DALIH PEMBUNUHAN MASSAL GERAKAN 30 SEPTEMBER DAN KUDETA SUHARTO            JOHN ROOSA                Jakarta, 2008
Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto             Buku ini pertama kali diterbitkan dalam bahas...
untuk orangtua saya
DAFTAR ISIDaftar Ilustrasi                                   viiSekapur Sirih                                      xiKata ...
DAFTAR ILUSTRASI                         PETA1. Jakarta, 19652. Lapangan Merdeka3. Pangkalan Angkatan Udara Halim dan Luba...
DALIH PEMBUNUHAN MASSAL
SEKAPUR SIRIHS       aya mulai menulis tentang Gerakan 30 September saat menjadi       penerima beasiswa pascadoktoral Roc...
SEKAPUR SIRIH      Sesudah naskah awal saya diamkan selama dua tahun agar dapatmenyelesaikan pekerjaan saya yang berkaitan...
DALIH PEMBUNUHAN MASSAL: GERAKAN 30 SEPTEMBER DAN KUDETA SUHARTOgaskan bahwa penulisan sejarah hanyalah satu bagian dari k...
KATA PENGANTAR EDISI BAHASA INDONESIAS       aya mengantar terjemahan buku saya dengan sedikit kebimbangan.       Mengacu ...
KATA PENGANTAR EDISI BAHASA INDONESIAbayangkan bahwa satu dekade kemudian pemerintah akan terus melarangbuku-buku yang tid...
DALIH PEMBUNUHAN MASSAL: GERAKAN 30 SEPTEMBER DAN KUDETA SUHARTO      b. Seluruh anggota PKI dapat dianggap terlibat baik ...
KATA PENGANTAR EDISI BAHASA INDONESIAtah Sukarno melarang PSI dan Masjumi karena pemimpin-pemimpinkedua partai mendukung p...
Sudah saatnya pula untuk berhenti berpikir mengikuti stereotip-stereotip basi. Sepanjang kekuasaan Suharto PKI digambarkan...
KATA PENGANTAR EDISI BAHASA INDONESIA      Masalah besar lain yang muncul dalam kepustakaan yang sudahada adalah kurangnya...
DALIH PEMBUNUHAN MASSAL: GERAKAN 30 SEPTEMBER DAN KUDETA SUHARTOTak ada bukti untuknya. Penerbitan ketiga buku ini mendoro...
KATA PENGANTAR EDISI BAHASA INDONESIAmengusulkan perbaikan dalam hal gaya penulisan. Saya menghabiskanbeberapa minggu pada...
DALIH PEMBUNUHAN MASSAL: GERAKAN 30 SEPTEMBER DAN KUDETA SUHARTOdan pencekalan dirinya dari Indonesia layak dibaca kalanga...
DALIH PEMBUNUHAN MASSAL
Peta 1. Jakarta, 1965
PENDAHULUAN     Kebenaran tentang perebutan kekuasaan tidak boleh dibikin jelas;     pada mulanya ia terjadi tanpa alasan ...
PENDAHULUANAdapun tujuan aksi yang mereka umumkan ialah untuk melindungiPresiden dari komplotan jenderal kanan yang akan m...
DALIH PEMBUNUHAN MASSAL: GERAKAN 30 SEPTEMBER DAN KUDETA SUHARTOada pihak mana pun yang berani memperlihatkan pembangkanga...
PENDAHULUANmiliter untuk melaksanakan keinginan mereka? Bagaimana mungkinsebuah partai yang terorganisasi dengan baik, den...
DALIH PEMBUNUHAN MASSAL: GERAKAN 30 SEPTEMBER DAN KUDETA SUHARTOorganisasian di balik layar dan tujuan yang mendasarinya. ...
PENDAHULUANsebuah misteri tak terpecahkan bagi para sejarawan. Bukti-bukti yangterbatas adanya kebanyakan tidak dapat dian...
DALIH PEMBUNUHAN MASSAL: GERAKAN 30 SEPTEMBER DAN KUDETA SUHARTOterbatas oleh pasukan Angkatan Darat dan demonstrasi oleh ...
PENDAHULUANGambar 1. Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya, Jakarta. Foto: John Roosatelanjang menari-nari mengitari seora...
DALIH PEMBUNUHAN MASSAL: GERAKAN 30 SEPTEMBER DAN KUDETA SUHARTOGambar 2. Detil relief pada Monumen Pancasila Sakti. Perem...
PENDAHULUANmengenai penculikan dan pembunuhan tujuh perwira Angkatan Darat diJakarta, dan menjadi tontonan wajib setiap ta...
DALIH PEMBUNUHAN MASSAL: GERAKAN 30 SEPTEMBER DAN KUDETA SUHARTOGambar 3. Museum Pengkhianatan PKI, Lubang Buaya, Jakarta....
PENDAHULUANumum hampir tidak mempunyai pengetahuan langsung mengenainya.Hanya rezim Suharto saja yang mengaku mampu meliha...
DALIH PEMBUNUHAN MASSAL: GERAKAN 30 SEPTEMBER DAN KUDETA SUHARTOmenangani kasus-kasus ketika penguasa memutuskan bahwa “ke...
PENDAHULUANkelihatannya menutup mata dan merestui aksi-aksi itu dengan tidakmemberikan perlindungan keamanan yang cukup ba...
DALIH PEMBUNUHAN MASSAL: GERAKAN 30 SEPTEMBER DAN KUDETA SUHARTOpemerintahan Truman melihat kawasan ini dari segi sumber d...
PENDAHULUANbahwa pengambilalihan kekuasaan oleh sayap kiri di Indonesia sudahdekat. Menurut salah seorang pejabat yang had...
DALIH PEMBUNUHAN MASSAL: GERAKAN 30 SEPTEMBER DAN KUDETA SUHARTOIs Heartened by Red Setback in Indonesia Coup” (AS Gembira...
PENDAHULUANjika bukan sama sekali salah, tapi kelangkaan bahan mempersulit orangmengajukan versi tandingan. Tanpa informas...
DALIH PEMBUNUHAN MASSAL: GERAKAN 30 SEPTEMBER DAN KUDETA SUHARTOdokumen itu tidak dapat lain dari apa yang menampak: sebua...
PENDAHULUANdan sistematis. Mengingat sifat persoalannya, saya harus berpikir sepertidetektif – yang kadang-kadang memang h...
DALIH PEMBUNUHAN MASSAL: GERAKAN 30 SEPTEMBER DAN KUDETA SUHARTOmengenai kejadian-kejadian di Indonesia dalam 1965-1966. B...
PENDAHULUANlisan untuk memahami “apa yang sesungguhnya terjadi”: identitaspara pelaku, jumlah korban, kronologi kejadian y...
DALIH PEMBUNUHAN MASSAL: GERAKAN 30 SEPTEMBER DAN KUDETA SUHARTOnyataan-pernyataan G-30-S pada 1 Oktober 1965 dan kekalaha...
PENDAHULUANdan pemerintah AS. Bab-bab ini, sebagai tinjauan atas bukti-bukti yangada, berjalan dengan mengikuti logika pen...
DALIH PEMBUNUHAN MASSAL: GERAKAN 30 SEPTEMBER DAN KUDETA SUHARTOistilah karet tidak langsung.) Dua orang pakar tentang Ind...
PENDAHULUANGambar 4. Detil relief pada Monumen Pancasila Sakti: Suharto mengakhiri kekacauan,menciptakan ketertiban, dan m...
DALIH PEMBUNUHAN MASSAL: GERAKAN 30 SEPTEMBER DAN KUDETA SUHARTOoperasi penghancuran G-30-S oleh militer.      Penjelasan ...
PENDAHULUANbubaran organisasi-organisasi yang berafiliasi dengan PKI, dan demon-strasi mahasiswa menuntut pemerintah untuk ...
DALIH PEMBUNUHAN MASSAL: GERAKAN 30 SEPTEMBER DAN KUDETA SUHARTOlebih dari setengah juta orang.65      Ketiga koresponden ...
PENDAHULUANkuburan massal, menyusun daftar hitam orang yang akan dibunuh, me-nyiapkan alat khusus pencungkil mata. Topping...
DALIH PEMBUNUHAN MASSAL: GERAKAN 30 SEPTEMBER DAN KUDETA SUHARTOSuharto naik takhta. Kegembiraan akan penggulingan Sukarno...
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto
Próximos SlideShare
Carregando em...5
×

Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto

14,032

Published on

John Roosa mengulas secara menarik apa yang sebenarnya terjadi pada subuh 1 Oktober 1965 lampau. Sebuah gerakan yang dikenal dengan nama “G30S”.

Partai Komunis Indonesia (PKI) memang “terlibat” dalam Gerakan 30 September. Tapi terlalu sederhana jika menyimpulkannya sebagai “dalang”.Jalinan belikat peristiwa itu akan membuatnya tampak terlalu sederhana jika diserahkan hanya pada satu dalang.

Buku putih milik Angkatan Darat, tegas menyebut PKI sebagai dalang G30S. Benedict Anderson dan Ruth McVey dari Cornell University lewat analisanya yang dikeluarkan Januari 1966 -popular dengan nama Cornell Paper- menyebut bahwa G30S adalah konflik internal Angkatan Darat, sebuah kudeta yang dilakukan perwira-perwira bawahan karena tak puas dengan gaya borjuis perwira atasan.

Sementara Indonesianis dan pengamat militer asal Australia, Harold Crouch, menilai bahwa G30S adalah gabungan gerakan yang dilakukan perwira bawahan yang tak puas dan juga PKI. Sedangkan Indonesianis dan sosiolog asal Belanda, W.F. Wertheim menyodorkan analisa bahwa Suharto dan para jenderal Angkatan Darat nonkomunis lah yang berada di balik gerakan ini dengan menggunakan Sjam Kamurazzaman sebagai agen ganda, guna menciptakan dalih untuk menyerang PKI dan menggulingkan Sukarno.

John Roosa, melalui buku ini, berhasil menelusuri dan menutup “lubang” yang ada dari setiap analisa tersebut dan membentuk argumentasi baru. Tak sepenuhnya baru memang, tapi setidaknya paling mendekati argument yang paling masuk akal dari peristiwa itu.

Ia mengandalkan dokumen Supardjo, seorang Brigadir Jenderal Angkatan Darat yang ada dalam lingkaran gerakan tersebut yang diseret ke Mahmilub pada tahun 1967. Selain juga mengandalkan pengakuan dari seorang kader tinggi PKI yang masih hidup hingga sekarang, dan sejumlah dokumen yang dikeluarkan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat terkait peristiwa tersebut.

PKI, dalam analisa Roosa, terlibat sejauh pemikiran bahwa G30S memang diperlukan untuk menyelamatkan Sukarno. Mereka tahu bahwa sejumlah perwira Angkatan Darat telah menjalin hubungan mesra dengan AS. Mereka memprediksi dan mempercayai bahwa Angakatan Darat punya ambisi untuk menyingkirkan PKI, sebuah partai ke-4 terbesar dalam Pemilu 1955 yang memiliki kader dan massa di setiap pabrik dan perkebunan.

Sayangnya, PKI sebagai sebuah partai politik dengan disiplin dan organisasi baik, salah membaca situasi. Politibiro sebagai pengambil putusan penting dalam partai tak tahu soal rincian gerakan yang bakal digelar. Mereka pasrah sepenuhnya pada sang ketua sentral komite: Aidit yang sialnya lagi memiliki orang kepercayaan sejenis Sjam Kamaruzamman.

Lewat Biro Khusus, yang diyakini keberadaannya oleh Roosa, Aidit dan Sjam menjalin koneksi dengan para perwira progresif di Angkatan Darat. Para perwira Sukarnois yang mulai gerah dengan perwira-perwira “kapitalis-birokrat” di tubuh Angkatan Darat.

PKI, sebagai sebuah partai, hanya bisa menunggu dampak dari G30S. Mereka berhara

Published in: Educação
0 Comentários
3 pessoas curtiram isso
Estatísticas
Notas
  • Seja o primeiro a comentar

Sem downloads
Visualizações
Visualizações totais
14,032
No Slideshare
0
A partir de incorporações
0
Número de incorporações
1
Ações
Compartilhamentos
0
Downloads
283
Comentários
0
Curtidas
3
Incorporar 0
No embeds

No notes for slide

Dalih Pembunuhan Massal : G-30-S dan Kudeta Soeharto

  1. 1. DALIH PEMBUNUHAN MASSAL GERAKAN 30 SEPTEMBER DAN KUDETA SUHARTO JOHN ROOSA Jakarta, 2008
  2. 2. Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto Buku ini pertama kali diterbitkan dalam bahasa Inggris dengan judulPretext for Mass Murder: The September 30th Movement and Suharto’s Coup d’État in Indonesia ©2006 The University of Wisconsin Press, Madison, USAPertama kali diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa Indonesia seizin penerbit asli oleh Institut Sejarah Sosial Indonesia bekerjasama dengan Hasta Mitra pada Januari 2008. Penerjemah : Hersri Setiawan Penyunting: Ayu Ratih dan Hilmar Farid Penyelaras bahasa: M. Fauzi dan Th. J. Erlijna Desain sampul dan tata letak: Alit Ambara Foto sampul: Corbis Institut Sejarah Sosial Indonesia Jalan Pinang Ranti No. 3 Jakarta 13560 Email: issi@cbn.net.id Hasta Mitra Jalan Duren Tiga Selatan No. 36 Jakarta Selatan Email: yusak@cbn.net.id Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT) John Roosa, Dalih Pembunuhan Massal Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto, Cetakan 1 Jakarta: Institut Sejarah Sosial Indonesia dan Hasta Mitra, 2008 xxiv+392 hlm; 16 cm x 23 cm ISBN: 978-979-17579-0-4
  3. 3. untuk orangtua saya
  4. 4. DAFTAR ISIDaftar Ilustrasi viiSekapur Sirih xiKata Pengantar edisi Bahasa Indonesia xvPendahuluan 3I. Kesemrawutan Fakta-Fakta 52II. Penjelasan tentang G-30-S 90III. Dokumen Supardjo 122IV. Sjam dan Biro Chusus 169V. Aidit, PKI, dan G-30-S 199VI. Suharto, Angkatan Darat, dan Amerika Serikat 250VII. Menjalin Cerita Baru 291Lampiran-lampiran1. Beberapa Pendapat jang Mempengaruhi Gagalnja “G-30-S” Dipandang dari Sudut Militer (1966), oleh Brigadir Jenderal Supardjo 3232. Kesaksian Sjam (1967) 344Daftar Pustaka 362Indeks 375 v
  5. 5. DAFTAR ILUSTRASI PETA1. Jakarta, 19652. Lapangan Merdeka3. Pangkalan Angkatan Udara Halim dan Lubang Buaya FOTO DAN KARTUN1. Monumen Pancasila Sakti2. Detil relief pada Monumen Pancasila Sakti3. Museum Pengkhianatan PKI4. Detil relief pada Monumen Pancasila Sakti5. Supardjo dan Ibu Supardjo, ca. 19626. Kartun memperingati 20 tahun kemerdekaan nasional7. Kartun mendukung Gerakan 30 September8. Kartun: “Film minggu ini”9. Kartun anti-PKI TABEL DAN FIGUR1. Staf Umum Angkatan Darat (SUAD)2. Personil Militer dan Sipil dalam Gerakan 30 September3. Struktur Organisasi PKI vii
  6. 6. DALIH PEMBUNUHAN MASSAL
  7. 7. SEKAPUR SIRIHS aya mulai menulis tentang Gerakan 30 September saat menjadi penerima beasiswa pascadoktoral Rockefeller Foundation di Institute of International Studies di University of California-Berkeley, sebagaibagian dari Communities in Contention Program pada 2001-2002. Terimakasih kepada direktur lembaga, Michael Watts, yang telah memberikansaya suasana yang demikian hidup untuk belajar. Joseph Nevins adalahpembaca rumusan-rumusan awal pandangan saya. Kritiknya yang tajampada saat makan siang di kafe-kafe di Berkeley menyadarkan saya bahwamenulis tentang Gerakan 30 September dalam bentuk karangan jurnalsingkat tidak memadai untuk mengurai keruwetan-keruwetannya.Ulasan-ulasannya terhadap rancangan buku yang muncul belakangansangat membantu saya dalam berpikir tentang penyajian argumen saya.Untuk berbagai-bagai bentuk bantuan di Bay Area, saya berterimakasihkepada Iain Boal, Nancy Peluso, Silvia Tiwon, Jeff Hadler, Hala Nassar,Mizue Aizeki, dan Mary Letterii. Sidang pendengar di Center for Southeast Asian Studies di Univer-sity of Wisconsin, Madison, pada akhir 2001 telah mendengarkan uraianversi awal yang masih mentah dari buku ini. Saya ucapkan terima kasihkepada semua yang hadir di sana, dan untuk ulasan-ulasan mereka yangmendalam. Terima kasih juga untuk Alfred McCoy, yang bertahun-tahunlalu pernah mengajar saya tentang bagaimana mempelajari masalah-masalah kemiliteran dan kudeta, karena sudah mengundang saya membericeramah dan mendorong saya menulis buku ini. xi
  8. 8. SEKAPUR SIRIH Sesudah naskah awal saya diamkan selama dua tahun agar dapatmenyelesaikan pekerjaan saya yang berkaitan dengan pengalaman parakorban kekerasan massal 1965-66 di Indonesia, pada awal 2004 saat diUniversity of British Columbia saya kembali ke naskah tersebut. Sayamenyampaikan terima kasih kepada rekan-rekan di jurusan sejarah,Steven Lee yang memberikan ulasan terhadap rancangan keseluruhanbuku, dan Erik Kwakkel untuk bantuannya dalam hal kata-kata Belanda.Terima kasih pula kepada Brad Simpson dari University of Maryland,yang membagikan pengetahuannya tentang dokumen-dokumen resmipemerintah Amerika Serikat mengenai Indonesia; dan David Webster,lulusan program doktoral dari University of British Columbia, yangmembagikan pengetahuannya tentang dokumen-dokumen resmi pe-merintah Kanada. Saya sangat berutang budi kepada dua pengulas tanpa nama yangdengan murah hati telah memberikan pujian mereka bahkan sesudahmereka mungkin menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengoreksisangat banyak kesalahan dalam naskah saya dan mengajukan bantahanterhadap uraian-uraian saya. Saya harap kesabaran mereka ketika menulis-kan ulasan-ulasan yang sedemikian kritis dan rinci itu telah saya imbangidengan perbaikan-perbaikan yang akan mereka temukan dalam bukuini. Sejak awal 2000 saya melakukan penelitian tentang peristiwa 1965-66 dengan sekelompok peneliti yang tergabung dalam Jaringan KerjaBudaya di Jakarta. Buku ini tumbuh dari penelitian kami bersama danpendirian lembaga kami, Institut Sejarah Sosial Indonesia. Ucapan terimakasih kepada rekan-rekan berikut ini kiranya tidak layak, oleh karenabuku ini sebagian merupakan milik mereka, yaitu: Hilmar Farid, AgungPutri, Razif, Muhammad Fauzi, Rinto Tri Hasworo, Andre Liem, GraceLeksana, Th.J. Erlijna, Yayan Wiludiharto, Alit Ambara, B.I. Purwantari,dan Pitono Adhi. Dua penggembala para budayawan muda di Garuda,Dolorosa Sinaga dan Arjuna Hutagalung, telah memberikan ruang kerjauntuk penelitian kami dan ruang terbuka yang teduh di tengah-tengahmegalopolis yang hiruk-pikuk sebagai tempat kami bersantai. Johan Abedan Maryatun terus memberi bantuan tanpa kenal lelah. Pasangan hidup saya selama tiga belas tahun terakhir, Ayu Ratih,telah memandu saya dalam menulis sejarah Indonesia, sekaligus mene- xii
  9. 9. DALIH PEMBUNUHAN MASSAL: GERAKAN 30 SEPTEMBER DAN KUDETA SUHARTOgaskan bahwa penulisan sejarah hanyalah satu bagian dari kehidupanaktif yang berjalinan erat dengan kehidupan banyak orang lain. Sayaberuntung sudah berada sangat dekat dengan suri teladan sikap kritisdan hangat dalam berhubungan dengan dunia ini. xiii
  10. 10. KATA PENGANTAR EDISI BAHASA INDONESIAS aya mengantar terjemahan buku saya dengan sedikit kebimbangan. Mengacu kepada surat keputusan Jaksa Agung setahun lalu, buku- buku teks sejarah yang tidak mencantumkan akhiran “/PKI” setelahsingkatan G-30-S harus dibakar. Buku ini tidak menggunakan akhirantersebut. Tak akan ada gunanya menulis buku ini seandainya saya me-nambahkan “/PKI.” Akhiran tersebut mencerminkan jawaban terhadappertanyaan tentang siapa yang mendalangi gerakan itu. Ia adalah simbolpernyataan: “PKI mendalangi G-30-S.” Apabila jawaban itu didukungoleh bukti-bukti tak tersangkal dan secara luas diterima sebagai faktahistoris maka kita tidak perlu mengajukan pertanyaan tentang dalanglagi. Kita bisa tutup buku dengan G-30-S. Tapi banyak sejarawan yangbelum menerima jawaban tersebut, atau jawaban lain, sebagai sesuatuyang final, karena terdapat begitu banyak aspek yang aneh, tak terjelaskantentang G-30-S. Banyak orang Indonesia bingung dengan G-30-S danberharap menemukan lebih banyak informasi tentangnya. Pemerintahdapat mencoba menulis sejarah dengan keputusan resmi. Tetapi me-mastikan bahwa setiap penyebutan G-30-S harus diikuti dengan “/PKI”tidak akan mencegah orang untuk bertanya-tanya tentang arti keduaistilah yang harus mereka kaitkan itu: Apa itu G-30-S? Apa itu PKI? Danbentuk hubungan seperti apa antara kedua istilah yang ditandai dengangaris miring tersebut? Ketika Suharto jatuh dari kekuasaannya pada 1998 saya tidak mem- xv
  11. 11. KATA PENGANTAR EDISI BAHASA INDONESIAbayangkan bahwa satu dekade kemudian pemerintah akan terus melarangbuku-buku yang tidak sesuai dengan propaganda rezim yang lalu. RezimSuharto mengklaim bahwa PKI bertanggung jawab atas G-30-S; partaiitu memimpin atau mengorganisasikan G-30-S. Klaim serupa itu dapatditerima sebagai sebuah hipotesa tetapi kita seharusnya berharap diberisejumlah bukti sebelum kita menerimanya sebagai kesimpulan. Kita jugaharus berharap ada rumusan yang lebih persis. PKI adalah sebuah partaidengan anggota kurang lebih tiga juta orang. Kalau pemerintah berniatbersikukuh bahwa “PKI” mengorganisasikan G-30-S, maka pemerintahharus mampu menjelaskan siapa di dalam PKI yang mengorganisasikangerakan tersebut. Apakah tiga juta anggota partai secara keseluruhanbertanggung jawab? Atau kah sebagian? Atau hanya pimpinan partai?Apakah pihak pimpinan itu Central Comite atau Politbiro? Sepanjangmasa kepemimpinan Suharto pemerintah tidak pernah dengan telakmengidentifikasi siapa di dalam PKI yang bertanggung jawab. Malahan,dengan secara terus-menerus menggunakan istilah “PKI” masyarakatdigiring untuk percaya bahwa bukan hanya seluruh tiga juta anggotapartai yang bertanggung jawab, tetapi juga siapa pun yang berhubungandengan partai, seperti para anggota organisasi-organisasi sealiran (sepertiLekra), bertanggung jawab. Dokumen-dokumen internal rezim Suharto lebih terus terang.Kebetulan saya menemukan buku yang ditulis Lemhanas pada 1968untuk pejabat-pejabat pemerintah yang persis mengajukan pertanyaan-pertanyaan di atas. Buku 80 halaman ini ditulis dalam bentuk tanya-jawab. Berikut satu bagian tentang tanggung jawab “PKI”: Pertanyaan: Apakah benar bahwa G-30-S/PKI yang meng- gerakkan adalah PKI dan apakah setiap anggota PKI tentu terlibat dalam G-30-S/PKI? Jawab: Benar a. bahwa G-30-S/PKI digerakkan oleh PKI telah dapat di- buktikan baik secara fakta maupun secara hukum di depan sidang-sidang Mahmilub yang memeriksa dan mengadili perkara-perkara tokoh-tokoh G-30-S/PKI. xvi
  12. 12. DALIH PEMBUNUHAN MASSAL: GERAKAN 30 SEPTEMBER DAN KUDETA SUHARTO b. Seluruh anggota PKI dapat dianggap terlibat baik secara langsung maupun tidak langsung (setiap orang berkewajiban melaporkan pada penguasa bila ia mengetahui bahwa suatu kejahatan akan dilakukan dan juga sesuai dengan prinsip organisasi PKI bahwa keputusan pimpinan partai, mengikat seluruh anggota).1 Saya tidak puas dengan kedua poin jawaban itu. Poin pertama,persidangan-persidangan Mahmilub tidak membuktikan bahwa PKImendalangi G-30-S. Kesaksian-kesaksian terdakwa dan saksi-saksimerupakan timbunan ketidakajegan. Para penuntut tidak mengajukanbukti-bukti tandas kesalahan “PKI” dan para hakim tidak membu-tuhkannya; mereka memulai prosiding peradilan dengan kepercayaan(yang telah dipropagandakan Angkatan Darat) bahwa “PKI” bersalah.Seperti diamati Harold Crouch saat mengulas beberapa berkas rekamanpersidangan Mahmilub pada awal 1970-an, orang dapat dengan mudahmenyimpulkan dari berkas-berkas tersebut bahwa sekelompok perwiraAngkatan Darat yang tidak puas memimpin G-30-S dan mengajakbeberapa pimpinan PKI untuk membantu mereka.2 Poin kedua jawaban Lemhanas sama mudah disangkal. Tuduhannyaadalah bahwa seluruh tiga juta anggota partai mengetahui tentang G-30-Ssebelumnya dan bersalah karena pengabaian (“tidak melaporkan padapenguasa”). Tuduhan ini tidak mungkin benar: saluran-saluran informasidi dalam partai tidak sedemikian ketat sehingga tiga juta orang dapatmengetahui sesuatu yang orang lain, termasuk agen-agen intelijen kuncidi dalam Angkatan Darat, tidak tahu. Selain bersalah karena pengabaian,mereka bersalah karena keterkaitan; sebagai anggota partai, merekabertanggung jawab atas segala keputusan yang diambil para pimpinan(“keputusan pimpinan partai mengikat seluruh anggota”). Itulah prinsipkesalahan kolektif – sebuah prinsip yang sudah ditolak oleh semua negaradi dunia berdasarkan rule of law. Sebelum 1965 pemerintah Indonesia tidak pernah menimpakankesalahan kepada suatu kelompok masyarakat secara keseluruhan.Kaum nasionalis yang berjuang untuk kemerdekaan pada 1945-49 tidakmembunuh orang-orang Belanda hanya karena mereka orang Belanda.Setelah pemberontakan PRRI/Permesta pada akhir 1950-an pemerin- xvii
  13. 13. KATA PENGANTAR EDISI BAHASA INDONESIAtah Sukarno melarang PSI dan Masjumi karena pemimpin-pemimpinkedua partai mendukung pemberontakan-pemberontakan tersebut.Tetapi pemerintah Sukarno tidak menyatakan bahwa semua anggotakedua partai adalah pengkhianat; pemerintah tidak menahan dan/ataumembunuh orang hanya karena mereka anggota PSI atau Masjumi.Sukarno mengampuni pemberontak-pemberontak Darul Islam – orang-orang yang memang mengangkat senjata untuk melawan pemerintah– kecuali pimpinan-pimpinan puncaknya. Bayangkan seandainya prinsipkesalahan kolektif diterapkan pada anggota-anggota Golkar dewasa ini:haruskah setiap anggota Golkar pada masa Orde Baru diminta bertang-gungjawab atas kejahatan-kejahatan Suharto? Satu aspek yang tidak bermanfaat dalam debat tentang G-30-S diIndonesia adalah kecenderungan untuk menggolongkan posisi apa punapakah sebagai pro-PKI atau anti-PKI. Siapapun yang tidak menye-tujui penahanan dan pembunuhan massal atau menunjukkan simpatiterhadap tahanan politik dianggap sebagai pendukung PKI. Pipit Rochiatkeberatan dengan kecenderungan ini dalam esai yang ditulisnya pada1984 “Saya PKI atau Bukan PKI?.”3 Menciptakan dikotomi serupa itusama dengan mengabaikan kemungkinan posisi seperti yang diperlihat-kan Rochiat, yaitu tidak membela aksi-aksi PKI sebelum 1965, tidakjuga membenarkan kekerasan massal yang diarahkan kepada PKI setelahG-30-S. Kekerasan tersebut mencerminkan bencana kemanusiaan. Sayadapat memahami seandainya seseorang mengambil sikap antagonistikterhadap PKI sebelum 1965: PKI adalah partai yang berniat mendirikannegara satu partai, yang dipimpin oleh orang-orang yang berbicara danmenulis secara dogmatis dan berdasarkan rumus-rumus baku, yang meng-galang pengikut-pengikutnya untuk mengintimidasi organisasi-organi-sasi pesaingnya. Tapi saya tidak dapat mengerti bagaimana orang dapatmembenarkan cara partai tersebut ditindas: kebohongan-kebohonganpropaganda negara untuk memicu kekerasan, penangkapan massal tanpadakwaan, interogasi dengan penyiksaan, penahanan berkepanjangantanpa pengadilan, penghilangan paksa dan pembunuhan kilat. Sekarang,setelah 40 tahun berlalu, kita seharusnya sudah mampu berhenti berpikirsemata-mata dalam kerangka dikotomis tentang peristiwa-peristiwatersebut, seakan-akan tiap kritik terhadap kisah resmi rezim Suhartohanya dapat didorong oleh kecintaan terhadap PKI. xviii
  14. 14. Sudah saatnya pula untuk berhenti berpikir mengikuti stereotip-stereotip basi. Sepanjang kekuasaan Suharto PKI digambarkan sebagaimomok jahat sehingga tidak mungkin memahami bagaimana partai itupernah menjadi demikian populer, dengan jutaan anggota dan simpatisan.Bagaimana mungkin sebegitu banyak orang Indonesia dihujat sebagaiiblis? Buku ini ditulis berdasarkan anggapan bahwa anggota-anggota PKIsebenarnya manusia, bukan setan, dan memiliki karakter moral yangtidak lebih baik atau lebih buruk dari orang-orang lain di Indonesia. Jika kita bersedia berpikir jernih tentang pertanyaan siapa yangbertanggung jawab atas G-30-S maka kita harus menelisik apa yangsesungguhnya terjadi pada awal Oktober 1965. Benarkah gerakan itumerupakan pemberontakan setiap orang di dalam PKI? Benarkah gerakanitu merupakan percobaan kudeta? Rezim Suharto bersikukuh bahwaG-30-S adalah keduanya: pemberontakan dan percobaan kudeta. Babsatu buku ini mencoba merekonstruksi peristiwa-peristiwa yang terjadipada beberapa hari pertama Oktober 1965 tanpa ada kesimpulan sebe-lumnya. Saya menulis bab ini supaya paparannya cocok dengan salahsatu dari empat penjelasan yang saya ulas di bab 2. Informasi dasar yangdisajikan pada bab 1 mengungkap bahwa G-30-S aneh; beberapa aspekmemberi kesan gerakan ini merupakan percobaan kudeta, aspek-aspeklain tidak menunjukkan adanya kudeta. Narasi apapun yang memuaskantentang kejadian-kejadian pada awal Oktober 1965 pertama-tama harusmengakui keganjilan-keganjilan ini, kemudian mencoba menjelaskan-nya. Satu masalah yang saya perhatikan di dalam kebanyakan bukutentang G-30-S bersifat metodologis. Biasanya, seorang penulis mulaidengan sebuah kesimpulan tentang siapa yang bertanggung jawab atasG-30-S (PKI, Sukarno, Suharto, dst.), lalu menimbang penjelasan-penjelasan alternatif yang mungkin sebelum menyimpulkan bahwahipotesanya benar. Sejarawan tidak bekerja dengan cara seperti yangdigunakan ilmuwan pengetahuan alam – tingkah laku manusia danperistiwa-peristiwa sosial tidak diatur oleh hukum-hukum alam – tetapimereka kadang-kadang mengikuti beberapa prinsip fundamental yangsama. Satu prinsip adalah menghindari untuk memulai suatu peneli-tian dengan kesimpulan-kesimpulan di tangan. Kita tak akan pernahmenemukan sesuatu yang baru dengan cara seperti ini. xix
  15. 15. KATA PENGANTAR EDISI BAHASA INDONESIA Masalah besar lain yang muncul dalam kepustakaan yang sudahada adalah kurangnya penilaian kritis terhadap sumber-sumber yangdigunakan. Dalam hal G-30-S, sumber-sumbernya memang secarakhusus bermasalah. Transkrip interogasi (Berita Acara Pemeriksaan atauProses Verbal) dan kesaksian di pengadilan militer – dua jenis sumberyang sering digunakan dalam buku-buku tentang G-30-S – tidak dapatdikatakan andal atau pun ajeg. Seorang sejarawan selalu harus berpikirtentang konteks tempat sumber-sumber diproduksi dan mengajukanpertanyaan yang sangat penting: bagaimana seseorang yang mengklaimtahu sesuatu sesungguhnya tahu tentang hal itu? Salah satu sumber yang paling andal tentang G-30-S adalah Visumet Repertum yang dilakukan para dokter di Rumah Sakit Pusat AngkatanDarat Gatot Subroto terhadap jazad tujuh perwira yang ditemukan diLubang Buaya. Justru sumber inilah yang tidak diumumkan oleh pe-merintah Suharto. Salinan laporan visum tersembunyi hingga 1980-an,ketika dokumen itu ditemukan seorang ilmuwan dari Cornell University.4Dari laporan ini kita cukup tahu bahwa apa yang dilaporkan di mediayang dikontrol Angkatan Darat pada akhir 1965 tentang bagaimanapara perwira dibunuh ternyata palsu. Para perwira tersebut terbunuholeh tembakan dan luka-luka tusukan bayonet; mereka tidak diiris-irisribuan kali dengan silet, mata mereka tidak dicungkil, dan mereka tidakpula dimutilasi. Jika kita berpegang pada laporan para dokter, sepertiyang saya pikir seharusnya demikian, maka kita harus berasumsi bahwakisah-kisah tentang penyiksaan para perwira merupakan bagian daripropaganda perang urat syaraf Angkatan Darat terhadap PKI. Kita jugaharus mempertimbangkan kisah-kisah apa tentang G-30-S dari rezimSuharto yang palsu dan dokumen-dokumen lain mana yang telah di-sembunyikan dari penglihatan kita. Ketiadaan penilaian kritis terhadap sumber-sumber sudah meng-giring berbagai macam artikel dan buku yang menyajikan argumen-argumen berdasarkan kisah-kisah palsu oleh propagandis, dokumen-dokumen palsu, dan spekulasi besar-besaran. Misalnya, tidak kurangdari tiga buku yang baru saja diterbitkan mengklaim bahwa PresidenSukarno entah adalah sang dalang atau salah satu dari sekian dalangG-30-S.5 Klaim ini tidak berdasar dan absurd. Pada saat menulis bukuini saya berpikir bahwa klaim tersebut bahkan tidak layak ditanggapi. xx
  16. 16. DALIH PEMBUNUHAN MASSAL: GERAKAN 30 SEPTEMBER DAN KUDETA SUHARTOTak ada bukti untuknya. Penerbitan ketiga buku ini mendorong sayauntuk menulis sangkalan rinci terhadap klaim yang dibuat sebagai esaiulasan untuk sebuah jurnal akademik.6 Saya harus menekankan bahwa buku ini hanya tentang G-30-S. Inibukan buku tentang kekerasan massal yang muncul setelah gerakan ituterjadi walaupun di bagian pengantar saya sampaikan beberapa argumendasar tentang kekerasan tersebut dan kaitannya dengan G-30-S. Sayaberanggapan bahwa lebih banyak penelitian harus dilakukan tentangkekerasan massal pasca G-30-S sebelum sebuah analisis ilmiah yang baikbisa ditulis. Menimbang skalanya, kekerasan pasca G-30-S merupakantopik yang lebih penting daripada G-30-S itu sendiri. Buku ini diharap-kan bermanfaat bagi penelitian lebih lanjut tentang kekerasan massalpasca G-30-S dengan menyajikan konteks baru untuk memahamitragedi tersebut. Jika G-30-S lebih jelas mungkin akan lebih mudahuntuk memusatkan perhatian pada topik-topik lain yang berkaitan.Lebih banyak pula studi-studi yang perlu digarap tentang kudeta Suharto,misalnya, bagaimana ia mengambilalih media massa, keuangan negara,dan birokrasi sipil. Saya berharap pembaca akan menghargai proses panjang yangmenyertai pembuatan buku ini. Saya menduga beberapa pembaca takterlalu paham bagaimana suatu buku diterbitkan oleh penerbit uni-versitas. Saya menyerahkan manuskrip bakal buku ini ke Universityof Wisconsin Press pada 2004. Seorang editor di badan penerbitan inimembacanya dan menilai apakah manuskrip tersebut layak diterbitkan. Sieditor mengirim manuskrip ke dua ahli sejarah Indonesia yang kemudianmenulis ulasan mereka, menyampaikan penilaian apakah manuskrip inilayak diterbitkan, dan apabila layak, perubahan-perubahan apa yangharus dibuat. Tahap ini disebut ulasan oleh rekan anonim. Dengandemikian mereka dapat bersikap lebih terus terang dalam menyampaikankritik mereka. Saya menerima ulasan tanpa nama ini kurang lebih enambulan setelah saya menyerahkan manuskrip. Saya kemudian merevisimanuskrip untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang diidentifikasipara pengulas dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan.Saya menyerahkan manuskrip dengan revisi pada 2005. Badan penerbitmenyewa seorang copy editor untuk memeriksa manuskrip, memper-baiki kesalahan-kesalahan dalam ejaan, tata bahasa, atau tanda baca, dan xxi
  17. 17. KATA PENGANTAR EDISI BAHASA INDONESIAmengusulkan perbaikan dalam hal gaya penulisan. Saya menghabiskanbeberapa minggu pada akhir 2005 untuk berkorespondensi dengan copyeditor tentang bermacam-macam masalah. Produk akhir dari proses inibaru diterbitkan pada September 2006. Ketelitian serupa juga diberikan dalam proses penerjemahan. Setelahpenerjemah utama menyelesaikan pekerjaannya, dua penerjemah ahlilainnya memeriksa manuskrip terjemahan kata demi kata dan mengu-sulkan perubahan. Versi akhir dari proses ini kemudian dikirimkan keseorang copy editor yang berpengalaman. Baru setelah copy editor mem-perbaiki kesalahan-kesalahan yang ada, manuskrip dikirim ke pembacanaskah yang melakukan pengecekan tahap akhir. Proses panjang inimembuat banyak teman-teman kami frustrasi karena lamanya waktuyang dibutuhkan untuk menerbitkan buku ini. Tetapi kami pandangluar biasa penting untuk menghasilkan terjemahan yang secara tepatmenyampaikan maksud dalam teks aslinya dan sesedikit mungkin me-ngandung kesalahan-kesalahan tipografis. Dalam jangka waktu satu setengah tahun setelah edisi bahasa Inggrisbuku ini diterbitkan saya telah belajar lebih banyak tentang G-30-S.Namun, saya menolak godaan untuk menambahkan pengetahuan baruapa pun ke edisi ini. Saya berharap beberapa tahun lagi, begitu sayamengumpulkan lebih banyak informasi dan mendengar dari lebih banyakpembaca, saya akan siap menerbitkan suatu artikel yang menjabarkanargumen-argumen di dalam buku ini. CATATAN1 Lembaga Ketahanan Nasional, Bahan-Bahan Pokok G-30-S/PKI dan Penghancurannya,bagian kedua (Maret 1969), 17-18. Edisi yang saya miliki adalah salinan yang dibuat pada1982. Seperti dinyatakan pada halaman judul, edisi ini “disalin sesuai dengan aslinya olehSekretaris Pokja Balat Lemhannas.”2 Crouch, “Another Look At the Indonesian Coup,” Indonesia no. 15 (April 1973)3 Diterbitkan dalam majalah mahasiswa Indonesia di Berlin Barat, Gotong Royong (Maret1984).4 Benedict Anderson, “How did the Generals Die?,” Indonesia no. 43 (April 1987). CatatanProf. Anderson tentang tanggapan rezim Suharto terhadap analisisnya tentang G-30-S xxii
  18. 18. DALIH PEMBUNUHAN MASSAL: GERAKAN 30 SEPTEMBER DAN KUDETA SUHARTOdan pencekalan dirinya dari Indonesia layak dibaca kalangan yang lebih luas: “Scholarshipon Indonesia and Raison d’État: Personal Experience,” Indonesia no. 62 (October 1996).Artikel lain yang juga berharga adalah: “Indonesian Nationalism Today and in the Future,”Indonesia no. 67 (April 1999).5 Victor M. Fic, Anatomy of the Jakarta Coup, October 1, 2004 (New Delhi: Abhinav,2004); Antonie C.A. Dake, The Sukarno File, 1965-67: Chronology of a Defeat (Leiden:Brill, 2006); Helen-Louise Hunter, Sukarno and the Indonesian Coup: The Untold Story(Wesport: Praeger, 2007).6“Sukarno and the September 30th Movement,” Critical Asian Studies 40: 1 (March2008). xxiii
  19. 19. DALIH PEMBUNUHAN MASSAL
  20. 20. Peta 1. Jakarta, 1965
  21. 21. PENDAHULUAN Kebenaran tentang perebutan kekuasaan tidak boleh dibikin jelas; pada mulanya ia terjadi tanpa alasan tapi kemudian menjadi masuk akal. Kita harus memastikan bahwa kebenaran itu dianggap sah dan abadi; adapun asal-muasalnya sendiri harus disembunyikan, jika kita tidak ingin kebenaran itu cepat berakhir. Blaise Pascal, Pensées (1670)B agi sejarawan yang ingin memahami perjalanan sejarah Indonesia modern, hal yang terkadang menimbulkan rasa frustrasi ialah justru karena kejadian yang paling misterius ternyata merupakansalah satu babak kejadian yang terpenting. Pada dini hari 1 Oktober1965, Menteri Panglima Angkatan Darat (Menpangad) Letnan JenderalAhmad Yani dan lima orang staf umumnya diculik dari rumah-rumahmereka di Jakarta, dan dibawa dengan truk ke sebidang areal perkebunandi selatan kota. Para penculik membunuh Yani dan dua jenderal lainnyapada saat penangkapan berlangsung. Tiba di areal perkebunan beberapasaat kemudian pada pagi hari itu, mereka membunuh tiga jenderal lainnyadan melempar enam jasad mereka ke sebuah sumur mati. Seorang letnan,yang salah tangkap dari rumah jenderal ketujuh yang lolos dari pencu-likan, menemui nasib dilempar ke dasar sumur yang sama. Pagi hari itujuga orang-orang di balik peristiwa pembunuhan ini pun mendudukistasiun pusat Radio Republik Indonesia (RRI), dan melalui udara menya-takan diri sebagai anggota pasukan yang setia kepada Presiden Sukarno. 3
  22. 22. PENDAHULUANAdapun tujuan aksi yang mereka umumkan ialah untuk melindungiPresiden dari komplotan jenderal kanan yang akan melancarkan kudeta.Mereka menyebut nama pemimpin mereka, Letnan Kolonel Untung,Komandan Batalyon I Kawal Kehormatan Cakrabirawa, yang bertang-gung jawab mengawal Presiden, dan menamai gerakan mereka Gerakan30 September (selanjutnya disebut sebagai G-30-S). Dalam sebuah unjukkekuatan, ratusan prajurit pendukung G-30-S menduduki LapanganMerdeka (sekarang Lapangan Monas) di pusat kota. Lalu pada sore danpetang hari 1 Oktober, seperti menanggapi isyarat dari Jakarta, beberapapasukan di Jawa Tengah menculik lima perwira pimpinan mereka. Kesulitan memahami G-30-S antara lain karena gerakan tersebutsudah kalah sebelum kebanyakan orang Indonesia mengetahui keber-adaannya. Gerakan 30 September tumbang secepat kemunculannya.Dengan tidak adanya Yani, Mayor Jenderal Suharto mengambil alihkomando Angkatan Darat pada pagi hari 1 Oktober, dan pada petang hariia melancarkan serangan balik. Pasukan G-30-S meninggalkan stasiunRRI dan Lapangan Merdeka yang sempat mereka duduki selama duabelas jam saja. Semua pasukan pemberontak akhirnya ditangkap ataumelarikan diri dari Jakarta pada pagi hari 2 Oktober. Di Jawa Tengah,G-30-S hanya bertahan sampai 3 Oktober. Gerakan 30 September lenyapsebelum anggota-anggotanya sempat menjelaskan tujuan mereka kepadapublik. Pimpinan G-30-S bahkan belum sempat mengadakan konferensipers dan tampil memperlihatkan diri di depan kamera para fotografer. Kendati bernapas pendek, G-30-S mempunyai dampak sejarahyang penting. Ia menandai awal berakhirnya masa kepresidenan Sukarno,sekaligus bermulanya masa kekuasaan Suharto. Sampai saat itu Sukarnomerupakan satu-satunya pemimpin nasional yang paling terkemukaselama dua dasawarsa lebih, yaitu dari sejak ia bersama pemimpin nasionallain, Mohammad Hatta, pada 1945 mengumumkan kemerdekaanIndonesia. Ia satu-satunya presiden negara-bangsa baru itu. Dengankarisma, kefasihan lidah, dan patriotismenya yang menggelora, ia tetapsangat populer di tengah-tengah semua kekacauan politik dan salah urusperekonomian pascakemerdekaan. Sampai 1965 kedudukannya sebagaipresiden tidak tergoyahkan. Sebagai bukti popularitasnya, baik G-30-Smaupun Mayor Jenderal Suharto berdalih bahwa segala tindakan yangmereka lakukan merupakan langkah untuk membela Sukarno. Tidak 4
  23. 23. DALIH PEMBUNUHAN MASSAL: GERAKAN 30 SEPTEMBER DAN KUDETA SUHARTOada pihak mana pun yang berani memperlihatkan pembangkangannyaterhadap Sukarno. Suharto menggunakan G-30-S sebagai dalih untuk merongronglegitimasi Sukarno, sambil melambungkan dirinya ke kursi kepresi-denan. Pengambilalihan kekuasaan negara oleh Suharto secara bertahap,yang dapat disebut sebagai kudeta merangkak, dilakukannya di bawahselubung usaha untuk mencegah kudeta. Kedua belah pihak tidak beranimenunjukkan ketidaksetiaan terhadap presiden. Jika bagi PresidenSukarno aksi G-30-S itu sendiri disebutnya sebagai “riak kecil di tengahsamudra besar Revolusi [nasional Indonesia],” sebuah peristiwa kecilyang dapat diselesaikan dengan tenang tanpa menimbulkan guncanganbesar terhadap struktur kekuasaan, bagi Suharto peristiwa itu merupakantsunami pengkhianatan dan kejahatan, yang menyingkapkan adanyakesalahan yang sangat besar pada pemerintahan Sukarno.1 Suhartomenuduh Partai Komunis Indonesia (PKI) mendalangi G-30-S, danselanjutnya menyusun rencana pembasmian terhadap orang-orang yangterkait dengan partai itu. Tentara Suharto menangkapi satu setengah jutaorang lebih. Semuanya dituduh terlibat dalam G-30-S.2 Dalam salahsatu pertumpahan darah terburuk di abad keduapuluh, ratusan ribuorang dibantai Angkatan Darat dan milisi yang berafiliasi dengannya,terutama di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali, dari akhir 1965 sampaipertengahan 1966.3 Dalam suasana darurat nasional tahap demi tahapSuharto merebut kekuasaan Sukarno dan menempatkan dirinya sebagaipresiden de facto (dengan wewenang memecat dan mengangkat paramenteri) sampai Maret 1966. Gerakan 30 September, sebagai titikberangkat rangkaian kejadian berkait kelindan yang bermuara padapembunuhan massal dan tiga puluh dua tahun kediktatoran, merupakansalah satu di antara kejadian-kejadian penting dalam sejarah Indonesia,setara dengan pergantian kekuasaan negara yang terjadi sebelum dansesudahnya: proklamasi kemerdekaan Sukarno-Hatta pada 17 Agustus1945, dan lengsernya Suharto pada 21 Mei 1998. Bagi kalangan sejarawan, G-30-S tetap merupakan misteri. Versiresmi rezim Suharto – bahwa G-30-S adalah percobaan kudeta PKI– tidak cukup meyakinkan. Sukar dipercaya bahwa partai politik yangberanggotakan orang sipil semata-mata dapat memimpin sebuah operasimiliter. Bagaimana mungkin orang sipil dapat memerintah personil 5
  24. 24. PENDAHULUANmiliter untuk melaksanakan keinginan mereka? Bagaimana mungkinsebuah partai yang terorganisasi dengan baik, dengan reputasi sebagaipartai yang berdisiplin tinggi, merencanakan tindak amatiran semacamitu? Mengapa partai komunis yang dipimpin prinsip-prinsip revolusiLeninis mau berkomplot dalam putsch oleh sepasukan tentara? Mengapapartai politik yang sedang tumbuh kuat di pentas politik terbuka memilihaksi konspirasi? Agaknya tak ada alasan ke arah sana. Di pihak lain, sukardipercaya bahwa G-30-S – seperti dinyatakannya dalam siaran radio yangpertama – “semata-mata dalam tubuh Angkatan Darat,” karena memangada beberapa tokoh PKI yang jelas ikut memimpin G-30-S bersamabeberapa orang perwira militer. Sejak hari-hari pertama Oktober 1965,masalah siapa dalang di belakang peristiwa ini telah menjadi perdebatanyang tak kunjung reda. Apakah para perwira militer itu bertindak sendiri,sebagaimana yang mereka nyatakan, dan kemudian mengundang ataubahkan menipu beberapa tokoh PKI agar membantu mereka? Ataukah,justru PKI yang menggunakan sementara perwira militer ini sebagai alatpelaksana rencana mereka, sebagaimana yang dikatakan Suharto? Atau,adakah semacam modus vivendi antara para perwira militer tersebut danPKI? Perdebatan juga timbul di sekitar hubungan Suharto dengan G-30-S.Bukti-bukti tidak langsung memberi kesan bahwa para perencana G-30-Ssetidaknya mengharapkan dukungan Suharto; mereka tidak mencan-tumkan Suharto dalam daftar jenderal yang akan diculik, dan jugatidak menempatkan pasukan di sekeliling markasnya. Dua perwira diantara pimpinan G-30-S adalah sahabat-sahabat pribadi Suharto. Salahseorang, yaitu Kolonel Abdul Latief, mengaku memberi tahu Suhartotentang G-30-S sebelumnya dan mendapat restu darinya secara diam-diam. Benarkah Suharto sudah diberitahu sebelumnya? Informasi apayang diberikan G-30-S kepadanya? Apa tanggapan Suharto terhadapinformasi itu? Apakah ia menjanjikan dukungan atau melangkah lebihjauh dan membantu merencanakan operasi G-30-S? Apakah ia denganlicik menelikung G-30-S agar dapat naik ke tampuk kekuasaan? Sampai sekarang dokumen utama yang ditinggalkan oleh G-30-Shanyalah empat pernyataan yang disiarkan RRI pusat pada pagi dansiang hari 1 Oktober 1965. Pernyataan-pernyataan itu menampilkanwajah G-30-S di depan publik dan tentu saja tidak mengungkap peng- 6
  25. 25. DALIH PEMBUNUHAN MASSAL: GERAKAN 30 SEPTEMBER DAN KUDETA SUHARTOorganisasian di balik layar dan tujuan yang mendasarinya. Sesudah ter-tangkap, para pimpinan kunci G-30-S tidak mengungkap banyak hal.Kesaksian mereka di depan pengadilan yang dikenal sebagai MahkamahMiliter Luar Biasa (Mahmilub) lebih mencerminkan keterdesakan sangatuntuk menolak segala dakwaan, ketimbang menjelaskan secara rincitentang bagaimana dan mengapa G-30-S dilancarkan. Para terdakwa,dapat dimengerti, memilih tutup mulut, berbohong, tidak sepenuh-nya berkata benar, dan menghindar demi melin-dungi diri sendiri dankawan-kawan mereka, atau melempar kesalahan kepada orang lain. Baikpenuntut umum maupun hakim tidak ambil pusing untuk mengorekkesaksian-kesaksian mereka yang saling bertentang-tentangan; pengadilanmemang tidak dimaksudkan untuk menyelidiki kebenaran atas peristiwatersebut. Semua hanyalah pengadilan sandiwara belaka. Tidak satu orangpun yang dibawa ke Mahmilub dibebaskan dari tuntutan. Dari limaorang pimpinan utama G-30-S, kecuali satu orang, semuanya dinyata-kan terbukti berkhianat, dijatuhi hukuman mati, dan dieksekusi olehregu tembak, sehingga dengan demikian menutup setiap kemungkinanmereka muncul kembali dengan keterangan baru yang lebih rinci danakurat tentang gerakan mereka.4 Satu-satunya pemimpin kunci G-30-S yang lolos dari regu tembak,yaitu Kolonel Abdul Latief, menolak menjelaskan G-30-S secara rinci.Ketika akhirnya diajukan ke depan pengadilan pada 1978, sesudahbertahun-tahun dikurung dalam sel isolasi, ia juga tidak memanfaatkankesempatan itu untuk menjelaskan bagaimana mereka mengorganisasiG-30-S. Pidato pembelaannya menjadi terkenal dan tersebar luas karenasatu pernyataannya yang mengejutkan bahwa ia telah memberi tahuSuharto tentang gerakan itu sebelumnya. Arti penting pernyataan itu lalumenutupi kenyataan bahwa Latief tidak menceritakan barang sedikit puntentang G-30-S itu sendiri. Sebagian besar pidato pembelaannya tercurahpada cekcok yang relatif remeh-temeh tentang keterangan para saksi,atau pada penje-lasan riwayat hidupnya untuk membuktikan diri sebagaiprajurit yang patriotik. Sesudah 1978, Latief tidak pernah menyimpangdari pembelaannya dan juga tidak pernah mengurai lebih lanjut pernya-taan-pernyataannya. Bahkan juga sesudah dibebaskan dari penjara pada1998, ia tidak memberikan keterangan baru satu patah kata pun.5 Gerakan 30 September dengan begitu telah menghamparkan 7
  26. 26. PENDAHULUANsebuah misteri tak terpecahkan bagi para sejarawan. Bukti-bukti yangterbatas adanya kebanyakan tidak dapat diandalkan. Angkatan Daratmerekayasa sebagian besar bukti ketika menyulut kampanye anti-PKIdalam bulan-bulan setelah G-30-S, termasuk cerita tentang para pengikutPKI yang menyiksa dan menyilet tubuh para jenderal sambil menari-naritelanjang.6 Terbitan-terbitan yang didukung rezim Suharto bersandarpada laporan interogasi para tapol, yang setidak-tidaknya beberapa diantara mereka telah disiksa atau diancam akan disiksa. Banyak di antarakorban teror militer yang selamat tetap takut untuk berbicara terus terangdan jujur. Kedua belah pihak, baik yang kalah (para peserta G-30-S)maupun yang menang (para perwira Suharto), tidak memberikan ke-terangan yang layak dipercaya. Hampir semua kesaksian pribadi dandokumen tertulis dari akhir 1965 dan selanjutnya tampaknya sengajadibuat untuk menyesatkan, mengaburkan, atau menipu. Oleh karena G-30-S dan pembasmiannya merupakan tindakan-tindakan yang dirancang secara rahasia oleh para perwira militer, agenintelijen, dan agen ganda, sumber-sumber informasi yang lazim dipakaisejarawan – surat kabar, majalah, dokumen pemerintah, dan pamflet– tidak banyak membantu. Dalam buku teksnya tentang sejarahIndonesia, Merle Ricklefs menulis bahwa “ruwetnya panggung politik”pada 1965 dan “banyaknya bukti-bukti yang mencurigakan” menye-babkan penyimpulan tegas mengenai G-30-S hampir tidak mungkin.7Rekan-rekannya sesama sejarawan asal Australia, Robert Cribb dan ColinBrown, berpendapat bahwa “alur kejadian yang tepat” itu “diselubungiketidakpastian.” Menjelang G-30-S terjadi, “desas-desus, kabar burung,dan penyesatan berita yang disengaja menyesaki udara.”8 Kebanyakansejarawan yang menulis mengenai Indonesia dan berusaha memecahkanmisteri ini mengaku tidak begitu yakin dengan penjelasan yang merekatawarkan. Gerakan 30 September adalah sebuah misteri pembunuhan yangpemecahannya akan membawa implikasi sangat luas bagi sejarah nasionalIndonesia. Hal-hal yang dipertaruhkan dalam “kontroversi tentangdalang” sungguh besar. Rezim Suharto membenarkan tindakan represiberdarahnya terhadap PKI dengan menekankan bahwa partai itulahyang memulai dan mengorganisasi G-30-S. Walaupun aksi-aksi pada1 Oktober tersebut tak lebih dari pemberontakan berskala kecil dan 8
  27. 27. DALIH PEMBUNUHAN MASSAL: GERAKAN 30 SEPTEMBER DAN KUDETA SUHARTOterbatas oleh pasukan Angkatan Darat dan demonstrasi oleh kalangansipil, rezim Suharto menggambarkannya sebagai awal dari serangan PKIyang masif dan keji terhadap semua kekuatan nonkomunis. Gerakan 30September dilihatnya sebagai tembakan salvo pembuka dari PKI untuksebuah revolusi sosial. Dalam membangun ideologi pembenaran bagikediktatorannya, Suharto menampilkan diri sebagai juru selamat bangsadengan menumpas G-30-S. Rezim Suharto terus-menerus menanamkanperistiwa itu dalam pikiran masyarakat melalui semua alat propagandanegara: buku teks, monumen, nama jalan, film, museum, upacara per-ingatan, dan hari raya nasional. Rezim Suharto memberi dasar pembe-naran keberadaannya dengan menempatkan G-30-S tepat pada jantungnarasi historisnya dan menggambarkan PKI sebagai kekuatan jahat takterperikan. Pernyataan bahwa PKI mengorganisasi G-30-S, bagi rezimSuharto, bukan sekadar fakta biasa; tetapi sang fakta sejarah mahabesar,yang menjadi sumber pokok keabsahan rezimnya. Di bawah Suharto, antikomunisme menjadi agama negara, lengkapdengan segala situs, upacara, dan tanggal-tanggalnya yang sakral. Paraperwira Suharto mengubah situs pembunuhan tujuh perwira AngkatanDarat di Jakarta pada 1 Oktober 1965, yaitu Lubang Buaya, menjaditanah keramat. Sebuah monumen didirikan dengan tujuh patungperunggu para perwira yang tewas, semua berdiri setinggi manusiadengan sikap gagah dan menantang. Pada dinding belakang deretanpatung para perwira ditempatkan patung garuda raksasa dengan sayapmengembang, burung khayali yang telah diangkat Indonesia sebagailambang kebangsaannya. Di dinding seputar monumen dengan tinggi sebatas tatapanmata rezim Suharto menetakkan relief dari perunggu, mirip denganlempengan-lempengan panjang melintang dari abad ke-9 di CandiBorobudur. Jika pengunjung berjalan menyusuri dinding relief dari kirike kanan, mereka akan melihat versi sejarah Indonesia pascakolonialyang antikomunis. Dari pemberontakan Madiun 1948 sampai Gerakan30 September 1965, PKI selalu ditampilkan sebagai pemicu kekacauan.Relief itu menampilkan sebuah kisah klasik tentang sang pahlawan(Suharto) yang mengalahkan penjahat keji (PKI) dan menyelamatkanbangsa dari kehancuran. Tepat di tengah dinding relief digambarkanadegan perempuan-perempuan berkalung rangkaian bunga dan ber- 9
  28. 28. PENDAHULUANGambar 1. Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya, Jakarta. Foto: John Roosatelanjang menari-nari mengitari seorang laki-laki yang tengah melemparmayat perwira ke dalam sumur. Rekayasa perang urat syaraf yang saratdengan citra seks dan kekerasan demikian kuat dituangkan dalam logamkemudian beroleh status sebagai fakta yang tak terbantahkan. Di depandinding relief tertera slogan: “Waspada ...... dan mawas diri agar peristiwasematjam ini tidak terulang lagi.” Monumen yang dibuka pada 1969 ini dinamai Monumen PancasilaSakti.9 Semasa pemerintahan Suharto, Pancasila, lima prinsip nasional-isme Indonesia yang diucapkan Sukarno untuk pertama kali pada 1945,diangkat menjadi ideologi resmi negara. Pancasila dibayangkan sebagaiperjanjian suci bangsa dan Lubang Buaya adalah situs pelanggaran palingmengerikan terhadap perjanjian itu. Dengan demikian, monumen inimenyucikan situs pelanggaran tersebut dan menahbiskan para perwirayang dibunuh sebagai syuhada-syuhada suci. Sebagai ruang sakral,Monumen Pancasila Sakti menjadi lokasi penyelenggaraan ritual-ritualrezim Suharto yang paling penting. Setiap lima tahun semua anggotaparlemen berkumpul di sini, sebelum memulai sidang pertama, untukbersumpah setia kepada Pancasila. Setiap tahun pada 1 Oktober, Suhartodan pejabat terasnya menyelenggarakan upacara di hadapan monumentersebut untuk menyatakan janji kesetiaan mereka yang abadi kepadaPancasila.10 Semalam sebelumnya semua stasiun televisi diwajibkan me-nyiarkan film buatan pemerintah, Pengkhianatan Gerakan 30 September/PKI (1984). Film sepanjang empat jam yang melelahkan ini bercerita 10
  29. 29. DALIH PEMBUNUHAN MASSAL: GERAKAN 30 SEPTEMBER DAN KUDETA SUHARTOGambar 2. Detil relief pada Monumen Pancasila Sakti. Perempuan-perempuan anggota PKImenari telanjang, sementara laki-laki komunis membunuh para perwira Angkatan Darat danmembuang mayat-mayat mereka ke Lubang Buaya. Foto: John Roosa 11
  30. 30. PENDAHULUANmengenai penculikan dan pembunuhan tujuh perwira Angkatan Darat diJakarta, dan menjadi tontonan wajib setiap tahun bagi anak-anak sekolah.Film ini dimulai dengan sorotan berkepanjangan terhadap monumenitu, diiringi pukulan ratapan genderang yang murung. Lubang Buayaditanamkan dalam kesadaran publik sebagai tempat PKI melakukankejahatan besar. Di samping Monumen Pancasila Sakti rezim Suharto membangunMuseum Pengkhianatan PKI pada 1990. Hampir semua dari 42 dioramadi dalam museum itu, yang kaca-kacanya dipasang rendah agar anak-anaksekolah yang berkunjung dapat melihatnya, menggambarkan babak-babak kekejaman PKI dari 1945 sampai 1965. Apa yang dipelajari parapengunjung museum adalah pelajaran moral sederhana: bahwa sejakkemerdekaan dan masa-masa selanjutnya, PKI bersifat antinasional,antiagama, agresif, haus darah, dan sadis.11 Museum itu tidak menawar-kan penjelasan tentang komunisme sebagai ideologi yang menentangkepemilikan pribadi dan kapitalisme; tidak ada sejarah mengenaisumbangan PKI dalam perjuangan nasional melawan kolonialismeBelanda, atau kegiatan partai dalam mengorganisasi buruh dan tanisecara damai.12 Adegan-adegan kekerasan dirancang untuk meyakinkanpengunjung tentang kemustahilan memberi toleransi terhadap PKI ditengah kehidupan berbangsa. Bagi rezim Suharto, kejadian 1 Oktober 1965 menyingkap kebenarantentang sifat PKI yang khianat dan antinasional. Ia mendiskreditkanprinsip yang digalakkan Sukarno, yaitu Nasakom – akronim yang me-nyatakan azas tritunggal nasionalisme, agama, dan komunisme – yangmemberi keabsahan bagi PKI sebagai komponen dasariah dalam perpoli-tikan Indonesia. Rupa-rupanya G-30-S menandai adanya “pemutusanimanen” dengan (meminjam istilah filsuf Prancis Alain Badiou) “penge-tahuan yang telah dilembagakan,” dan “meyakinkan” orang-orang yangakan menjadi setia kepada kebenaran gerakan tersebut. Seperti dinyatakanBadiou, “Bersetia kepada suatu peristiwa adalah bergerak dalam situasiyang disodorkan peristiwa tersebut dengan berpikir ... [tentang] situasitersebut sesuai dengan ‘peristiwa’ itu.”13 Rezim Suharto menampilkan dirisebagai wahana, yang dapat digunakan bangsa Indonesia agar tetap setiakepada kebenaran peristiwa 1 Oktober 1965. Kebenaran yang dinyatakanperistiwa itu ialah bahwa PKI jahat dan pengkhianat yang tak dapat 12
  31. 31. DALIH PEMBUNUHAN MASSAL: GERAKAN 30 SEPTEMBER DAN KUDETA SUHARTOGambar 3. Museum Pengkhianatan PKI, Lubang Buaya, Jakarta. Foto: John Roosadisadarkan lagi. Rezim Suharto akan tampak sebagai semacam “proseskebenaran” jika kebenaran dirumuskan sesuai dengan cara Badiou meru-muskannya, yaitu “suatu proses nyata tentang kesetiaan kepada suatuperistiwa.” Maka semua pejabat negara harus mengucapkan sumpahsetia kepada Pancasila dan bersumpah bahwa mereka (serta keluargamasing-masing) bersih dari kaitan apa pun dengan PKI dan G-30-S.Namun, jika kita menggunakan kerangka berpikir Badiou dalam berpikirtentang G-30-S, kita akan menemukan bahwa G-30-S bukanlah “suatuperistiwa” menurut pengertian Badiou karena peristiwa itu sedikit banyakmerupakan hasil rekayasa ex post facto (dari sesuatu yang sudah terjadi).Dengan operasi-operasi perang urat syaraf rezim Suharto berdusta tentangcara bagaimana enam orang jenderal tersebut dibunuh (menciptakankisah-kisah tentang penyiksaan dan mutilasi) dan tentang identitas parapelaku yang bertanggung jawab (menuduh setiap anggota PKI bersalah).Gerakan 30 September tidak sama dengan revolusi Indonesia 1945-1949, yang merupakan “peristiwa-kebenaran” (truth-event) bagi Sukarno.Revolusi itu bersifat terbuka dan umum. Jutaan orang mengambil bagiandi dalamnya (sebagai gerilyawan, kurir, juru rawat, dermawan, dll.).Untuk menghancurkan prinsip rasial yang menjadi tumpuan pemerin-tah kolonial Belanda, revolusi tampil membela prinsip-prinsip universalpembebasan umat manusia.14 Sebaliknya, G-30-S adalah kejadian yangberlangsung cepat, berskala kecil, bersifat tertutup, dan masyarakat 13
  32. 32. PENDAHULUANumum hampir tidak mempunyai pengetahuan langsung mengenainya.Hanya rezim Suharto saja yang mengaku mampu melihat kebenaranperistiwa tersebut. Dengan demikian rezim itu setia kepada sesuatu yangbukan peristiwa, kepada suatu fantasi yang dibuatnya sendiri. “Kesetiaankepada citra khayali [simulacrum]” tulis Badiou, “meniru sebuah proseskebenaran yang aktual,” namun memutarbalikkan aspirasi universaltentang “peristiwa kebenaran” yang sejati. Ia hanya mengakui sekumpulanorang tertentu (misalnya orang-orang nonkomunis) sebagai peserta dalamkebenaran suatu peristiwa dan menciptakan “perang dan pembantaian”sebagai upaya membasmi siapa pun yang berada di luar kumpulan yangtelah diakui tersebut.15 Sampai penghujung rezim Suharto pada 1998 pemerintah danpejabat militer Indonesia menggunakan hantu PKI untuk menanggapisetiap masalah kerusuhan atau gejala pembangkangan. Kata-kata kuncidalam wacana rezim itu adalah “bahaya laten komunisme.”16 Agen-agentersembunyi dari Organisasi Tanpa Bentuk (OTB) senantiasa mengendap,siap merongrong pembangunan ekonomi dan tertib politik. PembasmianPKI yang tak kunjung usai, sungguh-sungguh merupakan raison d’être(alasan keberadaan) bagi rezim Suharto. Landasan hukum asali yangdipakai rezim ini untuk menguasai Indonesia selama lebih dari 30 tahunadalah perintah Presiden Sukarno pada 3 Oktober 1965, yang memberiwewenang kepada Suharto untuk “memulihkan ketertiban.” Perintahitu dikeluarkan dalam situasi darurat. Tapi bagi Suharto situasi daruratitu tidak pernah berakhir. Kopkamtib (Komando Operasi PemulihanKeamanan dan Ketertiban) yang dibentuk pada masa itu tetap diper-tahankan sampai akhir kekuasaan rezim (dengan penggantian namamenjadi Bakorstanas pada 1988). Badan ini memungkinkan personilmiliter bertindak di luar dan di atas hukum dengan dalih keadaandarurat.17 Pengambilalihan kekuasaan oleh Suharto sejalan denganucapan teoretisi politik Carl Schmitt, “Sang penguasa adalah dia yangmengambil keputusan akan adanya kekecualian.”18 Bagi Suharto, G-30-Sadalah sebuah kekecualian; sebuah patahan dalam tertib hukum yangnormal, yang memerlukan kekuasaan ekstra legal untuk memberantas-nya. Gerakan 30 September bukan sekadar “riak kecil di tengah samudraluas Revolusi Indonesia,” seperti yang dinyatakan Sukarno, penguasa diatas kertas.19 Namun teori Schmitt perlu kualifikasi tersendiri untuk 14
  33. 33. DALIH PEMBUNUHAN MASSAL: GERAKAN 30 SEPTEMBER DAN KUDETA SUHARTOmenangani kasus-kasus ketika penguasa memutuskan bahwa “kekecua-lian” harus menjadi norma.20 Suharto memutuskan bahwa kekecualiandari 1 Oktober 1965 bersifat permanen. Rezimnya mempertahankan“bahaya laten komunisme” dan menyandera Indonesia dalam keadaandarurat terus-menerus. Seperti dikatakan Ariel Heryanto, komunismetidak pernah mati di Indonesia-nya Suharto.21 Rezim Suharto tidak dapatmembiarkan komunisme mati, karena ia menetapkan dirinya dalamhubungan dialektis dengan komunisme, atau lebih tepat, dengan citrakhayali (simulacrum) ‘komunisme’. GERAKAN 30 SEPTEMBER DAN AMERIKA SERIKATGerakan 30 September merupakan peristiwa signifikan dan bukan hanyabagi Indonesia. Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk Indonesia pada1965, Marshall Green, berpendapat bahwa G-30-S merupakan salahsatu saat paling berbahaya bagi AS semasa perang dingin. Ia menafsirkangerakan itu sebagai “usaha kudeta komunis,” yang jika berhasil, dapatmengubah Indonesia menjadi negara komunis yang bersekutu denganUni Soviet dan/atau Tiongkok. Dalam wawancara di televisi pada 1997ia menyatakan, “Saya kira [G-30-S] ini merupakan peristiwa yang sangatpenting di dunia, dan saya tak yakin pers dan masyarakat umum pernahmenganggapnya demikian. Dan saya tidak beranggapan bahwa sayaberkata begitu semata-mata karena saya ada di sana waktu itu: Saya kirabenar – bahwa inilah bangsa yang sekarang merupakan bangsa terbesarkeempat di dunia ini ... akan menjadi komunis, dan memang nyarisdemikian.”22 Serangan Suharto terhadap kaum komunis dan perebutan kekuasaanpresiden yang dilancarkannya berakhir pada pembalikan sepenuhnyaperuntungan AS di Indonesia. Hampir dalam semalam pemerintahIndonesia berubah dari kekuatan yang di tengah-tengah perang dingindengan garang menyuarakan netralitas dan antiimperialisme menjadirekanan pendiam yang patuh kepada tatanan dunia AS. Sebelum G-30-Sterjadi, kedutaan AS telah memulangkan hampir semua personil merekadan menutup konsulat-konsulatnya di luar Jakarta, karena gelombang-gelombang demonstrasi militan yang dipimpin PKI. Presiden Sukarno 15
  34. 34. PENDAHULUANkelihatannya menutup mata dan merestui aksi-aksi itu dengan tidakmemberikan perlindungan keamanan yang cukup bagi konsulat-konsulatAS. Sementara serangan terhadap fasilitas-fasilitas pemerintah AS sudahbegitu mengkhawatirkan, kaum buruh mengambil alih perkebunan-perkebunan dan sumber-sumber minyak milik perusahaan-perusahaanAS, dan pemerintah Indonesia mengancam akan menasionalisasi peru-sahaan-perusahaan tersebut. Sejumlah pejabat pemerintah AS sempatmempertimbangkan pemutusan hubungan diplomatik sama sekali.Tampaknya Washington harus melupakan Indonesia dan mengang-gapnya sebagai bagian dari dunia komunis. Sebuah laporan intelijentingkat tinggi yang disiapkan awal September 1965 mengatakan bahwa,“Indonesia di bawah Sukarno dalam hal-hal penting tertentu sudahbertindak seperti sebuah negara Komunis, dan lebih secara terbukamemusuhi AS ketimbang kebanyakan negeri-negeri Komunis.” Laporanitu memperkirakan bahwa pemerintah Indonesia, dalam waktu dua atautiga tahun, akan sepenuhnya didominasi PKI.23 Lepasnya Indonesia dari pengaruh AS akan menjadi kehilanganbesar, yang jauh lebih mahal daripada lepasnya Indocina. Dalam politikluar negeri AS setelah Perang Dunia Kedua, Indonesia dianggap sebagaidomino terbesar di Asia Tenggara, bukan hanya karena bobot demo-grafis sebagai negeri berpenduduk terbesar kelima di dunia dan keluasangeografis sebagai kepulauan yang terbentang 3.000 mil lebih dari timurke barat, tapi juga karena sumber daya alamnya yang melimpah ruah.Indonesia adalah sumber minyak, timah, dan karet yang penting. Denganinvestasi lebih banyak, Indonesia akan menjadi produsen bahan mentahyang lebih besar lagi, termasuk emas, perak, dan nikel. Seperti dikatakansejarawan Gabriel Kolko, bahwa AS pada awal 1950-an “telah menyerah-kan Indonesia di bawah pengaruh ekonomi Jepang”; minyak, mineral,logam, dan tanaman pangan dari Indonesia akan menghidupi indus-trialisasi Jepang. “Keprihatinan utama” AS adalah “keamanan Jepang,yang aksesnya ke negeri kepulauan dengan sumber alam kaya raya ituharus dijaga agar tetap aman berada di kubu AS.”24 Penilaian Kolkodisusun berdasarkan penyataan kebijakan Dewan Keamanan Nasionaltahun 1952 yang berjudul, “United States Objectives and Courses ofAction with Respect to Southeast Asia” (Tujuan dan Arah TindakanAmerika Serikat untuk Asia Tenggara). Para pembuat kebijakan dalam 16
  35. 35. DALIH PEMBUNUHAN MASSAL: GERAKAN 30 SEPTEMBER DAN KUDETA SUHARTOpemerintahan Truman melihat kawasan ini dari segi sumber daya alam:“Asia Tenggara, khususnya Malaya dan Indonesia, merupakan sumberutama dunia bagi karet alam dan timah, dan produsen minyak bumi,serta komoditi lain yang penting secara strategis.” Jatuhnya kawasan inike tangan komunis (atau, sejatinya kekuatan lokal mana pun yang inginmembatasi ekspor sumber daya alam tersebut) akan menghambat indus-trialisasi Jepang, dan hal ini akan “sangat mempersulit upaya mengalangiJepang untuk pada akhirnya menyesuaikan diri dengan komunisme.”25Pemerintah Eisenhower mengeluarkan pernyataan politik serupa tentangAsia Tenggara dua tahun kemudian, yang mengulangi bahasa memoran-dum terdahulu hampir kata demi kata.26 Washington menganggap kemungkinan jatuhnya pemerintahIndonesia di bawah kekuasaan komunis sebagai hari kiamat. Sikapnyamempertahankan garis melawan komunisme di Indocina antara laindidorong keinginan melindungi Indonesia. Dalam logika teori domino,negeri-negeri Indocina yang relatif tidak begitu strategis harus diamankandari komunisme agar negeri-negeri yang lebih penting di Asia Tenggaradapat dipagari dari pengaruhnya. Dalam pidatonya pada 1965, RichardNixon membenarkan pemboman atas Vietnam Utara sebagai alat untukmelindungi “potensi mineral yang luar biasa” di Indonesia.27 Dua tahunkemudian ia menyebut Indonesia sebagai “anugerah terbesar di wilayahAsia Tenggara,” dan merupakan “timbunan sumber daya alam terkayadi kawasan itu.”28 Pasukan darat yang mulai memasuki Vietnam sejakMaret 1965 akan menjadi tidak berguna jika kaum komunis menang dinegeri yang lebih besar dan lebih strategis. Penguasaan Indonesia oleh PKIakan membuat intervensi di Vietnam sia-sia belaka. Pasukan AmerikaSerikat sibuk bertempur di pintu gerbang, sementara musuh sudah beradadi dalam, akan segera menduduki istana, dan menjarah-rayah gudang-gudang simpanan. Dalam minggu-minggu sebelum G-30-S beraksi, para pembuatkebijakan di Washington saling mengingatkan diri, agar perang diVietnam tidak sampai mengalihkan perhatian mereka dari situasi diIndonesia yang sama daruratnya. Pertemuan antara sekelompok kecilpejabat Departemen Luar Negeri dan Wakil Menteri Luar Negeri GeorgeBall di akhir Agustus 1965 menegaskan bahwa Indonesia paling tidaksama penting dengan seluruh Indocina. Kelompok ini juga menegaskan 17
  36. 36. PENDAHULUANbahwa pengambilalihan kekuasaan oleh sayap kiri di Indonesia sudahdekat. Menurut salah seorang pejabat yang hadir, William Bundy,kelompok tersebut percaya bahwa pengambilalihan kekuasaan seperti ituakan menimbulkan “efek menjepit sangat kuat bagi kedudukan negeri-negeri nonkomunis di Asia Tenggara.”29 Dalam renungan reflektifnya, Robert McNamara, Menteri Perta-hanan dalam pemerintahan Kennedy dan Johnson, mengatakan bahwaAS seharusnya mengurangi keterlibatannya di Indocina setelah pembas-mian kaum komunis di Indonesia oleh Suharto. Begitu domino besar diAsia Tenggara sudah aman di tangan tentara Indonesia, para pembuatkebijakan AS harusnya menyadari bahwa Vietnam sebenarnya tidaksepenting seperti yang mereka pikirkan semula. “Kekalahan permanen”PKI di Indonesia, menurut pengakuannya sekarang, “telah mengurangipertaruhan riil AS di Vietnam secara substansial.”30 Walaupun dalamsebuah memorandum 1967 McNamara telah menyebut penghancuranPKI sebagai alasan untuk menghentikan langkah AS meningkatkanperang, ia tidak mendorong dilakukannya peninjauan kembali kebijakanAS secara menyeluruh.31 Perang pada gilirannya memperoleh logikanyasendiri, yang terpisah dari teori domino. Kendati memiliki pemahamanmengenai implikasi dari kejadian-kejadian di Indonesia, McNamaratetap terpaku dalam kerangka pikir yang menghendaki, pada satu pihak,kemenangan AS dalam perang Vietnam, atau pada pihak lain, suatu carapengunduran diri dari Vietnam tanpa kehilangan muka bagi pemerintahAS. Para pembuat kebijakan gagal memahami bahwa setelah 1965 “hanyasedikit domino-domino yang tertinggal, dan kecil kemungkinannyamereka akan ikut roboh.”32 Walaupun tersita oleh urusan Indocina pada 1965, Washing-ton sangat gembira ketika tentara Suharto mengalahkan G-30-S danmerangsak menghantam kaum komunis. Ketidakberpihakan Sukarnodalam perang dingin dan kekuatan PKI yang semakin besar telah dibikintamat dengan sekali pukul. Tentara Suharto melakukan apa yang tidakmampu dilakukan negara boneka AS di Vietnam Selatan meskipuntelah dibantu dengan jutaan dolar dan ribuan pasukan AS, yaitu meng-habisi gerakan komunis di negerinya. Dalam sepuluh hari setelah G-30-Smeletus, wartawan New York Times Max Frankel sudah mencatat bahwasuasana Washington menjadi cerah. Artikel Max Frankel berjudul “U.S. 18
  37. 37. DALIH PEMBUNUHAN MASSAL: GERAKAN 30 SEPTEMBER DAN KUDETA SUHARTOIs Heartened by Red Setback in Indonesia Coup” (AS Gembira karenaKekalahan Kaum Merah dalam Kudeta di Indonesia). Ia mengamatibahwa sekarang ada “harapan, padahal baru dua pekan lalu hanya adakeputusasaan mengenai negeri berpenduduk terbesar kelima di bumi itu,yang dengan 103 juta penduduknya di 4.000 pulau memiliki sumberdaya melimpah tapi belum dimanfaatkan dan menduduki salah satuposisi paling strategis di Asia Tenggara.”33 Ketika berita-berita pembantaian mulai berdatangan sepanjangbulan-bulan berikutnya, harapan Washington justru membesar. Pada Juni1966, seorang penulis editorial utama New York Times, James Reston,menyebut “transformasi biadab” di Indonesia sebagai “secercah cahaya diAsia.”34 Laporan utama majalah Time menyebut naiknya Suharto sebagai“kabar terbaik bagi dunia Barat selama bertahun-tahun di Asia.”35 WakilMenteri Muda Luar Negeri Alexis Johnson percaya bahwa “pembalikangelombang pasang komunis di Indonesia yang besar itu” merupakan“peristiwa yang bersama perang Vietnam mungkin merupakan titikbalik sejarah terpenting di Asia dalam dasawarsa ini.”36 Seperti dinyata-kan Noam Chomsky dan Edward Herman, pembantaian di Indonesiamerupakan “pembantaian bermaksud baik” dan “teror yang konstruktif”karena melayani kepentingan politik luar negeri AS. Sementara Washing-ton mengemukakan setiap pelanggaran hak asasi manusia di blok Sovietsebagai bukti kejahatan musuhnya dalam perang dingin, ia mengabaikan,memberi pembenaran, atau bahkan bersekongkol dalam kejahatan yangdilakukan oleh pemerintah-pemerintah yang bersekutu dengan AS.37 MEMIKIRKAN KEMBALI GERAKANGerakan 30 September dengan begitu menjadi pemicu serangkaiankejadian: penumpasan PKI, pengambilalihan kekuasaan negara olehtentara, dan pergeseran tajam posisi strategis Amerika Serikat di AsiaTenggara. Saya menyadari arti penting peristiwa-peristiwa ini saatmelakukan penelitian lapangan di Indonesia pada awal 2000. Namunsaya tidak bermaksud menulis tentang G-30-S karena saya menganggap-nya sebuah misteri yang tak dapat ditembus, dan tidak ada hal baru yangdapat ditulis mengenainya. Versi rezim Suharto jelas patut dipertanyakan, 19
  38. 38. PENDAHULUANjika bukan sama sekali salah, tapi kelangkaan bahan mempersulit orangmengajukan versi tandingan. Tanpa informasi baru mengenai G-30-S,orang hanya dapat mengunyah ulang fakta-fakta yang sudah diketahuiumum tidak memuaskan dan menambah spekulasi yang sudah demikianbanyak. Penelitian sejarah lisan yang saya lakukan terpusat pada akibatsesudah G-30-S terjadi. Perhatian saya terutama pada pengalaman merekayang selamat dari pembunuhan massal dan penahanan.38 Gerakan 30September itu sendiri tampaknya dapat disamakan dengan peristiwapembunuhan John F. Kennedy dalam sejarah AS – sebuah topik yangcocok bagi mereka yang gemar teori konspirasi atau “deep politics” (politikterselubung).39 Saya mulai yakin bahwa ada hal baru yang dapat diketengahkanmengenai G-30-S saat menemukan dokumen yang ditulis almarhumBrigadir Jenderal M.A. Supardjo. Menurut pengumuman radio yangdisiarkan G-30-S pada pagi 1 Oktober 1965, ia adalah salah satu dariempat wakil komandan di bawah Letkol Untung. Saya tertarik kepadaSupardjo karena ia merupakan salah satu dari sekian banyak keganjilandalam G-30-S: mungkin untuk pertama kali dalam sejarah pembe-rontakan dan kup seorang jenderal menjadi bawahan seorang kolonel.Mengapa Letkol Untung menjadi komandan dan Brigjen Supardjomenjadi wakil komandan? Kebetulan saya bertemu dengan salah satuputra Supardjo di rumah seorang eks tapol. Saya berbicara dengannyadalam kesempatan itu dan beberapa pertemuan lain kemudian mengenaibagaimana ibu dan delapan saudaranya dapat bertahan dalam pemis-kinan dan stigmatisasi yang mereka alami setelah 1965. Tergerak olehkeingintahuan, saya lalu mendatangi penyimpanan arsip militer diDinas Dokumentasi Museum Satria Mandala, Jakarta, untuk membacapernyataan Supardjo di Mahmilub pada 1967 dan bukti-bukti yangdiajukan mahkamah kepadanya. Di situlah, hampir pada ujung bundelterakhir dokumen pengadilan, pada bagian yang ditandai “Barang-BarangBukti,” saya menemukan analisis yang ditulisnya mengenai kegagalanG-30-S. Awalnya saya mengira bahwa dokumen itu palsu atau tidakdapat digunakan. Saya belum pernah melihat dokumen itu disebut dalamtulisan-tulisan ilmiah mengenai G-30-S. Jika memang dokumen ituotentik, seharusnya ada orang yang pernah menulis sesuatu mengenai-nya. Tapi, setelah mempelajari naskah itu, saya berkesimpulan bahwa 20
  39. 39. DALIH PEMBUNUHAN MASSAL: GERAKAN 30 SEPTEMBER DAN KUDETA SUHARTOdokumen itu tidak dapat lain dari apa yang menampak: sebuah analisispascaperistiwa yang ditulis Supardjo dengan jujur. Belakangan saya me-ngetahui Jenderal A.H. Nasution (yang berhasil lolos dari penggerebekanG-30-S pagi itu) memuat kutipan dari dokumen itu dalam otobiografinyayang berjilid-jilid.40 Nasution tidak memberi komentar apa-apa. Selamabertahun-tahun para sarjana mengabaikan dokumen tersebut begitusaja.41 Dokumen selengkapnya tampil pertama kali dalam bentuk cetakanpada 2004 (setelah saya menyelesaikan draft pertama buku ini). VictorFic (almarhum) memasukkan terjemahan dokumen ini dalam bukunyayang terbit di India.42 Pengabaian yang begitu lama terhadap dokumentersebut sungguh disayangkan. Dokumen ini merupakan sumber utamayang memberi informasi paling banyak mengenai G-30-S karena ditulisoleh orang yang paling dekat dengan para pelaku inti selama gerakanberlangsung. Supardjo menulis dokumen itu sekitar 1966 saat iamasih dalam persembunyian. Ia baru ditangkap pada 12 Januari 1967.Dokumen itu dimaksudkan untuk dibaca orang-orang yang mempunyaihubungan dengan G-30-S agar mereka dapat belajar dari kesalahan yangmereka lakukan. Sebagai sebuah dokumen internal, dokumen itu lebihandal daripada kesaksian-kesaksian para pelaku yang diberikan di depaninterogator dan mahkamah militer. Minat saya kepada G-30-S semakin diperkuat ketika, lagi-lagisecara tidak sengaja, bertemu dengan mantan perwira militer yangnamanya disebut melalui siaran radio sebagai wakil komandan G-30-S:Heru Atmodjo. Ia seorang letnan kolonel Angkatan Udara. Hampirsepanjang hari pada 1 Oktober 1965 Atmodjo bersama Supardjo dandipenjara bersama dengannya pula pada 1967-68. Ia mengonfirmasikeaslian dokumen Supardjo itu. Ia bahkan pernah diberi salinannyaoleh Supardjo untuk dibaca di dalam penjara.43 (Menurut Atmodjo,dokumen-dokumen biasanya diselundupkan keluar-masuk penjaraoleh para penjaga yang simpati). Atmodjo juga mengonfirmasi banyakpenegasan yang dikemukakan Supardjo dalam dokumen itu. Sayaberulang kali berbicara dengan Atmodjo selama tiga tahun dan menga-dakan empat wawancara yang direkam dengannya. Setelah membaca dokumen Supardjo dan berbicara dengan HeruAtmodjo, saya berkesimpulan perlu ada analisis baru mengenai G-30-S.Lalu, saya mulai melakukan pengumpulan informasi yang lebih terarah 21
  40. 40. PENDAHULUANdan sistematis. Mengingat sifat persoalannya, saya harus berpikir sepertidetektif – yang kadang-kadang memang harus dilakukan sejarawan. Sayaberhasil menemui seorang kader tinggi PKI yang berpengetahuan luasmengenai Biro Chusus, organisasi rahasia yang berperan penting dalamG-30-S. Ia belum pernah berbicara kepada wartawan atau sejarawansiapa pun mengenai pengalamannya. Ia berbicara kepada saya dengansyarat, saya tidak mengungkap nama atau informasi apa saja yang dapatmembuatnya dikenali. Ia sudah tua dan meniti hidup dengan tenang dantidak mau terlibat dalam kontroversi. Dalam naskah ini saya memberinyanama samaran, Hasan.44 Bersama beberapa rekan di Indonesia saya mewawancarai empatorang yang berpartisipasi dalam G-30-S, empat kader tinggi PKI, danbeberapa orang lain yang cukup mengetahui masalah G-30-S. Salahseorang mantan pimpinan PKI yang saya wawancarai menyerahkansalinan dari analisis mengenai G-30-S yang ditulis temannya, almarhumSiauw Giok Tjhan.45 Sebelum Oktober 1965 Siauw adalah pemimpinutama Baperki, organisasi Tionghoa Indonesia yang besar dan pendukungPresiden Sukarno.46 Siauw, yang dipenjara selama 12 tahun, menulis ana-lisisnya berdasarkan diskusi dan wawancaranya dengan sesama tahanan.Analisisnya, oleh karena itu, mencerminkan pendapat kolektif dari paratahanan politik mengenai G-30-S. Dengan jatuhnya Suharto pada Mei 1998, banyak penulis yangmemanfaatkan kebebasan pers untuk menerbitkan tulisan-tulisan yangkritis terhadap versi resmi tentang peristiwa 1965. Mantan wakil perdanamenteri pertama di zaman Sukarno, yakni Subandrio, yang dipenjaraselama Suharto berkuasa, menerbitkan analisisnya mengenai G-30-Spada 2001.47 Mantan Menteri Panglima Angkatan Udara, Omar Dani,memberikan wawancara di media massa dan membantu sebuah timpenulis untuk menyusun biografinya.48 Sebuah tim penulis yang secaratidak resmi mewakili korps Angkatan Udara menerbitkan keteranganrinci mengenai kejadian-kejadian di pangkalan Halim.49 Bermuncul-annya berbagai penerbitan baru ini juga membantu meyakinkan sayabahwa analisis baru yang lebih menyeluruh mengenai G-30-S memangdiperlukan. Sementara para korban Suharto menerbitkan cerita mereka, peme-rintah AS menyiarkan seberkas dokumen yang sudah dideklasifikasikan 22
  41. 41. DALIH PEMBUNUHAN MASSAL: GERAKAN 30 SEPTEMBER DAN KUDETA SUHARTOmengenai kejadian-kejadian di Indonesia dalam 1965-1966. Berkas itusebagian besar berupa memorandum dari pejabat pemerintahan L.B.Johnson, dan pertukaran surat-surat kawat antara Kedutaan Besar ASdi Jakarta dan Departemen Luar Negeri di Washington, DC. Untukalasan yang tidak dijelaskan, Departemen Luar Negeri langsung menarikkembali berkas dokumen yang telah diumumkannya itu. Penarikan itusia-sia belaka karena beberapa eksemplar sudah terlanjur dikirim keberbagai perpustakaan. Langkah itu (bagi Departemen Luar Negeri)juga kontraproduktif karena aroma kontroversi justru merangsang hasratingin tahu masyarakat umum. Seluruh berkas naskah itu sekarang tersediadi berandawarta (website) sebuah lembaga penelitian di Washington,DC.50 Saya juga menemukan dua dokumen penting di sebuah tempatpenyimpanan arsip di Amsterdam. Dua orang mantan anggota PolitbiroPKI, Muhammad Munir dan Iskandar Subekti, menulis analisis masing-masing tentang G-30-S, yang belum pernah dimanfaatkan para sejarawansebelumnya. Dengan menggunakan potongan-potongan informasi yang telahsaya kumpulkan dari berbagai sumber ini, saya mencoba menetapkansiapa yang mengorganisasi G-30-S, apa yang ingin mereka capai melaluitindakan mereka, dan mengapa mereka gagal sedemikian parahnya.Analisis yang ditampilkan dalam buku ini dengan sendirinya menjadirumit karena kisah G-30-S banyak bersimpul dan berliku-liku. Masing-masing orang bergabung dalam G-30-S dengan motivasi dan pengha-rapan berbeda-beda dan dengan tingkat pengetahuan mengenai rencanaaksi yang berbeda-beda pula. Seperti halnya kebanyakan operasi rahasiayang melibatkan beragam orang dan lembaga, kita akan melihat adanyakesalahan asumsi, salah komunikasi, dan penipuan diri-sendiri. Buku ini dapat dianggap sebagai apa yang oleh Robert Darntondisebut “analisis insiden” karena memusatkan perhatiannya pada satuinsiden dramatis, dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang khas darilanggam ini: “Bagaimana kita dapat mengetahui apa yang sesungguhnyaterjadi? Apa yang membedakan fakta dari fiksi? Bagaimana menemukankebenaran di antara interpretasi yang saling bertentangan?”51 Darntonmencatat bahwa orang yang menulis tentang kekejaman dan pemban-taian cenderung mengkaji dengan teliti dokumen tertulis dan narasi 23
  42. 42. PENDAHULUANlisan untuk memahami “apa yang sesungguhnya terjadi”: identitaspara pelaku, jumlah korban, kronologi kejadian yang tepat, dan sete-rusnya. Menghadapi bukti yang bias dan memihak, seorang sejarawanakan tergoda menggunakan strategi Akira Kurosawa dalam film tahun1950 yang terkenal, Rashomon (berdasarkan cerita pendek RyunosukeAkutagawa). Empat orang masing-masing memberikan empat ceritayang berbeda-beda tentang satu kejahatan yang sama. Cerita lalu berakhirtanpa kepastian tentang yang manakah cerita yang benar. Salah satu diantara empat tokoh yang berusaha menetapkan siapa yang bertanggungjawab atas kejahatan yang terjadi, pada akhirnya mengatakan kepadatemannya yang sama-sama bingung. “Sudahlah, jangan khawatirkanitu lagi. Seakan-akan manusia itu rasional saja.”52 Kesimpulan demikiantidak menjadi soal bagi sebuah cerita fiktif. Namun sulit untuk menga-takan kepada masyarakat “yang ingin mengetahui kebenaran tentangtrauma di masa lalu,” bahwa mereka harus menyerahkan diri kepada idebahwa kebenaran itu relatif, masa lalu itu tidak dapat dimengerti, danmanusia itu irasional.53 Walaupun saya menghindari pengakhiran kisahdengan gaya Rashomon, saya juga tidak mengambil gaya pengakhirankisah seperti Sherlock Holmes atau Hercule Poirot. Tak seorang pundengan penuh keyakinan dapat menudingkan telunjuk tuduhan kepadasi pelaku kejahatan sehingga seluruh misteri G-30-S pun tidak dapatterungkap dengan baik. Banyak yang masih tetap tidak diketahui atautidak pasti. Orang harus menerima bahwa mungkin masih banyak tokoh-tokoh yang tidak dikenal, namun memainkan peranan sangat pentingdi balik layar. Meminjam komentar epistemologis Donald Rumsfeldyang telah dikecam habis secara tak berimbang, tentu terdapat banyak“hal-hal tidak diketahui yang tidak diketahui,” yaitu hal-hal yang kitatidak tahu bahwa kita tidak tahu.54 Bagian akhir buku ini hanya berniatmembawa kita sedikit lebih maju dalam menyusuri labirin misteri ini,memberi pertanda beberapa jalan buntu, dan menunjukkan jalan-jalanyang paling menjanjikan bagi penelitian lebih lanjut.55 PENYAJIAN ARGUMENBuku ini dimulai dengan bab yang menggambarkan aksi-aksi dan per- 24
  43. 43. DALIH PEMBUNUHAN MASSAL: GERAKAN 30 SEPTEMBER DAN KUDETA SUHARTOnyataan-pernyataan G-30-S pada 1 Oktober 1965 dan kekalahannya ditangan Mayjen Suharto. Bab ini akan memperkenalkan pembaca kepadasemua keganjilan G-30-S, yang menjadi alasan mengapa banyak sejarawanmelihatnya sebagai teka-teki. Aksi-aksi G-30-S tidak didasari alasan yangjelas, bergerak dengan berbagai tujuan yang saling berlawanan, danakhirnya hampir tidak mencapai apa pun. Pengumuman-pengumumanyang disiarkan di radio tidak konsisten dan hampir tidak ada kaitannyadengan tindakan di lapangan. Jika dilihat secara menyeluruh, G-30-Stampak sebagai sosok aneh yang tidak masuk akal. Tidak ada pola yangjelas, bahkan jika kita susun berurutan rangkaian kejadian-kejadian yangsudah disepakati umum – yang dapat kita anggap sebagai fakta sekalipun.G-30-S tidak dapat digolongkan sebagai pemberontakan pasukan militer,percobaan kudeta, atau pemberontakan sosial. Bab yang pertama sengajatidak saya tulis dalam bentuk narasi, karena memang peristiwa-peristiwayang terjadi tidak memiliki kesinambungan alur dan karakter yang di-perlukan untuk menyusun sebuah narasi. Bab ini bermaksud menyorotiberbagai keganjilan yang kacau dari G-30-S, yang merupakan pengalangbagi narasi yang lugas dan lancar. Bab kedua akan mengikhtisarkan berbagai cara keganjilan-kegan-jilan itu telah ditafsirkan dan disusun menjadi sebuah narasi kejadianyang padu. Rezim Suharto dengan kasar mendesakkan sebuah narasigampangan, yang menetapkan PKI sebagai dalang keji yang mengontrolsetiap aspek G-30-S. Sejumlah sarjana asing yang lebih berperhatianpada prosedur pengungkapan bukti dan logika dibanding dengan parapropagandis negara menunjukkan kelemahan-kelemahan versi rezimSuharto, dan mengajukan jalan cerita yang berbeda. Para ilmuwan itumenyatakan bahwa peran para perwira militer yang terlibat dalam G-30-Slebih besar dari peran PKI, atau bahwa Suharto sendiri terlibat dalamoperasi ini. Bab-bab tiga sampai enam mencermati sumber primer yang baru:dokumen Supardjo, wawancara lisan saya dengan Hasan dan lainnya,dokumen-dokumen internal PKI, beberapa memoar yang baru diter-bitkan, dan dokumen-dokumen rahasia pemerintah AS yang sudahdiumumkan. Saya menganalisis para pelaku secara bergiliran: paraperwira militer dalam G-30-S, Sjam dan Biro Chususnya, D.N. Aiditdan pimpinan PKI jajarannya, Suharto dan para perwira rekan-rekannya, 25
  44. 44. PENDAHULUANdan pemerintah AS. Bab-bab ini, sebagai tinjauan atas bukti-bukti yangada, berjalan dengan mengikuti logika penyelidikan detektif. Barulahpada bab terakhir saya membangun suatu narasi yang berjalan secarakronologis dan bermaksud untuk memecahkan banyak keganjilan dalamperistiwa yang saya uraikan dalam bab pertama. GERAKAN 30 SEPTEMBER SEBAGAI DALIHDalam ingatan sosial masyarakat Indonesia seperti yang dibentuk rezimSuharto, G-30-S merupakan kekejaman yang begitu jahat, sehinggakekerasan massal terhadap siapa pun yang terkait dengannya dilihatsebagai sesuatu yang dapat dibenarkan dan bahkan terhormat. Didugaada hubungan sebab-akibat langsung: represi terhadap PKI merupakanjawaban sepatutnya terhadap ancaman yang diajukan G-30-S. Memangdalam wacana politik di Indonesia menjadi lazim menggabungkan G-30-Sdengan kekerasan massal yang mengikutinya, seakan-akan keduanyamerupakan suatu peristiwa tunggal; satu istilah, “Gerakan 30 September,”digunakan untuk merujuk ke dua peristiwa. Kendati demikian sejak awalserangan Suharto terhadap PKI, sesuatu yang tidak benar sudah terasadengan pelekatan erat kedua peristiwa tersebut. Sepanjang akhir 1965sampai awal 1966 Presiden Sukarno terus-menerus memprotes bahwaAngkatan Darat “mau membunuh tikus seluruh rumahnya dibakar.”56Kampanye anti-PKI sama sekali menjadi tidak sepadan dengan alasansenyatanya. Pada dasarnya G-30-S merupakan suatu peristiwa yang relatifberskala kecil di Jakarta dan Jawa Tengah, yang sudah berakhir palinglambat 3 Oktober 1965. Secara keseluruhan G-30-S telah membunuhdua belas orang.57 Suharto membesar-besarkannya sedemikian rupasehingga peristiwa itu tampak seperti sebuah konspirasi nasional berkelan-jutan untuk melakukan pembunuhan massal. Berjuta-juta orang yangberhubungan dengan PKI, bahkan para petani buta huruf di dusun-dusun terpencil, ditampilkan sebagai gerombolan pembunuh yang secarakolektif bertanggung jawab atas G-30-S. Setiap orang yang ditahanmiliter dituduh sebagai “langsung atau tidak langsung terlibat dalamGerakan 30 September,” jika kita mengutip dari surat keterangan yangdiberikan kepada tahanan politik pada saat ia dibebaskan. (Perhatikan 26
  45. 45. DALIH PEMBUNUHAN MASSAL: GERAKAN 30 SEPTEMBER DAN KUDETA SUHARTOistilah karet tidak langsung.) Dua orang pakar tentang Indonesia dariCornell University, Benedict Anderson dan Ruth McVey, pada awal 1966mengamati bahwa tentara Suharto telah memulai kampanye antikomuniscukup lama sesudah G-30-S hancur dan tidak menunjukkan tanda-tandaakan bangkit kembali. Di antara saat G-30-S tamat riwayatnya dengansaat penangkapan massal oleh tentara dimulai, “tiga minggu berlalu tanpaadanya kekerasan atau tanda-tanda terjadinya perang saudara, bahkanmenurut Angkatan Darat sendiri.” Dua penulis itu berpendapat bahwaG-30-S dan kampanye antikomunis yang mengikutinya “merupakanfenomena politik yang sama sekali terpisah” (cetak miring penegas dalamteks asli).58 Kekerasan yang terjadi sepanjang akhir 1965 sampai awal 1966harus dilihat lebih sebagai saat awal pembangunan sebuah rezim baru,ketimbang sebuah reaksi wajar terhadap G-30-S. Suharto dan paraperwira tinggi Angkatan Darat lainnya menggunakan G-30-S sebagaidalih untuk menegakkan kediktatoran militer di negeri ini. Mereka perlumenciptakan keadaan darurat nasional dan suasana yang sama sekalikacau jika hendak menumbangkan seluruh generasi kaum nasionalisdan menyapu bersih cita-cita kerakyatan Presiden Sukarno. Mereka me-ngetahui bahwa mereka harus melawan pendapat umum.59 Suharto saatitu relatif bukan siapa-siapa, seorang pejabat biasa, yang bersiasat untukmenggeser sang pemimpin karismatik bangsa. Ia dan para pemimpinmiliter lainnya mengetahui bahwa mereka akan menghadapi perla-wanan hebat jika militer melancarkan kudeta terhadap Sukarno secaralangsung tak berselubung. Alih-alih menyerang istana terlebih dulu,Suharto justru menyerang masyarakat dengan kekerasan secepat kilat,lalu dengan menginjak-injak penduduk yang dicengkam ketakutan dankebingungan melenggang masuk ke istana. Suharto sendiri, tak mengherankan, menyangkal bertanggungjawab atas kekerasan massal 1965-66 – pelaku jarang mau mengakuikejahatan mereka di hadapan publik.60 Dalam catatan resmi dinyatakanbahwa “penumpasan PKI” telah dilakukan melalui tindakan adminis-tratif dan tanpa pertumpahan darah; orang yang dicurigai ditangkap,diperiksa untuk memastikan bersalah atau tidak, lalu dibagi dalam tigagolongan (A, B, dan C) sesuai tingkat keterlibatan masing-masing didalam G-30-S, lalu dipenjarakan. Catatan resmi tidak pernah menyebut 27
  46. 46. PENDAHULUANGambar 4. Detil relief pada Monumen Pancasila Sakti: Suharto mengakhiri kekacauan,menciptakan ketertiban, dan mengembalikan perempuan ke rumah tangga dan kepatuhan.Foto: John Roosatentang pembunuhan massal.61 Dalam memoarnya Suharto menulisbahwa strateginya adalah “pengejaran, pembersihan dan penghan-curan.”62 Ia tidak memberi tahu pembaca bahwa ada orang yang tewasdalam proses itu. Film mengenai G-30-S yang disponsori pemerintah jugatidak menggambarkan adanya penangkapan dan pembunuhan massal.Panel terakhir pada relief Monumen Pancasila Sakti memperlihatkanLetkol Untung di depan Mahmilub, seolah-olah proses hukum dengankepala dingin merupakan satu-satunya bentuk reaksi militer terhadapG-30-S. Tidak ada tugu peringatan dibangun di Monumen PancasilaSakti bagi ratusan ribu korban. Saat menyinggung tentang kekerasan yangterjadi, dalam kesempatan yang amat langka, Suharto menjelaskannyasebagai sesuatu yang bersumber pada konflik dalam masyarakat. Dalampidato pada 1971, ia menyampaikan analisis tentang sebab-musababpembunuhan itu dalam satu kalimat singkat, “Ribuan korban djatuhdidaerah2 karena rakjat bertindak sendiri2, djuga karena prasangka2buruk antar golongan yang selama bertahun2 ditanamkan oleh praktek2politik jang sangat sempit.”63 Dengan demikian Angkatan Darat seolah-olah tidak memainkan peran apa pun dalam mengatur pembunuhan;rakyat melakukannya sendiri untuk alasan yang tidak ada kaitan dengan 28
  47. 47. DALIH PEMBUNUHAN MASSAL: GERAKAN 30 SEPTEMBER DAN KUDETA SUHARTOoperasi penghancuran G-30-S oleh militer. Penjelasan Suharto yang singkat tentang sebab-musabab pem-bunuhan itu bukanlah sesuatu yang unik. Banyak orang Indonesia,bahkan yang biasanya kritis terhadap propaganda negara, mempercayaibahwa pembunuhan itu merupakan tindak kekerasan yang terjadispontan dari bawah, sebagai pengadilan liar barisan keamanan masyara-kat, yang membarengi usaha penumpasan pemberontakan PKI olehmiliter yang sangat terkendali dan terorganisasi dengan baik. Karenaketidaktahuan mengenai peristiwa-peristiwa yang terjadi di daerah-daerahlain, orang yang menyaksikan pembunuhan besar-besaran yang diaturmiliter di daerah tempat tinggalnya bisa jadi menganggap pembunuhantersebut sebagai pengecualian. Tidak adanya pembicaraan yang terbukadan penyelidikan yang teliti terhadap pembantaian yang terjadi telahmenimbulkan ketidakpastian yang besar tentang pola umum kejahatanini. Kaum terpelajar Indonesia, dalam mencari jawab tentang masalahini, cenderung terjerumus pada prasangka berkerak akan kerentananmassa. Kalangan kelas menengah Indonesia sering mengatakan kepadasaya bahwa pembunuhan itu merupakan buah antagonisme yang sudahada sebelumnya antara PKI dan partai-partai politik lain. Anggota PKI,karena militansi dan kekejaman mereka, rupanya menjadi sangat dibencisejak sebelum 1965, sehingga lawan-lawan mereka langsung mengambilkesempatan untuk membantai mereka. Pembunuhan itu seakan-akanterjadi begitu saja, tanpa ada orang atau lembaga apa pun yang bertang-gung jawab. Seperti dikatakan Robert Cribb, pembunuhan yang terjadi“dipandang seolah-olah tergolong dalam kategori tak lazim kematianmassal akibat ‘kecelakaan’.”64 Koran-koran Indonesia tidak memberitakan adanya pembunuhan-pembunuhan. Angkatan Darat memberangus hampir semua surat kabardalam pekan pertama Oktober 1965 dan menerapkan sensor terhadapbeberapa di antaranya yang mendapat ijin terbit kembali. Angkatan Daratmenerbitkan beberapa korannya sendiri. Orang akan sia-sia mencari beritadalam koran-koran yang terbit antara akhir 1965 sampai akhir 1966 yangsekadar menyebut saja bahwa ada pembunuhan besar-besaran. Koran-koran hanya memuat berita tentang cara-cara tanpa kekerasan dalampenumpasan PKI: pemecatan orang-orang yang dituduh pendukung PKIdari berbagai badan pemerintahan (seperti kantor berita “Antara”), pem- 29
  48. 48. PENDAHULUANbubaran organisasi-organisasi yang berafiliasi dengan PKI, dan demon-strasi mahasiswa menuntut pemerintah untuk membubarkan PKI. Sudahpasti para redaktur koran-koran tersebut mengetahui tentang terjadinyapembunuhan besar-besaran – kisah-kisah mengerikan sudah beredarluas dari mulut ke mulut. Tapi mereka sengaja tidak memberitakannyabarang sepatah kata pun. Sebagai gantinya mereka penuhi koran-koranmereka dengan cerita-cerita fiktif dari para ahli perang urat syaraf dikalangan tentara, yakni kisah-kisah yang melukiskan PKI sebagai pelakutunggal kekerasan di tengah masyarakat. Bahkan koran-koran indepen-den pun, seperti misalnya Kompas, yang belakangan menjadi koran acuanterkemuka selama tahun-tahun kekuasaan Suharto, ikut ambil bagiandalam kampanye militer untuk menggalakkan histeria anti-PKI. Angkatan Darat mengendalikan dengan ketat keberadaan wartawanasing, melarang banyak dari mereka masuk Indonesia sejak Oktober1965, dan membatasi gerak mereka yang berhasil tinggal atau menye-linap masuk agar tetap berada di Jakarta. Sebagian besar pemberitaanpara wartawan yang berdiam di Jakarta terpusat pada manuver-manuverpolitik tingkat tinggi Presiden Sukarno, Jenderal Nasution, dan pejabat-pejabat tinggi pemerintahan yang lain. Para juru bicara militer dengansopan meyakinkan para wartawan bahwa pembunuhan apa pun yangterjadi adalah akibat kemarahan rakyat yang tak terkendali, bukanpembantaian yang diatur tentara. Dari cerita-cerita yang merembes keJakarta, para wartawan menduga-duga bahwa angka korban mati yangdiumumkan Sukarno pada Januari 1966, yaitu 87.000, sangat jauh dibawah angka sebenarnya. Tetapi mereka tidak dapat memberitakanpembunuhan besar-besaran itu selengkap-lengkapnya sampai sesudahAngkatan Darat melonggarkan batasan-batasan bergerak pada Maret1966. Skala pembunuhan mulai menjadi lebih jelas ketika wartawandapat pergi ke daerah-daerah di luar Jakarta. Wartawan pertama yangmelakukan penyelidikan, Stanley Karnow dari Washington Post, setelahmelalui perjalanan selama dua pekan di seluruh Jawa dan Bali, mem-perkirakan setengah juta orang telah mati dibunuh. Seth King dari NewYork Times, pada Mei 1966, mengajukan angka perkiraan moderat, yaitusebanyak 300.000 korban tewas. Seymour Topping, rekan Seth King darikoran yang sama, melakukan penyelidikan beberapa bulan kemudian danmenyimpulkan bahwa jumlah korban mati seluruhnya bahkan dapat 30
  49. 49. DALIH PEMBUNUHAN MASSAL: GERAKAN 30 SEPTEMBER DAN KUDETA SUHARTOlebih dari setengah juta orang.65 Ketiga koresponden asing itu memberitakan bahwa personil militerdan milisi sipil antikomunis terlibat dalam pembunuhan dan sering kalimereka melakukannya dengan cara-cara yang sistematik dan rahasia.King mencatat bahwa orang-orang asing di Jakarta tidak menyaksikankekerasan apa pun. Mereka hanya mengetahui bahwa tentara pada malamhari melakukan penggerebekan rumah-rumah, menggiring mereka yangdicurigai sebagai simpatisan PKI ke atas truk, dan membawa merekake luar kota sebelum fajar. King mendengar cerita dari seseorang yangkebetulan menumpang sebuah truk tentara bahwa kira-kira lima ribuorang dari Jakarta yang diambil dari rumah mereka masing-masingdibawa ke sebuah penjara di pinggir kota, dan di sana mereka matiperlahan-lahan karena kelaparan. (King tidak menyebut adanya ribuanorang lagi yang kelaparan di penjara-penjara di dalam kota Jakarta).Karnow menggambarkan pembunuhan besar-besaran di kota Salatigadi Jawa Tengah: “Di setiap bangunan, seorang kapten tentara memba-cakan nama-nama dari sebuah daftar, memberi tahu mereka tentangkesalahan masing-masing – atas nama hukum walaupun sidang penga-dilan tidak pernah diadakan. Akhirnya truk-truk itu masing-masing diisidengan enam puluh tawanan, dan dengan dikawal satu peleton tentara,menempuh jarak sekitar enam mil, melalui hamparan sawah dan kebunkaret yang gelap menuju suatu kawasan tandus di dekat Desa Djelok.Para petani di daerah tersebut sudah diperintahkan lurah untuk menggalisebuah lubang besar satu hari sebelumnya. Para tawanan, dibariskanberdiri di bibir lubang, lalu ditembaki dalam beberapa menit. Beberapadari mereka barangkali dikubur hidup-hidup.” Dari kisah-kisah semacamini, Karnow sampai pada kesimpulan bahwa tentara mengorganisasipembantaian berkelanjutan secara sistematik di Jawa Tengah.66 Topping juga menyimpulkan bahwa militer melakukan pem-bunuhan secara kilat terhadap rakyat di Jawa Tengah tetapi ia mengatakanpola kekerasannya berbeda dengan yang terjadi di Jawa Timur dan Bali.Di dua daerah terakhir militer biasanya menghasut penduduk sipil untukmelakukan pembunuhan, ketimbang memerintahkan personil merekasendiri melakukan tugas kotor itu. Tentara menebar suasana ketakutandengan mengatakan kepada masyarakat di kota dan desa bahwa PKIsedang bersiap-siap melakukan pembunuhan besar-besaran: menggali 31
  50. 50. PENDAHULUANkuburan massal, menyusun daftar hitam orang yang akan dibunuh, me-nyiapkan alat khusus pencungkil mata. Topping menyatakan bahwa padaumumnya para pengamat Indonesia yang berpengalaman menganggapcerita-cerita yang disebarkan tentara sebagai cerita yang dibuat-buat:“Tidak ada bukti kuat bahwa orang-orang Komunis mempunyai perbe-kalan senjata yang begitu besar atau merencanakan pemberontakan massadi seluruh tanah air untuk merebut kekuasaan dalam waktu dekat.”67Topping menambahkan bahwa pengingkaran tentara terhadap tanggungjawab atas pembunuhan-pembunuhan yang terjadi disangkal bukanhanya oleh hasil penyelidikan singkatnya sendiri tapi juga oleh pernya-taan pribadi salah satu dari para panglima utama Suharto sendiri. MayorJenderal Sumitro, Panglima Kodam Brawijaya, Jawa Timur, dalam wawan-caranya dengan Topping berkata, bahwa Suharto, pada November 1965,mengeluarkan perintah secara rinci tentang pembasmian PKI. DalamDesember 1965, Sumitro beserta stafnya mengunjungi seluruh komandodistrik militer di Jawa Timur untuk memastikan bahwa perintah itu telahdipahami. Topping mengutip Sumitro yang mengakui bahwa “sebagianbesar komandan setempat telah menunaikan tugas sebaik-baiknya untukmembunuh kader-kader [PKI] sebanyak-banyaknya.”68 Sampai pertengahan 1966 dua surat kabar utama Amerika Serikatsudah menyiarkan ke publik bahwa Angkatan Darat Indonesia di bawahMayor Jenderal Suharto adalah pihak yang paling bertanggung jawabterhadap pembunuhan massal sekitar setengah juta orang, dan bahwabanyak pembunuhan itu dilakukan secara kejam terhadap para tawananterpilih. Namun demikian berita ini tidak mengalangi pemerintahAmerika Serikat memberikan sambutan hangatnya kepada Suhartoselaku penguasa baru di Indonesia. Tidak satu pun pejabat pemerin-tahan Johnson menyatakan keberatan terhadap pelanggaran berat hak-hak asasi manusia yang dilakukan tentara Indonesia. Robert Kennedymenyesali kebisuan itu ketika mengucapkan pidatonya di New York Citypada Januari 1966: “Kita telah bersuara lantang terhadap pembantaiantak manusiawi yang dilakukan oleh kaum Nazi dan kaum Komunis.Tapi apakah kita akan bersuara lantang pula terhadap pembantaian kejidi Indonesia, yang lebih dari 100.000 orang yang dituduh Komunisbukanlah pelaku tetapi korban?”69 Jawaban terhadap pertanyaan itu,tentu saja, tidak. Bagaimana pun juga pemerintah AS telah membantu 32
  51. 51. DALIH PEMBUNUHAN MASSAL: GERAKAN 30 SEPTEMBER DAN KUDETA SUHARTOSuharto naik takhta. Kegembiraan akan penggulingan Sukarno danpenghancuran PKI mengalahkan pertimbangan kemanusiaan apa pun. Prioritas-prioritas ini tampak jelas dalam laporan utama tentangSuharto dalam majalah Time pada Juli 1966. Dengan tepat Time mem-beritakan, “militer bertanggung jawab atas kebanyakan pembunuhanyang terjadi” dan mengakui bahwa pembunuhan itu “telah menghi-langkan lebih banyak nyawa ketimbang kehilangan [yang diderita] ASdalam seluruh peperangan di sepanjang abad ini.” Tanpa menghindaripenggambaran detil-detil yang mengerikan, laporan utama itu menye-butkan bahwa beberapa orang yang dicurigai sebagai komunis telahdipancung dan mayat mereka dibuang di kali-kali. Namun selanjutnyaartikel itu memuji rezim baru Suharto yang didominasi militer karena“sangat konstitusional.” Suharto dikutip saat mengatakan, “Indonesianegara yang berdasar hukum, bukan pada kekuasaan belaka.”70 Olehkarena dari sudut kepentingan politik luar negeri AS banjir darah itukonstruktif, majalah Time dapat menampilkan pelaku kejahatan dalamsorotan yang sama sekali positif walaupun hasilnya kemudian adalahpenjajaran yang sangat aneh antara kepala-kepala yang dipenggal danprosedur konstitusional. Kecaman terhadap pembunuhan-pembunuhan yang terjadi diredambukan hanya karena para pelakunya antikomunis. Banyak pemberitaanmedia mengecilkan tanggung jawab militer atas pembunuhan sambilmembesar-besarkan peranan masyarakat sipil. Stereotip yang dibuatpara orientalis mengenai orang Indonesia yang primitif, terbelakang,dan bengis mengemuka sehingga menenggelamkan pemberitaan faktualtentang pembunuhan-pembunuhan berdarah dingin yang diorganisirmiliter. Orang asing digiring untuk mempercayai bahwa pembunuhanmassal itu merupakan ledakan tiba-tiba, tanpa nalar, dan penuh dendamkesumat masyarakat rentan yang meradang oleh sepak terjang agresifPKI selama bertahun-tahun. Bahkan tanpa penyelidikan mendalam,wartawan-wartawan merasa yakin bahwa prasangka mereka terhadapapa yang disebut watak ketimuran membenarkan adanya kesimpulandefinitif. Judul utama salah satu tajuk rencana C.L. Sulzberger dalamNew York Times terbaca “When a Nation Runs Amok” [Ketika SuatuBangsa Mengamuk]. Bagi Sulzberger pembunuhan-pembunuhan itutidak mengejutkan karena terjadi di “Asia yang berperangai keras, dengan 33

×