O slideshow foi denunciado.
Seu SlideShare está sendo baixado. ×

PPT HIPERTENSI KEL 3.pptx

Anúncio
Anúncio
Anúncio
Anúncio
Anúncio
Anúncio
Anúncio
Anúncio
Anúncio
Anúncio
Anúncio
Anúncio
Carregando em…3
×

Confira estes a seguir

1 de 40 Anúncio

Mais Conteúdo rRelacionado

Mais recentes (20)

Anúncio

PPT HIPERTENSI KEL 3.pptx

  1. 1. HIPERTENSI Kelompok 3: Novi Ayu S Tyas – 2102050372 Rizka Lingga Silvia – 2102050373 Dyah Puspita Sari - 2102050375
  2. 2. DEFINISI 01. PATOFISIOLOGI 02. ETIOLOGI 03. GEJALA KLINIS 05. HIPERTENSI 06. MANAJEMEN TERAPI 04. FAKTOR RESIKO
  3. 3. DEFINISI 01.
  4. 4. DEFINISI Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah peningkatan tekanan darah sistolik >140 mmHg dan tekanan darah diastolik >90 mmHg pada dua kali pengukuran di klinik atau fasilitas layanan kesehatan dengan selang waktu lima menit dalam keadaan cukup istirahat/ tenang (Kemenkes, 2018). Berdasarkan penyebabnya, hipertensi dibagi menjadi 2 golongan yaitu hipertensi primer yang tidak diketahui sebabnya atau idiopatik dan hipertensi sekunder yaitu hipertensi yang disebabkan oleh penyakit lain (Susalit, 2001).
  5. 5. Berdasarkan pengukuran TDS dan TDD di klinik, pasien digolongkan menjadi sesuai dengan tabel berikut: KATEGORI TDS (mmHg) TDD (mmHg) Normal <130 dan 85 Normal-tinggi 130-139 dan/atau 85-89 Hipertensi derajat 1 140-159 dan/atau 90-99 Hipertensi derajat 2 >160 dan/atau >100 TDS=tekanan darah sistolik; TDD=tekanan darah diastolik. Dikutip dari 2020 International Society of Hypertension Global Hypertension Practice Guidelines.
  6. 6. TDS=tekanan darah sistolik; TDD=tekanan darah diastolik. Dikutip dari 2018 ESC/ESH Hypertension Guidelines.
  7. 7. hasil data Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) pada tahun 2018 menunjukkan angka prevalensi hipertensi pada penduduk > 18 tahun berdasarkan pengukuran secara nasional sebesar 34,11%.
  8. 8. PATOFISIOLOGI 02.
  9. 9. Patofisiologi terjadinya hipertensi adalah melalui terbentuknya angiotensin II dari angiotensin I oleh Angiotensin I Converting Enzyme (ACE) yang memegang peran fisiologis penting dalam mengatur tekanan darah. Darah mengandung angiotensinogen yang diproduksi di hati. Selanjutnya hormone renin akan diubah menjadi angiotensin I. Oleh ACE yang terdapat di paru-paru, angiotensin I diubah menjadi angiotensin II (Sylvestris, 2014). Selama angiotensin II ada dalam darah, maka angiotensin II mempunyai dua pengaruh utama yang dapat meningkatkan tekanan arteri. Pengaruh pertama yaitu vasokonstriksi, timbul dengan cepat. Cara kedua dimana angiotensin II meningkatkan tekanan arteri adalah dengan bekerja pada ginjal untuk menurunkan ekskresi garam dan air. Aldosteron yang disekresikan oleh sel-sel zona glomerulosa pada korteks adrenal. Mekanisme dimana aldosterone meningkatkan reabsorpsi natrium sementara pada saat yang sama meningkatkan sekresi kalium adalah merangsang pompa natrium kalium ATPase pada sisi basolateral dari membran tubulus koligentes kortikalis. Aldosteron juga meningkatkan permeabilitas natrium pada sisi luminal membran. (John E. Hall, 1997) PATOFIOLOGI HIPERTENSI
  10. 10. PATOFISIOLOGI HIPERTENSI
  11. 11. 03. ETIOLOGI
  12. 12. ETIOLOGI HIPERTENSI Hipertensi esensial merupakan jenis hipertensi yang paling banyak terjadi. Penyebab hipertensi esensial tidak diketahui atau idiopatik. Hipertensi Primer Hipertensi Sekunder Hipertensi sekunder merupakan hipertensi yang penyebabnya diketahui. Hipertensi sekunder meliputi sekitar 5–10% kasus hipertensi.
  13. 13. HIPERTENSI SEKUNDER Hipertensi sekunder didapatkan pada sekitar 5% populasi hipertensi. •Penyebab hipertensi sekunder meliputi: Penyakit ginjal (parenkimal2-3%, renovaskular1-2%), endokrin 0,3-1% (aldosteronisme primer, feokromositoma, sindrom Cushing, akromegali), vascular (koarktasio aorta,aortoarteritis non-spesifik), obat-obat 0,5% (kontrasepsioral, NSAID, steroid, siklosporin) dan Iain-lain 0,5%
  14. 14. FAKTOR RESIKO 04.
  15. 15. Faktor Resiko Menurut (Elsanti, 2009), faktor risiko yang mempengaruhi hipertensi yaitu : Tidak Dapat Dikontrol Dapat Dikontrol 1. Jenis Kelamin 1. Obesitas 2. Umur 2. Kurang Olahraga 3. Faktor Genetik atau Keturunan 3. Kebiasaan Merokok 4. Mengkonsumsi Garam Berlebih 5. Minum Alkohol 6. Stres
  16. 16. GEJALA KLINIS 05.
  17. 17. Penyakit hipertensi dikenal sebagai the silent killer atau pembunuh secara diam-diam karena jarang memiliki gejala yang jelas, sehingga penderita tidak mengetahui dirnya menyandang hipertensi dan baru diketahui setelah terjadi komplikasi (Kemenkes, 2018).
  18. 18. WHO 2013, Hypertension Indonesia 2017, Hipertensi
  19. 19. GEJALA KLINIS (lazim terjadi) Sering dikatakan bahwa gejala terlazim yang menyertai hipertensi meliputi nyeri kepala dan kelelahan, tengkuk terasa pegal.
  20. 20. GEJALA KLINIS (pada kasus tertentu) Penglihatan kabur Akibat kerusakan retina akibat hipertensi Ayunan langkah yang tidak mantap Karena kerusakan susunan saraf pusat. Nokturia Karena peningkatan aliran darah ginjal dan filtrasi glomerulus Edema dependen dan pembengkakan Karena peningkatan tekanan kapiler
  21. 21. MANAJEMEN TERAPI 06.
  22. 22. MANAJEMEN TERAPI HIPERTENSI Usaha untuk mengurangi faktor risikoterjadinya peningkatan tekanan darah, tanpa menggunakan obat-obatan. Intervensi Pola Hidup Inisiasi Obat Penatalaksanaan hipertensi dengan obat-obatan Prinsip manajemen terapi adalah menurunkan tekanan darah sampai normal, atau sampai level paling rendah yang masih dapat ditoleransi oleh penderita dan mencegah komplikasi yang mungkin timbul
  23. 23. Diet rendah natrium Diet rendah lemak Hindari Alkohol Menurunkan berat badan Intevensi Pola Hidup Tidak merokok Olahraga
  24. 24. Inisiasi Obat Lima golongan obat antihipertensi utama yang rutin direkomendasikan yaitu: • ACEi • ARB • beta bloker • CCB • diuretik.
  25. 25. Pemilihan Obat Terapi Hipertensi 1. Inisiasi pengobatan pada sebagian besar pasien dengan kombinasi dua obat. 2. Kombinasi dua obat yang sering digunakan adalah RAS blocker (Renin-angiotensin system blocker), yakni ACEi atau ARB, dengan CCB atau diuretic 3. Kombinasi beta bloker dengan diuretik ataupun obat golongan lain dianjurkan bila ada indikasi spesifik, misalnya angina, pasca IMA, gagal jantung dan untuk kontrol denyut jantung 4. Pertimbangkan monoterapi bagi pasien hipertensi derajat 1 dengan risiko rendah (TDS <150mmHg), pasien dengan tekanan darah normal-tinggi dan berisiko sangat tinggi, pasien usia sangat lanjut (≥80 tahun) atau ringkih.
  26. 26. Pemilihan Obat Terapi Hipertensi 5. Penggunaan kombinasi tiga obat yang terdiri dari RAS blocker (ACEi atau ARB), CCB, dan diuretik jika TD tidak terkontrol oleh kombinasi duaobat. 6. Penambahan spironolakton untuk pengobatan hipertensi resisten, kecuali ada kontraindikasi. 7. Penambahan obat golongan lain pada kasus tertentu bila TD belum terkendali dengan kombinasi obat golongan di atas. Kombinasi dua penghambat RAS tidak direkomendasikan.
  27. 27. Panduan Penatalaksanaan Hipertensi KONSENSUS PENATALAKSANAAN HIPERTENSI 2021 yang berbasis pada “2020 ISH Global Hypertension Practice Guidelines“ juga berbasis pada ESC/ESH 2018 namun lebih sederhana, singkat, praktis dan fleksibel yang disesuaikan dengan kondisi dan keadaan. Panduan ini membagi terminologi “ESSENSIAL” yaitu standard pelayanan kesehatan minimal yang harus tersedia, umumnya di negara dengan sumber daya terbatas atau belum adanya data klinis berbasis penelitian tapi hanya berdasarkan opini para ahli, dan “OPTIMAL” yang mana standard pelayanan kesehatan yang ideal “ESSENSIAL” “OPTIMAL”
  28. 28. Alur Panduan Inisiasi Terapi Obat Sesuai dengan Klasifikasi Hipertensi Dikutip dari 2020 International Society of Hypertensio n Global Hypertensio n Practice Guidelines
  29. 29. Strategi Penatalaksanaan Hipertensi Tanpa Komplikasi Dikutip dari 2020 International Society of Hypertensio n Global Hypertensio n Practice Guidelines
  30. 30. Target Pengobatan Hipertensi Pada Konsensus Penatalaksanaan Hipertensi2021, disepakati target tekanan darah seperti tercantum pada diagram berikut ini: Dikutip dari 2020 International Society of Hypertension Global Hypertension Practice Guidelines
  31. 31. Obat Anti Hipertensi Oral
  32. 32. Obat Anti Hipertensi Oral Dikutip dari ACC/AHA Guideline of Hypertension 2017
  33. 33. KASUS Ny. K datang ke rumah sakit dengan keluhan sakit kepala dengan kepala terasa berat, nyeri di tengkuk dan sulit tidur. Ny. K mengaku suka makan makananan berlemak dan gurih, dan belum pernah periksa ke dokter. Kemudian Ny. K diminta untuk melakukan pengecekan laboratorium dan didapatkan hasil sebagai berikut: LDL : 250 mg/dL Trigliserida : 210 mg/dL GDP : 100 mg/Dl Pemeriksaan tanda vital: TD 150/90 mmHg Suhu 36℃ RR 15x/menit Nadi 70x/menit Terapi yang diberikan oleh dokter: Amlodipin 5 mg 1x sehari 1 tab (pagi) Simvastatin 10 mg 1x sehari 1 tab (malam)
  34. 34. ANALISA SOAP Subjective Objective Assasment Plan Px mengalami keluhan sakit kepala dengan kepala terasa berat, nyeri di tengkuk dan sulit tidur. Px mengaku suka makan makananan berlemak dan gurih, dan belum pernah periksa ke dokter. *kita asumsikan Px <60 th dan tidak sedang hamil LDL : 250 mg/dL Trigliserida : 210 mg/dL GDP : 100 mg/Dl Pemeriksaan tanda vital: TD 150/90 mmHg Suhu 36℃ RR 15x/menit Nadi 70x/menit  Sakit kepala, kepala terasa berat merupakan gejala yang biasa timbul pada px hipertensi  Nyeri di tengkuk merupakan gejala khas koleterol tinggi  Dari hasil lab diketahui Px mengalami hipertensi stage 1 dan hiperlipidemia yang disebabkan gaya hidup tidak sehat  Mulai perubahan gaya hidup (turunkan BB, kurangi garam, diet sehat, olahraga, stop merokok)  Merujuk pada guide line penatalaksaan hipertensi ISH 2020, untuk px HT stage 1 resiko rendah, first line tx tunggal ACEI atau ARB - direkomendasikan Captopril 25 mg 2-3x sehari 1 jam a.c  Jika ada ESO batuk, ganti Lisinopril 10 mg 1x sehari  Jika Px alergi ACEI bisa menggunakan ARB
  35. 35. PLAN (Lanjutan)  Jika penggunaan terapi tunggal tidak memungkinkan, gunakan kombinasi ACEI/ARB + DHP-CCB dosis rendah.  Merujuk pada panduan pengelolaan dislipidemia PERKENI 2021, pilihan terapi untuk px hiperkolesterolemia, Statin direkomendasikan sebagai pilihan utama untuk mencapai target K- LDL berdasarkan hasil berbagai penelitian tentang efektivitas obat ini dalam menurunkan angka kematian dan mortalitas kardiovaskular.  Merujuk pada guide line dyslipidemia ACC/AHA 2018, Px dengan K-LDL ≥190 mg/dl termasuk dalam kelompok px yang memerlukan tx statin high intensity, merekomendasikan Atorvastatin 40 – 80 mg 1x sehari.
  36. 36. PLAN (Lanjutan)  Tambahkan ezetimibe bila penurunan K-LDL <50% dengan tx statin atau kadar K-LDL masih tetap ≥100 mg/dl  Tambahkan bile acid sequestrant jika penurunan K-LDL <50% dengan statin dan ezetimibe.  Tidak perlu penambahan Fibrat. Pada px hipertrigliserida dengan risiko KV yang tinggi, maka statin tetap merupakan pilihan pertama umtuk menurunkan tingkat risiko KV.  Fibrat, hanya direkomendasikan sebagai tx lini pertama pada px dengan kadar TG >500 mg/dl dengan tujuan utama untuk mencegah pankreatitis.  Boleh ditambahkan Paracetamol prn untuk mengurangi rasa tidak nyaman akibat sakit kepala. Nyeri kepala akan hilang jika TD terkontrol.
  37. 37. MONITORING DAN EVALUASI • Tindak lanjut pasien hipertensi terdiri dari pemantauan efektivitas pengobatan, kepatuhan dalam berobat, serta deteksi dini HMOD (hypertension mediated organ damage) • Setelah inisiasi pengobatan hipertensi, tekanan darah seharusnya turun dalam 1- 2 minggu dan target tercapai dalam 3 bulan. • Jika tekanan darah sudah mencapai target, frekuensi kunjungan dapat dikurangi hingga 3-6 bulan sekali.
  38. 38. RUJUKAN 1. American College of Cardiology (ACC)/American Heart Association (AHA) tahun 2017 2. American College of Cardiology (ACC)/American Heart Association (AHA) Guideline on the Management of Blood Cholesterol tahun 2018 3. European Society of Cardiology (ESC)/European Society of Hypertension (ESH) tahun 2018 4. Konsensus Penatalaksanaan Hipertensi Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia (PerHI) tahun 2019 5. Konsensus Penatalaksanaan Hipertensi Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia (PerHI) tahun 2021 6. International Society of Hypertension (ISH) Global Hypertension Practice Guidelines tahun 2020 7. Panduan Pengelolaan Dislipidemia di Indonesia oleh Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) tahun 2021
  39. 39. Terima Kasih! Please, contact us at Muhammadiyah Hospital  Semoga Bermanfaat

×