O slideshow foi denunciado.
Utilizamos seu perfil e dados de atividades no LinkedIn para personalizar e exibir anúncios mais relevantes. Altere suas preferências de anúncios quando desejar.

Penyembuhan luka part 1

21.715 visualizações

Publicada em

Dalam penyembuhan luka membutuhkan proses dan tahap sehingga dibutuhkan waktu, kesabaran dan pengobatan serta asuhan selama proses penyembuhan berlangsung, harus diketahui juga kriteria luka yang dijumpai, ukuran, jenis luka. peniliaian luka dapat diketahui dari pemeriksaan fisik (inspeksi, palpasi), kedalaman luka, eksudat, daerah luka. Sebagai seorang perawat harus juga mengetahui faktor yang mempengaruhi penyembuhan luka, mekanisme terjadinya luka, tipe penyembuhan luka, fase penyembuhan luka.

Publicada em: Educação
  • Login to see the comments

Penyembuhan luka part 1

  1. 1. PENYEMBUHAN LUKA Maria haryanti. B
  2. 2. DAMPAK YANG TIMBUL AKIBAT LUKA : 1)HILANGNYA FUNGSI SEBAGIAN/SELURU H ORGAN 2)PERDARAHAN 3)KEMATIAN SEL 4)INFEKSI
  3. 3. FASE PENYEMBUHAN LUKA 1.FASE INFLAMASI 2.FASE PROLOFERASI 3.FASE REMODELLING/ MATURASI
  4. 4. 1. FASE INFLAMASI Dimulai saat terjadi luka, bertahan 2 hingga 3 hari Diawali dengan vasokontriksi unk mencapai homestatis (efek epineprin dan tromboksan) Thrombus terbentuk dan rangkaian pembentukan darah diaktifkan sehingga terjadi deposisi fibrin
  5. 5. Keping darah melepaskan platelet derived growth factor (PDGF) dan transforming growth factor ᵦ (TGF-ᵦ) yg menarik sel-sel inflamasi, terutama magrofag Setelah homestatis tercapai, terjadi vasodilatasi dan permeabilitas pembuluh darah meningkat
  6. 6. Jumlah neutrofil memuncak pada 24 jam dan membantu debridement Monosit memasuki luka, menjadi makrofag dan jumlahnya memuncak dalam 2 hingga 3 hari Magrofag menghasilkan PDGF dan TGF-ᵦ akan menarik fibroblast dan merangsang pembentukan kalogen
  7. 7. B. FASE PROLOFERASI 1)Dimulai pd hari ke 3 sertelah fibroblast datang dan bertahan hingga minggu ke 3 2)Fibroblast : ditarik dan diaktifkan oleh PDGF dan TGF-ᵦ : memasuki luka padaa hari ke 3 mencapai jumlah terbanyak pada hari ke 7 3)Terjadi sintesis kolagen (terutama tipe III) angiogenesis dan epitelisasi
  8. 8. 4) Jumlah kolagen total meningkat selama 3 minggu hingga produksi dan pemecahan kolagen mencapai keseimbangan yg menandai dimulainya fase remodeling 5)Pd fase ini biasanya jahitan diangkat (bila digunakan benang yg tdk diserap)
  9. 9. C. FASE REMODELLING/maturasi 1. Peningkatan produksi maupun penyerapan kolagen berlangsung 6 bulan hingga 1 tahun, dpt lebih lama bila dekat sendi 2. Kolagen tipe 1 menggantikan kolagen tipe III hingga mencapai perbandingan 4:1 (seperti kulit normal dan parut matang) 3. Kekuatan luka meningkat sejalan dengan reorganisasi kolagen sepanjang garis tegangan kulit terjadi cross-link kolagen
  10. 10. 4. Penurunan vaskularitas 5. Fibroblast dan miofibroblas menyebabkan kontraksi luka selama fase remodeling 6. Selesai fase ini luka daoat dikatakan sembuh dengan ciri : a. Tidak terlalu gatal b. Tidak menonjol c. Tidak merah d. Lunak bila di tekan
  11. 11. Tipe Penyembuhan luka 1)Primary Intention healing (penyembuhan luka primer) 2) Secondary Intention healing (penyembuhan luka sekunder) 3) Tertiary intention healing (penyembuhan luka tertier)
  12. 12. PRIMARY INTENSION HEALING yaitu penyembuhan yang terjadi setelah diusahakan bertaut nya tepi luka, biasanya dengan jahitan, plester, skin graft, atau flap. hanya sedikit jaringan yang hilang dan luka bersih. jaringan granulasi sangat sedikit. Re- epitelisasi sempurna dalam 10-14 hari, menyisakan jaringan parut tipis.
  13. 13. Kontraindikasi Penutupan Luka Sec Primer : a) Infeksi b) luka dg jaringan nekrotik. c) Waktu terjadinya luka >3 jam sebelumnya, kecuali luka di area wajah. d) asih tdpt benda asing dlm luka e) Perdarahan dr luka f) Diperkirakan tdpt <dead space> stlaH dilakukan jahitan g) Tegangan dlm luka atau kulit di sekitar luka terlalu tinggi h) perfusi jaringan buruk
  14. 14. SecondarY Intention Healing (penyembuhan luka sekunder) yaitu luka yang tidak mengalami penyembuhan primer Dikarakteristikkan oleh luka yang luas dan hilangnya jaringan dalam jumlah besar. Tidak ada tindakan aktif menutupluka, luka sembuh secara alamiah (intervensi hanya berupa pembersihan luka, dressing, dan pemberian antibiotika bila perlu). Proses penyembuhan lebih kompleks dan lama. Jaringan parut dapat luas/hipertrofik, terutama bila luka berada di daerah presternal, deltoid dan leher.
  15. 15. Indikasi Penutupan luka secara sekunder : a) Luka kecil (<1.5 cm) b) Struktur penting di bawah kulit tidak terpapar c) Luka tidak terletak di area persendian&area yg penting secarakosmetik d) Luka bakar derajat 2 e) Waktu terjadinya luka >6 jam sebelumnya, kecuali bila luka di area wajah.
  16. 16. F) Luka terkontaminasi (highly contaminated wounds) G)perkirakan terdapat “dead space” setelah dilakukan jahitan H) arah terkumpul dlm dead space I) Kulit yg hilang cukup luas J) edema jaringan yg hebat sehingga jahitan terlalu kencang danmengganggu vaskularisasi yang dapat menyebabkan iskemia & nekrosis
  17. 17. TertiarY Intention Healing (penyembuhan luka tertier) yaitu luka yang dibiarkan terbuka selama beberapa hari setelah tindakan debridement.Setelah yakin luka bersih, tepi luka dipertautkan selama 4 hari-7 hari. Luka ini merupakan tipe penyembuhan luka yang terakhir. Delayed primary closure yang terjadi setelah mengulang debridement dan pemberian terapi antibiotika
  18. 18. BERDASARKAN TINGKAT KONTAMINASI Clean Wounds (Luka bersih), yaitu luka bedah tidak terinfeksi yang tidak terjadi proses peradangan (inflamasi) Luka bersih biasanya menghasilkan luka yang tertutup; jika diperlukan dimasukkan drainase tertutup. Kemungkinan terjadinya infeksi luka sekitar 1% – 5%. Dirty or Infected Wounds (Luka kotor atau infeksi), yaitu terdapatnya mikroorganisme pada luka.
  19. 19. RDASAS Clean-contamined Wounds (Luka bersih terkontaminasi), merupakan luka pembedahan disaluran respirasi, pencernaan, genital atau perkemihan dalam kondisi terkontrol, kontaminasi tidak selalu terjadi, kemungkinan timbulnya infeksi luka adalah 3% – 11%. 3. Contamined Wounds (Luka terkontaminasi), termasuk luka terbuka, fresh, luka akibat kecelakaan dan operasi dengan kerusakan besar dengan teknik aseptik atau kontaminasi dari saluran cerna Kemungkinan infeksi luka 10% – 17%.
  20. 20. BERDASARKAN KEDALAMAN DAN LUAS LUKA 1. Stadium I : Luka Superfisial (“Non- Blanching Erithema) : yaitu luka yang terjadi pada lapisan epidermis kulit. 2. Stadium II : Luka “Partial Thickness” : yaitu hilangnya lapisan kulit pada lapisan epidermis dan bagian atas dari dermis. Merupakan luka superficial dan adanya tanda klinis seperti abrasi, blister atau lubang yang dangkal.
  21. 21. 3. Stadium III : Luka “Full Thickness” : yaitu hilangnya kulit keseluruhan meliputi kerusakan atau nekrosis jaringan subkutan yang dapat meluas sampai bawah tetapi tidak melewati jaringan yang mendasarinya. terdapat exsudat dari sedikit sampai sedang 4. Stadium IV : Luka “Full Thickness” yang telah mencapai lapisan otot, tendon dan tulang dengan adanya destruksi/kerusakan yang luas.
  22. 22. MEKANISME TERJADINYA LUKA o Luka insisi (Incised Wound), terjadi karena teriris oleh instrument yang tajam. Misal yang terjadi akibat pembedahan. o Luka memar (Contusion Wound), terjadi akibat benturan oleh suatu tekanan dan diklasifikasikan oleh cedera pada jaringan lunak, perdarahan dan bengkak. o Luka lecet (Abraded Wound), terjadi akibat kulit bergesekan dengan benda lain yang biasanya dengan benda yang tidak tajam.
  23. 23. o Luka tusuk (Punctured Wound), terjadi akibat adanya benda, seperti pisau yang masuk ke dalam kulit o Luka gores (Lacerated Wound), terjadi akibat benda yang tajam seperti oleh kaca atau oleh kawat. o Luka tembus (Penetrating Wound), yaitu luka yang menembus organ tubuh o Luka bakar (Combustio), yaitu luka akibat terkena suhu panas seperti api, matahari, listrik, maupun bahan kimia.
  24. 24. Penampilan Klinik Tampilan klinis luka dpt dibagi berdasarkan warna dasar luka antara lain : a. hitam/nekrotik yaitu eschar yg mengeras dan nekrotik, kering atau lembab b. Kuning/sloughy yaitu jaringan mati yang fibrous, kuning dan slough c. Pink/epithellating yaitu terjadi epitelisasi d. Kehijauan/terinfeksi yaitu terdapat tanda infeksi
  25. 25. LOKACATION Lokasi/posisi luka, dihubungkan dengan posisi anatomis tubuh dan mudah dikenali di dokumentasikan sebagai referensi utama.  Lokasi luka mempengaruhi waktu penyembuhan luka  jenis perawatan yang diberikan.
  26. 26.  Lokasi luka di area persendian cenderung bergerak dan bergesek, lebih lambat sembuh karena regenerasi dan migrasi sel terkena trauma (lutut, siku dan kaki). Area yang rentan oleh tekanan dan gaya lipatan akan lambat sembuh (pinggul, bokong), sedangkan penyembuhan meningkat diarea dengan vaskularisasi baik (wajah)
  27. 27. PENGUKURAN LUKA
  28. 28. Ukuran Luka Dimensi luka meliputi ukuran panjang, lebar, kedalaman, diameter (lingkaran). Semua luka memerlukan pengkajian dengan 2 dimensi (pada luka terbuka) dan pengkajian dengan 3 dimensi (pada luka berongga dan terowongan)
  29. 29. A. Pengkajian 2 Dimensi  Pengukuran superfisial dapat dilakukan dengan alat seperti penggaris untuk mengukur panjang dan lebar luka dengan menggunakan plastik transparan atau asetat sheet dan memakai spidol
  30. 30. B. Pengkajian 3 Dimensi  Pengkajian kedalaman berbagai sinus tract internal memerlukan pendekatan 3 dimensi. Metode paling mudah adalah menggunakan instrumen berupa aplikator kapas lembab steril atau kateter/baby feeding tube. Pegang aplikator dengan ibu jari dan telunjuk pada titik yang berhubungan dengan batas tepi luka
  31. 31.  Hati-hati saat menarik aplikator sambil mempertahankan posisi ibu jari dan telunjuk yang memegangnya. Ukur dari ujung aplikator pada posisi sejajar dengan penggaris sentimeter (Cm)  Melihat luka ibaratkan melihat jam. Bagian atas luka (jam 12) adalah titik kearah kepala klien, sedangkan bagian bawah luka (jam 6) adalah titik kearah kaki klien. Panjang dapat diukur dari jam 12 – jam 6. lebar dapat diukur dari sisi ke sisi atau dari jam 3 – jam 9
  32. 32. Exudate Hal yang perlu dicatat ttg exsudat adalah jenis, warna, jumlah, konsistensi dan bau
  33. 33. A. Jenis exsudate • cairan berwarna jernihSerous • cairan serous yang berwarna merah teranghomeserous • cairan berwarna darah kental/pekatsanguenous Purulen kental mengandung nanah
  34. 34. B. Jumlah Kehilangan jumlah exsudat luka berlebihan, seperti tampak pada luka bakar atau fistula dapat mengganggu keseimbangan cairan dan mengakibatkan gangguan elektrolit. Kulit sekitar luka cenderung maserasi jika tidak menggunakan balutan atau alat pengelolaan luka yang tepat
  35. 35. C. Warna  Berhubungan dengan jenis exsudat dan juga menjadi indikator klinis dari jenis bahteri yang ada pada luka terinfeksi contoh pada luka Peseudomonas aeruginosa yang berwarna hijau/kebiruan
  36. 36. D. Konsistensi  Berhubungan dengan jenis exsudat, sangat bermakna pada luka yang edema dan fistula E. Bau Berhubungan dengan infeksi luka dan kontaminasi luka oleh cairan tubuh seperti faces terlihat pada fistula, bau berhubungan dengan proses autolisis jaringan nekrotik pada balutan oklusif (Hidrocoloid)
  37. 37. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENYEMBUHAN LUKA Faktor Instrinsik : faktor dari penderita yang berpengaruh dalam prosespenyembuhan meliputi : usia, status nutrisi dan hidrasi, oksigenasi dan perfusi jaringan, status imunologi, Sirkulasi, Hematoma dan penyakit penyerta hipertensi, arthereosclerosis
  38. 38. Faktor Ekstrinsik : Faktor didapat dari luar penderita yang dapat berpengaruh dalam proses penyembuhan luka, meliputi : pengobatan, radiasi, stres psikologis, infeksi, iskemia dan trauma jaringan
  39. 39. PENILAIAN TERHADAP KLIEN Anamnesis 1.Riwayat luka (mode of injury) 2.Keluhan yang dirasakan saat ini. 3.Riwayat kesehatan dan penyakit pasien secara keseluruhan 4.Riwayat penanganan luka yang sudah diperoleh 5.Konsekuensi luka dan bekas luka bagi pasien fungsional, kosmetik, psikologis
  40. 40. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan tanda vital Pemeriksaan Fsik umum : bertujuan mencari tanda Adanya faktor komorbid. Adanya penyakit dasar : Anemia, Arteriosklerosis, Keganasan, diabetes,Penyakit autoimun, Gangguan fungsi hati, Cheumatoid arthritis, Gangguan fungsi ginjal.
  41. 41.  infeksi baik gejala lokal maupun sistemik  Umur dan komposisi tubuh  Status nutrisi  Merokok  Pengobatan
  42. 42.  STatus psikologis  Lingkungan sosial dan higiene.  Akses terhadap perawatan luka  Riwayat perawatan luka sebelumnya.  Penilaian tanda umum dan  tanda lokal adanya infeksi  Penilaian terhadap terjadinya kerusakan struktur di bawah luka pembuluh darah, syaraf, ligamentum, otot, tulang
  43. 43. Inspeksi Luka 1.Menentukan jenis luka Membedakan luka akut &kronis Penyebab luka : fisik, mekanik (abrasio, kontusio, laserasio , kombinasi) chemical, termal, listrik Tingkat kontaminasi (luka bersih, luka bersih terkontaminasi, luka terkontaminasi, luka kotor/terinfeksi) Resiko infeksi, penatalaksanaan, bekas luka
  44. 44. 2. Penilaian status lokalisa Benda asing dalam luka : adakah pasir , aspal, kotoran binatang, logam atau karat Dasar luka/tingkat penyembuhan luka : menentukan penatalaksanaan dan pemilihan dressing/balutan Posisi/letak luka : mempengaruhi kecepatan penyembuhan dan pemilihan dressing
  45. 45. Ukuran luka :  Ukur panjang, lebar , kedalaman dan luas dasar luka  Adakah pembentukan sinus, kavitas dan traktus  Adakah undermining  Re-assessment - penambahan atau pengurangan ukuran luka  Gunakan alat ukur yang akurat, jangan berganti#ganti alat ukur  Penyembuhan luka ditandai dengan pengurangan ukuran luka
  46. 46. Jumlah discharge  Kelembaban luka (luka kering, lembab atau basah)  Jumlah discharge (sedikit, sedang, banyak)  Konsistensi discharge (pus, seropurulen, serous, serohemoragis, hemoragis)  Bau : Tidak berbau, berbau, sangat berbau
  47. 47. Nyeri : Penyebab nyeri (adakah inflamasi atau infeksi), derajat nyeri, kapan nyeri terasa (sepanjang waktu, saat mengganti pembalut) Tepi luka & jaringan di sekeliling luka : Teratur , tidak teratur , menggaung, tanda radang, maserasi, dinilai kurang lebih sampai 2 cm dari tepi luka

×