Laporan AKhir EKPD 2009 Kalimantan Tengah - UNPAR
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Laporan AKhir EKPD 2009 Kalimantan Tengah - UNPAR

on

  • 3,650 visualizações

Dokumen Laporan Akhir EKPD 2009 Provinsi Kalimantan Tengah oleh Universitas Palangkaraya

Dokumen Laporan Akhir EKPD 2009 Provinsi Kalimantan Tengah oleh Universitas Palangkaraya

Estatísticas

Visualizações

Visualizações totais
3,650
Visualizações no SlideShare
3,650
Visualizações incorporadas
0

Actions

Curtidas
0
Downloads
322
Comentários
0

0 Incorporações 0

No embeds

Categorias

Carregar detalhes

Uploaded via as Adobe PDF

Direitos de uso

© Todos os direitos reservados

Report content

Sinalizado como impróprio Sinalizar como impróprio
Sinalizar como impróprio

Selecione a razão para sinalizar essa apresentação como imprópria.

Cancelar
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Sua mensagem vai aqui
    Processing...
Publicar comentário
Editar seu comentário

Laporan AKhir EKPD 2009 Kalimantan Tengah - UNPAR Laporan AKhir EKPD 2009 Kalimantan Tengah - UNPAR Document Transcript

  • KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas Rahmat dan Karunia- Nya Tim EKPD Kalteng dapat menyelesaikan Laporan Akhir kegiatan Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Kalimantan Tengah dengan judul “Evaluasi Empat Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009 di Provinsi Kalimantan Tengah” kerjasama antara Universitas Palangka Raya dengan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) melalui Deputi Bidang Evaluasi Kinerja Pembangunan. Evaluasi Kinerja yang dilakukan Bappenas dianggap penting mengingat selama ini evaluasi kinerja terhadap program dan kegiatan pembangunan yang dilakukan masih berorientasi kepada kinerja input dan kinerja keluaran (output), belum banyak berorientasi kepada kinerja outcome. Laporan akhir ini berusaha menyajikan evaluasi dan penilaian kinerja output dan outcome daerah. Fokus laporan yang dibuat meliputi 5 (lima) indikator utama yaitu tingkat pelayanan publik dan demokrasi, tingkat kualitas sumberdaya manusia, tingkat pembangunan ekonomi, kualitas pengelolaan sumberdaya alam dan tingkat kesejahteraan sosial. Pembangunan di Provinsi Kalimantan Tengah diprioritaskan kepada pengentasan kemiskinan dan pembenahan infrastruktur dalam kerangka pemberdayaan masyarakat. Pada laporan akhir ini juga diulas tentang IPM kaitannya dengan GEM dan GDI serta kualitas pelayanan publik yang menyangkut kemampuan pemerintah menangani kasus korupsi dan efisiensi pelayanan kepada masyarakat dalam bentuk pelayanan satu atap. Sejauhmana upaya penanganan lahan kritis di Kalimantan Tengah juga diulas dalam laporan ini. Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas bantuan dan kerjasama dari berbagai pihak terutama Gubernur beserta Jajarannya, Kejaksaan Tinggi Kalteng, Pengadilan Negeri Palangka Raya, Kepala Bappeda Provinsi Kalimantan Tengah dan Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) lainnya dalam lingkup Provinsi Kalimantan Tengah, Kepala BPS dan semua pihak yang tidak mampu kami sebutkan satu persatu. Akhirnya, secara khusus ucapan terimakasih disampaikan kepada Tim Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Kalimantan Tengah: Drs. Henry Singarasa, MS (Ketua), Prof. Dr. Ahim S. Rusan (Koordinator), Prof. Dr. Ir. Bambang S. Lautt, M.Si (Sekretaris) dan anggota masing-masing Prof. Dr. Eddy Lion, MPd; Dr. Muses Embang, MS dan Dr. Ir. Mofit Saptono,MSi atas segala upaya dan kerjasamanya sehingga laporan ini dapat diselesaikan dengan baik. Palangka Raya, 10 Desember 2009 Universitas Palangka Raya Rektor, Henry Singarasa NIP. 19521028 198003 1 002 Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   i  
  • DAFTAR ISI KATA PENGANTAR .................................................................................................... i DAFTAR ISI.................................................................................................................. ii BAB I PENDAHULUAN .............................................................................................. 1 1.1 Latar Belakang dan Tujuan ........................................................................ 1 1.2 Keluaran ..................................................................................................... 4 1.3 Metodologi.................................................................................................. 4 1.4 Sistematika Penulisan Laporan .................................................................. 6 BAB II HASIL EVALUASI ............................................................................................ 7 2.1 TINGKAT PELAYANAN PUBLIK DAN DEMOKRASI ................................ 7 2.1.1 Tingkat Pelayanan Publik ................................................................. 7 2.1.2 Tingkat Pelayanan Demokrasi .......................................................... 13 2.1.3 Capaian Indikator .............................................................................. 18 2.1.4 Analisis Capaian Indikator Spesifik dan Menonjol ............................ 19 2.1.5 Rekomendasi Kebijakan ................................................................... 20 2.2 TINGKAT KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA ..................................... 23 2.2.1 Indeks Pembangunan Manusia (IPM)............................................... 23 2.2.2 Pendidikan ........................................................................................ 25 2.2.3 Kesehatan ......................................................................................... 33 2.2.4 Keluarga Berencana ......................................................................... 41 2.2.5 Capaian Indikator .............................................................................. 46 2.2.6 Analisis Capaian Indikator Spesifik dan Menonjol ............................ 47 2.2.7 Rekomendasi Kebijakan ................................................................... 48 2.3 TINGKAT PEMBANGUNAN EKONOMI .................................................... 53 2.3.1 Ekonomi Makro ................................................................................. 53 2.3.2 Investasi (PMA dan PMDN) .............................................................. 60 2.3.3 Infrastruktur ....................................................................................... 61 2.3.4 Capaian Indikator .............................................................................. 62 2.3.5 Analisis Capaian Indikator Spesifik dan Menonjol ............................ 65 2.3.6 Rekomendasi Kebijakan ................................................................... 67 2.4 KUALITAS PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM DAN LINGKUNGAN HIDUP ........... 69 2.4.1 Kehutanan......................................................................................... 71 Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   ii  
  • 2.4.2 Kelautan ............................................................................................ 74 2.4.3 Capaian Indikator .............................................................................. 79 2.4.4 Analisis Capaian Indikator Spesifik dan Menonjol ............................ 82 2.4.5 Rekomendasi Kebijakan ................................................................... 83 2.5 TINGKAT TINGKAT KESEJAHTERAAN SOSIAL ..................................... 85 2.5.1 Persentase Penduduk Miskin ........................................................... 85 2.5.2 Tingkat Pengangguran Terbuka ....................................................... 87 2.5.3 Persentase Pelayanan Kesejahteraan Sosial Bagi Anak (Terlantar, Jalanan, Balita Terlantar, Dan Nakal) ............................................... 88 2.5.4 Persentase Pelayanan Kesejahteraan Sosial Bagi Lanjut Usia ........ 89 2.5.5 Persentase Pelayanan Dan Rehabilitasi Sosial (Penyandang Cacat, Tunasosial, Dan Korban Penyalahgunaan Narkoba)........................ 90 2.5.6 Capaian Indikator .............................................................................. 91 2.5.7 Analisis Capaian Indikator Spesifik dan Menonjol ............................ 93 2.5.8 Rekomendasi Kebijakan ................................................................... 95 BAB III. KESIMPULAN ................................................................................................ 98 LAMPIRAN ................................................................................................................... 103 Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   iii  
  • BAB I. PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG DAN TUJUAN Pembangunan daerah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan nasional, pada hakekatnya pembangunan daerah adalah upaya terencana untuk meningkatkan kapasitas daerah dalam mewujudkan masa depan daerah yang lebih baik dan kesejahteraan bagi semua masyarakat. Hal ini sejalan dengan amanat UU No. 32 tahun 2004 yang menegaskan bahwa Pemerintah Daerah diberikan kewenangan secara luas untuk menentukan kebijakan dan program pembangunan di daerah masing- masing. Berdasarkan kondisi dan konteks potensi dan permasalahan pembangunan di wilayah Provinsi Kalimantan Tengah, serta memperhatikan Visi Provinsi Kalimantan Tengah 2006-2025, maka visi pembangunan pada periode perencanaan 5 (lima) tahun pertama ini adalah: MEMBUKA ISOLASI MENUJU KALIMANTAN TENGAH YANG SEJAHTERA DAN BERMARTABAT Isolasi wilayah akan dibuka untuk meningkatkan kemampuan dan keberdayaan masyarakat dalam peningkatan taraf hidupnya. Untuk itu, pembukaan keterisolasian tidak sekedar peningkatan aksesibilitas dari dan ke pusat-pusat pertumbuhan di wilayah Kalimantan Tengah. Pembukaan keterisolasian juga diarahkan untuk penguatan dan peningkatan keterkaitan ekonomi antar pusat-pusat pertumbuhan yang ada di wilayah Provinsi Kalimantan Tengah tanpa mengorbankan kemampuan dan kualitas ekosistem dan lingkungan hidup. Selain itu, peningkatan aksesibilitas dan penguatan keterkaitan itu akan lebih membuka peluang usaha yang lebih besar kepada seluruh masyarakat di wilayah Provinsi Kalimantan Tengah. Pada periode 5 tahun pertama yaitu tahun 2006 hingga 2010, peraturan perundang-undangan tentang pemerintahan daerah masih belum mapan. Pembagian kewenangan dan urusan pemerintahan antar tingkat pemerintahan masih belum kondusif. Selain itu, pada periode 2006 hingga 2010 ini diperkirakan bahwa kondisi perekonomian nasional masih belum stabil. Dalam kondisi seperti ini prediksi tentang variabel-variabel ekonomi, khususnya variabel-variabel keuangan daerah masih relatif dipenuhi oleh kesalahan dan bias. Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   1  
  • Kebijakan Pembangunan Daerah Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah selama periode 2006 – 2010 diprioritaskan pada bidang : 1. Infrastruktur: Pembangunan dan pemeliharan jalan, jembatan, pelabuhan udara, pelabuhan laut dan sungai baik antar Provinsi , antar Kabupaten, antar Kecamatan, antar Desa yang terisolir dan antar sentra-sentra produksi di sektor/sub pertanian, pertambangan, perikanan /kelautan, kehutanan, perkebunan, dan peternakan secara terencana dan terpadu. 2. Ekonomi: Peningkatan pertumbuhan ekonomi masyarakat yang berbasis sumberdaya lokal, yang merata, berkelanjutan serta mendorong investasi, baik dari dalam maupun luar negeri 3. Pendidikan, Kesehatan dan Keluarga Berencana: Peningkatan kemampuan pelayanan pendidikan, kesehatan keluarga berencana secara berkesinambungan beserta sarana dan prasarananya. 4. Pemerintahan: Peningkatan tanggungjawab daya tanggap pemerintah dalam perluasan dan peningkatan kualitas pelayanan publik kepada seluruh lapisan masyarakat di seluruh pelosok wilayah dalam kerangka menciptakan effective government, good governance dan bebas KKN. 5. Hukum, Keamanan dan Hak Asasi Manusia: Penegakan supermasi hukum yang berkeadilan termasuk pertanahan dan pendayagunaan aparat keamanan dalam penciptaan ketentraman dan kedamaian masyarakat serta perlindungan terhadap Hak Asasi Manusia. 6. Politik: Pembangunan kehidupan politik yang berkelanjutan dengan dasar toleransi, keadilan, dan partisipasi yang berbasis multikultural. 7. Seni Budaya dan Agama: Memperkuat keterbukaan, toleransi kultural dan kerukunan antar agama, suku, ras maupun golongan dalam masyarakat Kalimantan Tengah yang majemuk dalam kerangka dan semangat serta sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. 8. Kepemudaan, Pramuka dan keolahragaan: Meningkatkan dan pemberdayaan peranan generasi muda dalam pembangunan, menguatkan sarana dan prasarana kepramukaan seperti Bumi Perkemahan di masing-masing Kabupaten/Kota, serta meningkatkan prestasi, partisipasi, pembelajaran, profesionalisme dan kualitas manajemen organisasi keolahragaan dalam mendukung pembangunan dan prestasi olah raga di Kalimantan Tengah. Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   2  
  • 9. Kepariwisataan: Terwujutnya daya saing pariwisata dengan peningkatan pengembangan pemasaran pariwisata. 10. Sumber Daya Alam, Lingkungan Hidup dan Tata Ruang: Pembangunan Kalimantan Tengah yang sangat strategis harus berwawasan lingkungan. Mewujutkan fungsi sumber daya alam dan lingkungan hidup yang serasi dalam mendukung fungsi ekonomi, sosial dan budaya masyarakat secara berkesinambungan serta mengoptimalkan produktivitas pemanfaatan dan pengendalian tata ruang sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. 11. Perhubungan dan Telekomunikasi: Perhubungan yang dititik beratkan pada peningkatan fasilitas bandara udara, baik yang berada di Kota Palangkaraya maupun Kabupaten-Kabupaten lainnya. Begitu pula dengan pelabuhan laut, pelabuhan ferry dan pelabuhan sungai lainnya perlu ditingkatkan fasilitasnya. Telekomunikasi yang mana pelayanan telekomunikasi harus ditingkatkan untuk menjangkau daerah-daerah baik di Kabupaten/Kota maupun di Kecamatan- kecamatan. 12. Pemberdayaan Masyarakat dan Perempuan: Titik berat pembangunan masyarakat dalam rangka peningkatan kualitas sumber daya manusia Kalimantan Tengah yang handal dan dapat bersaing di era globalisasi. Pengarus utamaan gender diartikan bahwa peran serta perempuan disejajarkan dengan laki-laki diberbagai aspek bidang, seperti di bidang legislatif, bidang eksekutif dan di masyarakat. Evaluasi kinerja pembangunan daerah (EKPD) 2009 dilaksanakan untuk menilai relevansi dan efektivitas kinerja pembangunan daerah dalam rentang waktu 2004-2008. Evaluasi ini juga dilakukan untuk melihat apakah pembangunan daerah telah mencapai tujuan/sasaran yang diharapkan dan apakah masyarakat mendapatkan manfaat dari pembangunan daerah tersebut. Secara kuantitatif, evaluasi ini akan memberikan informasi penting yang berguna sebagai alat untuk membantu pemangku kepentingan dan pengambil kebijakan pembangunan dalam memahami, mengelola dan memperbaiki apa yang telah dilakukan sebelumnya. Hasil evaluasi digunakan sebagai rekomendasi yang spesifik sesuai kondisi lokal guna mempertajam perencanaan dan penganggaran pembangunan pusat dan daerah periode berikutnya, termasuk untuk penentuan alokasi Dana Alokasi Khusus (DAK) dan Dana Dekonsentrasi (DEKON). Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   3  
  • 1.2. KELUARAN Keluaran yang diharapkan dari pelaksanaan EKPD 2009 meliputi: a. Terhimpunnya data dan informasi evaluasi kinerja pembangunan di provinsi Kalimantan Tengah b. Tersusunnya hasil analisa evaluasi kinerja pembangunan di provinsi Kalimantan Tengah sesuai sistematika buku panduan 1.3. METODOLOGI Metode yang digunakan untuk menentukan capaian 5 kelompok indikator hasil adalah sebagai berikut: (1) Indikator hasil (outcomes) disusun dari beberapa indikator pendukung terpilih yang memberikan kontribusi besar untuk pencapaian indikator hasil (outcomes). (2) Pencapaian indikator hasil (outcomes) dihitung dari nilai rata-rata indikator pendukung dengan nilai satuan yang digunakan adalah persentase. (3) Indikator pendukung yang satuannya bukan berupa persentase maka tidak dimasukkan dalam rata-rata, melainkan ditampilkan tersendiri. Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   4  
  • (4) Apabila indikator hasil (outcomes) dalam satuan persentase memiliki makna negatif, maka sebelum dirata-ratakan nilainya harus diubah atau dikonversikan terlebih dahulu menjadi (100%) – (persentase pendukung indikator negatif). Sebagai contoh adalah nilai indikator pendukung persentase kemiskinan semakin tinggi, maka kesejahteraan sosialnya semakin rendah. (5) Pencapaian indikator hasil adalah jumlah nilai dari penyusun indikator hasil dibagi jumlah dari penyusun indikator hasil (indicator pendukungnya). Contoh untuk indikator Tingkat Kesejahteraan Sosial disusun oleh: • persentase penduduk miskin • tingkat pengangguran terbuka • persentase pelayanan kesejahteraan sosial bagi anak • presentase pelayanan kesejahteraan sosial bagi lanjut usia • presentase pelayanan dan rehabilitasi sosial Semua penyusun komponen indikator hasil ini bermakna negatif (Lihat No.4). Sehingga: Indikator kesejahteraan sosial = {(100% - persentase penduduk miskin) + (100% - tingkat pengangguran terbuka) + (100% - persentase pelayanan kesejahteraan sosial bagi anak) + (100%- persentase pelayanan kesejahteraan sosial bagi lanjut usia) + (100% - persentase pelayanan dan rehabilitasi sosial}/5 Daftar indikator yang menjadi komponen pendukung untuk masing-masing kategori indikator outcomes dapat dilihat pada Lampiran 1. Untuk menilai kinerja pembangunan daerah, pendekatan yang digunakan adalah Relevansi dan Efektivitas. Relevansi digunakan untuk menganalisa sejauh mana tujuan/sasaran pembangunan yang direncanakan mampu menjawab permasalahan utama/tantangan. Dalam hal ini, relevansi pembangunan daerah dilihat apakah tren capaian pembangunan daerah sejalan atau lebih baik dari capaian pembangunan nasional. Sedangkan efektivitas digunakan untuk mengukur dan melihat kesesuaian antara hasil dan dampak pembangunan terhadap tujuan yang diharapkan. Efektivitas pembangunan dapat dilihat dari sejauh mana capaian pembangunan daerah membaik dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Dalam mengumpulkan data dan informasi, teknik yang digunakan dapat melalui: a. Pengamatan langsung. Pengamatan langsung kepada masyarakat sebagai subjek dan objek pembangunan di daerah, diantaranya dalam bidang sosial, ekonomi, Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   5  
  • pemerintahan, politik, lingkungan hidup dan permasalahan lainnya yang terjadi di wilayah provinsi terkait. b. Pengumpulan Data Primer. Data diperoleh melalui FGD dengan pemangku kepentingan pembangunan daerah. Tim Evaluasi Provinsi menjadi fasilitator rapat/diskusi dalam menggali masukan dan tanggapan peserta diskusi. c. Pengumpulan Data Sekunder. Data dan informasi yang telah tersedia pada instansi pemerintah seperti BPS daerah, Bappeda dan Satuan Kerja Perangkat Daerah terkait. 1.4. SISTEMATIKA PENULISAN LAPORAN Sistematika penulisan laporan EKPD Provinsi Kalimantan Tengah tahun 2009 terdiri dari tiga bab yaitu sebagai berikut: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang dan Tujuan 1.2. Keluaran 1.3. Metodologi 1.4. Sistematika Penulisan Laporan BAB II HASIL EVALUASI 2.1. Tingkat Pelayanan Publik Dan Demokrasi 2.2. Tingkat Kualitas Sumber Daya Manusia 2.3. Tingkat Pembangunan Ekonomi 2.4. Kualitas Pengelolaan Sumber Daya Alam 2.5. Tingkat Kesejahteraan Sosial BAB III KESIMPULAN LAMPIRAN (Tabel masing-masing indikator capaian yang telah dilengkapi dan dikoreksi) Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   6  
  • BAB II HASIL EVALUASI 2.1. TINGKAT PELAYANAN PUBLIK DAN DEMOKRASI 2.1.1. TINGKAT PELAYANAN PUBLIK Pelayanan publik (public services) merupakan salah satu perwujudan dari fungsi aparatur negara sebagai abdi masyarakat di samping sebagai abdi negara. Pelayanan publik (public services) oleh para birokrat dimaksudkan untuk mensejahterakan masyarakat (warga negara) dari suatu negara kesejahteraan (welfare state). Indikator yang digunakan dalam menilai pelayanan publik adalah: (1). Persentase jumlah kasus korupsi yang tertangani dibandingkan dengan yang dilaporkan; (2). Persentase jumlah aparat yang berijasah minimal S-1; (3) Persentase jumlah kabupaten/kota yang memiliki peraturan daerah pelayanan satu atap. 2.1.1.1. Persentase Jumlah Kasus Korupsi Yang Tertangani Dibandingkan Dengan Yang Dilaporkan Upaya pemerintah provinsi dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik di Kalimantan Tengah terutama dalam hal penanganan kasus korupsi sudah mulai menunjukkan hasil yang memuaskan, terutama sejak tahun 2006. Bila dilihat data pada awal RPJMD tahun 2004, jumlah kasus korupsi yang tertangani di Kalimantan Tengah tergolong relatif kecil (16,67%) artinya bahwa hanya sebagian kecil saja dari kasus korupsi yang dilaporkan tersebut mampu ditangani dan diputuskan. Kondisi tersebut 100,00 80,00 60,00 40,00 20,00 0,00 2004 2005 2006 2007 2008 K alteng Nas ional Gambar 2.1. Grafik capaian indikator persentase jumlah kasus korupsi yang tertangani dibandingkan dengan yang dilaporkan. Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   7  
  • berubah menjadi lebih baik sejak tahun 2007. Kondisi tersebut dipicu oleh adanya penandatanganan MOU antara Gubernur dan ketua KPK pada tahun 2006 tentang pencegahan korupsi dijajaran pemerintah daerah. Peningkatan yang cukup signifikan tersebut terjadi hingga tahun 2009 dimana persentase kasus korupsi yang tertangani dibanding dengan yang dilaporkan meningkat menjadi 90%. Walaupun terjadi peningkatan penanganan kasus korupsi namun apabila dibandingkan dengan data nasional tahun 2008 (94,00) maka upaya penanganan tersebut relatif lebih rendah. Tekad dan komitmen Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah dalam mewujudkan pemerintahan yang bersih dan bebas dari KKN (clean government) dimanifestasikan ke dalam program dan kebijakan yang mengedepankan transparansi, akuntabilitas dan partisipasi masyarakat. Langkah-langkah yang telah ditempuh Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah dalam upaya mewujudkan clean government di Provinsi Kalimantan Tengah meliputi : 1. Penandatanganan Kesepakatan Bersama Ketua KPK Nomor 002/Pemprov Kalteng- KPK/III/2006 dan Gubernur Kalimantan Tengah Nomor 790/447/2006 tanggal 14 Maret 2006 dalam rangka Pencegahan Korupsi di Jajaran Pemerintah Daerah se- Provinsi Kalimantan Tengah. 2. Keputusan Bersama Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi dan Gubernur Kalimantan Tengah di bidang Pendaftaran Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara dan Sosialisasi Pemberantasan Korupsi Nomor : KEP. 747/KPK/12/2004, tanggal 9 Desember 2004. Beberapa hal yang telah dicapai dari pelaksanaan komitmen dalam pemberantasan korupsi adalah: 1. Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi dalam pengadaan barang dan jasa melalui kegiatan: a) Penerapan Keppres No.80 tahun 2003 beserta perubahannya dalam pengadaan barang dan jasa. b) Penandatanganan Pakta Integritas bagi pengguna jasa, penyedia jasa dan Panitia Pengadaan sebelum proses pengadaan. c) Mengumumkan pengadaan barang dan jasa melalui media cetak nasional yaitu Media Indonesia dan media cetak lokal yaitu Kalteng Pos dan Dayak Pos. d) Melakukan sosialisasi/ demo e-announcement yang bekerjasama dengan KPK. Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   8  
  • e) Menjadi percontohan pelaksanaan Electronic Government Procurement (EGP) yang ditunjuk oleh Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/ Bappenas. 2. Bidang Pencegahan Korupsi dan peningkatan Kesadaran Anti Korupsi a) Penandatanganan MoU dan Pakta Integritas antara Kepala Daerah dengan Kepala SKPD di Jajaran Pemerintah Provinsi dan Kabupaten Kota se-Kalimantan Tengah. b) Penandatangan Kesepakatan Kinerja antara Kepala SKPD di lingkungan Pemerintah Provinsi Kaimantan Tengah dengan Gubernur yang dilakukan setiap tahun dan dievaluasi pelaksanaannya pada awal tahun berikutnya. c) Membuat iklan layanan masyarakat tentang anti korupsi di media cetak (buletin Isen Mulang, Harian Kalteng Pos, Dayak Pos dan palangka Pos) maupun media elektronik (TVRI Kalteng). d) Gubernur Kalimantan Tengah telah menghimbau Bupati/ Walikota dan semua Kepala SKPD untuk tidak menerima parsel pada hari-hari besar keagamaan. e) Telah melakukan Sosialisasi LHKPN dan pemberantasan korupsi di jajaran Pemerintahan Provinsi dan Kabupaten Kota se-Kalimantan Tengah yang bekerjasama dengan KPK. f) Melakukan pendataan wajib lapor LHKPN di Provinsi Kalimantan Tengah, untuk tahun 2007 sebanyak 1.921 orang wajib lapor dan yang telah menyampaikan sebanyak 1.649 orang (86%). 2.1.1.2. Persentase Jumlah Aparat Yang Berijasah Minimal S-1. Dalam kondisi masyarakat yang sudah tergolong maju, birokrasi publik harus dapat memberikan layanan publik yang lebih profesional, efektif, sederhana, transparan, terbuka, tepat waktu, responsif dan adaptif serta sekaligus dapat membangun kualitas manusia dalam arti meningkatkan kapasitas individu dan masyarakat untuk secara aktif menentukan masa depannya sendiri. Bila dilihat data pada awal RPJMD tahun 2004, persentase jumlah aparat yang berijasah minimal S-1 di Kalimantan Tengah tergolong relatif tinggi (31,03%) artinya bahwa sebanyak lebih dari 31,03% pegawai negeri di Kalimantan Tengah memiliki ijasah minimal S-1. Memang akhir-akhir ini banyak SKPD yang mensyaratkan penerimaan pegawai negeri berijasah minimal S-1. Hal ini dimaksudkan agar kualitas pelayanan menjadi semakin baik. Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   9  
  • 33,00 32,00 31,00 30,00 29,00 28,00 2004 2005 2006 2007 2008 K alteng Nas ional Gambar 2.2. Grafik capaian indikator persentase jumlah aparat yang berijasah minimal S-1. Berkaitan dalam hal kualitas pelayanan publik, maka kemampuan aparat sangat berperan penting dalam hal ikut menentukan kualitas pelayanan publik tersebut. Untuk itu indikator-indikator dalam kemampuan aparat adalah sebagai berikut : 1. Tingkat pendidikan aparat; 2. Kemampuan penyelesaian pekerjaan sesuai jadwal; 3. Kemampuan melakukan kerja sama; 4. Kemampuan menyesuaikan diri terhadap perubahan yang dialami organisasi; 5. Kemampuan dalam menyusun rencana kegiatan; 6. Kecepatan dalam melaksanakan tugas; 7. Tingkat kreativitas mencari tata kerja yang terbaik; 8. Tingkat kemampuan dalam memberikan pertanggungjawaban kepada atasan; 9. Tingkat keikutsertaan dalam pelatihan/kursus yang berhubungan dengan bidang tugasnya. Dalam menjalankan tugasnya, para aparatur pemerintah dituntut untuk memiliki kemampuan yang baik berupa pengetahuan, keterampilan serta sikap perilaku yang memadai, sesuai dengan tuntutan pelayanan dan pembangunan sekarang ini. Dalam kaitannya dengan pelayanan publik maka saat ini terasa bahwa kebutuhan keterampilan menggunakan komputer dan alat elektronik lainnya sangat diperlukan. Hal ini yang jarang sekali dimiliki oleh pegawai yang terdahulu walaupun sudah mengantongi ijasah S-1. Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah penerapan etos kerja yang jujur, ulet dan suka kerja keras. Ini yang paling perlu ditanamkan dalam rangka peningkatan kinerja Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   10  
  • bagi pegawai negeri. Menurut beberapa ahli keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan intelegensi (20%) tetapi juga paling besar pengaruhnya adalah kemampuan emosional (50%) dan kemampuan advertise (30%). Berkaitan dengan data diatas, nilai persentase yang tinggi masih belum menggambarkan data pegawai secara keseluruhan di Kabupaten/Kota mengingat data yang disajikan tersebut merupakan data tingkat provinsi. Apabila data tersebut digabung dengan data pada wilayah Kabupaten/Kota maka ada kemungkinan nilai persentase menjadi rendah. Sebagai bahan informasi awal, biasanya di kabupaten/kotawilayah masih cukup sulit mencari pegawai yang berijasah S-1 lebih-lebih pada wilayah kabupaten pemekaran. Biasanya pada wilayah kabupaten pemekaran, untuk menduduki jabatan eselon, baik eselon II maupun III pada beberapa SKPD diambilkan dari tenaga guru. Hal inilah yang mungkin masih berdampak pada kualitas pelayanan yang masih rendah. 2.1.1.3. Persentase Jumlah Kabupaten/Kota Yang Memiliki Peraturan Daerah Pelayanan Satu Atap Terkait dengan tingkat pelayanan publik maka faktor yang sangat berpengaruh terhadap rendahnya capaian pelayanan tahun 2004 hingga 2007 adalah belum adanya PERDA pelayanan satu atap di Kabupaten/kota. Namun sejak diterbitkannya PP 41 tahun 2007 maka pemerintah Kabupaten/kota mulai menyusun dan meneribitkan Perda mengenai pelayanan satu atap. Pada tahun 2008 sudah ada 9 daerah kabupaten/kota yang memiliki Perda satu atap sedangkan pada tahun 2009 jumlah tersebut meningkat menjadi 10 Kabupaten/kota dari 14 kabupaten/kota yang ada di provinsi Kalimantan Tengah (71,43%). Nama-nama ke-10 kabupaten/kota yang telah memiliki perda pelayanan satu atap adalah kota Palangka Raya, Kabupaten Kaotawaringin Timur, Katingan, Lamandau, Kotawaringin Barat, Barito Selatan, Kapuas, Gunung Mas, Pulang Pisau dan Barito Utara, sedangkan kabupaten/kota yang belum memiliki perda pelayanan satu atap yaitu Kabupaten Sukamara, Barito Timur, Seruyan dan Murung Raya. Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   11  
  • 80,00 70,00 60,00 50,00 40,00 30,00 20,00 10,00 0,00 2004 2005 2006 2007 2008 K alteng Nas ional Gambar 2.3. Grafik capaian indikator persentase jumlah kabupaten/kota yang memiliki peraturan daerah pelayanan satu atap. Di Kalimantan Tengah, program pelayanan publik dititik beratkan pada peningkatan kualitas pelayanan, yang akan dilakukan terutama pada standarisasi pelayanan pada publik di seluruh unit organisasi dan kemudian akan dikembangkan hingga menjadi baku untuk kemudian akan terus dievaluasi bersama-sama setelah standar tersebut dibakukan dalam bentuk peraturan kepala daerah atau peraturan daerah. Dalam rangka peningkatan tersebut yang akan dilakukan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah adalah sebagai berikut: • Kompetensi Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik Antar daerah dan Penilaian Unit Kerja Pelayanan Percontohan; • Evaluasi Pelaksanaan Pelayanan Publik pada Kabupaten/Kota • Bintek Pengukuran Indek Kepuasan Masyarakat • Terlaksananya monitoring, evaluasi pelaksanaan Perda dan studi aspek legalisasi penyusunan Perda • Penyusunan dan Sosialisasi Perda Pengelolaan barang Daerah Strategi pelayanan prima pola layanan satu atap atau sering disebut sebagai layanan terpadu pada suatu tempat oleh beberapa instansi daerah yang bersangkutan sesuai dengan kewenangan masing-masing, sebenarnya bukan merupakan sesuatu hal yang baru. Strategi ini telah berhasil diterapkan pada layanan pembayaran pajak kendaraan bermotor yang melibatkan beberapa instansi daerah, antara lain Dispenda, Kepolisian, dan Jasa Raharja. Penerapan layanan satu atap pada dasarnya untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas melalui peminimalan jarak geografis antar fungsi terkait, dengan demikian dapat diperpendek waktu yang diperlukan untuk proses layanan, Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   12  
  • pengguna layanan juga menjadi lebih mudah untuk memperoleh layanan. Yang senantiasa harus dicermati dalam penerapan pola layanan satu atap adalah koordinasi diantara beberapa instansi yang terkait. Keberhasilan penerapan layanan terpadu untuk pembayaran pajak kendaraan bermotor ini kemudian mendorong pemerintah daerah untuk menerapkan layanan terpadu pada bidang layanan dokumen, seperti layanan KTP, KK, akta kelahiran dan perijinan yang dulunya dilakukan pada tempat yang terpisah kemudian disatu atapkan di satu tempat. Persoalan yang muncul dalam hal ini adalah bagaimana mengintegrasikan berbagai bentuk layanan yang berbeda proses penanganannya. Evaluasi terhadap fungsi-fungsi pelayanan yang akan disatuatapkan perlu dilakukan. Barangkali yang paling mudah dilakukan dalam penyelenggaraan layanan satu atap bagi bidang-bidang yang berbeda, hanya sebatas pada layanan lini pertama, yaitu tempat penerimaan berkas ajuan layanan, tindakan selanjutnya untuk penyelesaiannya tetap pada instansi masingmasing. Penempatan personal yang andal sangat menentukan efektifitas penyelenggaraan. Selain petugas lini depan, maka perlu ditempatkan seorang kurir untuk masing-masing instansi guna memperlancar alur layanan dan penyelesaian pekerjaan layanan. Kemudian, untuk mempermudah masyarakat pengguna layanan memperoleh layanan, maka desain layanan harus dikomunikasikan sejelas-jelasnya. Pemberian layanan publik dengan pola layanan satu atap yang memenuhi standar minimal seperti yang telah diterapkan memang menjadi bagian yang perlu dicermati. Dewasa ini masih sering dirasakan, bahwa kualitas layanan minimum sekalipun belum memenuhi harapan sebagian besar masyarakat pengguna layanan. Yang lebih memprihatinkan lagi sebagian besar masyarakat pengguna layanan publik belum memahami secara pasti tentang standar layanan yang seharusnya diterima dan apakah sesuai dengan prosedur layanan yang dibakukan. Masyarakat pun enggan mengadukan jika menerima layanan yang kurang berkualitas. 2.1.2. TINGKAT PELAYANAN DEMOKRASI Indikator yang digunakan untuk menilai tingkat pelayanan demokrasi di Kalimantan Tengah diarahkan pada dua hal yaitu: (1) Tingkat partisipasi politik masyarakat baik dalam hal pemilu legislatif, PILPRES maupun pemilihan kepala daerah (PILKADA); (2) Pengukuran pengarusutamaan gender. Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   13  
  • 2.1.2.1. Tingkat Partisipasi Politik Masyarakat dalam PEMILU maupun PILKADA Indikator dari Agenda Mewujudkan kondisi yang Demokratis adalah suksesnya pelaksanaan PILKADA dan PILPRES di Wilayah Kalimantan Tengah, meningkatnya jumlah parpol yang aktif, serta tingkat partisipasi masyarakat yang ikut dalam kegiatan pemilu / pilkada cukup tinggi terutama tahun 2004. Selain itu, terpeliharanya momentum awal konsolidasi demokrasi dengan terlaksananya secara efektif fungsi dan peran lembaga penyelenggara negara dan lembaga kemasyarakatan. Agenda tersebut juga menetapkan sasaran terhadap meningkatnya partisipasi masyarakat dalam proses penyusunan kebijakan publik serta terlaksananya pemilihan umum (Pemilu) yang lebih demokratis, jujur, dan adil pada tahun 2009 dengan prioritas pembangunan yang diletakkan pada perwujudan lembaga demokrasi yang makin kukuh. Di Kalimantan Tengah, pemilu legislatif dan pilpres tahun 2009 telah terlaksana dengan baik dan pemerintah daerah juga telah menyelesaikan Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA) di 14 kabupaten/kota untuk pemilihan Bupati/Walikota serta pemilihan Gubernur pada tahun 2005 yang lalu. Hal yang ditunggu saat ini adalah pemilihan Bupati (Kotawaringin Timur dan Kotawaringin Barat) dan pemilihan Gubernur Kalteng yang akan dilaksanakan sekitar bulan Juni tahun 2010. 76,00 74,00 72,00 70,00 68,00 66,00 64,00 62,00 60,00 2004 2005 2006 2007 2008 2009 K alteng Nas ional Gambar 2.4. Grafik capaian indikator tingkat partisipasi politik masyarakat dalam Pemilihan Presiden (PILPRES) Lebih rendahnya tingkat demokrasi di Kalimantan Tengah terkait dengan relatif rendahnya tingkat partisipasi masyarakat dalam pilpres maupun Pilkada. Pada tahun 2004, tingkat partisipasi masyarakat secara nasional dalam pilpres mencapai 75,98% sedangkan tingkat pastisipasi masyarakat Kalteng pada tahun yang sama mencapai Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   14  
  • 69,52% (angka rerata dari putaran I dan II). Hal yang paling perlu dicermati lagi adalah menurunnya tingkat partisipasi masyarakat Kalimantan Tengah pada pemilu legislatif maupun pilpres tahun 2009. Penurunan tersebut mencapai 9,21% untuk pemilihan legislatif dan 3,52% untuk pemilihan Presiden dibanding tahun 2004. Beberapa hal yang kemungkinan menjadi faktor penyebab menurunnya peran serta masyarakat dalam pesta demokrasi adalah: 1. Masih belum optimalnya proses sosialisasi tentang cara melaksanakan pesta demokrasi 2. Kurangnya kesadaran masyarakat tentang manfaat secara langsung pesta demokrasi tersebut 3. Jumlah partai yang terlalu banyak membuat masyarakat bingung untuk memilih sehing-ga cenderung memilih tidak mengikuti pencontrengan 4. Adanya himbauan-himbauan untuk tidak memilih (Golput). 5. Aturan pemilu yang mengharuskan adanya nama pada daftar pemilih tetap 6. Sebagian pemilih, terutama pemilih pemula banyak yang tidak terdaftar mengingat tenggang waktu antara pendaftaran dengan pencontrengan jaraknya cukup lama. Daerah yang maju ditandai oleh peran serta rakyat secara nyata dan efektif dalam segala aspek kehidupan, khususnya kegiatan sosial dan politik. Diharapkan agar pemerintah daerah menggiatkan peran serta masyarakat terutama menghadapi PILKADA bulan Juni tahun 2010. Peningkatan partisipasi masyarakat untuk ikut terlibat dalam proses demokrasi pemilu kepala daerah tahun 2010 perlu dilakukan mengingat pengalaman waktu pelaksanaan PILKADA Gubernur tahun 2005 masih terdapat sekitar 474.864 jiwa pemilih atau 36,80 persen anggota masyarakat yang tidak menggunakan hak pilihnya dalam PILKADA tersebut. 2.1.2.2. Gender Development Index (GDI) dan Gender Empowerment Measurment (GEM) Mengacu kepada kebijakan program Pemberdayaan Perempuan yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi serta kebutuhan pembangunan daerah Provinsi Kalimantan Tengah, maka program pembangunan pemberdayaan perempuan, kesejahteraan dan perlindungan anak Provinsi Kalimantan Tengah Tahun 2006-2010 diarahkan pada program-program antara lain sebagai berikut : Program Penguatan Kelembagaan Pengarusutamaan Gender. Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   15  
  • Tujuan program ini untuk memperkuat kelembagaan dan jaringan Pengarusutamaan Gender (PUG) di berbagai bidang pembangunan. Sasaran yang ingin dicapai: 1. Tersedianya tenaga analisis gender dan model analisis gender di Provinsi dan di seluruh Kabupaten/Kota; 2. Terjalinnya kerjasama Pusat Studi Wanita/Gender dengan Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota; 3. Terbentuknya Focal Point PUG di setiap Dinas/Badan/Unit Kerja di Provinsi dan Kabupaten/Kota; 4. Meningkatnya koordinasi pemberdayaan perempuan di Provinsi dan Kabupaten/Kota; 5. Tersusunnya kebijakan dan program pembangunan daerah yang responsif gender di Provinsi dan Kabupaten/Kota; 6. Terlaksananya penyusunan statistik gender termasuk indikator gender. Kegiatan pokok yang dilakukan antara lain : 1. Mengembangkan materi dan melaksanakan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) tentang kesetaraan dan keadilan gender (KKG) PUG dan KPA; 2. Meningkatkan kapasitas dan jaringan kelembagaan pemberdayaan perempuan dan anak di tingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota, termasuk Pusat Studi Wanita/ Gender; 3. Menyusun berbagai kebijakan dalam rangka penguatan kelembagaan PUG dan PUA di Provinsi dan Kabupaten/Kota; 4. Melaksanakan kegiatan penyusunan perencanaan, pemantauan, evaluasi PUG dan PUG di Provinsi dan Kabupaten/Kota; 5. Membentuk P2TP2A di Provinsi/Kabupaten/Kota. 68,00 66,00 64,00 62,00 60,00 58,00 56,00 54,00 52,00 2004 2005 2006 2007 2008 K alteng Nas ional Gambar 2.5. Grafik capaian indikator gender empowerment measurment (GEM) di Kalimantan Tengah Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   16  
  • Selain ke enam indikator diatas maka indikator yang menyangkut indek pemberdayaan gender (GEM) juga menunjukkan tren yang meningkat dan sejak tahun 2006 indek pemberdayaan gender di Kalimantan Tengah lebih tinggi dari rerata nasional (Gambar 2.5). Pada tahun 2004 indek pemberdayaan gender di Kalimantan Tengah menunjukan angka 57,11 persen. Semakin tahun angka tersebut semakin meningkat, hingga pada tahun 2009 telah mencapai 66,75 persen. Hal ini mengindikasikan bahwa peran perempuan dalam bidang ekonomi, dan pengambilan keputusan sudah mulai membaik. Namun yang masih belum banyak terlihat adalah peran perempuan dalam bidang politik masih rendah dalam arti kata keterwakilan kaum perempuan dalam lembaga legistilatif masih minim. Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun oleh Tim EKPD maka hasil pemilu 2009 menempatkan jumlah anggota legislatif perempuan sebanyak 8 orang dari 45 orang anggota yang ada (17,77%). Jumlah personil pejabat perempuan di provinsi Kalimantan Tengah tahun 2007 hanya mencapai 12,03% dari 9.246 pejabat yang ada. Pada tahun 2009 (pelantikan bulan november 2009) jumlah perempuan yang menduduki jabatan eselon II pada lingkup pemerintah provinsi Kalteng hanya 5 orang dari sekitar 43 biro/SKPD yang ada (11,63%). Tabel 2.1 Jumlah Personil Pejabat Perempuan di Provinsi Kalimantan Tengah Tahun 2007 No Jenis Jabatan Perempuan Laki-laki Total 1 Gubernur - 1 1 2 Wakil Gubernur - 1 1 3 Bupati / Walikota - 13 13 4 Wakil Bupati / Walikota - 13 13 5 Pejabat Pemda Tk. Kabupaten/Kota Eselon II 16 258 274 Provinsi 6 Pejabat Pemda Tk. Kabupaten/Kota Eselon III 164 968 1.132 Provinsi 7 Pejabat Pemda Tk. Kabupaten/Kota Eselon IV 851 2.534 3.385 Provinsi 8 Hakim di Pengadilan Tinggi 1 6 7 9 Jaksa di Kejaksaan Tinggi 2 38 40 10 Camat 5 61 66 11 Kepala KUA - 242 242 12 Lurah 7 233 240 13 Wakil Lurah 2 14 16 14 Kepala Desa 12 900 912 15 Dewan Kelurahan - - - 16 Badan Perwakilan Desa 53 2.842 2.895 17 Rektor - 9 9 Total 1.113 8.133 9.246 Catatan : Data dari Provinsi dan 4 (empat) Kabupaten / 1 (satu) Kota Kapuas, Barut, Katingan, Seruyan, Kota Palangka Raya Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   17  
  • Terbatasnya jumlah kaum perempuan dalam menduduki jabatan eselonisasi dalam lingkup Pemkab maupun Pemprov serta lembaga legislatif kemungkinan disebabkan oleh: - Masih kuatnya peran ganda kaum perempuan antara sebagai ibu rumah tangga dan membina karir sehingga alokasi waktu untuk meningkatkan profesionalisme menjadi terbatas. - Kepercayaan dan kesempatan yang diberikan kepada kaum perempuan masih rendah - Di banyak masyarakat, perempuan dianggap terlalu lemah untuk memimpin satu kelompok masyarakat. Karena itu pula perempuan sering dihambat bahkan dilarang masuk dalam sendi-sendi politik masyarakat. - Adanya cap-cap negatif terhadap perempuan: emosional dan kurang rasional. 2.1.3. CAPAIAN INDIKATOR Terdapat dua bentuk satuan indikator yang digunakan dalam menilai kemajuan pembangunan yaitu berdasarkan agregasi angka relatif (persentase) dan angka absolut (mutlak). Agregasi angka relatif ditujukan untuk membuat satu grafik capaian indikator tingkat pelayanan publik dan demokrasi dengan 6 (enam) indikator pendukung yaitu persentase jumlah kasus korupsi yang tertangani dibandingkan dengan yang dilaporkan, persentase aparat yang berijasah minimal S-1, persentase jumlah kabupaten/kota yang memiliki peraturan daerah pelayanan satu atap, tingkat partisipasi politik masyarakat dalam pemilihan kepala daerah provinsi, tingkat partisipasi politik masyarakat dalam pemilihan legislatif, tingkat partisipasi politik masyarakat dalam pemilihan Presiden (Pilpres). Semua status indikator persentase tersebut bernilai positif. 70,00 70,00 60,00 60,00 50,00 50,00 Kalteng 40,00 40,00 Nasional Tren Kalteng 30,00 30,00 Tren Nasional 20,00 20,00 10,00 10,00 0,00 0,00 2004 2005 2006 2007 2008 Gambar 2.6. Grafik capaian indikator Tingkat Pelayanan Publik di Provinsi Kalimantan Tengah. Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   18  
  • Berdasarkan grafik tersebut tampak bahwa tingkat pelayanan publik di Kalimantan Tengah pada tahun 2004 – 2008 lebih rendah dibanding rata-rata nasional. Apabila dilihat dari segi efektivitasnya maka pembangunan pelayanan publik dan demokrasi di Kalimantan Tengah mulai membaik terutama sejak tahun 2006 hingga mencapai tahun 2008. Berdasarkan trend capaian pembangunan maka capaian pembangunan daerah sejalan bahkan lebih baik pada tahun-tahun terakhir dibanding dengan pelayanan publik secara nasional. 60,00 150,00 50,00 100,00 40,00 50,00 Kalteng Nasional 30,00 0,00 Tren Kalteng 20,00 -50,00 Tren Nasional 10,00 -100,00 0,00 -150,00 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Gambar 2.7. Grafik capaian indikator Tingkat Demokrasi di Provinsi Kalimantan Tengah. Tingkat partisipasi masyarakat dalam pesta demokrasi di Kalimantan Tengah pada tahun 2004 dan 2009 sedikit lebih rendah dibanding rata-rata nasional. Apabila dilihat dari segi efektivitasnya maka pembangunan demokrasi di Kalimantan Tengah tahun 2009 menurun dibanding tahun 2004. Berdasarkan trend capaian pembangunan maka capaian pembangunan daerah sejalan namun lebih rendah pada tahun-tahun terakhir (2009) dibanding dengan pelayanan publik secara nasional. 2.1.4. ANALISIS CAPAIAN INDIKATOR SPESIFIK DAN MENONJOL Ada enam indikator penunjang yang diperhatikan untuk kepentingan Analisis Capaian Indikator Spesifik dan Menonjol untuk tingkat pelayanan publik dan demokrasi di provinsi Kalimantan Tengah, yaitu: persentase jumlah kasus korupsi yang tertangani dibandingkan dengan yang dilaporkan, persentase aparat yang berijasah minimal S-1, persentase jumlah kabupaten/kota yang memiliki peraturan daerah pelayanan satu atap, tingkat partisipasi politik masyarakat dalam pemilihan kepala daerah provinsi, tingkat Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   19  
  • partisipasi politik masyarakat dalam pemilihan legislatif, tingkat partisipasi politik masyarakat dalam pemilihan Presiden (Pilpres). Penilaian atas indikator penunjang yang spesifik dan menonjol dapat diketahui dari analisis kesesuaian antara harapan dan kenyataan. Bila hasilnya sesuai maka indikator penunjang itulah yang dapat dianggap suatu keberhasilan spesifik dan menonjol (lihat tabel 1). Tabel 2.2. Hasil Analisis Capaian Indikator Spesifik dan Menonjol Bidang Tingkat Pelayanan Publik dan Demokrasi Di Provinsi Kalimantan Tengah Tahun 2004 – 2008 No Indikator Penunjang Harapan Fakta Keterangan 1 Jumlah kasus korupsi yang tertangani Trennya Naik Trennya Naik sesuai 2 Persentase aparat berijasah minimal S-1 Trennya Naik Trennya Naik sesuai Persentase jumlah kabupaten/kota yang memiliki 3 Trennya Naik Trennya Naik sesuai perda pelayanan satu atap Tingkat patisipasi politik masyarakat dalam 4 Trennya Naik Trennya Turun tidak sesuai PILKADA provinsi Tingkat patisipasi politik masyarakat dalam 5 Trennya Naik Trennya Turun tidak sesuai pemilihan LEGISLATIF Tingkat patisipasi politik masyarakat dalam 6 Trennya Naik Trennya Turun tidak sesuai PILPRES Sumber : Diolah dari Matrik Data EKPD Provinsi Kalimantan Tengah. Melalui data pada tabel 1, dapat diketahui bahwa ada tiga indikator penunjang yang sesuai, sedangkan tiga sisanya tidak sesuai. Dengan demikian dapat ditetapkan indikator yang spesifik dan menonjol bidang pelayanan publik dan demokrasi di provinsi Kalimantan Tengah yaitu keberhasilan bidang penanganan kasus korupsi, persentase aparat minimal berijasah S-1 dan persentase jumlah kabupaten/kota yang memiliki perda pelayanan satu atap. 2.1.5. REKOMENDASI KEBIJAKAN Pokok-pokok kebijakan untuk mengatasi persoalan peningkatan kualitas pelayanan publik dan demokrasi di provinsi Kalimantan Tengah periode yang akan datang direkomendasikan melalui upaya peningkatan persentase jumlah kasus korupsi yang tertangani dibandingkan dengan yang dilaporkan, peningkatan persentase aparat yang Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   20  
  • berijasah minimal S-1, peningkatan persentase jumlah kabupaten/kota yang memiliki peraturan daerah pelayanan satu atap, peningkatan gender development index (GDI), peningkatan gender empowerment measurement (GEM), peningkatan tingkat partisipasi politik masyarakat dalam pemilihan kepala daerah provinsi, tingkat partisipasi politik masyarakat dalam pemilihan legislatif, tingkat partisipasi politik masyarakat dalam pemilihan Presiden (Pilpres), sebagai berikut: 1) Upaya meningkatkan persentase jumlah kasus korupsi yang tertangani dibandingkan dengan yang dilaporkan • Kebijakan penanganan kasus korupsi tanpa pandang bulu baik terhadap para pejabat maupun keluarga para pejabat • Menanamkan pengertiaan kepada aparat bahwa hukum harus ditegakkan dan keadilan harus dinyatakan di Bumi Tambun Bungai • Kebijakan mendorong peran serta masyarakat melalui misalnya LSM, BEM, dalam mengawal pelaksanaan hukum di bumi Tambun Bungai 2) Upaya meningkatkan persentase jumlah aparat yang berijasah minimal S-1 • Melakukan kebijakan penerimaan pegawai minimal berijasah S-1 dan menyesuaikan dengan kompetensi yang diperlukan oleh SKPD • Melakukan pendataan pegawai sesuai dengan tingkat pendidikan di Kabupaten/kota sehingga data yang ada menjadi lebih komprehensif • Meningkatkan emosional dan advertising skill para pegawai memalui pemahaman tentang pentingnya kerjasama, penyesuaian diri, penyusunan rencana kegiatan, kecepatan melaksanakan tugas serta bertanggungjawab terhadap tugas. • Meningkatkan pelatihan/kursus yang berhubungan dengan bidang tugasnya. 3) Upaya meningkatkan persentase jumlah kabupaten/kota memiliki peraturan daerah pelayanan satu atap • Mendorong pemerintah kabupaten yang belum memiliki organisasi pelayanan satu atap agar segera membentuk organisasi tersebut dan membuat perdanya. Beberapa daerah tersebut meliputi Sukamara, Seruyan, Barito Timur dan Murung Raya. • Bagi daerah yang telah memiliki institusi pelayanan satu atap, maka yang perlu dilakukan adalah meningkatkan kualitas pelayanan serta melakukan sosialisasi tentang standar layanan yang seharusnya diterima dan prosedur layanan yang dibakukan. Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   21  
  • 4) Upaya pemberdayaan perempuan melalui peningkatan GDI dan GEM • Memberikan kesempatan dan meningkatkan profesionalisme kaum perempuan dalam memimpin melalui pendidikan dan pelatihan • Kebijakan mendorong partisipasi perempuan dalam berpolitik sehingga jumlah kuota 30% keterwakilan perempuan dapat terpenuhi. • Memberikan kesempatan yag lebih luas bagi perempuan untuk menduduki jabatan-jabatan dipemerintahan di Kabupaten/kota sampai ke eselon II. • Memberikan kesempatan berusaha dan bekerja bagi perempuan yang setara dengan kaum laki-laki 5) Upaya meningkatkan partisipasi politik masyarakat dalam PEMILU, PILPRES dan PILKADA • Sosialisasi tentang tata cara melakukan pesta demokrasi terutama pentingnya hak pilih bagi masyarakat • Melakukan pendataan pemilih dengan baik terutama bagi pemilih pemula • Mengurangi kecenderungan masyarakat untuk tidak memilih (Golput) • Mengurangi jumlah parpol sehingga mengurangi kebingungan masyarakat dalam memilih • Sosialisasi tentang tata cara pencontrengan sampai ketingkat desa • Perlu pendidikan politik bagi generasi muda dan pemilih pemula Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   22  
  • 2.2. TINGKAT KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA Indikator hasil (outcome) untuk tingkat kualitas sumber daya manusia dapat diukur dari beberapa variable yaitu (1). Indeks pembangunan manusia (IPM); (2) Pendidikan; (3) Kesehatan dan (4). Keluarga berencana. 2.2.1. INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) Indeks Pembangunan Manusia (IPM) / Human Development Index (HDI) adalah pengukuran perbandingan dari angka harapan hidup , melek huruf, pendidikan dan standar hidup masyarakat Indonesia. HDI mengukur pencapaian rata-rata sebuah negara dalam 3 dimensi dasar pembangunan manusia: • Hidup yang sehat dan panjang umur yang diukur dengan harapan hidup saat kelahiran • Pengetahuan yang diukur dengan angka tingkat baca tulis pada orang dewasa (bobotnya dua per tiga) dan kombinasi pendidikan dasar , menengah , atas gross enrollment ratio (bobot satu per tiga). • Standard kehidupan yang layak diukur dengan GDP per kapita gross domestic product / produk domestik bruto dalam paritas kekuatan beli purchasing power parity dalam Dollar AS 75,00 74,00 73,00 72,00 71,00 70,00 69,00 68,00 67,00 66,00 65,00 2004 2005 2006 2007 2008 K alteng Nas ional Gambar 2.8. Grafik capaian indikator indeks pembangunan manusia (IPM) di Provinsi Kalimantan Tengah Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   23  
  • Indeks Pembangunan Manusia (IPM) merupakan indeks komposit yang digunakan untuk mengukur pencapaian rata-rata suatu daerah dalam tiga hal mendasar pembangunan manusia, yaitu: lama hidup, yang diukur dengan angka harapan hidup ketika lahir; pendidikan yang diukur berdasarkan rata-rata lama sekolah dan angka melek huruf penduduk usia 15 tahun ke atas; dan standar hidupyang diukur dengan pengeluaran per kapita yang telah disesuaikan menjadi paritas daya beli. Nilai indeks ini berkisar antara 0 -100. Indeks Pembangunan Manusia di Kalimantan Tengah mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada awal RPJM tahun 2004, IPM Kalimantan Tengah mencapai 71,7 lebih tinggi dari rata-rata IPM Indonesia yang tahun 2004 mencapai 68,7. Pada tahun 2008 IPM Kalimantan Tengah sudah menjadi mencapai 74,60 sedangkan IPM nasional baru berada pada tahap 70,59 Saat ini (tahun 2009) indeks pembangunan manusia di Kalimantan Tengah mencapai 74,90. IPM yang dibuat dengan mengacu data-data pembangunan manusia di Kalteng tahun 2009 itu menempatkan Kalimantan Tengah pada ranking ke 3 dari 33 provinsi di Indonesia. Pengukuran IPM mengacu pada tiga dimensi pembangunan manusia yakni kehidupan yang panjang dan sehat, kesempatan menikmati pendidikan dan hidup dengan standar yang layak (antara lain diukur dari daya beli dan pendapatan). Peningkatan IPM di Kalimantan Tengah terjadi karena investasi pemerintah dalam pembangunan kesehatan dan pendidikan cukup tinggi. Peningkatan nilai IPM ditunjang oleh kemampuan pemerintah dalam berinvestasi di bidang pedididikan dan kesehatan. Umur harapan hidup di Kalimantan Tengah tahun 2009 telah mencapai 71,00 sedangkan angka melek aksara penduduk berusia 15 tahun ke atas telah mencapai 98,15. Kedua faktor ini yang paling besar pengaruhnya terhadap peningkatan nilai IPM. Tingginya IPM didukung oleh umur harapan hidup (UHH) penduduk Kalimantan Tengah saat ini mencapai 71,00 tahun, lebih tinggi dibandingkan UHH nasional sekitar 70,5 tahun hingga 70,7 tahun. "Secara demografi, struktur umur penduduk Kalimantan Tengah bergerak ke arah struktur penduduk yang lebih banyak usia produktif (`produktif population). Dengan demikian yang perlu dilakukan adalah pembukaan kesempatan kerja dan kesempatan berusaha. Bertambahnya UHH penduduk tak terlepas dari keberhasilan pembangunan kesehatan yang dapat diukur dengan rendahnya angka kematian bayi (AKB) dan angka kematian ibu (AKI). Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   24  
  • 2.2.2. PENDIDIKAN Misi pendidikan Kalimantan Tengah adalah “Membangun dan Mengembangkan Budaya Pembelajaran Yang Mendidik Secara Merata dan Adil Pada Semua Jenis, Jalur dan Jenjang Pendidikan Untuk Menciptakan Masyarakat Yang Beriman, Bertakwa, Cerdas, Kreatif, dan Inovatif Serta Memiliki Daya Saing Yang Dapat Menjawab Kebutuhan Masyarakat”. Misi ini berhubungan langsung dengan upaya peningkatan kualitas manusia melalui pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu serta relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan. Peningkatan kualitas manusia merupakan salah satu cara untuk penanggulangan kemiskinan, peningkatan keadilan dan kesetaraan gender, pemahaman nilai-nilai budaya dan multikulturalisme, serta peningkatan keadilan sosial. Agar misi di atas dapat terwujud, maka arah pembangunan daerah yang yang menjadi sasaran pokok pembangunan adalah: 1. Mempercepat peningkatan kualitas dan aksessibilitas PAUD, Pendidikan Dasar dan Menengah 2. Mempercepat peningkatan kualitas Non Formal, budaya pembelajaran, Keperpustakaan dan Kearsipan 3. Terwujudnya kualitas dan kesejahteraan pendidik secara adil di Provinsi Kalimantan Tengah 4. Meningkatkan kualitas manajemen pelayanan dan mengembangkan teknologi dan informasi pendidikan 5. Terlembaganya keragaman budaya untuk peningkatan kualitas hidup bangsa yang memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa Sesuai dengan Inpres No.5 Tahun 2006 tentang Gerakan Nasional Percepatan Penuntasan Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun dan Pemberantasan Buta Aksara yang diharapkan tercapai pada tahun 2008/2009 maka berbagai komponen diharapkan berperan serta secara aktif dalam penuntasan Wajib Belajar 9 Tahun yang bermutu yang kemudian menjadi gerakan nasional. Diantara indikator penuntasan Wajib Belajar 9 tahun adalah APK mencapai minimal 95 %, angka mengulang maksimal 0,28 %, angka putus sekolah 1% dan angka kelulusan minimal 97 % dan diikuti dengan indikator peningkatan mutu yaitu rasio guru - siswa 1 : 16. Rasio rombongan belajar siswa 1 : 1, raiso laboratorium – rombongan Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   25  
  • belajar 1 : 9, guru yang layak minimal 80%, bangunan ruangan kelas yang rusak maksimal 1% serta mencapai standar pelayanan minimal 61%. Dalam evaluasi kinerja pembangunan daerah tahun 2009 maka Bappenas telah menetapkan beberapa indikator yang digunakan dalam menilai keberhasilan capaian bidang pendidikan antara lain: (1) Angka partisipasi murni SD/MI, (2) Rata-rata nilai akhir SMP/MTs dan SMA/SMK/MA, (3) Angka Putus sekolah SD, SMP/MTs, dan sekolah menengah, (4) Angka melek aksara 15 tahun ke atas dan (5) persentase jumlah guru yang layak mengajar untuk tingkat SMP/MTs dan sekolah menengah. 2.2.2.1. Angka Partisipasi Murni SD/MI Dalam upaya membangun SDM yang berkualitas, pemerintah mewajibkan semua warga Negara usia pendidikan dasar ( 7 – 15 tahun) tanpa memandang agama, status sosial, etnis dan gender untuk menempuh minimal pendidikan dasar. Program ini yang selanjutnya disebut Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun, merupakan bagian penting dari Renstra Depdiknas Tahun 2005 – 2009. Tujuan utama adalah menyediakan layanan pendidikan dasar yang bermutu bagi seluruh anak usia pendidikan dasar tanpa kecuali. Wajib Belajar 9 Tahun merupakan program yang sangat penting untuk menyediakan tenaga kerja yang berkualitas. Mengingat beratnya target hingga tahun 2008/2009 dan berbagai kendala yang dihadapi, penuntasan Wajib Belajar 9 Tahun harus merupakan program bersama antara pemerintah, swasta dan masyarakat. Upaya–upaya untuk menggerakkan semua komponen bangsa melalui kegiatan sosial perlu dilakukan untuk menyadarkan kalangan yang belum memahami pentingnya pendidikan dan menggalang partisipasi dari mereka serta mendorong pihak–pihak yang telah berperan agar lebih aktif memberikan kontribusinya kepada penuntasan Wajib Belajar Dikdas 9 Tahun. Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   26  
  • 94,00 92,00 90,00 88,00 86,00 84,00 82,00 80,00 2004 2005 2006 2007 2008 K alteng Nas ional Gambar 2.9. Grafik capaian indikator angka partisipasi murni SD/MI di Provinsi Kalimantan Tengah Pada awal sebelum dicanangkannya secara nasional program wajib belajar sembilan tahun angka partisipasi murni (APM) SD/MI di provinsi Kalimantan Tengah masih rendah (tahun 2004 sebesar 84,77 dan tahun 2005 sebesar 85,70). Namun sejak digulirkannya program Wajar maka angka partisipiasi murni (APM) meningkat terus dan tahun 2009 telah mencapai angka 95,80. Angka ini memang telah mencapai target nasional yaitu sebesar 95. Selain merupakan keberhasilan program wajib belajar, maka beberapa faktor yang menunjang keberhasilan peningkatan APM SD/MI adalah: - kebijakan pemerintah daerah yang menyediakan pendidikan gratis bagi masyarakat seperti di kabupaten Murung Raya - tersedianya beasiswa bagi anak usia sekolah seperti BOS terutama bagi anak dari keluarga yang kurang mampu - gencarnya sosialisasi melalui berbagai media, misalnya pengadaan kalender, brosur, pamplet yang didesain semenarik mungkin guna dibagikan kepada siswa-siswi, orang tua dan masyarakat agar bisa membuka wawasan dan memotivasi masyarakat, bahwa pendidikan penting bagi masa depan anak-anak mereka serta sudah bebas biaya. - Adanya usaha pemerintah dalam membangun Unit Sekolah Baru (USB) dan penambahan Ruang Kelas Baru (RKB). - Pengadaan asrama berikut pengelola serta biaya hidup (khususnya bagi yang tidak mampu) yang diperuntukkan bagi anak-anak sekolah. - tersedianya sarana transportasi yang memadai menuju sekolah sehingga siswa terpacu untuk bersekolah Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   27  
  • 2.2.2.2. Rata-rata nilai akhir Upaya untuk meningkatkan nilai akhir baik untuk tingkat SMP/MTs, maupun untu tingkat SMA/MA terus menerus diupayakan oleh Dinas Pendidikan Provinsi dan Kabupaten/Kota di Kalimantan Tengah. Saat ini Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) dalam menyelenggarakan Ujian Nasional tahun 2007 untuk tingkat SMP, MTs, SMPLB, SMA, MA dan SMK dibantu pengawasannya oleh Perguruan Tinggi. Walaupun demikian terdapat tren bahwa rata-rata nilai akhir siswa cenderung meningkat. Pada tahun 2004 angka nilai akhir SMP/MTs di Kalimantan Tengah mencapai 4,11 sedangkan untuk SMA/MA mencapai 4,76. Angka itu terus meningkat hingga tahun 2009 menjadi 6,50 untuk SMP/MTs dan 6,45 untuk SMA/MA. 7,00 6,00 5,00 4,00 3,00 2,00 1,00 0,00 2004 2005 2006 2007 2008 K alteng Nas ional   Gambar 2.10. Grafik capaian indikator rata-rata nilai akhir siswa SMA/MA di Provinsi Kalimantan Tengah Nilai akhir yang diperoleh tersebut lebih tinggi dari standar nasional kelulusan untuk SMP/MTs dan SMA/MA yaitu 5,50. Tingginya nilai akhir siswa yang diperoleh dan tingkat kelulusan yang tinggi kemungkinan disebabkan oleh: - adanya tryout yang dilaksanakan oleh pihak Dinas Pendidikan sehingga siswa mengerti cara menjawab dan mengisi lembar jawaban (tryout biasanya dilakukan 2 sampai 3 kali) - Membaiknya proses belajar mengajar disekolah ditandai dengan kualifikasi guru yang layak mengajar sudah cukup tinggi. - Diadakannya tambahan pelajaran berupa pengayaan pelajaran di sekolah - Adanya latihan-latihan soal yang keluar tahun sebelumnya Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   28  
  • - Tersedianya sarana dan prasarana penunjang seperti laboratorium multimedia, ruang komputer, laboratorium bahasa, laboratorium kimia/biologi dll. - Tersedianya perpustakaan sekolah dan akses internet di beberapa sekolah sehingga memudahkan siswa mencari materi pelajaran - Adanya motivasi yang tinggi dari orang tua dan murid meningkatkan pengetahuan melalui bimbingan belajar yang diadakan oleh swasta 2.2.2.3. Angka Putus Sekolah Angka putus sekolah di Kalimantan Tengah untuk tahun 2008 pada berbagai tingkat pendidikan mulai dari SD/MI, SMP/MTs dan Sekolah menengah menunjukkan angka yang lebih rendah dibanding dengan rerata nasional dengan nilai masing-masing secara berturut-turut 0,76; 0,90 dan 0,35 sedangkan angka nasional pada tahun yang sama berturut-turut adalah 1,81; 3,94 dan 2,68. Rendahnya angka putus sekolah tersebut mengindikasikan bahwa tingkat kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan semakin lebih baik. 9,00 8,00 7,00 6,00 5,00 4,00 3,00 2,00 1,00 0,00 2004 2005 2006 2007 2008 K alteng Nas ional Gambar 2.11. Grafik capaian indikator angka putus sekolah siswa SMP/MTs di Provinsi Kalimantan Tengah Dari hasil pendataan dan pemetaan (survei) yang pernah di lakukan oleh Tim Universitas Palangka Raya pada saat kegiatan wajib belajar tahun 2007 di setiap desa dan kelurahan di Kecamatan Katingan Kuala didapat 429 anak usia 7-12 tahun dan 591 anak usia 13-15 tahun yang tidak sekolah dan putus sekolah. Beberapa alasan utama anak usia 7-12 tahun (tingkat SD/MI) tidak bersekolah dan putus sekolah antara lain dikarenakan alasan ekonomi keluarga yang tidak Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   29  
  • mendukung (39,53%), kesulitan transportasi dan jarak sekolah jauh (16,28%), kurangnya minat anak untuk sekolah(13,95%), memiliki cacat fisik seperti lumpuh, tuna rungu, dan cacat mental (13,95%), daya pikir (IQ) anak lemah (6,98%), tempat tinggal tidak tetap (4,65%), sekolah rusak dan daya tampung kurang (4,65%). Sedangkan untuk anak usia 13-15 tahun (usia SMP/MTs) yang tidak bersekolah dan putus sekolah dikarenakan ekonomi keluarga yang tidak mendukung (42,31%), kesulitan transportasi dan jarak sekolah jauh (19,23%), kurangnya minat anak untuk melanjutkan sekolah (15,38%), memiliki cacat fisik seperti lumpuh, tuna rungu, dan cacat mental/kelainan jiwa (7,69%), daya pikir (IQ) anak lemah (5,77%), sudah menikah (3,85%), yatim piatu (3,85%), dan daya tampung sekolah kurang (1,92%).   Ekonomi  Sekolah rusak & daya  42,31% Kesulitan  tampung kurang  transportasi& jarak  sekolah jauh    1,92% 19 23% Sudah menikah Alasan anak usia 13-15 thn tidak bersekolah di  SMP/MTs 4,65%  Yatim Piatu    Daya pikir anak  Cacat (lumpuh,  tunarungu, mental) lemah 5,77% Tidak berminat  7,69% sekolah 15,38%   Gambar 2.12. Diagram Alasan Anak Usia 13-15 Tahun Tidak bersekolah di SMP/MTs Rendahnya angka putus sekolah di Kalimantan Tengah saat ini kemungkinan disebabkan oleh: a. Adanya keberhasilan bantuan pemerintah berupa dana BOS yang telah tepat sasaran dan tepat guna sehingga membebaskan anak yang tidak mampu dari biaya sekolah, penyediaan seragam, alat tulis menulis. b. Adanya perbaikan jalan sehingga masalah transportasi dan jarak sekolah yang jauh tidak mengalami kendala lagi. c. Gencarnya sosialisasi tentang pentingnya pendidikan dasar wajib belajar 9 tahun. d. Dikembangkannya pendidikan non formal melalui Kejar Paket A (untuk SD), Kejar Paket B (untuk SMP), dan Kejar Paket C (untuk SMA). Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   30  
  • 2.2.2.4. Angka Melek Aksara 15 Tahun Keatas Kemampuan membaca dan menulis masyarakat Kalimantan Tengah tercolong cukup tinggi. Minat bersekolah penduduk Kalimantan Tengah memang tergolong tinggi. Selain bertani, hal yang paling disenangi dan ditekuni oleh masyarakat Kalimantan Tengah adalah menuntut ilmu. Sejak Provinsi ini berdiri tahun 1957, sekolah-sekolah dibuka dan masyarakat berbondong-bondong menuntut ilmu, sehingga hasilnya terlihat hingga saat ini dimana pada awal RPMD 2004, angka melek aksara di Kalimantan Tengah tinggi yaitu mencapai 96,20. Angka tersebut terus meningkat dari tahun ke tahun dan pada tahun 2009 angka melek aksara telah mencapai 98,15 artinya dari seratus orang penduduk hanya 1 sampai 2 orang saja yang tidak bisa baca tulis. 98,00 96,00 94,00 92,00 90,00 88,00 86,00 2004 2005 2006 2007 2008 K alteng Nas ional Gambar 2.13. Grafik capaian indikator angka melek aksara usia 15 tahun ke atas di Provinsi Kalimantan Tengah Tingginya angka melek aksara usia 15 tahun keatas di Kalimantan Tengah saat ini kemungkinan disebabkan oleh: a. Berhasilnya program wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun di Provinsi Kalimantan Tengah b. Dibukanya kesempatan menempuh pendidikan bagi anak yang putus sekolah melalui program Kejar Paket baik kejar paket A, B maupun C. c. Keberhasilan dari program pengentasan Buta Aksara yang dilaksanakan oleh Dinas Pendidikan Provinsi/Kabupaten/kota/. d. Adanya motivasi mengikuti pendidikan mengingat ijasah merupakan prasarat mutlak untuk terjun ke dunia kerja (PNS, Swasta maupun anggota dewan). Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   31  
  • 2.2.2.5. Persentase Jumlah Guru Yang Layak Mengajar Persentase jumlah guru yang layak mengajar di Kalimantan Tengah untuk tingkat SMP/MTs juga sudah juga relatif tinggi (96,85%) dibanding angka nasional (86,26%), namun untuk tingkat sekolah menengah persentase jumlah guru yang layak mengajar masih lebih rendah (81,56%) dibanding angka nasional (84,05%). Layak tidaknya seorang guru dalam mengajar sebenarnya diukur dari tingkat pendidikan. Berdasarkan undang-undang guru dan dosen nomor 14 tahun 2005 guru harus meningkatkan kualifikasi akademik minimal S-1 atau D-4. Di dalam undang-undang guru dan dosen serta dalam permendiknas nomor 16 tahun 2007 tentang standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru, seorang pendidik harus memiliki 4 kompetensi profesi yaitu: kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi profesional Dengan demikian perlu kiranya seorang guru membekali peserta didik secara maksimal termasuk didalamnya keterampilan (life skill). Proses kegiatan belajar mengajar adalah hal yang sangat penting untuk selalu dikembangkan dalam berbagai metode mengajar sehingga situasi kelas menjadi kondusif dan menyenangkan bagi siswa, untuk mengembangkan diri, berkreasi dan aktif untuk meraih ilmu yang dipelajari. Dalam era otonomi daerah dan iklim desentralisasi sekarang ini guru berada di bawah pemerintah daerah (Pemda) sehingga dalam peningkatan kualifikasi guru, pemerintah daerah memiliki peran penting dengan memberikan beasiswa kepada guru yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang S-1 atau D-4 maupun ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi bagi sekolah berstandar internasional (RSBI). 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 2004 2005 2006 2007 2008 K alteng Nas ional Gambar 2.14. Grafik capaian indikator persentase jumlah guru yang layak mengajar untuk tingkat sekolah menengah di Provinsi Kalimantan Tengah Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   32  
  • Oleh karena itu setiap guru harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut: - dalam menyusun dan menyampaikan materi pelajaran kepada siswa ada beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan diantaranya adalah: siswa, ruang kelas, metode belajar atau strategi belajar, dan materi itu sendiri. - guru harus mengembangkan metode mengajar yang sesuai dengan materi pelajaran yang akan diajarkan - menyajikan materi pelajaran secara sistematis - menciptakan suasana interaksi belajar mengajar yang hidup - memotivasi siswa untuk berpartisipasi dalam proses belajar mengajar - guru harus menguasai berbagai macam media, metode dan evaluasi. Keberadaan guru yang layak mengajar untuk tingkat SMA/MA memang masih perlu ditingkatkan. Disamping itu penguasaan teknologi pembelajaran masih perlu diperbaiki. Kurikulum muatan lokal untuk tingkat SMP dan SMA di Kalimantan Tengah masih belum ada. Kurikulum muatan lokal untuk SD yang ada saat ini pun masih belum mengikuti standar kompetensi seperti yang menjadi tuntutan saat ini, sehingga perlu penyempurnaan. Kemampuan guru dalam menguasai teknologi pembelajaran juga sangat minim. Kemahiran menggunakan komputer, LCD dan laboratorium penunjang seperti laboratorium bahasa dan laboratorium komputer juga masih rendah. Pengembangan pendidikan dalam pola RSBI juga dirasakan masih mengalami kendala mengingat banyak para guru yang masih belum fasih menggunakan bahasa inggris. Faktor lain yang dirasakan juga cukup menhambat adalah terbatasnya supali listrik baik untuk penerangan maupun untuk energi teknologi seperti komputer dan alat elektronik lainnya. Seorang guru sering merasa terkendala dalam membuat makalah, tugas-tugas, bahan mengajar mengajar karena ketiadaan sumber listrik. Lebih-lebih saat ini listrik hidup secara bergiliran. Dua kali dalam seminggu terjadi pemadaman listrik di Kalimantan Tengah. Akibatnya sering terjadi kerusakan alat-alat elektronik. 2.2.3. KESEHATAN Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah dalam perencanaan pembangunan jangka menengah tahun 2006 – 2010 untuk bidang kesehatan mempunyai target meningkatkan derajat kesehatan masyarakatnya adalah sebagai berikut; Umur Harapan Hidup (Eo) sebesar 72 tahun lebih tinggi dari Nasional sebesar 70,6 tahun dan Angka Kematian Bayi sebesar 25 per 1000 sedangkan Nasional sebesar 26 per 1000, Angka Kematian Ibu Melahirkan sama dengan tingkat Nasional sebesar 226 per 1000 kelahiran Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   33  
  • hidup serta Prevalensi gizi kurang pada anak balita sebesar 15 persen sedangkan nasional sebesar 20 persen. Untuk mempercepat peningkatan derajat kesehatan masyarakat secara berkelanjutan, arah pembangunan daerah bidang kesehatan yang akan diwujudkan adalah sebagai berikut: 1. Terwujudnya Peningkatan Kualitas dan Kuantitas Tenaga Kesehatan 2. Terwujudnya Peningkatan Sosialisasi Kesehatan Lingkungan dan Pola Hidup Sehat 3. Terwujudnya Peningkatan Pendidikan Kesehatan Kepada Masyarakat Sejak Usia Dini 4. Terwujudnya Penataan Kebijakan dan Manajemen Pembangunan Kesehatan dan Pengembangan Sistem Jaminan Kesehatan Terutama Bagi Penduduk Miskin 5. Terwujudnya Peningkatan Pengawasan Obat dan Makanan serta Ketersediaan Obat 6. Terwujudnya Peningkatan Upaya Kesehatan Masyarakat dan Peningkatan Jumlah, Jaringan dan Kualitas Puskesmas hingga Ke Daerah Terpencil 7. Terwujudnya Peningkatan Upaya Kesehatan Perorangan Pelaksanaan bidang kesehatan yang meliputi beberapa instansi terkait bersepakat akan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Provinsi kalimantan tengah yang telah mempunyai Misi ‘Mewujudkan Masyarakat Berparadigma Sehat Untuk Mempercepat Peningkatan Derajat Kesehatan Masyarakat Secara Berkelanjutan’. Hal ini dapat terlihat dari arah pembangunan daerah yang akan dilaksanakan selama kurun waktu lima (5) tahun, peningkatan kualitas dan kuantitas tenaga kesehatan yang hingga sekarang belum merata diseluruh penjuru Kalimantan Tengah masih banyak terpusat di kota-kota besar sedangkan daerah-daerah yang baru terbentuk masih dirasa sangat minim. Dari kacamata Pemerintah maka Provinsi Kalimantan Tengah akan menyelenggarakan penataan kebijakan dan manajemen pembangunan kesehatan dan pengembangan sistem jaminan kesehatan terutama bagi penduduk miskin agar seluruh lapisan masyarakat dapat merasakan pelayanan kesehatan tanpa membedakan status baik dari segi gender maupun dari segi ekonomi. Peningkatan upaya kesehatan masyarakat dan peningkatan jumlah, jaringan dan kualitas puskesmas hingga kedaerah terpencil merupakan langkah selanjutnya yang akan dilaksanakan karena tesebarnya penduduk terutama penduduk yang miskin didaerah-daerah terpencil. Peningkatan upaya kesehatan perorangan yang banyak dilaksanakan di rumah sakit dan puskesmas yang merupakan sarana kesehatan yang langsung menyentuh Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   34  
  • masyarakat dengan itu pola penerapannyapun harus lebih mengarah pada peningkatan pelayanan publik, begitu juga dengan pengawasan terhadap obat-obatan dan makanan yang akan beredar di masyarakat seyogyanya mendapat perhatian penuh dari pemerintah. 2.2.3.1. Umur Harapan Hidup (UHH) Keberhasilan program kesehatan dan program pembangunan sosial ekonomi pada umumnya dapat dilihat dari peningkatan usia harapan hidup penduduk dari suatu daerah. Meningkatnya perawatan kesehatan melalui Puskesmas, meningkatnya daya beli masyarakat akan meningkatkan akses terhadap pelayanan kesehatan, mampu memenuhi kebutuhan gizi dan kalori, mampu mempunyai pendidikan yang lebih baik sehingga memperoleh pekerjaan dengan penghasilan yang memadai, yang pada gilirannya akan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan memperpanjang usia harapan hidupnya.  Dalam bidang pembangunan kesehatan, umur harapan hidup masyarakat Kalimantan Tengah meningkat dari 69,8 pada tahun 2004 menjadi 71,00 pada tahun 2009. Hal ini secara relatif lebih baik dibanding angka nasional yang pada tahun 2009 mencapai angka 70,7. Arti dari angka tersebut adalah bahwa bayi-bayi Kalimantan Tengah yang dilahirkan menjelang tahun 2009 akan dapat hidup sampai 71 tahun. Tetapi bayi-bayi yang dilahirkan menjelang tahun 2004 mempunyai usia harapan hidup lebih pendek yakni 69,8 tahun. Peningkatan Angka Harapan Hidup ini menunjukkan adanya peningkatan kehidupan dan kesejahteraan masyarakat Kalimantan Tengah selama kurun waktu lima tahun terkahir dari tahun 2004 sampai tahun 2009. 71,00 70,50 70,00 69,50 69,00 68,50 68,00 67,50 67,00 2004 2005 2006 2007 2008 K alteng Nas ional   Gambar 2.15. Grafik capaian indikator umur harapan hidup (UHH) di Provinsi Kalimantan Tengah Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   35  
  • Meningkatnya umur harapan hidup (UHH) akan menambah jumlah lanjut usia (lansia) yang akan berdampak pada pergeseran pola penyakit di kalangan masyarakat dari penyakit infeksi ke penyakit degeneratif. Bertambahnya UHH penduduk tak terlepas dari keberhasilan pembangunan kesehatan yang dapat diukur dengan penurunan angka kesakitan, angka kematian umum, dan angka kematian bayi. Peningkatan umur harapan hidup terkait dengan arah kebijakan pembangunan kesehatan yang memprioritaskan upaya promotif dan preventif yang dipadukan secara seimbang dengan upaya kuratif dan rehabilitatif. Perhatian khusus diberikan kepada pelayanan kesehatan bagi penduduk miskin, daerah tertinggal, dan daerah bencana dengan memperhatikan kesetaraan gender. Beberapa kebijakan yang telah diambil dalam peningkatan kualitas kesehatan masyarakat adalah: 1) peningkatan jumlah, jaringan, dan kualitas Puskesmas; 2) peningkatan kualitas dan kuantitas tenaga kesehatan; 3) pengembangan sistem jaminan kesehatan masyarakat (jamkesmas), terutama bagi penduduk miskin; 4) peningkatan sosialisasi kesehatan lingkungan dan pola hidup sehat; 5) peningkatan pendidikan kesehatan pada masyarakat sejak usia dini; dan 6) pemerataan dan peningkatan kualitas fasilitas kesehatan dasar. 2.2.3.2. Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka Kematian Ibu (AKI) Berdasarkan informasi yang didapat dari Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah disepakati bahwa nilai yang tertera dalam matriks merupakan jumlah kematian bayi dan ibu dalam arti kata bukan angka kematian bayi dan ibu sehingga data tersebut perlu diolah kembali. Namun berdasarkan informasi yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah angka kematian bayi dan angka kematian ibu di provinsi Kalimantan Tengah tergolong sangat rendah. Hal yang cukup menggembirakan adalah hingga tahun 2008 angka kematian bayi dan angka kematian ibu sudah relatif lebih rendah dibanding angka nasional. Namun yang perlu diperbaiki adalah perhitungan angka kematian bayi dan ibu masih belum diolah kedalam rumus angka kematian, sehingga masih merupakan data mentah (jumlah kematian saja). Ada banyak faktor yang mempengaruhi tingkat AKB dan kematian ibu maternal tetapi tidak mudah untuk menemukan faktor yang paling dominan. Tersedianya berbagai fasilitas atau faktor aksesibilitas dan pelayanan kesehatan dari tenaga medis yang terampil serta kesediaan masyarakat untuk merubah kehidupan tradisional ke norma kehidupan modern dalam bidang kesehatan merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap tingkat AKB dan AKI. Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   36  
  • 300 250 200 150 100 50 0 2004 2005 2006 2007 2008 K alteng Gambar 2.16. Grafik capaian indikator angka kematian bayi (AKB) di Provinsi Kalimantan Tengah Dalam rangka meningkatkan cakupan pelayanan kepada masyarakat berbagai upaya telah dilakukan dengan memanfaatkan potensi dan sumber daya yang ada di masyarakat. Upaya kesehatan yang bersumber dari masyarakat (UKBM) diantaranya adalah Posyandu, Polindes dan Pos Obat Desa. Posyandu merupakan salah satu bentuk UKBM yang menyelenggarakan minimal 5 program prioritas yaitu kesehatan ibu dan anak, keluarga berencana, perbaikan gizi, imunisasi dan penanggulangan diare. Untuk memantau perkembangannya posyandu dikelompokkan menjadi 4 strata yaitu strara pratama, madya, purnama dan mandiri. Pada tahun 2006 jumlah posyandu di Kalimantan Tengah mencapai 2.146 buah. Dari jumlah tersebut, berdasarkan tingkatannya maka sebanyak 1.529 buah (71,25%) tergolong ke dalam posyandu pratama, 410 buah (19,11%) tergolong posyandu madya, 181 buah (8,43%) tergolong posyandu purnama dan hanya 26 buah (1,21%) yang tergolong posyandu mandiri. Polindes merupakan salah satu bentuk peran serta masyarakat dalam rangka mendekatkan pelayanan kebidanan melalui penyediaan tempat pertolongan persalinan dan pelayanan kesehatan ibu dan anak termasuk keluarga berencana. Pada tahun 2006 jumlah polindes yang ada di Propinsi Kalimantan Tengah sebanyak 614 buah. 2.2.3.3. Prevalensi Gizi Buruk dan Gizi Kurang Status gizi Balita merupakan salah satu indikator yang menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat. Pemantauan Status gizi (PSG) Balita di Provinsi Kalimantan Tengah tahun 2006 dilaksanakan di 14 kabupaten / kota dengan jumlah Balita yang Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   37  
  • diukur sebanyak 53.353 orang. Berdasarkan hasil pemantauan tersebut, gizi buruk di Provinsi Kalimantan Tengah berdasarkan Berat Badan menurut umur sebanyak 748 kasus (1,40 %), sedangkan gizi kurang berdasarkan indeks yang sama sebanyak 4.826 kasus (10,45 %). Namun berdasarkan hasil pelacakan gizi buruk yang dilakukan pada tahun 2006 dengan menggunakan indeks BB/TB yang disertai dengan tanda klinis berupa marasmus, kwasiokor, marasmic kwasiokor terdapat 156 kasus gizi buruk dengan 10 kasus yang meninggal. Jika dibandingkan hasil pelacakan gizi buruk antara tahun 2005 dengan 2006, terjadi peningkatan jumlah kasus sebanyak 95 kasus dan 8 yang meninggal. Ada sedikit perubahan perkembangan gizi buruk dari tahun 2004 sampai 2006. Kasus gizi buruk berdasarkan indeks berat badan menurut umur mengalami peningkatan pada tahun 2005 (1,7 %) dibandingkan tahun 2004 yang mencapai 0,99%. Peningkatan kasus gizi buruk tersebut terulang lagi di tahun 2007 yaitu mencapai 1.9%. Angka ini merupakan angka tertinggi dalam kurun waktu 5 tahun terakhir. Pada tahun 2009, prevalensi gizi buruk di Kalimantan Tengah menurun menjadi 1,33%. Kriteria yang dinamakan gizi buruk bila ditemukan anak sangat kurus yang secara antropometri (pengukuran BB dab TB anak) nilai z-scorenya berada ada -3 SD (WHO 1998) 2,00 1,80 1,60 1,40 1,20 1,00 0,80 0,60 0,40 0,20 0,00 2004 2005 2006 2007 2008 2009   Gambar 2.17. Grafik Capaian indikator prevalensi gizi buruk di Provinsi Kalimantan Tengah Terkait dengan angka prevalensi gizi kurang, maka prevalensi gizi kurang di Kalimantan Tengah cenderung menurun dibanding tahun 2004. Pada tahun 2004 angka prevalensi gizi kurang mencapai 15,37 sedangkan pada tahun 2009 mulai menurun menjadi 12,9% yang nilainya lebih rendah dari nilai rerata nasional. Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   38  
  • Gizi buruk sudah sangat mengancam anak-anak, selama krisis ekonomi dan sosial melanda Indonesia sekarang anak-anak Indonesia terancam kekurangan gizi setelah sebelumnya busung lapar karena kekurangan kalori dan busung lapar karena kekurangan protein jarang ditemukan, sekarang anak dengan gangguan gizi semakain banyak ditemukan. Saat ini sering ditemukan anak-anak yang menderita kekurangan gizi mikro yaitu zat besi, yodium dan vitamin A yang menyebbkan kekeringan selaput ikat mata karena kekurangan vitamin A. Fakta di lapangan menyatakan anak yang kemudian menderita gizi buruk sebenarnya kebanyakan dilahirkan dengan berat badan normal. Tidak sama dengan perkiraan sebagian besar orang bahwa balita gizi buruk kebanyakan dilahirkan dengan berat badan lahir rendah. Selain itu penderita gizi buruk pada umumnya bukan pengunjung tetap posyandu. Ketidakhadiran di posyandu karena adanya hambatan sosial. Misalnya perasaan risih ke posyandu, kedua orang tuanya sibuk bekerja untuk mencari nafkah dll. Selama ini pemantauan pertumbuhan terhadap balita dilakukan di posyandu. Karena nya diperlukan upaya untuk meningkatkan kunjungan ke posyandu. Dengan demikian diperlukan berbagai cara untuk menghidupkan kembali kegiatan posyandu, terutama di perkotaan sehingga masyarakat kelas menengah atas mau berkunjung ke posyandu. Dtlain pihak, diperlukan usaha bersama antara pemda dan masyarakat untuk menemukan semua kasus gizi buruk. Yang terpenting ialah dengan menggunakan kriteria yang sama apa yang disebut gizi buruk. Sarana yang digunakan untuk mendeteksi kasus gizi buruk bisa melalui perkumpulan-perkumpulan seperti pengajian, arisan, pelayanan kesehatan, posyandu dan kunjungan rumah. Peran pelayanan kesehatan (rumah sakit, Puskesmas) jadi lebih nyata. Dibeberapa daerah terdapat TFC (Therapeutic Feeding Center) dan CTC (Community – based Therapeutic Center). TFC bertugas menangani secara medis klinis menangani kasus gizi buruk dengan 10 langkah penanganan kasus gizi buruk di unit pelayanan kesehatan. Sedangkan di CTC dilakukan penyembuhan kasus gizi kurang, biasanya setelah pulang dari TFC. Beberapa yang menjadi kegiatan di CTC antara lain: - pemberian makanan tambahan untuk kasus gizi kurang - penyuluhan membuat makanan lokal yang padat gizi - pemberian suplemen seperti vitamin A, Fe dll - Pemberian nutrisi lain dan stimulasi tumbuh kembang anak. Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   39  
  • 2.2.3.4. Persentase Tenaga Kesehatan per Penduduk Pada awal pelaksanaan RPJMD tahun 2004, persentase tenaga kesehatan per penduduk di Kalimantan Tengah cukup tinggi dibanding dengan angka nasional. Jumlah tenaga kesehatan tersebut terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, namun mulai tahun 2005 hingga tahun 2009, jumlah tenaga kesehatan di Kalimantan Tengah lebih rendah dibandingkan dengan angka nasional Selama kurun waktu 5 tahun yaitu periode tahun 2004-2009 telah dilaksanakan berbagai kegiatan untuk meningkatkan sumber daya manusia (SDM) di bidang kesehatan. Upaya ini dilakukan dalam rangka memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan, terutama di daerah terpencil dan tertinggal. Selain itu, dalam rangka peningkatan kemampuan tenaga kesehatan yang telah ada, telah dilakukan berbagai pelatihan tenaga kesehatan, mencakup: bidan, perawat, tenaga penyuluh, untuk meningkatkan kualitas dan kemampuan diri. Peningkatan kemampuan tenaga kesehatan juga dilakukan melalui pelaksanaan riset pembinaan tenaga kesehatan. 0,30 0,25 0,20 0,15 0,10 0,05 0,00 2004 2005 2006 2007 2008 K alteng Nas ional   Gambar 2.18. Grafik capaian indikator persentase tenaga kesehatan per penduduk di Provinsi Kalimantan Tengah Jumlah tenaga kesehatan di provinsi Kalimantan Tengah terus meningkat terutama yang berklasifikasi dokter umum, sedangkan dokter spesialis masih terbatas jumlahnya. Berdasarkan data BPS 2008, jumlah dokter spesialis sebanyak 42 orang terdiri dari 4 bidang spesialisasi yaitu kebidanan (ginekologi), bedah, anak dan internis. Jumlah dokter ahli tersebut masih belum mampu menyebar pada seluruh kabupaten yang ada; artinya masih ada kabupaten yang tidak memiliki dokter spesialis terutama Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   40  
  • kabupaten pemekaran seperti Gunung Mas, Barito Timur, Katingan, Murung Raya, Pulang Pisau, Lamandau dan Sukamara. Jumlah dokter umum dan dokter gigi meningkat dari 331 orang tahun 2005 menjadi 435 orang tahun 2007. Begitu pula, jumlah bidan meningkat dari 1.288 menjadi 1.460 orang. Tenaga pengatur rawat juga mengalami peningkatan dari 2.080 orang menjadi 2.957 orang hingga tahun 2007. Selain itu, dalam rangka pemberdayaan tenaga kesehatan, telah dilaksanakan kebijakan pendayagunaan tenaga kesehatan da;am bentuk Pegawai TidakTetap (PTT), utamanya untuk daerah terpencill. Upaya ini didukung pula dengan kebijakan penyesuaian waktu penugasan dokter umum PTT dengan kriteria daerah terpencil atau kabupaten pemekaran baru. Di samping itu, untuk menarik minat bagi tenaga dokter spesialis yang ditugaskan di daerah kabupaten pemekaran, pemerintah telah mengeluarkan kebijakan pemberian insentif penghasilan. Secara umum, meskipun jumlah tenaga kesehatan dari tahun ke tahun terus meningkat, namun masih terjadi kesenjangan antardaerah. Sebagian besar dokter spesialis, dokter umum, dokter gigi, dan bidan berada di wilayah kabupaten induk sedangkan daerah kabupaten pemekaran baru, umumnya masih kekurangan tenaga ke- sehatan. Untuk itu, perlu diupayakan distribusi tenaga kesehatan yang lebih merata yang diimbangi dengan pemberian insentif yang memadai. Hal ini dimaksudkan agar ketersediaan tenaga kesehatan, khususnya di daerah pemekaran baru menjadi lebih memadai. 2.2.4. KELUARGA BERENCANA Pembangunan kependudukan diarahkan untuk memperkecil angka kelahiran dengan jalan membatasi jumlah anak pada masing-masing keluarga. Program ini lebih mengena pada pegawai negeri karena mendapat sangsi, sedangkan pada masyarakat umum, program ini gregetnya masih kurang. Dalam mendukung keberhasilan program KB nasional di Provinsi Kalimantan Tengah maka diharapkan adanya dukungan sarana prasarana yang memadai baik itu alat dan obat kontrasepsi (Alkon) maupun sarana penunjang lainnya seperti bahan KIE dan sarana kerja. Penyediaan alat kontrasepsi selama ini disamping pengadaan melalui APBN Provinsi, juga mendapat droping dari BKKBN Pusat, dan ada beberapa Kabupaten yang menganggarkan melalui APBD II. Penyediaan alat dan obat kontrasepsi KB dengan berbagai jenis seperti IUD, Implan, Suntikan, Pil, Kondom tersedia ditempat pelayanan Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   41  
  • jalur pemerintah (Puskesmas Pembantu, Puskesmas, Klinik KB) dan institusi Masyarakat seperti PPKBD dan Sub PPKBD. Alat dan obat kontrasepsi yang disediakan oleh pemerintah hanya diperuntukkan bagi keluarga miskin (keluarga Pra Sejahtera dan Keluarga Sejahtera I), sedang bagi yang mampu diarahkan kepada KB Mandiri (Jalur Swasta). Permasalahan yang dihadapi dalam kegiatan keluarga berencana meliputi: a) Terbatasnya dan menurunnya kemampuan pemerintah dan masyarakat untuk memenuhi pelayanan KB yang mandiri, dibanding dengan meningkatnya jumlah keluarga Pra Sejahtera dan Keluarga Sejahtera I yang memerlukan penyelamatan dan pemulihan. b) Belum terwujudnya jaring pengaman sosial yang terpadu efektif untuk men-jangkau keluarga Pra Sejahtera dan Keluarga Pra Sejahtera I yang menjadi peserta KB istirahat. c) Masih terbatasnya pemberdayaan keluarga Pra Sejahtera dan Keluarga Pra Sejahtera I yang akan berpengaruh terhadap upaya mewujudkan keluarga kecil bahagia dan sejahtera yang berketahanan dengan bercirikan kualitas dan kemandirian keluarga. d) Masih terbatasnya kemampuan pengelola dan pelaksana program di bandingkan dengan tuntutan pelayanan KB yang berkualitas terutama didaerah Kabupaten pemekaran berkenaan dengan tenaga yang sangat terbatas. e) Berkurangnya jumlah tenaga lapangan KB merupakan dampak dari penyerahan kelembagaan. f) Terbatasnya anggaran untuk pendanaan biaya operasional dalam pengelolaan program KB dilapangan maupun kegiatan operasional kegiatan program setelah desentralisasi. g) Masih adanya persepsi sebagian masyarakat yang menganggap program KB kurang perlu di Kalimantan Tengah mengingat luasnya wilayah Kalimantan Tengah. h) Banyaknya minat peserta pengguna kontrasepsi mantap (kontap) yaitu vasektomi dan tubektomi (operasi pria/wanita) namun keterbatasan dana yang tersedia yang tidak sesuai dengan tarif Perda maka tidak dapat dilayani. 2.2.4.1. Prevalensi Penduduk ber KB Persentase penduduk ber KB di Kalimantan Tengah relatif lebih tinggi dibanding dengan angka nasional. Pada tahun 2008, persentase penduduk ber KB telah mencapai 74,76% sedangkan angka nasional baru menunjukkan angka 53,19%. Namun kalau Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   42  
  • dilihat dari persentase laju pertumbuhan penduduk maka Kalimantan Tengah memiliki laju pertumbuhan penduduk yang relatif lebih tinggi dibanding angka nasional. Kondisi tersebut seolah-olah kontradiktif namun apabila lebih dicermati bahwa laju pertumbuhan penduduk di Kalimantan Tengah lebih banyak disebabkan oleh adanya migrasi penduduk dari wilayah lain di Indonesia sebagai akibat pembukaan akses ekonomi baru seperti pembukaan perkebunan, tambang dan lain sebagainya. Pembangunan kependudukan diarahkan untuk memperkecil angka kelahiran dengan jalan membatasi jumlah anak pada masing-masing keluarga. Program ini lebih mengena pada pegawai negeri karena mendapat sangsi, sedangkan pada masyarakat umum, program ini gregetnya masih kurang. Dalam mendukung keberhasilan program KB nasional di Provinsi Kalimantan Tengah maka diharapkan adanya dukungan sarana prasarana yang memadai baik itu alat dan obat kontrasepsi (Alkon) maupun sarana penunjang lainnya seperti bahan KIE dan sarana kerja. 90,00 80,00 70,00 60,00 50,00 40,00 30,00 20,00 10,00 0,00 2004 2005 2006 2007 2008 K alteng Nas ional Gambar 2.19. Grafik capaian indikator persentase tenaga kesehatan per penduduk di Provinsi Kalimantan Tengah Penyediaan alat kontrasepsi selama ini disamping pengadaan melalui APBN Provinsi, juga mendapat droping dari BKKBN Pusat, dan ada beberapa Kabupaten yang menganggarkan melalui APBD II. Penyediaan alat dan obat kontrasepsi KB dengan berbagai jenis seperti IUD, Implan, Suntikan, Pil, Kondom tersedia ditempat pelayanan jalur pemerintah (Puskesmas Pembantu, Puskesmas, Klinik KB) dan institusi Masyarakat seperti PPKBD dan Sub PPKBD. Alat dan obat kontrasepsi yang disediakan oleh pemerintah hanya diperuntukkan bagi keluarga miskin (keluarga Pra Sejahtera dan Keluarga Sejahtera I), sedang bagi yang mampu diarahkan kepada KB Mandiri (Jalur Swasta). Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   43  
  • Tingginya prevalensi penduduk ber KB di Kalimantan Tengah kemungkinan disebabkan oleh: - gencarnya sosialisasi program KB pada jaman dulu dengan moto ”dua anak cukup, laki perempuan sama saja” - adanya pembatasan jumlah anak yang ditanggung oleh pemerintah terutama untuk pegawai negeri - kesadaran yang tinggi dari masing-masing pasangan usia subur untuk membatasi jumlah anak yang akan dibina nantinya - tersedianya alat kontrasepsi seperti kondom, Pil yang mudah diperoleh masyarakat - Adanya aktivitas lain seperti menonton, bekerja pada malam hari sebagai akibat tersedianya sarana dan prasarana komunikasi saat ini. 2.2.4.2. Persentase Laju Pertumbuhan Penduduk Laju pertumbuhan penduduk di Kalimantan Tengah tergolong cukup tinggi dibanding dengan laju rata-rata nasional. Laju pertumbuhan pendudukpun bervariasi dari tahun ke tahun. Dalam kurun waktu lima tahun ini, laju pertumbuhan penduduk tertinggi terjadi pada tahun 2007 yaitu sebesar 4,66%. Namun angka tersebut kemudian menurun selama dua tahun terkahir ini yaitu tahun 2008 dan 2009 dengan nilai masing-masing 1,43 dan 1,49. Pemecahan permasalahan-permasalahan kependudukan telah dilakukan oleh pemerintah provinsi Kalimanatan Tengah dengan cara perluasan dan pengembangan kesempatan kerja; peningkatan kualitas dan produktivitas tenaga kerja; serta perlindungan dan pengembangan kelembagaan ketenagakerjaan. 5,00 4,00 3,00 2,00 1,00 0,00 2004 2005 2006 2007 2008 K alteng Nas ional Gambar 2.20. Grafik capaian indikator persentase laju pertumbuhan penduduk di Provinsi Kalimantan Tengah Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   44  
  • Sepanjang periode 2004-2008, total tingkat pengangguran terbuka di Kalimantan Tengah menurun sebesar 26 persen selama kurun waktu empat tahun. Jumlah pengangguran di Kalimantan Tengah pada tahun 2004 sebesar 70.359 orang, pada tahun 2008 menurun menjadi 51.620 orang. Sesuai dengaan sasaran yang ingin dicapai dalam RPJMN 2004-2009 yang mentargetkan menurunnya tingkat pengangguran terbuka menjadi 5,1 persen pada akhir tahun 2009 maka Provinsi Kalimantan Tengah mampu untuk memenuhi target tersebut bahkan saat ini angka TPT di Kalimantan Tengah sebesar 4.79 persen. Secara umum, pertumbuhan kesempatan kerja cukup tinggi. Pembukaan usaha baru berupa areal perkebunan baru di Kalimantan Tengah cukup menjanjikan. Penduduk banyak yang bekerja pada perusahaan-perusahaan sawit atau membuka usaha sendiri berupa kebun-kebun sawit sehingga memungkinkan mendapatkan pendapatan yang lebih baik. Laju pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi terutama terjadi pada tahun 2007 kemungkinan disebabkan oleh: - kekayaan sumber daya alam yang cukup tinggi sehingga menjadi daya tarik bagi para pendatang untuk memanfaatkannya - pembukaan lahan untuk perkebunan menyebabkan banyaknya tenaga kerja yang didatangkan ke daerah ini dalam bentuk transmigrasi spontan. - terbukanya akses jalan dan jembatan serta akses transportasi udara menyebabkan mobilisasi penduduk menjadi lebih mudah - terbukanya akses komunikasi antar daerah menyebabkan perbedaan jarak dan ruang bukan merupakan kendala lagi Selain itu ada anggapan akhir-akhir ini pada sebagain besar masyarakat Kalimantan Tengah terutama penduduk lokal bahwa kekayaan alam berupa tanah masih cukup luas, sehingga tidak menjadi persoalan apabila jumlah anak dalam satu keluarga lebih dari 2. Banyak anak, berarti banyak rejeki dan anak akan mewarisi tanah-tanah yang dimiliki oleh keluarga sehingga keberlangsungan kepemilikan wilayah oleh keluarga tersebut tetap terjaga dan terbina. Penanganan masalah kependudukan di provinsi Kalimantan Tengah perlu disikapi dengan arif dan bijaksana. Upaya pemerintah maupun pihak swasta mendatangkan para transmigran ke bumi Tambun Bungai perlu diatur dengan sebaik-baiknya sehingga tidak menimbulkan kecemburuan sosial bagi penduduk lokal. Pola penenmpatan transmigranpun perlu dilakukan pengaturan. Persentase 50 : 50 antara penduduk asli dan pendatang dalam suatu areal pemukiman sangat ideal sehingga terjadi asimilasi yang harmonis antara penduduk lokal dan pendatang. Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   45  
  • Di Kalimantan Tengah, distribusi penduduk antar kabupaten/kota memang tidak merata. Penduduk pada umumnya berada pada pusat-pusat pengembangaan ekonomi seperti di Sampit dan Pangkalan Bun. Kedua wilayah ini merupakan tempat aktivitas usaha karena memiliki pabrik kayu, karet serta usaha perkebunan seperti kelapa sawit. Pengembangan kawasan tersebut perlu dipantau mengingat banyak masuknya tenaga kerja dari luar ke wilayah tersebut. 2.2.5. CAPAIAN INDIKATOR Berdasarkan data tingkat kualitas sumberdaya manusia, terdapat 11 (sebelas) indikator pendukung yang digunakan dalam membuat agregasi tingkat kualitas SDM diantaranya angka patisipasi murni SD/MI, angka putus sekolah SD, SMP/MTs, SMA/MA, angka melek aksara 15 tahun ke atas, persentase jumlah guru SMP/MTs yang layak mengajar, persentase jumlah guru SMA yang layak mengajar, prevalensi gizi kurang, persentase tenaga kesehatan per penduduk, persentase penduduk ber KB dab persentase laju pertumbuhan penduduk. Berdasarkan grafik dibawah, tampak bahwa tingkat kualitas sumberdaya manusia di Kalimantan Tengah pada tahun 2004 – 2008 lebih tinggi dibanding rata- rata nasional. Apabila dilihat dari segi efektivitasnya maka pembangunan kualitas sumberdaya manusia di Kalimantan Tengah menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun yang sangat baik terutama sejak tahun 2007. Berdasarkan trend capaian pembangunan maka capaian pembangunan sumber daya manusia di Kalimantan Tengah sejalan dengan tren nasional. 85,00 7,00 84,00 6,00 83,00 5,00 82,00 4,00 81,00 3,00 Kalteng 80,00 2,00 Nasional 79,00 1,00 Tren Kalteng 78,00 0,00 Tren Nasional 77,00 -1,00 76,00 -2,00 75,00 -3,00 74,00 -4,00 2004 2005 2006 2007 2008 Gambar 2.21. Grafik capaian indikator tingkat kualitas sumberdaya manusia di Provinsi Kalimantan Tengah Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   46  
  • Lebih tingginya tingkat kualitas sumber daya manusia di Kalimantan Tengah terkait dengan relatif tingginya angka capaian pembangunan terutama yang menyangkut IPM dan ditunjjang juga oleh item pendidikan yang baik, angka harapan hidup yang baik dan kondisi ekonomi yang cukup baik. 2.2.6. ANALISIS CAPAIAN INDIKATOR SPESIFIK DAN MENONJOL Ada sebelas indikator penunjang yang perlu diperhatikan berkaitan dengan Analisis Capaian Indikator Spesifik dan Menonjol untuk tingkat kualitas sumber daya manusia di provinsi Kalimantan Tengah. Berdasarkan analisis data seperti pada tabel 2.3, dapat diketahui bahwa dari sebelas indikator tersebut hanya satu indikator penunjang yang tidak sesuai yaitu prevalensi gizi kurang, sedangkan sepuluh indikator lainnya termasuk sesuai antara harapan dengan fakta. Kesepuluh indikator yang sesuai tersebut adalah: angka partisipasi murni SD/MI, Angka putus sekolah SD, angka putus sekolah SMP/MTs, angka putus sekolah menengah, angka melek aksara 15 tahun keatas, persentase jumlah guru SMP/MTs yang layak mengajar, persentase jumlah guru sekolah menengah yang layak mengajar, prevalensi gizi kurang, persentase tenaga kesehatan per penduduk persentase penduduk ber KB dan persentase laju pertumbuhan penduduk (lihat tabel 2.3). Selain indikator diatas maka indikator output yang menonjol di Kalimantan Tengah adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan Umur harapan hidup. Tabel 2.3 Hasil Analisis Capaian Indikator Spesifik dan Menonjol Bidang Tingkat Pelayanan Publik dan Demokrasi Di Provinsi Kalimantan Tengah Tahun 2004 – 2008 No Indikator Penunjang Harapan Fakta Keterangan 1 Angka partisipasi murni SD/MI Trennya Naik Trennya Naik sesuai 2 Angka Putus sekolah SD Trennya Turun Trennya Turun sesuai 3 Angka Putus sekolah SMP/MTs Trennya Turun Trennya turun sesuai 4 Angka Putus sekolah Menengah Trennya Turun Trennya Turun sesuai 5 Angka melek aksara 15 tahun ke atas Trennya Naik Trennya Naik sesuai Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   47  
  • Persentase jumlah guru SMP/MTs yang layak 6 Trennya Naik Trennya naik sesuai mengajar Persentase jumlah guru sekolah menengah yang 7 Trennya Naik Trennya naik sesuai layak mengajar 8 Prevalensi gizi kurang Trennya Turun Trennya Naik Tidak sesuai 9 Persentase tenaga kesehatan per penduduk Trennya Naik Trennya naik sesuai 10 Persentase penduduk ber KB Trennya Naik Trennya Naik sesuai 11 Persentase laju pertumbuhan penduduk Trennya Turun Trennya Turun sesuai Sumber : Diolah dari Matrik Data EKPD Provinsi Kalimantan Tengah. 2.2.7. REKOMENDASI KEBIJAKAN Pokok-pokok kebijakan untuk mengatasi persoalan peningkatan sumber daya manusia di provinsi Kalimantan Tengah periode yang akan datang direkomendasikan melalui upaya peningkatan terus menerus indeks pembangunan manusia, pembangunan di bidang pendidikan, pembangunan dibidang kesehatan dan pembangunan di bidang keluarga berencana. Uraian kebijakan untuk masing-masing bidang tersebut adalah sebagai berikut: 2.2.7.1 Upaya meningkatkan indeks pembangunan manusia (IPM) IPM provinsi Kalimantan Tengah tergolong baik. Hal ini ditunjang oleh keberhasilan dibidang pendidikan dan kesehatan. Mengingat bidang ekonomi merupakan salah satu faktor penentu IPM maka yang perlu diperhatikan untuk meningkatkan IPM dimasa mendatang yaitu: - adanya kebijakan pengendalian jumlah penduduk serta peningkatan pendapatannya - kebijakan peningkatan produktivitas tenaga kerja - kebijakan peningkatan UMKM melalui kebjakan peningkatan kualitas pelayanan lembaga keuangan 2.2.7.2 Bidang Pendidikan Dari pembahasan di atas khususnya untuk bidang pendidikan perlu diambil beberapa kebijakan sebagai berikut: Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   48  
  • 2.2.7.2.1. Angka partisipasi murni SD/MI - Mendorong pemerintah kabupaten/kota agar menyediakan fasilitas sekolah gratis terutama bagi siswa SD/MI - Melaksanakan sosialisasi secara terus menerus dalam rangka program wajib belajar Dikdas 9 tahun - Mendorong tumbuhnya perhatian dan kemitraan masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan yang bermutu - Meningkatkan perhatian, khususnya pada daerah terpencil, terisolir, terpencar yang sulit dijangkau dengan mengadakan program perbaikan dan perluasan jalan guna memperlancar jarak tempuh anak bersekolah. 2.2.7.2.2. Rata-rata nilai akhir SMP/MTs dan SMA/MA - Mengintensifkan bimbingan belajar baik dalam bentuk pengayaan dan latihan soal secara merata di Kalimantan Tengah - Melaksanakan try out bagi siswa dalam rangka mempersiapkan mereka mengikuti ujian yang diselenggarakan oleh sekolah maupun nasional - Mengembangkan sarana dan prasarana penunjang pendidikan disekolah seperti hot spot internet, laboratorium multimedia, ruang komputer, laboratorium bahasa, laboratorium kimia/biologi dll. - Revitalisasi peran dan fungsi perpustakaan sekolah sehingga memudahkan siswa mencari tambahan materi pelajaran 2.2.7.2.3. Angka putus sekolah SD, SMP/MTs dan SMA/MA - Mengintensifkan program pendidikan non formal berupa kejar paket di desa-desa. - Membangun Unit Sekolah Baru (USB) dan Ruang Kelas Baru (RKB) bagi daerah yang terpencil dan terisiolasi serta yang membutuhkan; - Mengembangkan pendidikan dasar terpadu (SD-SMP satu atap) di daerah terpencil dan yang terisolasi; - Memberdayakan sekolah alternatif: SMP terbuka, kelas jauh/filial,dsb - Memberikan pelayanan pendidikan khusus bagi anak-anak daerah terpencil, anak- anak jalanan, anak-anak daerah kumuh, atau anak pekerja yang berusia sekolah. - Menyediakan beasiswa (reguler, retrieval, transisi) bagi anak didik dari keluarga tidak mampu atau yang berprestasi; - Menyediakan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) bagi semua SMP negeri dan swasta dalam rangka pelaksanaan sekolah gratis; Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   49  
  • 2.2.7.2.4. Angka melek aksara 15 tahun ke atas - Tetap melanjutkan program wajar Dikdas 9 tahun. - Meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya peran baca tulis di dalam kehidupan - Mengintensifkan program pendidikan non formal berupa kejar paket (A, B maupun C) hingga ke desa-desa - Meningkatkan motivasi untuk mengikuti pendidikan mengingat pentingnya ijasah sebelum masuk ke dunia kerja. 2.2.7.2.5. Persentase jumlah guru yang layak mengajar untuk tingkat SMP/MTs dan sekolah menengah - Meningkatkan kualitas guru melalui berbagai cara, yakni: a. Studi lanjut bagi guru yang potensial/berprestasi b. Magang disekolah yang berkualitas c. Mengikuti pelatihan materi keguruan, bidang studi dan metodologi penelitian serta penulisan karya ilmiah - Percepatan terwujudnya kualitas dan kesejahteraan pendidikan secara adil dan merata - Penambahan guru sesuai dengan jumlah maupun kualifikasi pendidikannya serta menata kembali penyebaran guru-guru di berbagai tingkat sekolah - Melatih para pengawas sekolah agar lebih propesional dalam menjalankan tugas- nya melakukan pengawasan dibidang pendidikan - Mendorong masyarakat agar lebih aktif dalam pengawasan / pengelolaan serta hubungan dengan berbagai pihak terhadap kebijakan program dan output pendidikan di Kalimantan Tengah - Perlu peningkatan kualitas manajemen pelayanan dan mengembangkan teknologi dan informasi pendidikan dalam bentuk pengembangan kurikulum muatan lokal untuk SD, SMP, dan SMA serta peningkatan penguasaan teknologi pembelajaran seperti penggunaan komputer, laboratorium bahasa dan lain-lain - Peningkatan jenjang pendidikan guru RSBI untuk melanjutkan pendidikan melalui penyediaan beasiswa Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   50  
  • 2.2.7.3 Bidang Kesehatan Untuk bidang kesehatan, perlu diambil beberapa kebijakan sebagai berikut: 2.2.7.3.1 Umur Harapan hidup (UHH) - peningkatan sosialisasi kesehatan lingkungan dan pola hidup sehat - peningkatan pendidikan kesehatan pada masyarakat sejak usia dini - pemerataan dan peningkatan kualitas fasilitas kesehatan dasar - peningkatan pengawasan obat dan makanan serta ketersediaan obat - memperbaiki gizi masyarakat - peningkatan pelayanan kesehatan lansia 2.2.7.3.2 Angka kematian bayi (AKB) dan Angka kematian Ibu (AKI) - Perlu penetapan angka kematian bayi (AKB) dan angka kematian ibu (AKI) yang sesuai dengan standar perhitungan secara nasional - Peningkatan pelayanan kesehatan anak balita - Peningkatan keselamatan ibu melahirkan melalui pelatihan bidan desa - Menetapkan standarisasi pelayanan kesehatan - Meningkatkan upaya kesehatan yang bersumber dari masyarakat (UKBM) diantaranya adalah Posyandu, Polindes dan Pos Obat Desa. 2.2.7.3.3 Prevalensi gizi buruk dan gizi kurang - Meningkatkan pendidikan gizi dalam lingkup keluarga - Meningkatkan upaya penanggulangan kurang energi protein (KEP), anemia gizi besi, gangguan akibat kurang yodium (GAKY), kurang vitamin A, dan kekurangan zat gizi mikro lainnya - Meningkatkan surveilens gizi - Pemberdayaan masyarakat untuk pencapaian keluarga sadar gizi - Meningkatkan makanan tambahan bagi anak - Meningkatkan kembali peran dan fungsi posyandu dalam pengelolaan kesehatan ibu dan anak - Perbaikan gizi masyarakat dalam bentuk penyediaan makanan yang sehat dan murah. Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   51  
  • 2.2.7.3.4 Persentase tenaga kesehatan per penduduk - Memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan, terutama untuk pelayanan kesehatan di puskesmas dan jaringannya, serta rumah sakit kabupaten/kota - Peningkatan kuantitas dan kualitas tenaga kesehatan (dokter, bidan dll) - Meningkatkan keterampilan dan profesionalisme tenaga kesehatan melalui pendidikan dan pelatihan tenaga kesehatan - Meningkatkan pembinaan tenaga kesehatan termasuk pengembangan karir tenaga kesehatan - Meningkatkan standar kompetensi dan regulasi profesi kesehatan - Peningkatan penyebaran tenaga medis minimal di wilayah kecamatan terutama untuk tenaga dokter didaerah terpencil. 2.2.7.4 Bidang Keluarga Berencana Kebijakan yang perlu diambil dalam bidang keluarga berencana: 2.2.7.4.1 Prevalensi penduduk ber KB - Meningkatkan akses dan kualitas pelayanan KB dan kesehatan reproduksi. - Meningkatkan penggunaan kontrasepsi yang efektif dan efisien. - Meningkatkan ketersediaan alat-alat, obat, dan cara kontrasepsi yang diprioritas-kan pada keluarga miskin. - Revitalisasi program KB seperti pada jaman dulu dengan moto ”dua anak cukup, laki perempuan sama saja” 2.2.7.4.2 Persentase laju pertumbuhan penduduk - Perlu penurunan laju pertambahan penduduk melalui program KB - Meningkatkan keikutsertaan dan kemandirian masyarakat terhadap pelaksanaan KB dan Kesehatan Reproduksi - Menertibkan migrasi penduduk melalui tertib administrasi kependudukan Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   52  
  • 2.3. TINGKAT PEMBANGUNAN EKONOMI Masalah dan tantangan pembangunan ekonomi di Kalimantan Tengah dapat dijelaskan dari tiga perspektif yaitu: (1) masalah dan tantangan pengembangan ekonomi makro; (2) masalah dan tantangan pengembangan investasi; dan (3) masalah dan tantangan pengembangan infrastruktur fisik (jalan). 2.3.1. EKONOMI MAKRO 2.3.1.1. Laju Pertumbuhan Ekonomi (AHK2000) Pertumbuhan ekonomi (PE) di provinsi Kalimantan Tengah memang sedikit lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi secara nasional. Permasalahannya baik di Kalteng maupun pertumbuhan ekonomi di tingkat nasional yaitu belum tercapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi (rata-rata 10% - 12% per tahun) serta merata di semua sector. Tingkat pertumbuhan ekonomi di provinsi Kalimantan Tengah selama periode perencanaan tahun 2004 – 2008 tumbuh rata-rata sebesar 6,32%, sedangkan pada tahun yang sama pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,35%. Perkembangan pertumbuhan ekonomi Kalimantan Tengah maupun Nasional dapat dilihat pada gambar 2.22 berikut ini. Laju Pertumbuhan Ekonomi (%) 8 6 4 2 0 2004 2005 2006 2007 2008 Kalteng 5,99 6,48 6,13 6,92 6,06 Nasional 4,25 5,37 5,19 5,63 6,30 Kalteng Nasional Gambar 2.22. Grafik Laju Pertumbuhan Ekonomi AHK-2000 di Kalteng dan Nasional Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   53  
  • Mengamati laju pertumbuhan ekonomi tentu saja kita harus mengamati proses terbentuknya output tiap tahun selama periode perencanaan. Rendahnya pembentukan output di provinsi Kalimantan Tengah, disamping karena faktor kelangkaan modal dan kualitas sumberdaya manusia yang rendah, juga disebabkan keterkaitan antara sektor masih kurang. Terkait dengan kelangkaan modal bahwa baik modal pemerintah daerah maupun modal swasta yang diinvestasikan pada sector ril masih kecil. Realisasi penanaman modal pemerintah daerah pada sector ril hampir tidak ada kecuali pada sector finansial (penyertaan modal pada PT. Bank Pembangunan Kalteng); dan kemudian rata-rata realisasi penanaman modal swasta pada sector ril yaitu PMA hanya sebesar 37,62% dan PMDN sebesar 34,64% dari target (BPMD Kalteng, 2009). Terkait dengan sumbedaya manusia (SDM) yang berkualitas di provinsi Kalimantan Tengah jumlahnya masih sedikit. Penyebabnya yaitu disamping masalah biaya, sarana dan prasarana penunjang masih terbatas, juga karena transfer pengetahuan (knowledge spillover) dari perusahaan swasta besar ke tenaga kerja perusahaan local masih rendah. Investasi di bidang R&D hampir tidak ada. Kemudian tantangan peningkatan pertumbuhan ekonomi yaitu belum ada kepastian pengesahan rencana tata ruang wilayah, sehingga iklim investasi menjadi kurang kondusif. Karena kondisi iklim investasi yang kurang kondusif maka sangat banyak rencana investasi di sector ril yang belum dapat direalisasikan. 2.3.1.2. Persentase Ekspor terhadap PDRB Masalah ekspor di provinsi Kalimantan Tengah yaitu kinerja ekspor (rasio ekspor terhadap PDRB) masih rendah yaitu hanya 0,24 atau sekitar seperlima dibandingkan tingkat nasional. Disamping itu diversifikasi produk ekspor juga masih sedikit. Tingkat perkembangan persentase ekspor terhadap PDRB di provinsi Kalimantan Tengah selama periode perencanaan tahun 2004 – 2008 tumbuh rata-rata sebesar 4,95%, sedangkan pada tahun yang sama perkembangan persentase ekspor terhadap PDRB nasional sebesar 20,40%. Perkembangan persentase ekspor terhadap PDRB Kalimantan Tengah maupun Nasional dapat dilihat pada gambar 2.23 berikut ini. Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   54  
  • Persentase Ekspor Terhadap PDRB 30,00 20,00 10,00 0,00 2004 2005 2006 2007 2008 Kalteng 3,77 4,08 4,62 5,71 6,57 Nasional 20,07 20,84 19,48 21,26 20,34 Kalteng Nasional Gambar 2.23 Grafik Persentase Ekspor terhadap PDRB di Kalteng dan Nasional Kendala yang dihadapi terletak pada faktor internal dan eksternal. Faktor internal yaitu terletak pada kelemahan pelaku bisnis (eksportir), keterbatasan infrastruktur (pelabuhan dan aksesnya, fasilitas penunjang) serta kelembagaan ekonomi keuangan formal di Kalimantan Tengah. Sedangkan faktor eksternal yaitu masalah permintaan pasar luar negeri masih kurang, dan juga harga jual beberapa komoditi ekspor masih jatuh (rendah). Kemudian tantangan peningkatan ekspor Kalimantan Tengah dilihat dari faktor internal yaitu belum ada jalan darat (jalan tol dan rel kereta api) yang murah dan cepat dari dan ke pelabuhan; kapasitas pelabuhan bongkar muat dan berbagai fasilitas penunjangnya masih kurang. Tantangan faktor eksternal yaitu adanya ketidakpastian (krisis keuangan global belum betul-betul pulih) (Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Kalimantan Tengah, 2009). Upaya peningkatan realisasi ekspor di Provinsi Kalimantan Tengah memang telah dituangkan dalam program peningkatan dan pengembangan ekspor. Sasaran pokok dari program peningkatan dan pengembangan ekspor adalah: (1) Terkendalinya kualitas produk; (2) Terbinanya usaha penghasil produk berorientasi ekspor; (3) Meningkatnya usaha yang telah mendapatkan sertifikat produk penggunaan tanda SNI; (4) Terkendalinya usaha yang telah diberi sertifikasi produk penggunaan tanda SNI; (5) Meningkatnya kinerja Panitia kerja tetap peningkatan ekspor daerah (PANJATAPDA); dan (6) Meningkatnya jaringan informasi ekspor. Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   55  
  • Namun demikian program tersebut tampaknya masih kurang berhasil karena terkendala faktor kunci lainnya yang sangat berpengaruh yaitu keterbatasan jalan, pelabuhan (termasuk fasilitas penunjangnya). 2.3.1.3. Persentase Output Manufaktur terhadap PDRB Masalah output manufaktor di provinsi Kalimantan Tengah yaitu persentase output manufaktur terhadap PDRB masih kecil yaitu hanya sebesar 0,31 atau sekitar sepertiga dibandingkan tingkat nasional. Tingkat perkembangan persentase output manufaktur terhadap PDRB di provinsi Kalimantan Tengah selama periode perencanaan tahun 2004 – 2008 tumbuh rata-rata sebesar 8,66%, sedangkan pada tahun yang sama perkembangan persentase output manufaktur terhadap PDRB nasional sebesar 27,59%. Perkembangan persentase output manufaktur terhadap PDRB di provinsi Kalimantan Tengah maupun Nasional dapat dilihat pada gambar 2.24 berikut ini. Persentase Output Manufaktur Terhadap  PDRB 30,00 20,00 10,00 0,00 200 200 200 200 200 Kalteng 8,90 9,32 8,43 8,31 8,37 Nasional 28,0 27,4 27,5 27,0 27,8 Kalteng Nasional Gambar 2.24 Grafik Persentase Output Manufaktur Terhadap PDRB di Kalteng dan Nasional Perkembangan persentase output manufaktur terhadap PDRB di provinsi Kalimantan Tengah hanya sebesar sepertiga dibandingkan nasional. Kendala yang dihadapi dalam pengembangan ekspor di provinsi Kalimantan Tengah yaitu masih rendahnya kapasitas iptek sistem produksi. Demikian pula halnya kendala terhadap pembangunan industri kecil dan menengah, kemampuan teknologi industri, penataan struktur industri, dan pembangunan sentra-sentra industri potensial. Kendala lain yang Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   56  
  • sangat berpengaruh pula yaitu kondisi infrastruktur kawasan, misalnya KAPET DAS KAKAB, SAMBUN masih belum memadai. 2.3.1.4. Persentase Output UMKM terhadap PDRB Masalah output UMKM provinsi Kalimantan Tengah yaitu persentase output UMKM terhadap PDRB masih sangat kecil yaitu hanya 0,046 atau sekitar seperduapuluh dibandingkan tingkat nasional. Tingkat perkembangan persentase output UMKM terhadap PDRB di provinsi Kalimantan Tengah selama periode perencanaan tahun 2004 – 2008 tumbuh rata-rata sebesar 2,48%, sedangkan pada tahun yang sama perkembangan persentase output UMKM terhadap PDRB nasional sebesar 53,82%. Perkembangan persentase output UMKM terhadap PDRB di provinsi Kalimantan Tengah maupun Nasional dapat dilihat pada gambar 2.25. Kecilnya persentase output UMKM terhadap PDRB tersebut sebagai akibat pertumbuhan usaha baru lambat, daya saing usaha yang ada masih lemah, Sentra/Klaster kurang berkembang, stabilitas perekonomian masih belum baik akibat krisis keuangan global. Kendala yang dihadapi yaitu kualitas iklim usaha, keunggulan kompetitif, kualitas sistem pendukung, dan kualitas kelembagaan masih rendah. Persentase Output UMKM Terhadap PDRB 60,00 40,00 20,00 0,00 2004 2005 2006 2007 2008 Kalteng 2,56 2,58 2,42 2,36 2,48 Nasional 55,40 53,90 53,49 53,60 52,70 Kalteng Nasional Gambar 2.25 Grafik Persentase Output UMKM Terhadap PDRB di Kalteng dan Nasional Sasaran pokok pembangunan UMKM adalah: (1) Meningkatnya jumlah pembukaan usaha baru, penyerapan tenaga kerja khususnya UKM dan Koperasi yang berbasis potensi dan Keunggulan Daerah; (2) Meningkatnya perkembangan dan daya Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   57  
  • saing usaha-usaha yang telah berdiri; (3) Berkembangnya usaha Sentra/Klaster, KSP/USP-Kop dan jasa konsultansi pengembangan Bisnis UKM dan Koperasi; (4) Terwujudnya kinerja pelayanan perizinan dan pengawasan perizinan serta fasilitasi pengembangan UKM; dan (5) Terwujudnya stabilitas perekonomian wilayah Kalimantan Tengah. 2.3.1.5. Pendapatan Perkapita (dalam juta rupiah) AHK2000 Masalah pendapatan (pendapatan regional) perkapita penduduk di Provinsi Kalimantan Tengah masih rendah yaitu hanya sebesar 0,38 atau sekitar sepertiga dibandingkan nasional. Tingkat pendapatan perkapita (dalam juta rupiah) AHK-2000 di provinsi Kalimantan Tengah selama periode perencanaan tahun 2004 – 2008 hanya rata- rata sebesar Rp. 5,95 juta, sedangkan pada tahun yang sama pendapatan perkapita tingkat nasional sudah mencapai rata-rata sebesar Rp. 15,52 juta. Perkembangan pendapatan perkapita di provinsi Kalimantan Tengah maupun Nasional dapat dilihat pada gambar 2.26. berikut ini. Pendapatan Perkapita (juta rupiah) AHK2000 30,00 20,00 10,00 0,00 2004 2005 2006 2007 2008 Kalteng 5,60 5,73 6,00 6,09 6,34 Nasional 10,61 12,68 15,03 17,58 21,7 Kalteng Nasional Gambar 2.26. Grafik Pendapatan Perkapita (juta rupiah) AHK-2000 di Kalteng dan Nasional Kendala yang dihadapi terletak pada persoalan produktivitas tenaga kerja itu sendiri. Faktor penyebabnya yaitu disamping lahan pertanian yang kurang subur di Kalimantan Tengah juga karena pemanfaatan lembaga ketrampilan tenaga kerja dan transfer teknologi belum berjalan sebagaimana mestinya. Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   58  
  • 2.3.1.6. Laju Inflasi Angka inflasi di provinsi Kalimantan Tengah selama periode perencanaan (2004 – 2008) secara rata-rata memang sedikit lebih rendah dibandingkan nasional. Di Kalimantan Tengah rata-rata sebesar 8,95%, sedangkan nasional sebesar 9,35%. Walaupun demikian masih ada masalah yaitu angka inflasi itu baik yang terjadi di Kalimantan Tengah maupun nasional dipandang masih tinggi dan belum mampu ditekan sampai batas minimal sekitar 2% - 4%. Oleh karena itu secara makro, pengaruh inflasi tinggi akan mendorong kenaikan suku bunga. Tidak itu saja, secara mikro akan berpengaruh juga terhadap komponen biaya produksi. Inflasi tinggi akan melemahkan kinerja industri manufaktor dan UMKM karena biaya bahan baku dan upah tenaga kerja menjadi mahal. Pengaruh inflasi yang terasa paling parah di provinsi Kalimantan Tengah yaitu bagi masyarakat di pedalaman. Perkembangan angka inflasi di provinsi Kalimantan Tengah maupun Nasional dapat dilihat pada gambar 2.27. berikut ini. Laju Inflasi (%) 15,00 10,00 5,00 0,00 2004 2005 2006 2007 2008 Kalteng 6,96 12,01 7,74 7,77 10,27 Nasional 6,10 10,50 13,10 6,00 11,06 Kalteng Nasional Gambar 2.27. Grafik Laju Inflasi di Kalteng dan Nasional Kendala pengendalian inflasi terletak pada peroalan keterbatasan kemampuan pemerintah (pemerintah pusat) mengendalikan inflasi inti. Inflasi inti (core inflation) yaitu inflasi barang/jasa yang perkembangan harganya dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi secara umum, seperti ekspektasi inflasi, nilai tukar, dan keseimbangan permintaan dan penawaran yang sifatnya cenderung permanen, persistent dan bersifat umum. Sumbangan inflasi inti dalam pembentukan inflasi di Kalimantan Tengah sebesar Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   59  
  • 63%, sedangkan sisanya sebesar 37% oleh inflasi non inti (administered, volatile goods) (Bank Indonesia Palangka Raya, 2008). 2.3.2. INVESTASI (PMA DAN PMDN) Masalah investasi di provinsi Kalimantan Tengah yaitu perkembangan realisasi terhadap rencana investasi (PMA dan PMDN) masih rendah serta tidak merata di semua sector. Perkembangan realisasi terhadap rencana investasi asing (PMA) di provinsi Kalimantan Tengah yaitu pada tahun 2005 - 2006 pernah mencapai 63,99% sampai 317,98%; namun tahun 2007 – 2008 turun drastis menjadi 2,35% sampai 9,70%. Kemudian perkembangan realisasi terhadap rencana investasi domestik (PMDN) di provinsi Kalimantan Tengah yaitu tahun 2004 - 2008 hanya berkisar 2,45% sampai 34,70% (BPMD Provinsi Kalimantan Tengah, 2009). Perkembangan realisasi terhadap rencana investasi (PMA dan PMDN) di provinsi Kalimantan Tengah maupun Nasional dapat dilihat pada gambar 2.28. berikut ini. 100,00 50,00 0,00 ‐50,00 2004 2005 2006 2007 2008 Kalteng 19,19 34,70 23,17 2,45 5,65 Nasional ‐16,04 94,90 ‐32,76 72,60 43,80 Kalteng Nasional Gambar 2.28. Grafik Persentase perkembangan realisasi terhadap rencana investasi (PMA dan PMDN) di Kalteng dan Nasional Kendala utama yang dihadapi oleh pihak investor asing maupun domestik sampai dengan akhir tahun 2009 yaitu: (1) infrastruktur fisik jalan masih belum memadai, (2) keterbatasan suplai listrik, (3) ketidak pastian kebijakan pengaturan ruang (keterlambatan pengesahan Rencana Tata Ruang Wilayah) Provinsi Kalimantan Tengah. Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   60  
  • Akibatnya banyak investor asing yang memilih berinvestasi di provinsi lain. Akibat tidak tertangani secara baik kendala utama tadi, maka program-program SKPD misalnya: (1) Program Peningkatan Iklim Investasi Dan Realisasi Investasi, (2) Program Peningkatan Promosi Dan Kerjasama Investasi, (3) Program Evaluasi, Pengawasan Serta Pembinaan, dan (4) Program Peningkatan Kelembagaan Dan Sistim Informasi Penanaman Modal menjadi tidak berdaya. Menyoroti masalah infrastruktur fisik jalan, misalnya kondisi jalan nasional. Dijumpai sekitar sepertiga dari jumlah panjang jalan nasional masih berkualitas buruk (belum tuntas); rinciannya yaitu kondisi baik (421.51 km), sedang (615,20 km), dan buruk (562,15 km). Selanjutnya masalah pembangunan jalan provinsi dan kabupaten di provinsi Kalimantan Tengah yaitu dijumpai masih ada dan sangat banyak kondisi jalan yang berkualitas buruk; rinciannya yaitu kondisi baik (1432,23 km), sedang (2679,19 km), dan buruk (7987,73 km). Penambahan panjang jalan tahun 2004 – 2008 yaitu antara 553,68 km sampai 2888,55 km (Lampiran: Tabel Matrik Data EKPD Provinsi). 2.3.3. INFRASTRUKTUR Masalah pembangunan infrastruktur (jalan) di provinsi Kalimantan Tengah yaitu masih banyak dijumpai panjang jalan nasional, provinsi, dan kabupaten yang berkualitas buruk (belum tuntas). Rincian kualitas panjang jalan nasional tahun 2008 dengan kondisi baik (421.51 km), sedang (615,20 km), dan buruk (562,15 km). Selanjutnya rincian kualitas panjang jalan provinsi dan kabupaten tahun 2008 dengan kondisi baik (1432,23 km), sedang (2679,19 km), dan buruk (7987,73 km). Kemudian penambahan panjang jalan tahun 2004 – 2008 yaitu antara 553,68 km sampai 2888,55 km (Lihat Lampiran: Data Indikator). Secara umum masalah pembangunan infrastruktur (jalan) di Provinsi Kalimantan Tengah tahun 2004 – 2008 dan kecenderungan tahun 2009 dapat dikatakan belum dapat memenuhi secara tepat akan kebutuhan infrastruktur (jalan dan jembatan) bagi masyarakat. Kriteria ketepatan ini mencakup waktu, kualitas, kuantitas dan lokasi. Ketepatan waktu adalah kepastian sampai kapan atau kapan penyediaan sarana dan prasarana umum yang dimasudkan akan dilaksanakan atau direalisasikan. Masyarakat akan dijamin dengan kepastian, bukan penantian yang tidak berujung. Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   61  
  • Ketepatan kualitas, artinya bahwa kualitas pelayanan penyediaan sarana dan prasarana umum bagi masyarakat akan dijamin dengan tingkat kualitas yang baik. Jaminan kualitas ini diharapkan mampu memberikan kepuasan tersendiri bagi masyarakat, sehingga masyarakat memberikan apresiasi yang cukup tinggi karena kualitas pelayanan tersebut. Ketepatan kuantitas adalah jumlah layanan yang diberikan kepada masyarakat sama dengan jumlah yang dibutuhkan oleh masyarakat. Sedangkan ketepatan lokasi adalah menunjuk lokasi yang benar atau tepat sesuai dengan yang dibutuhkan masyarakat dalam pemberian layanan oleh pemerintah. Kendala utama dalam memenuhi keempat ketepatan tersebut adalah pendanaan, sehingga selalu ada tarik menarik (trade off) dalam memenuhi kriteria ketepatan tersebut. Akan tetapi sudah barang tentu, bahwa pilihan akan selalu dijatuhkan pada layanan yang paling baik dan paling optimal yang akan dilaksanakan oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah kepada masyarakatnya. Sasaran pembangunan daerah bidang infrastruktur ini yaitu pemenuhan secara tepat akan kebutuhan sarana dan prasarana umum bagi masyarakat. Sasaran pokok program program rehabilitasi/pemeliharaan jalan dan jembatan adalah: (1) meningkatnya kualitas jalan dan jembatan pada ruas jalan provinsi; (2) meningkatnya kuantitas (panjang dan lebar) jalan dan jembatan pada ruas jalan dan jembatan provinsi dan ruas jalan strategis lainnya. Kemudian sasaran pokok program peningkatan/ pembangunan jalan dan jembatan, adalah: (1) Meningkatnya kualitas dan ketepatan pembangunan jalan dan jembatan pada ruas jalan provinsi; (2) Meningkatnya kuantitas (panjang dan lebar) jalan dan jembatan pada ruas jalan dan jembatan provinsi dan ruas jalan strategis lainnya. 2.3.4. CAPAIAN INDIKATOR Satuan indikator yang digunakan yaitu agregasi angka relatif (persentase). Maksud agregasi ini yaitu untuk membuat satu grafik capaian indikator pembangunan ekonomi dengan tujuh indikator pendukung yaitu laju pertumbuhan ekonomi, persentase ekspor terhadap PDRB, persentase output manufaktur terhadap PDRB, persentase output UMKM terhadap PDRB, laju inflasi, persentase pertumbuhan realsasi investasi PMA, dan persentase pertumbuhan realsasi investasi PMDN. Berikut ini akan disajikan berturut-turut garfik capaian indikator, analisis relevansi, dan analisis efektifitas. Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   62  
  • • Grafik Capaian Indikator Grafik ini menyajikan capaian indikator pembangunan ekonomi di provinsi Kalimantan Tengah dibandingkan dengan capaian indikator nasional. Tujuan penyajian grafik ini yaitu untuk menilai kinerja pembangunan ekonomi melalui pendekatan Relevansi dan Efektivitas (lihat gambar 2.29.). 70.00 250.00 60.00 200.00 50.00 150.00 Kalteng 40.00 100.00 Nasional 30.00 50.00 Tren Kalteng Tren Nasional 20.00 0.00 10.00 -50.00 0.00 -100.00 2004 2005 2006 2007 2008 Gambar 2.29. Grafik Capaian Indikator Pembangunan Ekonomi di Provinsi Kalimantan Tengah dengan Tujuh Indikator Pendukung • Analisis Relevansi Analisis relevansi pada sub bahasan ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah tren capaian pembangunan ekonomi di provinsi Kalimatan Tengah sejalan atau lebih baik dari capaian pembangunan nasional. Kegunaan analisis ini yaitu untuk menilai sejauh mana tujuan/sasaran pembangunan ekonomi di Kalimantan Tengah yang direncanakan mampu menjawab permasalahan utama/tantangan. Sesuai Grafik Capaian Indikator Pembangunan Ekonomi di Provinsi Kalimantan Tengah (lihat gambar 2.29.), dapat diketahui bahwa tren capaian pembangunan ekonomi baik di povinsi Kalimantan Tengah maupun nasional mula-mula menunjukkan tren menurun sampai tahun 2006, kemudian setelah itu berbalik naik; untuk kenaikan tren nasional hanya sampai tahun 2007, tetapi untuk tren provinsi Kalimantan Tengah ternyata naik sampai tahun 2008. Masa puncak capaian hasil pembangunan ekonomi baik di provinsi Kalimantan Tengah maupun nasional terjadi pada tahun 2005, dan setelah itu semakin merosot sampai tahun terjadi krisis keuangan global (akhir 2008). Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   63  
  • Melalui analisis relevansi menggunakan pendekatan grafik tren (lihat gambar 2.29.) dapat dinilai bahwa tren capaian pembangunan ekonomi di provinsi Kalimantan Tengah sudah sejalan atau lebih baik dari capaian pembangunan ekonomi nasional. Dengan demikian bahwa tujuan/sasaran pembangunan ekonomi yang direncanakan dengan mengacu RPJMD provinsi Kalimantan Tengah tahun 2004 – 2009 sudah mampu menjawab permasalahan utama/tantangan. • Analisis Efektifitas Analisis efektifitas pada sub bahasan ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana capaian pembangunan ekonomi membaik dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Kegunaannya yaitu untuk menilai kesesuaian antara hasil dan dampak pembangunan ekonomi terhadap tujuan yang diharapkan. Sesuai Grafik Capaian Indikator Pembangunan Ekonomi Provinsi Kalimantan Tengah dengan tujuh Indikator Pendukung (lihat gambar 2.29.), dapat dilihat tinggi diagram batang tahun 2005 jauh lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Berikutnya lagi dapat dilihat bahwa tinggi diagram batang tahun 2006, 2007, 2008 lebih rendah dari tahun-tahun sebelumnya. Keseluruhan diagram batang mula-mula tinggi namun semakin rendah dari tahun sebelumnya terutama tahun 2006 sampai 2008. Melalui analisis efektivitas menggunakan pendekatan grafik diagram batang (lihat gambar 2.29.) dapat dinilai bahwa capaian pembangunan ekonomi di provinsi Kalimantan Tengah sejak tahun 2006 sampai 2008 semakin tidak membaik jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Dapat dikatakan bahwa implementasi program/ kegiatan pembangunan bidang ekonomi yang mengacu butir-butir seperti yang tercantum dalam RPJMD provinsi Kalimantan Tengah tahun 2004 – 2009 masih belum ada kesesuaian antara hasil dan dampak pembangunan terhadap tujuan yang diharapkan. Terjadinya fenomena pembangunan ekonomi Kalimantan Tengah seperti itu yaitu “semakin tidak membaik” tentu saja penting dan perlu dicari akar permasalahannya. Berikut ini akan diamati faktor penyebabnya mengapa dan bagaimana itu bisa terjadi (how and why), sebagai berikut: • Realisasi investasi (PMA dan PMDN) sektor ril masih sangat rendah • Produk unggulan daerah sangat minim dan yang ada belum berkembang • Pelabuhan bongkar muat yang ada masih sangat tidak memadai • Infrastruktur penunjang pelabuhan juga sangat minim Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   64  
  • • Penambahan jumlah industri manufaktur baru sangat lambat • Daya saing industri manufaktur yang ada sangat rendah • Penambahan jumlah UMKM baru masih sangat lambat • Daya saing UMKM yang ada masih sangat rendah • Lapangan kerja (usaha) baru sangat kurang • Produktivitas tenaga kerja masih sangat rendah • Kinerja pengendalian inflasi masih sangat rendah • kelancaran arus barang pada saat tertentu sagat lambat • Dalam prakteknya upaya mengatasi masalah biaya tinggi, resiko bisnis, dan ketidak pastian berusaha masih sangat sulit • Ketepatan membangun infrastruktur baru (jalan, jembatan, dan irigasi) beserta dengan fasilitas penunjangannya masih sangat rendah. • Kualitas infrastruktur lama masih sangat rendah. 2.3.5. ANALISIS CAPAIAN INDIKATOR SPESIFIK DAN MENONJOL Ada tujuh indikator penunjang yang diperhatikan untuk kepentingan Analisis Capaian Indikator Spesifik dan Menonjol bidang pembangunan ekonomi di provinsi Kalimantan Tengah, yaitu: laju pertumbuhan ekonomi, persentase ekspor terhadap PDRB, persentase output manufaktor terhadap PDRB, persentase output UMKM terhadap PDRB, laju inflasi, persentase pertumbuhan realisasi investasi PMA, dan persentase pertumbuhan realisasi investasi PMDN. Penilaian atas indikator penunjang yang spesifik dan menonjol dapat diketahui dari analisis kesesuaian antara harapan dan kenyataan. Bila hasilnya sesuai maka indikator penunjang itulah yang dapat dianggap suatu keberhasilan spesifik dan menonjol (lihat tabel 2.4). Melalui data pada tabel 2.4, dapat diketahui bahwa hanya ada satu indikator penunjang yang sesuai, sedangkan enam sisanya (laju pertumbuhan ekonomi, persentase output manufaktor terhadap PDRB, persentase output UMKM terhadap PDRB, laju inflasi, persentase pertumbuhan realsasi investasi PMA, persentase pertumbuhan realsasi investasi PMDN) tidak sesuai. Dengan demikian dapat ditetapkan indikator yang spesifik dan menonjol bidang pembangunan ekonomi di provinsi Kalimantan Tengah yaitu keberhasilan bidang perdagangan luar negeri yang tercermin melalui tren kenaikan Persentase ekspor terhadap PDRB (lihat gambar 2.30.). Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   65  
  • Tabel 2.4 Hasil Analisis Capaian Indikator Spesifik dan Menonjol Bidang Pembangunan Ekonomi Di Provinsi Kalimantan Tengah Tahun 2004 – 2008 No Indikator Penunjang Harapan Fakta Keterangan 1 Laju pertumbuhan ekonomi Trennya Naik Trennya Turun tidak sesuai 2 Persentase ekspor terhadap PDRB Trennya Naik Trennya Naik sesuai Persentase output manufaktor terhadap 3 Trennya Naik Trennya Turun tidak sesuai PDRB 4 Persentase output UMKM terhadap PDRB Trennya Naik Trennya Turun tidak sesuai 5 Laju Inflasi Trennya Turun Trennya Naik tidak sesuai Persentase pertumbuhan realsasi investasi 6 Trennya Naik Trennya Turun tidak sesuai PMA Persentase pertumbuhan realsasi investasi 7 Trennya Naik Trennya Turun tidak sesuai PMDN Sumber : Diolah dari Matrik Data EKPD Provinsi Kalimantan Tengah. Grafik Capaian Indikator Spesifik dan Menonjol Bidang Pembangunan Ekonomi di Provinsi Kalimantan Tengah Tahun 2004 – 2008 dapat dilihat pada gambar berikut.   6,94 6,57 7,00 5,71 6,00 4,62 5,00 4,08 3,77 4,00 3,00 2,00 1,00 0,00 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Gambar 2.30. Grafik capaian indikator Persentase ekspor terhadap PDRB di Provinsi Kalimantan Tengah Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   66  
  • 2.3.6. REKOMENDASI KEBIJAKAN Pokok-pokok kebijakan untuk mengatasi persoalan pembangunan ekonomi di provinsi Kalimantan Tengah periode yang akan datang direkomendasikan melalui upaya peningkatan pertumbuhan ekonomi, peningkatan volume dan nilai ekspor, peningkatan output industri manufaktur, peningkatan output UMKM, peningkatan pendapatan perkapita, mengendalikan inflasi, peningkatan realisasi investasi (PMA dan PMDN) , peningkatan kualitas dan kuantitas infrastruktursebagai berikut: 1) Upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi, dilakukan melalui: • Kebijakan pengembangan investasi sektor ril • Kebijakan pengembangan produk unggulan daerah 2) Upaya meningkatkan volume dan nilai ekspor, dilakukan melalui: • Kebijakan membangun pelabuhan baru yang memadai • Kebijakan penyediaan infrastruktur penunjang 3) Upaya meningkatkan output industri manufaktur, dilakukan melalui: • Kebijakan menambah jumlah industri manufaktur baru • Kebijakan meningkatkan daya saing industri manufaktur yang ada 4) Upaya meningkatkan output UMKM, dilakukan melalui: • Kebijakan menambah jumlah UMKM baru • Kebijakan meningkatkan daya saing UMKM yang ada 5) Upaya meningkatkan pendapatan perkapita, dilakukan melalui: • Kebijakan membuka lapangan kerja (usaha) baru • Kebijakan peningkatan produktivitas tenaga kerja 6) Upaya mengendalikan inflasi, dilakukan melalui: • Kebijakan ekonomi makro (melalui pemerintah pusat) • Kebijakan menjaga kelancaran arus barang • Kebijakan pemenuhan barang-barang kosumsi lokal. 7) Upaya meningkatkan realisasi investasi (PMA dan PMDN) , dilakukan melalui: • Kebijakan menghapus biaya tinggi • Kebijakan mengurangi resiko bisnis • Kebijakan mengurangi ketidak pastian berusaha Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   67  
  • 8) Upaya meningkatkan kualitas dan kuantitas infrastruktur, dilakukan melalui: • Kebijakan membangun infrastruktur baru (jalan, jembatan, dan irigasi) beserta dengan fasilitas penunjangannya dengan memperhatikan prioritas ketepatannya. • Kebijakan peningkatan kualitas infrastruktur lama. Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   68  
  • 2.4. KUALITAS PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM DAN LINGKUNGAN HIDUP Masalah dan tantangan peningkatan kualitas pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup di Kalimantan Tengah dapat dijelaskan dari tiga perspektif yaitu: (1) persentase luas lahan rehabilitasi dalam hutan terhadap lahan kritis, (2) rehabilitasi lahan luar hutan, (3) luas kawasan konservasi, (4) jumlah tindak pidana perikanan, (5) persentase terumbu karang dalam keadaan baik, dan (6) luas kawasan konservasi laut. Pembangunan daerah Provinsi Kalimantan Tengah di bidang pengelolaan sumber daya alam beberapa diantaranya mengarah kepada 1) pola pemanfaatan energi sumber daya yang aman dan ramah lingkungan; 2) terwujudnya keberdayaan perusahaan dan masyarakat dalam menyeimbangkan pengelolaan dan pelestarian sumber daya alam secara serasi ; 3) terwujudnya rehabilitasi energi sumberdaya dan mineral serta sumber daya kehutanan, pertambangan dan perikanan. Arah pembangunan Provinsi Kalimantan Tengah tersebut sejalan dengan arah pembangunan nasional yang menekankan pada prinsip pembangunan berkelanjutan dalam pengelolaan sumber daya alam (SDA) dan lingkungan hidup (LH). Prinsip ini menekankan pada pemanfaatan SDA yang mempertimbangkan daya dukung lingkungan hidup, sehingga peran yang dimiliki oleh SDA dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia di masa mendatang. Berdasarkan prinsip tersebut, sumber daya kehutanan dan kelautan, adalah dua diantara sumberdaya lain yang dikelola dan digunakan sebagai modal pembangunan, di samping terus dilaksanakannya upaya pelestariannya. Pengelolaan sumber daya alam menjadi sangat penting ketika lebih diarahkan kepada upaya konservasi. Potensi hutan di Provinsi Kalimantan Tengah sebagai kekayaan alam semakin lama menjadi menurun, sementara itu potensi laut sebagai kekayaan alam belum banyak dioptimalkan. Menurut data yang dikeluarkan oleh Badan Planologi (BAPLAN) Departemen Kehutanan, total luasan areal kerja HPH dan eks HPH di Kalimantan Tengah pada Hutan Produksi (HP dan HPT) seluruhnya mencakup luasan 7.587.411 Ha. Ternyata luasan lahan kritis lebih besar jika dibandingkan dengan luas hutan primer. Berturut-turut untuk luasan Hutan Primer (Virgin Forest), Logged Over Area (LOA) dan lahan kritis termasuk konversi untuk kepentingan non kehutanan adalah 1.828.972 Ha, 2.942.636 Ha dan 2.815.803 Ha. Kegiatan pengusahaan hutan di Kalimantan Tengah selama rotasi pertama (35 tahun pertama) dilakukan oleh para pemegang HPH, disamping memberikan kontribusi Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   69  
  • positif dalam hal penerimaan negara, di sisi lain meninggalkan permasalahan baru. Permasalahan tersebut diantaranya adalah bertambahnya luasan lahan kritis pada Kawasan Hutan Produksi, baik pada Hutan Produksi Tetap (HP) maupun Hutan Produksi Terbatas (HPT), kondisi ini tentu memerlukan penanganan yang serius. Lebih lanjut beberapa permasalahan yang dihadapi dalam pengelolaan sumberdaya alam di sektor kehutanan di Kalimantan Tengah saat ini dan perkiraan ke depan antara lain : 1) Permintaan/kebutuhan kayu sebagai bahan bangunan dan industri terus meningkat, di lain pihak produksi kayu olahan belum dapat ditingkatkan sebagai kebijakan pemerintah untuk menghentikan sementara izin HPH. 2) Semakin maraknya praktek illegal logging 3) Masih tingginya lahan kritis di luar kawasan hutan dan tanah kosong di dalam kawasan hutan. 4) Belum optimalnya fungsi hutan sebagai pengendali tata air atau sebagai perlindungan penyangga kehidupan. 5) Masih rendahnya tingkat pendapatan masyarakat sekitar hutan. 6) Belum optimalnya pengelolaan hutan dalam aspek fungsi lingkungan, ekonomi dan sosial. 7) Masih rendahnya partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sumberdaya hutan. 8) Belum terpadu, efektif dan efisien dalam dalam pengelolaan sumberdaya hutan. Tantangan sektor kehutanan ke depan adalah bagaimana untuk dapat mempertahankan produksi dari hutan alam (kayu) tersebut. Sampai saat ini seluruh produksi kayu bulat yang dihasilkan Provinsi Kalimantan Tengah semuanya berasal dari produksi hutan alam, sementara peranan produksi dari hutan tanaman belum terlihat nyata. Pengelolaan sumberdaya hutan di provinsi Kalimantan Tengah sampai saat ini masih banyak menyisakan permasalahan. Permasalahan-permasalahan tersebut muncul sebagai akibat kegiatan eksploitasi yang berlebihan pada sumberdaya alam tersebut selama ini. Pembangunan sektor kehutanan pada masa mendatang memegang peranan sentral dan sangat penting. Pembangunan kehutanan ke depan diharapkan bisa menciptakan pertumbuhan disektor ekonomi kerakyatan sehingga dapat mempercepat kesejahteraan bagi masyarakat. Hal ini bisa dicapai melalui pengelolaan potensi sumber daya hutan dengan bijaksana, pada sisi lain pembangunan kehutanan selalu dituntut untuk bisa menciptakan keseimbangan dan kelestarian lingkungan dengan kegiatan perlindungan hutan dan konservasi alam. Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   70  
  • Sumber daya alam lain yang berpotensi untuk dikelola di Provinsi Kalimantan Tengah adalah sektor kelautan. Sejauh ini pengelolaan sumberdaya alam Provinsi Kalimantan Tengah di sektor ini belum dilakukan secara optimal. Sumberdaya alam di sektor kelautan meliputi sumberdaya wilayah pesisir dan laut. Provinsi Kalimantan Tengah mempunyai potensi wilayah pesisir dan laut yang baik dan strategis dengan panjang garis pantai wilayah ini adalah lebih kurang 737 Km. Berdasarkan Undang- Undang Nomor 27 tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil dan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor : Per.16/Men/2008 tentang Perencaaan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, bahwa provinsi mempunyai wilayah pesisir dan kewenangan mengelola wilayah laut sejauh 12 mil yang diukur dari garis pantai (low water mark) ke arah laut. Lebih jauh pasal tersebut juga menyatakan bahwa wilayah laut Kabupaten/Kota adalah sepertiga dari wilayah laut daerah provinsi. Pemerintah Daerah juga diberi kewenangan untuk melakukan eksplorasi, eksploitasi, konservasi dan pengelolaan sumberdaya alam serta tanggung jawab untuk melestarikannya. 2.4.1. KEHUTANAN Kerusakan hutan dan lahan dewasa ini semakin memprihatinkan baik di dalam maupun di luar kawasan hutan. Luas kawasan hutan yang semula sekitar 200 juta Ha kini hanya tinggal ± 90 juta Ha, dengan laju penyusutan hutan yang sangat tinggi, lebih dari 1,0-2,3 juta Ha per tahun (Departemen Kehutanan, 2002 ; Sumarwoto, 2003). Kerusakan hutan dan lahan yang telah parah tersebut maka Pemerintah Indonesia melakukan suatu kebijakan yang dinamakan Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan atau disingkat GN-RHL/Gerhan. Penyelenggaraan GN-RHL/Gerhan sebenarnya telah melalui proses perencanaan yang begitu panjang dan melibatkan berbagai pihak terutama dalam penyiapan dokumen GN-RHL/Gerhan, hingga dikeluarkannya kebijakan pemerintah (publik) dalam bentuk Peraturan Menteri Kehutanan No. P.33/menhutV/2005 tentang Pedoman dan Petunjuk Pelaksanaan Kegiatan Gerakan nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan. Di Provinsi Kalimantan Tengah, keseriusan Pemerintah Daerah dalam mewujudkan pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan hidup dapat dilihat pada gambar 2.31. Kondisi rata-rata nasional menunjukkan bahwa persentase luas lahan rehabilitasi terhadap lahan kritis pada tahun 2004 - 2008 berturut-turut adalah 1,03; 0,93; 0,83 dan 0,26; keadaan ini menunjukkan bahwa persentase tersebut cenderung menurun. Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   71  
  • Sementara itu, di Provinsi Kalimantan Tengah (Gambar 2.31.) memperlihatkan bahwa nilai persentase luas lahan rehabilitasi terhadap lahan kritis pada tahun yang sama lebih besar dari nilai rata-rata nasional. Peningkatan luas lahan kritis yang terehabilitasi di Provinsi Kalimantan Tengah meningkat sampai dengan tahun 2007. Namun demikian pada tahun 2008 dan prediksi tahun 2009 nilai tersebut cenderung menurun. Penurunan persentase luas lahan kritis yang terehabiltasi pada dua tahun terakhir diduga disebabkan karena peningkatan luas lahan yang dikatagorikan sebagai lahan kritis. Kebakaran hutan yang disebabkan karena faktor alam dan kelalaian manusia dan masih adanya praktek illegal loging adalah hal-hal yang menjadi penyebab semakin luasnya lahan kritis yang ada di Provinsi Kalimantan Tengah. 1,68 1,68 1,68 1,80 1,60 1,40 1,11 1,20 1,00 0,71 0,71 0,80 0,60 0,40 0,20 0,00 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Gambar 2.31. Grafik persentase luas lahan rehabilitasi terhadap lahan kritis di Provinsi Kalimantan Tengah Tahun 2004-2008 Sasaran rehabiltasi hutan dan lahan adalah terwujudnya penutupan lahan kritis baik di dalam maupun di luar kawasan hutan. Oleh karena itu diharapkan lahan kritis tersebut dapat berfungsi kembali sebagai penyangga kehidupan dalam hal pencegahan banjir, erosi, longsor dan sebagainya sesuai dengan indikasi terciptanya pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan yang baik. Pencapaian efisiensi dan efektifitas; rehabilitasi lahan kritis seharusnya merupakan suatu proses yang tidak terputus (continue) serta dilaksanakan dalam satu kegiatan yang jelas. Keberhasilan rehabilitasi lahan dalam hutan terhadap lahan kritis kuncinya adalah bahwa lokasi lahan kritis di suatu kawasan hutan yang akan direhabilitasi harus jelas dan terukur. Lahan kritis yang berada di dalam kawasan hutan barangkali tidak terlalu sulit untuk diketahui dan dipetakan lokasinya sepanjang lokasi lahan kritis tersebut jelas Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   72  
  • lokasinya. Lain halnya dengan rahabilitasi lahan kritis berada di luar kawasan hutan, yang melibatkan banyak pihak. Rehabilitasi lahan hutan di luar kawasan hutan justru akan dapat ditangani banyak pihak. Namun demikian, kenyataan memperlihatkan bahwa di Provinsi Kalimantan Tengah kegiatan rehabiltasi lahan di luar hutan, sejak tahun 2007 cenderung menurun (Gambar 2.32.). Dikeluarkannya kebijakan pemerintah dalam bentuk Peraturan Menteri Kehutanan No. P.33/menhutV/2005 tentang Pedoman dan Petunjuk Pelaksanaan Kegiatan Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan ternyata dapat menstimulasi kegiatan rehabiltasi lahan baik di dalam hutan maupun di luar kawasan hutan yang ada di Provinsi Kalimantan Tengah. Hal ini dapat dibuktikan dengan meningkatnya persentase luas lahan rehabilitasi terhadap lahan kritis (Gambar 3.31.) dan meningkatnya luas lahan terrehabilitasi di luar kawasan hutan (Gambar 2.32.). Pada tahun 2006 rehabilitasi lahan luar hutan mencapai 27.886 ha, jumlah ini adalah yang terluas sepanjang kurun waktu tahun 2004 - 2008. Namun demikian selama kurun waktu tahun 2007 dan 2008 terjadi penurunan terhadap hal tersebut. 30.000,00  27.886,00  25.000,00  20.000,00  15.000,00  12.098,00  10.000,00  6.604,00  7.170,00  5.000,00  25,00  ‐ 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Gambar 2.32. Grafik rehabilitasi lahan luar hutan di Provinsi Kalimantan Tengah Tahun 2004-2008. Banyak hal yang dapat menjadi penyebab penurunan tersebut, seperti telah disebutkan di atas, bahwa kondisi alam dan kelalaian manusia (kebakaran hutan) dan praktek illegal loging dapat menjadi penyebab meningkatnya luas lahan kritis. Disamping itu rendahnya tingkat pengawasan dan keberlanjutan kegiatan Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan juga dapat menjadi penyebab menurunnya luas lahan kritis (di dalam dan di luar hutan) yang bisa terehabilitasi. Keberlanjutan rehabilitasi lahan luar Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   73  
  • hutan pada hakekatnya juga dipengaruhi keberlanjutan pendanaan dan pengawasan terhadap pelaksanaan kegiatan Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan tersebut. Dana yang kurang memadai, tidak adanya pengawasan dan tidak tepatnya waktu (musim) pelaksanaan kegiatan tersebut adalah beberapa hal yang dapat menyebabkan kegagalan kegiatan dimaksud. Akhirnya luas lahan kritis (terutama di luar kawasan hutan) yang dapat direhabilitasi tidak akan memenuhi target. 2.4.2. KELAUTAN Laut merupakan bagian tidak terpisahkan dari wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Laut juga memberikan kehidupan secara langsung bagi masyarakat di wilayah pesisir atau di luar wilayah tersebut. Selama ini pengelolaan dan pemanfaatan wilayah pesisir dan laut di Daerah belum dilaksanakan secara optimal karena hal ini sangat berhubungan dengan kewenangan yang dimiliki oleh Daerah. Namun demikian dengan keluarnya Undang-Undang Nomor 27 tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil dan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor : Per.16/Men/2008 tentang Perencaaan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil memberikan kesempatan daerah untuk mengoptimalkan potensi wilayah pesisir dan laut tersebut. Provinsi Kalimnatan Tengah di masa lalu lebih banyak memaksimalkan potensi hasil hutan yang dimilikinya, saat ini fokus pengelolaan sumberdaya alam lebih banyak diarahkan pada sektor perkebunan dan pertambangan. Sektor kelautan, dalam hal ini wilayah pesisir dan laut, sampai saat ini belum banyak tergarap secara optimal. Walaupun potensi sumberdaya alam kelautan belum banyak dioptimalkan, namun indikasi kerusakan wilayah pesisir dan laut yang di Provinsi Kalimantan Tengah tetap ada. Kerusakan lingkungan di wilayah pesisir dan laut lebih banyak disebabkan oleh aktivitas eksploitasi yang tidak berhubungan secara langsung dengan potensi hasil laut, misalnya adanya penambangan pasir dan zirkon di wilayah pesisir. Memantau capaian kualitas pengelolaan sumberdaya kelautan di Provinsi Kalimantan Tengah dapat dilakukan diantaranya melalui indikator jumlah tindak pidana perikanan, persentase terumbu karang dalam keadaan baik dan luas kawasan konservasi laut. Namun demikian penilaian terhadap capaian tersebut belum dapat dilakukan melalui indikator-indikator tersebut. Data yang tersedia dan diperoleh dari Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Kalimantan Tengah belum cukup untuk dapat dipakai menilai capaian kualitas pengelolaan sumberdaya alam sektor kelautan. Bila melihat data persentase Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   74  
  • kerusakan terumbu karang, ada indikasi bahwa telah terjadi kerusakan terhadap potensi sumberdaya kelautan di wilayah Provinsi Kalimantan Tengah.. Berdasarkan data pada tahun 2008, persentase terumbu karang dalam keadaan baik di Provinsi Kalimantan Tengah hanya 53,12% (Gambar 2.33.). Nilai ini sebenarnya masih berada di atas rata- rata nasional, pada tahun yang sama menunjukkan jumlah 30,62 %. Namun demikian, karena data yang tersedia di Provinsi Kalimantan Tengah terhadap indikator tersebut hanya tersedia pada tahun 2008, maka capaian kualitas pengelolaan sumberdaya alam di sektor kelautan belum dapat dinilai dari indikator tersebut. 60 53,12 50 40 30 20 10 0 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Gambar 2.33. Grafik persentase terumbu karang dalam keadaan baik hutan di Provinsi Kalimantan Tengah Tahun 2008. Potensi terumbu karang di Provinsi Kalimantan Tengah terdapat di perairan Senggora, Kabupaten Kotawaringin Barat. Terumbu karang yang ada di wilayah tersebut yang terdeteksi tidak dikualifikasikan sebagai terumbu karang yang bernilai ekstotis. Terumbu karang diwilayah tersebut berpotensi sebagai habitat ikan dan hewan laut lainnya sebagai salah satu lingkungan hidupnya. Artinya terumbu karang di wilayah tersebut belum berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai potensi wisata. Indikasi terjadinya kerusakan terumbu karang yang ada di Provinsi Kalimantan Tengah bisa dipahami bila menyimak jumlah pelanggaran pidana perikanan yang terjadi di Provinsi Kalimantan Tengah (Gambar 2.34.). Jumlah tindak pidana perikanan pada tahun 2007 telah terjadi 15 kali, jumlah tersebut meningkat pada tahun berikutnya (gambar 2.34.). Tindak pidana perikanan bukan hanya pada persoalan pelanggaran wilayah yuridis laut Indnesia yang dilakukan oleh nelayan asing. Tindak pedana perikanan juga erat kaitannya dengan beberapa Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   75  
  • kegiatan yang dapat merusak ekosistem dan lingkungan laut, seperti penggunaan kapal pukat harimau dengan jaring besar (trawl) atau penggunaan bom ikan. Kedua jenis kegiatan yang melanggar hukum tersebut bukan hanya dilakukan oleh nelayan asing yang melanggar wilayah yuridis perairan Indonesia, tetapi juga dilakukan oleh nelayan Indonesia sendiri yang memiliki modal cukup. Penggunaan jaring besar (trawl) atau bom ikan ini yang diduga kuat mengakibatkan kerusakan pada terumbu karang di perairan Provinsi Kalimantan Tengah. 25 22 21 20 15 15 10 5 0 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Gambar 2.34. Grafik jumlah tindak pidana perikanan di Provinsi Kalimantan Tengah Tahun 2007-2009. Potensi sumber daya alam wilayah pesisir dan laut yang besar di Provinsi Kalimantan Tengah masih belum optimal memberikan kontribusi ekonomi yang nyata bagi masyarakat setempat. Hal ini bisa dilihat dari kondisi ekonomi masyarakat wilayah pesisir di daerah ini yang rata-rata tergolong rendah. Hipotesis sementara ini yang menyebabkan kondisi tersebut adalah lokasi pemukiman yang bersifat sporadis, kualitas sumberdaya manusia yang rendah, infrastruktur yang minim sehingga potensi sumberdaya alam tersebut belum termanfaatkan secara optimal. Dari 14 (empat belas) Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Tengah, hanya 6 (enam) kabupaten yang mempunyai wilayah pesisir dan laut meliputi Kabupaten Kotawaringin Barat, Kabupaten Seruyan, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kabupaten Katingan, Kabupaten Kapuas dan Kabupaten Pulang Pisau. Pengelolaan sumberdaya wilayah pesisir dan laut secara berkelanjutan merupakan paradigma pembangunan masa kini dan masa depan. Paradigma tersebut mengandung arti bahwa selain memanfaatkan sumberdaya pesisir dan laut untuk Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   76  
  • kepentingan pertumbuhan ekonomi, upaya pengelolaan juga harus tetap memperhatikan keutuhan (integritas) ekosistem dan daya dukung lingkungan, serta memperhatikan aspek sosial masyarakat terkait dengan sumberdaya tersebut. Untuk mewujudkan hal tersebut diperlukan perencanaan yang komprehensif dan terpadu sehingga dapat mengakomodir kepentingan para pihak (Stakeholders) yang terkait dengan pengelolaan sumberdaya wilayah pesisir dan laut. Proses perencanaan pengelolaan sumberdaya wilayah pesisir dan laut terpadu seperti tercantum pada Undang-Undang Nomor 27 tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil dan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor : Per.16/Men/2008 tentang Perencaaan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau- Pulau Kecil, mencakup 4 (empat) dokumen perencanaan, yaitu Rencana Strategis Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RSWP-3-K), Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP-3-K), Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RPWP-3-K), dan Rencana Aksi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RAWP-3- K). Dalam penyusunan keempat dokumen perencanaan tersebut harus berbasis pada (a) keterpaduan perencanaan sektor secara horizontal dan secara vertikal, (b) keterpaduan ekosistem darat dan laut, (c) keterpaduan sain dan manajemen, dan (d) keterpaduan antar lembaga. Lebih lanjut secara umum permasalahan yang dihadapi dalam pembangunan wilayah pesisir dan laut di provinsi Kalimantan Tengah adalah : 1) Adanya degradasi ekologi di wilayah pesisir dan laut karena aktivitas di luar perikanan (misal : penambangan pasir dan penambangan zircon), 2) Pemanfaatan sumberdaya pesisir dan laut belum dilaksanakan secara optimal, 3) Kondisi ekonomi mayarakat di wilayah peisir dan laut belum baik, 4) Pendidikan dan kesehatan masyarakat pesisir yang belum layak 5) Prasarana dan sarana di wilayah pesisir yang belum layak, 6) Kelembagaan pemerintah dan tata ruang wilayah pesisir dan laut yang belum terencana. Namun demikian dalam hal permasalahan penting dalam pengelolaan sumberdaya alam di sektor kelautan di Provinsi Kalimantan Tengah saat ini dan perkiraan ke depan yang dapat diidentifikasi antara lain adalah : 1) Kerusakan pantai, 2) Kerusakan terumbu karang, 3) Pencemaran wilayah pesisir dan laut, 3) Kerusakan hutan mangrove, 4) kesadaran masyarakat terhadap pelestarian wilayah peisisir dan laur Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   77  
  • rendah dan 5) Pelanggaran tindak pidana perikanan yang berpotensi merusak lingkungan; seperti penggunaan bom ikan dan kapal pukat harimau dengan jaring besar. Arah Pembangunan Daerah Provinsi Kalimantan Tengah di bidang pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan hidup seperti yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2006-2010, antara lain : 1. Terwujudnya Sarana, Prasarana Dan Teknologi yang Memadai Dalam Pengelolaan Sumber daya Alam dan Lingkungan Hidup 2. Terwujudnya Wadah Koordinasi Pengendalian Lingkungan yang Bersifat Lintas Sektoral dan Lintas Pelaku yang Berkelanjutan. 3. Terwujudnya Kesadaran dan Ketaatan Terhadap Peraturan Perundangan-Undangan Lingkungan Hidup 4. Terwujudnya Pola Pemanfaatan Energi Sumberdaya diantaranya Sumber Daya Kehutanan, Perikanan Yang Aman Dan Ramah Lingkungan 5. Terwujudnya Keberdayaan Perusahaan, Masyarakat Dalam Menyeimbangkan Pengelolaan dan Pelestarian Sumber Daya Alam Secara Serasi 6. Terwujudnya Rehabilitasi Energi Sumberdaya Alam diantaranya Sumber Daya Kehutanan dan Sumber Daya Perikanan Sementara ini pengelolaan sumberdaya alam terkesan berjalan sendiri-sendiri pada masing-masing sektor. Pengelolaan sumberdaya alam kedepan harus bersifat lintas sektoral. Hal ini berdasarkan kenyataan bahwa masing-masing sektor mempunyai kepentingan terhadap pemanfaatan sumberdaya alam tersebut. Oleh karena itu upaya pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup harus melibatkan koordinasi aktif antar berbagai sektor dan pemangku kepentingan. Koordinasi yang dimaksud harus lebih dijiwai oleh semangat efektivitas pelaksanaan kebijakan disamping akuntabilitas pertanggungjawaban hasil kepada publik. Terwujudnya kesadaran dan ketaatan hukum merupakan arah pembangunan lain yang tak kalah pentingnya. Penataan produk perundangan daerah yang dapat mendorong terciptanya pola pemanfaatan sumber daya alam yang dapat dipertanggungjawabkan secara ekonomi dan ekologi merupakan agenda yang segera harus dikerjakan. Tidak berhenti disitu, sosialisasi dan internalisasi peraturan perundangan daerah kepada pelaku terkait merupakan tindak lanjut yang menjadi upaya pengelolaan sumberdaya alam secara berkesinambungan. Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   78  
  • Sementara itu, pola eksploitasi pemanfaatan sumber daya alam yang ada selama ini, baik kehutanan dan kelautan harus lebih dibijaki dengan keberlanjutannya bagi generasi penerus. Berbagai instrumen baik yang berasal dari berbagai tingkatan pemerintahan, dunia usaha dan masyarakat selanjutnya dapat dipadukan untuk menciptakan pengelolaan sumberdaya yang berbasis pada tata kelola yang baik sesuai dengan prinsip keseimbangan ekosistem secara berkesinambungan. Akhirnya, poin arah pembangunan sumberdaya alam dan lingkungan diantaranya adalah terwujudnya rehabilitasi sumberdaya kehutanan dan kelautan. Arah pembangunan ini selanjutnya akan diupayakan dengan berbagai bentuk intervensi pengembalian fungsi sumberdaya alam tersebut yang cenderung mengalami kerusakan akibat eksploitasi yang kurang bijaksana pada masa yang lalu. 2.4.3. CAPAIAN INDIKATOR Satuan indikator penunjang yang digunakan yaitu persentase luas lahan rehabilitasi dalam hutan terhadap lahan kritis. Maksud analisis menggunakan indikator ini yaitu untuk membuat satu grafik capaian indikator kualitas pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup di provinsi Kalimantan Tengah. Berikut ini akan disajikan berturut- turut grafik capaian indikator, analisis relevansi, dan analisis efektifitas. • Grafik Capaian Indikator   1,80 60,00 1,60 40,00 1,40 20,00 1,20 Kalteng 1,00 0,00 Nasional 0,80 -20,00 Tren Kalteng 0,60 Tren Nasional -40,00 0,40 -60,00 0,20 0,00 -80,00 2004 2005 2006 2007 2008   Gambar 2.35. Grafik capaian Indikator Kualitas Pengelolaan Sumber Daya Alam di Provinsi Kalimantan Tengah tahun 2004-2008 Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   79  
  • Grafik ini menyajikan capaian indikator kualitas pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup di provinsi Kalimantan Tengah dibandingkan dengan capaian indikator nasional. Tujuan penyajian grafik ini yaitu untuk menilai kinerja pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup melalui pendekatan Relevansi dan Efektivitas (lihat gambar 2.35.). • Analisis Relevansi Analisis relevansi pada sub bahasan ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah tren capaian pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup di provinsi Kalimatan Tengah sejalan atau lebih baik dari capaian pembangunan nasional. Kegunaan analisis ini yaitu untuk menilai sejauh mana tujuan/sasaran pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup di Kalimantan Tengah yang direncanakan mampu menjawab permasalahan utama/tantangan. Sesuai grafik capaian indikator kualitas pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup di Provinsi Kalimantan Tengah (lihat gambar 2.35.), dapat diketahui bahwa tren capaian pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup baik di povinsi Kalimantan Tengah maupun nasional mula-mula menunjukkan tren menurun sampai tahun 2007, kemudian setelah itu tren nasional berbalik naik sampai tahun 2008; namun untuk tren Kalimantan Tengah terus turun sampai tahun 2008. Melalui analisis relevansi menggunakan pendekatan grafik tren (lihat gambar 2.35.) dapat dinilai bahwa mula-mula tren capaian kualitas pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup di Provinsi Kalimantan Tengah sudah sejalan dengan capaian pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup secara nasional, namun sejak tahun 2008 menjadi tidak sejalan. Dengan demikian bahwa tujuan/sasaran pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup yang direncanakan dengan mengacu RPJMD provinsi Kalimantan Tengah tahun 2004 – 2008 tidak mampu menjawab permasalahan utama/tantangan. • Analisis Efektifitas Analisis efektifitas pada sub bahasan ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana capaian kualitas pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup di Provinsi Kalimantan Tengah membaik dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Kegunaannya yaitu untuk menilai kesesuaian antara hasil dan dampak pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup terhadap tujuan yang diharapkan. Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   80  
  • Sesuai Grafik Capaian Indikator kualitas pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup di Provinsi Kalimantan Tengah dengan satu Indikator Pendukung (lihat gambar 2.35.), dapat dilihat tinggi diagram batang semakin rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Keseluruhan diagram batang mula-mula tinggi namun pada akhir periode perencanaan semakin rendah dari tahun sebelumnya. Melalui analisis efektivitas menggunakan pendekatan grafik diagram batang (lihat gambar 2.35.) dapat dinilai bahwa capaian kualitas pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup di provinsi Kalimantan Tengah sejak tahun 2004 sampai 2008 semakin tidak membaik jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Dapat dikatakan bahwa implementasi program/ kegiatan pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup yang mengacu butir-butir seperti yang tercantum dalam RPJMD provinsi Kalimantan Tengah tahun 2004 – 2009 masih belum ada kesesuaian antara hasil dan dampak pembangunan terhadap tujuan yang diharapkan. Terjadinya fenomena pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup Kalimantan Tengah seperti itu yaitu “semakin tidak membaik” tentu saja penting dan perlu dicari akar permasalahannya. Berikut ini akan diamati faktor penyebabnya mengapa dan bagaimana itu bisa terjadi (how and why), sebagai berikut: Capaian kualitas pengelolaan sumberdaya alam di Provinsi Kalimantan Tengah dapat dilihat pada gambar 2.35. Gambar tersebut memperlihatkan bahwa pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan hidup di Provinsi Kalimantan Tengah di atas rata-rata nasional. Kondisi rata-rata nasional pengelolaan sumberdaya alam pada tahun 2004- 2007 cenderung menurun. Di Provinsi Kalimantan Tengah. walaupun capaiannya di atas rata-rata nasional, namun tren sampai dengan tahun 2008 juga cenderung terus menurun. Kondisi demikian menunjukkan bahwa tren capaian pembangunan pengelolaan sumber daya alam di Provinsi Kalimantan Tengah, khususnya yang terjadi pada tahun 2008, belum sejalan atau belum lebih baik dari capaian pembangunan nasional. Tren yang menurun dalam capaian indikator kualitas sumberdaya alam di atas lebih banyak disebabkan penanganan pengelolaan sumberdaya kehutanan yang belum optimal. Menurunnya persentase luas lahan rehabilitasi dalam hutan terhadap lahan kritis dari tahun 2004-2008 adalah indikasi untuk membuktikan hal tersebut. Penurunan persentase luas lahan rehabilitasi dalam hutan terhadap lahan kritis dapat disebabkan karena kecenderungan meningkatnya luasan lahan kritis. Penambahan luas lahan kritis Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   81  
  • bisa disebabkan karena faktor alam (seperti kebakaran hutan) dan faktor manusia (illegal loging dan perambahan hutan). 2.4.4. ANALISIS CAPAIAN INDIKATOR SPESIFIK DAN MENONJOL Ada enam indikator penunjang yang diperhatikan untuk kepentingan Analisis Capaian Indikator Spesifik dan Menonjol bidang pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup di provinsi Kalimantan Tengah, yaitu: (1) persentase luas lahan rehabilitasi dalam hutan terhadap lahan kritis, (2) rehabilitasi lahan luar hutan, (3) luas kawasan konservasi, (4) jumlah tindak pidana perikanan, (5) persentase terumbu karang dalam keadaan baik, dan (6) luas kawasan konservasi laut. Penilaian atas indikator penunjang yang spesifik dan menonjol dapat diketahui dari analisis kesesuaian antara harapan dan kenyataan. Bila hasilnya sesuai maka indikator penunjang itulah yang dapat dianggap suatu keberhasilan spesifik dan menonjol (lihat tabel 2.5). Melalui data pada tabel 2.5, dapat diketahui bahwa hanya ada satu indikator penunjang yang sesuai, sedangkan lima sisanya (persentase luas lahan rehabilitasi dalam hutan terhadap lahan kritis, (2) rehabilitasi lahan luar hutan, jumlah tindak pidana perikanan, persentase terumbu karang dalam keadaan baik, dan luas kawasan konservasi laut) tidak sesuai. Dengan demikian dapat ditetapkan indikator yang spesifik dan menonjol bidang pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup di provinsi Kalimantan Tengah yaitu keberhasilan mempertahankan luas kawasan konservasi yang tercermin melalui tren tetap/datar (lihat gambar 2.5). Tabel 2.5 Hasil Analisis Capaian Indikator Spesifik dan Menonjol Bidang Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup Di Provinsi Kalimantan Tengah Tahun 2004 – 2008 No Indikator Penunjang Harapan Fakta Keterangan Persentase luas lahan rehabilitasi 1 Trennya Naik Trennya Turun tidak sesuai dalam hutan terhadap lahan kritis 2 Rehabilitasi lahan luar hutan Trennya Naik Trennya turun tidak sesuai 3 Luas kawasan konservasi Trennya Tetap Trennya Tetap sesuai 4 Jumlah tindak pidana perikanan Trennya Turun Trennya Naik tidak sesuai Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   82  
  • Persentase terumbu karang dalam 5 Trennya Naik - tidak sesuai keadaan baik 6 Luas kawasan konservasi laut Trennya Naik Trennya tetap tidak sesuai Sumber : Diolah dari Matrik Data EKPD Provinsi Kalimantan Tengah. Grafik capaian indikator spesifik dan menonjol bidang pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan hidup di Provinsi Kalimantan Tengah Tahun 2004 – 2008 dapat dilihat pada gambar berikut. 1,70  1,70  1,70  1,70  1,70  1,70  1,80  Juta 1,60  1,40  1,20  1,00  0,80  0,60  0,40  0,20  ‐ 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Gambar 2.36. Grafik luas kawasan konservasi di Provinsi Kalimantan Tengah Tahun 2004-2008 2.4.5. REKOMENDASI KEBIJAKAN Beberapa rekomendasi yang dapat disarankan untuk mempertahankan dan meningkatkan kualitas sumber daya alam kehutanan dan kelautan adalah sebagai berikut : 1) Sektor Kehutanan : • Meningkatkan keteraturan dan ketertiban industri hasil hutan, terutama untuk untuk memenuhi kebutuhan kayu sebagai bahan bangunan dan industri dengan mengutamakan kebutuhan bagi masyarakat dan industri lokal. Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   83  
  • • Menjalankan pengawasan yang lebih ketat dan memberikan sangsi berat terhadap pelaku illegal logging. • Meningkatkan rehabilitasi hutan dan lahan dengan mendorong keterlibatan semua pihak. • Meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar hutan dengan pemanfaatan kawasan dan pengelolaan sumber daya hutan secara optimal dan menitikberatkan pada kegiatan yang memproduksi hasill hutan ikutan non kayu melalui kemitraan antara masyarakat dan perusahaan HPH. • Sosialisasi fungsi hutan dan pengelolaan hutan lestari kepada masyarakat. • Melembagakan gerakan nasional rehabilitasi hutan dan lahan yang sesuai potensi dan kearifan local • Meningkatkan perlindungan hutan dan konservasi alam bersama masyarakat. 2) Sektor Kelautan : • Menegakan hukum dengan mengacu pada undang-undang yang mengatur pengelolaan wilayah pesisir dan laut dan melimpahkan kewenangannya kepada daerah untuk mengurangi degradasi ekologi di wilayah pesisir dan laut Provinsi Kalimantan Tengah. • Meningkatkan pemanfaatan dan pengelolaan wilayah pesisir dan laut secara lintas sektor, sehingga pemanfaatan dan pengelolaan wilayah tersebut mampu menjangkau semua kepentingan stakeholder dan tidak menimbulkan konflik kepentingan. • Mengoptimalkan eksploitasi dan eksplorasi potensi perikanan dan non perikanan di wilayah pesisir dan laut dengan melibatkan masyarakat lokal dengan memperhatikan keberlanjutan wilayah tersebut secara ekonomi dan ekologi, termasuk diantaranya melakukan rehabilitasi ekosistem yang telah terindikasi mengalami kerusakan. • Meningkatkan pendidikan dan kesehatan masyarakat di wilayah pesisir dengan cara membangun sarana dan prasarana pendidikan dan kesehatan yang layak di wilayah tersebut. • Mengatur tata ruang wilayah pesisir dan laut serta peta potensi sumberdaya pesisir dan kelautan yang jelas yang dapat dijadikan acuan dalam pembangunan wilayah pesisir dan laut • Mengoptimalkan perananan lembaga/institusi pemerintahan yang terkait dengan upaya pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   84  
  • 2.5. TINGKAT KESEJAHTERAAN SOSIAL Masalah dan tantangan pembangunan kesejahteraan sosial di provinsi Kalimantan Tengah dapat dijelaskan melalui lima indikator yaitu: (1) persentase penduduk miskin, (2) tingkat pengangguran terbuka, (3) persentase pelayanan kesejahteraan sosial bagi anak (terlantar, jalanan, balita terlantar, dan nakal), (4) persentase pelayanan kesejahteraan sosial bagi lanjut usia, dan (5) persentase pelayanan dan rehabilitasi sosial (penyandang cacat, tunasosial, dan korban penyalahgunaan narkoba). 2.5.1. PERSENTASE PENDUDUK MISKIN Persentase penduduk miskin di provinsi Kalimantan Tengah memang lebih rendah dibandingkan tingkat nasional dengan tren tahun 2004 – 2008 semakin menurun. Pada awal tahun perencanaan yaitu tahun 2004, persentase jumlah penduduk miskin di Kalimantan Tengah sebesar 10,44% sedangkan pada tingkat nasional sebesar 16,66%. Kemudian pada akhir tahun perencanaan yaitu tahun 2008 di Kalimantan Tengah sudah turun menjadi 8,71%, sedangkan pada tingkat nasional juga sudah turun menjadi 15,42%. Dipandang dari fenomena tersebut tampaknya pemerintah provinsi Kalimantan Tengah memang telah mampu menurunkan angka kemiskinan secara konsisten (trennya semakin turun). Namun demikian permasalahannya yaitu bahwa angka capaian menurunkan tingkat kemiskinan tersebut masih dianggap tinggi, sebab batas target capaian tertinggi secara nasional yaitu pada level 8,2% (RPJM Nasional 2004 – 2009). Angka capaian secara rata-rata persentase jumlah penduduk miskin di provinsi Kalimantan Tengah selama periode perencanaan tahun 2004 – 2008 yaitu sebesar 10,05%, sedangkan pada periode tahun yang sama di tingkat nasional yaitu rata-rata sebesar 16,62%. Data perkembangan persentase penduduk miskin di provinsi Kalimantan Tengah maupun Nasional dapat dilihat pada gambar 2.37. Kendala umum untuk menurunkan angka kemiskinan di provinsi Kalimantan Tengah masih bersifat klasik yaitu terletak pada keterbatasan kemampuan pengelolaan potensi sumberdaya alam (tanah) karena kelangkaan modal dan keterbatasan penguasaan teknologi. Namun secara khusus dan rinci kendala untuk menurunkan angka kemiskinan di provinsi Kalimantan Tengah sebagai berikut: 1) Kapasitas kelembagaan ekonomi keuangan masyarakat masih rendah Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   85  
  • 2) Partisipasi masyarakat dalam mewujudkan peningkatan ketahananan pangan lokal dan produksi pertanian masih rendah. Persentase Penduduk Miskin 20,00 17,75 16,66 16,69 16,58 15,42 15,00 10,44 10,73 11,00 9,38 8,71 10,00 5,00 0,00 2004 2005 2006 2007 2008 Kalteng Nasional   Gambar 2.37. Grafik Persentase Penduduk Miskin di Kalteng dan Nasional 3) Kesejahteraan masyarakat miskin yang diupayakan melalui peningkatan penerapan teknologi dan pemasaran hasil produksi masih rendah. 4) Partisipasi masyarakat dalam pelayananan kesehatan dan keluarga berencana bagi masyarakat miskin masih rendah. 5) Pengetahuan masyarakat miskin tentang pencegahan penyakit menular, gizi keluarga dan perilaku hidup sehat masih rendah. 6) Investasi kesehatan guna menjamin terselenggaranya pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin masih belum optimal. 7) Layanan pendidikan anak usia dini dan wajib pendidikan dasar sembilan tahun bagi masyarakat miskin masih belum optimal. 8) Layanan pendidikan non formal, pendidikan luar biasa, minat baca bagi masyarakat miskin dan peningkatan kapasitas tenaga kependidikan masih belum optimal. 9) Partisipasi masyarakat miskin, transmigran dalam penyediaan rumah, air bersih, infra struktur perdesaan, sosial, pemberdayaan perempuan dan lingkungan hidup masih rendah. 10) Partisipasi masyarakat miskin dalam pemberdayaan ekonominya masih rendah. Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   86  
  • 2.5.2. TINGKAT PENGANGGURAN TERBUKA Persentase pengangguran terbuka di provinsi Kalimantan Tengah memang lebih rendah dibandingkan tingkat nasional dengan tren tahun 2004 – 2008 semakin menurun. Pada awal tahun perencanaan yaitu tahun 2004, persentase jumlah pengangguran terbuka di Kalimantan Tengah sebesar 5,59% sedangkan pada tingkat nasional sebesar 9,86%. Kemudian pada akhir tahun perencanaan yaitu tahun 2008 di Kalimantan Tengah sudah turun menjadi 4,79%, sedangkan pada tingkat nasional juga sudah turun menjadi 8,46%. Dipandang dari fenomena tersebut tampaknya pemerintah provinsi Kalimantan Tengah memang telah mampu menurunkan angka pengangguran terbuka secara konsisten (trennya semakin turun); dan bahkan di akhir tahun perencanaan sudah melampaui batas target capaian tertinggi secara nasional yaitu pada level 5,1% (RPJM Nasional 2004 – 2009). Angka capaian secara rata-rata persentase jumlah pengangguran terbuka di provinsi Kalimantan Tengah selama periode perencanaan tahun 2004 – 2008 yaitu sebesar 6,14%, sedangkan pada periode tahun yang sama di tingkat nasional yaitu rata- rata sebesar 10,38%. Data perkembangan persentase pengangguran terbuka di provinsi Kalimantan Tengah maupun Nasional dapat dilihat pada gambar 2.38. berikut ini. Persentase Tingkat Pengangguran Terbuka 16,00 14,22 14,00 12,00 9,86 10,28 10,00 8,53 9,11 8,46 8,00 6,68 5,59 5,11 6,00 4,79 4,00 2,00 0,00 2004 2005 2006 2007 2008 Kal teng Nasi onal Gambar 2.38 Grafik Persentase Tingkat Pengangguran Terbuka di Kalteng dan Nasional Kendala umum yang dihadapi dalam mengatasi persoalan pengangguran terbuka di provinsi Kalimantan Tengah yaitu disamping keterbatasan keterampilan, modal, dan pasar untuk membuka usaha-usaha baru pada berbagai level dan sektor, juga karena Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   87  
  • laju pertumbuhan lapangan kerja di pulau Jawa sangat lambat. Ditambah lagi bahwa angkatan kerja sukarela yang masuk dari pulau Jawa ke Kalimantan Tengah tidak disertai dengan membawa modal yang memadai. 2.5.3. PERSENTASE PELAYANAN KESEJAHTERAAN SOSIAL BAGI ANAK (TERLANTAR, JALANAN, BALITA TERLANTAR, DAN NAKAL) Persentase pelayanan kesejahteraan sosial bagi anak (Terlantar, Jalanan, Balita Terlantar, Dan Nakal) di provinsi Kalimantan Tengah memang lebih rendah dibandingkan tingkat nasional dengan tren tahun 2004 – 2008 semakin menurun. Pada awal tahun perencanaan yaitu tahun 2004, persentase pelayanan kesejahteraan sosial bagi anak di Kalimantan Tengah sebesar 1,80% sedangkan pada tingkat nasional sebesar 2,18%. Kemudian pada akhir tahun perencanaan yaitu tahun 2008 di Kalimantan Tengah sudah turun menjadi 1,16%, sedangkan pada tingkat nasional juga sudah turun menjadi 1,25%. Dipandang dari fenomena tersebut tampaknya pemerintah provinsi Kalimantan Tengah memang telah mampu mengatasi masalah pelayanan kesejahteraan sosial bagi anak secara konsisten (trennya semakin turun). Angka capaian secara rata-rata persentase pelayanan kesejahteraan sosial bagi anak di provinsi Kalimantan Tengah selama periode perencanaan tahun 2004 – 2008 yaitu sebesar 1,48%, sedangkan pada periode tahun yang sama di tingkat nasional yaitu rata-rata sebesar 1,70%. Data perkembangan persentase pelayanan kesejahteraan sosial bagi anak di provinsi Kalimantan Tengah maupun Nasional dapat dilihat pada gambar 2.39. berikut ini. Persentase Pelayanan Kesejahteraan Sosial  Bagi Anak (Terlantar, Jalanan, Balita Terlantar,  dan Nakal) 2,50 2,18 1,80 1,95 2,00 1,64 1,71 1,48 1,41 1,32 1,50 1,25 1,16 1,00 0,50 0,00 2004 2005 2006 2007 2008 Kalteng Nasional Gambar 2.39. Grafik Persentase pelayanan kesejahteraan sosial bagi anak (terlantar, jalanan, balita terlantar, dan nakal) di provinsi Kalimantan Tengah di Kalteng dan Nasional Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   88  
  • 2.5.4. PERSENTASE PELAYANAN KESEJAHTERAAN SOSIAL BAGI LANJUT USIA Persentase pelayanan kesejahteraan sosial bagi lanjut usia di provinsi Kalimantan Tengah memang lebih rendah dibandingkan tingkat nasional dengan tren tahun 2004 – 2008 semakin menurun. Pada awal tahun perencanaan yaitu tahun 2004, persentase pelayanan kesejahteraan sosial bagi lanjut usia di Kalimantan Tengah sebesar 1,43% sedangkan pada tingkat nasional sebesar 1,42%. Kemudian pada akhir tahun perencanaan yaitu tahun 2008 di Kalimantan Tengah sudah turun menjadi 0,54%, sedangkan pada tingkat nasional juga sudah turun menjadi 0,72%. Dipandang dari fenomena tersebut tampaknya pemerintah provinsi Kalimantan Tengah memang telah mampu mengatasi masalah pelayanan kesejahteraan sosial bagi lanjut usia secara konsisten (trennya semakin turun). Angka capaian secara rata-rata persentase pelayanan kesejahteraan sosial bagi lanjut usia di provinsi Kalimantan Tengah selama periode perencanaan tahun 2004 – 2008 yaitu sebesar 0,97%, sedangkan pada periode tahun yang sama di tingkat nasional yaitu rata-rata sebesar 0,96%. Data perkembangan persentase pelayanan kesejahteraan sosial bagi lanjut usia di provinsi Kalimantan Tengah maupun Nasional dapat dilihat pada gambar 2.40. berikut ini. Persentase Pelayanan Kesejahteraan Sosial  Bagi Lanjut Usia 2,00 1,43 1,42 1,50 1,25 1,06 0,96 0,92 1,00 0,70 0,68 0,72 0,54 0,50 0,00 2004 2005 2006 2007 2008 Kalteng Nasional Gambar 2.40. Grafik persentase pelayanan kesejahteraan sosial bagi lanjut usia di provinsi Kalimantan Tengah di Kalteng dan Nasional Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   89  
  • 2.5.5. PERSENTASE PELAYANAN DAN REHABILITASI SOSIAL (PENYANDANG CACAT, TUNASOSIAL, DAN KORBAN PENYALAHGUNAAN NARKOBA) Persentase pelayanan dan rehabilitasi sosial di provinsi Kalimantan Tengah memang lebih rendah dibandingkan tingkat nasional. Pada awal tahun perencanaan yaitu tahun 2004, persentase pelayanan dan rehabilitasi sosial di Kalimantan Tengah sebesar 0,54% sedangkan pada tingkat nasional sebesar 1,00%. Kemudian pada akhir tahun perencanaan yaitu tahun 2008 di Kalimantan Tengah sudah turun sedikit menjadi 0,50%, sedangkan pada tingkat nasional juga sudah turun menjadi 0,74%. Dipandang dari fenomena tersebut tampaknya pemerintah provinsi Kalimantan Tengah memang telah mampu mengatasi masalah pelayanan dan rehabilitasi sosial, dimana angkanya selalu di bawah level nasional. Namun demikian angka capaian menunjukkan tren meningkat yang bermakna ada masalah (makna negatif semakin meningkat). Semestinya angka pelayanan dan rehabilitasi sosial semakin turun. Angka capaian secara rata-rata persentase pelayanan dan rehabilitasi sosial di provinsi Kalimantan Tengah selama periode perencanaan tahun 2004 – 2008 yaitu sebesar 0,57%, sedangkan pada periode tahun yang sama di tingkat nasional yaitu rata-rata sebesar 0,93%. Data perkembangan persentase pelayanan dan rehabilitasi sosial di provinsi Kalimantan Tengah maupun Nasional dapat dilihat pada gambar 2.41. berikut ini. Persentase Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial  (Penyandang Cacat, Tunasosial, dan Korban  Penyalahgunaan Narkoba) 1,50 1,26 1,13 1,00 1,00 0,74 0,54 0,55 0,57 0,59 0,53 0,60 0,50 0,00 2004 2005 2006 2007 2008 Kalteng Nasional Gambar 2.41. Grafik persentase pelayanan kesejahteraan sosial bagi lanjut usia di provinsi Kalimantan Tengah di Kalteng dan Nasional Kemudian masalah pelayanan kesejahteraan social bagi anak, bagi lanjut usia, dan rehabilitasi sosial di provinsi Kalimantan Tengah masih belum optimal. Hal ini terjadi Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   90  
  • karena berbagai kegiatan pembangunan prioritas yang memerlukan dana besar (urusan Pilkadasung), sehingga dana untuk penanggulangan masalah kesejahteraan sosial sedikit berkurang. 2.5.6. CAPAIAN INDIKATOR Satuan indikator yang digunakan yaitu agregasi angka relatif (persentase). Maksud agregasi ini yaitu untuk membuat satu grafik capaian indikator kesejahteraan sosial dengan lima indikator pendukung yaitu penduduk miskin, tingkat pengangguran terbuka, pelayanan kesejahetraan sosial bagi anak, pelayanan kesejahteraan sosial bagi lanjut usia, dan pelayanan dan rehabilitasi sosial. • Grafik Capaian Indikator Kesejahteraan Sosial Grafik ini menyajikan capaian indikator kesejahteraan sosial di provinsi Kalimantan Tengah periode 2004 - 2008 dibandingkan dengan indikator capaian secara nasional. Tujuan penyajian grafik ini yaitu untuk menilai kinerja pembangunan daerah bidang kesejahteraan sosial melalui pendekatan Relevansi dan Efektivitas selama periode 2004 - 2008. 98.00 1.00 0.80 97.00 0.60 96.00 0.40 Kalteng 95.00 0.20 Nasional 0.00 94.00 Tren Kalteng -0.20 Tren Nasional 93.00 -0.40 -0.60 92.00 -0.80 91.00 -1.00 2004 2005 2006 2007 2008 Gambar 2.42. Grafik Capaian Indikator Kesejahteraan Sosial di Provinsi Kalimantan Tengah dengan Lima Indikator Pendukung • Analisis Relevansi Analisis relevansi pada sub bahasan ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah tren capaian pembangunan bidang kesejahteraan sosial di provinsi Kalimantan Tengah Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   91  
  • periode 2004 – 2008 sejalan atau lebih baik dari capaian secara nasional. Kegunaannya yaitu untuk menilai sejauh mana tujuan/sasaran pembangunan ekonomi makro yang direncanakan mampu menjawab permasalahan utama/tantangan. Sesuai Grafik Capaian Indikator Kesejahteraan Sosial di Provinsi Kalimantan Tengah dengan Lima Indikator Pendukung, dapat diketahui bahwa tren capaian pembangunan Kesejahteraan Sosial baik di povinsi Kalimantan Tengah maupun nasional mula-mula menunjukkan tren meningkat (naik) dari tahun 2004 sampai 2007, namun setelah itu terus turun sampai tahun 2008. Masa puncak capaian hasil pembangunan di provinsi Kalimantan Tengah terjadi pada tahun 2007, sedangkan nasional pada tahun 2006, dan setelah itu baik Kalteng maupun nasional terus mengalami penurunan. Melalui analisis relevansi menggunakan pendekatan grafik tren (lihat gambar 14) dapat dinilai bahwa tren capaian pembangunan daerah bidang kesejahteraan sosial di provinsi Kalimantan Tengah sudah sejalan dengan capaian pembangunan nasional; sehingga dapat dikatakan bahwa tujuan/sasaran pokok pembangunan bidang ekonomi yang direncanakan dengan mengacu RPJMD provinsi Kalimantan Tengah tahun 2004 – 2009 mampu menjawab permasalahan utama/tantangan. • Analisis Efektifitas Analisis efektifitas ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana capaian pembangunan daerah bidang Kesejahteraan Sosial membaik dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Kegunaannya yaitu untuk mengukur dan melihat kesesuaian antara hasil dan dampak pembangunan bidang Kesejahteraan Sosial di provinsi Kalimantan Tengah tahun 2004 – 2008 terhadap tujuan yang diharapkan. Sesuai Grafik Capaian Indikator Kesejahteraan Sosial di Provinsi Kalimantan Tengah dengan lima Indikator Pendukung (lihat gambar 14), dapat dilihat tinggi diagram batang tahun 2005 sedikit lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Berikutnya lagi dapat dilihat bahwa tinggi diagram batang tahun 2006, 2007, 2008 sedikit lebih tinggi dari tahun-tahun sebelumnya. Keseluruhan diagram batang mula-mula rendah namun semakin tinggi dari tahun sebelumnya terutama tahun 2006 sampai 2008. Melalui analisis efektivitas menggunakan pendekatan grafik diagram batang (lihat gambar 14) dapat dinilai bahwa capaian indikator kesejahteraan sosial di provinsi Kalimantan Tengah sejak tahun 2006 sampai 2008 semakin membaik jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Dapat dikatakan bahwa implementasi program/ Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   92  
  • kegiatan kesejahteraan sosial yang mengacu butir-butir seperti yang tercantum dalam RPJMD provinsi Kalimantan Tengah tahun 2004 – 2009 sudah ada kesesuaian antara hasil dan dampak pembangunan terhadap tujuan yang diharapkan. 2.5.7. ANALISIS CAPAIAN INDIKATOR SPESIFIK DAN MENONJOL Ada lima indikator penunjang yang diperhatikan untuk kepentingan Analisis Capaian Indikator Spesifik dan Menonjol bidang kesejahteraan social di provinsi Kalimantan Tengah, yaitu: (1) persentase penduduk miskin, persentase tingkat pengangguran terbuka, persentase pelayanan kesejahetraan sosial bagi anak, persentase pelayanan kesejahteraan sosial bagi lanjut usia, dan persentase pelayanan dan rehabilitasi sosial. Penilaian atas indikator penunjang yang spesifik dan menonjol dapat diketahui dari analisis kesesuaian antara harapan dan kenyataan. Bila hasilnya sesuai maka indikator penunjang itulah yang dapat dianggap suatu keberhasilan spesifik dan menonjol (lihat tabel 2.6). Melalui data pada tabel 2.6, dapat diketahui bahwa ada empat indikator penunjang yang sesuai, sedangkan satu sisanya tidak sesuai. Dengan demikian dapat ditetapkan indikator yang spesifik dan menonjol bidang kesejahteraan sosial di provinsi Kalimantan Tengah yaitu keberhasilan penanganan masalah kemiskinan (lihat gambar 2.43.), pengurangan jumlah pengangguran terbuka (lihat gambar 2.44.), Pelayanan Tabel 2.6 Hasil Analisis Capaian Indikator Spesifik dan Menonjol Bidang Kesejahteraan Sosial Di Provinsi Kalimantan Tengah, Tahun 2004 – 2008 No Indikator Penunjang Harapan Fakta Keterangan 1 Persentase Penduduk Miskin Trennya Turun Trennya Turun sesuai 2 Tingkat Pengangguran Terbuka Trennya Turun Trennya Turun sesuai Persentase Pelayanan Kesejahteraan 3 sosial bagi anak (terlantar, jalanan, balita, Trennya turun Trennya Turun sesuai dan nakal) Persentase Pelayanan Kesejahteraan 4 Trennya turun Trennya Turun sesuai sosial bagi lanjut usia Persentase pelayanan dan rehabilitasi 5 sosial (penyandang cacat, tunasosial, dan Trennya turun Trennya Naik tidak sesuai korban penyalahgunaan narkoba) Sumber : Diolah dari Matrik Data EKPD Provinsi Kalimantan Tengah. Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   93  
  • Kesejahteraan sosial bagi anak (lihat gambar 2.45.), Pelayanan Kesejahteraan sosial bagi lanjut usia (lihat gambar 2.46.). Keempat indikator tersebut dapat dianggap mampu mencerminkan keberhasilan pembangunan bidang kesejahteraan sosial. 12,00 10,73 11,00 10,44 9,38 10,00 8,71 8,50 8,00 6,00 4,00 2,00 0,00 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Gambar 2.43. Grafik capaian indikator Persentase Penduduk Miskin di Provinsi Kalimantan Tengah 8,53 9,00 8,00 6,68 7,00 5,59 5,75 6,00 5,11 4,79 5,00 4,00 3,00 2,00 1,00 0,00 2004 2005 2006 2007 2008 2009   Gambar 2.44. Grafik capaian indikator Tingkat Pengangguran Terbuka di Provinsi Kalimantan Tengah Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   94  
  • 2,00 1,80 1,80 1,64 1,48 1,60 1,32 1,40 1,16 1,20 1,01 1,00 0,80 0,60 0,40 0,20 0,00 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Gambar 2.45. Grafik capaian indikator Persentase Pelayanan Kesejahteraan sosial bagi anak di Provinsi Kalimantan Tengah 1,40 1,25 1,20 0,96 1,00 0,80 0,68 0,54 0,60 0,48 0,40 0,20 0,00 2004 2005 2006 2007 2008 Gambar 2.46. Grafik capaian indikator Persentase Pelayanan Kesejahteraan sosial bagi lanjut usia di Provinsi Kalimantan Tengah 2.5.8. REKOMENDASI KEBIJAKAN Walaupun hasil analisis relevansi dan efektivitas menunjukkan bahwa tujuan/sasaran pembangunan bidang kesejahteraan sosial sudah mampu menjawab permasalahan utama/tantangan, juga terdapat kesesuaian antara hasil dan dampak pembangunan terhadap tujuan yang diharapkan; namun karena pembangunan tidak Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   95  
  • hanya sampai di titik itu saja maka apa saja faktor yang memberikan dampak positif terhadap tujuan pembangunan perlu dikembangkan, dan sebaliknya. Rekomendasi kebijakan: A. Upaya penanggulangan kemiskinan, dilakukan melalui: • Kebijakan meningkatkan kapasitas kelembagaan pemerintah daerah dan masyarakat, partisipasi masyarakat dalam mewujudkan peningkatan ketahananan pangan lokal dan produksi pertanian. • Kebijakan meningkatkan kesejahteraan masyarakat miskin melalui peningkatan hasil produksi/penerapan teknologi dan pemasaran hasil produksi pertanian, perkebunan, peternakan, kelautan dan perikanan. • Kebijakan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pelayananan kesehatan dan keluarga berencana bagi masyarakat miskin. • Kebijakan meningkatkan pengetahuan masyarakat miskin tentang pencegahan penyakit menular, gizi keluarga dan perilaku hidup sehat. • Kebijakan meningkatkan investasi kesehatan guna menjamin terselenggaranya pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin. • Kebijakan meningkatkan layanan pendidikan anak usia dini dan wajib pendidikan dasar sembilan tahun bagi masyarakat miskin. • Kebijakan meningkatkan layanan pendidikan non formal, pendidikan luar biasa, minat baca bagi masyarakat miskin dan peningkatan kapasitas tenaga kependidikan. • Kebijakan meningkatkan partisipasi masyarakat miskin, transmigran dalam penyediaan rumah, air bersih, infra struktur perdesaan, sosial, pemberdayaan perempuan dan lingkungan hidup. • Kebijakan meningkatkan partisipasi masyarakat miskin dalam pemberdayaan ekonomi. B. Upaya Mengurangi Penganggguran Terbuka • Kebijakan penciptaan lapangan kerja formal. Kondisi angkatan kerja yang sebagian besar • didominasi oleh pendidikan sekolah dasar (SD) ke bawah dan berusia muda diperkirakan Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   96  
  • • tidak banyak berubah hingga 10 tahun mendatang. Oleh karena itu, penciptaan lapangan • kerja diprioritaskan ke arah industri padat karya, industri kecil dan menengah (IKM), serta industri yang berorientasi ekspor • Kebijakan meningkatkan keterampilan pekerja. Tingkat keterampilan yang tinggi diharapkan akan memfasilitasi pekerja untuk berpindah dari pekerjaan informal ke formal. Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   97  
  • BAB III. KESIMPULAN 1. TINGKAT PELAYANAN PUBLIK DAN DEMOKRASI Kinerja pembangunan daerah untuk meningkatkan pelayanan publik dan demokrasi di provinsi Kalimantan Tengah tahun 2004 - 2009 sudah membaik. Hal ini ditunjang oleh beberapa keberhasilan, seperti misalnya keberhasilan kemampuan aparat penegak hukum menyelesaikan berbagai kasus korupsi, misalnya tahun 2009 sudah mampu menyelesaikan 90% dari jumlah kasus korupsi yang dilaporkan. Kemudian karena adanya keberhasilan meningkatkan jumlah aparat yang berijasah minimal S-1, sehingga pelayanan publik menjadi lebih baik. Sejak tahun 2009 kualitas pelayanan berbagai urusan perijinan menjadi lebih baik setelah hampir semua kabupaten/kota sudah memiliki peraturan daerah pelayanan satu atap yang mencapai 71,43% (10 dari 14 kabupaten/kota yang ada). Dari segi partisipasi perempuan yang tercermin dalam GEM maka perlu peningkatan peranan perempuan baik dalam bidang pendidikan, kesehatan dan ekonomi. Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index (HDl) di Kalimantan Tengah telah meningkat sebesar 3,10 selama kurun waktu 2004 – 2009 yaitu 71,70 pada tahun 2004 menjadi 74,80 pada tahun 2009 (Data EKPD (2009)). Namun, bila melihat Indeks Pembangunan Gender (Gender-related Development Index (GDI) tahun 2009 dan Indeks Pemberdayaan Gender (Gender Empowerment Measurement (GEM) masih terdapat kesenjangan relatif besar yang mengindikasikan besarnya perbedaan manfaat yang diterima oleh perempuan di bandingkan dengan laki-laki. GDI Indonesia yang dihitung berdasarkan variabel pendidikan, kesehatan dan ekonomi, walaupun mengalami peningkatan dari 60,78 pada tahun 2004 menjadi 67,57 pada tahun 2009, tetapi lebih rendah bila dibandingkan dengan nilai HDI pada tahun yang sama. GEM Kalimantan Tengah yang mengukur partisipasi perempuan dibidang ekonomi, politik dan pengambilan keputusan juga meningkat dari 57,11 pada tahun 2004 menjadi 66,75 pada tahun 2009. Jika nilai GDI mendekati HDI, artinya di daerah tersebut hanya sedikit terjadi disparitas gender dan kaum perempuan telah semakin terlibat dalam proses pembangunan. Tolok ukur pro kesetaraan gender/pro- perempuan (pro-women), dimaksudkan untuk lebih banyak membuka kesempatan pada kaum perempuan untuk terlibat dalam arus utama pembangunan. Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   98  
  • Namun yang perlu dicermati kembali yaitu adanya penurunan kinerja tingkat pelayanan demokrasi di Kalimantan Tengah mengingat partisipasi masyarakat di dalam pelaksanaan pemilu baik Pemilu Legislatif, PILPRES maupun PILKADA cenderung menurun. Partisipasi politik masyarakat pada pemilu legislatif turun sekitar 9,21% dari 78,38% tahun 2004 menjadi 69,17% tahun 2009. Dalam pemilihan presiden, partisipasi masyarakat turun dari 69,52% menjadi 66,00% atau mengalami penurunan sekitar 3,52%. Dalam pemilihan kepala daerah tingkat partisipasi masyarakat rendah (63,20% pada tahun 2005). Mengingat tahun 2010 akan dilaksanakan pemilihan kepala daerah (Gubernur dan Bupati) maka sosialisasi tentang hak dan kewajiban warga dalam pilkada dan peningkatan peran serta masyarakat sangat diperlukan. 2. TINGKAT KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA Kinerja pembangunan daerah untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di provinsi Kalimantan Tengah tahun 2004 – 2008 semakin baik. Hal ini memang ditunjang oleh hampir semua indikator yang berhubungan dengan pendidikan seperti angka partisipasi murni SD/MI, Angka putus sekolah SD, angka putus sekolah SMP/MTs, angka putus sekolah menengah, angka melek aksara 15 tahun keatas, persentase jumlah guru SMP/MTs yang layak mengajar, persentase jumlah guru sekolah menengah yang layak mengajar sudah relatif tinggi tingkat capaiannya. Kemudian indikator bidang kesehatan seperti umur harapan hidup, jumlah kematian bayi, jumlah kematian ibu, prevalensi gizi buruk, prevalensi gizi kurang, persentase tenaga kesehatan per penduduk menunjukkan angka membaik. Namum demikian yang perlu diperhatikan adalah kualitas pelayanannya yang belum meningkat, Angka kematian ibu dan bayi masih belum terolah, tenaga kesehatan terutama dokter masih kurang dan penyebarannya ke daerah-daerah masih sangat minim terutama di kecamatan dan desa. Yang sangat kurang lagi adalah jumlah tenaga dokter spesialis dan sebaran spesialisasinya dirumah-rumah sakit. Dalam bidang keluarga berencana terilihat bahwa persentase penduduk ber KB sudah relatif tinggi namun persentase laju pertumbuhan penduduk juga masih tinggi dibanding angka rerata nasional. Hal ini disebabkan oleh ada pomeo dimasyarakat bahwa wilayah kalimantan tengah masih luas dan kekayaan alamnya masih tersedia sehingga tambahan anak merupakan berkah bagi keluarga tersebut. Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   99  
  • Seiring dengan kemajuan teknologi sekarang ini, maka dalam hal pembangunan pendidikan, yang perlu diperbaiki lagi adalah kualitas pembelajaran itu sendiri, tingkat penguasaan teknologi pembelajaran dirasakan masih kurang. Banyak kalangan pendidik yang masih gagap teknologi (gaptek) sehingga kemampuan mengopreasikan media/alat bantu pembelajaran masih lemah. Kurikulum muatan lokal untuk SMP dan SMA masih belum tersedia. Yang paling penting sebenarnya adalah peningkatan etos kerja. Dunia pendidikan memerlukan orang yang serius, disiplin dan profesional dalam menjalankan tugasnya sehingga dapat menjadi teladan bagi masyarakat. Seorang pendidik dan tenaga kependidikan diharapkan dapat menghayati tugas pokok dan fungsinya sebagai abdi masyarakat dan abdi negara. Dengan demikian pelatihan mengenai emosional skill dan advertising skill sangat diperlukan. 3. TINGKAT PEMBANGUNAN EKONOMI Kinerja pembangunan daerah untuk meningkatkan pembangunan ekonomi di provinsi Kalimantan Tengah tahun 2004 – 2008 dengan tujuh indikator pendukung yaitu pertumbuhan ekonomi, ekspor, output industri manufaktor, output UMKM, pendapatan perkapita, inflasi, dan infrastruktur fisik (jalan) pada awalnya yaitu tahun 2004 – 2005 menunjukkan peningkatan, namun setelah itu sejak tahun 2006 – 2008 berbalik turun. Penyebabnya yaitu capaian pertumbuhan ekonomi, persentase output industri manufaktor terhadap PDRB, persentase output UMKM terhadap PDRB, pendapatan perkapita cenderung turun dan inflasi cenderung naik. Keberhasilan yang dicapai hanya pada peningkatan persentase ekspor terhadap PDRB. Hasil analisis menggunakan pendekatan relevansi dan efektifitas menunjukkan bahwa tujuan/ sasaran pembangunan daerah untuk tingkat pembangunan ekonomi sudah relevan namun tidak efektif terhadap tujuan/sasaran pembangunan nasional. Ketidak efektifan tersebut lebih dominan disebabkan oleh kendala infrastruktur fisik wilayah, dan ketidakpastian penetapan rencana tata ruang wilayah provinsi (RTRWP) di Kalimantan Tengah. Akibatnya realisasi investasi di sektor ril menjadi rendah. 4. KUALITAS PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM DAN LINGKUNGAN HIDUP Kinerja pembangunan daerah untuk meningkatkan kualitas pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup di Provinsi Kalimantan Tengah memang belum baik namun demikian kualitasnya masih di atas rata-rata nasional. Hasil analisis relevansi dapat dikatakan bahwa tren capaian pembangunan pengelolaan Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   100  
  • sumber daya alam di Provinsi Kalimantan Tengah, khususnya tahun 2008, masih belum sejalan atau belum baik dari capaian pembangunan nasional. Hal ini terjadi karena ada penurunan persentase luas lahan rehabilitasi dalam hutan terhadap lahan kritis (luasan lahan kritis meningkat). Peningkatan luas lahan kritis mungkin disebabkan faktor alam (seperti kebakaran hutan) dan faktor manusia (illegal loging dan perambahan hutan). Provinsi Kalimantan Tengah di masa lalu lebih banyak memaksimalkan potensi hasil hutan yang dimilikinya, saat ini fokus pengelolaan sumberdaya alam lebih banyak diarahkan pada sektor perkebunan dan pertambangan. Sektor kelautan, dalam hal ini wilayah pesisir dan laut, sampai saat ini masih belum digarap secara optimal. Dengan keluarnya Undang-Undang Nomor 27 tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil dan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor : Per.16/Men/2008 tentang Perencaaan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil memberikan kesempatan daerah untuk mengoptimalkan potensi wilayah pesisir dan laut tersebut. Walaupun potensi sumber daya alam kelautan di Provinsi Kalimantan belum banyak dieksploitasi, namun indikasi kerusakan terumbu karang di wilayah pesisir dan laut tetap ada. Indikasi kerusakan tersebut lebih banyak disebabkan oleh aktivitas manusia yang tidak banyak berhubungan secara langsung dengan potensi hasil laut, misalnya adanya penambangan pasir dan zirkon di wilayah pesisir. Potensi terumbu karang di Provinsi Kalimantan Tengah banyak terdapat di perairan Senggora, Kabupaten Kotawaringin Barat. Potensi tersebut masih belum dapat dikualifikasikan sebagai terumbu karang yang bernilai ekstotis. Keberadaannya hanya sebagai habitat ikan dan hewan laut lainnya dalam lingkungan itu. 5. TINGKAT KESEJAHTERAAN SOSIAL Kinerja pembangunan daerah untuk meningkatkan kesejahteraan sosial di provinsi Kalimantan Tengah tahun 2004 – 2008 yang diukur dengan lima indikator pendukung yaitu tingkat kemiskinan, pengangguran terbuka, pelayanan kesejahteraan social bagi anak (terlantar, jalanan, balita terlantar, dan nakal), pelayanan kesejahteraan social bagi lanjut usia, pelayanan dan rehabilitasi sosial (penyandang cacad, tunasosial, dan korban penyalahgunaan narkoba menunjukkan peningkatan dengan tingkat keberhasilan di atas rata-rata nasional. Keberhasilan ini di dukung oleh keberhasilan menurunkan tingkat kemiskinan, pengangguran terbuka, Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   101  
  • beban sosial (anak terlantar, jalanan, balita terlantar, dan nakal), dan beban sosial lanjut usia. Ketidak berhasilan kesejahteraan sosial hanya pada penderita rehabilitasi sosial (penyandang cacad, tunasosial, dan korban penyalahgunaan narkoba). Walaupun demikian jumlah golongan ini relatif sedikit. Hasil analisis relevansi dan efektifitas menunjukkan bahwa tujuan/ sasaran pembangunan daerah untuk tingkat kesejahteraan sosial sudah relevan dan efektif terhadap tujuan/sasaran pembangunan nasional. Kesesuaian dan keefektifan ini sangat ditunjang oleh kepedulian tinggi dari seluruh pemangku kepentingan mengatasi persoalan kesejahteraan sosial. Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   102  
  • LAMPIRAN Laporan Akhir EKPD Prov. Kalteng 2009   103