O slideshow foi denunciado.
Seu SlideShare está sendo baixado. ×

PPT THYPOID KEL 3.pptx

Anúncio
Anúncio
Anúncio
Anúncio
Anúncio
Anúncio
Anúncio
Anúncio
Anúncio
Anúncio
Anúncio
Anúncio
Carregando em…3
×

Confira estes a seguir

1 de 31 Anúncio

Mais Conteúdo rRelacionado

Mais recentes (20)

Anúncio

PPT THYPOID KEL 3.pptx

  1. 1. TYPHOID
  2. 2. Definisi Patofisiologi Etilogi Faktor Resiko Gejala Klinis Manajemen Terapi 01 02 03 04 05 06 TYPHOID
  3. 3. DEFINISI 01
  4. 4. Demam tifoid adalah suatu penyakit infeksi sistemik bersifat akut yang disebabkan oleh Salmonella typhi (S. typhi). Penyakit ini ditandai dengan panas berkepanjangan, disebabkan adanya bakteremia dan invasi bakteri sekaligus berkembang biak ke dalam sel fagosit mononuklear dari organ hati, limpa, kelenjar limfe usus dan Peyer’s patch
  5. 5. PATOFISIOLOGI 02
  6. 6. Penularan salmonella typhi sebagian besar jalur fecal-oral, yaitu melalui makanan atau minuman yang tercemar oleh bakteri yang berasal dari penderita atau pembawa kuman, biasanya keluar bersama dengan feses. Dapat juga terjadi transmisi transplasental dari seorang ibu hamil yang berada pada keadaan bakterimia kepada bayinya (pruss, 2016).
  7. 7. PATOFISIOLOGI makanan/minuman yang tercemar oleh bakteri Sebagian dimusnahkan di lambung Sebagian lolos ke usus dan berkembang biak Bila respon imun << → bakteri menembus sel epitel (sel M) Menembus lamina propia → difagosit oleh makrofag Dibawa oleh makrofag ke plak payeri ileum Menjalar ke KGB mesentrika Melalui ductus torasikus → aliran darah sistemik (bakterimia I+ asimptomatik) Menyebar ke seluruh sistem RES (TU hati & limfa) Berkembang di dalam organ hati & limfa Masuk ke aliran darah Kembali (bakterimia II = simptomatik) → gejala klinis sistemik Dari hati → empedu → Sebagian dikeluarkan Bersama feses, Sebagian diserap Kembali (proses berulang)
  8. 8. ETIOLOGI 03
  9. 9. Penyakit demam tifoid disebabkan oleh infeksi kuman Salmonella typhi (WHO, 2018). Salmonella typhi sama dengan Salmonela yang lain yang adalah bakteri Gram-negatif, berbentuk batang, mempunyai flagela, tidak berkapsul, tidak membentuk spora, fakultatif anaerob (bisa menyesuaikan diri pada keadaan tertentu yang tidak membutuhkan oksigen) Bakteri menyebar dari usus untuk menyebabkan penyakit sistemik. (Ashurst, Truong, & Woodbury, 2019). ETIOLOGI TYPHOID
  10. 10. FAKTOR RESIKO 04
  11. 11. FAKTOR RESIKO 01 Usia 02 Status Gizi 03 Riwayat Deam Tifoid Higiene dan Sanitasi 04
  12. 12. GEJALA KLINIS 05
  13. 13. GEJALA KLINIS Setelah masa inkubasi 10 – 14 hari: • Demam meningkat bertahab, biasanya terjadi 5-21 hari terutama di sore hari • Lemas, nyeri otot, lesu • Konstipasi >3 hari, nyeri perut, mual, muntah atau diare • Jika berlanjut (komplikasi) → perdarahan usus, perforasi (usus robek), infeksi usus, syok bahkan kematian
  14. 14. GEJALA KLINIS
  15. 15. Diagnosis • Pemeriksaan darah lengkap (tidak spesifik)  Leukosit bisa ↓ (leukopenia) atau bisa ↑ (leukositosis)  Trombosit bisa ↓ (trombositopenia)  Hb bisa ↓ (anemia) • Widal (tidak dianjurkan karena tidak sensitive dan spesifikasinya rendah) • Tubex → mendeteksi antibody IgM Tterhadap antigen typhoid O • Tes PCR • Pemeriksaan kultur (darah, urine, feses)
  16. 16. Tidak ada pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk mendiagnosa demam typhoid di minggu pertama demam, kecuali kultur feses
  17. 17. KOMPLIKASI TIFOID Komplikasi biasanya terjadi pada minggu kedua dan ketiga demam. Komplikasi antara lain perdarahan, perforasi, sepsis, ensefalopati, dan infeksi organ lain:  Tifoid toksik (Ensefalopati tifosa)  Syok septik  Perdarahan dan perforasi intestinal (peritonitis)  Hepatitis tifosa  Pankreatitis tifosa  Pneumonia
  18. 18. MANAJEMEN TERAPI 06
  19. 19. TATALAKSANA TYPHOID Penderita demam tifoid, dengan gambaran klinik jelas sebaiknya dirawat di rumah sakit atau sarana pelayanan Kesehatan lain yang ada fasilitas perawatan. Tujuan Perawatan adalah: 1. Optimalisasi pengobatan dan mempercepat penyembuhan 2. Observasi terhadap perjalanan penyakit 3. Minimalisasi komplikasi 4. Isolasi untuk menjamin pencegahan terhadap pencemaran dan/atau kontaminasi
  20. 20. PENATALAKSANAAN TYPHOID Tirah baring, atur posisi Isolasi yang memadai Pemenuhan kebutuhan cairan dan nutrisi (diet TKTP) Pemberian Antibiotik
  21. 21. Algoritma Pengelolaan Pasien Demam Dikutip dari: PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2021 TENTANG PEDOMAN PENGGUNAAN ANTIBIOTIK
  22. 22. Terapi Antibiotik Dikutip dari: Pharmacotherapy Handbook 11th edition
  23. 23. Terapi Antibiotik Indication Agent Dosage (Route) Duration, Days Empirical Treatment Ceftriaxone 2 g/d (IV) 10-14 Azithromycin 1 g/d (PO) 5 Fully Susceptible Optimal treatment Ciprofloxacin 500 mg bid (PO) or 400 mg q12h (IV) 5-7 Azithromycin 1 g/d (PO) 5 Alternative treatment Amoxicillin 1 g tid (PO) or 2 g q6h (IV) 14 Chloramphenicol 25 mg/kg tid (PO or IV) 14-21 Trimethoprim- sulfamethoxazole 160-800 mg bid (PO) 7-14 Multidrug-Resistant Optimal treatment Ceftriaxone 2 g/d (IV) 10-14 Azithromycin 1 g/d (PO) 5 Alternative treatment Ciprofloxacin 500 mg bid (PO) or 400 mg q12h (IV) 5-14 Quinolone-Resistant Optimal treatment Ceftriaxone 2 g/d (IV) 10-14 Alternative treatment High-dose ciprofloxacin 750 mg bid (PO) or 400 mg q8h (IV) 10-14 (Pegues DA, Miller SI. Salmonellosis. In Kasper DL, et al. Harrison Principles of Internal Medicine 19th ed. USA: Mc Graw Hill; 2015) Dikutip dari: Jurnal ilmiah PAPDI, Darius Hartanto, Diagnosis dan Tatalaksana Demam Tifoid pada Dewasa, CDK-292/ vol. 48 no. 1 th. 2021
  24. 24. Terapi Antibiotik Pilihan utama antibiotik tergantung pola kerentanan kuman S.typhi dan S.paratyphi di area tertentu. Terapi first-line original adalah kloramfenikol, ampisilin, dan trimethropim sulfametoksazol. Antibiotik ini efektif terhadap kuman yang sensitif, tetapi sering ditemukan resistensi terhadap obat ini. Fluoroquinolones adalah kelas yang paling efektif dengan angka kesembuhan mencapai 98%, angka relaps dan fecal carrier <2%, dan efek terapi paling ekstensif adalah dengan Ciproflokxacin.
  25. 25. Terapi Antibiotik DIAGNOSIS KLINIS BAKTERI PENYEBAB TERSERING ANTIBIOTIK PERHATIAN/ KETERANGAN Demam Tifoid Salmonella typhi, Salmonella paratyphi A, B, C Pilihan 1: Kloramfenikol oral 500 mg setiap 6 jam Pada anak: Kloramfenikol oral 25 mg/kgBB, setiap 6 jam (maksimal 2 gram/hari) atau Kotrimoksazol oral 4 mg (trimetoprim)/kgBB setiap 12 jam atau Amoksisilin oral 15-30 mg/kgBB setiap 8 jam Lama pengobatan sampai dg 5 hari bebas demam, maksimal 14 hari Perhatian untuk kloramfenikol: • waspada efek samping kloramfenikol: supresi sumsum tulang. • Penggunaan >7 hari harus diikuti dengan pemeriksaan morfologi sediaan apus darah tepi • Tidak dianjurkan untuk pasien dengan jumlah leukosit <2000/Ul Tabel 12. Diagnosis Klinis Infeksi dan Pilihan Antibiotik Terapi Empiris Dikutip dari: PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2021 TENTANG PEDOMAN PENGGUNAAN ANTIBIOTIK
  26. 26. Terapi Antibiotik DIAGNOSIS KLINIS BAKTERI PENYEBAB TERSERING ANTIBIOTIK PERHATIAN/ KETERANGAN Demam Tifoid Salmonella typhi, Salmonella paratyphi A, B, C Pilihan 2: Siprofloksasin oral 500 mg atau i.v. 400 mg setiap 12 jam Pada anak: Ampisilin i.v. 50-75 mg/kgBB setiap 6 jam Pilihan 3: Seftriakson i.v. 1 gram setiap 12 jam atau (i.v.) 2 gram setiap 24 jam. Pada anak: Seftriakson i.v. 25-50mg/kgBB setiap 12 jam Lama pengobatan sampai dg 5 hari bebas demam, maksimal 14 hari Perhatian untuk kloramfenikol: • waspada efek samping kloramfenikol: supresi sumsum tulang. • Penggunaan >7 hari harus diikuti dengan pemeriksaan morfologi sediaan apus darah tepi • Tidak dianjurkan untuk pasien dengan jumlah leukosit <2000/Ul Dikutip dari: PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2021 TENTANG PEDOMAN PENGGUNAAN ANTIBIOTIK
  27. 27. KASUS Pasien Tn. YP berusia 25 tahun masuk rumah sakit dengan keluhan utama demam sejak 2 hari sebelum masuk rumah sakit. Demam naik turun dan dirasakan tinggi pada sore hingga malam hari. Riwayat buang air kecil normal dan riwayat buang air besar belum bias sejak 2 hari sebelum masuk rumah sakit. Pasien juga mengeluh pusing di daerah kapala bagian depan, terus menerus, mual dan muntah jika ada makanan yang masuk dan sudah >5x muntah isi makanan, tidak ada darah dan lendir, muntah dirasakan sejak 2 hari sebelum masuk rumah sakit. Pasien merasakan lidah terasa pahit dan nafsu makan menurun. Riwayat hidung mimisan tidak ada, sesak napas tidak ada, nyeri perut di ulu hati, sebelumnya belum pernah mengalami hal yang sama. Di rumah tidak ada yang mengalami hal yang sama. Vital Sign : TD : 120/80 mmHg Nadi : 90X/menit Suhu : 37,5C RR : 20x/menit Diagnosis kerja : Observasi Febris Hari ke-2 Diagnosis diferential : • Typhoid Fever • Dengue Fever
  28. 28. KASUS Hb 14,2 13,5-17,5 g/dL Leukosit 3,6 x 103/µl 4-10 x 103/µl Eritrosit 4,32 juta/ µl 4,5-5,8 juta/ µl Trombosit 153 150-400 ribu Hematokrit 40,9 37-47% Anti Salmonella IgM positif negatif Terapi yang didapatkan pasien: Infus RL Inj Cefotaxim 1 gr/8 jam Omeprazol 1 tab/12 jam Paracetamol tab 500 mg /8 jam Hasil Pemeriksaan Laboratorium
  29. 29. Subjective Px Tn. YP berusia 25 th MRS dengan keluhan utama demam sejak 2 hari sebelum MRS. Demam naik turun dan dirasakan tinggi pada sore hingga malam hari. BAK normal ,BAB belum bisa sejak 2 hari sebelum MRS. Px juga mengeluh pusing di daerah kepala bagian depan terus menerus, mual muntah jika ada makanan yang masuk, sudah >5x muntah isi makanan, tidak ada darah dan lendir, muntah dirasakan sejak 2 hari sebelum MRS. Px merasakan lidah terasa pahit dan nafsu makan menurun. Riwayat hidung mimisan (-), sesak napas (-), nyeri perut di ulu hati, sebelumnya belum pernah mengalami hal yang sama. Di rumah tidak ada yang mengalami hal yang sama. TD : 120/80 mmHg Nadi : 90X/menit Suhu : 37,5C RR : 20x/menit Diagnosis kerja : Observasi Febris Hari ke-2 Diagnosis diferential : • Typhoid Fever • Dengue Fever Objective ANALISA Hb 14,2 13,5-17,5 g/dL Leukosit 3,6 x 103/µl 4-10 x 103/µl Eritrosit 4,32 juta/ µl 4,5-5,8 juta/ µl Trombosit 153 150-400 ribu Hematokrit 40,9 37-47% Anti Salmonella IgM positif negatif
  30. 30. Penatalaksanaan Infus RL Inj Cefotaxim 3 x 1 gr Omeprazol 2 x 1 kap Paracetamol 500 mg 3 x 1 tab Terapi yang diberikan sudah tepat.  Px terindentifikasi mengalami infeksi bakteri dari hasil tes anti Salmonella IgM positif, dan telah diberikan tx antibiotik Cefotaxime 3x1 gr  Px mengeluh demam, pusing, nyeri di ulu hati diberikan tx Paracetamol 500 mg 3x1 tab  Untuk mengatasi mual muntah, diberikan tx Omeprazole 2x1 kap Assasment ANALISA Rekomendasi:  Menggunakan antibiotik yang lebih efektif, yaitu Ciprofloxacin i.v. 400 mg/12 jam atau Ceftriaxone 1 gr/12 jam  Penambahan Lactulosa sirup sebagai pencahar untuk mengatasi susah BAB  Diberikan vitamin penambah nasfsu makan  Jika muntah masih berlanjut dapat ditambahkan Domperidon prn
  31. 31. Terima Kasih! Do you have any questions? Please contact us at Muhammadiyah Hospital 

×