O slideshow foi denunciado.
Utilizamos seu perfil e dados de atividades no LinkedIn para personalizar e exibir anúncios mais relevantes. Altere suas preferências de anúncios quando desejar.

Institusionalisasi partai politik menyambut pemilu 2019

462 visualizações

Publicada em

Institusionalisasi partai politik menyambut pemilu 2019

Publicada em: Educação
  • Entre para ver os comentários

Institusionalisasi partai politik menyambut pemilu 2019

  1. 1. Firman Noor, PhD
  2. 2.  Perspektif dan Definsi Pelembagaan  Aspek dan Dimensi Pelembagaan  Arti Penting Pelembagaan  Pelembagaan dalam Konteks Sistem Politik  Pemilu 2019  Kondisi Partai Secara Umum  Problematika Menjelang Pemilu 2019  Dampak di Masa Datang  Penutup
  3. 3.  Institusionalisasi memiliki beragam perspektif dan definsi  Keberagaman ini memperlihatkan adanya perbedaan mengenai hal apa saja yang dianggap relevan dalam upaya memahami dan menjelaskan institusionalisasi partai
  4. 4. 1. Institusionalisasi sebagai Sebuah Proses atau Tahapan Pematangan Pelembagaan terkait dengan sebuah kondisi akhir dari sebuah perjalanan historis partai politik dari fase embriotiknya menuju fase termatangnya (fase dimana partai telah terlembaga) Duverger (1964), Huntington (1968)
  5. 5. 2. Institusionalisasi sebagai Persoalan Pengakuan Eksistensi Pelembagaan partai politik terkait dengan seberapa besar partai eksis dalam tatanan atau sistem politik, termasuk pula di benak masyarakat Janda (1980), Rose dan Mackie (1988), Harmel dan Svasand (1989)
  6. 6. 3. Institusionalisasi sebagai Penghargaan Internal atas Jatidiri Partai Pelembagan terkait dengan kemampuan menumbuhkan idealisme atau pemantapan nilai- nilai, yang pada akhirnya dapat memelihara komitmen menjaga keberlangsungan hidup dan jati diri partai McGuire (1997), Levitsky (1998)
  7. 7. 4. Institusionalisasi sebagai Kondisi Multi-dimensi Pelembagaan merupakan sinteis dari berbagai aspek meliputi aspek internal-eksteral; dan aspek struktural- nilai-nilai. (1) Derajad Kesisteman, (2)Value Infusion, (3) Otonomi, dan (4) Reification. (Randall and Svasand 2002, Basedau and Stroh 2008)
  8. 8.  “The process by which organizations and procedures acquire value and stability” (Huntington,1968)  “The way the organisation solidifies” (Panebianco, 1988)  Kemampuan untuk membangun sebuah organisasi lintas daerah untuk bertarung dalam pemilu nasional, menominasikan kandidat untuk memenangkan pemilu dan secara berkala menominasikan kandidat pada pemilu-pemilu selanjutnya. (Rose dan Mackie, 1988)  Kemampuan partai mengelola urusan-urusan internal dan eksternal (terkait, misalnya, dengan rekrutmen politik dan upaya-upaya memobilisasi massa) dan sikap partai dalam proses pembuatan kebijakan dalam upaya mencari penyelesaian yang lebih komprehensif (Maor, 1997)
  9. 9.  Kemampuan mempertahankan keberadaannya di masyarakat dengan baik melalui sebuah proses transformasi atau infusi nilai-nilai yang menyebabkan adanya kesejajaran yang utuh antara idealisme dan kepentingan partai dengan para kader dan pendukungnya (Levitsky 1998).  “The process by which the party becomes established in terms both of their integrated patterns of behaviours and of attitudes, or culture.” (Randall dan Svasand, 2002)  “A process in which individual parties that participate in election experience and increase in organizational stability and value”. (Basedau dan Stroh, 2008)
  10. 10.  1. Aspek Internal (Prosedural-Keorganisasian)  2. Aspek Eksternal (Hubungan dg Masyarakat & Organisasi Lain)  3. Aspek Substansial (Kejatidiran Partai/Values)
  11. 11.  Dimensi Kesisteman (1) Keanggotaan yang terorganisir, (2) Apartus yang aktif & loyal hingga ke pelosok daerah, (3) Model kepemimpinan prosedural vis a vis Kepemimpinan Personal, dst  Dimensi Koherensi (1) Soliditas antara suara partai dengan suara fraksi di parlemen, (2)Toleransi atas perbedaan atau keberadaan kelompok kritis/berbeda pandangan, dst
  12. 12.  Dimensi Otonomi/Kemandirian (1) Ketiadaan intervensi pihak luar partai dalam pembuatan kebijakan, (2) Kemandirian dari pengaruh orang kuat atau kelompok dominan dalam partai, dst.  Dimensi Keberakaran di Masyarakat (1) Usia partai, (2) Keikutsertaan dalam pemilu, (3)Teringat oleh masyarakat (Reifikasi), dst
  13. 13.  Dimensi Value Infusion (1) Komitmen yang kuat untuk mendahulukan keberadaan/kepentingan partai, (2) Kesamaan pandangan atas jati diri dan tujuan partai, (3) Kuatnya ikatan nilai atas dasar ideologi/budaya/kesadaran kelas, dst
  14. 14.  Menjawab Persoalan Internal Partai: Kemandirian Partai, Soliditas Internal, Oportunisme Kader dan Partai, dsb  Menjawab PersoalanTerkait Pemerintahan: Masalah Kandidasi, Pembentukan Koalisi, Kualitas Pejabat Publik, dsb
  15. 15.  PartaiAdalah Unit dalam Sebuah Sistem Politik  Akan Menguatkan Proses Input ataupun Output  Menunjang terciptanya Peningkatan Kualitas Kebijakan  Turut mendukung terbentuknya Sistem Politik yang Demokratis
  16. 16.  Parpol Lawas (PDIP, Golkar, Gerindra, Demokrat, PKB, PAN, PKS, Nasdem, PPP, Hanura, PBB)  Partai Baru (Perindo, PSI, Partai Garuda, Partai Berkarya)  PresidentialThreshold, Parliamentary Threshold dan Serempak
  17. 17.  Dominasi Figur: PDIP, Gerindra, Demokrat, Nasdem, Hanura PAN, PKS, PKB, PPP, PBB  Koherensi PDIP, Demokrat, Nasdem, Gerindra, PKS, PAN, PKB Golkar Hanura, PPP
  18. 18.  Value Infusion: PKS, PDIP, PKB Golkar, PAN, Gerindra PPP, Hanura, Nasdem  Tingkat Otonomi PDIP, Demokrat, Nasdem, Gerindra, PKS, PAN, Golkar, Hanura, PPP PKB  Akar di Masyarakat PKB, PDIP, Golkar PAN, PKS, PPP Hanura, Nasdem, Gerindra
  19. 19.  Masalah Kandidasi Presiden  Pembentukan Koalisi  Antara Loyalitas Pada Konstituen, Pada Partai, atau Diri Sendiri  Pragmatisme Politik (Efek Lingkungan Politik yangTidak Kondusif)
  20. 20.  Esensi dari Politik Nasional  Dominasi Elite (crème de la crème)  Pragmatisme/Oportunistik  Aspek Pemerintahan:  PemerintahanOligarki atau Kartel  Illiberal Democracy
  21. 21.  Aspek Internal Partai:  Kristalisasi Political Patronage  Presidentialized Party/Oportunisme  BomWaktu Perpecahan Internal  Aspek Koneksi dengan Masyarakat:  Lemahnya tingkat kepercayaan (trust)  Lemahnya party id
  22. 22.  Potensi Pelemahan Demokrasi MasihAda  Peningkatan Kualitas Institusionalisasi Partai Masih Berpotensi Lemah Disebabkan oleh: (1) Ketergantungan pada elite/patron yang demikian tinggi, (2) Ketidakmandirian secara finansial, (3) Kenyamanan elite/business as usual, (4) Lingkungan yang tidak kondusif.  Institusionalisasi Dapat Dipercepat melalui pendekatan legal-formal/Undang-Undang
  23. 23. Terima Kasih

×