenjangan akses pada pelayanan kesehatan
Kesenjangan adalah masalah yang dihadapi oleh negara maju dan berkembang saat i...
dirinya sendiri untuk terus meningkatkan mutu dengan mengikuti kompetisi-kompetisi terkait
patient safety atau membuka dat...
Próximos SlideShares
Carregando em…5
×

Pasien safety

203 visualizações

Publicada em

pasien safety

Publicada em: Saúde e medicina
  • Seja o primeiro a comentar

  • Seja a primeira pessoa a gostar disto

Pasien safety

  1. 1. Sejak dipublikasikannya laporan mengenai tingginya tingkat kesalahan medis di pelayanan kesehatan dalam buku “To Err is Human” dan “Crossing Quality Chasm” oleh Institute of Medicine, perhatian terhadap isu mutu pelayanan kesehatan dan keselamatan pasien menjadi sangat meningkat. Sejak saat itu pula scope penelitian dan ilmu manajemen terkait mutu dan keselamatan pasien menjadi semakin luas dan kompleks. Kini diketahui bahwa pelayanan kesehatan pada umumnya tidak efisien, manajemen klinis pasien tidak efektif karena kepatuhan pada standar klinis juga masih rendah. Dengan semakin banyaknya RS yang melakukan audit klinis dan mengikuti surveilans penyebab kematian, maka kini diketahui bahwa proporsi kematian akibat kesalahan medis dan kejadian yang tidak diharapkan juga sangat besar. Oleh karena itu professional kesehatan dari berbagai bidang perlu memahami teori-teori dan metode-metode esensial untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan dan meningkatkan keselamatan pasien. Cluster Safety and Quality in Health Care ini ditujukan untuk professional kesehatan yang bekerja di institusi pelayanan kesehatan dan berfokus pada pengembangan pengetahuan, ketrampilan dan metode-metode yang diperlukan dalam pengembangan mutu sistem pelayanan kesehatan. Topik penelitian yang dibahas dalam klaster ini berpilar pada enam dimensi mutu pelayanan kesehatan menurut WHO, yaitu: acceptable/patient-centred, effective, efficient, accessible, equitable, dan safe. Dasar Teori Mutu Untuk mengukur mutu pelayanan kesehatan diperlukan penilaian terhadap manfaat yang diperoleh pasien atau masyarakat dari pelayanan kesehatan. Masalah mutu telah ditekankan oleh Aristoteles dalam salah satu tulisannya, “We are what we repeatedly do; excellence, then, is not an act but a habit”. Shewhart control chart Pengukuran mutu berdasarkan teori manajemen modern dimulai dari dunia industri senjata paska perang dunia ke II dengan diperkenalkannya Shewhart’s control chart pada tahun 1930an. Grafik pada control chart ini mengindikasikan apakah proses masih terkontrol atau sudah di luar kontrol. Teori ini dikembangkan lebih lanjut oleh Taguchi yang memperkenalkan prinsip bahwa produk yang bermutu adalah produk yang dibuat sesuai dengan spesifikasi dan terlalu banyaknya variasi akan berdampak negatif terhadap mutu dan biaya. Selanjutnya muncul konsep Lean dari James P. Womack yang bertujuan untuk memaksimalkan nilai suatu produk dengan meminimalkan biaya akibat proses atau penggunaan sumber daya yang tidak efisien.
  2. 2. Teori Deming dan Juran Paska perang dunia ke II, terjadi revolusi mutu dengan diperkenalkannya konsep Plan-Do- Check-Act (PDCA) oleh W. Edwards Deming dan Joseph M. Juran di Jepang . Menurut Deming ada empat hal yang harus diperhatikan dalam peningkatan mutu, yaitu: appreciation for a system, knowledge about variation, theory of knowledge, danpsychology. Oleh karena itu pendekatan Deming tidak hanya berfokus pada produk outcome melainkan juga seluruh proses dalam organisasi dan SDM yang terlibat di dalamnya. Total Quality Management (TQM) Sektor industri di AS merespon revolusi mutu ini dengan memperkenalkan Total Quality Management (TQM) pada tahun 70an. TQM terdiri dari tiga paradigma, yaitu Total yang berarti melibatkan seluruh organisasi, supply chain dan product life cycle; Quality yang berarti mutu yang diterima konsumen dan mutu yang diterima pengelola atau pemegang saham sebagai hasil investasi;dan Management yang terdiri dari langkah-langkah manajemen seperti perencanaan, organisasi, control, kepemimpinan, staf, penyediaan, dan pengendalian sumber daya. Tujuan utama implementasi TQM adalah untuk mengurangi variasi dalam semua proses sehingga bisa dicapai konsistensi yang lebih baik. Upaya untuk mengurangi variasi proses dan meminimalkan defek atau efek yang tidak diharapkan semakin berkembang dengan munculnya teori Six Sigma dan Lean Management. Standar mutu di bidang pelayanan kesehatan Di bidang pelayanan kesehatan, Florence Nightingale meletakkan pondasi mutu untuk pertama kalinya dengan memperkenalkan penggunaan standar keperawatan yang berdampak pada penurunan angka kematian di RS secara drastis. Di tahun 1910, American Medical Association (AMA) membuat laporan permasalahan mutu di rumah sakit dan pendidikan kedokteran yang kemudian mendorong disusunnya Standar Pelayanan Minimum di Rumah Sakit untuk pertama kalinya pada tahun 1917. Untuk menilai apakah Rumah Sakit sudah menerapkan standar pelayanan minimum, beberapa asosiasi profesi kedokteran bergabung untuk membentuk Joint Commission of Accreditation of Hospitals. Sejak itu berbagai macam upaya peningkatan mutu mulai dilakukan untuk mencapai standar pelayanan minimal, tidak hanya di Amerika tetapi meluas ke semua negara maju dan berkembang di dunia. Donabedian Model Di awal tahun 1980an, Avedis Donabedian memperkenalkan konsep untuk mengevaluasi mutu pelayanan kesehatan yang terdiri dari Struktur, Proses, dan Outcome. Struktur adalah konteks dimana terjadi pelayanan kesehatan, termasuk bangunan rumah sakit, staf, pembiayaan rumah
  3. 3. sakit, dan peralatan yang dimiliki RS. Proses adalah transaksi antara pasien dan semua provider kesehatan dalam proses pelayanan kesehatan dan outcomes adalah pengaruh dari pelayanan kesehatan terhadap status kesehatan pasien dan populasi di sekitarnya. Research Agenda in the Safety and Quality in Healthcare Isu-isu Global Lembaga internasional seperti WHO atau lembaga penjamin mutu di negara-negara maju seringkali menjadi pencetus isu-isu global untuk peningkatan mutu di penyedia layanan kesehatan di negara maju lainnya dan juga di negara berkembang. Isu-isu yang diangkat antara lain berbagai macam inisiatif keselamatan pasien, manajemen risiko, hand hygiene, safe surgery, dan lain-lain. Selain itu beberapa institusi internasional juga telah mempublikasikan beberapa index mutu kesehatan dan menjadi lembaga penilai mutu berdasarkan beberapa indikator di banyak rumah sakit. Berbagai contoh program peningkatan mutu yang telah dikembangkan oleh organisasi-organisasi internasional tersebut bisa juga direplikasi ide dan konsepnya untuk dijadikan topik penelitian di Indonesia. Contoh pertanyaan penelitian:  Bagaimana kepatuhan dokter dan perawat untuk cuci tangan dengan kejadian angka infeksi MRSA di unit perawatan intensif rumah sakit?  Bagaimana implementasi safe surgery checklist di rumah sakit di Indonesia? Apa saja kendala implementasinya dan bagaimana dampaknya terhadap outcome klinis pasien? Kebijakan terkait mutu pelayanan kesehatan Indonesia termasuk salah satu negara yang aktif melakukan perubahan dalam sistem kesehatan, misalnya dalam hal sistem pembiayaan kesehatan nasional dengan diberlakukannya Sistem Jaminan Kesehatan Nasional di 2014, penerapan sistem BLU, dan desentralisasi pemerintahan. Perubahan kebijakan di tingkat nasional akan mempengaruhi mutu pelayanan kesehatan, termasuk mutu luaran klinisnya. Oleh karena itu diperlukan kebijakan-kebijakan khusus untuk menjamin mutu pelayanan dan mutu klinis di rumah sakit. Kebijakan ini bisa berasal dari internal dan eksternal rumah sakit atau fasilitas kesehatan. Misalnya kewajiban rumah sakit untuk mengikuti penilaian akreditasi rumah sakit nasional atau internasional, seperti yang dikelola oleh Komite Akreditasi Rumah Sakit (KARS) dan Joint Commission International (JCI). Bisa juga berupa kebijakan-kebijakan internal rumah sakit terkait dengan implementasi program
  4. 4. keselamatan pasien dan juga keselamatan karyawan rumah sakit. Dampak berbagai macam kebijakan terhadap performa klinis dan manajemen pelayanan kesehatan, termasuk dampaknya terhadap kepuasan pasien dan tenaga kesehatan juga menjadi aspek menarik yang bisa diteliti. Contoh pertanyaan penelitian  Bagaimana karakteristik dan proses leadership mempengaruhi pencapaian akreditasi rumah sakit?  Bagaimana proses pembentukan kebijakan di rumah sakit untuk mendukung tercapainya akreditasi JCI? Patient Safety and Risk Management Patient safety atau keselamatan pasien menjadi perhatian utama dalam pelayanan kesehatan karena semakin banyak terjadi kejadian yang tidak diharapkan yang mengakibatkan kematian, kecacatan, dan kerugian biaya yang tidak sedikit bagi penyedia pelayanan kesehatan. Berbagai macam inisiatif telah banyak dikembangkan untuk mengurangi kejadian yang tidak diharapkan dan meningkatkan keselamatan pasien. Salah satu cara termudah untuk mengetahui kejadian yang tidak diharapkan adalah dengan pelaporan aktif petugas kesehatan, akan tetapi ada banyak hal-hal yang menghambat petugas untuk bisa segera melaporkan kejadian yang tidak diharapkan tersebut. Untuk bisa mengukur seberapa aman rumah sakit/fasilitas pelayanan kesehatan dalam memberikan pelayanan kesehatan pada pasien dan seberapa baik fasilitas pelayanan kesehatan tersebut menjamin keselamatan pasien diperlukan keahlian untuk mengukur insidensi kejadian yang tidak diharapkan, mengukur insidensi/prevalensi terjadinya error, melakukan root cause analysis, failure mode and effect analysis, selain berbagai metode analisis lainnya. RS atau penyedia pelayanan juga dapat mengukur dampak dari tindakan yang tidak atau kurang bermutu dan biaya yang disebabkannya. Selain itu manajemen juga harus menjamin bahwa risiko bisa dikomunikasikan dengan baik kepada pasien, kepada sesama petugas kesehatan, kepada manajemen dan masyarakat umum. Contoh pertanyaan penelitian:  Bagaimana pencapaian indicator patient safety di rumah sakit dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhinya?  Bagaimana peran pasien dalam mendukung program patient safety?  Metode apa yang paling efektif untuk mengidentifikasi terjadinya adverse event atau insiden terkait patient safety di rumah sakit? Medication safety Medication safety menjadi salah satu bagian dari paradigm patient safety. Jumlah pemakaian obat akan semakin meningkat dengan ditemukannya obat-obat baru, karakteristik masyarakat
  5. 5. yang semakin menua dan menderita beberapa penyakit sehingga membutuhkan lebih banyak obat dan meningkatkan resiko terjadinya interaksi obat, pemberian obat yang tidak perlu atau tidak sesuai indikasi karena ketidaktahuan atau karena dorongan ekonomi, penggunaan obat-obat herbal, dan lain-lain. Selain itu saat ini juga mulai berkembang penggunaan sistem-sistem untuk mengurangi terjadinya medication error antara lain dengan implementasi system Computerized Physicians Order Entry (CPOE) dan berbagai manajemen obat modern. Dampak terhadap medication safety, analisis biaya, kepatuhan terhadap pedoman pengobatan, kepatuhan pasien, dan lain-lain, adalah topik-topik yang potensial untuk diteliti. Contoh pertanyaan penelitian:  Bagaimana implementasi 6 benar dalam pemberian obat pasien rawat inap?  Bagaimana RS menerapkan sistem untuk mengidentifikasi adverse drug reaction sedini mungkin?  Bagaimana RS menerapkan sistem untuk mengurangi variasi pemberian jenis obat pada pasien?  Bagaimana dokter beradaptasi terhadap perubahan pola pembiayaan kesehatan pasien di era SJKN? Data for Quality Improvement Data adalah faktor esensial untuk mengukur mutu pelayanan kesehatan. Pengumpulan data secara sistematis masih jarang dilakukan karena berbagai macam faktor penghambat. Pemilihan dan penetapan indikator mutu juga masih menjadi masalah, karena banyak yang hanya berfokus pada indikator-indikator standar nasional dan tidak mengenal indikator-indikator mutu internasional. Fenomena lain adalah tidak digunakannya data yang ada untuk menilai performa pelayanan kesehatan karena merasa tidak mampu menganalisisnya. Selain itu di negara maju mulai banyak institusi yang mempublikasi data performa rumah sakit sehingga masyarakat bisa memutuskan rumah sakit mana yang menjadi pilihannya. Publikasi data performa rumah sakit ini terbukti mampu mendorong rumah sakit meningkatkan mutunya. Akan tetapi hal ini belum menjadi perhatian khusus di Indonesia. Topik-topik terkait pemanfaatan data untuk peningkatan mutu pelayanan kesehatan juga menjadi prioritas penelitian. Contoh pertanyaan penelitian:  Bagaimana akurasi data pelaporan rutin RS (data RL) ke pusat, dampak dan faktor-faktor yang mempengaruhinya?  Bagaimana RS memanfaatkan data laporan rutin untuk peningkatan mutu rumah sakit?  Bagaimana RS memanfaatkan data klaim jaminan kesehatan nasional ke BPJS untuk pengambilan kebijakan didalam RS?  Bagaimana dokter memanfaatkan hasil penelitian untuk meningkatkan mutu pelayanan klinisnya?
  6. 6. Clinical management Bagi praktisi klinis, penelitian-penelitian terkait dengan manajemen klinik juga menjadi topik yang bisa diangkat untuk penelitian doktoral. Antara lain penyusunan clinical guideline dan standar pengobatan, penggunaan decision support tools, analisis pengambilan keputusan klinis, pengukuran outcome klinis pasien berdasarkan indikator-indikator klinis, berbagai macam proses dalam pelayanan kesehatan, seperti waktu tunggu, kepatuhan pada pedoman, praktik hygiene dan sanitasi, teamwork, komunikasi, 8 waste dalam konsep lean hospital, telemedicine, readmission, length of stay, adverse effects, medical error, dan lain-lain. Salah satu topik yang menjadi isu global saat ini adalah pengendalian penyakit tidak menular/kronik, seperti diabetes, penyakit kardiovaskular, dan lain-lain. Di negara maju telah banyak penelitian mengenai implementasi chronic care model untuk pengendalian penyakit tidak menular, akan tetapi belum banyak informasi dari negara berkembang seperti Indonesia. Contoh pertanyaan penelitian:  Bagaimana dampak SJKN terhadap peningkatan pasien yang dirawat ulang (readmisi)?  Bagaimana keberlangsungan terapi (continuity of care) pasien penyakit kronis di era SJKN? Quality Management System Penelitian di bidang quality management system berfokus pada aplikasi-aplikasi teori manajemen mutu di fasilitas pelayanan kesehatan. Teori yang digunakan bisa merupakan teori- teori yang telah banyak digunakan di dunia kesehatan, seperti teori dari Avedis Donabedian, maupun teori-teori mutu yang dikembangkan di dunia industry. Bagaimana aplikasi teori dapat mempengaruhi system pelayanan kesehatan dan dampaknya terhadap outcome klinis, finansial, kepuasan kerja karyawan, adalah topik penting yang bisa diteliti. Clinical Governance Clinical Governance adalah suatu sistem dimana organisasi bertanggung jawab untuk terus menerus meningkatkan kualitas pelayanan dan menjaga standar pelayanan yang tinggi dengan menciptakan lingkungan yang supportif. Clinical governance berfokus pada pasien, informasi, mutu, staf, dan kepemimpinan. Aplikasi evidence based performance indicators dan pengukuran performance management menjadi komponen penting dalam clinical governance. Contoh pertanyaan penelitian:  Dampak dari penerapan tim aksi cepat di unit perawatan intensif terhadap mutu luaran klinis
  7. 7.  Bagaimana ketepatan dan kecepatan pengantaran hasil pemeriksaan laboratorium di rumah sakit?  Bagaimana pendekatan yang paling baik untuk melakukan perubahan perilaku staf untuk implementasi program ventilator bundle di ICU? Audit & Monitoring Mutu Audit dan monitoring mutu menjadi bagian yang tidak terpisahkan untuk menjamin pelayanan yang aman dan bermutu. Saat ini sebagian besar RS hanya melakukan audit rutin yang harus dilaporkan kepada kementerian kesehatan. Belum banyak RS yang melakukan audit secara rutin untuk peningkatan mutu pelayanan kesehatan yang spesifik. Proses pelaksanaan audit juga masih bervariasi sehingga kualitas data dan interpretasi hasil audit juga masih menjadi masalah sehingga perlu adanya monitoring mutu audit. Ada berbagai macam faktor yang memfasilitasi dan menghambat proses audit yang efektif. Faktor-faktor ini terkait dengan ketersediaan sumber daya manusia, kualitas data rekam medis, waktu, biaya, dan lain-lain. Contoh pertanyaan penelitian:  Bagaimana clinical pathway meningkatkan kepatuhan terhadap standar pelayanan medis?  Bagaimana proses pengembangan clinical pathway di rumah sakit dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhinya?  Audit penatalaksanaan bayi baru lahir di kamar bersalin/NICU dan dampaknya terhadap angka infeksi nosocomial pada bayi baru lahir. Patient value Pasien menjadi fokus utama dalam pelayanan kesehatan dan menjadi salah satu bagian dari indikator mutu. Banyak upaya-upaya peningkatan mutu yang mulai melibatkan pasien, antara lain dengan mengukur keaktifan pasien dalam proses pengobatan, antara lain dengan mengingatkan dokter atau perawat untuk mematuhi pedoman pengobatan, kemandirian pasien dalam mengelola penyakitnya, kepuasan pasien, keterlibatan pasien dalam pengambilan keputusan klinis, pelayanan klinis yang terintegrasi/patient centred care, dan kepercayaan masyarakat pada institusi kesehatan. Contoh pertanyaan penelitian:  Bagaimana mengintegrasikan harapan pasien dengan kewajiban dokter untuk memenuhi standar pelayanan medis?  Bagaimana partisipasi pasien, keluarga pasien dan dokter dalam mengambil keputusan medis?  Bagaimana penilaian pasien terhadap moral hazard yang dilakukan dokter untuk kepentingan pasien?
  8. 8. Kesenjangan akses pada pelayanan kesehatan Kesenjangan adalah masalah yang dihadapi oleh negara maju dan berkembang saat ini. Kesenjangan dalam pelayanan kesehatan semakin mengemuka jika mempertimbangkan masalah geografi dan akses transportasi di Indonesia, kesenjangan ekonomi antar daerah di Indonesia juga mempertajam kesenjangan masyarakat dalam mengakses pelayanan kesehatan. Pada masyarakat yang sudah memiliki kemudahan akses pelayanan kesehatan, masih terdapat resiko kesenjangan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang bermutu, antara lain karena perbedaan system pembiayaan yang digunakan, perbedaan kelas perawatan, perbedaan provider, perbedaan teknologi kesehatan dan faktor-faktor social lainnya. Contoh pertanyaan penelitian:  Bagaimana perbandingan continuity of care untuk penyakit kronis berdasarkan model pembiayaan yang digunakan pasien?  Bagaimana kesenjangan tingkat keselamatan pasien pada level pelayanan kesehatan yang berbeda? Health Technology Assessment (HTA) HTA adalah satu bidang analisis kebijakan multi disipliner yang meneliti implikasi medis, ekonomis, sosial, dan etik dari penggunaan teknologi dalam pelayanan kesehatan. Bidang ini juga menjadi jembatan antara penelitian dengan pengambilan keputusan oleh praktisi klinis. Analisis epidemiologi, health economics, dan evaluasi impak social bisa digunakan dalam proses HTA. Contoh pertanyaan penelitian:  Bagaimana dampak HTA terhadap efisiensi biaya kesehatan?  Bagaimana unit cancer di RS mengadopsi teknologi baru (termasuk obat) untuk meningkatkan mutu klinisnya? Budaya Mutu Organisasi yang mengutamakan mutu akan membangun dan menjaga budaya mutu. Hal ini bisa tercermin dari terdapatnya hubungan antara organisasi rumah sakit dengan mutu pelayanan pasien, terdapat tim multidisiplin, terdapat system untuk memonitor mutu secara berkelanjutan, perilaku organisasi yang bermutu, terdapat system pendidikan, pelatihan dan pembelajaran berkelanjutan, dan budaya safety di semua bidang. Organisasi yang baik juga akan menantang
  9. 9. dirinya sendiri untuk terus meningkatkan mutu dengan mengikuti kompetisi-kompetisi terkait patient safety atau membuka data performa rumah sakitnya kepada publik. Contoh pertanyaan penelitian:  Bagaimana dampak implementasi JKN terhadap budaya keselamatan pasien di unit rawat darurat?  Bagaimana menggunakan data untuk mengukur budaya patient safety di rumah sakit? Safety of clinical environment Keselamatan pasien sangat dipengaruhi oleh kondisi hygiene dan sanitasi dari fasilitas pelayanan, perilaku tenaga kesehatan, dan keterlibatan pasien. Angka kematian akibat infeksi nosocomial atau infeksi yang didapat pasien akibat praktek yang tidak higienis cukup tinggi dan pada umumnya berdampak pada pemanjangan lama rawat inap sehingga biaya perawatan menjadi lebih tinggi. Banyak hal yang membutuhkan perhatian khusus terkait dengan keselamatan lingkungan klinis, antara lain Healthcare associated infection control, Hygiene management, Waste management, Occupational hazard, Adherence to personal protective equipment, Physical safety, and Hospital design. Contoh pertanyaan penelitian:  Bagaimana angka kuman di ruang rawat inap dan dampaknya terhadap kejadian infeksi nosocomial?  Bagaimana kepatuhan RS terhadap manajemen limbah medis dan dampaknya terhadap lingkungan?  Bagaimana manajemen bahan dan alat hygiene dan sanitasi di RS dan dampaknya terhadap angka infeksi nosocomial?

×