O slideshow foi denunciado.
Utilizamos seu perfil e dados de atividades no LinkedIn para personalizar e exibir anúncios mais relevantes. Altere suas preferências de anúncios quando desejar.
AKTUALISASI PANCASILA SEBAGAI 
PARADIGMA KEHIDUPAN BANGSA 
INDONESIA DI LINGKUNGAN KAMPUS 
Makalah disusun untuk memenuhi ...
2 
PENDAHULUAN 
A. Latar Belakang 
Keberhasilan suatu bangsa dalam membangun kehidupannya sangat 
ditentukan oleh kemampua...
3 
B. Permasalahan 
1) Bagaimana cara mengaktualisasikan Pancasila di lingkungan 
kampus ? 
2) Sejauh mana pengaktualisasi...
4 
PEMBAHASAN 
Istilah paradigma awalnya digunakan dan berkembang dalam dunia 
ilmu pengetahuan, teutama alam filsafat. Se...
2) Pengembangan mahasiswa sebagai kekuatan moral dalam mewujudkan 
masyarakat madani yang demokratis, berkeadilan, dan ber...
Perguruan tinggi, baik di Indonesia maupun di Barat, memiliki 
otonomi yang menghendaki adanya kebebasan akademik yaitu se...
sosial dan bidang IPOLEKSOSBUDROHANKAM cukup besar. Dapat dikatakan 
bahwa ilmu sosial tidak mungkin berkembang terlepas d...
Tujuan yang agung dan baik dari HAM perlu didukung oleh beberapa 
persyaratan. Persyaratan itu, pertama ialah karakter man...
9 
 Pengembangan Kegiatan Kemahasiswaan 
Pengembangan kegiatan kemahasiswaan dilakukan dengan visi untuk 
menciptakan mah...
10 
PENUTUP 
 Kesimpulan 
Diterimanya Pancasila sebagai pandangan hidup dan dasar negara, 
membawa konsekuansi logis bahw...
11 
DAFTAR PUSTAKA 
BAAK UNNES. Buku Panduan Universitas Negeri Indonesia 2006-2007. 
Semarang: BAAK UNNES. 
Kusmuriyanto....
12 
PANCASILA 
 PANDANGAN HIDUP BANGSA INDONESIA 
 IDENTITAS DAN KEPRIBADIAN BANGSA 
 ASAS KEROHANIAN BANGSA 
 DASAR F...
13 
PARADIGMA 
Sumber nilai, kerangka pikir, 
orientasi dasar, sumber asas, 
tolok ukur, parameter, serta 
arah dan tujuan...
14 
KEBEBASAN MIMBAR AKADEMIK 
 Tujuan perguruan tinggi tahun 2010 (Higher Education Long Term 
Strategy- HELT 2003-2010)...
Kampus Sebagai Kekuatan Moral Pengembangan Hukum dan HAM 
15 
 Hukum, Hak Asasi Manusia (HAM) dan 
demokrasi adalah tiga ...
Próximos SlideShares
Carregando em…5
×

Aktualisasi Pancasila Di Kampus

20.513 visualizações

Publicada em

Aktualisasi Pancasila Sebagai Paradigma Kehidupan Bangsa Indonesia Di Lingkungan Kampus

Publicada em: Educação
  • Sex in your area is here: ❶❶❶ http://bit.ly/2Qu6Caa ❶❶❶
       Responder 
    Tem certeza que deseja  Sim  Não
    Insira sua mensagem aqui
  • Dating direct: ❶❶❶ http://bit.ly/2Qu6Caa ❶❶❶
       Responder 
    Tem certeza que deseja  Sim  Não
    Insira sua mensagem aqui

Aktualisasi Pancasila Di Kampus

  1. 1. AKTUALISASI PANCASILA SEBAGAI PARADIGMA KEHIDUPAN BANGSA INDONESIA DI LINGKUNGAN KAMPUS Makalah disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Pancasila Disusun oleh : Abida Muttaqiena 7450406003 Liris Nurrahmi 7450406049 Sa’adilah Fitri F. 7450406050 Dania Safia S. 7450406051 Fresti Aditya 7450406052 JURUSAN EKONOMI PEMBANGUNAN FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2007
  2. 2. 2 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Keberhasilan suatu bangsa dalam membangun kehidupannya sangat ditentukan oleh kemampuan bangsa yang bersangkutan untuk memandang dan menyikapi secara benar persoalan-persoalan yang dihadapi. Untuk itu diperlukan falsafah dan pandangan hidup yang berakar pada nilai-nilai kepribadian bangsa. Tanpa falsafah dan pandangan hidup, suatu bangsa akan terombang-ambing oleh berbagai persoalan yang timbul dan tidak memiliki arah yang jelas dalam kehidupannya. Bangsa Indonesia telah memiliki Pancasila sebagai dasar negara. Dengan demikian, bangsa Indonesia memiliki pedoman dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Persoalannya adalah bagaimana agar nilai-nilai Pancasila benar-benar mewarnai kehidupan nyata dari setiap manusia Indonesia, termasuk para mahasiswa. Aktualisasi Pancasila sebagai paradigma kehidupan bangsa Indonesia di lingkungan kampus perlu dilakukan untuk mengembangkan kepribadian mahasiswa sebagai manusia Indonesia yang pancasilais. Sehingga diharapkan mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa tetap berpijak pada kepribadian bangsanya dalam berperan dan menyongsong era global. Diterimanya Pancasila sebagai pandangan hidup dan dasar negara, membawa konsekuansi logis bahwa nilai-nilai Pancasila harus selalu dijadikan landasan pokok, landasan fundamental bagi pengaturan serta penyelenggaraan negara. Hal ini telah dilakukan, yaitu dengan menjabarkan nilai-nilai Pancasila tersebut ke dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. Sedangkan pengakuan Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa mengharuskan kita sebagai bangsa untuk mentransformasikan nilai-nilai Pancasila itu ke dalam sikap dan perilaku nyata dalam perilaku hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, termasuk di lingkungan kampus. Tanpa adanya transformasi nilai-nilai tersebut dalam kehidupan nyata, maka Pancasila hanya tinggal nama tanpa makna, sebagai hiasan dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.
  3. 3. 3 B. Permasalahan 1) Bagaimana cara mengaktualisasikan Pancasila di lingkungan kampus ? 2) Sejauh mana pengaktualisasian Pancasila sebagai paradigma bangsa Indonesia di lingkungan kampus masa kini ? 3) Contoh pengaktualisasian Pancasila di lingkungan kampus ! C. Tujuan 1) Untuk mengetahui cara aktualisasi Pancasila sebagai paradigma bangsa Indonesia di lingkungan kampus. 2) Untuk mengetahui sejauh mana pengaktualisasian Pancasila sebagai paradigma bangsa Indonesia di lingkungan kampus masa kini. 3) Untuk mendapatkan contoh pengaktualisasian Pancasila di lingkungan kampus.
  4. 4. 4 PEMBAHASAN Istilah paradigma awalnya digunakan dan berkembang dalam dunia ilmu pengetahuan, teutama alam filsafat. Secara terminologis, istilah ini dikembangkan oleh Thomas S. Khun dalam bukunya yang berjudul The Structure of Scientific Revolution ( 1970: 49). Paradigma diartikan sebagai asumsi dasar atau asumsi teoritis yang umum sehingga paradigma merupakan sumber nilai, hukum, dan metodologi. Sesuai dengan kedudukannya, paradigma memiliki fungsi yang strategis dalam membangun kerangka berpikir dan penerapannya. Istilah paradigma makin lama makin berkembang dan biasa dipergunakan dalam berbagai bidang kehidupan dan ilmu pengetahuan. Dalam kehidupan sehari-hari, paradigma berkembang menjadi terminologi yang mengandung pengertian sebagai: sumber nilai, kerangka pikir, orientasi dasar, sumber asas, tolok ukur, parameter, serta arah dan tujuan dari suatu perkembangan, perubahan, dan proses dalam bidang tertentu, termasuk dalam pembangunan, gerakan reformasi maupun dalam proses pendidikan. Dengan demikian, paradigma menempati posisi dan fungsi yang strategis dalam setiap proses kegiatan. Aktualisasi Pancasila sebagai paradigma kehidupan bangsa Indonesia di lingkungan kampus akan terlaksana dengan baik jika semua komponen di kampus dapat menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam setiap aspek kegiatannya. Komponen itu meliputi mahasiswa, dosen, karyawan, dan birokrat kampus. Kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan tak sebatas kegiatan akademik, tapi juga kegiatan non akademik, termasuk penyelenggaraan seminar, pemilihan presiden mahasiswa, dan lain-lain.  Kebebasan Mimbar Akademik Tujuan perguruan tinggi tahun 2010 (Higher Education Long Term Strategy- HELT 2003-2010) adalah perguruan tinggi yang sehat sehingga mampu berkontribusi langsung pada daya saing bangsa. Senada dengan HELT 2003-2010, hakekat pengembangan mahasiswa sebagai aset bangsa meliputi : 1) Pengembangan kemampuan intelektual, keterampilan, keseimbangan emosi, dan penghayatan spiritual mahasiswa, agar menjadi warganegara yang bertanggung jawab serta berkontribusi pada daya saing bangsa.
  5. 5. 2) Pengembangan mahasiswa sebagai kekuatan moral dalam mewujudkan masyarakat madani yang demokratis, berkeadilan, dan berbasis pada partisipasi publik. 3) Peningkatan kualitas sarana dan prasarana untuk mendukung pengembangan 5 aktualisasi diri mahasiswa yang menyangkut aspek jasmani maupun rohani. Perguruan tinggi sebagai tempat pengembangan mahasiswa diselenggarakan dengan tujuan untuk : 1) Menyiapkan mahasiswa menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan memperkaya khasanah ilmu pengetahuan, teknologi, dan kesenian. 2) Mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan atau kesenian serta mengupayakan penggunaannya untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat dan memperkaya kebudayaan nasional. Penyelenggaraan kegiatan untuk mencapai tujuan-tujuan diatas berpedoman pada tujuan pendidikan nasional; kaidah, moral, dan etika ilmu pengetahuan; kepentingan masyarakat; serta memperhatikan minat, kemampuan dan prakarsa pribadi. Dalam rangka mencapai tujuan tersebut, perguruan tinggi menyelenggarakan kegiatan yang disebut dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni kegiatan yang terdiri dari: 1) Pendidikan, merupakan kegiatan dalam upaya menghasilkan menusia terdidik yang memiliki kemampuan akademik dan profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan atau menciptakan IPTEK dan seni. Dengan demikian diharapkan dapat menghasilkan lulusan perguruan tinggi, serta peningkatan produktivitas masyarakat karena terlibatnya lulusan dalam proses produksi. 2) Penelitian, merupakan kegiatan dalam upaya menghasilkan pengetahuan empirik, teori, konsep, metodologi, model, atau informasi baru guna memperkaya IPTEK dan seni. 3) Pengabdian kepada masyarakat, merupakan kegiatan yang memanfaatkan IPTEK dalam upaya memberikan sumbangan demi kemajuan masyarakat. Sehingga diharapkan akan ada peningkatan kepercayaan dan kehendak masyarakat untuk melibatkan perguruan tinggi dalam masalah pembangunannya.
  6. 6. Perguruan tinggi, baik di Indonesia maupun di Barat, memiliki otonomi yang menghendaki adanya kebebasan akademik yaitu serangkaian kegiatan akademik untuk mencari kebenaran Ilmiah. Dalam perkembangan dan dalam penyelenggaraan otonomi kampus bagi perkembangan ilmu pengetahuan timbul istilah kebebasan mimbar akademik. Istilah itu mengandung pengertian proses pengembangan ilmu lewat kegiatan perkuliahan atau mimbar akademik ( Soegito, 2006: 207). Dosen dan mahasiswa dalam menjalankan kebebasan akademik akan menempuh jalur norma-norma akademik. Jalur ini mencakup serangkaian langkah metodologis; yaitu penemuan masalah, tujuan, manfaat, cara mencapai kebenaran, analisis, dan simpulan. 6  Otonomi keilmuan Ilmu yang berkembang tidak saja merupakan kerangka pemikiran logis, tetapi juga telah teruji. Dengan ilmu, orang akan bisa menjelaskan gejala sosial dan alam secara rinci dan kemudian dapat meramalkannya. Pada hakekatnya ilmu memiliki objek kajian (ontologis), dan memiliki metode untuk mencapai kebenaran (epistemologis), dan memiliki kemampuan terkait dengan masyarakatnya (aksiologis). Ilmu yang dapat berembang pada prinsipnya karena kaidah moral, pertimbangan etis, dan norma kerja profesinya. Ilmu pengetahuan memang dapat memperoleh otonomi dalam melakukan kegiatannya untuk mempelajari alam semesta, tetapi masalah moral akan muncul manakala berkaitan dengan penggunaan pengetahuan ilmiah itu. Misalnya dalam kontroversi tentang kloning manusia, bayi tabung, dan penggunaan embrio dalam kosmetik anti aging. Beberapa isyarat tersebut mengisyaratkan betapa ilmu pengetahuan hanya memiliki otonomi dalam sisi kajian internal (terbatas pada penerapan metodologinya untuk mencapai kebenaran ilmiah). Ilmu pengetahuan selalu dituntut bagaimana dapat memiliki kegunaan di masyarakatnya. Karena pada masa pembangunan ini keberadaan ilmu pengetahuan di perguruan tinggi dituntut mempunyai nilai kegunaan di masyarakat. Keberadaan ilmu kedokteran, misalnya, perlu dapat mengatasi masalah kesehatan masyarakat secara luas. Disamping itu, keberadaan ilmu-ilmu sosial harus mampu menunjukkan kemampuannya menciptakan dinamika dan integritas bagi masyarakatnya. Untuk itu kaitan ilmu
  7. 7. sosial dan bidang IPOLEKSOSBUDROHANKAM cukup besar. Dapat dikatakan bahwa ilmu sosial tidak mungkin berkembang terlepas dari masyarakatnya, karena ilmu sosial adalah bagian dari gejala perilaku masyarakat. Dimasukkannya Pendidikan Pancasila dalam kurikulum pendidikan formal di Indonesia, termasuk dalam kurikulum Perguruan Tinggi, merupakan salah satu upaya agar civitas academica memahami nilai-nilai dasar yang dianut bangsa Indonesia, sehingga ilmu pengetahuan yang dikembangkan tetap berada dalam jalur koridor yang tak bertentangan dengan nilai-nilai, dan dapat diterapkan dalam kehidupan.  Kampus Sebagai Kekuatan Moral Pengembangan 7 Hukum dan HAM Hukum, Hak Asasi Manusia (HAM) dan demokrasi adalah tiga isu krusial yang selalu hangat dibicarakan orang. Pembicaraan ketiganya bukan hanya karena di persoalkan oleh dunia internasional, melainkan karena ketiganya adalah milik yang diwarisi manusia sejak lahir dari kodrat illahiNya. Namun, ketiganya sulit dilaksanakan karena sering diabaikan orang atau karena kita tidak mau dan tidak mampu melaksanakan dan menegakkannya. Ketidakmampuan melaksanakan hukum, HAM, dan demokrasi, sampai-sampai dunia internsional menyetop bantuannya, PBB menyorotnya, negara-negara berpaling dan membenci negara dan bangsa kita. Hal ini disebabkan oleh ketidak tahuan, kurang penghormatan, dan kurang memberi jaminan kepada tegaknya hukum, HAM, dan demokrasi di negara ini. Oleh karena itu, semua lembaga harus secara bersama-sama berupaya melaksanakan dan menegakkan hukum, HAM, dan demokrasi. Kampus diharapkan menjadi kekuatan moral (moral force)dalam mengembangkan penegakan itu. Sebab kampus adalah tempat orang-orang cendikia mengembangkan ilmu. Sementara hukum adalah aturan yang disepakati oleh semua orang agar terjadi keteraturan hidup; HAM adalah hak-hak bawaan kodrat yang dimiliki semua orang pada segala jaman, yang tidak bersifat khusus dimiliki oleh orang khusus, melainkan tanpa perbedaan ras, agama, bangsa, kedudukan atau jenis kelamin; dan demokrasi adalah cara yang dipakai dalam menyelesaikan masalah-masalah berkehidupan.
  8. 8. Tujuan yang agung dan baik dari HAM perlu didukung oleh beberapa persyaratan. Persyaratan itu, pertama ialah karakter manusia. Karakter manusia untuk mmiliki kesadaran dan daya serap terhadap tujuan HAM sangat diperlukan. Hal ini dimaksudkan untuk menentuan tegak-tidaknya penghargaan serta pencapaian tujuan tersebut. Kedua adalah karakteristik kesadaran jiwa manusia dan ketiga ialah intelektualitas yang cukup memadai. Semakin tinggi inteletualitas seseorang serta semakin banyak pengetahuan tentang isi, hakikat, tujuan sesuatu pesoalan akan semakin tinggi derajat kepatuhan dan usaha pencapaiannya. Selain itu, faktor lain yang dapat menunjang tegaknya HAM adalah stabilitas negara. Pelaksanaan HAM pada habitat demokrasi dan dalam kehidupan sehari-hari tidak dapat dilakukan tanpa mengenal batas, artinya pelaksanaan HAM itu tidaklah bersifat mutlak, melainkan dibatasi oleh aturan. Pelaksanaan yang tidak mengenal batas dengan sendirinya akan melanggar HAM yang sama yang dimiliki oleh orang lain. Oleh karena itu, negara atau pemerintah perlu menyusun hukum yang mengaturnya. Selanjutnya, bagaimana pelaksanaan hukum, HAM, dan demokrasi dalam kehidupan sehari-hari. Untuk dapat menjawabnya, dapat dilihat dalam kehidupan sebuah lembaga perguruan tinggi “kampus”. Dalam kehidupan di kampus, yang pertama-tama dan utama dituntut oleh kampus terhadap para warganya yaitu civitas academica adalah kewajiban. Kewajiban-kewajiban itu tersebut seperti mematuhi dan melaksanakan aturan-aturan kampus itu sendiri, yaitu memelihara disiplin kampus, menjunjung tinggi nama dan kehormatan kampus, dan membayar SPP. Setelah semua kewajiban terhadap organisasi dipenuhi, baru para civitas academica dipenuhi hak-haknya oleh lembaga dimaksud. Dari contoh, jelas bahwa seluruh civitas academica memiliki kewajiban, hak, demokrasi, dan kepatuhan pada hukum. Dengan ilustrasi kehidupan kampus seperti itu, diharapkan para warga kampus dan kampus itu sendiri dapat menjadi kekuatan moral dalam pengembangan hukum dan HAM. Pada gilirannya dalam melaksanakan hukum, HAM, dan demokrasi harus disertai dengan rasa penuh tanggung jawab terhadap dirinya, terhadap sesama, dan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. 8
  9. 9. 9  Pengembangan Kegiatan Kemahasiswaan Pengembangan kegiatan kemahasiswaan dilakukan dengan visi untuk menciptakan mahasiswa Indonesia yang cerdas dan kompetetif. Tujuannya antara lain: 1) Mengembangkan kegiatan kemahasiswaan sesuai dengan visi dan misi perguruan tinggi. 2) Mengembangkan penalaran dan keilmuan; penelusuran bakat, minat, dan kemampuan; kesejakteraan kepedulian sosial; dan kegiatan penunjang berlandaskan pada kaidah akademik, moral dan etika ilmu pengetahuan serta kepentingan masyarakat. 3) Mengembangkan dan meningkatkan kualitas program dan sarana penunjang. Pelaksana program pengembangan mahasiswa meliputi : 1) Lembaga kemahasiswaan. a. Keorganisasian ( kepemimpinan – manajemen ) b. Minat dan kegemaran ( Seni – olahraga ) c. Kerokhanian – kesejahteraan d. Penalaran ( KTM, Penerbitan ) 2) Pembina / Pendamping a. Penalaran – Karya Tulis Mahasiswa (KTM) b. Kesejahteraan – Beasiswa Dalam pengembangan kemahasiswaan, Pancasila harus selalu disertakan sebagai dasar bagi setiap kegiatannya. Misalnya bahwa tidak diperkenankan mengadakan kegiatan yang bersifat menyinggung SARA karena akan mengganggu keuuhan negara seperti yang tercantum dalam sila ketiga Pancasila. Selain itu, diharapkan kegiatan – kegiatan di Perguruan Tinggi dapat menumbuhkembangkan budaya Pancasila dalam diri mahasiswa. Contohnya adalah sistem pemerintahan mahasiswa di kampus yang mengadakan pemilihan presiden mahasiswa setiap tahun (BAAK UNNES, 2006: 28 ) yang dirancang oleh DPMU.
  10. 10. 10 PENUTUP  Kesimpulan Diterimanya Pancasila sebagai pandangan hidup dan dasar negara, membawa konsekuansi logis bahwa nilai-nilai Pancasila harus selalu dijadikan landasan pokok, landasan fundamental bagi setiap aktivitas di Indonesia. Aktualisasi Pancasila sebagai paradigma kehidupan bangsa Indonesia di lingkungan kampus akan terlaksana dengan baik jika semua komponen di kampus, yang meliputi mahasiswa, dosen, karyawan, dan birokrat kampus, dapat menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam setiap aspek kegiatannya. Dari pembahasan diatas, dapat ditarik kesimpulan antara lain : 1) Kebebasan mimbar akademik di Kampus dapat menjadi tempat pengembangan tradisi Pancasila, seiring dengan pengembangan ilmu-ilmu pengetahuan.. 2) Otonomi keilmuan harus berjalan dalam koridor nilai yang telah tercakup dalam lima sila Pancasila. 3) Kampus sebagai kekuatan moral pengembangan hukum dan HAM, merupakan salahsatu bukti bahwa kampus memiliki peran penting dalam internalisasi dan pengembangan nilai-nilai Pancasila. 4) Pengembangan kegiatan kemahasiswaan tidak boleh bertentangan dengan Pancasila, dan sebisa mungkin harus dilaksanakan berdasarkan Pancasila, sebagai paradigma bangsa Indonesia di lingkungan kampus.  Saran 1) Kepada seluruh komponen di kampus, yaitu mahasiswa, dosen, karyawan dan birokrat kampus, agar selalu menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam setiap kegiatannya. 2) Agar Pendidikan Pancasila tetap dimasukkan dalam kurikulum pendidikan di Indonesia, karena dibutuhkan untuk proses internalisasi Pancasila pada generasi muda.
  11. 11. 11 DAFTAR PUSTAKA BAAK UNNES. Buku Panduan Universitas Negeri Indonesia 2006-2007. Semarang: BAAK UNNES. Kusmuriyanto. Pola Pembinaan dan Pengembangan Kemahasiswaan. Disampaikan dalam Workshop Penulisan Karya Ilmiah Mahasiswa Fakultas Ekonomi UNNES Tahun 2007. Soegito, H.A.T. 2006. Pendidikan Pancasila. Semarang: UPT MKU UNNES.
  12. 12. 12 PANCASILA  PANDANGAN HIDUP BANGSA INDONESIA  IDENTITAS DAN KEPRIBADIAN BANGSA  ASAS KEROHANIAN BANGSA  DASAR FILSAFAT NEGARA INDONESIA  DASAR NEGARA INDONESIA PERLU UPAYA KONKRIT DALAM SEGALA BIDANG KEHIDUPAN BANGSA INDONESIA SALAH SATUNYA MELALUI AKTUALISASI PANCASILA SEBAGAI PARADIGMA KEHIDUPAN BANGSA INDONESIA DI LINGKUNGAN KAMPUS
  13. 13. 13 PARADIGMA Sumber nilai, kerangka pikir, orientasi dasar, sumber asas, tolok ukur, parameter, serta arah dan tujuan dari suatu perkembangan, perubahan, dan proses dalam bidang tertentu. AKTUALISASI PANCASILA DI LINGKUNGAN KAMPUS SYARAT : Semua komponen di kampus dapat menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam setiap aspek kegiatannya.  Kebebasan mimbar akademik  Otonomi keilmuan  Kekuatan moral pengembangan hukum dan HAM  Pengembangan kegiatan kemahasiswaan
  14. 14. 14 KEBEBASAN MIMBAR AKADEMIK  Tujuan perguruan tinggi tahun 2010 (Higher Education Long Term Strategy- HELT 2003-2010) adalah perguruan tinggi yang sehat sehingga mampu berkontribusi langsung pada daya saing bangsa.  Kebebasan akademik yaitu serangkaian kegiatan akademik untuk mencari kebenaran Ilmiah.  Mimbar akademik adalah proses pengembangan ilmu lewat kegiatan perkuliahan atau mimbar akademik ( Soegito, 2006: 207). OTONOMI KEILMUAN  Ilmu pengetahuan hanya memiliki otonomi dalam sisi kajian internal (terbatas pada penerapan metodologinya untuk mencapai kebenaran ilmiah).  Ilmu pengetahuan selalu dituntut bagaimana dapat memiliki kegunaan di masyarakatnya.  Dimasukkannya Pendidikan Pancasila dalam kurikulum pendidikan formal di Indonesia, termasuk dalam kurikulum Perguruan Tinggi, merupakan salah satu upaya agar civitas academica memahami nilai-nilai dasar yang dianut bangsa Indonesia, sehingga ilmu pengetahuan yang dikembangkan tetap berada dalam jalur koridor yang tak bertentangan dengan nilai-nilai, dan dapat diterapkan dalam kehidupan.
  15. 15. Kampus Sebagai Kekuatan Moral Pengembangan Hukum dan HAM 15  Hukum, Hak Asasi Manusia (HAM) dan demokrasi adalah tiga isu krusial yang disorot dunia Internasional.  Kampus diharapkan menjadi kekuatan moral (moral force) dalam mengembangkan penegakan itu. Pengembangan Kegiatan Kemahasiswaan  Pengembangan kegiatan kemahasiswaan dilakukan dengan visi untuk menciptakan mahasiswa Indonesia yang cerdas dan kompetetif. Pelaksana program pengembangan mahasiswa meliputi : 2) Lembaga kemahasiswaan. a. Keorganisasian ( kepemimpinan – manajemen ) b. Minat dan kegemaran ( Seni – olahraga ) c. Kerokhanian – kesejahteraan d. Penalaran ( KTM, Penerbitan ) 2) Pembina / Pendamping a. Penalaran – Karya Tulis Mahasiswa (KTM) b. Kesejahteraan – Beasiswa

×