Makalah teknologi pendidikan
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Makalah teknologi pendidikan

on

  • 12,904 visualizações

Tugas akhir pengantar teknologi pendidikan

Tugas akhir pengantar teknologi pendidikan

Estatísticas

Visualizações

Visualizações totais
12,904
Visualizações no SlideShare
12,904
Visualizações incorporadas
0

Actions

Curtidas
1
Downloads
1,429
Comentários
0

0 Incorporações 0

No embeds

Categorias

Carregar detalhes

Uploaded via as Adobe PDF

Direitos de uso

© Todos os direitos reservados

Report content

Sinalizado como impróprio Sinalizar como impróprio
Sinalizar como impróprio

Selecione a razão para sinalizar essa apresentação como imprópria.

Cancelar
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Sua mensagem vai aqui
    Processing...
Publicar comentário
Editar seu comentário

Makalah teknologi pendidikan Makalah teknologi pendidikan Document Transcript

  • TUGAS PENGANTAR TEKNOLOGI PENDIDIKAN OLEH KELOMPOK 3 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. ANDRI SAPUTRA ROMI DWISYAHRI DELLA DENADA MUSTIKA RIZANA MENTARI ELVA DELLIATI SEPTA PRATIWI KURIKULUM DAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI PADANG 2013 Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 2
  • KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan hidayahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir dari ―PENGANTAR TEKNOLOGI PENDIDIKAN‖. Tujuan utama adalah untuk memenuhi tugas yang di berikan, serta untuk melatih dan membiasakan diri untuk pendalaman materi. Akhirnya penulis mengucapkan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada : Drs. Syafril,M.Pd. dan Dra.Eldarni,M.Pd. selaku pembimbing yang dengan sepenuh hati meluangkan waktu, tenaga dan pikiran untuk membimbing serta mengarahkan penulis dalam pembuatan tugas akhir ini. Penulis menyadari bahwa tidak ada yang sempurna di dunia ini, begitupun dengan laporan ini jauh dari sempurna mengingat keterbatasan ilmu yang dimiliki penulis. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan sarannya yang sifatnya membangun kepada semua pihak supaya menjadi pembelajaran bagi penulis. Akhir kata, secara pribadi penulis berharap supaya laporan ini bisa memberikan manfaat khususnya bagi penulis, umumya bagi pembaca. Terimakasih. Padang, Desember 2013 Penulis Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 3
  • DAFTAR ISI Kata Pengantar ..................................................................................... i Daftar Isi .................................................................................................................. ii Bab I Hakikat Teknologi Pendidikan ....................................................................... 1 a. Pengertian Teknologi Pendidikan b. Beberapa defenisi TP c. TP ditinjau dari aspek ontologism,epistimologis dan aksiologis BAB II Falsafah Tp Visi,Misi & Tujuan TP ........................................................... 15 BAB III Perkembangan Teknologi Pendidikan ...................................................... 24 BAB IVLandasan Teoritis Teknologi Pendidikan .................................................. 64 a. Teori Belajar dan Pembelajaran b. Teori Komunikasi dan Informasi c. Teori manajemen dan Ekonomi BAB V Kawasan Teknologi Pendidikan ................................................................. 80 a. b. c. d. e. Perancangan Pengembangan‘ Pemanfaatan Pengelolaan Penilaian BAB VI Teknologi Pendidikan sebagai Konstruk Teoritis, Bidang Garapan & Prfesi ...... 117 BAB VII Pengaruh Penerapan Teknologi Pendidikan ............................................. 129 a. Organisasi Kurikulum b. Pola Instruksional c. Pengambilan Keputusan tentang Pendidikan BAB VIII Beberapa Penerapan Teknologi Pendidikandi Indonesia ........................ 155 a. b. c. d. e. Sistem Belajar Jarak Jauh Penggunaan Modul dan Paket Belajar Radio Pendidikan Televisi Pendidikan PKP dan CBSA Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 4
  • f. CAI DAN INTERNET BAB IX Penerapan Teknologi Pendidikan di Negara Maju & Negara Berkembang ...... 205 BAB X Penerapan TP & Pengaruhnya terhadap Pendidikan saat ini & Masaa ..... 240 BAB XI PENUTUP ................................................................................................. 263 a. Kesimpulan ............................................................................................ 263 b. Saran ...................................................................................................... 263 Daftar Pustaka .......................................................................................................... 264 Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 5
  • Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 6
  • Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 7
  • BAB I HAKEKAT TEKNOLOGI PENDIDIKAN 1. LATAR BELAKANG Perkembangan ilmu dan teknologi merupakan salah satu produk dari manusia yang terdidik, dan pada giliranya manusia-manusia itu perlu lebih mendalami dan mampu mengambil manfaat dan bukan menjadi korban dari perkembangan ilmu dan teknologi sendiri. Pendidikan sebagai suatu ilmu teknologi tidak luput dari gejala perkembangan itu. Kalau semula orang tua yang bertindak sebagai pendidik kemudian kita kenal profesi guru yang diberi tanggung jawab pendidik. Sekarang ini secara konseptual maupun secara legal telah dikenal dan ditentukan sejumlah keahlian khusus jabatan dan atau profesi yang termasuk dalam kategori tenaga kependidikan. 2. PENGERTIAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN A.Pengertian Teknologi Pendidikan Istilah ―teknologi‖ berasal ari bahasa Yunani yaitu technologis. Technie berarti seni, keahlian atau sains dan logos yang berarti ilmu. Teknologi menurut Gaibraith dapat diartikan sebagai penerapan sistematik dari pengetahuan ilmiah atau terorganisasikan dalam hal-hal yang praktis. Sedang dalam arti luas menurut Association for Educational Communication and Technology (AECT) adalah proses yang kompleks dan terpadu yang melibatkan orang, prosedur, ide, peralatan dan organisasi untuk menganalisis masalah, mencari problem solving, melaksanakan evaluasi dan mengelola pemacahan masalah yang menyangkut semua aspek belajar manusia. Dilain pihak ada pendapat bahwa teknologi pendidikan adalah pengembangan, penerapan dan penilaian sistem-sistem, teknik dan alat bantu untuk memperbaiki dan meningkatkan proses belajar manusia. Di sini diutamakan proses belajar itu sendiri di samping alat-alat yang dapat membantu proses belajar itu. Dengan demikian secara umum Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 8
  • teknologi pendidikan diartikan sebagai media yang lahir dari revolusi teknologi komunikasi yang dapat digunakan untuk tujuan-tujuan pengajaran disamping guru, buku, ide, peralatan dan organisasi yang dikaji secara sistematis, logis dan ilmiah. Pengertian ini mengandung asumsi bahwa sebenarnya media teknologi tertentu tidak secara khusus dibuat untuk teknologi yang dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan pendidikan. B.Landasan Teknologi Pendidikan 1.Landasan filosofis teknologi pendidikan Landasan falsafah penelitian teknologi pendidikan terdiri atas 3 komponen seperti yang diungkapkan oleh Suriasumantri dalam Miarso. Ada 3 jenis komponen dalam teknologi pendidikan yaitu ontology (merupakan bidang kajian ilmu itu apa, jika teknologi pendidikan sebagai ilmu maka bidang kajiannya apa), epistemology (pendekatan yang digunakan dalam suatu ilmu itu bagaimana), dan aksiology (menelaah tentang nilai guna baik secara umum maupun secara khusus, baik secara kasat mata atau secara abstrak). Kurikulum teknologi berorientasi ke masa depan yang memandang teknologi sebagai dunia yang dapat diamati serta diukur secara pasti. Oleh karena itu dalam pendidikan lebih mengutamakan penampilan perilaku lahirnya atau eksternal dengan penerapan praktis hasil penemuan-penemuan ilmiah yang secara kharakteristik menuju ke arah komputerisasi program pengajaran yang ideal sesuai dengan prinsip-prinsip Gybeructis. Dalam proses belajar mengajar, model teknologi pendidikan lebih menitik beratkan kemampuan siswa secara individual dimana materi pelajaran sesuai ketingkatan kesiapan sehingga siswa mampu menunjukan perilaku tertentu yang diharapkan. Manfaat yang sangat besar dari model kerikulum teknologi ini adalah materi pelajaran dapat disajikan kepada siswa dalam berbagai bentuk multimedia, para siswa menerima pelajaran seperti pada model pendidikan klasikal, tetapi para siswa lebih yakin dalam menangkap pelajarannya karena penyajian pelajaran lebih hidup, lebih realistis serta lebih impresif. 2.Landasan psikologi teknologi pendidikan Dalam pandangan modern, belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat interaksi dengan lingkungan. Seseorang dianggap melakukan kegiatan belajar setelah ia Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 9
  • memperoleh hasil yakni terjadinya perubahan tingkah laku misalnya dari tidak tahu menjadi tahu. Pola tingkah laku tersebut meliputi aspek rohani dan jasmani. Menyangkut perubahan yang bersifat pengetahuan, keterampilan dan menyangkut sikap nilai. Siswa yang belajar dipandang sebagai organisme yang hidup sebagai satu keseluruhan yang bulat. Ia bersifat aktif dan senantiasa mengadakan interaksi dengan lingkungannya, memerima, menolak, mencari sendiri dapat pula mengubah lingkungannya. Pembelajaran pada hakekatnya mempersiapkan peserta didik untuk dapat menampilkan tingkah laku hasil belajar dalam kondisi yang nyata, atau untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupannya. Untuk itu, pengembang program pembelajaran selalu menggunakan teknik analisis kebutuhan belajar untuk memperoleh informasi mengenai kemampuan yang diperlukan peserta didik. Bahkan setelah peserta didik menyelesaikan kegiatan belajar selalu dilakukan analisis umpan balik untuk melihat kesesuaian hasil belajar dengan kebutuhan belajar. Menurut Lumsdaine (dalam Miarso 2009), ilmu perilaku merupakan ilmu yang utama dalam perkembangan teknologi pendidikan terutama ilmu tentang psikologi belajar, sedangkan menurut Deterline (dalam miarso 2009) berpendapat bahwa teknologi pembelajaran merupakan pengembangan ataupun aplikasi dari teknologi perilaku yang digunakan untuk menghasilkan suatu perubahan perilaku tertentu dari pebelajar secara sitematis guna pencapaian ketuntasan hasil belajar itu sendiri. Sedangkan Harless (1968) menyebutnya dengan ―front-end analysis‖, sedangkan Mager dan Pape (1970) menyebutnya ―performance problem analysis‖. Dan Romizwoski (1986) mengistilahkan kegitan tersebut sebagai ―performance technology‖. Belajar berkaitan dengan perkembangan psikologis peserta didik, pengalaman yang perlu diperoleh, kemampuan yang harus dipelajari, cara atau teknik belajar, lingkungan yang perlu menciptakan kondisi yang kondusif, sarana dan fasilitas yang mendukung, dan berbagai faktor eksternal lainnya. Untuk itu, Malcolm Warren (1978) mengungkapkan bahwa diperlukan teknologi untuk mengelola secara efektif pengorganisasian berbagai sumber manusiawi. Romizowski (1986) menyebutnya dengan ―Human resources management technology‖. Penanganan berbagai pihak yang diperlukan dan memiliki perhatian terhadap pengembangan program belajar dan penyelenggaraan kegiatan pembelajaran memerlukan satu teknik tertentu yang dapat mengkoordinir dan mengakomodasikannya sesuai dengan potensi dan keahlian masing-masing. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 10
  • 3.Landasan sosiologis teknologi pendidikan Peranan teknologi dalam belajar yang dirancang sebagai tujuan pengajaran yang lebih efektif dan ekonomis merupakan peranan komunikasi yang sangat penting sebab hakikat teknologi pengajaran adalah upaya mempengaruhi siswa agar dapat mencapai tujuan pendidikan. Oleh sebab itu landasan sosial teknologi pengajaran ada pada komunikasi insani. Seorang ahli komunikasi dari Amerika Wilbur schramm menjabarkan pengertian ilmu komunikasi itu kedalam 3 kategori pokok dengan berbagai istilah yaitu : Encoder yaitu komunikasi, guru mempunyai informasi tertentu dan benar, kecepatan yang optimal dan sampai pada penerima informasi yaitu para siswa. Signal yaitu pesan, berita pernyataan yang ditujukan kepada dan diterima oleh seseorang atau kelompok orang penerima pesan itu yang dilukiskan dalam bentuk gerak tangan, mimic, wajah, gambaran, foto, grafik, peta, diagram dll. Decodes yaitu komunikasi yang dalam konteks pendidikan adalah siswa yang menerima pesan tertentu, mampu memahami isi pesan yang diterimanya. 4.Landasan religius teknologi pendidikan Dalam proses pembelajarn yang mengacu pada landasan keagamaan, seorang guru diharapkan bisa mengubah moral peserta didiknya, agar dalam pembelajaran nantinya bisa berjalan sesuai yang diharapkan. Maka disini seorang guru, ketika ada seorang peserta didiknya yang tidak memahami apa yang disampaikan, guru dapat menggunakan teknik atau cara pembelajaran lain dengan tanpa mempersulit caranya tersebut agar pemahaman peserta didiknya tidak menyimpang, yang nantinya dapat mempengaruhi moral peserta didiknya. Sebagaimana yang telah di jelaskan dalam Al-qur‘an : ‫ال‬ Dari penjelasan tersebut sudahlah jelas bahwa dalam proses pembelajaran, agama sendiri tidak mempersulit tentang cara yang akan dipakai oleh seorang guru dalam penyampaian pelajarannya. Selain itu, pesan yang disampaikan lewat interaksi antara guru dan peserta didiknya harus bisa mengimbangi keadaan peserta didiknya, sehingga bisa diterima materinya. Dengan kata lain guru harus bisa mengajarkan materinya sesuai dengan ukuran akal peserta Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 11
  • didiknya sehingga mampu diserap dan diamalkan apa yang disampaikannya ( ‫خاط بو‬ ‫ا‬ ‫.) )ع قو هم ب قدر‬ C. Peran dan Ruang Lingkup Teknologi Pendidikan Peran teknologi pendidikan Teknologi pendidikan sangat bermanfaat bagi manusia dalam pendidikan. Dalam teknologi pendidikan akan melibatkan prosedur, ide, peralatan dan organisme untuk menganalisis masalah pendidikan mencari problem solving, melaksanakan evaluasi dan mengelola pemecahan masalah yang menyangkut semua aspek pembelajaran dalam pendidikan. Teknologi secara umum mempunyai kegunaan-kegunaan sebagai berikut : 1. Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalis (tertulis dan lisan). 2. Mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indera. 3. Dengan menggunakan media pendidikan secara tepat dan variasi dapat diatasi sikap pasif peserta didik kurikulum dan materi pendidikan. Ruang Lingkup Teknologi Pendidikan Dalam konteks pendidikan yang lebih umum, teknologi pendidikan merupakan pengembangan, penerapan dan penilaian sistem teknik dan alat bantu untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas belajar manusia, dengan demikian aspek-aspeknya meliputi pertimbangan teoritik yang merupakan hasil penilaian, perangkat dan peralatan teknis atau hardware dan perangkat lunak software. Aspek-aspek tersebut difungsikan untuk mendesign, melaksanakan penilaian pendidikan dengan pendekatan yang sistematis. Dengan demikian dapat dipahami bahwa ruang lingkup teknologi pendidikan sangat luas yaitu mencakup semua faktor yang terkait dan terlibat dalam proses pendidikan, faktorfaktor itu adalah orang, prosedur, gagasan, peralatan dan organisasi. D.Aplikasi Teknologi Pendidikan Hasil penelitian secara nyata membuktikan bahwa penggunaan alat bantu sangat membantu aktivitas proses belajar mengajar di kelas, terutama peningkatan prestasi belajar Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 12
  • siswa atau mahasiswa. Keterbatasan media teknologi pendidikan disatu pihak dan lemahnya kemampuan dosen atau guru menciptakan media tersebut di sisi lain membuat penerapan metode ceramah makin menjamur. Kondisi ini jauh dari menguntungkan. Terbatasnya alat-alat teknologi pendidikan yang dipakai di kelas diduga merupakan salah satu sebab lemahnya mutu studi pelajar atau masyarakat pada umumnya. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, teknologi komunikasi mengalami kemajuan yang sangat pesat dan untuk selanjutnya berpengaruh terhadap pola komunikasi dimasyarakat. Dibuatnya instrumen teknologi komunikasi seperti satelit, TV, radio, videotapedan komputer memberi arti tersendiri bagi proses komunikasi antar manusia. Seperti halnya teknologi pada umumny, teknologi komunikasi tidak mengenal batas-batas wilayah, ideologi, agama, dan suku bangsa, teknologi telah mengurangi secara drastis jarak dalam waktu dan ruang. Aplikasi teknologi pendidikan sangat relevan bagi pengelolaan pendidikan pada umumnya dan kegiatan belajar mengajar pada khususnya. Aplikasi yang dimaksud yaitu: 1. Teknologi pendidikan memungkinkan adanya perubahan kurikulum baik strategi, pengembangan maupun aplikasinya. Teknologi pendidikan mempunyai fungsi luas, tidak hanya terbatas pada kebutuhan kegiatan belajar mengajar di kelas melainkan dapat berfungsi sebagai masukan bagi pembinaan dan pengembangan kurikulum yang dikaji secara ilmiah, logis, sistematis dan rasional sesuai dengan tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi. 2. Teknologi pendidikan menghilangkan kalaupun tidak secara keseluruhan pola pengajaran tradisional. Ia berperan penuh dalam pelaksanaan proses belajar mengajar, meskipun sebenarnya dia tidak dapat menggantikan posisi guru secara mutlak. Guru mempunyai kemampuan yang terbatas dan dengan teknologi pendidikan pulalah keterbatasan itu tertolong. 3. Teknologi pendidikan membuat pengertian kegiatan belajar menjadi luas, lebih dari hanya sekedar interaksi guru dengan murid di dalam ruang dan waktu yang sangat terbatas. Teknologi pendidikan dapat dianggap sebagai sumber belajar dan biasanya memberikan rangsangan positif dalam proses pendidikan. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 13
  • 4. Aplikasi teknologi pendidikan dapat membuat peranan guru berkurang, meskipun teknologi pendidikan tidak mampu menggantikan guru secara penuh. Teknologi pendidikan adalah teknologi pendidikan dan guru adalah guru. 5. Meskipun demikian bagi guru dan murid, teknologi pendidikan memberikan sumbangan yang sangat positif. E.Analisis Teknologi pendidikan merupakan suatu cara mengajar dengan menggunakan skill atau keahlian yang dimiliki oleh seorang guru agar dalam proses pembelajaran bisa diterima oleh para peserta didiknya sehingga bisa mencapai pada tujuan pendidikan itu sendiri. Jadi sebenarnya teknologi pendidikan itu tidak seperti halnya yang kita ketahui tentang teknologi pada umumnya yang ada kaitannya dengan masalah-masalah permesinan atau yang lainnya, tetapi dalam masalah teknologi pendidikan itu bisa dikaitkan dengan sebuah cara atau strategi yang dimiliki seorang guru dalam proses pembelajaran baik itu menggunakan media yang ada dalam kelas atau ataupun cara lain agar dalam pembelajaran menjadi mudah diserap oleh para peserta didiknya.. 4. BEBERAPA DEFENISI TEKNOLOGI PENDIDIKAN Beberapa defenisi TP dapat diuraikan sebagai berikut : a. Definisi Association for Educational Communications Technology (AECT) 1963 Komunikasi audio-visual adalah cabang dari teori dan praktek pendidikan yang terutama berkepentingan dengan mendesain, dan menggunakan pesan guna mengendalikan proses belajar, mencakup kegiatan : (a) mempelajari kelemahan dan kelebihan suatu pesan dalam proses belajar; (b) penstrukturan dan sistematisasi oleh orang maupun instrumen dalam lingkungan pendidikan, meliputi : perencanaan, produksi, pemilihan, manajemen dan Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 14
  • pemanfaatan dari komponen maupun keseluruhan sistem pembelajaran. Tujuan praktisnya adalah pemanfaatan tiap metode dan medium komunikasi secara efektif untuk membantu pengembangan potensi pembelajar secara maksimal.Analisa : (a) menggunakan istilah komunikasi visual,(b) menghasilkan kerangka dasar pengembangan TP selanjutnya,(c) mendorong peningkatan kualitas dan efisiensi pembelajaran. Meski masih menggunakan istilah komunikasi audio-visual,definisi di atas telah menghasilkan kerangka dasar bagi pengembangan Teknologi Pembelajaran berikutnya serta dapat mendorong terjadinya peningkatan pembelajaran. b. Definisi Commission on Instruction Technology (CIT) 1970 Dalam pengertian yang lebih umum, teknologi pembelajaran diartikan sebagai media yang lahir sebagai akibat revolusi komunikasi yang dapat digunakan untuk keperluan pembelajaran di samping guru, buku teks, dan papan tulis…..bagian yang membentuk teknologi pembelajaran adalah televisi, film, OHP, komputer dan bagian perangkat keras maupun lunak lainnya. Teknologi Pembelajaran merupakan usaha sistematik dalam merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi keseluruhan proses belajar untuk suatu tujuan khusus, serta didasarkan pada penelitian tentang proses belajar dan komunikasi pada manusia yang menggunakan kombinasi sumber manusia dan manusia agar belajar dapat berlangsung efektif. Dengan mencantumkan istilah tujuan khusus, tampaknya rumusan tersebut berusaha mengakomodir pengaruh pemikiran B.F. Skinner (salah seorang tokoh Psikologi Behaviorisme) dalam teknologi pembelajaran. Begitu juga, rumusan tersebut memandang pentingnya penelitian tentang metode dan teknik yang digunakan untuk mencapai tujuan khusus. c. Definisi Silber 1970 Teknologi Pembelajaran adalah pengembangan (riset, desain, produksi, evaluasi, dukungan-pasokan, pemanfaatan) komponen sistem pembelajaran (pesan, orang, bahan, peralatan, teknik dan latar) serta pengelolaan usaha pengembangan (organisasi dan personal) secara sistematik, dengan tujuan untuk memecahkan masalah belajar. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 15
  • Definisi yang dikemukakan oleh Kenneth Silber di atas menyebutkan istilah pengembangan. Pada definisi sebelumnya yang dimaksud dengan pengembangan lebih diartikan pada pengembangan potensi manusia. Dalam definisi Silber, penggunaan istilah pengembangan memuat dua pengertian, disamping berkaitan dengan pengembangan potensi manusia juga diartikan pula sebagai pengembangan dari Teknologi Pembelajaran itu sendiri, yang mencakup : perancangan, produksi, penggunaan dan penilaian teknologi untuk pembelajaran. d. Definisi MacKenzie dan Eraut 1971 Teknologi Pendidikan merupakan studi sistematik mengenai cara bagaimana tujuan pendidikan dapat dicapai. Definisi sebelumnya meliputi istilah, ―mesin‖, instrumen‖ atau ―media‖, sedangkan dalam definisi MacKenzie dan Eraut ini tidak menyebutkan perangkat lunak maupun perangkat keras, tetapi lebih berorientasi pada proses. e. Definisi AECT 1972 Pada tahun 1972, AECT berupaya merevisi defisini yang sudah ada (1963, 1970, 1971), dengan memberikan rumusan sebagai berikut : Teknologi Pendidikan adalah suatu bidang yang berkepentingan dengan memfasilitasi belajar pada manusia melalui usaha sistematik dalam : identifikasi, pengembangan, pengorganisasian dan pemanfaatan berbagai macam sumber belajar serta dengan pengelolaan atas keseluruhan proses tersebut. Definisi ini didasari semangat untuk menetapkan komunikasi audio-visual sebagai suatu bidang studi. Ketentuan ini mengembangkan gagasan bahwa teknologi pendidikan merupakan suatu profesi. f. Definisi AECT 1977 Teknologi pendidikan adalah proses kompleks yang terintegrasi meliputi orang, prosedur, gagasan, sarana, dan organisasi untuk menganalisis masalah, merancang, melaksanakan, menilai dan mengelola pemecahan masalah dalam segala aspek belajar pada manusia. Definisi tahun 1977,AECT berusaha mengidentifikasi sebagai suatu teori, bidang dan profesi. Definisi sebelumnya,kecuali pada tahun 1963, tidak menekankan teknologi pendidikan sebagai suatu teori. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 16
  • g. Definisi AECT 1994 Teknologi Pembelajaran adalah teori dan praktek dalam desain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan, serta evaluasi tentang proses dan sumber untuk belajar. Meski dirumuskan dalam kalimat yang lebih sederhana, definisi ini sesungguhnya mengandung makna yang dalam. Definisi ini berupaya semakin memperkokoh teknologi pembelajaran sebagai suatu bidang dan profesi, yang tentunya perlu didukung oleh landasan teori dan praktek yang kokoh. Definisi ini juga berusaha menyempurnakan wilayah atau kawasan bidang kegiatan dari teknologi pembelajaran. Di samping itu, definisi ini berusaha menekankan pentingnya proses dan produk. h. Defenisi 2004 Teknologi pendidikan adalah suatu studi atau etika prakek dalam upaya memfasilitasi pembelajaran dan peningkatan kinerja dengan cara menciptakan menggunakan atau memanfaatkan,dan mengelolo proses dan sumber-sumber teknologi yang tepat. Jika kita amati isi kandungan definisi-definisi teknologi pembelajaran di atas, tampaknya dari waktu ke waktu teknologi pemebelajaran mengalami proses ―metamorfosa‖ menuju penyempurnaan. Yang semula hanya dipandang sebagai alat ke sistem yang lebih luas, dari hanya berorientasi pada praktek menuju ke teori dan praktek, dari produk menuju ke proses dan produk, dan akhirnya melalui perjalanan evolusionernya saat ini teknologi pembelajaran telah menjadi sebuah bidang dan profesi. Sejalan dengan perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang demikian pesat, khususnya dalam bidang pendidikan, psikologi dan komunikasi maka tidak mustahil ke depannya teknologi pembelajaran akan semakin terus berkembang dan memperkokoh diri menjadi suatu disiplin ilmu dan profesi yang dapat lebih jauh memberikan manfaat bagi pencapaian efektivitas dan efisiensi pembelajaran. Kendati demikian, harus diakui bahwa perkembangan bidang dan profesi teknologi pembelajaran di Indonesia hingga saat ini masih boleh dikatakan belum optimal, baik dalam hal design, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan, maupun evaluasinya. Kiranya masih dibutuhkan usaha perjuangan yang sungguh-sungguh dari semua pihak yang terkait dengan teknologi pembelajaran, baik dari kalangan akademisi, peneliti maupun praktisi. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 17
  • 5. TP DITINJAU DARI ASPEK ONTOLOGIS, EPISTIMOLOGI, DAN AKSIOLOGIS 1. Ontologi Ontologi bertolak atas penyelidikan tentang hakekat ada (existence and being) (Brameld, 1955: 28). Pandangan ontologI ini secara praktis akan menjadi masalah utama di dalam pendidikan. Sebab, siswa (peserta didik) bergaul dengan dunia lingkungan dan mempunyai dorongan yang kuat untuk mengerti sesuatu. Oleh karena itu teknologi pendidikan dalam posisi ini sebagai bagian pengembangan untuk memudahkan hubungan siswa atau peserta didik dengan dunia lingkungannya. Peserta didik, baik di masyarakat atau di sekolah selalu menghadapi realita dan obyek pengalaman. Secara tersusun Chaeruman dalam tulisannya mengutip tulisan Prof. Yusuf Hadi Miarso bahwa ontology teknologi pendidikan adalah : 1. Adanya sejumlah besar orang belum terpenuhi kesempatan belajarnya, baik yang diperoleh melalui suatu lembaga khusus, maupun yang dapat diperoleh secara mandiri. 2. Adanya berbagai sumber baik yang telah tersedia maupun yang dapat direkayasa, tapi belum dimanfaatkann untuk keperluan belajar. 3. Perlu adanya suatu proses atau usaha khusus yang terarah dan terencana untuk menggarap sumber-sumber tersebut agar dapat terpenuhi hasrat belajar setiap orang dan organisasi. 4. Perlu adanya keahlian dan pengelolaan atas kegiatan khusus dalam mengembangkan dan memanfaatkan sumber untuk belajar tersebut secara efektif, efisien, dan selaras. Dibawah ini adalah empat revolusi yang terjadi di dunia pendidikan karena adanya masalah yang tidak teratasi dengan cara yang ada sebelumnya, tetapi dilain pihak juga menimbulkan masalah baru. Masalah – masalah itu dibatasi pada masalah utama, yaitu ―belajar‖. Menurut Sir Eric Ashby (1972, h. 9-10) tentang terjadinya empat Revolusi di dunia pendidikan yaitu: Revolusi pertama terjadi pada saat orang tua atau keluarga menyerahkan sebagian tanggungjawab dan pendidikannya kepada orang lain yang secara khusus diberi tanggungjawab untuk itu. Revolusi pertama ini terjadi karena orangtua/keluarga tidak mampu lagi membelajarkan anak-anaknya sendiri. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 18
  • Revolusi kedua terjadi pada saat guru sebagai orang yang dilimpahkan tanggungjawab untuk mendidik. Pengajaran pada saat itu diberikan secara verbal/lisan dan sementara itu kegiatan pendidikan dilembagakan dengan berbagai ketentuan yang dibakukan. Penyebab terjadinya revolusi kedua ini karena guru ingin memberikan pelajaran kepada lebih banyak anak didik dengan cara yang lebih cepat. Revolusi ketiga muncul dengan ditemukannya mesin cetak yang memungkinkan tersebarnya informasi iconic dan numeric dalam bentuk buku atau media cetak lainnya. Revolusi ketiga ini terjadi karena guru ingin mengajarkan lebih banyak lagi dan lebih cepat lagi, sementara itu kemampuan guru semakin terbatas, sehingga diperlukan penggunaan pengatahuan yang telah diramuka oleh orang lain. Revolusi keempat berlangsung dengan perkembangan yang pesat di bidang elektronik dimana yang paling menonjol diantaranya adalah media komunikasi (radio, televisi, tape dan lain-lain) yang berhasil menembus batas geografi, sosial dan politis secara lebih intens daripada media cetak. Penyebab revolusi ini adalah karena guru menyadari bahwa tidaklah mungkin bagi guru untuk memberikan semua ajaran yang diperlukan, dan karena itu yang lebih penting adalah mengajarkan kepada anak didik tentang bagaimana belajar. Ajaran selanjutnya akan diperoleh si pembelajar sepanjang usia hidupnya melalui berbagai sumber dan saluran. Dapat disimpulkan dari perkembangan revolusi yang terjadi bahwa tujuan pendidikanlah yang harus menentukan sarana apa saja yang dipergunakan atau dengan kata lain media komunikasi menentukan pesan (dan karena itu tujuan) yang perlu dikuasai. Dengan ilustrasi diatas dapat disimpulkan bahwa adanya masalah-masalah baru yaitu: 1) adanya berbagai macam sumber untuk belajar termasuk orang (penulis buku, prosedur media dll), pesan (yang tertulis dalam buku atau tersaji lewat media), media (buku, program televisi, radio dll), alat (jaringan televisi, radio, dll) cara-cara tertentu dalam mengolah/ menyajikan pesan serta lingkungan dimana proses pendidikan itu berlangsung. 2) Perlunya sumber-sumber tersebut dikembangkan, baik secara konseptual maupun faktual. 3) Perlu dikelolanya kegiatan pengembangan, maupun sumber-sumber untuk belajar itu agar dapat digunakan seoptimal mungkin guna keperluan belajar. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 19
  • 2. Epistemologi Epistomologi atau Teori Pengetahuan berhubungan dengan hakikat dari ilmu pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dasar-dasarnya serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki oleh setiap manusia. Pandangan epistemologi tentang pendidikan akan membahas banyak persoalan-persoalan pendidikan, seperti kurikulum, teori belajar, strategi pembelajaran, bahan atau saranaprasarana yang mengantarkan terjadinya proses pendidikan, dan cara menentukan hasil pendidikan. M. Arif berpendapat bahwa epistimologi (bagaimana) yaitu merupakan asas mengenai cara bagaimana materi pengetahuan diperoleh dan disusun menjadi suatu tubuh pengetahuan. Ada 3 isi dari landasan epistimologi teknologi pendidikan yaitu : 1) Keseluruhan masalah belajar dan upaya pemecahannya ditelaah secara simultan. Semua situasi yang ada diperhatikan dan dikaji saling kaitannya dan bukannya dikaji secara terpisah-pisah. 2) Unsur-unsur yang berkepentingan diintegrasikan dalam suatu proses kompleks secara sistematik yaitu dirancang, dikembangkan, dinilai dan dikelola sebagai suatu kesatuan, dan ditujukan untuk memecahkan masalah. 3) Penggabungan ke dalam proses yang kompleks dan perhatian atas gejala secara menyeluruh, harus mengandung daya lipat atau sinergisme, berbeda dengan hal dimana masing-masing fungsi berjalan sendiri-sendiri. Sedangkan menurut Abdul Gafur (2007) untuk mendapatkan teknoogi pendidikan adalah dengan cara: a. Telaah secara simultan keseluruhan masalah-masalah belajar b. Pengintegrasian secara sistemik kegiatan pengembangan, produksi, pemanfaatan, pengelolaan, dan evaluasi. c. Mengupayakan sinergisme atau interaksi terhadap seluruh proses pengembangan dan pemanfaatan sumber belajar. 3. Aksiologi Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 20
  • Aksiologi (axiology), suatu bidang yang menyelidiki nilai-nilai (value) (candilaras, 2007). Menurut Wijaya Kusumah dalam kajian aksiologi, yaitu apa nilai / manfaat pengkajian teknologi pendidikan bisa diaplikasikan dalam beberapa hal, diantaranya: a. Peningkatan mutu pendidikan (menarik, efektif, efisien, relevan) b. Penyempurnaan system Pendidikan c. Meluas dan meratnya kesempatan serta akses pendidikan d. Penyesuaian dengan kondisi pembelajaran e. Penyelarasan dengan perkembangan lingkungan f. Peningkatan partisipasi masyarakat Sedangkan M. Arif menyatakan bahwa Aksiologi (untuk apa) yaitu merupakan asas dalam menggunakan pengetahuan yang telah diperoleh dan disusun dalam tubuh pengetahuan tersebut. Landasan pembenaran atau landasan aksiologis teknologi pendidikan perlu dipikirkan dan dibahas terus menerus karena adanya kebutuhan riil yang mendukung pertumbuhan dan perkembangannya. Menurutnya, landasan aksiologis teknologi pendidikan saat ini adalah: a. Tekad mengadakan perluasan dan pemerataan kesempatan belajar. b. Keharusan meningkatkan mutu pendidikan berupa, antara lain: Dalam hal ini Teknologi Pembelajaran secara aksiologis akan menjadikan pendidikan menjadi:  Produktif  Ilmiah  Individual  Serentak / actual  Merata  Berdaya serap tinggi Teknologi Pembelajaran juga menekankan pada nilai bahwa kemudahan yang diberikan oleh aplikasi teknologi bukanlah tujuan, melainkan alat yang dipilih dan dirancang strategi penggunaannya agar menumbuhkan sifat bagaimana memanusiakan teknologi (A.L Zachri:2004). Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 21
  • DAFTAR PUSTAKA Miarso, Yusuf Hadi. 1986. Definisi Teknologi Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers. Miarso, Yusufhadi. 2011. Menyemai Benih Teknologi Pendidikan. Jakarta : Kencana Prenada Nasution.1987. Teknologi Pendidikan. Bandung: Jemmars. Nasution.2008. Teknologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. Seels, B. B., & Richey, R. C. 1994. Teknologi pendidikan definisi dan kawasanya. Washington, DC: Association for Educational Communications and Technology. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 22
  • Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 23
  • BAB II FALSAFAH TEKNOLOGI PENDIDIKAN SERTA VISI,MISI,DAN TUJUAN TP 1. LATAR BELAKANG Teknologi pendidikan muncul menjadi isu seiring dengan perkembangan kehidupan manusia dan kebutuhan akan pendidikan dan pembelajaran. Awalnya Teknologi Pendidikan dianggap sebagai bidang garapan yang terlibat dalam penyiapan fasilitas belajar (manusia) melalui penelusuran , pengembangan, organisasi, dan pemanfaatan sistematis seluruh sumber-sumber belajar; dan melalui pengelolaan seluruh proses ini (AECT 1972). Dan pada akhirnya diartikan sebagai studi dan praktek etis dalam memfasilitasi proses pembelajaran dan meningkatkan kinerja dengan mencipatakan, menggunakan, dan mengatur proses teknologi dan sumber daya yang cocok (AECT, 2004). Teknologi merupakan bagian integral dalam setiap budaya. Makin maju suatu budaya, makin banyak dan makin canggih teknologi yang digunakan. Meskipun demikian masih banyak di antara kita yang tidak menyadari akan hal itu. Sebenarnya 25 tahun yang lalu Menteri Pendidikan Daoed Joesoef telah menyatakan bahwa ―Teknologi diterapkan di semua bidang kehidupan, di antaranya bidang pendidikan. Teknologi pendidikan ini karenanya beroperasi dalam seluruh bidang pendidikan secara integratif, yaitu secara rasional berkembang dan terjalin dalam berbagai bidang penididikan”. 2. FALSAFAH TEKNOLOGI PENDIDIKAN Yang dimaksud dengan istilah ―falsafah‖ disini adalah rangkaian pernyataan yang didasarkan pada keyakinan, konsepsi, dan sikap seseorang, yang menunjukkan arah atau tujuan diambilnya. Rumusan ini sejalan dengan apa yang dikemukakan Ely, dimana seseorang memberikan arti atas suatu gejala seobjektif mungkin. Usaha memberikan arti itu dalam tulisan ini didasarkan oleh pengalaman empirik atas sejumlah data yang diamati, merupakan generalisasi dari berbagai gagasan yang berkaitan dengan rujukan tertentu. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 24
  • Januszewski (2008:1) menyatakan bahwa: Educational technology is the study and ethical practice of facilitating learning and improving performance by creating, using, and managing appropriate technological processes and resources. (Teknologi pendidikan adalah studi dan etika praktek untuk memfasilitasi pembelajaran dan meningkatkan kinerja melalui penciptaan, penggunaan, dan pengaturan proses dan sumber daya teknologi). Sementara itu, Miarso (2009:240) menyatakan ―Teknologi Pendidikan dapat diartikan suatu bidang yang berkepentingan dengan memfasilitasi belajar pada manusia, melalui usaha sistematik dalam identifikasi, pengembangan, pengorganisasian, dan pemanfaatan berbagai sumber belajar serta dengan pengelolaan atas keseluruhan proses teresebut. Berdasarkan pendapat diatas dapat kita simpulkan Teknologi Pendidikan adalah studi dan etika prektek yang melibatkan orang, gagasan, prosedur, peralatan dan organisasi untuk memfasilitasi pembelajaran dan meningkatkan kinerja melalui penciptaan, penggunaan, dan pengaturan proses dan sumber daya teknologi dalam rangka untuk memecahkan masalah belajar manusia. Semua bentuk teknologi adalah system yang diciptakan oleh manusia untuk sesuatu tujuan tertentu, yang pada intinya adalah mempermudah manusia dalam memperingan usahanya, meningkatkan hasilnya, dan menghemat tenaga serta sumber daya yang ada. Teknologi itu pada hakikatnya adalah bebas nilai, namun penggunaannya akan sarat dengan aturan nilai dan estetika. Teknologi merupakan suatu bidang yang tak terpisahkan dengan ilmu pengetahuan, seperti misalnya teknologi pertanian, teknologi kesehatan, teknologi komunikasi, dan tentunya juga teknologi pendidikan. Setiap teknologi, tak terkecuali teknologi pendidikan, merupakan proses untuk menghasilkan nilai tambah, sebagai produk atau piranti untuk dapat digunakan dalam aneka keperluan, dan sebagai sistem yang terdiri atas berbagai komponen yang saling berkaitan untuk suatu tujuan tertentu. Berbicara tentang landasan falsafah teknologi pendidikan, maka kita tidak bisa lepas dari filsafat pendidikan karena teknologi pendidikdn merupakan bagian dari teknologi pendidikan. Adapun filsafat yang dikembangkan akhir-akhir ini, dipengaruhi oleh filsafat analitik sehingga disiplin ilmu pendidikan dalam konteks dasar-dasar pendidikan (foundations of educations) dihubungkan dengan bagian-bagian lain dalam disiplin ilmu pendidikan,yaitu sejarah pendidikan, psikologi pendidikan, dan sosiologi. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 25
  • Ada beberapa aliran filsafat yang begitu mempengaruhi filsafat pendidikan sampai saat ini, yakni: 1 Filsafat analitik, menganalisis serta menguraikan istilsh-istilah dan konsep-konsep pendidikan seperti pembelajaran (learning), kemampuan (ability), pendidikan (education), dan sebagainya. 2 Progresivisme,berpendapat bahwa pendidikan bukan sekedar mentransfer pengetahuan kepada anak didik, melainkan melatih kemampuan dan ketrampilan berpikir dengan memberikan rangsangan yang tepat. 3 Eksistensialisme, menyatakan bahwa yang menjadi tujuan utama pendidikan bukan agar anak didik dibantu mempelajari bagaimana menanggulangi masalah-masalah eksistensial mereka, melainkan agar dapat mengalami secara penuh eksistensi mereka. 4 Rekonstruksionisme, terutama merupakan reformasi sosial yang menghendaki renaisans sivilasi modern. Para pendidik rekonstruksionisme melihat bahwa pendidikan dan reformasi sosial sesungguhnya sama. Semakin majunya ilmu pengetahuan dan teknologi membawa implikasi meluasnya cakrawala manusia dalam berbagai bidang pengetahuan sehingga setiapgenerasi penerus harus belajar lebih banyak untuk menjadi manusia terdidik sesuai dengan perkembangan zaman. Untuk itu dirasakan perlunya sistem baru dalam mengkomunikasikan segala macam pengetahuan dan pesan, baik secara verbal maupun non verbal. Kebenaran hakiki falsafah teknologi pendidikan Dalam teknologi pendidikan, kebenaran hakiki komponen filsafah pengetahuan dikaitkan dengan pertanyaan: a. apa yang menjadi objek telaah teknologi pendidikan?(wujud objek telaah) Dalam ilustrasi revolusi pendidikan (Sir Eric Ashby, 1972), dijelaskan revolusi pendidikan dibagi 4, yaitu: 1. Revolusi ke-1, terjadi pada saat orang tua atau keluarga menyerahkan sebagian tanggungjawab dan pendidikannya kepada orang lain yang secara khusus diberi tanggungjawab untuk itu. Pada revolusi pertama ini masih ada kasus dimana orangtua atau keluarga masih melakukan sendiri pendidikan anak-anaknya. Dari beberapa literatur, seperti misalnya Seattler berusaha menelusuri secara historik perkembangan revolusi ini dengan Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 26
  • mengemukakan bahwa kaum Sufi pada sekitar 500 SM menjadikan dirinya sebagai ―penjual ilmu pengetahuan‖, yaitu memberikan pelajaran kepada siapa saja yang bersedia memberinya upah atau imbalan. Revolusi pertama ini terjadi karena orangtua/keluarga tidak mampu lagi membelajarkan anak-anaknya sendiri. 2. Revolusi ke-2, terjadi pada saat guru sebagai orang yang dilimpahkan tanggungjawab untuk mendidik. Pengajaran pada saat itu diberikan secara verbal/lisan dan sementara itu kegiatan pendidikan dilembagakan dengan berbagai ketentuan yang dibakukan. Penyebab terjadinya revolusi kedua ini karena guru ingin memberikan pelajaran kepada lebih banyak anak didik dengan cara yang lebih cepat. 3. Revolusi ke-3, muncul dengan ditemukannya mesin cetak yang memungkinkan tersebarnya informasi iconic dan numeric dalam bentuk buku atau media cetak lainnya. Buku hingga saat ini dianggap sebagai media utama disamping guru untuk keperluan pendidikan. Revolusi ini masih berlangsung bahkan beberapa pandangan falsafati berpendapat bahwa masyarakat belajar adalah masyarakat membaca. Beberapa ahli menyatakan bahwa pendidikan di Indonesia masih berlangsung budaya mendengarkan belum sampai pada budaya membaca. Revolusi ketiga ini terjadi karena guru ingin mengajarkan lebih banyak lagi dan lebih cepat lagi, sementara itu kemampuan guru semakin terbatas, sehingga diperlukan penggunaan pengatahuan yang telah diramukan oleh orang lain. 4. Revolusi ke-4, berlangsung dengan perkembangan yang pesat di bidang elektronik dimana yang paling menonjol diantaranya adalah media komunikasi (radio, televisi, tape dan lainlain) yang berhasil menembus batas geografi, sosial dan politis secara lebih intens daripada media cetak. Pesan – pesan dapat lebih cepat, bervariasi serta berpotensi untuk lebih berdaya guna bagi si penerima. Pada revolusi ini muncullah konsep keterbacaan (Literacy) baru, yang tidak sekedar menuntut pemahaman deretan huruf, angka, kata dan kalimat, tetapi juga pemahaman visual. Beberapa orang ahli berpendapat bahwa perkembangan media komunikasi ini menjadikan dunia semakin ―mengecil‖, menjadi suatu ―global Village‖ dimana semua warganya saling mengenal, saling tahu dan saling bergantung satu sama lain. Dalam revolusi keempat ini memang ujud yang sangat menonjol adalah peralatan yang semakin canggih. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 27
  • Penyebab revolusi ini adalah karena guru menyadari bahwa tidaklah mungkin bagi guru untuk memberikan semua ajaran yang diperlukan, dan karena itu yang lebih penting adalah mengajarkan kepada anak didik tentang bagaimana belajar. Ajaran selanjutnya akan diperoleh si pembelajar sepanjang usia hidupnya melalui berbagai sumber dan saluran. Berdasarkan penyebab dan kondisi perkembangan keempat revolusi yang terjadi di dunia pendidikan diatas dimana difokuskan pada masalah utama yaitu ―belajar‖ dapat disederhanakan yaitu pada awalnya guru menghadapi anak didiknya dengan bertatap muka langsung dan guru bertindak sebagai satu-satunya sumber untuk belajar. Perkembangan berikutnya guru menggunakan sumber lain berupa buku yang ditulis oleh orang lain, atau dapat dikatakan bahwa guru membagi perannya dalam menyajikan ajaran kepada sejawat lain yang menyajikan pesan melalui buku. Dalam keadaan ini guru masih mungkin melaksanakan tugasnya menyeleksi buku dan mengawasi kegiatan belajar secara ketat. Dalam perkembangan selanjutnya media komunikasi mampu menyalurkan pesan yang dirancang oleh suatu tim yang terpisah dari guru, langsung kepada anak didik tanpa dapat dikendalikan oleh guru. b. Sampai dimana ruang lingkup objek telaah,?(penggarapan objek telaah) Teknologi pendidikan merupakan bidang garapan yang tidak dilakukan dalam disiplin ilmu lain. Pada ilmu pendidikan, ilmu komunikasi, ilmu perilaku dan ilmu lainnya, objek penggarapan telaah terpisah-pisah, sementara teknologi pendidikan memandang bahwa semua komponen teori, model, konsep, dan prinsip dari semua ilmu digabung secara sistematik dan sistemik agar diperoleh daya guna dan hasil guna yang optimal. Usaha yang sistematik dan sistemik diawali dengan menganalisis masalah, kemudian merancang, memproduksi, memamfaatkan, menilai, memperbaiki dan mengelola keseluruhan proses kegiatan secara terintegrasi, sehingga diperlukan pendekatan baru dengan. c. Apakah masih dimungkinkan adanya telaah baru? (hasil penggarapan objek telaah) Dari dua landasan yang telah dipenuhi oleh teknologi pendidikan, dirumuskanlah kegunaan potensial teknologi pendidikan yaitu perluasan dan pemerataan kesempatan belajar, meningkatkan mutu pendidikan, penyempurnaan sistem pendidikan, peningkatan Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 28
  • partisipasi masyarakat, dan penyempurnaan pelaksanaan interaksi antara pendidikan dan pembangunan. Hal inilah yang merupakan hasil dari penggarapan objek telaah (landasan aksiologi) teknologi pendidikan sebagai suatu disiplin ilmu Wujud penerapan filsafat teknologi pendidikan dalam sistem pendidikan di Indonesia Filsafat teknologi pendidikan telah terwujud dalam sistem pendidikan di Indonesia, wujudnya sebagai berikut : a. Pada masa kemerdekaan tahun 1950, untuk mengatasi kesempatan belajar para pejuang yang terpaksa meninggalkan bangku sekolah karena tergabung dalam pasukan tentara, maka dihadirkanlah siaran radio untuk menyajikan bahan pelajaran, didirikan Balai Kursus Tertulis Pengembangan Guru, Balai Alat Peraga Pendidikan yang sekarang menjadi Pusat Pengembangan Penataran Guru Tertulis. b. Pada awal orde baru, dalam PELITA I telah dicantumkan secara eksplisitkebijakan menggunakan radio dan televisi untuk peningkatan mutu dan pemerataan kesempatan pendidikan, sebagai contoh program pendidikan karakter melalui serial televisi ACI ( Aku Cinta Indonesia). c. Dalam periode pembangunan selanjutnya, berbagai bentuk penerapan teknologi pendidikan berkembang pesat. Penerapan berupa pola / sistem pendidikan yang inovatif, contohnya sebagai berikut : 1. Sistem pendidikan terbuka / jarak jauh (SLTP Terbuka, Madrasah Tsanawiyah Terbuka, Universitas Terbuka, Program KEJAR Paket A dan B) 2. Proyek pendidikan melalui satelit ( Rural Satellite Project) di perguruan tinggi wilayah Indonesia Timur. 3. Penggunaan siaran radio untuk penataran guru, sitem belajar mandiri untuk meningkatkan kualitas guru yang diselenggarakan oleh berbagai lembaga pendidikan dan pelatihan. 4. Sistem pelatihan jarak jauh yang pengembangannya dikoordinasikan oleh Indonesian Learning Work (IDLN) dan SEAMOLEC ( SEAMO Open Learning Center ) berkedudukan di Pustekom Diknas. 5. Teknik /strategi pembelajaran untuk belajar pemecahan masalah dan belajar aktif (problem solving and active learning strategies and techniques). Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 29
  • Beberapa bentuk penerapan ada yang sudah berhenti dikarenakan berbagai alasan kebijakan maupun pendanaan. Akan tetapi penerapan teknologi pendidikan yang telah berlangsung, menunjukkan perkembangan yang signifikan. Perkembangan itu masih harus ditingkatkan lagi untuk menjangkau seluruh sektor pendidikan pada semua jenis, jalur dan jenjang pendidikan termasuk pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia. Perkembangan- perkembangan baru yang timbul dalam dunia pendidikan Perkembangan-perkembangan baru yang timbul dalam dunia pendidikan dan khususnya dalam pembelajaran adalah sebagai berikut: 1. Adanya berbagai macam sumber untuk belajar, termasuk orang (penulis buku) prosedur media dan lain-lain, pesan (yang tertulis dalam buku, atau tersaji lewat media), media(jaringan televise, radio dan lain-lain). Cara-cara tertentu dalam mengolah, menyajikan pesan, serta lingkungan di mana proses pendidikan itu berlangsung. 2. Perlunya sumber-sumber tersebut dikembangkan baik secara konseptual maupun factual. 3. Perlu dikelolanya kegiatan pengembangan, maupun sumber-sumber belajar agar dapat digunakan seoptimal mungkin untuk keperluan belajar. 4. Tumbuh dan makin memasyaratkannya pendidikan terbuka/jarak jauh sebagai sistem pendidikan alternatif yang memungkinkan proses pendidikan dsan pembelajaran dilakukan secara luwes, efisien, efektif, dapat diakses oleh siapa saja yang memerlukan. Bertolak dari ilustrasi diatas, keempat perkembangan diatas merupakan peluang dan masa depan teknologi pendidikan semakin terbuka. Di samping itu, pengaruh era globalisasi yang tidak bisa kita hindari menuntut manusia ke depan lebih kreatif dalam menghadapi tantangann yang lebih besar, sehingga perang teknologi pendidikan lebih banyak bersifat reaktif terhadap perkembangan teknologi dari pada sebagai ―agent of change‖ yang memicu perubahan itu. 3. VISI,MISI ,DAN TUJUAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN VISI TEKNOLOGI PENDIDIKAN Terwujudnya berbagai pola pendidikan dan pembelajaran dengan dikembangkan dan dimanfaatkannya aneka proses dan sumber belajar sesuai dengan kondisi dan kebutuhan. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 30
  • Sebagai pusat pengembangan iptek pendidikan dan pusat penyiapan teknolog pendidikan/pembelajaran serta pendidik dan tenaga kependidikan yang menguasai teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dan multimedia. MISI TEKNOLOGI PENDIDIKAN  Dilakukannya pendekatan integratif dengan semua kegiatan pembangunan dibidang pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia.  Tersedianya tenaga ahli untuk mengelola dan melaksanakan kegiatan.  Diusahakannya pertambahan nilai sosial ekonomi.  Dihindari adanya gejolak negatif.  Dikembangkannya pola dan sistem yang memungkinkan keterlibatan jumlah sasaran maksimal,perluasan pelayanan,dan desentalisasi kegiatan.  Dihasilkannya inovasi sistem pembelajaran yang efektif.  Menyelenggarakan pendidikan tinggi untuk menghasilkan teknolog pendidikan/pembelajaran,pendidik,dan tenaga kependidikan yang mengusai TIK dan multimedia,unggul dan memiliki daya saing yang tinggi.  Menyelenggarakan penelitian dan pengembangan dalam bidang teknologi pendidikan/pembelajaran untuk menghasilkan karya akademik yang unggul dan menjadi rujukan.  Menerapkan berbagai hasil karya dalam bidang teknologi pendidikan/pembelajaran untuk memberdayakan masyarakat. TUJUAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN  Menghasilkan teknolog pendidikan/pembelajaran yang mampu merancang,mengembangkan,memanfaatkan dan mengelola serta mengevaluasi program,proses dan produk pendidikan/pembelajaran dan pelatihan.  Menghasilkan tenaga pendidik yang mengusai teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dan multimedia dijenjang pendidikan dasar dan menengah.  Menghasilkan tenaga kependidikan sebagai pengembang kurikulum,pengelola atau teknisi sumber belajar termasuk perpustakaan sekolah,dan tenaga administratif yang menguasai teknologi informasai dan komunikasi. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 31
  •  Menghasilkan karya akademik melalui kegiatan penelitian dan pengembangan dalam bidang teknologi pendidikan/pembelajaran.  Memberdayakan masyarakat melalui penerapan berbagai hasil karya tenologi pendidikan/pembelajaran. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 32
  • DAFTAR PUSTAKA Danim, Sudarwan, Media Komunikasi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995) Nasution, M.A, Prof. Dr, Teknologi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008) Sadiman, Arif, Media Pendidikan, (Jakarta: Rajawali, 1986) Sudjana, Dr. Nana, Teknologi Pengajaran, (Bandung: CV. Sinar Baru, 1989) Syukur, Drs. Fatah, Teknologi Pendidikan, (Semarang: Rasail, 2005) Arif AM, M. 2010. Teknologi Pendidikan. Kediri: STAIN Kediri Press. B. Uno, Hamzah. 2009. Perencanaan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 33
  • Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 34
  • BAB III PERKEMBANGAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN 1. Latar Belakang Sejarah teknologi pendidikan perlu diketahui seseorang untuk menjadi seorang yang ahli dalam bidang teknologi pendidikan. Karena untuk menjadi ahli dalam bidang tertentu, seseorang harus mampu memiliki pengetahuan tentang sejarah dalam bidang bersangkutan. Bidang teknologi pendidikan meliputi analisis masalah belajar dan kinerja, serta desain, pengembangan, implementasi, evaluasi dan pengelolaan proses pembelajaran dan sumber daya yang dimaksudkan dapat meningkatkan pembelajaran dan kinerja dalam berbagai pengaturan, lembaga pendidikan khususnya dan tempat kerja. Profesional di bidang teknologi instruksional sering menggunakan prosedur teknologi instruksional yang sistematis dan menggunakan berbagai media pembelajaran untuk mencapai tujuan yang ditentukan. Selain itu, dalam beberapa tahun terakhir, mereka telah meningkatkan perhatian untuk solusi non-instruksional untuk beberapa masalah belajar dan kinerja. Penelitian dan teori yang terkait dengan masing-masing daerah tersebut juga merupakan bagian penting dari dalam bidang teknologi instruksional.Selama bertahun-tahun, praktekpenggunaan sistematis prosedur teknologi pendidikan dan penggunaan media untuk tujuaninstruksional telah membentuk inti dari bidang teknologi pendidikan. Dari perspektif sejarah, sebagian besar praktek yang berkaitan dengan media pembelajaran telah terjadi perkembangan yang berhubungan dengan teknologi pendidikan. Melihat begitu pentingnya sejarah Teknologi Pendidikan sebagai landasan untuk lebih memahami dan mengetahui bagaimana Teknologi Pendidikan dalam tinjauan perkembangan sejarahnya, maka sebagai individu yang bergerak dibidang Teknologi Pendidikan, penulis melakukan pembahasan tentang “perkembangan teknologi pendidikan”. Dalam makalah ini Penulis akan membahas banyak peristiwa penting dalam rentetan sejarah bidang teknologi pendidikan yang telah terjadi di duniaa, dan juga penekanan dalam buku yang menjadi sumber utama bahasan ini pada peristiwa yang telah terjadi di Amerika Serikat. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 35
  • A. Rumusan Masalah 1) Pengertian Teknologi Pendidikan 2) Sejarah Perkembangan Teknologi Pembelajaran 3) Sejarah teknologi pembelajaran 4) Sejarah desain pembelajaran 5) Permulaan Model Desain Pembelajaran 6) Kawasan Teknologi Pembelajaran A. PENGERTIAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN Rumusan tentang pengertian Teknologi Pembelajaran telah mengalami beberapa perubahan, sejalan dengan sejarah dan perkembangan dari teknologi pembelajaran itu sendiri. Di bawah ini dikemukakan beberapa definisi tentang Teknologi Pembelajaran yang memiliki pengaruh terhadap perkembangan Teknologi Pembelajaran. 1. Definisi Association for Educational Communications Technology (AECT) 1963 ― Komunikasi audio-visual adalah cabang dari teori dan praktek pendidikan yang terutama berkepentingan dengan mendesain, dan menggunakan pesan guna mengendalikan proses belajar, mencakup kegiatan : (a) mempelajari kelemahan dan kelebihan suatu pesan dalam proses belajar; (b) penstrukturan dan sistematisasi oleh orang maupun instrumen dalam lingkungan pendidikan, meliputi : perencanaan, produksi, pemilihan, manajemen dan pemanfaatan dari komponen maupun keseluruhan sistem pembelajaran. Tujuan praktisnya adalah pemanfaatan tiap metode dan medium komunikasi secara efektif untuk membantu pengembangan potensi pembelajar secara maksimal.‖ Meski masih menggunakan istilah komunikasi audio-visual, definisi di atas telah menghasilkan kerangka dasar bagi pengembangan Teknologi Pembelajaran berikutnya serta dapat mendorong terjadinya peningkatan pembelajaran. 2. Definisi Commission on Instruction Technology (CIT) 1970 ―Dalam pengertian yang lebih umum, teknologi pembelajaran diartikan sebagai media yang lahir sebagai akibat revolusi komunikasi yang dapat digunakan untuk keperluan pembelajaran di samping guru, buku teks, dan papan tulis…..bagian yang membentuk teknologi Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 36
  • pembelajaran adalah televisi, film, OHP, komputer dan bagian perangkat keras maupun lunak lainnya.‖ ―Teknologi Pembelajaran merupakan usaha sistematik dalam merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi keseluruhan proses belajar untuk suatu tujuan khusus, serta didasarkan pada penelitian tentang proses belajar dan komunikasi pada manusia yang menggunakan kombinasi sumber manusia dan manusia agar belajar dapat berlangsung efektif.‖ Dengan mencantumkan istilah tujuan khusus, tampaknya rumusan tersebut berusaha mengakomodir pengaruh pemikiran B.F. Skinner (salah seorang tokoh Psikologi Behaviorisme) dalam teknologi pembelajaran. Begitu juga, rumusan tersebut memandang pentingnya penelitian tentang metode dan teknik yang digunakan untuk mencapai tujuan khusus. 3. Definisi Silber 1970 ―Teknologi Pembelajaran adalah pengembangan (riset, desain, produksi, evaluasi, dukungan-pasokan, pemanfaatan) komponen sistem pembelajaran (pesan, orang, bahan, peralatan, teknik dan latar) serta pengelolaan usaha pengembangan (organisasi dan personal) secara sistematik, dengan tujuan untuk memecahkan masalah belajar‖. Definisi yang dikemukakan oleh Kenneth Silber di atas menyebutkan istilah pengembangan. Pada definisi sebelumnya yang dimaksud dengan pengembangan lebih diartikan pada pengembangan potensi manusia. Dalam definisi Silber, penggunaan istilah pengembangan memuat dua pengertian, disamping berkaitan dengan pengembangan potensi manusia juga diartikan pula sebagai pengembangan dari Teknologi Pembelajaran itu sendiri, yang mencakup : perancangan, produksi, penggunaan dan penilaian teknologi untuk pembelajaran. 4. Definisi MacKenzie dan Eraut 1971 ―Teknologi Pendidikan merupakan studi sistematik mengenai cara bagaimana tujuan pendidikan dapat dicapai‖ Definisi sebelumnya meliputi istilah, ―mesin‖, instrumen‖ atau ―media‖, sedangkan dalam definisi MacKenzie dan Eraut ini tidak menyebutkan perangkat lunak maupun perangkat keras, tetapi lebih berorientasi pada proses. 5. Definisi AECT 1972 Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 37
  • Pada tahun 1972, AECT berupaya merevisi defisini yang sudah ada (1963, 1970, 1971), dengan memberikan rumusan sebagai berikut : ―Teknologi Pendidikan adalah suatu bidang yang berkepentingan dengan memfasilitasi belajar pada manusia melalui usaha sistematik dalam : identifikasi, pengembangan, pengorganisasian dan pemanfaatan berbagai macam sumber belajar serta dengan pengelolaan atas keseluruhan proses tersebut‖. Definisi ini didasari semangat untuk menetapkan komunikasi audio-visual sebagai suatu bidang studi. Ketentuan ini mengembangkan gagasan bahwa teknologi pendidikan merupakan suatu profesi. 6. Definisi AECT 1977 ―Teknologi pendidikan adalah proses kompleks yang terintegrasi meliputi orang, prosedur, gagasan, sarana, dan organisasi untuk menganalisis masalah, merancang, melaksanakan, menilai dan mengelola pemecahan masalah dalam segala aspek belajar pada manusia. Definisi tahun 1977, AECT berusaha mengidentifikasi sebagai suatu teori, bidang dan profesi. Definisi sebelumnya, kecuali pada tahun 1963, tidak menekankan teknologi pendidikan sebagai suatu teori. 7. Definisi AECT 1994 ― Teknologi Pembelajaran adalah teori dan praktek dalam desain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan, serta evaluasi tentang proses dan sumber untuk belajar.‖ Meski dirumuskan dalam kalimat yang lebih sederhana, definisi ini sesungguhnya mengandung makna yang dalam. Definisi ini berupaya semakin memperkokoh teknologi pembelajaran sebagai suatu bidang dan profesi, yang tentunya perlu didukung oleh landasan teori dan praktek yang kokoh. Definisi ini juga berusaha menyempurnakan wilayah atau kawasan bidang kegiatan dari teknologi pembelajaran. Di samping itu, definisi ini berusaha menekankan pentingnya proses dan produk. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 38
  • Jika kita amati isi kandungan definisi-definisi teknologi pembelajaran di atas, tampaknya dari waktu ke waktu teknologi pemebelajaran mengalami proses ―metamorfosa‖ menuju penyempurnaan. Yang semula hanya dipandang sebagai alat ke sistem yang lebih luas, dari hanya berorientasi pada praktek menuju ke teori dan praktek, dari produk menuju ke proses dan produk, dan akhirnya melalui perjalanan evolusionernya saat ini teknologi pembelajaran telah menjadi sebuah bidang dan profesi. Sejalan dengan perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang demikian pesat, khususnya dalam bidang pendidikan, psikologi dan komunikasi maka tidak mustahil ke depannya teknologi pembelajaran akan semakin terus berkembang dan memperkokoh diri menjadi suatu disiplin ilmu dan profesi yang dapat lebih jauh memberikan manfaat bagi pencapaian efektivitas dan efisiensi pembelajaran. Kendati demikian, harus diakui bahwa perkembangan bidang dan profesi teknologi pembelajaran di Indonesia hingga saat ini masih boleh dikatakan belum optimal, baik dalam hal design, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan, maupun evaluasinya. Kiranya masih dibutuhkan usaha perjuangan yang sungguh-sungguh dari semua pihak yang terkait dengan teknologi pembelajaran, baik dari kalangan akademisi, peneliti maupun praktisi. B. SEJARAH PERKEMBANGAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN Sejarah desain pembelajaran dan teknologi perlu diketahui seseorang untuk menjadi seorang yang ahli dalam bidang desain pembelajaran dan teknologi. Karena untuk menjadi ahli dalam bidang tertentu harus mampu memiliki pengetahuan tentang sejarah dalam bidang bersangkutan. Bidang desain instruksional dan teknologi meliputi analisis masalah belajar dan kinerja, serta desain, pengembangan, implementasi, evaluasi dan pengelolaan proses pembelajaran dan sumber daya yang dimaksudkan dapat meningkatkan pembelajaran dan kinerja dalam berbagai pengaturan, lembaga pendidikan khususnya dan tempat kerja. Profesional di bidang desain instruksional dan teknologi sering menggunakan prosedur desain instruksional yang sistematis dan menggunakan berbagai media pembelajaran untuk mencapai tujuan yang ditentukan. Selain itu, dalam beberapa tahun terakhir, mereka telah meningkatkan perhatian untuk solusi noninstruksional untuk beberapa masalah belajar dan kinerja. Penelitian dan teori yang terkait Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 39
  • dengan masing-masing daerah tersebut juga merupakan bagian penting dari dalam bidang desain instruksional dan teknologi. Selama bertahun-tahun, dua praktek-penggunaan sistematis prosedur desain instruksional dan penggunaan media untuk tujuan-instruksional telah membentuk inti dari bidang desain instruksional dan teknologi . Dari perspektif sejarah, sebagian besar praktek yang berkaitan dengan media pembelajaran telah terjadi perkembangan yang berhubungan dengan desain instruksional. Oleh karena itu sejarah dari masing-masing dua set praktek akan dijelaskan secara terpisah. Hal ini juga harus dicatat bahwa meskipun banyak peristiwa penting dalam sejarah bidang desain instruksional dan teknologi telah terjadi di negara-negara lain, penekanan dalam buku yang menjadi sumber utama bahasan ini pada peristiwa yang telah terjadi di Amerika Serikat. Istilah media pembelajaran telah didefinisikan sebagai sarana fisik melalui instruksi yang disajikan kepada peserta didik (Reiser & Gagnt. 1983). Berdasarkan definisi ini, setiap fisik berarti pengiriman instruksional, dari instruktur hidup, buku, komputer dan sebagainya, akan diklasifikasikan sebagai media instruksional. Mungkin lebih bijaksana bagi para praktisi di bidangnya untuk mengadopsi sudut pandang ini: Namun, dalam diskusi sebagian besar sejarah media pembelajaran, tiga sarana utama instruksi sebelum abad kedua puluh dan masih merupakan cara paling umum saat ini yaitu guru, papan tulis, dan buku teks. Ketiga itu telah dikategorikan secara terpisah dari media lain (ef. Komisi Instructional Technology, 1970). Dengan demikian, media pembelajaran akan didefinisikan sebagai sarana fisik, selain guru, papan tulis, dan buku teks, melalui instruksi yang disajikan kepada peserta didik. C. SEJARAH TEKNOLOGI PENDIDIKAN 1. Museum sekolah Di Amerika Serikat, penggunaan media untuk tujuan pembelajaran telah dilacak kembali setidaknya sebagai awal dekade pertama abad kedua puluh (Saettler, 1990). Pada waktu telah ada sebuah museum sekolah. Saettler (1968) telah mengindikasikan, museum ini menjabat sebagai unit administrasi pusat untuk instruksi visual dengan distribusi mereka dari pameran museum portabel, stereograf [tiga-dimensi foto], slide, film, cetakan studi, grafik, dan bahan instruksional ―(hal. 89). Museum sekolah pertama dibuka di St Louis pada tahun 1905, dan tidak lama Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 40
  • kemudian, museum sekolah dibuka di Reading, Pennsylvania, dan Cleveland, Ohio. Meskipun beberapa museum tersebut telah berdiri sejak awal 1900-an, daerah pusat terbesar media dapat dianggap modern. Saettler (1990) juga menyatakan bahwa bahan yang disimpan di museum sekolah dipandang sebagai bahan pelengkap kurikulum. Mereka tidak dimaksudkan untuk menggantikan guru atau buku teks. Sepanjang seratus tahun terakhir, pandangan awal tentang peran media pembelajaran tetap lazim di komunitas pendidikan pada umumnya. Artinya, banyak pendidik telah melihat media pembelajaran sebagai sarana pelengkap dalam menyajikan instruksi. Sebaliknya, guru dan buku teks umumnya dipandang sebagai sarana utama menyajikan instruksi, dan guru biasanya diberikan kewenangan untuk memutuskan apa media pembelajaran lain yang akan mereka lakukan. Selama bertahun-tahun, sejumlah profesional di bidang desain instruksional dan teknologi (misalnya, Heinich, 1970) berpendapat terhadap gagasan ini, menunjukkan bahwa a. guru harus dilihat pada kedudukan yang sama dengan media instruksional, sebagai hanya salah satu dari banyak kemungkinan berarti untuk menyajikan instruksi, b. guru tidak boleh diberikan otoritas tunggal untuk memutuskan apa yang media pembelajaran yang akan digunakan di ruang kelas. Namun, dalam komunitas pendidikan yang luas, pandangan ini tidak begitu disukai. 2. Gerakan Visual Instruksi dan Film Instruksional Seperti Saettler (1990) telah mengindikasikan, di awal abad kedua puluh, kebanyakan media yang disimpan di museum sekolah media visual, seperti film, slide, dan foto. Jadi pada saat itu, meningkatnya minat dalam menggunakan media di sekolah itu disebut sebagai ―instruksi visual‖ atau ―pendidikan visual‖ gerakan. Istilah terakhir ini digunakan setidaknya 1908, ketika diterbitkan Perusahaan Tampilkan Keystone Visual Pendidikan, panduan guru untuk slide lentera dan stereograf. Selain lentera ajaib (lentera proyektor slide) dan stereopticons (Stereograf pemirsa), yang digunakan di beberapa sekolah selama paruh kedua abad kesembilan belas (Anderson, 1962), gerakan gambar proyektor adalah salah satu perangkat media pertama digunakan di sekolahsekolah. Di Amerika Serikat, katalog pertama film instruksional diterbitkan pada 1910. Setalah 1910, sistem sekolah publik Rochester, New York, menjadi yang pertama untuk mengadopsi Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 41
  • film instruksional untuk penggunaan biasa. Pada tahun 1913, Thomas Edison menyatakan, ―Buku akan segera menjadi usang di sekolah-sekolah …. Hal ini dimungkinkan untuk mengajar setiap cabang pengetahuan manusia dengan gerak gambar sistem sekolah kami akan benar-benar berubah dalam sepuluh tahun mendatang.‖ (Dikutip di Saettler,, 1968 hlm 98). Sepuluh tahun setelah Edison membuat perkiraan-nya, apa yang ia meramalkan tidak datang. Namun, selama dekade ini (1914-1923), gerakan instruksi visual tidak tumbuh. Lima organisasi profesional nasional untuk instruksi visual didirikan, lima jurnal berfokus pada instruksi visual yang mulai diterbitkan, lebih dari dua puluh lembaga-lembaga pelatihan guru mulai menawarkan program dalam instruksi visual, dan setidaknya selusin kota besar sistem sekolah dikembangkan biro visual pendidikan (Saettler , 1990). 3. Gerakan Audiovisual Instruksi dan Radio Instruksional Diakhir tahun 1920 dan sepanjang tahun 1930-an, kemajuan teknologi di berbagai bidang seperti siaran radio, rekaman suara, dan gambar gerak suara menyebabkan meningkatnya minat dalam media pembelajaran. Dengan munculnya media yang menggabungkan suara, gerakan instruksi memperluas visual yang dikenal sebagai gerakan instruksi audiovisual (Finn, 1972; McCluskey, 1981). Namun, McCluskey (1981), yang merupakan salah satu pemimpin dalam bidang selama periode ini, menunjukkan bahwa sementara lapangan terus tumbuh, komunitas pendidikan pada umumnya tidak sangat dipengaruhi oleh pertumbuhan tersebut. Dia menyatakan bahwa tahun 1930, kepentingan komersial dalam gerakan instruksi visual yang telah menginvestasikan dan kehilangan lebih dari $ 50 juta, dan hanya bagian dari kerugian itu karena Depresi Besar, yang dimulai pada tahun 1929. Terlepas dari efek ekonomi yang merugikan akibat Depresi Besar, audiovisual dalam gerakan konstruksi terus berkembang. Menurut Saettler (1990), salah satu peristiwa paling penting dalam evolusi ini adalah penggabungan pada tahun 1932 dari tiga organisasi yang ada profesional nasional untuk instruksi visual. Sebagai hasilnya, kepemimpinan dalam gerakan itu dikonsolidasikan dalam satu organisasi, Departemen Instruksi Visual, yang pada saat itu merupakan bagian dari National Education Association. Selama bertahun-tahun, organisasi ini, yang diciptakan pada tahun 1923 dan sekarang disebut Asosiasi untuk Pendidikan Komunikasi dan Teknologi, telah mempertahankan peran kepemimpinan dalam bidang desain instruksional dan teknologi. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 42
  • Selama tahun 1920-an dan 1930-an, sejumlah buku pada topik pembelajaran visual ditulis. Mungkin yang paling penting dari buku teks adalah Visualisasi Kurikulum, yang ditulis oleh Charles F. Hoban, Sr, Charles F. Hoban, Jr, dan Stanley B. Zissman (1937). Dalam buku ini, penulis menyatakan bahwa nilai materi audiovisual adalah fungsi derajat realisme. Para penulis juga disajikan hirarki media, mulai dari mereka yang bisa hadir hanya konsep-konsep dengan cara abstrak bagi mereka yang memungkinkan untuk representasi sangat konkret (Heinich, Molenda, Russell, & Smaldino, 1999). Beberapa ide-ide ini sebelumnya telah dibicarakan oleh orang lain tetapi belum ditangani secara menyeluruh. Pada tahun 1946, Edgar Dale kemudian dijabarkan lebih lanjut pada ide-ide ketika dia mengembangkan terkenal ―Pengalaman Cone.‖ Sepanjang sejarah audiovisual dalam gerakan konstruksi, banyak telah menunjukkan bahwa bagian dari nilai bahan audiovisual adalah kemampuan mereka untuk menyajikan konsep-konsep secara konkret (Saettler, 1990). Sebuah media yang mendapat perhatian besar selama periode ini adalah radio. Pada awal 1930-an, penggemar audiovisual banyak yang mengelu-elukan radio sebagai media yang akan merevolusi pendidikan. Misalnya, dalam mengacu pada potensi instruksional radio, film, dan televisi, editor publikasi untuk Asosiasi Pendidikan Nasional menyatakan bahwa ―suatu hari mereka akan seperti buku dan kuat dalam efek mereka pada belajar dan mengajar‖ (Morgan , 1932, hlm ix). Namun, bertentangan ini, melalui radio dua puluh tahun ke depan memiliki dampak yang sangat sedikit pada praktek instruksional (Kuba, 1986). 4. Perang Dunia II Dengan terjadinya Perang Dunia II, pertumbuhan gerakan audiovisual di sekolah-sekolah melambat, namun, perangkat audiovisual yang digunakan secara luas dalam pelayanan militer dan dalam industri meningkat. Sebagai contoh, selama perang, Angkatan Darat Amerika Serikat Angkatan Udara menghasilkan film pelatihan lebih dari 400 dan 6G0 filmstrips, dan selama periode dua tahun (dari pertengahan 1943 sampai pertengahan 1945), diperkirakan bahwa lebih dari empat juta pertunjukan film pelatihan untuk personel militer AS. Meskipun ada sedikit waktu dan kesempatan untuk mengumpulkan data mengenai dampak dari film pada kinerja personil militer, beberapa survei instruktur militer mengungkapkan bahwa mereka percaya bahwa film pelatihan dan filmstrips yang digunakan selama perang itu trainintools efektif (Saettler , 1990). Setidaknya beberapa musuh telah disepakati; pada tahun 1945, setelah perang berakhir, Kepala Staf Umum Jerman mengatakan, ―Kami memiliki segalanya dihitung sempurna Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 43
  • kecuali kecepatan Amerika mampu melatih orang-orang yang salah perhitungan utama meremehkan penguasaan mereka cepat dan lengkap pendidikan film ―(dikutip dalam Olsen & Bass, 1982, hal 33) Selama perang, film-film pelatihan juga memainkan peran penting dalam mempersiapkan warga sipil di Amerika Serikat untuk bekerja dalam bidang industri. Pada tahun 1941, pemerintah federal membentuk Divisi Visual Aids untuk Pelatihan Perang. Dari tahun 1941 sampai 1945, organisasi ini mengawasi produksi film 457 pelatihan. Kebanyakan direksi pelatihan melaporkan bahwa film mengurangi waktu pelatihan tanpa memiliki dampak negatif pada efektivitas pelatihan dan bahwa film lebih menarik dan menghasilkan absensi kurang dari program pelatihan tradisional (Saettler, 1990). Selain film-film pelatihan dan proyektor film, berbagai bahan dan peralatan audiovisual lainnya yang bekerja dalam militer dan bidang industri selama Perang Dunia II. Perangkat yang digunakan secara luas termasuk proyektor overhead, yang pertama kali dihasilkan selama perang; proyektor slide, yang digunakan dalam mengajar pengakuan pesawat dan kapal: peralatan audio, yang digunakan dalam mengajar bahasa asing: dan simulator dan perangkat pelatihan, yang dipekerjakan dalam pelatihan penerbangan (Olsen & Bass, 1982 Saettler, 1990). 5. Pasca Perang Dunia II Perkembangan dan Media Penelitian Perangkat audiovisual yang digunakan selama Perang Dunia II secara umum dianggap sukses dalam membantu Amerika Serikat memecahkan masalah utama pelatihan: bagaimana melatih efektif dan efisien individu dengan latar belakang beragam. Sebagai hasil dari keberhasilan nyata, setelah perang ada minat baru dalam menggunakan perangkat audiovisual di sekolah-sekolah (Finn. 1972: Olsen & Bass, 1982). Dalam dekade setelah perang, beberapa program penelitian audiovisual intensif dilakukan Studi penelitian yang dilakukan sebagai bagian dari program ini dirancang untuk mengidentifikasi bagaimana berbagai fitur, atau atribut, bahan audiovisual yang terkena pembelajaran, tujuan untuk mengidentifikasi atribut yang akan memfasilitasi pembelajaran dalam situasi tertentu. Misalnya, satu program penelitian, yang dilakukan di bawah arahan ArthurA. Lumsdaine, difokuskan pada identifikasi bagaimana belajar dipengaruhi oleh berbagai teknik untuk memunculkan respon siswa terbuka selama menonton Film instruksional (Lumsdaine, 1963). Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 44
  • Pasca-Perang Dunia II program penelitian audiovisual adalah upaya terkonsentrasi pertama untuk mengidentifikasi prinsip-prinsip belajar yang dapat digunakan dalam desain bahan audiovisual. Namun, praktik-praktik pendidikan tidak terlalu dipengaruhi oleh program-program penelitian bahwa praktisi utama mengabaikan atau tidak dibuat sadar banyak temuan penelitian (Lumsdaine. 1963. 1964). Sebagian besar penelitian media yang telah dilakukan selama bertahun-tahun dibandingkan seberapa banyak siswa telah belajar, setelah menerima pelajaran yang disajikan melalui media tertentu, seperti film, televisi, radio, atau komputer, versus berapa banyak siswa telah belajar dari hidup instruksi pada topik yang sama. Studi jenis ini, sering disebut studi media perbandingan, biasanya mengungkapkan bahwa siswa belajar sama baiknya terlepas dari sarana presentasi (Clark, 1983, 1994; Schramm, 1977). Mengingat temuan ini, kritikus penelitian tersebut telah menyarankan bahwa fokus studi tersebut harus berubah. Beberapa berpendapat bahwa peneliti harus fokus pada atribut (karakteristik) media (Levie & Dickie, 1973), yang lain menyarankan pemeriksaan bagaimana media mempengaruhi pembelajaran (Kozma, 1991, 1994), dan yang lainnya telah menyarankan bahwa fokus penelitian harus pada metode pengajaran, bukan pada media yang memberikan metode-metode (Clark, 1983, 1994). Dalam beberapa tahun terakhir, beberapa jenis studi telah menjadi lebih umum. 6. Teori Komunikasi Selama awal 1950-an, banyak pemimpin dalam gerakan nstruksi audiovisual menjadi tertarik pada berbagai teori atau model komunikasi, seperti model yang diajukan oleh Shannon dan Weaver (1949). Model ini berfokus pada proses komunikasi, sebuah proses yang melibatkan pengirim dan penerima pesan dan saluran, atau media, melalui mana pesan yang dikirim. Para penulis model ini menunjukkan bahwa selama perencanaan untuk komunikasi, maka perlu untuk mempertimbangkan semua unsur dari proses komunikasi dan tidak hanya fokus pada media, karena banyak di bidang audiovisual cenderung untuk melakukan. Sebagai Berlo (1963) menyatakan, ―Sebagai orang komunikasi saya harus berpendapat kuat bahwa itu adalah proses yang sentral dan bahwa media meskipun penting, adalah hal sekunder‖ (hal. 378). Beberapa pemimpin dalam gerakan audiovisual, seperti Dale (1953) dan Finn (1954), juga menekankan pentingnya proses komunikasi. Meskipun pada awalnya, praktisi audiovisual tidak sangat dipengaruhi oleh gagasan (Lumsdaine. 1964; Mcierhenry, 1980), ekspresi dari sudut pandang Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 45
  • akhirnya membantu untuk memperluas fokus gerakan audiovisual (Ely, 1963, 1970; Silber, 1981 ). 7. Televisi Pembelajaran Mungkin faktor yang paling penting mempengaruhi gerakan audiovisual pada 1950-an adalah meningkatnya minat dalam televisi sebagai media untuk memberikan instruksi. Sebelum tahun 1950-an, telah terjadi sejumlah kasus di mana televisi telah digunakan untuk tujuan instruksional (Gumpert, 1967; Taylor, 1967). Selama tahun 1950-an, bagaimanapun, ada pertumbuhan yang luar biasa dalam penggunaan televisi pembelajaran. Pertumbuhan ini dirangsang oleh setidaknya dua faktor utama. Salah satu faktor yang mendorong pertumbuhan televisi pembelajaran adalah keputusan tahun 1952 oleh Komisi Komunikasi Federal untuk menyisihkan 242 saluran televisi untuk tujuan pendidikan. Keputusan ini menyebabkan perkembangan pesat sejumlah besar masyarakat (kemudian disebut ―pendidikan‖) stasiun televisi. Pada tahun 1955, ada tujuh belas stasiun seperti di Amerika Serikat, dan pada tahun 1960, jumlah itu meningkat menjadi lebih dari lima puluh (Blakely, 1979). Salah satu misi utama dari stasiun-stasiun ini adalah presentasi dari program pembelajaran. Sebagai Hezel (1980) menunjukkan, ―Peran mengajar telah dianggap berasal dari penyiaran publik sejak asal-usulnya. Terutama sebelum tahun 1960-an, pendidikan penyiaran dipandang cepat dan efisien, berarti murah untuk memuaskan kebutuhan pembelajaran bangsa‖ (hal. 173). Pertumbuhan televisi pembelajaran selama tahun 1950 juga dirangsang oleh dana yang disediakan oleh Ford Foundation. Diperkirakan bahwa selama tahun 1950-an dan 1960-an, yayasan dan lembaga yang menghabiskan lebih dari $ 170.000.000 di televisi pendidikan (Gordon, 1970). (Di Indonesia juga ada televisi pendidikan. Yaitu di era 1970-an. Waktu era itu disiarkan program ACIL). Proyek yang disponsori oleh yayasan termasuk sistem televisi sirkuit tertutup digunakan untuk memberikan instruksi dalam semua bidang subjek utama di semua tingkatan kelas di seluruh sistem sekolah di Washington County (Hagerstown), Maryland, sebuah kurikulum SMP sampai universitas yang disajikan melalui televisi publik di Chicago, sebuah program penelitian eksperimental skala besar dirancang untuk menilai efektivitas dari serangkaian program kuliah yang diajarkan melalui televisi sirkuit tertutup di Pennsylvania State University, dan Program Midwest pada Instruksi televisi Airborne, sebuah program yang Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 46
  • dirancang untuk secara bersamaan mengirimkan pelajaran televisi dari pesawat terbang untuk sekolah di enam negara. Pada pertengahan 1960-an, banyak kepentingan dalam menggunakan televisi untuk tujuan instruksional mereda. Banyak proyek-proyek televisi pembelajaran yang dikembangkan selama periode ini memiliki kehidupan yang pendek. Masalah ini sebagian karena kualitas pembelajaran biasa-biasa saja dari beberapa program yang dihasilkan, banyak dari mereka tidak lebih daripada saat seorang guru memberikan kuliah. Pada tahun 1963, Ford Foundation memutuskan untuk memfokuskan dukungan pada televisi publik secara umum, daripada di sekolah aplikasi televisi instruksional (Blakely, 1979). Banyak sekolah dihentikan proyek televisi demonstrasi pembelajaran apabila dana eksternal untuk proyek-proyek dihentikan (Tyler. 1975b). Pemrograman pembelajaran masih merupakan bagian penting dari misi televisi publik, tapi misi yang sekarang lebih luas, meliputi jenis lain pemrograman, seperti presentasi budaya dan informasi (Hezel, 1980). Dalam terang perkembangan ini dan lainnya, pada tahun 1967, Komisi Carnegie di Televisi Pendidikan menyimpulkan: Peran yang dimainkan dalam pendidikan formal oleh televisi pembelajaran di seluruh satu kecil tidak ada yang mendekati potensi sesungguhnya dari televisi pembelajaran yang direalisasikan dalam praktek. Dengan pengecualian kecil, hilangnya total televisi pembelajaran akan meninggalkan sistem pendidikan fundamental tidak berubah. (hal. 80-81) Banyak alasan yang telah diberikan, mengapa televisi pembelajaran tidak diadopsi untuk tingkat yang lebih besar. Ini termasuk resistensi guru untuk penggunaan televisi di ruang kelas mereka, biaya instalasi dan pemeliharaan sistem televisi di sekolah, dan ketidakmampuan televisi sendiri untuk memadai menyajikan berbagai kondisi yang diperlukan untuk kepentingan belajar siswa(Gordon, 1970; Tyler , 1975b). 8. Pergeseran Terminologi Pada awal 1970-an, istilah teknologi pendidikan dan teknologi pembelajaran mulai menggantikan instruksi audiovisual sebagai istilah yang digunakan untuk menggambarkan aplikasi media untuk tujuan pembelajaran. Sebagai contoh, pada tahun 1970, nama organisasi profesional utama dalam bidang itu diubah dari Departemen Audiovisual Instruksi kepada Asosiasi untuk Komunikasi dan Teknologi Pendidikan (AECT). Kemudian dalam dekade, nama dari dua jurnal yang diterbitkan oleh AECT juga berubah: Tinjauan Komunikasi Audiovisual Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 47
  • menjadi Komunikasi Pendidikan dan Jurnal Teknologi, dan Instruksi Audiovisual menjadi Inovator Instruksional. Selain itu, kelompok yang dibentuk pemerintah AS untuk memeriksa dampak media instruksi disebut Komisi Instructional Technology. Terlepas dari terminologi, bagaimanapun, sebagian besar individu di lapangan sepakat bahwa sampai saat itu, media pembelajaran telah memiliki dampak minimal pada praktek-praktek pendidikan (Komisi Instructional Technology, 1970; Kuba, 1986) 9. Komputer: Dari tahun 1950 sampai 1995 Setelah minat di televisi pembelajaran memudar, inovasi teknologi berikutnya untuk menangkap perhatian sejumlah besar pendidik adalah komputer. Meskipun minat yang luas dalam komputer sebagai alat instruksional tidak terjadi sampai tahun 1980-an, komputer pertama kali, digunakan dalam pendidikan dan pelatihan pada tanggal lebih awal. Banyak karya awal di komputer-dibantu instruksi (CAI) dilakukan pada tahun 1950 oleh peneliti di IBM, yang mengembangkan bahasa CAI. Penulisan pertama dan dirancang salah satu program CAI pertama untuk digunakan di sekolah-sekolah umum. Pelopor lain di daerah ini termasuk Gordon Pask, yang adaptif mesin mengajar memanfaatkan teknologi komputer (Lewis & Pask, 1965; Pask, 1960; Stolorow & Davis, 1965), dan Richard Atkinson dan Patrick Suppes, yang bekerja selama tahun 1960 menyebabkan beberapa aplikasi CAI awal di kedua sekolah publik dan tingkat universitas (Atkinson & Hansen, 1966; Suppes & Macken, 1978). Upaya besar lain selama 1960an dan awal 1970-an termasuk pengembangan sistem CAI seperti PLATO dan TICCIT. Namun, meskipun pekerjaan yang telah dilakukan, pada akhir 1970-an, CAI punya dampak yang sangat sedikit pada pendidikan (Pagliaro, 1983). Pada awal 1980-an, beberapa tahun setelah mikrokomputer tersedia untuk masyarakat umum, antusiasme terhadap alat ini menyebabkan meningkatnya minat dalam menggunakan komputer: untuk tujuan pembelajaran. Pada Januari 1983, komputer sedang digunakan untuk tujuan pembelajaran di lebih dari 40% dari semua sekolah dasar dan lebih dari 75% dari semua sekolah menengah di Amerika Serikat (Pusat Organisasi Sosial Sekolah, 1983). Banyak pendidik yang tertarik terhadap mikrokomputer karena mereka relatif dalam mahal, yang cukup kompak untuk penggunaan desktop, dan bisa melakukan banyak fungsi yang dilakukan oleh komputer besar yang telah mendahului mereka. Seperti kasus Whe lain-media baru pertama kali diperkenalkan ke dalam arena pembelajaran, banyak diharapkan bahwa media Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 48
  • ini akan berdampak besar pada praktek pembelajaran. Sebagai contoh, pada tahun 1984. Papert menunjukkan bahwa komputer akan menjadi ―katalis yang sangat mendalam dan radio: perubahan dalam sistem pendidikan‖ (hal. 422) dan bahwa pada tahun 1990, satu komputer per anak akan menjadi negara yang sangat umum urusan di sekolah-sekolah di Amerika Serikat. Meskipun komputer akhirnya dapat memiliki dampak besar pada praktek pembelajaran di sekolah, pada pertengahan 1990-an, memiliki dampak kecil. Survei mengungkapkan bahwa pada 1995, meskipun sekolah-sekolah di Amerika Serikat yang dimiliki, rata-rata, satu komputer untuk sembilan siswa, dampak komputer pada praktek pembelajaran sangat minim, dengan sejumlah besar guru pelaporan penggunaan sedikit atau tidak ada komputer untuk tujuan instruksi. Selain itu, dalam banyak kasus, penggunaan komputer jauh dari inovatif. Di sekolah dasar, guru melaporkan bahwa komputer sedang digunakan terutama untuk … dan praktek; pada tingkat menengah, laporan menunjukkan bahwa komputer digunakan utama untuk mengajar keterampilan yang berkaitan dengan komputer seperti pengolah kata (Anderson & Ronnkvi1999; Becker, 1998; Kantor Technology Assessment, 1995) 10. Perkembangan terbaru Sejak tahun 1995, kemajuan pesat dalam komputer dan teknologi digital lainnya, serta Internet, telah menyebabkan minat yang meningkat pesat, dan penggunaan, media ini untuk tujuan pembelajaran, khususnya dalam pelatihan bisnis dan industri. Sebagai contoh, sebuah survei terbaru dari lebih dari 750 perusahaan pelatihan industri (Bassi & Van Buren, 1999) mengungkapkan bahwa persentase dari pelatihan yang disampaikan melalui teknologi baru seperti CD-ROM, intranet, dan internet meningkat dari kurang dari 6% di tahun 1996 menjadi lebih dari 9% pada tahun 1997 dan diperkirakan akan meningkat menjadi lebih dari 22% pada tahun 2000. Survei lain baru-baru ini melaporkan bahwa pada tahun 1999, 14% dari semua pelatihan formal disampaikan melalui komputer (―Industri Laporan 1999″, 1999). Dalam beberapa tahun terakhir, minat dalam menggunakan Internet untuk tujuan pembelajaran juga telah berkembang pesat dalam pendidikan tinggi dan militer. Sebagai contoh, antara 1994-95 dan 1997-98 tahun akademik, pendaftaran dalam kursus-kursus belajar jarak jauh di lembaga pendidikan tinggi di Amerika Serikat hampir dua kali lipat, dan persentase institusi yang menawarkan program pembelajaran jarak jauh meningkat dari 33% menjadi 44%, dengan 78% dari publik empat tahun lembaga yang menawarkan program tersebut. Selain itu, sedangkan Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 49
  • pada tahun 1995, hanya 22% dari lembaga pendidikan tinggi menawarkan program pembelajaran jarak jauh menggunakan teknologi internet berbasis asynchronous, pada tahun 1997-98 akademik, 60% dari lembaga melakukannya (Lewis. Salju, Farris, Levin, & Greene, 1999). Dalam militer, pada tahun 2000, Sekretaris Angkatan Darat AS mengumumkan bahwa 5600000000 akan dihabiskan selama enam tahun ke depan untuk memungkinkan tentara untuk mengambil kursus pendidikan jarak jauh melalui Internet (Carr, 2000). Sejak tahun 1995, ada juga peningkatan yang signifikan dalam jumlah teknologi yang tersedia di sekolah-sekolah di Amerika Serikat. Sebagai contoh, hasil survei nasional 1998 (Anderson & Ronnkvist, 1999) mengungkapkan bahwa sementara pada tahun 1995 rata-rata ada satu komputer untuk setiap sembilan siswa, pada tahun 1998 rasio tersebut telah dikurangi menjadi satu komputer untuk setiap enam siswa. Selain itu, persentase sekolah yang memiliki akses Internet meningkat dari 50% pada 1995 menjadi 90% pada tahun 1998. Namun,. sebagaimana telah terjadi sepanjang sejarah media pembelajaran, peningkatan kehadiran teknologi di sekolah-sekolah tidak selalu berarti peningkatan penggunaan teknologi yang untuk tujuan pembelajaran. Anderson & Ronnkvist (1999) juga menyatakan bahwa meskipun jumlah komputer di sekolah telah meningkat, sebagian besar komputer yang cukup terbatas dalam hal perangkat lunak yang mereka dapat berjalan. Selanjutnya, mereka menunjukkan bahwa meskipun sebagian besar sekolah sekarang memiliki akses Internet, mahasiswa akses ke Internet terbatas di banyak sekolah, dengan beberapa siswa mampu menggunakannya untuk sekolah mereka. Pengamatan ini membuat sulit untuk memastikan sejauh mana praktik pembelajaran di sekolah-sekolah telah dipengaruhi oleh adanya peningkatan media. Terlepas dari ketidakpastian tentang sejauh mana penggunaan media di sekolah, sebagian besar bukti yang dikutip jelas menunjukkan bahwa sejak tahun 1995, telah terjadi peningkatan yang signifikan dalam penggunaan media pembelajaran dalam berbagai pengaturan, mulai dari bisnis dan industri untuk pendidikan militer dan lebih tinggi. Dalam bisnis, industri, dan militer, Internet telah dilihat sebagai sarana memberikan instruksi dan informasi untuk pelajar tersebar luas dengan biaya yang relatif rendah. Selain itu, dalam banyak kasus, aksesibilitas komputer yang mudah memungkinkan peserta didik untuk menerima dukungan instruksi dan / atau kinerja (seringkali dalam bentuk sistem pendukung kinerja elektronik atau sistem manajemen pengetahuan) kapan dan di mana mereka membutuhkannya, karena mereka melakukan tugastugas pekerjaan tertentu. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 50
  • Dalam pendidikan tinggi, pendidikan jarak jauh melalui Internet telah dilihat sebagai metode rendah biaya menyediakan instruksi untuk siswa yang, karena berbagai faktor (misalnya, pekerjaan dan tanggung jawab keluarga jarak geografis.), Tidak mungkin sebaliknya telah mampu menerimanya. Namun, pertanyaan tentang efektivitas-biaya dari instruksi tersebut masih belum terjawab (Hawkridge. 1999). Alasan lain bahwa media baru yang digunakan untuk tingkat yang lebih besar mungkin karena peningkatan kemampuan interaktif dari media. Moore (1989) menjelaskan tiga jenis interaksi antara agen yang biasanya terlibat dalam kegiatan pembelajaran. Interaksi ini antara peserta didik dan konten pembelajaran, antara pelajar dan instruktur, dan di antara pembelajar sendiri. Sifat media pembelajaran yang umum selama beberapa bagian dari ketiga dua yang pertama, dari abad lalu (e., .. film dan televisi pembelajaran) dipekerjakan terutama sebagai sarana memiliki peserta didik berinteraksi dengan isi pembelajaran . Sebaliknya, melalui penggunaan fitur seperti e-mail, chat room dan bulletin board, Internet sering digunakan sebagai sarana untuk peserta didik dengan instruktur dengan pelajar lain, serta dengan konten instruksional. Ini adalah salah satu contoh bagaimana beberapa media baru membuatnya lebih mudah untuk mempromosikan, berbagai jenis interaksi yang digambarkan oleh Moore. Selain itu, kemajuan dalam teknologi komputer, khususnya berkaitan dengan meningkatkannya kemampuan multimedia media ini, membuat lebih mudah bagi pendidik untuk merancang pengalaman belajar yang melibatkan interaksi antara peserta didik lebih konten pembelajaran daripada sebelumnya. Misalnya, seperti jumlah dan jenis informasi yang dapat disajikan oleh komputer telah meningkat, jenis umpan balik serta jenis masalah, yang dapat disajikan kepada peserta didik telah sangat diperluas. Kemampuan ini meningkatkan pembelajaran menjadi menarik perhatian banyak pendidik. Selain itu, kemampuan komputer untuk menyajikan informasi dalam berbagai bentuk, serta memungkinkan peserta didik untuk mudah link ke berbagai konten, telah menarik minat perancang pembelajaran memiliki perspektif konstruktivis. Orang yang sangat peduli dengan penyajian masalah otentik (mis. ―dunia nyata‖) dalam lingkungan belajar di mana peserta didik memiliki banyak kontrol atas kegiatan yang mereka terlibat dalam dan alat-alat dan sumber daya yang mereka gunakan, menemukan teknologi digital yang baru lebih akomodatif daripada pendahulunya. Seperti beberapa contoh dalam beberapa paragraf sebelumnya menunjukkan, bahwa dalam beberapa tahun terakhir komputer, Internet. dan teknologi digital lainnya sering digunakan Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 51
  • untuk meningkatkan pembelajaran dan kinerja melalui beberapa cara non-tradisional. Sebagai contoh, sistem kinerja komputer dibantu dukungan elektronik. sistem manajemen pengetahuan, dan pelajar-berpusat lingkungan belajar sering berfungsi sebagai alternatif untuk pelatihan atau instruksi langsung. Ketika dampak masa kini media pembelajaran sedang dipertimbangkan, jenis aplikasi tidak boleh diabaikan. 11. Kesimpulan Mengenai Sejarah Media Instruksional Dari banyak pelajaran yang dapat kita pelajari dengan meninjau sejarah media pembelajaran, mungkin salah satu yang paling penting melibatkan perbandingan antara efek diantisipasi dan aktual media pada praktek instruksional. Sebagai mana Kuba (1986) telah menunjukkan, saat kita meninjau-melihat kembali selama abad terakhir dari sejarah media, Anda mungkin perlu diperhatikan pola berulang dari harapan dan hasil. Sebagai media baru memasuki adegan pendidikan, ada banyak minat awal dan antusiasme banyak tentang efek kemungkinan untuk memiliki pada praktek instruksional. Namun, antusiasme dan ketertarikan akhirnya memudar, dan pemeriksaan mengungkapkan bahwa media memiliki dampak minimal terhadap praktek tersebut. Misalnya, prediksi optimis Edison bahwa film akan merevolusi pendidikan terbukti tidak benar, dan antusiasme untuk televisi instruksional yang ada selama tahun 1950 sangat berkurang pada pertengahan tahun 1960-an, dengan dampak kecil pada instruksi di sekolah. Kedua contoh melibatkan penggunaan media di sekolah-sekolah, pengaturan di mana penggunaan media pembelajaran telah paling erat diperiksa. Namun, data mengenai penggunaan media pembelajaran dalam bisnis dan industri mendukung kesimpulan serupa, yaitu, bahwa meskipun antusiasme tentang penggunaan media pembelajaran dalam bisnis dan industri, sampai saat ini media yang memiliki dampak minimal terhadap praktik pembelajaran dalam lingkungan tersebut. Bagaimana dengan prediksi, pertama dibuat pada 1980-an, bahwa komputer akan merevolusi instruksi? Sebagai data dari sekolah mengungkapkan, pada pertengahan 1990-an, bahwa revolusi tidak terjadi. Namun, data dari paruh kedua dekade menunjukkan kehadiran berkembang, dan mungkin penggunaan, komputer dan internet di sekolah. Selain itu, selama akhir 1990-an, media ini mengambil peran dukungan semakin besar dalam pembelajaran dan kinerja dan juga dalam pengaturan lainnya seperti bisnis dan industri dan pendidikan tinggi. Apakah dampak media pada instruksi lebih besar di masa depan daripada itu telah di masa lalu? Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 52
  • Berdasarkan alasan tersebut untuk meningkatnya penggunaan media baru, adalah wajar untuk memperkirakan bahwa selama dekade berikutnya, komputer, internet, dan media digital lainnya akan membawa perubahan besar dalam praktek instruksional dari media yang mendahului mereka. Namun, mengingat sejarah media dan dampaknya pada praktik pembelajaran, adalah juga wajar untuk mengharapkan bahwa perubahan tersebut, baik di sekolah dan pengaturan instruksional lainnya, cenderung terjadi lebih lambat dan kurang luas daripada media yang paling penggemar saat ini memprediksi. D. SEJARAH DESAIN PEMBELAJARAN Seperti disebutkan sebelumnya, selain erat kaitannya dengan media pembelajaran, bidang desain pembelajaran dan teknologi juga telah berhubungan erat dengan penggunaan sistematis prosedur desain pembelajaran. Berbagai set prosedur yang sistematis desain instruksional (atau model) telah dikembangkan dan telah dirujuk oleh istilah-istilah seperti pendekatan sistem, sistem desainpembelajaran (ISD) pengembangan pembelajaran, dan desain pembelajaran. Meskipun kombinasi spesifik dari prosedur sering bervariasi dari satu model desain pembelajaran ke model berikutnya, sebagian besar model termasuk analisis masalah pembelajaran dan desain, pengembangan, implementasi dan evaluasi prosedur instruksi dan materi yang bertujuan untuk memecahkan masalah tersebut. Bagaimana proses desain pembelajaran muncul menjadi ada? Bahasan ini akan fokus pada menjawab pertanyaan itu. 1. Asal Usul Desain Pembelajaran: Perang Dunia II Asal-usul prosedur desain pembelajaran telah ditelusuri pada Perang Dunia II (Dick, 1987). Selama perang, sejumlah besar psikolog dan pendidik yang memiliki pelatihan dan pengalaman dalam melakukan penelitian eksperimental dipanggil untuk melakukan penelitian dan mengembangkan bahan pelatihan untuk layanan militer. Individu-individu ini, termasuk Robert Gagne. Leslie Briggs, John Flanagan, dan banyak lainnya, memberikan pengaruh yang cukup besar pada karakteristik bahan-bahan pelatihan yang dikembangkan, banyak mendasarkan pekerjaan mereka pada prinsip-prinsip pembelajaran berasal dari penelitian dan teori instruksi, belajar, dan perilaku manusia (Baker, 1973; Saettler, 1990) Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 53
  • Selain itu, psikolog menggunakan pengetahuan mereka tentang evaluasi dan pengujian untuk membantu menilai keterampilan peserta pelatihan dan memilih orang yang paling mungkin bermanfaat dari program pelatihan tertentu. Sebagai contoh, pada satu titik dalam perang, tingkat kegagalan dalam program pelatihan penerbangan khusus ini sangat tinggi. Untuk mengatasi masalah ini, psikolog memeriksa keterampilan intelektual, psikomotor dan persepsi umum dari individu yang berhasil melakukan keterampilan yang diajarkan dalam program, dan kemudian tes dikembangkan yang diukur sifat-sifat ini. Tes ini digunakan untuk menyaring calon-calon untuk program ini, orang-orang yang mencetak sedang diarahkan ke program lain. Sebagai hasil dari menggunakan pemeriksaan keterampilan masuk sebagai perangkat skrining, militer mampu secara signifikan meningkatkan persentase personil yang berhasil menyelesaikan program (Gagne, komunikasi pribadi, 1985). Setelah perang, banyak psikolog yang bertanggung jawab atas keberhasilan program pelatihan Dunia II Perang militer terus bekerja pada pemecahan masalah pembelajaran. Organisasi seperti Institut Amerika untuk Penelitian yang estiablished untuk tujuan ini. Selama 1940-an dan sepanjang 1950-an, psikolog yang bekerja untuk organisasi tersebut dimulai melihat pelatihan sebagai suatu sistem, dan mengembangkan sejumlah analisis yang inovatif, desain, dan prosedur evaluasi (Dick, 1987). Sebagai contoh. selama periode ini, tugas metodologi analisis rinci dikembangkan oleh Robert B. Miller sementara ia bekerja pada proyek-proyek untuk militer (Miller. 1953. 1962). Pekerjaannya dan orang-orang dari pionir awal lain di bidang desain instruksional dirangkum dalam Prinsip Psikologis dalam Sistem Dei‘elopmenr, diedit oleh Gagne (1962b). 2. Awal Perkembangan: a) Gerakan Programmed Instruksi Gerakan instruksi diprogram, yang berlangsung dari pertengahan 1950-an melalui pertengahan 1960-an, terbukti menjadi faktor utama dalam pengembangan pendekatan sistem. Pada tahun 1954, pasal BF Skinner berjudul Ilmu dan Seni Belajar Mengajar memulai apa yang bisa disebut sebuah revolusi kecil dalam bidang pendidikan. Dalam artikel ini dan yang kemudian (misalnya, Skinner, 1958), Skinner menggambarkan ide-idenya tentang persyaratan untuk belajar manusia meningkat dan karakteristik yang diinginkan dari bahan instruksional yang efektif. Skinner menyatakan bahwa bahan tersebut, yang disebut bahan pembelajaran diprogram, harus menyajikan instruksi dalam langkah-langkah kecil, memerlukan respon aktif Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 54
  • untuk pertanyaan yang sering dipertanyakan, memberikan umpan balik segera, dan memungkinkan untuk pelajar diri mondar-mandir. Selain itu, karena setiap langkah kecil, ia berpikir bahwa peserta didik akan menjawab semua pertanyaan dengan benar dan dengan demikian secara positif diperkuat oleh umpan balik yang mereka terima. Proses yang Skinner (lih. Lumsdaine & Glaser, 1960) dijelaskan untuk mengembangkan instruksi diprogram dicontohkan suatu pendekatan empiris untuk memecahkan masalah pendidikan: Data mengenai efektivitas bahan dikumpulkan, kelemahan diidentifikasi pembelajaran, dan bahan direvisi sesuai . Selain itu percobaan dan prosedur revisi, yang kini disebut evaluasi formatif, proses untuk mengembangkan bahan diprogram melibatkan banyak langkah yang ditemukan dalam model desain instruksional saat ini. Sebagai Heinich (1970) menunjukkan: Instruksi terprogram telah dikreditkan oleh beberapa dengan memperkenalkan pendekatan sistem untuk pendidikan. Dengan menganalisis dan mogok konten ke tujuan perilaku tertentu, merancang langkah-langkah yang diperlukan untuk mencapai tujuan, menyiapkan prosedur untuk mencoba dan merevisi langkah-langkah, dan memvalidasi program terhadap pencapaian tujuan, instruksi program berhasil menciptakan instruksi kecil tapi efektif dari sistem pembelajaran teknologii. (Hal. 123) b) Para Popularisasi Tujuan Perilaku Sebagaimana ditunjukkan, yang terlibat dalam merancang bahan pembelajaran diprogram sering kali memulai dengan mengidentifikasi tujuan peserta didik tertentu yang menggunakan bahan-bahan diharapkan untuk mencapai tujuan. Pada tahun 1962, Robert Mager mengenali kebutuhan untuk mengajar para pendidik bagaimana menulis tujuan, menulis, mempersiapkan tujuan untuk tindakan terprogram. Bahasan ini menjelaskan bagaimana untuk menulis tujuan yang mencakup deskripsi perilaku peserta didik yang diinginkan, kondisi di mana perilaku harus dilakukan, dan standar (kriteria) dengan mana perilaku harus dinilai. Masa kini banyak penganut proses desain pembelajaran menganjurkan persiapan tujuan yang mengandung ketiga unsur. Meskipun Mager mempopulerkan penggunaan tujuan, konsep itu dibahas dan digunakan oleh pendidik setidaknya selama awal 1900-an. Di antara pendukung awal penggunaan tujuan jelas dinyatakan adalah Bobbitt, Charters, dan Burk (Gagne, 1965a). Namun, Ralph Tyler sering dianggap sebagai bapak dari gerakan tujuan perilaku. Pada tahun 1934, ia menulis bahwa tujuan Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 55
  • harus didefinisikan dalam istilah yang menentukan perilaku saja harus membantu mengembangkan (dikutip dalam Walbesser & Eisenberg, 1972). Selama studi Delapan Tahun yang terkenal yang diarahkan Tyler bahwa ditemukan bahwa sekolah ketika tidak menetapkan tujuan, tujuan tersebut biasanya cukup jelas. Pada akhir proyek, bagaimanapun, itu menunjukkan bahwa tujuan bisa diklarifikasi dengan menyatakan bahwa tujuan bisa berfungsi sebagai dasar untuk mengevaluasi efektivitas instruksi (Borich, 1980; Tyler, 1975a). Pada tahun 1950, tujuan perilaku diberi dorongan lain ketika Benjamin Bloom dan rekanrekannya menerbitkan Taksonomi Tujuan Pendidikan (1956). Para penulis dari karya ini menunjukkan bahwa dalam domain kognitif ada berbagai jenis hasil belajar, bahwa tujuan dapat diklasifikasikan menurut jenis perilaku peserta didik yang dijelaskan di dalamnya, dan bahwa ada hubungan hirarki antara berbagai jenis hasil. Selain itu, mereka menunjukkan bahwa tes harus dirancang untuk mengukur masing-masing jenis hasil. Sebagaimana akan dilihat dalam bahasan ini, gagasan yang sama dijelaskan oleh pendidik lainnya memiliki implikasi signifikan untuk desain instruksi yang sistematis. c) Kriteria-Referensi Gerakan Pengujian Pada awal 1960-an, faktor lain yang penting dalam pengembangan proses desain pembelajaran adalah munculnya kriteria-referensi pengujian. Sampai saat itu, tes yang palingmengacu pada tes norma, dirancang untuk menyebarkan kinerja peserta didik, sehingga dalam beberapa siswa baik-baik pada tes dan orang lain melakukan buruk. Sebaliknya, tes yang mengacu pada kriteria ini dimaksudkan untuk mengukur seberapa baik seorang individu dapat melakukan perilaku tertentu atau seperangkat perilaku, terlepas dari bagaimana orang lain juga melakukan. Pada awal 1932, Tyler telah menunjukkan bahwa tes Bisa digunakan untuk tujuan tersebut (Dale. 1967). Dan kemudian, Flanagan (1951) dan Ehel (1962) mendiskusikan perbedaan antara tes tersebut dan ukuran norma. Namun, Robert Glaser (1963:. Glaser & Klaus 1962) adalah orang pertama yang menggunakan istilah kriteria. Dalam membahas langkahlangkah tersebut. Glaser (1963) menunjukkan bahwa dapat digunakan untuk menilai perilaku siswa dan untuk menentukan sejauh mana siswa telah memperoleh perilaku program pembelajaran dirancang untuk mengajar. Robert M. Gagne: Domain Belajar, Acara Instruksi, dan Analisis Hirarkis Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 56
  • Peristiwa penting lainnya dalam sejarah desain instruksional terjadi pada tahun 1965, dengan penerbitan edisi pertama The Conclirions off Belajar, ditulis oleh Robert Gagne (I965b). Dalam buku ini, Gagne menggambarkan lima domain, atau jenis, pembelajaran hasil dan informasi lisan, keterampilan intelektual, keterampilan psikomotor, sikap, dan kognitif strategi, masing-masing yang dibutuhkan berbeda kondisi masing-masingnya untuk meningkatkan pembelajaran. Gagne juga memberikan deskripsi rinci dari kondisi-kondisi untuk setiap jenis hasil pembelajaran. Dalam volume yang sama, Gagne juga menggambarkan peristiwa sembilan instruksi, atau kegiatan mengajar, bahwa ia dianggap penting untuk mempromosikan pencapaian dari setiap jenis hasil belajar. Gagne juga menggambarkan kejadian pembelajaran yang secara khusus penting untuk hasil dan membahas keadaan di mana peristiwa tertentu dapat dikecualikan. Dalam edisi keempat (Gagne, 1985). Deskripsi Gagne tentang berbagai jenis hasil pembelajaran dan peristiwa instruksi tetap dari praktek desain pembelajaran. Gagne bekerja di bidang hierarki belajar dan hirarkis analisis juga memiliki dampak yang signifikan pada bidang desain pembelajaran. Pada awal 1960-an dan kemudian karirnya (misalnya,-Gagne, 1962a, 1985; Gagne, Briggs, & Wager, 1992; Gagne & Medsker, 1996), Gagne menunjukkan bahwa keterampilan dalam domain keterampilan intelektual memiliki hubungan hirarkis masing-masing: agar mudah belajar melakukan keterampilan superordinate, yang pertama harus menguasai keterampilan bawahan untuk itu. Konsep ini mengarah pada gagasan penting yang harus dirancang sehingga untuk memastikan bahwa peserta didik memperoleh keterampilan bawahan sebelum mereka mencoba untuk memperoleh yang lebih tinggi. Gagne melanjutkan untuk menggambarkan proses analisis hirarkis untuk mengidentifikasi keterampilan bawahan. Proses ini tetap merupakan fitur kunci dalam banyak model desain pembelajaran. Sputnik: Launching Langsung Evaluasi Formatif Pada tahun 1957, ketika Uni Soviet meluncurkan Sputnik, satelit yang mengorbit ruang pertama, serangkaian acara yang akhirnya berdampak besar pada proses desain pembelajaran. Pemerintah AS, terkejut oleh keberhasilan upaya Soviet, menanggapi dengan menuangkan jutaan dolar ke dalam memperbaiki matematika dan pendidikan sains di Amerika Serikat. Bahan-bahan pembelajaran yang dikembangkan dengan dana ini biasanya ditulis materi pelajarannnya ditulis Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 57
  • oleh dan diproduksi tanpa seleksi. Bertahun-tahun kemudian, pada pertengahan-I960-an, ketika ditemukan bahwa banyak dari bahan-bahan ini tidak terlalu efektif, Michael Scriven (1967) menunjukkan perlunya untuk mencoba rancangan materi pembelajaran dengan peserta didik sebelum bahan dimasukkan ke dalam bentuk akhir. Proses ini akan memungkinkan pendidik untuk memeriksa bahan dan jika perlu, merevisinya sementara bahan masih dalam stases formatif. Scriven sebut ini uji coba dan revisi proses evaluasi formatif dan membandingkannya dengan apa yang ia sebut evaluasi sumatif, pengujian bahan instruksional setelah mereka dalam bentuk terakhir mereka. Meskipun istilah formatif dan evaluasi sumatif evaluasi yang diciptakan oleh Scriven, perbedaan antara pendekatan sebelumnya dibuat oleh Lee Cronbach (1963). Selain itu, selama 1940-an dan 1950-an, sejumlah pendidik, seperti Arthur Lumsdaine, Mark Mei. dan CR Carpenter, dijelaskan prosedur untuk mengevaluasi bahan pengajaran yang masih dalam tahap pembentukan (Cambre, 1981). Namun, meskipun tulisan-tulisan seperti pendidik, sangat sedikit dari produk pembelajaran yang dikembangkan pada 1940-an dan 1950-an melewati apapun proses evaluasi formatif. Situasi ini agak berubah pada 1950-an dan 1960-an melalui banyak bahan pengajaran terprogram yang dikembangkan selama periode yang diuji ketika mereka sedang dikembangkan. Namun. penulis seperti Susan Markle (1967) mencela kurangnya ketelitian dalam proses pengujian. Dalam terang masalah ini. Prosedur ini mirip dengan teknik evaluasi formatif dan sumatif yang umumnya seperti saat kini. E. PERMULAAN MODEL DESAIN PEMBELAJARAN Pada awal dan pertengahan 1960-an, konsep-konsep yang sedang dikembangkan di berbagai bidang seperti analisis tugas, spesifikasi tujuan, dan kriteria-referensi pengujian yang dihubungkan bersama untuk membentuk sebuah proses, atau model, untuk secara sistematis mendesain materi pembelajaran. Di antara individu-individu pertama untuk menggambarkan model seperti itu Gagne (1962b). Glaser (1962 1965.), Dan Silvem (1964). Mereka menggunakan istilah-istilah seperti desain pembelajaran, pengembangan sistem, instruksi yang sistematis, dan sistem pembelajaran untuk menggambarkan model yang mereka ciptakan. Model desain pembelajaran lainnya yang diciptakan dan digunakan selama dekade ini termasuk yang dijelaskan oleh Banathy (1968), Barson (1967), dan Hamerus (1968). Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 58
  • 1. Tahun 1970: Kepentingan yang berkembang dalam Desain Instuctional Selama tahun 1970, jumlah model desain pembelajaran sangat meningkat. Bangunan pada karya-karya orang terdahulu, banyak orang menciptakan model baru untuk secara sistematis merancang instruksi (misalnya, Dick & Carey, 1978; Gagne & Briggs, 1974; Gerlach & Ely, 1971; Kemp, 1971). Memang, oleh er.J dekade, lebih dari empat puluh model seperti telah diidentifikasi (Andrews & Bagus, 1980). Selama tahun 1970-an, minat dalam proses desain pembelajaran berkembang dalam berbagai sektor yang berbeda. Pada tahun 1975, beberapa cabang dari militer AS mengadopsi model desain pembelajaran (Branson dkk., 1975) yang dimaksudkan untuk memandu pengembangan bahan pelatihan dalam cabang-cabang. Di akademisi, banyak pusat peningkatan pengajaran diciptakan selama paruh pertama dekade dengan maksud membantu penggunaan media fakultas dan prosedur desain pembelajaran untuk meningkatkan kualitas pengajaran mereka (Gaff. 1975; Gustafson & Bratton, 1984). Selain itu, program pascasarjana dalam desain pembelajaran banyak diciptakan (Partridge & Tennyson, 1979; Redfield & Dick, 1984;.. Silber 1982). Dalam bisnis dan industri, banyak organisasi, melihat nilai dengan menggunakan instruksional sebagai tanda untuk meningkatkan kualitas pelatihan, mulai mengadopsi pendekatan (lih. Mager, 197: Miles, 1983). Dibanyak negara internasional seperti Korea Selatan. Liberia. dan Indonesia, melihat manfaat menggunakan desain pembelajaran untuk memecahkan masalah pembelajaran di negara-negara (Chadwick. 1986; Morgan, 1989). Bangsa ini mendukung program-program desain pembelajaran, organisasi dibuat untuk mendukung penggunaan desain pembelajaran, dan dukungan yang diberikan kepada individu menginginkan pelatihan di bidang ini. Banyak dari perkembangan ini adalah dicatat dalam Journal of Instructional Pembangunan, sebuah jurnal yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1970-an dan itulah cikal bakal pengembangan bagian Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pendidikan. 2. Tahun 1980-an: Pertumbuhan dan Pengalihan Dalam banyak sektor, kepentingan dalam desain pembelajaran yang selama dekade sebelumnya terus tumbuh selama tahun 1980. Kepentingan dalam proses desain pembelajaran tetap kuat dalam bisnis dan industri (Bowsher, 1989:. Galagan 1989). Dalam militer (Chevalier, 1990; Finch, 1987; McCombs, 1986), dan di arena internasional (Ely & Plomp, 1986; Morgan 1989.). Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 59
  • Berbeda dengan pengaruhnya di sektor tersebut, selama tahun 1980, desain pembelajaran memiliki dampak minimal di daerah lain. Dalam arena sekolah umum, upaya pengembangan kurikulum beberapa terlibat penggunaan dasar proses desain pembelajaran (misalnya, Spady, 1988), dan beberapa buku desain pembelajaran bagi para guru yang diproduksi (misalnya, Dick & Reiser, 1989: Gerlach & Ely, 1980; Sullivan & Higgins, 1983). Namun, meskipun dari upaya ini, bukti menunjukkan bahwa desain pembelajaran mengalami dampak kecil pada instruksi di sekolah negeri (Branson & Grow, 1987; Burkman, 1987b; Rossett & Garbosky, 1987). Dalam nada yang sama, dengan beberapa pengecualian (misalnya, Diamond, 1989), praktek desain pembelajaran memiliki dampak minimal dalam pendidikan tinggi. Sedangkan pusat peningkatan pengajaran di pendidikan tinggi berkembang dalam jumlah melalui pertengahan 1970-an, pada tahun 1983 lebih dari seperempat dari organisasi tersebut telah dibubarkan, dan ada kecenderungan penurunan umum dalam anggaran pusat yang tersisa (Gustafson & Bratton, 1984) . Burkman (1987a, 1987b) memberikan analisis mencerahkan satu alasan mengapa upaya desain pembelajaran di sekolah dan universitas belum berhasil, dan kondisi ini kontras dengan kondisi yang lebih menguntungkan yang ada di bisnis dan militer. Selama tahun 1980, ada tumbuh bagaimana prinsip-prinsip psikologi kognitif dapat diterapkan dalam proses desain pembelajaran, dan sejumlah publikasi menguraikan aplikasi potensial dijelaskan (misalnya, Bonner, 1988; Divesta & Rieber, 1987; ―Wawancara dengan Robert M. Gagnc, ―1982; Low, 1980). Namun, beberapa tokoh di lapangan telah menunjukkan bahwa efek sebenarnya psikologi kognitif pada praktek desain pembelajaran selama dekade ini agak kecil (Dick, 1987; Gustafson, 1993). Faktor yang tidak memiliki efek besar pada praktek desain pembelajaran pada tahun 1980 adalah meningkatnya minat dalam penggunaan mikrokomputer untuk tujuan pembelajaran. Dengan munculnya perangkat ini. banyak profesional di bidang desain pembelajaran mengalihkan perhatian mereka untuk memproduksi instruksi berbasis komputer (Dick, 1987; Shrock, 1995). Lain membahas kebutuhan untuk mengembangkan model baru dari desain pembelajaran untuk mengakomodasi kemampuan interaktif teknologi ini (Merrill, Li, & Jones, 1990a, 1990b). Selain itu, komputer mulai digunakan sebagai alat untuk mengotomatisasi beberapa tugas desain pembelajaran (Merrill & Li. 1989). 3. Tahun 1990-an: Views Mengubah dan Praktek Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 60
  • Selama tahun 1990-an, berbagai perkembangan memiliki dampak yang signifikan terhadap prinsip-prinsip desain pembelajaran dan praktek. Sebagaimana ditunjukkan di atas, salah satu pengaruh utama adalah teknologi kinerja gerakan, yang memperluas lingkup bidang desain pembelajaran. Sebagai hasil dari gerakan ini, banyak desainer pembelajaran mulai lebih berhati-hati melakukan analisis tentang penyebab masalah kinerja, dan seringkali menemukan bahwa pelatihan miskin, atau kurangnya pelatihan, bukan penyebabnya. Dalam kasus seperti banyak desainer pembelajaran membekali solusi non-instruksional, seperti perubahan dalam sistem insentif atau dalam lingkungan kerja, untuk memecahkan masalah tersebut (Dean, 1995). Faktor lain yang mempengaruhi lapangan selama 1990-an ada masukan yang tumbuh di konstruktivisme, kumpulan pandangan yang sama terhadap pembelajaran dan instruksi yang diperoleh meningkatnya popularitas sepanjang dekade. Itu, prinsip-prinsip pembelajaran yang terkait dengan konstruktivisme meliputi kebutuhan untuk (a) memecahkan masalah yang kompleks dan realistis, (b) bekerja sama untuk memecahkan masalah tersebut, (c) memeriksa masalah dari berbagai perspektif, (d) mengambil kepemilikan dari proses pembelajaran dan (e) menjadi sadar akan peran mereka sendiri dalam proses konstruksi pengetahuan (Driscoll. 2 (00). Selama dekade terakhir, pandangan konstruktivis pembelajaran dan pengajaran telah berdampak pada pikiran dan tindakan dari banyak teoretisi dan praktisi di bidang desain pembelajaran. Sebagai contoh, penekanan pada merancang konstruktivis ―otentik:‖. belajar tugas-tugas yang mencerminkan kompleksitas dari lingkungan dunia nyata di mana peserta didik akan ia menggunakan keterampilan yang mereka pelajari -memiliki efek pada bagaimana desain pembelajaran yang sedang dilakukan dan diajarkan (Dick. 1996). Meskipun beberapa berpendapat ―tradisional‖ mengatakan bahwa praktek desain pembelajaran dan prinsip-prinsip konstruktivis yang beberapa tahun terakhir telah banyak menggambarkan bagaimana pertimbangan prinsip-prinsip konstruksi dapat meningkatkan instruksional desain praktek. Selama tahun 1990-an, pertumbuhan yang cepat dalam penggunaan dan pengembangan sistem pendukung kinerja elektronik juga menyebabkan perubahan sakit dalam sifat pekerjaan yang dilakukan oleh banyak desainer pembelajaran. Mendukung kinerja elektronik sistem berbasis komputer dirancang untuk menyediakan para pekerja dengan bantuan kebutuhan untuk tugas-tugas pekerjaan, pada saat mereka membutuhkan bantuan itu dan dalam bentuk yang akan paling membantu. Nasihat cerdas sistem pembinaan dan ahli yang memberikan bimbingan dalam melakukan berbagai kegiatan, dan alat pendukung disesuaikan kinerja yang mengotomatisasi dan Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 61
  • sangat menyederhanakan tugas-tugas pekerjaan banyak. Dengan menyediakan pekerja dengan kinerja alat dan informasi yang mereka butuhkan, yang dirancang dengan baik sistem kinerja elektronik pendukung dapat mengurangi kebutuhan untuk pelatihan. Hal ini tidak mengherankan, bahwa selama dekade terakhir, sejumlah organisasi pelatihan dan desainer pembelajaran berubah sebagian perhatian mereka jauh dari program-program pelatihan merancang dan menuju merancang sistem pendukung kinerja elektronik (Rosenberg. 2001). Prototyping cepat telah tren memiliki efek pada praktek pembelajaran. Proses cepat prototyping cepat melibatkan mengembangkan produk prototipe dalam tahap sangat awal dari sebuah proyek desain pembelajaran dan kemudian akan melalui serangkaian ujicoba yang cepat dan siklus revisi sampai versi diterima dari produk yang dihasilkan (Gustafson & Cabang. 1997a). Teknik desain telah dianjurkan sebagai sarana memproduksi bahan-bahan pengajaran yang berkualitas. Selama tahun 1990-an, meningkat minat dalam prototyping cepat antara praktisi dalam bidang desain instruksional (misalnya, Gustafson & Cabang, 1997a). Kecenderungan terbaru lain yang telah mempengaruhi profesi desain pembelajaran telah menjadi perhatian meningkat pesat dalam menggunakan Internet untuk pembelajaran jarak jauh. Sejak tahun 1995, telah terjadi peningkatan besar dalam penggunaan Internet untuk memberikan instruksi pada jarak (Bassi & Van Buren, 1999; Lewis, Salju, Farris, Levin, & Greene, 1999). Sebagai permintaan untuk program pembelajaran jarak jauh telah berkembang, sehingga memiliki pengakuan bahwa untuk menjadi efektif, program-program tersebut tidak dapat hanya menjadi on-line replika dari instruksi disampaikan dalam ruang kelas, melainkan, program tersebut harus hati-hati dirancang dalam terang fitur pembelajaran yang bisa, dan tidak bisa, akan dimasukkan ke dalam Internet berbasis program (Institut Kebijakan Pendidikan Tinggi, 2000). Manajemen pengetahuan adalah salah satu tren terbaru telah mempengaruhi bidang desain pembelajaran. Menurut Rossett (1999), manajemen pengetahuan melibatkan mengidentifikasi, mendokumentasikan, dan menyebarkan pengetahuan eksplisit dan tacit dalam suatu organisasi dalam rangka meningkatkan kinerja organisasi tersebut. Seringkali, pengetahuan yang berguna dan keahlian dalam suatu organisasi tinggal dengan individu tertentu atau kelompok, tetapi tidak banyak dikenal di luar kelompok atau individu. Namun, saat ini hari teknologi seperti program database, groupware, dan intranet memungkinkan organisasi untuk ―mengelola‖ (yaitu, mengumpulkan, menyaring, dan menyebarkan) pengetahuan dan keahlian dalam cara-cara yang sebelumnya tidak mungkin. Rosenberg (2001) menjelaskan beberapa Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 62
  • contoh tentang bagaimana atau-ganizations telah berubah beberapa perhatian mereka jauh dari program pelatihan merancang dan untuk menciptakan sistem manajemen pengetahuan. Rossett dan Donello (1999) menyarankan bahwa sebagai kepentingan dalam manajemen pengetahuan terus, tumbuh, dan pelatihan profesional lainnya akan bertanggung jawab tidak hanya untuk meningkatkan kinerja manusia, tetapi juga untuk menemukan dan memperbaiki akses terhadap pengetahuan organisasi yang bermanfaat. Jadi minat dalam manajemen pengetahuan adalah mungkin untuk mengubah dan mungkin memperluas jenis tugas desainer pembelajaran diharapkan untuk melakukan. F. KAWASAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN Ada lima domain atau bidang garapan teknologi pembelajaran atau teknologi instruksional berlandaskan definisi AECT 1994, yaitu desain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan dan penilaian. Kelima hal ini merupakan kawasan (domain) dari bidang teknologi pembelajaran. Di bawah ini akan diuraikan kelima kawasan tersebut, dengan sub kategori dan konsep yang terkait : 1. Kawasan Desain Domain atau kawasan pertama teknologi pembelajaran adalah desain atau perancangan yang mencakup penerapan berbagai teori, prinsip dan prosedur dalam melakukan perencanaan atau mendesain suatu program atau kegiatan pembelajaran yang dilakukan secara sistemik dan sistematik. Yang dimaksud dengan desain disini adalah proses untuk menentukan kondisi belajar dengan tujuan untuk menciptakan strategi dan produk (Seels & Richey, 2000: 32). Kawasan desain bermula dari gerakan psikologi pembelajaran, terutama diilhami pemikiran B.F. Skinner (1954) tentang teori pembelajaran berprogram (programmed instructions). Pada tahun 1969 pemikiran Herbert Simon yang membahas tentang preskriptif tentang desain turut memicu kajian tentang desain. Pendirian pusat-pusat desain bahan pembelajaran dan terprogram, seperti ―Learning Resource and Development Center‖ pada tahun 1960 semakin memperkuat kajian tentang desain. Dalam kurun waktu tahun 1960-an dan 1970-an, Robert Glaser, Direktur Learning Resource and Development Center tersebut menulis dan berbicara tentang desain pembelajaran sebagai inti dari teknologi pendidikan. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 63
  • Aplikasi teori sistem dalam pembelajaran melengkapi dasar psikologi pembelajaran tersebut. Melalui James Finn dan Leonard Silvern, pendekatan sistem pembelajaran secara bertahap mulai berkembang menjadi suatu metodologi dan mulai memasukkan gagasan dari psikologi pembelajaran. Perhatian terhadap desain pesan pun berkembang selama akhir 1960-an dan pada awal 1970-an. Kolaborasi Robert Gagne dengan Leslie Briggs telah menggabungkan keahlian psikologi pembelajaran dengan bakat dalam desain sistem yang membuat konsep desain pembelajaran menjadi semakin hidup. Kawasan desain ini meliputi empat cakupan utama dari teori dan praktek, yaitu: (a) desain sistem pembelajaran; (b) desain pesan; (c) strategi pembelajaran; dan (d) karakteristik peserta didik (Seels & Richey, 2000: 33). a) Desain Sistem Pembelajaran; Menurut Seels & Richey (2000: 33) desain sistem pembelajaran yaitu prosedur yang terorganisasi dan sistematis untuk:: (a) penganalisaan (proses perumusan apa yang akan dipelajari); (b) perancangan (proses penjabaran bagaimana cara mempelajarinya); (c) pengembangan (proses penulisan dan pembuatan atau produksi bahan-bahan belajar); (d) pelaksanaan/aplikasi (pemanfaatan bahan dan strategi) dan (e) penilaian (proses penentuan ketepatan pembelajaran). Desain sistem pembelajaran biasanya merupakan prosedur linier dan interaktif yang menuntut kecermatan dan kemantapan. Agar dapat berfungsi sebagai alat untuk saling mengontrol, semua langkah–langkah tersebut harus tuntas. Dalam desain sistem pembelajaran, proses sama pentingnya dengan produk, sebab kepercayaan atas produk berlandaskan pada proses. Sedangkan menurut Twelker, Urbach, Buck (1972) dalam Suparman (2004:36) pengembangan instruksional adalah suatu cara yang sistematis untuk mengidentifikasi, mengembangkan, dan mengevaluasi satu set bahan dan strategi pembelajaran untuk mencapai tujuan tertentu. Wujud pengembangan instruksional adalah produksi dan penggunaan media instruksional, evaluasi instruksional dan pengelolaan instruksional. Jadi pengembangan instruksional merupakan salah satu teknologi perangkat lunak (sofware technology) yang canggih untuk membangun sistem instruksional yang berkualitas tinggi (Suparman, 2004: 31). Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 64
  • b) Desain Pesan Desain pesan yaitu perencanaan untuk merekayasa bentuk fisik dari pesan agar terjadi komunikasi antara pengirim dan penerima, dengan memperhatikan prinsip-prinsip perhatian, persepsi,dan daya tangkap (Seels & Richey, 2000: 33-34). Fleming dan Levie (1993) membatasi pesan pada pola-pola isyarat, atau simbol yang dapat memodifikasi perilaku kognitif, afektif dan psikomotor. Desain pesan berkaitan dengan hal-hal mikro, seperti: bahan visual, urutan, halaman dan layar secara terpisah. Desain pesan harus bersifat spesifik, baik tentang media maupun tugas belajarnya. Hal ini mengandung makna bahwa prinsip-prinsip desain pesan akan berbeda, tergantung pada jenis medianya, apakah bersifat statis, dinamis atau kombinasi keduanya (misalnya, suatu potret, film, atau grafik komputer). Juga apakah tugas belajarnya tentang pembentukan konsep, pengembangan sikap, pengembangan keterampilan, strategi belajar atau hafalan. Dengan demikian desain pesan ini melibatkan perancangan untuk menentukan jenis media dan format sajian yang paling menarik untuk menyampaikan pesan-pesan pembelajaran kepada peserta didik. c) Strategi Pembelajaran Strategi pembelajaran adalah spesifikasi untuk menyeleksi serta mengurutkan peristiwa belajar atau kegiatan pembelajaran dalam suatu mata pelajaran (Seels & Richey, 2000: 34). Strategi pembelajaran meliputi situasi belajar dan komponen pembelajaran. Dalam mengaplikasikan suatu strategi pembelajaran tergantung pada situasi belajar, sifat materi dan jenis belajar yang dikehendaki. Strategi instruksional ini merupakan proses memilih dan menyusun kegiatan pembelajaran dalam sesuatu unit pembelajaran seperti urutan, sifat mateteri, ruang lingkup materi, metode dan media yang paling sesuai untuk mencapai kompetensi pembelajaran d) Karakteristik Peserta Didik. Karakteristik peserta didik yaitu aspek latar belakang pengalaman peserta didik yang mempengaruhi terhadap efektivitas proses belajarnya. Karaketeristik peserta didik mencakup keadaan sosio-psiko-fisik peserta didik. Secara psikologis, yang perlu mendapat perhatian dari Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 65
  • karakteristik peserta didik yaitu berkaitan dengan kemampuannya (ability), baik yang bersifat potensial maupun kecakapan nyata dan kepribadiannya, seperti, sikap, emosi, motivasi serta aspek-aspek kepribadian lainnya. 2. Kawasan Pengembangan Kawasan teknologi pembelajaran berikutnya adalah pengembangan yang berarti proses penterjemahan spesifikasi desain ke dalam bentuk fisik. Kawasan pengembangan mencakup pengembangan teknologi cetak, teknologi audio visual, teknologi berbasis komputer dan multimedia (Seels & Richey, 2000:38) Kawasan pengembangan ini berakar pada produksi media. Melalui proses yang bertahuntahun perubahan dalam kemampuan media ini berakibat pada perubahan kawasan. Walaupun perkembangan buku teks dan alat bantu pembelajaran yang lain (teknologi cetak) mendahului film, namun pemunculan film merupakan tonggak sejarah dari gerakan audio-visual ke era teknologi pembelajaran sekarang ini. Pada 1930-an film mulai digunakan untuk kegiatan pembelajaran (teknologi audio-visual). Selama Perang Dunia II, banyak jenis bahan belajar yang diproduksi terutama film untuk pelatihan militer. Setelah perang, televisi sebagai media baru digunakan untuk kepentingan pendidikan (teknologi audio-visual). Selama akhir tahun 1950- an dan awal tahun 1960-an bahan pembelajaran berprograma mulai digunakan untuk pembelajaran. Sekitar tahun 1970-an komputer mulai digunakan untuk pembelajaran, dan permainan simulasi menjadi mode di sekolah. Selama tahun 1980-an teori dan praktek di bidang pembelajaran yang berlandaskan komputer berkembang seperti jamur dan sekitar tahun 1990-an multimedia terpadu yang berlandaskan komputer merupakan dari kawasan ini. Pada dasarnya kawasan pengembangan terjadi karena: a) pesan yang didorong oleh isi, b) strategi pembelajaran yang didorong oleh teori, c) manifestasi fisik dari teknologi – perangkat keras, perangkat lunak, dan bahan pembelajaran. Kawasan pengembangan ini meliputi: (a) teknologi cetak; (b) teknologi audio-visual; (c) teknologi berbasis komputer; dan (d) multimedia (Seels & Richey, 2000:39). a) Teknologi Cetak. Teknologi cetak adalah cara untuk memproduksi atau menyampaikan bahan, seperti : buku-buku, bahan-bahan visual yang statis, terutama melalui pencetakan mekanis atau Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 66
  • photografis (Seels & Richey, 2000:40). Teknologi ini menjadi dasar untuk pengembangan dan pemanfaatan dari kebanyakan bahan pembelajaran lain. Hasil teknologi ini berupa cetakan. Teks dalam penampilan komputer adalah suatu contoh penggunaan teknologi komputer untuk produksi. Apabila teks tersebut dicetak dalam bentuk ―cetakan‖ guna keperluan pembelajaran merupakan contoh penyampaian dalam bentuk teknologi cetak. Dua komponen teknologi ini adalah bahan teks verbal dan visual. Pengembangan kedua jenis bahan pembelajaran tersebut sangat tlergantung pada teori persepsi visual, teori membaca, pengolahan informasi oleh manusia dan teori belajar. Secara khusus, teknologi cetak/visual mempunyai karakteristik sebagai berikut : 1) Teks dibaca secara linier, sedangkan visual direkam menurut ruang 2) Keduanya biasanya memberikan komunikasi satu arah yang pasif. 3) Keduanya berbentuk visual yang statis 4) Pengembangannya sangat bergantung kepada prinsip-prinsip linguistik dan persepsi visual. 5) Keduanya berpusat pada pembelajar 6) Informasi dapat diorganisasikan dan distrukturkan kembali oleh pemakai. b) Teknologi Audio-Visual Teknologi audio-visual; merupakan cara memproduksi dan menyampaikan bahan dengan menggunakan peralatan dan elektronis untuk menyajikan pesan-pesan audio dan visual (Seels & Richey, 2000:41). Pembelajaran audio-visual dapat dikenal dengan mudah karena menggunakan perangkat keras di dalam proses pengajaran. Peralatan audio-visual memungkinkan pemroyeksian gambar hidup, pemutaran kembali suara, dan penayangan visual yang beukuran besar. Pembelajaran audio-visual didefinisikan sebagai produksi dan pemanfaatan bahan belajar yang berkaitan dengan pembelajaran melalui penglihatan dan pendengaran yang secara eksklusif tidak selalu harus tergantung kepada pemahaman kata-kata dan simbol-simbol sejenis. Secara khusus, teknologi audio-visual cenderung mempunyai karakteristik sebagai berikut : 1) Bersifat linier 2) Menampilkan visual yang dinamis Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 67
  • 3) Secara khas digunakan menurut cara yang sebelumnya telah ditentukan oleh desainer/pengembang. 4) Cenderung merupakan bentuk representasi fisik dari gagasan yang riil dan abstrak. 5) Dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip psikologi tingkah laku dan kognitif. 6) Sering berpusat pada guru, kurang memperhatikan interaktivitas belajar si pembelajar. c) Teknologi Berbasis Komputer Teknologi Berbasis Komputer; merupakan cara-cara memproduksi dan menyampaikan bahan dengan menggunakan perangkat yang bersumber pada mikroprosesor (Seels & Richey, 2000:42). Pada dasarnya, teknologi berbasis komputer menampilkan informasi kepada peserta didik melalui tayangan di layar monitor. Berbagai aplikasi komputer untuk pembelajaran biasanya disebut ―computer-based intruction (CBI)‖, ―computer assisted instruction (CAI”), atau ―computer-managed instruction (CMI)”. Aplikasi-aplikasi ini hampir seluruhnya dikembangkan berdasarkan teori perilaku dan pembelajaran terprogram, akan tetapi sekarang lebih banyak berlandaskan pada teori kognitif. Aplikasi-aplikasi tersebut dapat bersifat: (1) tutorial, pembelajaran utama diberikan, (2) latihan dan pengulangan untuk membantu peserta didik mengembangkan kefasihan dalam bahan belajar yang telah dipelajari sebelumnya, (3) permainan dan simulasi untuk memberi kesempatan menggunakan pengetahuan yang baru dipelajari; dan (5) dan sumber data yang memungkinkan peserta didik untuk mengakses sendiri susunan data melalui tata cara pengakasesan (protocol) data yang ditentukan secara eksternal. Teknologi komputer, baik yang berupa perangkat keras maupun perangkat lunak biasanya memiliki karakteristik sebagai berikut : 1) Dapat digunakan secara secara acak, disamping secara linier 2) Dapat digunakan sesuai dengan keinginan peserta didik, disamping menurut cara seperti yang dirancang oleh pengembangnya. 3) Gagasan-gagasan biasanya diungkapkan secara abstrak dengan menggunakan kata, simbol maupun grafis. 4) Prinsip-prinsip ilmu kognitif diterapkan selama pengembangan 5) Belajar dapat berpusat pada peserta didik dengan tingkat interaktivitas tinggi. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 68
  • d) Multimedia Multimedia atau teknologi terpadu merupakan cara untuk memproduksi dan menyampaikan bahan dengan memadukan beberapa jenis media yang dikendalikan komputer (Seels & Richey, 2000:43). Keistimewaan yang ditampilkan oleh teknologi multimedia ini, khususnya dengan menggunakan komputer dengan spesifikasi tinggi, yakni adanya interaktivitas pembelajar yang tinggi dengan berbagai macam sumber belajar. Pembelajaran dengan multimedia atau teknologi terpadu ini mempunyai karakteristik sebagai berikut : 1) Dapat digunakan secara acak, disamping secara. linier 2) Dapat digunakan sesuai dengan keinginan peserta didik, disamping menurut cara seperti yang dirancang oleh pengembangnya. 3) Gagasan-gagasan sering disajikan secara realistik dalam konteks pengalaman peserta didik, relevan dengan kondisi peserta didik, dan di bawah kendali peserta didik. 4) Prinsip-prinsip ilmu kognitif dan konstruktivisme diterapkan dalam pengembangan dan pemanfaatan bahan pembelajaran 5) Belajar dipusatkan dan diorganisasikan menurut pengetahuan kognitif sehingga pengetahuan terbentuk pada saat digunakan. 6) Bahan belajar menunjukkan interaktivitas peserta didik yang tinggi 7) Sifat bahan yang mengintegrasikan kata-kata dan contoh dari banyak sumber media. 3. Kawasan Pemanfaatan Domain ketiga dalam teknologi pembelajaran ialah kawasan pemanfaatan. Pemanfaatan adalah tindakan menggunakan metode dan model instruksional, bahan dan peralatan media untuk meningkatkan suasana pembelajaran. Pemanfaatan adalah aktivitas menggunakan proses dan sumber untuk belajar (Seels & Richey, 2000:50). Fungsi pemanfaatan sangat penting karena membicarakan kaitan antara peserta didik dengan bahan belajar atau sistem pembelajaran. Mereka yang terlibat dalam pemanfaatan mempunyai tanggung jawab untuk mencocokkan peserta didik dengan bahan belajar dan aktivitas yang spesifik, menyiapkan peserta didik agar dapat berinteraksi dengan bahan belajar dan aktivitas yang dipilih, memberikan bimbingan selama kegiatan, memberikan Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 69
  • penilaian atas hasil yang dicapai peserta didik, serta memasukannya ke dalam prosedur oragnisasi yang berkelanjutan. Kawasan pemanfaatan mungkin merupakan kawasan teknologi pembelajaran yang tertua, mendahului kawasan desain dan produksi media pembelajaran yang sistematis. Kawasan ini berasal dari gerakan pendidikan visual pada dekade pertama abad ke 20, dengan didirikannya museum-museum. Pada tahun-tahun awal abad ke-20, guru mulai berupaya untuk menggunakan film teatrikal dan film singkat mengenai pokok-pokok pembelajaran di kelas. Di antara penelitian formal yang paling tua mengenai aplikasi media dalam pendidikan ialah studi yang dilakukan oleh Lashley dan Watson mengenai penggunaan film-film pelatihan militer Perang Dunia I (tentang pencegahan penyakit kelamin). Setelah Perang Dunia II, gerakan pembelajaran audio-visual mengorganisasikan dan mempromosikan bahan-bahan belajar audio visual, sehingga menjadikan persediaan bahan pembelajaran semakin berkembang dan mendorong cara-cara baru membantu guru. Selama tahun 1960-an banyak sekolah dan perguruan tinggi mulai banyak mendirikan pusat-pusat media pembelajaran. Karya Dale pada 1946 yang berjudul Audiovisual Materials in Teaching, yang di dalamnya mencoba memberikan rasional umum tentang pemilihan bahan belajar dan aktivitas belajar yang tepat. Heinich, Molenda dan Russel dalam buku Instructional Materials and New Technologies of Instruction (1986) mengemukakan model ASSURE, sebagai acuan prosedur untuk merancang pemilihan dan pemanfaatan media pembelajaran. Langkah-langkah ASSURE meliputi: (a) Analyze leraner (menganalisis peserta didik); (b) State objective (merumuskan tujuan);(c) Select media and materials (memilih media dan bahan); (d) Utilize media and materials (menggunakan media dan bahan), (e) Require learner participation (melibatkan peserta didik) ; dan (f) Evaluate and revise (penilaian dan revisi). a) Pemanfaatan Media. Pemanfaatan media yaitu penggunaan yang sistematis dari sumber belajar. Proses pemanfaatan media merupakan proses pengambilan keputusan berdasarkan pada spesifikasi desain pembelajaran. Misalnya bagaimana suatu film diperkenalkan atau ditindaklanjuti dan dipolakan sesuai dengan bentuk belajar yang diinginkan. Prinsip-prinsip pemanfaatan media juga dikaitkan dengan karakteristik peserta didik. Seseorang yang belajar mungkin memerlukan Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 70
  • bantuan keterampilan visual atau verbal agar dapat menarik keuntungan dari praktek atau sumber belajar. b) Difusi Inovasi Difusi Inovasi adalah proses berkomunikasi malalui strategi yang terencana dengan tujuan untuk diadopsi. Tujuan akhir yang ingin dicapai ialah untuk terjadinya perubahan. Selama bertahun-tahun, kawasan pemanfaatan dipusatkan pada aktivitas guru dan ahli media yang membantu guru. Model dan teori pemanfaatan dalam kawasan pemanfaatan cenderung terpusat pada perpektif pengguna. Akan tetapi, dengan diperkenalkannya konsep difusi inovasi pada akhir tahun 1960-an yang mengacu pada proses komunikasi dan melibatkan pengguna dalam mempermudah proses adopsi gagasan, perhatian kemudian berpaling ke perspektif penyelenggara. Rogers (1983) melakukan studi tentang difusi inovasi, yang mencakup berbagai disiplin ilmu. Hasil studinya telah memperkuat pandangan tentang pentahapan, proses, serta variabel yang dapat mempengaruhi difusi. Dari hasil studi ini dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan bergantung pada upaya membangkitkan kesadaran, keinginan mencoba dan mengadopsi inovasi. Dalam hal ini, penting dilakukan proses desiminasi, yaitu yang sengaja dan sistematis untuk membuat orang lain sadar adanya suatu perkembangan dengan cara menyebarkan informasi. Desiminasi ini merupakan tujuan awal dari difusi inovasi. Langkah-langkah difusi menurut Rogers (1983) adalah : (1) pengetahuan; (2) persuasi atau bujukan; (3) keputusan; (4) implementasi; (5) dan konfirmasi. c) Implementasi dan Institusionalisasi Implementasi dan Institusionalisasi; yaitu penggunaan bahan dan strategi pembelajaran dalam keadaan yang sesungguhnya (bukan tersimulasikan). Sedangkan institusionalisasi penggunaan yang rutin dan pelestarian dari inovasi pembelajaran dalam suatu struktur atau budaya organisasi. Begitu produk inovasi telah diadopsi, proses implementasi dan pemanfaatan dimulai. Untuk menilai pemanfaatan harus ada implementasi. Bidang implementasi dan institusionalisasi (pelembagaan) yang didasarkan pada penelitian, belum berkembang sebaikbidang-bidang yang lain. Tujuan dari implementasi dan institusionalisasi adalah menjamin penggunaan yang benar oleh individu dalam organisasi. Sedangkan tujuan dari institusionalisasi Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 71
  • adalah untuk mengintegrasikan inovasi dalam struktur kehidupan organisasi. Keduanya tergantung pada perubahan individu maupun organisasi. d) Kebijakan dan Regulasi Kebijakan dan Regulasi; adalah aturan dan tindakan yang mempengaruhi difusi dan pemanfaatan teknologi pembelajaran. Kebijakan dan peraturan pemerintah mempengaruhi pemanfaatan teknologi. Kebijakan dan regulasi biasanya dihambat oleh permasalahan etika dan ekonomi. Misalnya, hukum hak cipta yang dikenakan pada pengguna teknologi, baik untuk teknologi cetak, teknologi audio-visual, teknologi berbasis komputer, maupun terknologi terpadu. 4. Kawasan Pengelolaan Pengelolaan meliputi pengendalian teknologi pembelajaran melalui: perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian dan supervisi. Kawasan pengelolaan bermula dari administrasi pusat media, program media dan pelayanan media. Pembauran perpustakaan dengan program media membuahkan pusat dan ahli media sekolah. Program-program media sekolah ini menggabungkan bahan cetak dan non cetak sehingga timbul peningkatan penggunaan sumbersumber teknologikal dalam kurikulum. Dengan semakin rumitnya praktek pengelolaan dalam bidang teknologi pembelajaran ini, teori pengelolaan umum mulai diterapkan dan diadaptasi. Teori pengelolaan proyek mulai digunakan, khususnya dalam proyek desain pembelajaran. Teknik atau cara pengelolaan proyekproyek terus dikembangkan, dengan meminjam dari bidang lain. Tiap perkembangan baru memerlukan cara pengelolaan baru pula. Keberhasilan sistem pembelajaran jarak jauh bergantung pada pengelolaannya, karena lokasi yang menyebar. Dengan lahirnya teknologi baru, dimungkinkan tersedianya cara baru untuk mendapatkan informasi. Akibatnya pengetahuan tentang pengelolaan informasi menjadi sangat potensial. Dasar teoritis pengelolaan informasi bersal dari disiplin ilmu informasi. Pengelolaan informasi membuka banyak kemungkinan untuk desain pembelajaran, khususnya dalam pengembangan dan implementasi kurikulum dan pembelajaran yang dirancang sendiri. a) Pengelolaan Proyek Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 72
  • Pengelolaan Proyek; meliputi : perencanaan, monitoring, dan pengendalian proyek desain dan pengembangan. Pengelolaan proyek berbeda dengan pengelolaan tradisional (line and staff management) karena : (a) staf proyek mungkin baru, yaitu anggota tim untuk jangka pendek; (b) pengelola proyek biasanya tidak memiliki wewenang jangka panjang atas orang karena sifat tugas mereka yang sementara, dan (c) pengelola proyek memiliki kendali dan fleksibilitas yang lebis luas dari yang biasa terdapat pada organisasi garis dan staf. Para pengelola proyek bertanggung jawab atas perencanaan, penjadwalan, dan pengendalian fungsi desain pembelajaran atau jenis-jenis proyek yang lain. Peran pengelola proyek biasanya berhubungan dengan cara mengatasi ancaman proyek dan memberi saran perubahan internal. b) Pengelolaan Sumber Pengelolaan Sumber; mencakup perencanaan, pemantauan dan pengendalian sistem pendukung dan pelayanan sumber. Pengelolaan sumber memliki arti penting karena mengatur pengendalian akses. Pengertian sumber dapat mencakup, personil keuangan, bahan baku, waktu, fasilitas dan sumber pembelajaran. Sumber pembelajaran mencakup semua teknologi yang telah dijelaskan pada kawasan pengembangan. Efektivitas biaya dan justifikasi belajar yang efektif merupakan dua karakteristik penting dari pengelolaan sumber. c) Pengelolaan sistem penyampaian. Pengelolaan sistem penyampaian meliputi perencanaan, pemantauan pengendalian ―cara bagaimana distribusi bahan pembelajaran diorganisasikan‖ Hal tersebut merupakan suatu gabungan antara medium dan cara penggunaan yang dipakai dalam menyajikan informasi pembelajaran kepada pembelajar. Pengelolaan sistem penyampaian memberikan perhatian pada permasalahan produk seperti persyaratan perangkat keras/lunak dan dukungan teknis terhadap pengguna maupun operator. Pengelolaan ini juga memperhatikan permasalaan proses seperti pedoman bagi desainer dan instruktur dan pelatih. Keputusan pengelolaan penyampaian sering bergantung pada sistem pengelolaan sumber. d) Pengelolaan informasi Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 73
  • Pengelolaan informasi meliputi perencanaan, pemantauan, dan pengendalian cara penyimpanan, pengiriman/pemindahan atau pemrosesan informasi dalam rangka tersedianya sumber untuk kegiatan belajar. Pentingnya pengelolaan informasi terletak pada potensinya untuk mengadakan revolusi kurikulum dan aplikasi desain pembelajaran. 5. Kawasan Penilaian Penilaian merupakan proses penentuan memadai tidaknya pembelajaran dan relajar yang mencakup: (a) analisis masalah; (b) pengukuran acuan patokan; (c) penilaian formatif; dan (d) penilaian sumatif. Dalam kawasan penilaian dibedakan pengertian antara penilaian program, proyek, dan produk. Penilaian program merupakan evaluasi yang menaksir kegiatan pendidikan yang memberikan pelayanan secara berkesinambungan dan sering terlibat dalam penyusunan kurikulum. Sebagai contoh misalnya penilaian untuk program membaca dalam suatu wilayah persekolahan, program pendidikan khusus dari pemerintah daerah, atau suatu program pendidikan berkelanjutan dari suatu universitas. Penilaian proyek – evaluasi untuk menaksir kegiatan yang dibiayai secara khusus guna melakukan suatu tugas tertentu dalam suatu kurun waktu. Contoh, suatu lokakarya 3 hari mengenai tujuan perilaku. Kunci perbedaan antara program dan proyek ialah bahwa program diharapkan berlangsung dalam yang tidak terbatas, sedangkan proyek biasanya diharapkan berjangka pendek. Proyek yang dilembagakan dalam kenyataannya menjadi program. Penilaian bahan (produk pembelajaran) merupakan evaluasi yang menaksir kebaikan atau manfaat isi yang menyangkut benda-benda fisik, termasuk buku, pedoman kurikulum, film, pita rekaman, dan produk pembelajaran lainnya. a) Analisis Masalah Analisis masalah mencakup cara penentuan sifat dan parameter masalah dengan menggunakan strategi pengumpulan informasi dan pengambilan keputusan. Telah lama para evaluator yang piawai berargumentasi bahwa penilaian yang seksama mulai saat program tersebut dirumuskan dan direncanakan. Bagaimanapun baiknya anjuran orang, program yang diarahkan pada tujuan yang tidak/kurang dapat diterima akan dinilai gagal memenuhi kebutuhan. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 74
  • Jadi, kegiatan penilaian ini meliputi identifikasi kebutuhan, penentuan sejauh mana masalahnya dapat diklasifikasikan sebagai pembelajaran, identifikasi hambatan, sumber dan karakteristik pembelajar, serta penentuan tujuan dan prioritas (Seels and Glasgow, 1990). Kebutuhan telah dirumuskan sebagai ―jurang antara ―apa yang ada‖dan ―apa yang seharusnya ada‖ dalam pengertian hasil (Kaufman,1972). Analisis kebutuhan diadakan untuk kepentingan perencanaan program yang lebih memadai. b) Pengukuran Acuan Patokan Pengukuran acuan patokan meliputi teknik-teknik untuk menentukan kemampuan pembelajaran menguasai materi yang telah ditentukan sebelumnya. Penilaian acuan patokan memberikan informasi tentang penguasaan seseorang mengenai pengetahuan, sikap, atau keterampilan yang berkaitan dengan tujuan pembelajaran. Keberhasilan dalam tes acuan patokan berarti dapat melaksanakan ketentuan tertentu, biasanya ditentukan dan mereka yang dapat mencapai atau melampaui skor minimal tersebut dinyatakan lulus.Pengukuran acuan patokan memberitahukan pada para siswa seberapa jauh mereka dapat mencapai standar yang ditentukan. c) Penilaian Formatif dan Sumatif Penilaian Formatif dan Sumatif; berkaitan dengan pengumpulan informasi tentang kecukupan dan penggunaan informasi ini sebagai dasar pengembangan selanjutnya. Dengan penilaian sumatif berkaitan dengan pengumpulan informasi tentang kecukupan untuk pengambilan keputusan dalam hal pemanfaatan. Penilaian formatif dilaksanakan pada waktu pengembangan atau perbaikan program atau produk (atau orang dsb). Penilaian ini dilaksanakan untuk keperluan staf dalam lembaga program dan biasanya tetap bersifat intern; akan tetapi penilaian ini dapat dilaksanakan oleh evaluator dalam atau luar atau (lebih baik lagi) kombinasi. Perbedaan antara formatif dan sumatif telah dirangkum dengan baik dalam sebuah kiasan dari Bob Stake ― Apabila juru masak mencicipi sup, hal tersebut formatif, apabila para tamu mencicipi sup tersebut, hal tersebut sumatif. Penilaian sumatif dilaksanakan setelah selesai dan bagi kepentingan pihak luar atau para pengambil keputusan, sebagai contoh : lembaga penyandang dana, atau calon pengguna, walaupun hal tersebut dapat dilaksanakan baik oleh evaluator dalam atau dalam untuk gabungan. Untuk alasan kredibiltas, lebih baik evaluator luar dilibatkan daripada sekedar merupakan penilaian formatif. Hendaknya jangan dikacaukan Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 75
  • dengan penilaian hasil (outcome) yang sekedar menilai hasil, biukannya prose — hal tersebut dapat berupa baik formatif maupun sumatif. Metoda yang digunakan dalam penilaian formatif berbeda dengan penilaian sumatif. Penilaian formatif mengandalkan pada kajian teknis dan tutorial, uji coba dalam kelompok kecil atau kelompok besar. Metoda pengumpulan data sering bersifat informal, seperti observasi, wawancara, dan tes ringkas. Sebaliknya, penilaian sumatif memerlukan prosedur dan metoda pengumpulan data yang lebih formal. Penilaian sumatif sering menggunakan studi kelompok komparatif dalam desain kuasi eksperimental. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 76
  • A. Kesimpulan Dari materi yang telah di sampaikan di atas semoga bias memberikan kita Pelajaran yang lebih banyak lagi tentang perkembangan teknologi pendidikan. Dari beberapa sejarah perkembangan teknologi pendidikan di atas jelaslah bahwa teknologi Pendidikan, sebagai satu bidang keilmuan, memang tumbuh dari praktek pendidikan dan gerakan komunikasi audio visual. Terutama pasca Perang Dunia II, teknologi Pembelajaran semula dilihat sebagai teknologi yang berkaitan dengan penggunaan peralatan, media dan sarana untuk mencapai tujuan pendidikan. Jadi istilah itu sinonim dengan konsep ‗mengajar berbantuan peralatan audio-visual‘. Dari banyak pelajaran yang dapat kita pelajari dengan meninjau sejarah Teknologi pembelajaran, mungkin salah satu yang paling penting melibatkan perbandingan antara efek diantisipasi dan aktual media pada praktek instruksional. Sebagai mana Kuba (1986) telah menunjukkan, saat kita meninjau-melihat kembali selama abad terakhir dari sejarah media, Anda mungkin perlu diperhatikan pola berulang dari harapan dan hasil. Sebagai media baru memasuki adegan pendidikan, ada banyak minat awal dan antusiasme banyak tentang efek kemungkinan untuk memiliki pada praktek instruksional. Namun, antusiasme dan ketertarikan akhirnya memudar, dan pemeriksaan mengungkapkan bahwa media memiliki dampak minimal terhadap praktek tersebut. Misalnya, prediksi optimis Edison bahwa film akan merevolusi pendidikan terbukti tidak benar, dan antusiasme untuk televisi instruksional yang ada selama tahun 1950 sangat berkurang pada pertengahan tahun 1960-an, dengan dampak kecil pada instruksi di sekolah. Kedua contoh melibatkan penggunaan media di sekolah-sekolah, pengaturan di mana penggunaan media pembelajaran telah paling erat diperiksa. Namun, data mengenai penggunaan media pembelajaran dalam bisnis dan industri mendukung kesimpulan serupa, yaitu, bahwa meskipun antusiasme tentang penggunaan media pembelajaran dalam bisnis dan industri, sampai saat ini media yang memiliki dampak minimal terhadap praktik pembelajaran dalam lingkungan tersebut. Berdasarkan alasan tersebut untuk meningkatnya penggunaan media baru, adalah wajar untuk memperkirakan bahwa selama dekade berikutnya, komputer, internet, dan media digital lainnya akan membawa perubahan besar dalam praktek instruksional dari media yang mendahului mereka. Namun, mengingat sejarah media dan dampaknya pada praktik pembelajaran, adalah juga wajar untuk mengharapkan bahwa perubahan tersebut, baik di sekolah Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 77
  • dan pengaturan instruksional lainnya, cenderung terjadi lebih lambat dan kurang luas daripada media yang paling penggemar saat ini memprediksi. B. Saran Harapannya bahwa kajian ini menjadi pemicu untuk mengkaji lebih lanjut baik dari segi konsep maupun praktek sehingga benar-benar bermanfaat untuk memfasilitasi pemecahan masalah belajar yang dialami setiap individu. Diyakini bahwa perkembangan ilmu dan teknologi serta tuntutan masyarakat mendorong untuk dikembangkannya berbagai model pendidikan dan pembelajaran yang lebih sesuai dengan harapan. Mudah-mudahan bermanfaat. Amien. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 78
  • DAFTAR PUSTAKA Dewi Salma Prawiradilaga dan Evaline Siregar. 2007. Mozaik Teknologi Pendidikan. Jakarta: Universitas Negeri Jakarta, Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Fakultas, Fakultas Ilmu Pendidikan. Fred Percival dan Henry Ellington, 1998, Teknologi Pendidikan, Jakarta: Erlangga http://www.oocities.org/teknologipembelajaran/definisi_teknologi_pembelajaran.html http://tepenr06.wordpress.com/2011/09/27/sejarah-perkembangan-teknologi pembelajaran/ http://www.infodiknas.com/115perkembangan-definisi-dan-kawasan-teknologi-pembelajaranserta-perannya-dalam-pemecahan-masalah-pembelajaran/ Nanna Sudjana dan Ahmad Rivai.2007. Teknologi Pengajaran, Bandung: Sinar Baru Algensind Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 79
  • Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 80
  • BAB IV LANDASAN TEORITIS TEKNOLOGI PENDIDIKAN 1. Teori Belajar dan Pembelajaran A. Teori Belajar Belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada semua orang dan berlangsung seumur hidup. Ada banyak teori-teori belajar dimana setiap teori memiliki konsep atau prinsipprinsip endiri tentang belajar yang mempengaruhi bentuk atau model penerapannya dalam kegiatan pembelajaran. Masing-masing teori memiliki kelebihan dan kekurangan .adapun aplikasi belajar yang dapat di pilih adalah sebagai berikut. 1) Teori belajar behaviorisme Menurut teori ini manusia sangat dipengaruhi oleh kejadian-kejadian dalam lingkungan yang akan memberikan pengalaman-pengalaman belajar. Belajar adalah proses perubahan tingkah laku yang terjadi karena adanya stimulasi dan respon yang dapat diamati. Menurut teori behaviorisme ini manipulasi lingkungan sangat penting agar dapat di peroleh perubahan tingkah laku yang diharapkan. Teori behaviorisme ini sangat menekankan pada apa yang dapat dilihat yaitu tingkah laku, tidak memperhatikan apa yang terjadi dala pikiran manusia. Dengan kata lain lebih menekankan pada hasil dari proses belajar. Behaviorisme menekankan pada tingkah laku objektif, empiris (nyata), konkret dan dapat diamati (observable). Kritk terhadap teori behaviorisme adalah tidak dapat menjelaskan situasi belajar yang kompleks. Cendrung mengarahkan peserta didik berpikir linear, tidak konvergen, dan tidak kreatif. Dalam menerapkan teori behaviorisme yang paling terpenting adalah para guru, perancang pembelajaran, dan pengembang program-program pebelajaran harus memahami karakteristik peserta didik dan karakteritik lingkungan belajar agar tingkat keberhasilan peserta didik selama kegiatan pembelajaran dapat diketahui.tuntutan Hari teori ini adalah pentingnya merumuskan tujuan pembelajaran secara jelas dan spesifik supaya mudah dicapai dan diukur. Prinsip-prinsip teori behaviorisme yang banyak diterapkan di dunia pendidikan meliputi sebaggai berikut: a) Proses belajar dapat terjadi dengan baik bila peserta didik bersifat aktif di dalamnya b) Materi pelajaran disusun dalam urutan yang logis supaya peserta didik mudah mempelajarinya dan dapat memberikan respons tertentu Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 81
  • c) Tiap-tiap respons harus diberi umpan balik (feedback) ecara langsung supaya peserta didikdapat mengetahui apakah respons yang diberikannya telah benar d) Setiap kali pesrta didik memberikan respons yang benatrperlu diberi penguatan (reinforcement) (Hartley & Davies, 1978 dalam Toeti Soekamto, 1992:23). Prinsip-prinsip behaviorisme ini telah banyak digunakan dan diterapkan dalam berbagai program pembelajaran. Misalnya mesin pengajaran (teaching machine), mathematics, atau program-progran pembelajaran lain yang menggunakan konsep stimulasi, respon dan faktor penguatan (reinforcement). Adapun langkah-langkah pembelajaran berdasarkan teori behaviorisme, dalammerancang kegiatan pembelajaran, adalah:  Menentukan tujuan pembelajaran  Menganalisis lingkungan yang ada saat ini termasuk mengidentifikasi pengetahuan awal (entry behavior) peserta didik  Menentukan nilai pembelajaran  Memecah pembelajaran menjadi bagian kecil-kecil, meliputi pokokbahasan, sub pokokbahasan, topik dan sebagainya  Menyajikan materi pembelajaran  Memberikan stimulus, dapat berupa: pertanyaan baik lisan maupun tertulis, tes/kuis, latihan atau tugas-tugas  Mengamati dan mengkaji respons yang diberikan peserta didik  Memberikan penguatan (reinforcement)yang berupa penguatan positif ataupun penguatan negatif,atau hukuman  Memberikan stimulasi baru  Mengamati dan memberikan respons yang diberikan pesrta didik  Memberikan penguatan lanjutan ataupun hukuman  Demikian seterusnya  Evaluasi hasil belajar (Suciati & Irawan,2001:31-32) Berapa kritik terhadap teori behaviorisme diantaranya antara lain:  Behaviorisme tidak dapat digunakan pada setiap pembelajaran, dan dianggap tidakmenghargai aktivitas berfikir Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 82
  •  Behaviorisme tidak dapat menjelaskan beberapa pembelajaran yang kompleks, bila tanpa mekanisme penguatan peserta didik tidak dapat mengenali pola bahasa yang baru  Tujuan pembelajaran dinyatakan terlalu ketat (spesifik)  Keyakinan yang terlalu inggi pada peserta didik akan berperilaku dengan benar, selama prosedur yang diberikan sudah benar. 2) Teori belajar kognitif Kelompok teori kognitif ini beranggapan bahwa belajar adalah pengorganisasian aspek-aspek kognitif dan persepsi untuk memperoleh pemahaman. Prinsip teori kognitif, belajar adalah perubahan presepsi dan pemahaman yang tidak selalu dapat dilihat sebagai tingkah laku. Teori ini menekankan pada gagasan bahwa bagian-bagianlajar suatu situasi saling berhubungan dalam konteks situasi secara keseluruhan. Dengan demikian belaiini adalahrmelibatkan proses berpikir yang kompleks dan mementingkan proses belajar. Yang termasuk dalam kelompok teori ini adalah teori perkembangan piaget, teori kognitif burner, teori kognitif berwarna ausebel dan lain-lain. 1. Teori Perkembangan Piaget Menurut Piaget, perkembangan kognitif merupakan suatu proses genetika yaitu proses yang didasarkan atas mekanisme biologis yaitu perkembangan sisten syaraf. Proses belajar seseorang akan meikuti pola dan tahap perkembangan tertentu sesuai dengan umurnya.perjenjangan ini bersifat hirearki yaitu melalui tahap-tahap tertentu sesuai dengan umurnya. Ada empat tahap perkembangan kognitif anak, yaitu:  Tahap sensor motorik yang bersifat internal (0-2 tahun)  Tahap preoperasional (2-6 tahun)  Tahap opeasional konkret (6-12 tahun)  Tahap formal yang bersifat internal (12-18 tahun) Teori schemata memandang bahwa proses pembelajaran sebagai perolehan pengetahuan baru dalam diri seseorang dengan cara mengaitkannya dengan struktur kognitif yang sudah ada. Schemata adalah unit dasar perkembangan intelektual. Struktur belajar kognitif yang bbaru akan menjadi dasar pada kegiatan belajar berikutnya. Artinya, setiap saat memperoleh informasi, diidentifikasi, diproses, dan disimpan dengan baik/lebih lama sehingga dapat mmengembangkan kemampuan dalam mengklasifikasikan objek. Menurut Piaget, secara garis besar langkah-langkah pembelajaran dalam merancang pembelajaran adalah: Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 83
  • a. Menentukan tujuan pembelajaran b. Memilih materi pembelajaran c. Menentukan topik-topik yang dapat di pelajari peserta didik secara aktif d. Menentukan dan meracang pembelajaran yang sesuai dengan topik tersebut, misalnya: penelitian, memecahkan masalah, diskusi, simulasi, dan sebagainya e. Mengembangkan metode pembelajaran untuk meransang kreatifitas dan cara berfikir peserta didik f. Melakukan penilaian proses dan hasil belajar peserta didik (Suciati & Irawan, 2001: 37) 2. Teori kognitif burner Teori ini bertitik tolak pada teori belajar kogniif, yang menyatakan belajar adalah kegiatan belajar perubahan presepsi dan pemahaman. Menurut burner perkembangan seseorang terjadi melalui tiga tahap yang ditentukan oleh caranya melihat lingkungan. a) Tahap enaktif Peserta didik melakukan aktivitas-aktivitasnya dalam usaha memahami lingkungan. Peserta didik melakukan observasi dengan cara mengalami langsung atau realitas. b) Tahap ikonik Peserta didik melihat dunia melalui gambar-gambar dan visualisasi verbal. c) Tahap simbolik Peseta didik mepunyai gagasan –gagasan abstrak ang banyak dipengaruhi bahasa dan logika serta komunikasi dilakukan dengan pertolongan sistem simbol. Penerapan teori burner yang terkenal dalam dunia pendidikan adalah kurikulum spiral dimana materi pelajaran yang sama dapat diberikan mulai dari Sekolah Dasr sampai Perguruan tinggi, tetapi disesuaikan dengan tingkat perkembangan kognitif peserta didik. Artinya menuntut adanya pengulangan- pengulangan. Cara belajar terbaik menurut burner ini adalahdengan memahami konsep, arti, dan hubunganmelalui proses intuitifkemudian dapat dihasilkan suatu kesimpulan (free discovery learning. Seecara garis besarlangkah-langkah pembelajaran dalam merancang pembelajaran menurut bruner adalah sebagai berikut. 1) Menentukan tujuan-tujuan pembelajaran 2) Melekukan identifikasi karakteristik peserta didik (kemampuan awal, minat, gaya belajardan sebagainya) 3) Memilih materi pembelajaran 4) Menentukan topik0topik yang dapat dipelajaripeserta didik secara induktif Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 84
  • 5) Mengatur topik-topik pembelajaran dari yang sederrhana ke kompleks, dari yang konkret ke abstrak, atau dari tahap enaktif, ekonik, sampai ke simbolik 6) Melakukan penilaian proses dan hasil belajar peserta didik (Suciati & Irawan,2001: 38) 3. Teori belajarr bermakna menuru ausebel Menurut ausebel belajar haruslah bermakna,materi yang dipelajari di asimilasikan secara non arbiter dan berhubungan dengan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya.menurut Reilly & Lewis ada dua persyratan untuk membuat materi pembelajaran bermakna, yaitu: a) Pilih materi yang secara potensial bermakna lalu diatur sesuai dengan tingkat perkembangan dan pengetahuan masa lalu b) Diberikan dalam situasi belajar yang bermakna Prinsip-prinsip teori belajar bermakna ausebel ini dapat diterapkan dalam prosees pembelajaran melalui tahap-tahap sebagai berikut 1. , kemampuan dan struktur kognitifnya melalui tes awal, interview, review, pertanyaanpertanyaan dan lain-lain teknik 2. Memilih materi-materi kunci dan penyajiannya diatur, dimulai dengan contoh yang konkret dan kontroversial 3. Mengidentifikasikan konsep-konsep yang harus di kuasai dari materi baru itu 4. Menyajikan suatu pandangan secara menyeyeluruh tentang apa yang harus dipelajari 5. Memakai advance organizer 6. Membelajarkan pesarta didik memahami konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang ada dengan memberikan fokus pada hubunganhubungan yang ada. 4. Teori belajar humanisme Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 85
  • Menurut teori humanisme proses belajar harus dimulai dan ditujukan untuk kepentingan memanusiakan manusia, yaitu mencapai aktualisasi diri,pemahaman diri,dan realisasi diri peserta didik yang belajar secara optimal.teori humanisme sangat mementingkan isi yang di pelajari dari pada proses belajar itu sendiri. Teori ini cendrung bersifat ekletik, artinya memanfaatkan teknik belajar apapun asalkan tujuan peserta didik tercapai. Apliksai teori humanisme ke dalam pembelajaran yaitu cendrung mendorong peserta didik untuk berpikir induktif. Misalnya , dari contoh ke konsep, dari konkret ke abstrak.dari khusus ke umum dan sebagainya. Teori humanime ini juga mementingkan faktor pengalaman atau keterlibatan aktif peserta didik dalam proses pembelajaran. Secara eknis belum ada pedoman entang langkah-langkah pembelajaran pembelajaran dengan menggunakan pendekatan humanistis, namun paling tidak langkah dalam pembelajaran adalah: 1) Menentukan tujuan-tujua pembelajaran 2) Menentukan materi pembelajaran 3) Mengidentifikasi kemampuan awal peserta didik 4) Mengidentifikasi topik-topik yang memungkinkan peserta didik mempelajari secara aktif (mengalami) 5) Merancang fasilitas pembelajaran seperti lingkungan media pembelajaran 6) Membimbing peserta didik belajar secara aktif 7) Membimbing pesera didik untuk memahami makna dari pengalaman belajarnya 5. Teori belajar sibernetik Teori beelajar sibernetik berkembang sejalan dengan perkembangan ilmu informasi.menurut teori sibernetik belajar adalah mengolah informasi (pesan pembelajaran). Proses belajar dinggap penting, tapi yang lebih pening lagi adalah sistem informasi yang akan di proses dan akan dipelajari oleh peserta didik. Aplikasi teori sibernetik dalam kegiatan pembelajaran telah di kembangkan Landa yitu model pendekatan algoritmik dan heuridtik.pendekatan belajar algoritmik enurut peserta didik untuk berpikir secara sistematis, tahap demi tahap, linear, konvergen, lurus menuju ke suatu target tujuan tertentu.misalnya kegiatan menelpon, menjalankan men dan lain-lain. Sedangkan pendekatan heuristik menuntut peserta didik untuk berpikir secara divergen,menyebar ke beberapa target sekaligus. 6. Teori belajar konstruktivisme Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 86
  • Teori konstruktivisme yang landasan dasarnya schema.teori schem memandang bahwa proses pembelajaran sebagai cara mengaitkannya dengan struktur kognittif yang sudah ada. Belajar menurut teori konstruktivisme adalah suatu proses pembentukan pengetahuan.teori konstruktivisme menekankan bahwa belajar lebih banyak ditentukan karena adanya karsa peserta didik.menurut teori ini masalah belajar dan pembelajaran adalah: a. Bersifat ketidakteraturan atau keberagaman, peserta didik diharapkan kepada lingkungan belajar yang bebas, karena kebebasan itu merupakan unsur yang esensial. b. Keberhasilan atau kegagalan, kemampuan atau ketidakmampuan dilihat sebagai interprestasi yang berbeda yang perlu dihargai c. Kebebasan dipandang sebagai penentu keberhasilan, kontrol belajar dipegang oleh peserta didik itu sendiri d. Tujuan pembelajaran menekankan pada penciptaan pemahaman yang menuntut aktivitas kreatif, produktif dalam kenyataan nyata. pembelajaran menurut teori konstruktivisme ini menekankan pada penggunaan pengetahuan secara bermakna, urutan pembelajaran mengikuti pandangan peerta didik, dan menekankan pada proses, serta aktivaaitas beajar dalam konteks yang nyata, bukan mengikuti urutan dalam buku teks.sedangkan evaluasi pembelajaran menekankan pada penyusunan makna secara aktif yang melibatkan keterampilan terintegrai dengan menggunakan masalah daam konteks yang nyata. Implementasi teori konstruktivisme dalam pembelajaran, dimana belajar merupakan proses pemaknaan informasi baru, oleh karena itu peserta didik perlu: 1) Didorong pengetahuan diskusi yang dipelajari 2) Berfikir divergen bukan hanya satu jawaban yang benar 3) Berbagai jeniss luapan berpikir atau aktivitas belajar 4) Digunakan informasi pada situasi baru Mengingat kebebasan merupakan unsur esensial dalam lingkungan belajar,oleh karena itu perlu: a) Disediakan sebagai pilihan untuk peserta didik b) Sediakan pilihan cara untuk memperlihatkan keberhasilan c) Sediakan waktu yang cukup banyak untuk memikirkan dan mengerjakan tugas d) Jangan terlalu banyak menggunakan tes yang sudah terlalu banyak waktunya e) Sediakan kesempatan untuk melakukan berpikir ulang Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 87
  • f) Libatkan penngalaman konkret peserta didik (dogeng,2007) B. Teori Pembelajaran 1) Pengertian dan prinsip-prinsip pembelajaran Pembelajaran adalah suatu uaha untuk membuat peerta didik belajar atau suatu kegiatan untuk membelajarkan peserta didik.pembelajaran disebut juga kegiatan pembelajran (instruksional) adalah usaha mengelola lingkungan dengan sengaja agar seseorang agar membentuk diri secara positif dalam kondisi tertentu (Miarso,2004:528). Dengan demikian, inti dari pembeajaan adalah segala upaya yang dilakukan oleh peserta didik agar terjadi proses belajar pada diri peserta didik Dalam UU No 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas Pasal 1 Ayat 20, pembelajaran adalah proses interaksi antara peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu llengkungan beajar (Depdiknas, 2003:7).ada lima jenis interaksi yang dapat berlangsung daam proses beelajar dan pembelajaran: a. Interaksi antara pesrta didik dan pendidik b. Interaksii antar sesama peserta didik atau sejawat c. Interaksi peseta ddidik dengan narasumber d. Interaksi peserata didik bersama pendidik dengan sumber belajar yang sengaja dikembangkan e. Interaksi peserata didik bersama pendidik dengan lingkungan sosial dan alam (Miarso,2008:3) Pembelajaran sebaiknya berdasarkan teori pembelajaran yang bersifat preskriptif yaitu teori yang memberikan ―resep‖ untuk mengatasi masalah belajar. Teori pembelajaran preskriptif harus memperhatikan tiga model pembeljaran yaitu kondisi,metode (perlakuan) dan hasil pembelajaran (Miarso,2004:529).teori pembelajaran secara implisit artinya berusaha untuk merumuskan caracara membuat peserta didik agar dapat belajar dengan baik. Apikasi teori pembelajran dala kegatan pembelajaran ini berkaitan dengan 1) Bagaimana cara yang efektif untuk mentransfer ilmu 2) Prinsip-prinsip pembelajaran yang menggairahan,menentang dan menyenangkan 3) Ccara membangun minat dan perhatian peserta didik Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 88
  • 4) Cara engembangkan relevansi daam pembelajaran 5) Cara membangkiykan percaya diri peserta didik dalam pembelajaran Tekanan utama teori pembelajaran ini adalah prosedur yang telah terbukti berhasil meningktkan kualitas pembelajaran, yaiu: a. Belajar merupakan suatu kumpulan proses yang bersifat individu, yang mengubah stimulasi dai lingkungan seseorang ke dalam sejumlah informasi yang selanjutnya dapat menyebabkan adanya sebagai hasil belajar dalam bentuk ingatan jangka panjang. b. Kemampuan yang merupakan hasil belajar ini dapat dikategorikan sebagai bersifat praktis dan eoritis c. Kejadian-kejadian dalam pembelajaran yang mempengaruhi proses belajar dapat di kelompokkan dalam kategori umum, tanpa memperhatikan hasil belajar yang di harapkan.s Maka teori pembelajaran merupakan suatu kum[ulan prinsip-prinsip yang terintegrasi dan memberikan preskripsi untuk mengatur situasi agar peserta didik mudah mudah mencapai tujuan pembelajaran.perkembangan teori pembelajaran ada 3 yaitu,behaviorisme,kognitivisme,dan kognitivisme. Mayer mengusulkan istilah lain pada ketiga teoi tersebut yaiu, pembelajaran sebagai penguasaan respon (behaviorisme), pembelajaran sebagai penguasaan pengetahuan (kognitivisme), dan pembelajaran sebagai konstruksi pengetahuan (konstruktivisme). 2) Teori-teori pembelajaran a. Pendekatan modifikasi tingkah laku Teori ini menganjurkan agar para guru menerapkan prinsip penguatan (reinforcement) untuk engidentifikasi aspek situasi pendidikan yang pentingdan mengatur kondisi sedemikian rupa yang memungkinkan peserta didik dapat mencapai tujuan-tujuan pembelajaran. b. Teori pembelajaran konstruk kognitif Pada teori ini pembelajaran harus memperhatikan perubahan kondisi internal peserta didik yang terjadi selama pengalaman belajar diberikan di kelas. c. Teori pembelajaran berdasarkan prinsip-prinsip belajar Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 89
  • Keempat prinsip tersebut adalah, 1) Untuk belajar peserta didik harus mempunyai perhatian dan responsif terhadap materi yang akan dipelajari. 2) Semua proses belajar memerlukan waktu. 3) Di dalam peserta didik yang sedang belajar selalu terdapat suatu alat ukur internal yang mengontrol motivasi serta menentukan sejauh mana dan dalam bentuk apa peserta didik bertindak daam suatu situasi tertentu. 4) Pengetuahuan tentang hasil yang di peroleh selama proses beljar merupakan faktor penting sebagai pengontrol. d. Teori pembelajaran berdasarkan analisis tugas Sangat penting umtuk mengadakan analisis tugas (taks analysis) secara sistematis mengenai tugas-tugas pengalaman belajar yang akan diberkan kepada peserta didik, yang kemudian disusun secara hierarkis dan diurutkan sedemikian rupa tergantung dari tujuan yang ingin dicapai. e. Teori pembelajaran berdasarkan psikologi humanistis Pada teori ini guru harus memperhatikan pengalaman emosional dan karakteristik khusus peserta didik seperti aktualisasi peserta didik. Dengan memahami hal ini dapat dibuat pilihan-pilihan ke arah mana pesera didik akan berkembang. 2) Aplikasi teori belajar dalam teknologi pembelajaran Adapun implikasi teori belajar dalam penyusunan desain instruksional disajikan dalam tabel berikut Teori belajar Implikasi pada desain Instruksional  Behavioral objektives Behaviorisme  Dick & carey instruksional design model  Performance-based assesment  System models  Cognitive objectives Kognitivisme  Learning strategies  Learning taxonomies  Prerequisite skills  Autentic assesment methods konstruktivime  Learning trough exploration  Probloem-oriented activities  ―Rich‖ environments Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 90
  •  Visual format and mental methods 2. Teori Komunikasi dan Informasi A. Teori komunikasi 1. Pengertian komunikasi Kata komunikasi berasal dari bahasa latin yaiu, communicare yang berarti sama. Sama disini maksudnya adalah sama dalam hal pengertian dan pendapat antara komunikator dan komunikan. Secara etimologis, komunikasi berasaldari kata ―to comunicate‖. Menurut longman dictionary of contemporary english, defenisi kata comunicate adalah upay untuk membuat pendapat,menyatakan perasaan,menyampaikan informasi dan sebagainya agar diketahui atau dipahami oleh orang lain. Arti lain dari komunikai adalah berbagi (to share) atau bertukar (exchange) pendapat, perasaan, informasi dan sebagainya. Menurut gurnitowati dan Maliki (2003) seseorang berkomunikasi dengan menggunakan kata-kata,dengan kualitas suaranya, dengan badannya, isyarat (gesture) dan raut muka (expression). Komunikasi merupakan peristiwa sosial dan terjadi ketika manusia dengan manusia lainnya. Jadi, komunikasi adalah persyaratan kehidupan manusia. Komunikasi merupkan bagian dari kehidupan manusia sehari-hari, bahkan merupakan manifestasi dai kehidupan itu sendiri. Ini berati komunikasi merupakan realita pokok dari kehidupan manusia. Komunikasi mempunyai banyak kegunaan dan manfaat dalam kehidupan manusia dan tentu komunikasi menjadi sangat penting dalam kehidupan manusia.komunikasi merupakan kegiatan pokok dalam kehidupan manusia sehari-hari dan peranan komunikasi sangat vital bagi berhasil tidaknya kita hidup bermasyarakat. Suatu halyang cukup penting untuk diperhatikan agar kita bia mengadakan tindakan komunikasi yang efekif dan efisienialah pengertian, bahwa komunikasi memiliki bebeapakarakteristikpokok sebagai berikut, a. Komunikasi adalah suatu proses b. Komunikasi adalah upaya yang disengaja serta mempunyai tujuan c. Komunikasi menuntut adanya partisipasidan kerjasama dari para pelaku yang terlibat d. Komunikasi bersifat simbolis e. Komunikasi bersifat transaksional f. Komunikasi menembus faktor waktu dan ruang Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 91
  • Sebagai suatu proses pembentukan, penyampaian, penerimaan dan pengolahan pesan yang terjadi dalam diri seseorang dan atau diantara dua orang atau lebih dengan tujuan tertentu, komunikasi sedikitnya melibatkan empat faktor atau komponen a. Sumber atau pengirim pesan/komunikator b. Pesan/massage c. Media atau saluran (channel) d. Penerima/komunikan (audience/receiver) Faktor-faktor yang mempengaruhi kelancaran berkomunikasi a. Faktor pengetahuan, semakin luas pengetahuan yang dimiliki seseorang, semakin banyak perbendaharaan kata yang dimilki sehingga mempermudah berkomunikasi dengan lancar. b. Faktor pengalaman, makin banyakpengalaman yang dimiliki seseorang menyebabkan terbiasa untuk menghaadapi sesuatu. c. Faktor intelegensi, orang yang intelegensinya rendah biasanya kurang lancar dalam berbicara karena kurang memiliki perbeendaharaan kata dan bahasa yang baik. d. Faktor kepribadian, orang yang mempunyai sifat pemalu dan kurang bergaul, biasanya kurang lancar berbicara dibandingkan dengan orang yang pandai bergaul. e. Faktor biologis, disebabkan karena gangguan organ-organ berbicara sehingga menimbulkan gangguan dalam berkomunikasi. Ada dua bentuk komunikasi yaitu 1). Komunikasi lisan atau verbal Dalam komunikasi lisan, informasi disampaikan secara lisan atau verbal melalui apa yang diucapkan dari mulut atau dikatakan dan bagaimana mengatakannya. Arti kata yang diucapkan akan lebih jelas apabila ucapan itu diikuti dengan suara melalui tinggi rendahnya dan lemah lembutnya suara, keras tidaknya suara dan perubahan nada suara. 2) Komunikasi non lisan/ komunikasi non verbal Komunikasi ini menggunakan isyarat (gestures), gerak gerik (movement), sesuatu barang, cara berpakaian, atau sesuatu yang dapa menunjukkan perasaan atau (expression) pada waktu yang sngat penting, misalnya pada saat sakit, gembira, stres, dan sebagainya. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 92
  • 2. Teori komunikasi Kegiatan komunikasi yang berupa perilaku komplek dan proses yang multi disipliner itu telah lama menjadi objek penelitian ilmuan. Akibatnya ilmu komunikasi dari waktu ke waktu makin berkembang dengan pesat, dotandai dengan munculnya berbagai model dan teori komunikasi, antara lain: claude shannon dan warrent weaver (1949), charles osgood and others (1957, Bruce westley and Malcolm Macelean (1957), Model SMCR oleh David K.Berlow (1960), wilbur Scharm m.(1973) dan teorikonvergensi D. Lawrance kincait (1979). 3. Landasan teori komunikasi dalam teknologi pembelajaran Media berasal dari bahsa latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium yang berarti perantara atau pengantar.menurut Anderson (1987) media dapat dibagi dallam dua kategori yaitu alat bantu pemmbelajaran dan media pembelajaran. Alat bantu pembelajaran diisebut juga alat bantu mengajar,misalnya OHP/ OHT, film bbingkai/slide, foto, peta, poster,grafik, dll. Media pembelajaran adalah media yang memungkinkan terjadinya interaksi antara karya seorang pengembang mata pelajaran dengan peserta didik. Media pembelajran merupakan alat komunikasi yang berisi pesan, yang memngkinkan peserta didik dapat berinteraksi dengan pesan secara langsung. Pemanfaatan teknologi kounikasi dalam keperluan pendidikan dalam hal funsinya sebagai media pembelajaran bukanlah merupakan hal baru. Ada lima perspektif yang bisa diliha dari peranan media pembelajaran sebagai teknologi komunikasi yaitu: a. Media sebagai teknologi, berfungsi sebagai penyampai pesan khusus b. Dia sebagai tutor atau guru c. Media sebagai agen sosialisasi d. Media seebagai motivator untuk belajar e. Media sebagai alat mentaluntuk berpikir dan memecahkan masalah f. B. Teori Informasi 1. Pengertian teknologi informasi Teknologi informasi adalah sama dengan teknologi lainnya,hanya informasi merupakan komoditas yang diolah dengan teknologi tersebut. Bentuk dari teknologi adalah kumpulan pengetahuan (knowledge) yang diimplementasikan dalam tumpukan kertas (stacked of papers), atau sekarang dalam bentuk CD room. Teknologi informasi Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 93
  • adalah sarana dan prasarana (hardware, software, dan useware) siste dan metode untuk memperolah,mengirimkan mengolah, menafsirkan, menyimpan,mengorganisasikan, dan menggunakan data secara bermakna. Ada fungsi teknologi informasi dalam pendidikan dapat menjadi 7 fungsi yaitu: a. Sebagai gudang ilmu b. Sebagai alat bantu pembelajaran c. Sebagai fasilitas pendidikan d. Sebagai standar kompetensi e. Sebagai penunjang administrasi f. Sebagai alat bantu manajemen sekolah g. Sebagai infrastruktur pendidikan Teknologi informasi yang dimaksud disini adalah segala bentuk penggunaan atau pemanfaatan komputer (beserta selurruh aksesoris peripheralnya) dan internet dalam pembelajaran.oleh karena itu dapat diperoleh pengertin sebagai berikut 2. Landasan teori teknologi informasi Penggunaan teknologi informasi dalam pembelajaran diawali oleh burrhus frederick skiner (1954) dengan konsep pembelajaran terprogram tahun 1958. Skiner membuat sebuah mesin pembelajaran. Mesin ini tidak mengajar, tetapi diprogram dengan menggunakan logika tertentu sehingga mesin dapat menyajikan materi pembelajaran dan seolah-olah berineraksi dengan peserta didik. Berdasarkan teori tersebut diperoleh prinsip-prinsip pembelajaran antara lain sebagai berikut; a. Respon peserta didik harus diperkuat secepatnya dan sesering mungkin b. Berikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengontrol laju kecepatan belajarnya sendiri c. Perhatikan bahwa peseta didik mengikuti suatu urutan yang koheren dan terkendalikan d. Beritahukan kemajuan belajar peserta didik Disamping itu dalam pengembangan sistem dan model pembelajaran bebasis teknologi inormasi baik bersifat off line maupun online diperlukan pertimbangan sebagai berikut  Keuntungan, sejauhmana sistem akan memberikan keuntungan bagi institusi, staf pengajar, pengelola, dan terutama keuntungan yang akan diperoleh peserta didik dalam meningkatkan kualitas pembelajaran Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 94
  •  Biaya pengembangan infrastrukttur serta pengadaan peralatan dan software, biaya yang diperlukan untuk mengembangkan infrastrukur, mengadakan peralatan serta software tidaklah sedikit.  Biaya operasional dan peralatan, suatu sistem akan berjalan apabila dikelola secara baik  Sumber daya manusia, untuk mengembangkan dan mengelola jarungan dan sistem pembelajaran, diperlukan sejumlah sumber daya manusia yang memiliki kompetensi dan integritas yang tinggi. 3. Teori menajemen dan ekonomi 1. Peranan ekonomi dalam kehidupan manusia Teori ekonomi dibedakan menjadi dua yaitu ekonmo makro dan mikro. Bagian makro membahas perilaku negara, masyarakat atau kelompok masyarakat. Variabel yang dibahas adalah pendapatan nasional, kesempatan kerja, pengangguaran, inflasi, anggaran pemerintah dan sebagainya. Seedanfkan teori ekonomi mikro membahas perilaku agen ekonomi kecil, seperti konsumen individual atau sebuah perusahaan, sekolah, atau satuan pendidikan, dan keluarga. 2. Konstribusi ekonomi dalam pendidikan Objek kajjian ilmu ekonomi addalah perilaku manusia atau kelompk manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, maka subjek pengamatan atau kajian ekonomi pendidikan terdiri dari dua hal. a. Anlisis atas nilai ekonomis pendidikan, mengkaj dampak pendidkan terhadap pertumbuhan ekonomi, terutama dallam hal produktifitas tenaga kerja , mobilitas penempatan kerja dan pemerataan pendapatan. b. Analisis atas aspek ekonomis instituisi pendidikan, mengkaji efisiensi internal instituisi pendidika dan implikasi finansial dari biaya yang digunkan untuk pengelolaan pendidikan, serta efektifitas pengelolaan ssumber daya instituisi, pendidikan sebagi bagian dari menejemen. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 95
  • Adapun kontribusi pendidikan terhadap pertumbuhan ekonomi dapat dilakukan melalui dua cara: 1) Pendidikan menciptakan dan menghasilkan pengetahuan baru yang membawa pengaruh terhadap proses produksi. 2) Pendidikan menjadi sarana dalam proses difusi dan tranmisi pengethuan,yeknologi, dan informasi yang dapat mengubah, pola pikir, bertindak, dan kultur bekerja. Fungsi ekonomi dalam dunia pendidikan adalah untuk menunjang kelancaran proes pendidikan , bukan merupakan modaluntuk dikembangkan, dan bukan juga untuk mendapatkan keuntungan. Dengan demikian kegunaan ekonomi dalam pendidikan terbatas pada hal-hal berikut: a. Untuk membeli keperrluan pendidikan yang tidak lewat dibuat sendiri atau bersamasaa peserta didik, seperti; sarana prasarana, media, alat peraga b. Untuk pengadaan segala perlengkapan gedung, seperti:air,listrik,telepon,televisi, radio, komputer, dan sebagainya. c. Membayar jasa segala kegiatan pendidikan d. Memenuhi kebutuhan dasar dan keamanan pengelola pendidkan e. Meningkkan motivasi kerja f. Membuat para pengelola pendidikan lebih bersemangat dan bergairah kerja 3. Kontribusi teori ekonomi dalam teknologi pembelajaran Manusia dapat mengenali, menghasilkan, dan melakukan segala sesuatu dalam rangka memenuhi kebutuhannya dengan baik sehinggauntuk itu manusia perlu belajar. Sedangkan untuk dapa belajar secara efektif dan eisien perlu memanfaatkan beranekaragan sumber belajar. Teknologi pembelajaran berupaya untuk merancang, mengembangkan, dan memanfaatkan aneka sumber belajar sehingga dapat memudahkan atau memfasilitasi seseorang untuk belajar. Dengan demikian teknologi pembelajaran diperlukan untuk dapat menjangkau peserta didik dimanapun mereka berada. Kontribusi teori ekonomi dalam teknologi pembelajaran yaitu menekankan pada proses untuk memperoleh nilai tambah a) Meningkatkan efiiensi pendidikan Efisiensi adalah penggunaan dana yang harganya sesuai atau lebih kecil dari pada produksi dan layanan pendidikan yang telah direncanakan. Faktor utama yang Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 96
  • diperhatikan dalam menentukan tingkat efisiensi pendidikan adalah penggunaan uang, proses kegiatan, dan hasil kegiatan. Dengan demikian efisiensi pendidikan merupakan kesepadanan antara waktu, biaya, dan tenaga yang digunakan dengan hasil yang diperoleh. b) Meningkatkan efektivitas pendidikan Suatu kegiatan dikatakan efektif apabila kegiatan tersebut dapat diselesaikan pada waktu yang tepat dan mencapai tujuan yang di inginkan. untuk mengukur aktivitas hasil suatu kegiatan pembelajaran, biasanya dilakukan melalui keterampilan kognitif peserta didik sebelum dan sesudah melekukan kegiatan. Efektifitas biaya pendidikan berarti biaya itu hanya digunakan hanya diarahkan untuk mencapai tujuan pendidikan dengan tepat waktu. Analisis biaya aktivitas merupakan salah satu teknik untuk melihat efektivitas dan efisiensipenggunaan dana yang dikeuarkan. c. Meningkatkan produktivitas pendidikan Produktivitas pendidikan adalah hasilnya bertambah, dengan pengurangan masukan, atau tanpa pertambahan masukan, atau dengan tambahan masukan sedikit, tetapi pertambahan hasilnya lebih besar, atau pertambahan masukan yang banyak dengan hasil yang jauh lebih banyak. Berkaitan dengan peranan teknologi pembelajaran yang mempunyai potensi untuk meningkatkan produktivitas pendidikan dengan jalan satu 1) mempercepat tahap belajar 2) membantu guru untuk menggunakan waktunya secara lebih baik 3) mengurangi beban guru dalam menyajikan informaasi sehingga guru dapat membina dan mengembangkan kegairahan belajar peserta didik 4) mempecepat proses pembelajaran agar peserta didik mampu menghadapi perubahan yang cepat salah satunya cara adalah belajar secara cepat.. kecepatan dalam belejar dapat diakukan antara lain dengan memperhatikan prinsip-prinsip berikut: 1) belajar bagaimana belajar 2) memahami dengan baik teknik belajar sendiri 3) memiliki kemampuan/keterampilan dalam memanfatkan teknologi informasi 4) mengkaji informasi dengan cepat,memahaminya, dan didingat denga baik. 5) Meningkatkan kualitas pembelajaran Proses pembelajaran dalam satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotifasi peserta didik untuk berpartisipasi Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 97
  • secara aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian esuai dengan bakat minat dan perkembangan fisik serta sikologis peserta didik. Satuan pendidikan dapat mengembangkan empat pilar pendidikan yang dicanangkan oleh UNESCO baik untuk sekarang dan masa depan, yaitu: a. Learning to know (belajar mengetehui) b. Learning to do (belajar melakukan sesuatu) c. Learning to be (belajar untuk menjadi seseorang) d. Learning to live together (belajar untuk menjalani kehidupan bersama) Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 98
  • Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 99
  • BAB V KAWASAN TEKNOLOGI PEMBELAJARAN Kawasan merupakan suatu realisasi dari defenisi dari bidang teknologi pembelajaran. Rumusan kawasan yang dikembangkan dalam disiplin teknologi pendidikan dan pembelajaran disiapkan melalui rumusan AECT tahun 1977 dan 1994. Kedua defenisi tersebut menghasilkan kawasan sesuai dengan rumusan defenisi. Tahun 1977 satgas dari AECT menghasilkan dua defenisi yang secara khusus membedakan antara teknologi pembelajaran. Dengan demikian,tahun 1977 menghasilkan dua defenisi dan dua kawasan,teknologi pendidikan dan Teknologi pembelajaran. Defenisi sebelumnya,yaitu tahun 1963 dan 1972 tidak menghasilkan kawasan. Pada masa tersebut,para ahli sedang berusaha membentuk konsep yang lebih mendalam dan bermanfaat bagi perkembangan disiplin teknologi pendidikan. Defenisi AECT tahun 1994 hanya menelurkan satu defenisi yaitu teknologi pembelajaran,kawasan yang dimunculkan pun hanya satu yaitu kawasan teknologi pembelajaran. Namun dalam penjelasannya,defenisi tersebut memilah antar teori dan praktek. Teori yang disebut sebagai rujukan dan acuan dari seluruh kegiatan terkait pembelajaran,sedangkan praktik atau terapan menyediakan kesempatan untuk memvalidasi teori,selanjutnya teori ini dapat dikaji ulang dan diperbaiki. Dengan demikian,terjadi simbiosis mutualisme antara peran teori bagi terapan atau praktik dalam bidang teknologi pembelajaran.Terapan atau praktik akan dijelaskan dibagian lain dalam kegiatan belajar ini. Fungsi Kawasan Menurut Carrier dan Sales tahun 1978; Khenzek, Rachlin, dan Schannel tahun 1988; Kozma dan Bangert-Downs tahun 1987 taksonomi atau klasifikasi sering digunakan untuk menyederhanakan hubungan-hubungan yang timbul dari teori dan praktek. Taksonomi merupakan klasifikasi yang berlandaskan pada hubungan. Daya karya klasik Taksonomi Tujuan Pendidikan : Ranah Kognitif, Benjamin Bloom membedakan taksonomi dengan skema klasifikasi yang lebih sederhana. Menurut Bloom, taksonomi : a. Tidak boleh mengandung unsur-unsur yang arbritrer b. Harus sesuai dengan fenomena riil yang menjadi ungkapan istilah tersebut Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 100
  • c. Harus teruji secara kongsisten dengan pandangan-pandangan teoritis dari bidang. Menurut Bloom tahun 1956 tujuan utama dalam membuat suatu taksonomi adalah untuk mempermudah komunikasi. Tujuan utama dalam menciptakan taksonomi apapun ialah untuk pemulihan lambang-lambang yang sesuai, mendefinisikannya yang tepat dan dapat digunakan serta mendapatkan consensus dari kelompok yang akan menggunakannya. Fleishman dan Quaintance (1984) merangkum beberapa keuntungan potensial dari pengembangan suatu taksonomi tentang kinerja manusia, antara lain : a. Membantu dalam melakukan review pustaka b. Membuka peluang untuk tugas-tugas baru c. Memaparkan jurang pemisah dalam pengetahuan dengan mengutarakan kategori dan sub-kategori pengetahuan, dan meningkatkan diskusi teoritikal atau penilaian d. Untuk membantu pengembangan teori dengan jalan mengevaluasi seberapa jauh keberhasilan teori mengorganisasikan data observasi sebagai hasil penelitian dalam bidang Teknologi Pembelajaran. Roland L. Jacobs (1988) mengusulkan adanya suatu kawasan teknologi kinerja manusia terdapat tiga fungsi, yaitu : fungsi pengelolaan, fungsi pengembangan system kinerja, dan komponen sitem kinerja manusia yang merupakan dasar konseptual untuk melakukan fungsi yang lain. Subkomponen pengembangan adalah langkah-langkah dalam proses pengembangan. Sedangkan subkomponen dari system perilaku manusia adalah konsep-konsep mengenai organisasi, motivasi, perilaku, kinerja, serta umpan balik. Kawasan Teknologi Pendidikan menurut Davies, 1978 Davies merumuskan bahwa teknologi pendidikan sesuai dengan gejala pendidikan yang di amati. Pembahasan davies juga dirangkum dari kumpulan tulisan klasik yang di sunting oleh Ely dan plomp, (1995:19-21). Davies merumuskan tiga pendekatan sehubungan dengan bidang garapan atau kawasan teknologi pendidikan. Rumusan davies berikut meliputi pendekatan perangkat keras (hardware), Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 101
  • pendekatan perangkat lunak (software), dan perpaduan pendekatan perangkat keras dan perangkat lunak. Berikut uraianya : 1. Pendekatan perangkat keras (hardware) Pendekatan ini mengusahakan kegiatan guru yaitu mengajar dengan memanfaatkan penggunaan perangkat keras. Penggunaan perangkat keras di maksudkan agar terjadi otomatisasi atau proses mekanistik dalam kegiatan belajar mengajar. Perangkat keras digunakan untuk menyampaikan dan menyebarkan materi belajar, memproduksi materi dan seterusnya. Selain itu, adanya pemanfaatan perangkat keras, dalam hal ini, menggunakan berbagai bentuk media massa seperti TV atau kaset audio, ditargetkan untuk menampung siswa dalam jumlah yang lebih besar dari biasa, dengan tidak mengurangi efisiensi proses belajar. Semua upaya harus tetap mengacu pada efektifitas pembiayaan, terutama pembiayaan yang berasal dari siswa. 3. pendekatan perangkat lunak (software) pada tahap ini teknologi pendidikan ―meminjam‖ teori dari ilmu prilaku yang ditetapkan untuk mengatasi kesulitan belajar. Teori lain yang di tetapkan adalah teori instruksional. Teori ini membahas cara-cara memperbaiki, memperbaharui, atau merancang situasi yang betul-betul di butuhkan oleh siswa. Penggunaan perangkat keras mesin-mesin, atau yang bersifat mekanistik sangat terbatas, berfungsi hanya sebagai bagian dari penyajian materi oleh guru. 4. Pendekatan perpaduan perangkat keras dan perangkat lunak Pendekatan ini menolak model terapan pengembangan sistematik sebagai satu-satunya penyelesaian masalah secara sistematik. Pendekatan perpaduan menerapkan sistem analisis dalam pendidikan dan kegiatan instruksional. Penerapan sistem analisis dianggap mampu mengurangi bias terhadap individu siswa sehingga siswa dapat berperan dalam kelompoknya dengan dinamis. Selain alasan tadi pendekatan perpaduan di anggap lebih manusiawi serta integratif (terpadu) dengan kondisi belajar mengajar sehari-hari.kerangka pendekatan berada pada lingkup sistem (system boundary) dengan mencermati seluruh faktor yang mempengaruhi proses belajar mengajar (PBM). Faktor tersebut diantaranya siswa (motivasi belajar serta Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 102
  • . Kawasan AECT 1997 Teknologi pendidikan, teknologi intruksional, sumber belajar, komponen bidang garapan: rancangan, pengembangan, evaluasi, sumber belajar, peserta didik. Salah satu ciri khas dari bidang garapan yang di rumuskan Tim khusus AECT tahun 1977 adalah penekanan model kawasan pada usaha mengabsahkan pekerjaan yang menonjolkan ―lahan‖ yang dapat di garap oleh para praktisi teknologi pendidikan.sebagaimana biasanya, proses belajar menjadi factor utama dalam proses belajar dan pendidikan. Seperti telah di sebutkan sebelumnya, teknologi pendidikan di rumuskan sebagai cakupan yang lebih luas dibandingkan dengan teknologi intruksional. Rumusan ini mengacu pada konsep bahwa proses intruksional menjadi bagian proses pendidikan. Seperti skema kawasan Teknologi Intruksional(AECT 1977) berikut: Peran Kawasan Assosiation for Educational Communication and Technology (AECT) mendefinisikan 5 domain Teknologi pndidikan yaitu design, development, utilization, management and evaluation. Pada tiap domain juga terdiri atas beberapa sub domain. Kawasan teknologi pendidikan membagi banyak kesamaan dalam mendefinisikanya dan memperkuat landasanya, sebagaimana keilmuan lainya dan aplikasi keilmuan sosial (Luppicini, 2005). Definisi yang di kutip Luppicini (2005) tentang konsep kawasan teknologi pendidikan adalah suatu tujuan yang berorientasi pada pendekatan sistem pemecahan masalah memanfaatkan peralatan, teknik, teori dan metode dari berbagai banyak bidang pengetahuan, untuk : a. Merancang, mengembangkan dan menilai, efektifitas dan efisiensi sumber manusia dan mesin dalam memfasilitasi dan mempengaruhi semua aspek pembelajaran. b. Pedoman agen perubahan perubahan sistem dan praktek dalam hal untuk membagi dalam mempengaruhi perubahan dalam social. Dalam perkembangan terakhir, teknologi pendidikan yang di definisikan sebagai teori dan praktik dalam desain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan, penilaian, dan penelitian proses, sumber, dan sistem untuk belajar. Definisi tersebut mengandung pengertian adanya empat komponen dalam teknologi pembelajaran yaitu : a. Teori dan praktik Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 103
  • b. Desain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan, penilaian dan penelitian c. Proses sumber dan system. Kawasan AECT 1994 Lima kawasan dari bidang teknologi pembelajaran menurut definisi tahun 1994 yaitu Desain, Pengembangan, Pemanfaatan, Pengelolaan, dan Penilaian. A. Kawasan desain Kawasan pertama teknologi pembelajaran adalah desain atau perancangan yang mencakup penerapan berbagai teori, prinsip dan prosedur dalam melakukan perencanaan atau mendesain suatu program atau kegiatan pembelajaran yang dilakukan secara sistemik dan sistematik. Yang dimaksud dengan desain disini adalah proses untuk menentukan kondisi belajar dengan tujuan untuk menciptakan strategi dan produk (Seels & Richey, 2000 dalam Bambang Warsito, 2008: 22). Strategi dan produk pada tingkat makro, seperti program dan kurikulum, dan pada tingkat mikro, seperti pelajaran dan modul Kawasan desain mempunyai asal-usul dari gerakan psikologi pembelajaran. Beberapa faktor pemicunya adalah : 1. Artikel tahun 1954 dari B.F. Skinner ―The Science of Learning and the Art of Teaching‖ disertai teorinya tentang pembelajaran berprogram. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 104
  • 2. Buku tahun 1969 dari Herbert Simon ‖The Science of Artificial‖ yang membahas karakteristik umum dari pengetahuan preskriptif tentang desain; dan 3. Pendirian pusat-pusat desain bahan pembelajaran dan terprogram, seperti ―Learning Resouce and Development Center‖ di Universitas Pittsburgh pada tahun 1960an. Aplikasi teori sistem dalam pembelajaran melengkapi dasar psikologi pembelajaran tersebut. Melalui James Finn dan Leonard Silvern, pendekatan sistem pembelajaran secara bertahap mulai berkembang menjadi suatu metodologi dan mulai memasukkan gagasan dari psikologi pembelajaran. Perhatian terhadap desain pesan pun berkembang selama akhir 1960-an dan pada awal 1970-an. Kolaborasi Robert Gagne dengan Leslie Briggs telah menggabungkan keahlian psikologi pembelajaran dengan bakat dalam desain sistem yang membuat konsep desain pembelajaran menjadi semakin hidup. Kawasan desain ini meliputi empat cakupan utama dari teori dan praktek, yaitu: (1) desain sistem pembelajaran; (2) desain pesan; (3) strategi pembelajaran; dan (4) karakteristik pembelajar. 1. Desain Sistem Pembelajaran Desain sistem pembelajaran yaitu prosedur yang terorganisasi, meliputi : 1. Penganalisaan (proses perumusan apa yang akan dipelajari); 2. Perancangan (proses penjabaran bagaimana cara mempelajarinya); 3. Pengembangan (proses penulisan dan pembuatan atau produksi bahan-bahan pelajaran); 4. Pelaksanaan/aplikasi (pemanfaatan bahan dan strategi) dan 5. Penilaian (proses penentuan ketepatan pembelajaran). Desain sistem pembelajaran biasanya merupakan prosedur linier dan interaktif yang menuntut kecermatan dan kemantapan. Agar dapat berfungsi sebagai alat untuk saling mengontrol, semua langkah-langkah tersebut harus tuntas. Dalam desain sistem pembelajaran, proses sama pentingnya dengan produk, sebab kepercayaan atas produk berlandaskan pada proses. Sedangkan menurut Twelker, Urbach, Buck (1972) pengembangan instruksional adalah suatu cara yang sistematis untuk mengidentifikasi, mengembangkan, dan mengevaluasi satu set Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 105
  • bahan dan strategi pembelajaran untuk mencapai tujuan tertentu. Wujud pengembangan instruksional adalah produksi dan penggunaan media instruksional, evaluasi instruksional dan pengelolaan instruksional. Jadi pengembangan instruksional merupakan salah satu teknologi perangkat lunak (sofware technology) yang canggih untuk membangun sistem instruksional yang berkualitas tinggi (Suparman, 2004 dalam Bambang Warsito, 2008:23). Dalam desain pembelajaran dikenal beberapa model yang dikemukakan oleh para ahli. Secara umum, model desain pembelajaran dapat diklasifikasikan ke dalam model berorientasi kelas, model berorientasi sistem, model berorientasi produk, model prosedural dan model melingkar. Model berorientasi kelas biasanya ditujukan untuk mendesain pembelajaran level mikro (kelas) yang hanya dilakukan setiap dua jam pelajaran atau lebih. Contohnya adalah model assure. Model berorientasi produk adalah model desain pembelajaran untuk menghasilkann suatu produk, biasanya media pembelajaran, misalnya video pembelajaran, multimedia pembelajaran, atau modul. Contoh modelnya adalah model hannafin and peck. Satu lagi adalah model beroreintasi sistem yaitu model desain pembelajaran untuk menghasilkan suatu sistem pembelajaran yang cakupannya luas, seperti desain sistem suatu pelatihan, kurikulum seiolah, dan lain-lain. contohnya adalah model addie. Selain itu ada pula yang biasa kita sebut sebagai model prosedural dan model melingkar. Contoh dari model prosedural adalah model Dick and Carrey, sementara contoh model melingkar adalah model Kemp. Adanya variasi model yang ada ini sebenarnya juga dapat menguntungkan, beberapa keuntungan itu antara lain adalah dapat memilih dan menerapkan salah satu model desain pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik yang dihadapi di lapangan, selain itu juga, dapat dikembangkan dan dibuat model turunan dari model-model yang telah ada, ataupun juga dapat diteliti dan dikembangkan desain yang telah ada untuk dicobakan dan diperbaiki. Beberapa contoh dari model-model diatas akan diuraikan secara lebih jelas berikut ini: A.Model Dick and Carrey Salah satu model desain pembelajaran adalah model Dick and Carey (1985). Model ini termasuk ke dalam model prosedural. Langkah-langkah Desain Pembelajaran menurut Dick and Carey adalah (Mohamad Hazairin, dkk. 2011: 5) : Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 106
  • 1. Mengidentifikasikan tujuan umum pembelajaran. 2. Melaksanakan analisi pembelajaran 3. Mengidentifikasi tingkah laku masukan dan karakteristik siswa 4. Merumuskan tujuan performansi 5. Mengembangkan butir-butir tes acuan patokan 6. Mengembangkan strategi pembelajaran 7. Mengembangkan dan memilih materi pembelajaran 8. Mendesain dan melaksanakan evaluasi formatif 9. Merevisi bahan pembelajaran 10. Mendesain dan melaksanakan evaluasi sumatif. Model Dick and Carey bagi perancang pemula sangat cocok sebagai dasar untuk mempelajari model desain yang lain. Kesepuluh langkah pada model Dick and Carey menunjukan hubungan yang sangat jelas, dan tidak terputus antara langkah yang satu dengan yang lainya. Langkah awal pada model Dick and Carey adalah mengidentifikasi tujuan pembelajaran. Langkah ini sangat sesuai dengan kurikulum perguruan tinggi maupun sekolah menengah dan sekolah dasar, khususnya dalam mata pelajaran tertentu di mana tujuan pembelajaran pada kurikulum agar dapat melahirkan suatu rancangan pembangunan. Penggunaan model Dick and Carey dalam pengembangan suatu mata pelajaran dimaksudkan agar (ibid.5-6) : 1. Pada awal proses pembelajaran anak didik atau siswa dapat mengetahui dan mampumelakukan hal–hal yang berkaitan dengan materi pada akhir pembelajaran, 2. Adanya pertautan antara tiap kompone nkhususnya strategi pembelajaran dan hasil pembelajaran yang dikehendaki, 3. Menerangkan langkah–langkah yang perlu dilakukan dalam melakukan perencanaan desain pembelajaran. B.Model Kemp Model Kemp termasuk ke dalam contoh model melingkar. Secara singkat, menurut model ini terdapat beberapa langkah dalam penyusunan sebuah bahan ajar, yaitu (ibid. 6) : 1. Menentukan tujuan dan daftar topik, menetapkan tujuan umum untuk pembelajaran tiap topiknya; 2. Menganalisis karakteristik pelajar, untuk siapa pembelajaran tersebut didesain; Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 107
  • 3. Menetapkan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dengan syarat dampaknya dapat dijadikan tolak ukur perilaku pelajar; 4. Menentukan isi materi pelajaran yang dapat mendukung tiap tujuan; 5. Pengembangan prapenilaian/ penilaian awal untuk menentukan latar belakang pelajar dan pemberian level pengetahuan terhadap suatu topik; 6. Memilih aktivitas pembelajaran dan sumber pembelajaran yang menyenangkan atau menentukan strategi belajar-mengajar, jadi siswa siswa akan mudah menyelesaikan tujuan yang diharapkan; 7. Mengkoordinasi dukungan pelayanan atau sarana penunjang yang meliputi personalia, fasilitas-fasilitas, perlengkapan, dan jadwal untuk melaksanakan rencana pembelajaran; 8. Mengevaluasi pembelajaran siswa dengan syarat mereka menyelesaikan pembelajaran serta melihat kesalahan-kesalahan dan peninjauan kembali beberapa fase dari perencanaan yang membutuhkan perbaikan yang terus menerus, evaluasi yang dilakukan berupa evaluasi formatif dan evaluasi sumatif. C. Model ASSURE Model ASSURE merupakan suatu model yang merupakan sebuah formulasi untuk Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) atau disebut juga model berorientasi kelas. Menurut Heinich et al (2005) model ini terdiri atas enam langkah kegiatan yaitu (ibid. 6-7) : 1.Analyze Learners (analisis pelajar) Menurut Heinich et.al (2005) jika sebuah media pembelajaran akan digunakan secara baik dan disesuaikan dengan cirri-ciri belajar, isi dari pelajaran yang akan dibuatkan medianya, media dan bahan pelajaran itu sendiri. Lebih lanjut Heinich, 2005 menyatakan sukar untuk menganalisis semua cirri pelajar yang ada, namun ada tiga hal penting dapat dilakuan untuk mengenal pelajar sesuai .berdasarkan cirri-ciri umum, keterampilan awal khusus dan gaya belajar. 2.States Objectives (menyatakan tujuan) Menyatakan tujuan adalah tahapan ketika menentukan tujuan pembeljaran baik berdasarkan buku atau kurikulum. Tujuan pembelajaran akan menginformasikan apakah yang sudah dipelajari anak dari pengajaran yang dijalankan. Menyatakan tujuan harus difokuskan kepada pengetahuan, kemahiran, dan sikap yang baru untuk dipelajari. 3.Select Methods, Media, and Material (pemilihan metode, media dan bahan) Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 108
  • Heinich et.al. (2005) menyatakan ada tiga hal penting dalam pemilihan metode, bahan dan media yaitu menentukan metode yang sesuai dengan tugas pembelajaran, dilanjutkan dengan memilih media yang sesuai untuk melaksanakan media yang dipilih, dan langkah terakhir adalah memilih dan atau mendesain media yang telah ditentukan. 4.Utilize Media and materials (penggunaan media dan bahan) Menurut Heinich et.al (2005) terdapat lima langkah bagi penggunaan media yang baik yaitu, preview bahan, sediakan bahan, sedikan persekitaran, pelajar dan pengalaman pembelajaran. 5.Require Learner Participation (partisipasi pelajar di dalam kelas) Sebelum pelajar dinilai secara formal, pelajar perlu dilibatkan dalam aktivitas pembelajaran seperti memecahkan masalah, simulasi, kuis atau presentasi. 6.Evaluate and Revise Sebuah media pembelajaran yang telah siap perlu dinilai untuk menguji keberkesanan dan impak pembelajaran. Penilaian yang dimaksud melibatkan beberaoa aspek diantaranya menilai pencapaian pelajar, pembelajaran yang dihasilkan, memilih metode dan media, kualitas media, penggunaan guru dan penggunaan pelajar. D.Model ADDIE Ada satu model desain pembelajaran yang lebih sifatnya lebih generik yaitu model ADDIE (Analysis-Design-Develop-Implement-Evaluate). ADDIE muncul pada tahun 1990-an yang dikembangkan oleh Reiser dan Mollenda.Salah satu fungsinya ADDIE yaitu menjadi pedoman dalam membangun perangkat dan infrastruktur program pelatihan yang efektif, dinamis dan mendukung kinerja pelatihan itu sendiri. Model ini menggunakan 5 tahap pengembangan yakni : 1. Analysis (analisa) 2. Design (desain / perancangan) 3. Development (pengembangan) 4. Implementation (implementasi/eksekusi) 5. Evaluation (evaluasi/ umpan balik) D.Model Hanafin and Peck Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 109
  • Model Hannafin dan Peck ialah model desain pengajaran yang terdiri daripada tiga fase yaitu fase Analisis keperluan, fase desain, dan fase pengembangan dan implementasi (Hannafin & Peck 1988). Dalam model ini, penilaian dan pengulangan perlu dijalankan dalam setiap fase. Model ini adalah model desain pembelajaran berorientasi produk. 2.Desain Pesan Desain pesan yaitu perencanaan untuk merekayasa bentuk fisik dari pesan agar terjadi komunikasi antara pengirim dan penerima, dengan memperhatikan prinsip-prinsip perhatian, persepsi, dan daya tangkap. Fleming dan Levie membatasi pesan pada pola-pola isyarat, atau simbol yang dapat memodifikasi perilaku kognitif, afektif dan psikomotor. Desain pesan berkaitan dengan hal-hal mikro, seperti : bahan visual, urutan, halaman dan layar secara terpisah. Desain harus bersifat spesifik, baik tentang media maupun tugas belajarnya. Hal ini mengandung makna bahwa prinsip-prinsip desain pesan akan berbeda, bergantung pada jenis medianya, apakah bersifat statis, dinamis atau kombinasi keduanya (misalnya, suatu potret, film, atau grafik komputer). Juga apakah tugas belajarnya tentang pembentukan konsep, pengembangan sikap, pengembangan keterampilan, strategi belajar atau hafalan. Ada tiga langkah pokok dalam mendesain pesan bila menggunakan pendekatan system, yaitu : menentukan masalah, mengembangkan alternative pemecahan masalah dan menilai pelaksanaan alternative yang dipilih untuk di revisi. Penyususnan rancangan pesan dihubungkan dengan pertemuan tatap muka untuk pencapaian tujuan belajar tertentu saja. Langkah-langkah desain pesan pembelajaran menurut Jerrord E. Kemp terdiri dari delapan langkah, yaitu : A. Pertimbangkan dahulu tujuan program pendidikan diarahkan untuk mecapai tujuan tersebut. Berdasarkan kurikulum, pilihlah topik-topik yang akan diberikan, untuk masingmasing topik perlu dirumuskan tujuan umum pengajarannya secara eksplisit. B. Pelajari karakteristik siswa. C. Rumusan tujuan belajar yang harus dicapai dengan menggunakan kriteria tingkah laku yang dapat diamati dan diukur. D. Membuat daftar perincian isi pembelajaran yang dapat mendukung tercapainya tujuan. Beberapa kemungkinan untuk mengorganisasi isi pesan adalah sebagai berikut : a. Dari fakta yang telah diketahui ke fakta-fakta baru. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 110
  • b. Dari permulaan suatu proses sampai dengan penyimpulan. c. Dari prosedur yang mudah sampai kepada pengertian yang komplek. d. Dari hal yang kongkrit dan khusus menuju ke hal yang abstrak berupa pengertian, pemecahan masalah dan penalaran. e. Dari prinsip dan generalisasi yang bersifat umum ke fakta, observasi dan aplikasi. E. Mengembangkan alat ukur pendahuluan untuk menentukan latar belakang siswa dan tingkatan pengetahuan siswa untuk topik yang akan diajarkan. F. Menentukan dan memilih kegiatan belajar mengajar dan sumber-sumber pembelajaran yang akan digunakan untuk mengolah isi pengajaran sehingga siswa dapat mencapai tujuan yang telah dirumuskan. G. Koordinasikan hal-hal yang dapat memberikan dukungan dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar yang sesungguhnya, seperti dana, ketenagaan, fasilitas, peralatan, dan jadwal untuk melaksanakaan kegitan pembelajaran. H. Menilai belajar siswa dikaitka dengan seberapa jauh mereka telah mencapai tujuan pembelajaran dengan disertai pandagan bahwa rencana yang sudah direncanakan perlu diperbaiki bila diperlukan berdasarkan masukan atau feedback yang diperoleh dari pelksanaan penilaian yang telah dilakukan. 3.Strategi Pembelajaran Strategi pembelajaran yaitu spesifikasi untuk menyeleksi serta mengurutkan peristiwa belajar atau kegiatan pembelajaran dalam dalam suatu mata pelajaran (Seels & Richey). Teori tentang strategi pembelajaran meliputi situasi belajar dan komponen belajar/mengajar. Seorang desainer menggunakan teori atau komponen strategi pembelajaran sebagai prinsip teknologi pembelajaran. Dalam mengaplikasikan suatu strategi pembelajaran bergantung pada situasi belajar, sifat materi dan jenis belajar yang dikehendaki. Dalam menerapkan strategi pembelajaran ada beberapa komponen yang harus diperhatikan agar dalam kegiatan pembelajaran tercapai suatu tujuan yang telah ditentukan. Menurut Dick and Carey menyebutkan adanya 5 komponen strategi pembelajaran yakni : a. Kegiatan pembelajaran pendahuluan. b. Penyampaian informasi. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 111
  • c. Partisipasi siswa d. Tes, dan e. Kegiatan lanjutan Berbeda dengan yang dikemukakan oleh Gagne and Briggs, komponen dalam strategi pembelajaran adalah : a. Memberikan motivasi atau menarik perhatian. b. Menjelaskan tujuan pembelajaran kepada siswa. c. Mengingatkan kompetensi prasyarat. d. Memberi stimulus (masalah, topik, konsep). e. Memberi petunjuk belajar (cara mempelajari). f. Menimbulkan penampilan siswa. g. Memberi umpan balik. h. Menilai penampilan. i. Menyimpulkan. Berdasarkan rumusan komponen strategi pembelajaran yang dikemukakan para ahli secara garis besar dapat dikelompokkkan menjadi : a.Komponen pertama yaitu urutan kegiatan pembelajaran Mengurutkan kegiatan pembelajaran dapat memudahkan guru dalam pelaksanaan kegiatan mengajarnya, guru dapat mengetahui bagaimana ia harus memulainya, menyajikannya dan menutup pelajaran. 1. Sub komponen pendahuluan, merupakan kegiatan awal dalam pembelajaran. Kegiatan ini mempunyai tujuan untuk memberikan motivasi kepada siswa, memusatkan perhatian siswa agar siswa bisa mempersiapkan dirinya untuk menerima pelajaran dan juga mengetahui kemampuan siswa atau apa yang telah dikuasai siwa sebelumnya dan berkaitan dengan materi pelajaran yang akan disampaikan. Hal-hal yang dilakukan pada tahap ini adalah memberikan gambaran singkat tentang isi pelajaran, penjelasan relevansi isis pelajaran baru, dan penjelasan tentang tujuan pembelajaran. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 112
  • 2. Sub komponen penyajian, kegiatan ini merupakan inti dari kegiatan belajar mengajar. Dalam kegiatan ini pembelajar akan ditanamkan pengetahuan baru dan pengetahuan yang telah dimiliki dikembangkan pada tahap ini. Tahap-tahapnya adalah menguraikan materi pelajaran, memberikan contoh dan memberikan latihan yang disesuaikan dengan materi pelajaran. 3. Sub komponen penutup, merupakan kegiatan akhir dalam urutan kegiatan pembelajaran. Dilaksanakan untuk memberikan penegasan atau kesimpulan dan penilaian terhadap penguasaan materi pelajaran yang telah diberikan. b.Komponen kedua yaitu metode pembelajaran Metode pembelajaran adalah cara yang digunakan oleh pengajar dalam menyampaikan pesan pembelajaran kepada pembelajar dalam mencapai tujuan pembelajaran. Pengajar atau guru harus dapat memilih metode yang tepat yang disesuaikan dengan materi pelajaran agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Metode pembelajaran mungkin dapat dikatakan tepat untuk suatu pelajaran tetapi belum tentu tepat untuk pelajaran yang lainnya, untuk itu guru haruslah pandai dalam memilih dan menggunakan metode-metode pembelajaran mana yang akan digunakan dan disesuaikan dengan materi yang akan diberikan dan karakteristik siswa. Macam-macam metode pembelajaran adalah : 1. Metode ceramah 2. Metode demonstrasi 3. Metode simulasi 4. Metode studi kasus 5. Metode discovery 6. Metode diskusi 7. Metode bermain peran c.Komponen ketiga yaitu media yang digunakan. Media adalah segala bentuk dan saluran yang digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi. Media dapat berbentuk orang/guru, alat-alat elektronik, media cetak,dsb. Hal-hal yang harus dipertimbangkan dalam memilih media adalah : 1. Ketepatan dengan tujuan pembelajaran Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 113
  • 2. Dukungan terhadap isi pelajaran 3. Kemudahan memperoleh media 4. Keterampilan guru dalam menggunakannya 5. Ketersediaan waktu menggunakannya 6. Sesuai dengan taraf berpikir siswa. d.Komponen keempat adalah waktu tatap muka. Pengajar harus tahu alokasi waktu yang diperlukan dalam menyelesaikan pembelajaran dan waktu yang digunakan pengajar dalam menyampaikan informasi pembelajaran. Sehingga proses pembelajaran berjalan sesuai dengan target yang ingin dicapai. e. Komponen kelima adalah pengelolaan kelas. Kelas adalah ruangan belajar (lingkungan fisik) dan lingkungan sosio-emosional. Lingkungan fisik meliputi: ruangan kelas, keindahan kelas, pengaturan tempat duduk, pengaturan sarana atau alat-alat lain, dan ventilasi dan pengaturan cahaya. Sedangkan lingkungan sosio-emosional meliputi tipe kepemimpinan guru, sikap guru, suara guru, pembinaan hubungan baik, dsb. Pengelolaan kelas menyiapkan kondisi yang optimal agar proses belajar mengajar dapat berlangsung secara lancar 4. Karakteristik Pembelajar Karakteristik pembelajar yaitu aspek latar belakang pengalaman pembelajar yang mempengaruhi terhadap efektivitas proses belajarnya. Karaketeristik pembelajar mencakup keadaan sosio-psiko-fisik pembelajar. Secara psikologis, yang perlu mendapat perhatian dari karakteristik pembelajar yaitu berkaitan dengan kemampuannya (ability), baik yang bersifat potensial maupun kecakapan nyata dan kepribadiannya, seperti, sikap, emosi, motivasi serta aspek-aspek kepribadian lainnya. Analisis karakteristik pembelajar merupakan suatu pendekatan psikologis dalam rangka menggambarkan keadaan pembelajar. Karakter yang dimiki dapat berupa usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, tingkat pengalaman, pengalaman yang relevan, persepsi, kebutuhan yang dirasakan, dan berbagai kemugkinan yang lain terkait dengan pembelajar. Analisis karakteristik pembelajar merupakan titik awal dalam mempreskripsikan strategi pembelajaran. Bila tidak, maka teori-teori dan prinsip pembelajaran yang dikembangkan sama Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 114
  • sekali tidak akan ada gunakanya bagi pelaksanaan pembelajaran (Degeng, 1991 dalam Bambang warsito 2008). Oleh karena itu, karakteristik pembelajar sebagai satu fariabel yang paling berpengaruh dalam pengembangan strategi pembelajaran (Reigeluth, 1983 dalam bambang Warsito 2008). Kecenderungan dan Permasalahan Berpusat pada penggunaan desain system pembelajaran yang tradisional,aplikasi teori belajar dalam desain, dan pengaruh teknologi baru pada proses penyusunan desain. Satu masalah yang sangat penting ialah perlunya ada teori yang menghubungkan klasifikasi belajar dengan pemilihan media. Setiap langkah dalam proses desain system pembelajarandari analisis tugas sampai pada penilaian, kecuali pemilihan media mempunyai dasar landasan teori klasifikasi belajar dan prosedur untuk melaksanakannya. B. Kawasan pengembangan Pengembangan adalah proses penterjemahan spesifikasi desain ke dalam bentuk fisik. Kawasan pengembangan mencakup banyak variasi teknologi yang digunakan dalam pembelajaran. Walaupun demikian, tidak berarti lepas dari teori dan praktek yang berhubungan dengan belajar dan desain.Tidak pula kawasan tersebut berfungsi bebas dari penilaian, pengelolaan atau pemanfaatan.Melainkan timbul karena dorongan teori dan desain dan harus tanggap terhadap tuntutan penilaian formatif dan praktek.Pemanfaatan serta kebutuhan pengelolaan.Begitu pula, kawasan pengembangan tidak hanya terdiri dari perangkat keras pembelajaran, melainkan juga mencakup perangkat lunaknya, bahan-bahan visual dan audio, serta program atau paket yang merupakan paduan berbagai bagian. Di dalam kawasan pengembangan terdapat keterkaitan yang kompleks antara teknologi dan teori yang mendorong baik desain pesan maupun strategi pembelajaran. Pada dasarnya kawasan pengembangan dapat dijelaskan dengan adanya: (1) pesan yarig didorong oleh isi; (2) strategi pembelajaran yang didorong oleh teori; dan Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 115
  • (3) manifestasi ilsik dari teknologi – perangkat keras, perangkat lunak dan bahan pembelajaran. Ciri yang terakhir ini, yaitu teknologi.merupakan tenaga penggerak dari kawasan pengembangan. Berangkat dari asumsi ini, kita dapat merumuskan dan menjelaskan berbagai jenis media pembelajaran dan karakteristiknya. Akan tetapi, janganlah proses ini diartikan hanya sebagai suatu pengkategorisasian. Sebaliknya, sebagai elaborasi dari karakteristik prinsip-prinsip teori dan desain yang dimanfaatkan oleh teknologi. Kawasan pengembangan dapat diorganisasikan dalam empat kategori: (1) teknologi cetak (yang menyediakan landasan untuk kategori yang lain), (2) teknologi audiovisual, (3) teknologi berbasis komputer, dan ( 4) teknologi terpadu. Karena kawasan pengembangan mencakup fungsi-fungsi desain, produksi, dan penyampaian, maka suatu bahan dapat didesain dengan menggunakan satu jenis teknologi, diproduksi dengan menggunakan yang lain, dan disampaikan dengan menggunakan yang lain lagi.Deskripsi masing-masing cakupan dari kawasan pengembangan sebagai berikut. 1. Teknologi Cetak. Teknologi cetak adalah cara untuk memproduksi atau menyampaikan bahan. seperti buku-buku dan bahan-bahan visual yang statis. terutama melalui proses pencetakan mekanis atau fotografis. Subkategori ini mencakup representasi dan produksi teks, grafis.dan fotografis. Bahan cetak dan bahan visual ggunakan teknologi yang paling dasar dan membekas. Teknologi menjadi dasar untuk pengembangan dan pemanfataan dari kebanyakan bahan pembelajaran lain. Hasil dari teknologi ini berupa cetakan.Teks dalam penampilan komputer adalah suatu contoh penggunaan teknologi komputer untuk produksi.Apabila teks tersebut tak dalam bentuk ―cetakan‖ guna keperluan pembelajaran, ini merupakan contoh penyampaian dalam bentuk teknologi cetak. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 116
  • Dua komponen teknologi ini adalah bahan teks verbal dan bahan visual.Pengembangan kedua jenis bahan pembelajaran tersebut sangat bergantung pada teori persepsi visual, teori membaca, pengolahan informasi oleh manusia, dan teori belajar.Bahan pembelajaran yang tertua dan masih lazim, terdapat dalam bentuk buku teks dimana impresi sensoris menggambarkan realita melalui ungkapan wahana linguistik dan bahan visual cetak.Efektivitas relatif dari berbagai derajat kenyataan yang berbeda ditiinjukkan oleh sejumlah teori yang saling bertentangan (Dwyer, 1972; 1978). Dalam bentuknya yang paling murni, media visual dapat membawakan pesan yang lengkap, akan tetapi pada kenyataannya tidaklah selalu demikan yang terjadi dalam kebanyakan proses pembelajaran. Sering, kombinasi informasi berupa teks dan visual perlu diberikan. Cara bagaimana informasi cetak dan visual diorganisasikan dapat sangat membantu terjadinya jenis belajar yang diinginkan.Pada tingkat yang paling dasar.buku teks yang sederhana dapat menyajikan informasi yang diorganisasikan secara berurutan, dan dengan sangat mudah dapat dilacak secara acak. Teknologi cetak yang lain seperti pembelajaran terprogram, dikembangkan berdasarkan ketentuan teoritis dan strategi pembelajaran yang lain. Secara khusus teknologi cetak/visual mempunyai karakteristik seperti berikut: a. teks dibaca secara linier, sedangkan visual direkam menurut ruang; b. keduanya biasanya memberikan komunikasi satu arah yang pasif (hanya menerima); c. keduanya berbentuk visual yang starts; d. pengembangannya sangat tergantung kepada prinsip-prinsip linguistik dan persepsi visual; e. keduanya berpusat pada Pebelajar; dan f. informasi dapat diorganisasikan dan distrukturkan kembali oleh pemakai. 2. Teknologi Audiovisual. Teknologi audiovisual merupakan cara memproduksi dan menyampaikan bahan dengan menggunakan peralatan mekanis dan elektronis untuk menyajikan pesan-pesan audio dan visual. Pembelajaran audiovisual dapat dikenal dengan mudah karena menggunakan perangkat Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 117
  • keras di dalam proses pengajaran. Peralatan audiovisual memungkinkan pemroyeksian gambar hidup, pemutaran kembali suara, dan penayangan visual yang berukuran besar.Pembelajaran audiovisual didefinisikan sebagai produksi dan pemanfaatan bahan yang menyangkut pembelajaran melalui penglihatan dan pendengaran yang secara eksklusif tidak selalu harus tergantung kepada pemahaman kata-kata dan simbol-simbol sejenis.Secara khusus, teknologi audiovisual memproyeksikan bahan, seperti gambar hidup, pemutaran kembali suara, dan penayangan visual yang berukuran besar. Pembelajaran audiovisual didefinisikan sebagai produksi dan pemanfaatan bahan yang menyangkut pembelajaran melalui penglihatan dan pendengaran yang secara eksklusif tidak selalu harus tergantung kepada pemahaman kata-kata dan simbol-simbol sejenis. Secara khusus, teknologi audiovisual memproyeksikan bahan, seperti 11m, film bingkai dan transparansi. Akan tetapi, televisi merupakan suatu teknologi yang unik, karena dapat menjembatani teknologi audiovisual ke teknologi komputer dan teknologi terpadu.Video, manakala diproduksi dan disimpan sebagai pita video, jelas nerupakan audiovisual karena sifatnya yang linier dan biasanya dimaksudkan untuk memberikan presentasi secara ekspositori darpada iccara interaktif. Apabila informasi video direkam dalam cakram video (videodisc), maka informasi tersebut dapat diakses secara acak dan lebih menampilkan sifat-sifat teknologi komputer dan terpadu, yaitu tidak linier, dapat diakses secara acak dan dikendalikan oleh pebelajar.Secara khusus.teknologi audiovisual cenderung mempunyai karakteristik sebagai berikut: a. bersifal linier; b. menampilkan visual yang dinamis; c. secara khas digunakan menurut cara yang sebelumnya telah ditentukan oleh desainer/pengembang; d. cenderung merupakan bentuk representasi fisik dari gagasan yang nil dan abstrak; e. dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip psikologi tingkah laku dan kognitif; dan f. sering berpusat pada guru, kurang memperhatikan interak-tivitas belajar Pebelajar. 3. Teknologi berbasis Komputer. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 118
  • Teknologi berbasis komputer nerupakan cara-cara memproduksi dan menyampaikan bahan iengan menggunakan perangkal yang bersumber pada mikro-jrosesor. Teknologi berbasis komputer dibedakan dari teknologi lain carena memimpan informasi secara elektronis dalam bentuk digital, jukannya sebagai bahan cetak atau visual. Pada dasamva, teknologi jerbasis komputer menampilkan informasi kepada pebelajar melalui :ayangan di layar monitor Berbagai ―computer-based instruction jenis aplikasi komputer biasanya lisebut (CBIJ, computer- assisted instruction (CAI)‖ atau ―computer-managed instruction (CMI)‖. Aplikasi-aplikasi ini hampir seluruhnya dikembangkan berdasarkan teori perilaku dan pembelajarah terprogram, akan tetapi sekarang lebili banyak berlandaskan pada teori kognitif. (Jonassen, 1988). Jelasnya, ke empat bentuk aplikasi tersebut dapat bersifat tutorial, di mana pembelajaran utama diberikan; latihan dan perulangan, untuk membantu Pebelajar mengembangkan kefasihan dalam bahan yang telah dipelajari sebelumnya; permainan dan simulasi, untuk member! kesempatan menggunakan pengetahuan yang baru dipelajari; dan sumber data yang memungkinkan pebelajar untuk mengakses sendiri susunan data yang banyak menggunakan tata-cara pengaksesan (protocol) data yang ditentukan secara ekstemal. Teknologi komputer, baik yang berupa perangkat keras maupun perangkat lunak, biasanya memiliki karakteristik seperti berikut ini: a. Digunakan secara acak atau tidak benirutan, di samping secara linier; b. Dapat digunakan sesuai dehgan keingjnan Pebelajar, maupun menurut cara yang dirancang oleh desainer/pengembang; c. Gagasan-gagasan biasanya diungkapkan secara abstrak dengan menggunakan kata, simbol maupun grafis; d. Prinsip-prinsip ilmu kognitif diterapkan selama pengem-bangan; dan e. Belajar dapat berpusat pada pebelajar dengan tingkat inter-aktivitas yang tinggi. 4. Teknologi Terpadu. Teknologi terpadu merupakan cara untuk memproduksi dan menyampaikan bahan dengan memadukan beberapa jenis media yang dikendalikan komputer. Banyak orang percaya Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 119
  • bahwa teknik yang paling rumit untuk pembelajaran melibatkan perpaduan beberapa jenis media di bawah kendali sebuah komputer.Komponen perangkat keras dari sistem yang terpadu ini dapat terdiri dari komputer berkemampuan sangat tinggi dengan memori besar yang dapat mengakses secara acak, sebuah ―internal hard drive‖, dan sebuah monitor wama beresolusi tinggi. Peralatan periferal (pelengkap luar) komputer mencakup: alat pemutar video, alat penayangan tambahan, perangkat keras jaringan (networking), serta sistem audio . Perangkat lunak dari teknologi terpadu ini dapat berupa disket video, ―compact disk‖, program jaringan, serta informasi digital. Kesemuanya ini dapai dkendalikan dalam suatu program belajar hipermedia yang dijalankan dengan menggunakan sistem thoring‘ seperti ―HyperCard‖ atau ―Toolbook?‘.Keistimewaan yang ditampilkan oleh teknologi ini adanya interaktivitas pebelajar yang (1) Pembelajaran tinggi dengan dengan berbagai teknologi terpadu macam ini sumber belajar. mempunyai karakteristik sebagai berikut: (2) Dapat digunakan secara acak atau tidak berurutan, di samping secara linier. (3) Dapat digunakan sesuai dengan keinginan Pebelajar, di samping menurut cara seperti yang dirancang oleh pengembangnya. (4) Gagasan-gagasan sering disajikan secara realistik dalam konteks pengalaman pebelajar, relevan dengan kondisi pebelajar, dan di bawah kendali Pebelajar. (5) Prinsip-prinsip ilmu kognitif dan ‗konstruktivisme‘ diterapkan dalam pengeinbangan dan pemanfaatan bahan pembelajaran. (6) Belajar dipusatkan dan diorganisasikan menurut pengetahuan kognitif sehingga pengetahuan terbentuk pada saat digunakan. (7) Bahan belajar menunjukkan interaktivitas pebelajar yang tinggi. (8) Sifat bahan yang mengintegrasikan kata-kata dan tamsil dari banyak sumber media. Kecenderungan dan Permasalahan Kecenderungan dan permasalahan teknologi cetak dan teknologi audiovisual mencakup peningkatan perhatian terhadap desain teks, kerumitan visual serta penggunaan isyarat warna (Berry 1992). Kecenderungan dan permasalahan dalam teknologi komputer dan teknologi Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 120
  • terpadu dari kawasan pengembangan terletak pada tantangan mendesain teknologi interaktif, penerapan kontruktivisme dan teori belajar sosial, sistem pakar dan otomisasi peralatan pengembangan, serta aplikasi untuk belajar jarak jauh. C. Kawasan pemanfaatan Pemanfaatan adalah aktivitas menggunakan proses dan sumber untuk belajar. Mereka yang terlibat dalam pemanfaatan mempunyai tanggung-jawab untuk mencocokkan pebelajar dengan bahan dan aktivitas yang spesifik, menyiapkan pebelajar agar dapat berinteraksi dengan bahan dan aktivitas yang dipilih, memberikan bimbingan selama kegiatan, memberikan penilaian atas hasil yang dicapai pebelajar, serta memasukkannya ke dalam prosedur organisasi yang berkelanjutan. Fungsi pemanfaatan penting karena membicarakan kaitan pebelajar dengan bahan atau sistem pembelajaran.Jelas fungsi ini sangat kritis karena penggunaan oleh pebelajar merupakan satu-satunya raison d‘etre dari bahan pembelajaran. Mengapa kita hams bersusah-payah dengan pengadaan dan pembuatan bahan apabila tidak akan digunakan ?Kawasan pemanfaatan ini mempunyai jangkauan aktivitas dan strategi mengajar yang luas. Dengan demikian pemanfaatan menuntut adanya penggunaan, deseminasi.difusi, implementasi, dan pelembagaan yang sistematis. Hal tersebut dihambat oleh kebijakan dan peraturan.Fungsi pemanfaatan penting karena fungsi ini memperjelas hubungan pebelajar dengan bahan dan sistem pembelajaran. Keempat kategori dalam kawasan pemanfaatan ialah : (1) pemanfaatan media, (2) difusi inovasi, (3) implementasi dan institusionalisasi (pelembagaan), (4) serta kebijakan dan regulasi Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 121
  • 1.Pemanfaatan Media. Pemanfaatan media yaitu penggunaan yang sistematis dari sumber belajar. Proses pemanfaatan media merupakan proses pengambilan keputusan berdasarkan pada spesifikasi desain pembelajaran. Misalnya bagaimana suatu film diperkenalkan atau ditindaklanjuti dan dipolakan sesuai dengan bentuk belajar yang diinginkan. Prinsip-prinsip pemanfaatan media juga dikaitkan dengan karakteristik peserta didik. Seseorang yang belajar mungkin memerlukan bantuan keterampilan visual atau verbal agar dapat menarik keuntungan dari praktek atau sumber belajar. Kata media berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari kata ―Medium‖ yang secara harfiah diartikan sebagai Perantara atau Pengantar. Dalam bahasa arab media adalah perantara (‫ ) وسلئلم‬atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan. Beberapa ahli memberikan definisi tentang media pembelajaran: a. Lesle J. Briggs (1979), menyatakan bahwa media pembelajaran ―the physical means of conveying instructional content………book, films, videotapes, etc (media pembelajaran adalah sarana fisik untuk menyampaikan isi/materi pembelajaran seperti : buku, film, video dan sebagainya). b. Schramm (1977) mengemukakan bahwa media pembelajaran adalah teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran. c. National Education Associaton (1969) mengungkapkan bahwa media pembelajaran adalah sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun pandang-dengar, termasuk teknologi perangkat keras. Dari ketiga pendapat di atas disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan pesan, dapat merangsang fikiran, perasaan, dan kemauan peserta didik sehingga dapat mendorong terciptanya proses belajar pada diri peserta didik. Brown (1973) mengungkapkan bahwa media pembelajaran yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran dapat mempengaruhi terhadap efektivitas pembelajaran. Pada mulanya, media Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 122
  • pembelajaran hanya berfungsi sebagai alat bantu guru untuk mengajar yang digunakan adalah alat bantu visual. Sekitar pertengahan abad Ke –20 usaha pemanfaatan visual dilengkapi dengan digunakannya alat audio, sehingga lahirlah alat bantu audio-visual. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), khususnya dalam bidang pendidikan, saat ini penggunaan alat bantu atau media pembelajaran menjadi semakin luas dan interaktif, seperti adanya komputer dan internet. Beberapa contoh pemanfaatan media dalam kegiatan pembelajaran antara lain sebagai berikut : 1) Pemanfaatan Media Video dalam Kegiatan Pembelajaran Manfaat dari penggunaan media video pembelajaran pemelajar akan memperoleh berbagai informasi dalam lingkup yang lebih luas dan mendalam sehingga meningkatkan wawasannya. Hal ini merupakan rangsangan yang kondusif bagi berkembangnya kemandirian pemelajar terutama dalam hal pengembangan kompetensi, kreativitas, kendali diri, konsistensi, dan komitmennya baik terhadap diri sendiri maupun terhadap pihak lain. Program video pembelajaran sebaiknya dimanfaatkan secara terintegrasi dalam kegiatan pembelajaran di sekolah. Untuk itu guru perlu merencanakan pemanfaatan video pembelajaran dalam program rencana pembelajaran yang dibuat di awal semester. Langkah-langkah pemanfaatan program video pembelajaran dalam kegiatan pembelajaran, yaitu: a. Mengidentifikasi materi dan program video pembelajaran yang ada serta peralatan yang dibutuhkan. b. Merancang topic-topik yang akan didiskusikan. c. Menyususun rancangan kegiatan sebagai tindak lanjut dari pemanfaatan program video pembelajaran. Secara umum langkah-langkah tersebut dapat dibagi lagi menjadi beberapa tahap, yaitu: Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 123
  • 1. Tahap persiapan, yaitu : a) menyusun rancangan pemanfaatan video pembelajaran yang terintegrasi dalam RPP, b) kegiatan-kegiatan sebelum memanfaatkan program video pembelajaran, seperti; menyiapkan ruangan, mengatur posisi peserta didik, dan memberikan apersepsi atau tujuan yang ingin dicapai dari kegiatan tersebut. 2. Tahap pelaksanaan, yaitu guru mengawasi peserta didik selama menyaksikan program video pembelajaran agar berlangsung tertib. 3. Tindak lanjut, yaitu setelah selesai penayangan guru hendaknya memberikan penjelasan atau ulasan terhadap materi yang telah dibahas dan sebagainya. 2) Pemanfaatan Kaset Audio dalam Kegiatan Pembelajaran Program kaset audio interaktif termasuk salah satu media yang sudah memasyarakat, cukup ekonomis, biayanya relatif murah, yang sudah dibuat oleh Pustekkom Depdiknas. Program ini didesain sedemikian rupa sehingga peserta didik dimungkinkan dapat terlibat secara aktif dan terus menerus berinteraksi dengan guru radio. Mengingat pelajaran yang baik harus selalu bersifat interaktif. Artinya peserta didik dapat memberikan respon setelah mendengarkan program audio. Program kaset audio interaktif dapat dimanfaatkan di dalam kelas di bawah bimbingan guru. Program yang dikemas di dalam kaset audio ini memungkinkan peserta didik dapat belajar baik secara individual maupun kelompok dengan atau tanpa bimbingan guru. Langkah-langkah pemanfaatannya adalah sebagai berikut: A) Sebelum pemutaran program audio. (1) Apabila program audio akan dimanfaatkan secara klasikal guru perlu menyiapkan diri dengan: a) Mempelajari bahan-bahan cetak yang telah tersedia atau catatan mengenai program audio tersebut dan mendengarkan rekamannya terlebih dahulu. b) Merangsang motivasi peserta didik Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 124
  • c) Membuat catatan tentang hal-hal penting yang berhubungan dengan program audio. d) Menjelaskan tujuan atau kompetensi yang ingin dicapai. e) Menyiapkan bahan yang akan didiskusikan oleh peserta didik. f) Memperhatikan bagian yang sukar dalam program audio tersebut. g) Menjelaskan apa yang harus dilakukan peserta didik waktu mendengarkan program audio. (2) Mempersiapkan peserta didik dan ruangan agar peserta didik dapat mendengarkan dengan baik program audio. B) Pada saat pemutaran program audio (1) Guru dan peserta didik harus berada pada tempatnya masing-masing agar dapat konsentrasi saat mendengarkan program audio. (2) Peserta didik harus mencatat hal-hal yang kurang jelas atau belum dimengerti untuk ditanyakan atau didiskusikan setelah program berakhir. (3) Peserta didik mengerjakan tugas-tugas atau LKS jika ada sesuai perintah dalam program audio. C) Tindak lanjut (1) Guru menginformasikan tugas-tugas atau latihan yang harus dikerjakan. (2) Guru menginformasikan tentang rencana pertemuan selanjutnya. (3) Guru memotivasi peserta didik untuk tetap belajar dengan giat. 3) Pemanfaatan Komputer dan Jaringan Internet dalam Kegiatan Pembelajaran Menurut Bambang Warsita (2008), pembelajaran berbantuan computer dapat dimasukkan dalam dua kategori yaitu computer mandiri (stand alone) dan computer dalam jaringan internet. Perbedaan yang utama antara keduanya terletak pada aspek interaktivitas. Dalam pembelajaran computer mandiri interaktivitas peserta didik terbatas pada interaksi dengan bahan belajar yang Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 125
  • ada dalam program pembelajaran. Sedangkan pembelajaran dengan computer jaringan internet, interaktivitas peserta didik menjadi lebih banyak alternatifnya. Pada pembelajaran dengan computer jaringan internet dikenal dua jenis fungsi computer, yaitu computer server dan computer klien. Interaksi antara peserta didik dengan guru dilakukan melalui kedua jenis computer tersebut. Sekolah menyediakan computer server untuk melayani interaksi melalui website server, e-mail server, mailinglist server, chat server. Sedangkan peserta didik dan guru menggunakan computer klien yang dilengkapi dengan browser, e-mail client, dan chat client. Selain berinteraksi dengan program pembelajaran, peserta didik dapat pula berinteraksi dengan narasumber dan peserta didik lain yang dapat dihubungi dengan jaringan internet dengan memanfatkan e-mail atau mailinglist, serta mereka dapat mengakses program pembelajaran yang relevan dari sumber lain dengan mengakses website yang menawarkan program pembelajaran secara gratis. Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan guru dalam pemanfaatan media pembelajaran (by utilization, Erickson dan Curl (1972) (Bambang Warsita; 2008) mengembangkan proses pemilihannya dalam bentuk checklist, sebagai berikut: a) Apakah materinya penting dan berguna bagi peserta didik? b) Apakah dapat menarik minat peserta didik untuk belajar? c) Apakah ada kaitan yang mengena dan langsung, dengan kompetensi atau tujuan khusus yang hendak dicapai? d) Bagaimana format penyajiannya diatur dengan memenuhi sekuen atau tata urutan belajar? e) Apakah materti yang disajiakan actual, mutakhir dan otenteik? f) Apakah konsep dan faktanya terjamin kecermatannya? g) Apakah isi dan presentasinya memenuhi standar selera? h) Bila tidak, apakah ada keseimbangan controversial? Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 126
  • Selain itu setiap sekolah harus mampu memanfaatkan alternative teknologi yang tersedia tanpa meninggalkan perhatian atas empat aspek penting dari teknologi itu, yaitu: a) aksessibilitas; b) biaya; c) efektifitas dalam fungsi pembelajaran; dan d) kemampuan teknologi untuk mendukung interaktivitas antara peserta didik dan tenaga pendidik. 2. Difusi Inovasi Kawasan pemanfaatan dipusatkan pada aktivitas guru dan ahli media yang membantu guru, Model dan teori dalam kawasan pemanfaatan cenderung terpusat pada perspektif pengguna. Akan tetapi, dengan diperkenalkannya konsep difusi inovasi pada akhir tahun 1960-an yang mengacu pada proses komunikasi dan melibatkan penggunaan dalam mempermudah proses adopsi suatu gagasan, perhatian kemudian berpaling ke prespektif penyelenggara. Pemanfaatan tergantung pada upaya membangkitkan kesadaran, keinginan mencoba dan mengadopsi inovasi. Definisi AECT tahun 1977 menggabungkan pemanfaatan dan desiminasi menjadi satu fungsi, yaitu Pemanfaatan Desiminasi. Tujuan dan fungsi tersebut ialah ―memperkenalkan pebelajar dengan 1977-66). Definisi tahun 1977 juga memasukan suatu fungsi pemanfaatan tersendiri dengan definisi yang sama ―memperkenalkan pebelajar dengan sumber belajar dan komponen sistem pembelajar ―usaha yang secara sengaja dan sistematis untuk membuat orang lain sadar akan adanya suatu perkembangan dengan cara menyebarkan informasi ― (Ellington dan Harris, 1986, hal 51), dimasukan ke dalam difusi sebagai subkategori inovasi dan kawasan pemanfaatan. Begitu produk inovasi telah diadopsi, proses implementasi dan pemanfaatan dimulai. Untuk menilai inovasi harus ada implementasi. Difusi Inovasi adalah proses berkomunikasi melalui strategi yang terencana dengan tujuan untuk diadopsi. Tujuan akhir yang dicapai ialah untuk terjadinya perubahan. Tahap pertama dalam proses ini ialah membangkitkan kesadaran melalui desiminasi informasi. Proses tersebut meliputi tahap – tahap seperti kesadaran, minat, pencobaan dan adopsi. Menurut Rogers (1983) langkah – langkah difusi tersebut adalah pengetahuan, persuasi atau bujukan, keputusan, implementasi, dan konfirmasi. Secara khas proses tersebut mengikuti Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 127
  • model proses komunikasi yang menggunakan alur multi-langkah termasuk komunikasi yang menggunakan ―gatekeepers‖ atau penjara lalu-lintas informasi, misalnya sekretaris, perantara, dan ―opinion leaders‖ atau tokoh panutan. Melalui proses difusi tersebut memungkinkan suatu inovasi diketahui oleh banyak orang dan dikomunikasikan sehingga tersebar luas dan akhirnya digunakan di masyarakat. Proses difusi biasanya terjadi karena ada pihak-pihak yang menginginkannya, atau secara sengaja merencanakan dan mengupayakannya. Dalam proses difusi terjadi interaksi antara empat elemen, yaitu karakteristik inovasi itu sendiri, bagaimana informasi tentang inovasi dikomunikasikan, waktu, dan sifat sistem sosial di mana inovasi diperkenalkan. Dalam proses difusi inovasi kadang kala membawa keberhasilan yang gemilang karena inovasi diterima dengan baik oleh masyarakat, daan kadang kala mengalami kendala sehingga menghambat keberhasilan dan bahkan kegagalan karena ditolak oleh masyarakat. Dengan demikian, proses difusi inovasi mendatangkan konsekuensi-konsekuensi. Dalam hal ini, penting dilakukan proses desiminasi, yaitu yang sengaja dan sistematis untuk membuat orang lain sadar adanya suatu perkembangan dengan cara menyebarkan informasi. Desiminasi ini merupakan tujuan awal dari difusi inovasi. Langkah-langkah difusi menurut Rogers (1983) adalah: 1. Pengetahuan 2. Persuasi atau bujukan 3. Keputusan 4. Implementasi 5. Konfirmasi Dalam konteks teknologi pembelajaran, inovasi mengacu kepada pemanfaatan teknologi canggih, baik perangkat lunak (software) maupun perangkat keras (hardware) dalam proses pembelajaran. Tujuan utama aplikasi teknologi baru ini adalah untuk meningkatkan mutu pembelajaran, efektifitas dan efisiensi. Metode dan strategi pembelajaran juga merupakan sebuah inovasi dalam pembelajaran. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 128
  • 3. Implementasi dan Institusionalisasi (Pelembagaan) Implementasi ialah penggunaan bahan dan strategi pembelajaran dalam keadaan yang sesungguhnya (bukan tersimilasikan). Sedangkan Institusionalisasi (pelembagaan) ialah penggunaan yang rutin dan pelestarian dari inovasi pembelajaran dalam suatu struktur atau budaya organisasi. Keduanya tergantung pada perubahan individu maupun organisasi. Begitu produk inovasi telah mulai diadopsi , proses implementasi dan pemanfaatan dimulai. Bidang implementasi dan Institusionalisasi (pelembagaan) yang didasarkan pada penelitian, belum berkembang sebaik bidang-bidang yang lain. Tujuan implementasi ialah untuk menjamin adanya pemakaian secara benar oleh individu dalam organisasi. Tujuan institusionalisasi ialah untuk memadukan inovasi dalam struktur dan dalam kehidupan organisasi. Sebagian kegagalan masa lalu dalam proyek teknologi pembelajaran skala besar, seperti computer di sekolah dan televise pemblajaran, menekankan pentingnya perencanaan untuk perubahan individu dan perubahan organisasi (Cuban, 1986). 4. Kebijakan dan Regulasi Kebijakan dan regulasi adalah aturan dan tindakan dari masyarakat yang mempengaruhi penyebaran (difusi) dan pemanfaatan teknologi pembelajaran. (Seels & Richery, 2000:51). Kebijakan pemerintah mempengaruhi pemanfaatan teknologi. Kebijakan dan regulasi biasanya dihambat oleh permasalahan etika dan ekonomi. Misalnya hukum dan hak cipta yang dikenaka pada pengguna teknologi baik untuk teknologi cetak, teknologi audio visual, teknologi berbasis komputer maupun teknologi terpadu atau multimedia (Bambang Warsita, 2008:50). C. Kecenderungan dan permasalahan Kecenderungan dan permasalahan dalam kawasan pemanfaatan umumnya berkisar pada kebijakan dan peraturan yang mempengaruhi penggunaan, difusi, implementasi dan pelembagaan. Masalah lain yang berkaitan dengan kawasan ini ialah bagaimana gerakan Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 129
  • restrukturisasi sekolah dapat mempengaruhi penggunaan sumber pembelajaran. Peran teknologi dalam restrukturisasi sekolah masih berjalan. Pertumbuhan yang pesat dari bahan dan sistem yang berbasis komputer telah menigkatkan resiko politik dan ekonomi bagi yang akan mengadakan adopsi. Kaum profesi Teknologi pembelajaran sekarang sedang mempertimbangkan keputusan untuk mempertimbangkan keputusan untuk pengeluaran jutaan dolar yang akan berpengaruh bukan saja berpengaruh terhadap guru secara perseorangan dan ruangan kelas. Tetapi terhadap seluruh wilayah persekolahan, perguruan tinggi, dan badan usaha. Bidang ini nampaknya terlibat pada permasalahan politik dan ekonomi tingkat organisasi secara keseluruhan. Faktor-faktor ini sering berdampak pada cara bagaimana pemanfaatan harus dilakukan. D. Kawasan pengelolaan Konsep pengelolaan merupakan bagian integral dalam bidang teknologi Pembelajaran dan dari peran kebanyakan para teknolog pembelajaran. Secara perorangan tiap ahli dalam bidang ini dituntut untuk dapat memberikan pelayanan pengelolaan dalam berbagai latar.seorang teknolog pembelajaran mungkin terlibat dalam usaha pengelolaan projek pengembangan pembelajaran atau pengelolaan pusat media sekolah. Tujuan yang sesungguhnya dari pengelolaan kasus demi kasus dapat sangat bervariasi, namun keterampilan pengelolaan yang mendasarinya relatif tetap sama apapun kasusnya. Kawasan pengelolaan semula berasal dari administrasi pusat media, program media dan pelayanan media Pembauran perpustakaan dengan program media membuahkan pusat dan ahli perpustakaan media sekolah. Program-program media sekolah ini menggabungkan bahan cetak dan non-cetak sehingga timbul peningkatan penggunaan sumber-sumber teknologikal dalam kurikulum. Pada tahun 1976 Chisholm dan Ely menulis buku Media Personnel in Education: A Competency Approach yang menekankan bahwa administrasi program media memegang peran sentral dalam khasanah teknologi pembelajaran. Definisi AECT tahun 1977 membagi fungsi pengelolaan dalam pengelolaan organisasi dan pengelolaan personil, seperti halnya yang dilakukan oleh para administrator dari program Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 130
  • dan pusat media.Pengelolaan meliputi pengendalian Teknologi Pembelajaran ilalui perencanaan.pengorganisasian. pengkoordinasian dan supervisi. Pengelolaan biasanya merupakan hasil dari penerapan atu sistem nilai. Kerumitan dalam mengelola berbagai macam sumber, personil, usaha desain maupun pengembangan akan semakin meningkat dengan membesarnya usaha dari sebuah sekolah atau bagian kantor yang kecil menjadi kegiatan pembelajaran berskala nasional atau menjadi perusahaan multi-nasional dengan skala global. Terlepas dari besamya program atau proyek Teknologi Pembelajaran yang ditangani. salah satu kunci keberhasilan yang esensial adalah pengelolaan. Perubahan jarang terjadi hanya pada tingkat pembelajaran yang mikro.Untuk menjamin keberhasilan dari tiap intervensi mbelajaran, proses perubahan perilaku kognitif maupun afektif harus terjadi bersamaan dengan perubahan pada tingkat makro. Para anager program dan projek Teknologi Pembelajaran yang mencari mber tentang cara bagaimana merencanakan dan mengelola berbagai model perubahan pada tingkat makro, pada umumnya akan mengalami kekecewaan. (Greer, 1992; Hannum dan Hansen, 1989; smiszowski, 1981 ).Secara singkat,Ada empat kategori dalam kawasan pengelolaan : (1) pengelolaan proyek, (2) pengelolaan sumber, (3) pengelolaan sistem penyampaian dan (4) pengelolaan informasi. Di dalam setiap subkategori tersebut ada seperangkat tugas yang sama yang harus lakukan. Organisasi harus dimantapkan, personil harus diangkat dan supervisi.dana harus direncanakan dan dipertanggungjawabkan, dan fasilitas harus dikembangkan serta dipelihara. 1. Pengelolaan Proyek. Pengelolaan proyek meliputi perencanaan, monitoring dan pengendalian proyek desain dan pengembangan.Menurut Rotliwell dan Kazanas (1992), pengelolaan proyek berbeda dengan pengelolaan tradisional, yaitu organisasi garis & staf (line and staff management). Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 131
  • Perbedaan itu disebabkan karena:staf proyek mungkin baru, yaitu anggota tim untuk jangka pendek:pengelola proyek biasanya tidak mempunyai wewenang jangka panjang atas orang karena sifat tugas mereka yang sementara, dan pengelola proyek memiliki kendali dan fieksibilitas yang lebih‘luas dari yang biasa terdapat pada organisasi garis dan staf. Para pengelola proyek bertanggung jawab atas perencanaan.penjadwalan dan pengendalian fungsi desain pembelajaran atau jenis-jenis projek yang lain. Mereka harus melakukan negosiasi.menyusun anggaran, membentuk sistem pemantauan informasi, serta menilai kemajuan. Peran pengelolaan projek biasanya berhubungan dengan cara mengatasi ancaman projek dan memberi saran perubahan ke dalam. 2. Pengelolaan Sumber. Pengelolaan sumber mencakup perencanaan, pemantauan, dan pengendalian sistem pendukung dan pelayanan sumber: Pengelolaan sumber sangat penting artinya karena mengatur pengendalian akses. Pengertian sumber dapat mencakup personil, keuangan, bahan baku, waktu, fasilitas, dan sumber pembelajaran. Sumber pembelajaran mencakup semua teknologi yang telah dijelaskan pada kawasan pengembangan. Efektivtias biaya dan justifikasi belajar yang efektif merupakan dua karakteristik penting dari pengelolaan sumber. 3. Pengelolaan Sistem Penyampaian. Pengelolaan sistem penyampaian meliputi perencanaan, pemantauan, pengendalian ―cara bagaimana distribusi bahan pembelajaran diorganisasikan … Hal tersebut merupakan suatu gabungan medium dan cara penggunaan yang dipakai dalam menyajikan informasi pembelajaran kepada pebelajar‖ (Ellington dan Harris, 1986 : 47). Contoh pengelolaan seperti itu terdapat pada proyek belajar jarak jauh di National Technological University dan Nova University. Pengelolaan sistem penyampaian memberikan perhatian pada permasalahan produk seperti persyaratan perangkat keras/lunak dan dukungan teknis lerhadap pengguna maupun operator. Pengelolaan ini juga memperhatikan permasalahan proses seperti pedoman bagi desainer dan instruktor atau pelatih. Dari sekian banyak parameter ini keputusan harus diambil Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 132
  • berdasarkan pada kesesuaian karakteristik teknologi dengan tujuan pembelajaran.Keputusan tentang pengelolaan sistem penyampaian ini sering tergantung pada sistem pengelolaan sumber. 4. Pengelolaan informasi. Pengelolaan informasi meliputi perencanaan.pemantauan dan pengendalian cara penyimpanan, pengiriman/pemindahan atau pemrosesan informasi dalam rangka tersedianya sumber untuk kegiatan belajar. Cukup banyak tumpang-tindih terjadi antara penyimpanan, pengiriman/pemindahan dan pemrosesan karena fungsi yang satu sering diperlukan untuk melakukan fungsi yang lain. Teknologi yang dijelaskan pada kawasan pengembangan merupakan metoda penyimpanan dan penyampaian. Penyiaran atau transfer informasi sering terjadi melalui teknologi terpadu. ―Pemrosesan adalah pengubahan beberapa aspek informasi [melalui program komputer] … agar lebih sesuai dengan tujuan tertentu‖ (Lindenmayer, 1988, hal. 317).Pengelolaan informasi penting untuk memberikan akses dan keakraban pemakai.Pentingnya pengelolaan informasi terletak pada potensinya untuk mengadakan revolusi kurikulum dan aplikasi desain pembelajaran. Pertumbuhan ilmu maupun industri pengetahuan di luar yang saat ini dapat diakomodasikan menunjukkan bahwa hal ini merupakan bidang yang sangat penting bagi Teknologi Pembelajaran di masa datang. Pengelolaan system penyimpanan informasi untuk tujuan pembelajaran tetap akan terupakan komponen penting dari bidang Teknologi Pembelajaran. Kecenderungan dan Permasalahan Kecenderungan terhadap peningkatan dan pengelolaan kualitas dari dunia industri nampaknya akan menyebar ke dunia pendidikan. Jika demikian hal tersebut akan membawa dampak pada kawasan pengelolaan. Mengurangi hal ini akan menjadi tantangan bagi para pengelola untuk menggunakan sumber-sumber yang ada sekarang secara lebih baik E. Kawasan penilaian Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 133
  • Penilaian ialah proses penentuan memadai tidabiya pembel-ajaran dan belajar. Penilaian mulai dengan analisis masalah.Ini merupakan langkah awal yang penting dalam pengembangan dan penilaian pembelajaran karena tujuan dan hambatan dijelaskan pada langkah ini. Dalam kawasan penilaian dibedakan pengertian antara penilaian program, penilaian projek dan penilaian produk.Masing-masing merupakan jenis penilaian penting untuk perancang pembelajaran, seperti halnya penilaian formatif dan penilaian sumatif. Menurut Worthen dan Sanders (1987):Penilaian merupakan penenluan nilai dari suatu barang. Dalam pendidikan, hal itu berarti penentuan secara formal mengenai kualitas. efektivitas atau nilai dari suatu program, produk, proyek, proses, tujuan, atau kurikulum. Penilaian menggunakan metoda inkuiri dan pertimbangan, termasuk : a. penentuan standar untuk mempertimbangkan kualitas dan menentukan apakah standar tersebut harus bersifat relatif atau absolut; b. pengumpulan informasi; dan c. menerapkan penggunaan standar untuk menentukan kualitas. Seperti terlihat pada konsep dasar dari kata ‗penilaian‘, kunci konsep tersebut terletak pada penentuan ‗nilai‘.Bahwa kegiatan tersebut dilakukan secara teiiti, akurat, dan sistematis merupakan urusan bersama antara evaluator dan klien.Suatu cara yang penting untuk membedakan penilaian ialah dengan mengklasifikasikannya menurut obyek yang sedang dinilai. Pembedaan yang lazim ialah menurut program, proyek, dan produk bahan. Suatu komisi ―The Joint Committee on Standards for Educational Evaluation‖ (Komisi Gabungan Standar Penilaian Pendidikan) pada tahun 1981 memberikan definisi untuk masing-masing jenis penilaian ini sebagai berikut: 1.Penilaian program Evaluasi yang menaksir kegiatan pendidikan yang memberikan pelayanan secara berkesinambungan dan sering terlibat dalam pern usunan kurikulum. Sebagai conloh misalnya penilaian untuk program membaca dalam suaru wilayah persekolahan, program pendidikan Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 134
  • khusus dari pemerintah daerah, atau suatu program pendidikan berkelanjutan dari suatu universitas. 2.Penilaian proyek Evaluasi untuk menaksir kegiatan yang dibiayai secara khusus guna melnkukan suaru rugas tertentu dalam suatu kurun waklu.Sebagai conloh, suatu lokakarya liga hari mengenai lujuan perilaku, atau suatu proyek demontrasi pendidikan karir yang lamanya tiga tahuan.Kunci perbedaan antara program dan proyek ialah bahwa program diharapkan berlangsung dalam waktu yang tidak terbatas, sedangkan proyek biasanya diharapkan berjangka pendek.Proyek yang dilembagakan dr.lam kenyataannya menjadi program. 3.Penilaian bahan (produk pembelajaran) Evaluasi yang menaksir kebaikan atau manfaat isi yang menyangkut benda-benda fisik, termasuk buku, pedoman kiirikulum, film, pita rekaman, dan produk pembelajaran lainnya yang dapat dipegang. Dalam kawasan penilaian terdapat empat subkawasan : (1) analisis masalah, (2) pengukuran acuan-patokan, (3) penilaian formatif dan penilaian sumatif. Masing-masing subkawasan ini akan dibalias berikut ini. 1. Analisis Masalah. Analisis masalah mencakup cara penen-tuan sifat dan parameter masalah dengan menggunakan strategi pengumpulan informasi dan pengambilan keputusan. Telah lama para evaluator yang piawai berargumentasi bahwa penilaian yang seksama mulai saat program tersebut dirumuskan dan direncanakan. Bagai-manapun baiknya anjuran orang, program yang diarahkan pada tujuan yang tidak/kurang dapat diterima akan dinilai gagal memenuhi kebutuhan. Jadi, kegiatan penilaian meliputi identifikasi.penentuan sejauh mana masalahnya dapat diklasifikasikan sebagai pembelajaran, identifikasi hambatan, sumber dan karakteristik pebelajar, serta penentuan tujuan dan prioritas (Seels and Glasgow, 1990). Kebutuhan telah dirumuskan Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 135
  • sebagai ―jurang antara ‗apa yang ada‘ dan ‗apa yang seharusnya ada dalam pengertian hasil‖ (Kaufman, 1972).Sedangkan penilaian kebutuhan adalah suatu studi yang sistematis mengenai kebutuhan ini. Di sini perlu ada pembedaan yang tegas.Analisis kebutuhan diadakan bukannya untuk melaksanakan penilaian yang lebih dapat dipertahankan saat proyek berjalan, melainkan untuk perencanaan program yang lebih memadai. 2. Pengukuran Acuan-patokan (PAP). Pengukuran acuan-patokan meliputi teknik-teknik untuk menentukan kemampuan pebelajar menguasai materi yang telah ditentukan sebelumnya.Pengukuran acuan-patokan, yang sering berupa tes, juga dapat disebut acuan-isi, acuan-tuiuan, atau acuan-kawasan.Sebab, kriteria tentang cukup tidakma hasil belajar ditentukan oleh seberapa jauh pebelajar telah mencapai tujuan. PAP memberikan informasi tentang penguasaan seseorang mengenai pengetahuan, sikap, atau keterampilan yang berkaitan dengan tujuan.Keberhasilan dalam tes acuan-patokan berarti dapat melaksanakan kemarnpuan tertentu. Biasanya ditentukan skor minimal, dan mereka yang dapat mencapai atau melampaui skor tersebut dinyatakan lulus tes. Balas jumlah pengikut tes yang dapat lulus atau dapat mengerjakan tes dengan baik tidak ada, karena PAP tidak membandingkan antara pengikut tes. Pengukuran acuan-patokan memberitahukan pada para siswa seberapa jauh mereka dapat mencapai standar yang ditentukan. Soal-soal acuan-patokan digunakan pada seluruh proses pembelajaran untuk mengukur apakah prasyarat-prasyarat telah dikuasai. Pengukuran acuan patokan dapat dipakai untuk menentukan apakah tujuan utama telah dicapai (Seels dan Glasgow, 1990).Para desainer kurikulum dan pendidik lainnya tertarik pada pengukuran acuan-patokan ini sebelum Mager menjelaskan tujuan perilaku (Tyler, 1990). Kontributor pertama terhadap aplikasi pengukuran acuan-patokan dalam Teknologi Pembelajaran berasal dari gerakan pembelajaran terprogram termasuk James Popham dan Eva Baker (Baker, 1972; Popham, 1973).Kontributor berikutnya yalah Sharon Shrock dan William Coscarelli (Shrock dan Coscarelli, 1989). Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 136
  • 3. Penilaian Formatif dan Sumatif. Penilaian formatif berkaitan dengan pengumpulan informasi tentang kecukupan dan penggunaan informasi ini sebagai dasar pengembangan selanjutnya.Sedangkan penilaian sumatif berkaitan dengan pengumpulan informasi tentang kecukupan untuk pengambilan keputusan dalam hal pemanfaatan.Penekanan baik untuk penilaian formatif pada tahap-tahap awal dari pengembangan produk, maupun penilaian sumatif setelah kegiatan pembelajaran merupakan perhatian utama dari para teknolog pembelajaran. Perbedaan kedua jenis penilaian ini patama kali dikemukakan oleh Scriven(1967); meskipun Cambre telah menelusuri kegiatan-kegiatan sejenis ini sampat tahun 1920an dan 1930an dalam pengembangan pembdajaran mdalui film dan radio (Cambre, yang dikutip dalam Flagg, 1990).Menurut Michael Scriven (1967): Penilaian formatif dilaksanakan pada vvaktu pengembangan atau perbaikan program atau produk (atau orang, dsb.). Penilaian ini dilaksanakan untuk keperluan staf dalam lembaga program dan biasanya tetap bersifat intern; akan tetapi penilaian ini dapat dilaksanakan oleh evaluator dalam atau luar atau (lebih baik lagi) kombinasi. Perbedaan antara formatif dan sumatif telah dirangkum dengan baik dalam sebuah kiasan dari Bob Slake ―Apabila juru masak mencicipi sup, hal tersebul formatif; apabila para tamu mencicipi sup tersebut.bal tersebut sumatif. Penilaian sumatif dilaksanakan setelah selesai clan bagi kepentingan pihak luar atau para pengambil keputusan (sebagai contoh: lembaga penyandang dana, atau calon pengguna, walaupun hal tersebut dapat dilaksanakan baik oleh evaluator dalam atau dalam untuk gabungan. Untuk alasan kredibiltas.lebih baik evaluator luar dilibatkan daripada sekedar merupakan penilaian formatif Hendakna jangan dikacaukan dengan penilaian hasil (outcome) yang sekedar menilai basil, bukannya proses — hal tersebut dapat berupa baik formatif maupun sumatif . Dalam pengembangan produk, penggunaan penilaian formatif dan sumatif khususnya penting pada berbagai tahap. Pada tahap-tahap awal pengembangan (tes tahap alpha), banyak macam perubahan dapat terjadi, dan (usaha) penilaian formatif dapat mempunyai jangkauan yang luas.Saat produk dikembangkan lebih lanjut, balikan jadi lebih khusus (tes beta), dan rentang alternatif penibalian yang iapat diterima jadi lebih terbatas.Hal ini merupakan dua buah contoh penilaian formatif. Ketika akhimya produk dilempar ke pasaran dan dinilai oleh pihak Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 137
  • luar, yang bertindak memberikan ―laporan konsumen‖, tujuan penilaian jelas sumatif yaitu membantu pembeli memilih suatu produk secara bijak. Pada tahap ini,tanpa penilaian total atas produk yang bersangkutan, revisi tidak mungkin dapat diadakan. Jadi, dalam pengembangan suatu produk, penggunaan peni-aian formatif dan sumatif bervariasi sesuai dengan tahap perkembangannya dan bahwa rentang saran yang dapat diterima dalam suatu kurun waktu menjadi semakin terbatas. Metoda yang digunakan dalam penilaian fonnatif berbeda dengan penilaian sumatif. Penilaian formatif mengandalkan pada kajian teknis dan tutorial.uji coba dalam kelompok kecil atau kelompok besar. Metoda pengumpulan data sering bersifat informal, seperti observasi, wawancara, dan tes ringkas.Sebaliknya, penilaian sumatif memerlukan prosedur dan metoda pengumpulan data yang lebih formal. Penilaian sumatif sering menggunakan studi kelompok komparatif dalam desain kuasi eksperimental.Keseimbangan antara pengukuran kuantitatif dan kualitatif perlu mendapat perhatian yang cukup dalam penilaian formatif maupun sumatif. Pengukuran kuantitatif lazim berhubungan dengan angka-angka dan biasanya bekerja menurut gagasan pengukuran obyektif. Pengukuran kualitatif lebih menekankan pada aspek-aspek subyektif dan bersifat pengkajian proyek.Hasil pengukuran kualitatif biasanya dilaporkan dalam bentuk uraian verbal. Kecenderungan dan Permasalahan Penilaian kebutuhan dan jenis ―Front-end analysis‖ yang lain semula berorientasi terutama pada perilaku dengan menitikberatkan pada data kinerja dan penjabaran materi/isi jadi bagian-bagian yang lebih kecil. Akan tetapi penekanan pada pengaruh konteks belajar yang sekarang memberi orientasi kognitif kadang-kadang orientasi kontruktivis pada proses penilaian kebutuhan. Bidang-bidang lain yang penting untuk diperhatikan ialah pengukuran untuk tujuan kognitif tingkatan tinggi, tujuan avektif dan tujuan psikomotor. Penelitian tentang pengukuran acuanpatokan yang berasaskan komputer akan merangsang kawasan ini. Tessmer (1993) mengusulkan suatu model penilaian formatif yang mengakomodasi suatu pendekatan ―Kebutuhan yang berlapis‖. Pendekatan ini memperhatikan sumber dan hambatan Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 138
  • setiap projek dan berusaha menghindari perencanaan lapisan-lapisan penilaian formatif yang berlajur-lajur dengan tidak dapat diselesaikan dalam sebuah projek. Kawasan berdasarkan definisi teknologi pendidikan menurut AECT (2008) Definisi terbaru tahun 2008 merupakan pengembangan dari kawasan sebelumnya, dan tiap kawasan melanjutkan perkembangannya. Definisi 2008 sudah lebih spesifik karena menekankan pada studi dan etika praktek. Berikut definisi teknologi pendidikan menurut AECT 2008 ―educational technology is the study and ethical practice of facilitating lerning and improving performance by creating, using, and managing appropriate technological process and resource‖ bahwa teknologi pembelajaran adalah studi dan etika praktek untuk memfasilitasi pembelajaran dan meningkatkan kinerja melalui penciptaan, penggunaan, dan pengaturan proses serta sumber daya teknologi. (Januszewski and Molenda, 2008:1). Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 139
  • DAFTAR PUSTAKA Warsita, Bambang, 2008. Teknologi Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta. Mazrur, 2011. Teknologi Pembelajaran, Malang: Intimedia, 2011. http://one-inspirations.blogspot.com/2012/12/identifikasi-sub-sub-domain-teknologi.html http://ismiepgb.blogspot.com/2012/09/kawasan-teknologi-pendidikan.html Miarso, Yusufhadi. 2011. Menyemai Benih Teknologi Pendidikan. Jakarta : Kencana Prenada Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 140
  • Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 141
  • BAB VI TEKNOLOGI PENDIDIKAN SEBAGAI KONSTRUK TEORITIK, BIDANG GARAPAN DAN PROFESI A. Latar Belakang Adanya sejumlah asumsi masyarakat yang dapat dijadikan sebagai landasan Teknologi Pendidikan adalah sebagai berikut : Masyarakat sekarang adalah masyarakat yang menggunakan teknologi untuk membantu memecahkan masalah yang dihadapi. Budaya teknologi mempengaruhi semua bidang kehidupan, termasuk pendidikan dan pembelajaran. Teknologi pembelajaran baru yang dikembangkan melalui riset dasar dan praktik lapangan di pandang mampu dan mememuhi syarat untuk memecahkan masalah-masalah pokok yang berhubungan dengan pembelajaran, organisasi dan administrasi sekolah. Penerapan teknologi pembelajaran baru tersebut akan membawa perubahan besar yang berpengaruh terhadap administrasi dan fasilitas sekolah, metode pembelajaran, serta peranan guru dan siswa. Teknologi pendidikan adalah sebuah konsep yang sangat kompleks dan memiliki definisi yang kompleks pula. Bilamana kita berfikir tentang Teknologi Pendidikan, kita dapat memikirkannya dalam tiga cara yaitu sebagai konstruksi teoritik, sebagai bidang garapan dan sebagai profesi. Agar kita dapat mendefinisikan sebagai tiga cara tersebut maka kita hendaknya terlebih dahulu menganalisis masing-masing cara tersebut sehingga kita dapat secara benar mendefinisikan Teknologi Pendidikan sesuai dengan cara yang seharusnya. Konstruk teoritik Sebuah abstraksi yang mencakup serangkaian ide dan prinsip tentang cara bagaimana pendidikan dan pembelajaran harus dilaksanakan dengan menggunakan teknologi, Bidang garapan adalah Aplikasi ide-ide dan prinsip-prinsip teoritik untuk memecahkan masalah-masalah konkret dalam bidang pendidikan dan pembelajaran. Bidang tersebut meliputi teknik-teknik yang digunakan, aktivitas yang dikerjakan, informasi dan sumber yang digunakan, dan klien yang dilayani oleh para pelaksana dalam bidang tersebut,Profesi adalah Suatu kelompok pelaksana tertentu yang diorganisasikan memenuhi criteria tertentu, memiliki tugas-tugas tertentu dan bergabung untuk membentuk bagian tertentu dari bidang tersebut. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 142
  • B. Adapun permasalahan yang akan dibahas pada makalah ini adalah 1) Teknologi Pendidikan Sebagai Konstruk Teoritik 2) teknologi pendidikan sebagai Bidang Garapan 3) teknologi pendidikan sebagiProfesi A. TEKNOLOGI PENDIDIKAN SEBAGAI KONSTRUK TEORITIK Untuk mendefinisikan Teknologi Pendidikan sebagai konstruksi teoritik hanya diperlukan karakteristik pertama di atas; suatu kesatuan teori intelektual yang selalu dikembangkan melalui kegiatan penelitian. Istilah teori yang dalam pembicaraan sehari-hari sering digunakan sebagai lawan kata praktek, yang mempunyai arti yang jelas yaitu : suatu prinsip umum yang didukung oleh data sebagai penjelasan terhadap sekelompok gejala atau suatu pernyataan tentang hubungan yang berlaku terhadap sejumlah fakta, suatu prinsip atau serangkaian prinsip yang menerangkan hubungan antara berbagai fakta dan meramalkan hasil baru berdasarkan fakta tersebut. Teknologi Pendidikan adalah proses kompleks yang terintegrasi meliputi orang, prosedur, gagasan, sarana dan organisasi untuk menganalisis masalah dan merancang, melaksanakan, menilai dan mengelola pemecahan masalah dalam segala aspek belajar manusia. Teknologi Pendidikan sebagai konstruk teori mencakup serangkaian ide dan prinsip tentang bagaimana cara pendidikan dan pembelajaran harus dilaksanakan dengan menggunakan teknologi. Suatu prinsip umum yang didukung oleh data sebagai penjelasan terhadap sekelompok gejala atau suatu pernyataan tentang hubungan yang berlaku thd sejumlah fakta. Suatu prinsip atau serangkaian prinsip yang menerangkan hubungan antara berbagai fakta dan meramalkan hasil baru berdasarkan fakta tsb. Teknologi pendidikan adalah suatu proses terpadu yang melibatkan orang, prosedur, gagasan, peralatan, dan organisasi untuk menganalisa masalah-masalah pendidikan dan cara pemecahan, mengimplemintasikan, mengevaluasi dan mengelola pemecahan masalah yang berkenaan dengan semua aspek belajar manusia. Pemecahan masalah dalam teknologi pendidikan adalah bagaimana sumber belajar itu didesain, dipilih dan digunakan untuk menciptakan kegiatan belajar. Paradigma baru pada teknologi pendidikan memberikan suatu pendekatan baru dalam memecahkan masalah-masalah pendidikan, namun demikian pendekatan baru tersebut merupakan penjabaran dan perluasan dari konsep-konsep terdahulu. Dengan demikian secara Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 143
  • langsung masih berhubungan dengan definisi dan diskripsi bidang teknologi pendidikan yang dihasilkan sebelumnya. Karakteristik teori dapat diidentifikasikan sebagai berikut : a) Adanya suatu gejala – harus masih ada beberapa gejala yang belum difahami sejelasjelasnya menurut pengetahuan yang ada sekarang; b) Menjelaskan – sebuah teori memberikan penjelasan tentang mengapa atau bagaimana gejala itu terjadi (sebagai kebalikan dari penegasan sederhana terhadap eksistensi suatu gejala); c) Merangkum – sebuah teori memberikan rangkuman tentang apa yang telah diketahui tentang hubungan antara sejumlah besar informasi empiric, konsep dan generalisasi; d) Memberikan orientasi – menentukan dan mempertajam fakta-fakta yang akan diteliti (dipelajari) serta membedakan antara data yang relevan dengan data yang tidak relevan; e) Mensistematiskan – memberikan skema unutuk mensistematiskan, mengklasifikasikan dan menghubungkan segala gejala, postulat dan dalil yang serasi; f) Mengidentifikasi kesenjangan – mencari bidang-bidang yang relevan namun diabaikan atau belum dipecahkan pada masa kini maupun buat studi di masa mendatang; g) Melahirkan strategi untuk keperluan riset – memberikan dasar untuk merumuskan hipotesis baru dan melaksanakan riset lebih mendalam berdasar atas penjelasan tersebut; h) Prediksi – dapat mengungkap hal-hal melebihi dari apa yang bisa diketahui berdasar atas data empiric sehingga dapat membuat estimasi dan memprediksi fakta baru dan hipotesis yang belum diketahui pada saat sekarang; Teknologi pendidikan adalah suatu proses terpadu yang melibatkan orang, prosedur, gagasan, peralatan, dan organisasi untuk menganalisa masalah-masalah pendidikan dan cara pemecahan, mengimplemintasikan, mengevaluasi dan mengelola pemecahan masalah yang berkenaan dengan semua aspek belajar manusia. Pemecahan masalah dalam teknologi pendidikan adalah bagaimana sumber belajar itu didesain, dipilih dan digunakan untuk menciptakan kegiatan belajar. Paradigma baru pada teknologi pendidikan memberikan suatu pendekatan baru dalam memecahkan masalah-masalah pendidikan, namun demikian pendekatan baru tersebut merupakan penjabaran dan perluasan dari konsep-konsep terdahulu. Dengan demikian secara Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 144
  • langsung masih berhubungan dengan definisi dan diskripsi bidang teknologi pendidikan yang dihasilkan sebelumnya B. TEKNOLOGI PENDIDIKAN SEBAGAI BIDANG GARAPAN Teknologi Pendidikan sebagai bidang garapan merupakana aplikasi dari ide dan prinsip teoritik untuk memecahkan masalah kongkrit dalam bidang pendidikan dan pembelajaran ( teknik yang digunakan, aktivitas yang dikerjakan, informasi dan sumber yang digunakan dan klien yang dilayani ). Lingkungan kegiatan yang merangkum komponen konsep, ketrampilan dan prosedur serta memadukannya dalam bentuk aplikasi baru. Karakteristik bidang garapan adalah : teknik intelektual, yaitu pendekatan yang digunakan untuk memecahkan masalah, aplikasi praktis yaitu usaha untuk merealisasikan atau mengoperasionalkan pikiran, ide dan proses sehingga menghasilkan produk yang dapat dilihat, dan unik yaitu harus ada karakteristik khusus yang tidak dijumpai pada bidang lain Teknologi pendidikan merupakan suatu disiplin terapan, artinya ia berkembang karena adanya kebutuhan di lapangan, yaitu kebutuhan untuk belajar lebih efektif, lebih efisien, lebih banyak, lebih luas, lebih cepat dan sebagainya. Untuk itu ada usaha dan produk yang sengaja di buat dan ada yang ditemukan dan dimanfaatkan. Namun perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang sangat pesat akhir-akhir ini, menawarkan sejumlah kemungkinan yang semula tidak terbayangkan, telah membalik cara berpikir kita dengan bagaimana mengambil manfaat teknologi tersebut untuk mengatasi masalah belaja ( Miarso, 2007 ) Berdasarkan uraian tentang obyek formal teknologi pendidikan dan profesi teknolog pendidikan, dapat disimpulkan bahwa bidang garapan teknologi pendidikan meliputi segala sesuatu dimana ada masalah belajar yang perlu dipecahkan. Bertolak dari sejarah perkembangan garapan teknologi pendidikan, Saettler ( 1968, hal. 10-14 ) berpendapat bahwa awal muasal penggarapan masalah belajar adalah kaum Sufi pada sekitar abad 600 SM. Mereka merupakan penjaja ilmu pengetahuan yang mengajarkan ilmunya kepada para peserta-didik dengan berbagai cara, seperti misalnya dengan cara dialektik, dialogik, ceramah, dan penggunaan bahasa tubuh ( body language ) seperti gerakan wajah, gerakan tangan dsb., dengan maksud agar menarik perhatian dan agar ilmunya dapat ditransfer dengan baik. Ashby ( 1972, hal. 9-10 ) berpendapat bahwa dalam dunia pendidikan telah berlangsung empat revolusi, yaitu pertama diserahkannya pendidikan anak dari orang tua atau keluarga kepada guru, Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 145
  • kedua guru yang diserahi tanggung jawab mendidik, melakukannya secara verbal dan unjuk kerja, ketiga dengan ditemukannya mesin cetak sehingga bahan pelajaran dapat diperbanyak dan digunakan lebih luas, dan keempat dengan berkembangnya secara pesat teknologi elektronik, terutama media komunikasi. Sekarang ini mungkin perlu ditambah dengan revolusi kelima dengan berkembangnya teknologi informasi yang serba digital. Dalam lingkup pendidikan formal, sejarah teknologi pendidikan dapat diruntut dari ilustrasi atau gambar untuk menjelaskan konsep yang abstrak ( Thompson,1963, hal. 42 ). Praktisi teknologi pendidikan dapat merupakan guru yang menerapkan strategi pembelajaran dengan pendekatan PAIKEM ( Pembelajaran Aktif, Intaraktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan ) sesuai dengan tuntutan dalam pembaharuan pendidikan. Guru tersebut mungkin memperoleh keterampilan pembelajaran setelah mengikuti program Akta Mengajar, atau mengikuti penataran, atau magang, atau pelatihan khusus yang dilaksanakan oleh yang berwenang. Praktisi tersebut mungkin pula seseorang yang mempunyai hobi elektronik, kemudian belajar sendiri bagaimana membuat rekaman pembelajaran berupa PBK ( pembelajaran berbantuan komputer ), atau rekaman video berupa permainan yang mendidik ( Miarso, 2007 ). Masalah belajar itu dialami oleh siapa saja sepanjang hidupnya, dimana-mana, di rumah, di sekolah, di tempat kerja, di tempat ibadah, dan di masyarakat, serta berlangsung dengan cara apa saja dan dari apa dan siapa saja. Berkembangnya teknologi pendidikan tentu saja berbedabeda sesuai dengan kondisi dan kebutuhan. C. TEKNOLOGI PENDIDIKAN SEBAGAI PROFESI 1. PENGERTIAN DAN KARAKTERISTIK PROFESI Ibrahim (2002) merangkum beberapa pendapat tentang arti profesi menjadi sebuah rumusan pengertian profesi. Hasil rangkuman beliau adalah ‖profesi dapat diartikan sebagai suatu lapangan pekerjaan yang dalam melaksanakan tugasnya memerlukan teknik dan prosedur ilmiah, memiliki dedikasi serta cara menyikapi lapangan pekerjaan yang berorientasi pada pelayanan ahli yang dilandasi filosofi yang mantap‖. Hakikat profesi adalah hal yang mendalam, mendasar dan merupakan esensi dari profesi. Jika hal-hal yang mendasar dan esensi dihilangkan, maka hilang juga arti profesi. Berdasarkan pemikiran itu, maka hakikat profesi adalah tanggapan (respon) yang bijaksana, serta pelayanan/pengabdian yang dilandasi oleh keahlian, teknik dan Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 146
  • prosedur yang mantap, serta sikap kepribadian tertentu. Seorang pekerja profesional akan selalu mengadakan pelayanan/pengabdian yang dilandasi kemampuan profesional, serta falsafah yang mantap (diwujudkan dalam perilaku sesuai etika). Teknologi Pendidikan sebagai profesi adalah suatu kelompok pelaksana yang diorganisasikan, memenuhi kriteria tertentu, memiliki tugas tertentu, dan bergabung untuk membentuk bagian tertentu dari bidang tersebut. Setiap profesi harus terpenuhi syarat-syarat teoritik dan bidang garapan untuk bisa menjadi profesi, dan memiliki karakteristik lainnya, yaitu: pendidikan dan pelatihan yang memadai, adanya komitmen terhadap tugas profesionalnya, adanya usaha untuk senantiasa mengembangkan diri sesuai dengan kondisi lingkungan dan tuntutan zaman, adanya standar etik yang harus dipatuhi, dan adanya lapangan pengabdian yang khas ( Miarso, 2007 ). Pendidikan dan pelatihan dalam teknologi pendidikan telah dimulai pada tahun 1972, berupa latihan untuk pengembangan bahan ajar melalui radio. Pada tahun 1974 mulai diberikan matakuliah Teknologi Pendidikan di IKP Jakarta, dan pada tahun 1976 dibuka pendidikan akademik jenjang Sarjana dalam program Teknologi Pendidikan melalui kerjasama antara Tim Penyelenggara Teknologi Komunikasi untuk Pendidikan dan Kebudayaan dengan IKIP Jakarta. Dua tahun kemudian pada tahun 1978 dibuka pendidikan jenjang Magister dan Doktor Teknologi Pendidikan di IKIP Jakarta. Program pendidikan tersebut merupakan bagian integral dari Proyek Pengembangan Teknologi Komunikasi Untuk Pendidikan yang sekaligus bertujuan untuk membentuk suatu lembaga yang bertanggung jawab mengkoordinasikan pengembangan teknologi pendidikan di Indonesia ( Miarso, 2007 ). Mereka yang berprofesi atau bergerak dalam bidang teknologi pendidikan atau singkatnya disebut Teknolog Pendidikan, harus mempunyai komitmen dalam melaksanakan tugas profesionalnya yaitu terselenggaranya proses belajar bagi setiap orang, dengan dikembangkan dan digunakannya berbagai sumber belajar selaras dengan karakteristik masingmasing pemelajar ( learners ) serta perkembangan lingkungan. Karena lingkungan itu senantiasa berubah, maka para Teknolog Pendidikan harus senantiasa mengikuti perkembangan atau perubahan itu. Oleh karena itu, ia dtuntut untuk selalu mengembangkan diri sesuai dengan kondisi lingkungan dan tuntutan zaman, termasuk selalu mengikuti perkembangan ilmu dan teknologi. Profesi ini bukan profesi yang netral dan bebas nilai. Ia merupakan profesi yang memihak kepada kepentingan pemelajar ( learners ) agar mereka memperoleh kesempatan untuk belajar Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 147
  • agar potensi dirinya dapat berkembang semaksimal mungkin. Profesi ini juga tidak bebas nilai karena masih banyak pertimbangan lain seperti sosial, budaya, ekonomi dan rekayasa yang mempengaruhi, sehingga tindakannya harus selaras dengan situasi dan kondisi serta berwawasan ke masa depan. Pada tahun 1987 didirikan Ikatan Profesi Teknologi Pendidikan Indonesia ( IPTPI ) yang mempunyai Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga dan Kode Etik. Dalam kode etik tersebut dicantumkan kewenangan dan kewajiban, antara lain kewajiban untuk selalu mengikuti perkembangan IPTEK dan lingkungan. Disamping itu, juga dirumuskan tanggung jawab profesi kepada perorangan, masyarakat, rekan sejawat dan orgainisasi ( Miarso, 2007 ). Profesi teknologi pendidikan, sebagaimana halnya semua profesi yang baru, menghadapi tantangan yang inheren. Salah satu tantangan yang dihadapi adalah pengakuan atas profesi teknologi pendidikan. Pengakuan profesi tersebut selalu dikaitkan dengan jabatan fungsional sebagai pegawai negeri. Padahal pendidikan keahlian teknologi pendidikan pada prinsipnya tidak mendidik calon pegawai negeri, melainkan mereka yang mampu mengabdi dan berkarya untuk mengatasi masalah belajar dimana saja. Jadi terpaksa kita harus mengikuti pengakuan profesi sebagai jabatan fungsional pegawai negeri. Teknologi pendidikan sebagai disiplin keilmuan, profesi dan bidang garapan telah memberikan kontribusinya dalam pembangunan pendidikan. Namun kontribusi tersebut hanya akan berkembang dengan adanya komitmen sungguh-sungguh dari para teknolog pendidikan. Pengakuan profesi dalam jabatan fungsional di lingkungan pendidikan atau perekayasaan, bukan merupakan hal yang utama, karena lembaga pendidikan profesi teknologi pendidikan tidak diarahkan untuk mempersiapkan calon pegawai negeri, melainkan mereka yang peduli untuk mengatasi masalah belajar dalam berbagai latar dengan berbagai produk. Tenaga profesi teknologi pendidikan sebagai tenaga ahli dan atau mahir dalam membelajarkan peserta didik dengan memadukan secara sistemik komponen sarana belajar meliputi orang, isi ajaran, media atau bahan ajaran, peralatan, teknik, dan lingkungan. Definisi teknologi pendidikan di atas jika dihubungkan dengan definisi yang dikemukakan oleh AECT tahun 1994. Dalam AECT tahun 1994 telah dirumuskan definisi teknologi pendidikan seperti telah disebutkan dalam Latar Belakang di atas bahwa: ―Teknologi pembelajaran adalah teori dan praktek dalam desain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan serta penilaian proses dan sumber untuk belajar‖. Dari kedua definisi itu maka pengertian profesi teknologi pendidikan Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 148
  • adalah tenaga ahli yang melakukan teori dan praktek dalam mendesain, mengembangkan, memanfaatkan serta menilai proses dan sumber untuk membelajarkan peserta didik. Fungsi profesi teknologi pendidikan memfasilitasi kegiatan belajar manusia melalui pendekatan-pendekatan atau cara-cara tertentu. Dengan demikian profesi teknologi pendidikan dapat menjadikan orang bertambah dalam kegiatan belajar sekaligus menjadikan orang bertambah cerdas baik dari jumlah orang yang cerdas maupun mutu dari kecerdasan itu sendiri. Dengan kecerdasan ini berarti akan meningkatkan nilai tambah seseorang sebagai sumber daya manusia, mengatasi masalah belajar baik individu ataupun kelompok, & juga akan meningkatkan kinerja. 2. TUGAS POKOK PROFESI TEKNOLOGI PENDIDIKAN Adapun tugas pokok profesi teknologi pendidikan seperti berikut ini. a) Perancang (desainer): tugas ini meliputi mendesain sistem pembelajaran, desain pesan, stratedi pembelajaran, dan karakteristik pebelajar. b) Pengembang (developer): tugas ini meliputi produksi dan penyampaian teknologi cetak, teknologi audio visual, teknologi berbasis komputer dan teknologi terpadu. c) Pemanfaat/Pengguna (User): tugas ini meliputi pemanfaatan media, difusi inovasi, implementasi dan pelembagaan, dan kebijakan/regulasi. Pemanfaatan media merupakan penggunaan yang sistematis dari sumber untuk belajar. d) Pengelola (Manager): tugas ini meliputi pengelola proyek, pengelola sumber, pengelola sistem penyampaian, dan pengelola informasi. e) Penilai (Evaluator): tugas ini meliputi menganalisis masalah, mengukur yang beracuan patokan, menilai secara formatif dan sumatif. f) Peneliti (Researcher), tugas ini meliputi kegiatan penelitian yang berkaitan dengan teknologi pendidikan. Kegiatan penelitian ini mencakup penelitian dalam kawasan desain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan, dan penilaian. 3. PENDIDIKAN KEAHLIAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN Pendidikan dan latihan keahlian teknologi pendidikan telah dimulai sejak akhir 1950-an dengan mengirim tenaga keluar negeri. Pendidikan dan keahlian semakin mendapat perhatian sejak awal Orde Baru dengan bantuan dari UNDP/UNESCO dan pemerintah Amerika Serikat. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 149
  • Tenaga ahli yang telah dididik diluar negeri tersebut kemudian diberi tanggung jawab untuk menyelenggarakan pendidikan keahlian didalam negeri. Program akademik jenjang S1 (sarjana) dengan keahlian teknologi pendidikan dibuka di IKIP Jakarta pada tahun 1976. dua tahun kemudian dibuka pendidikan keahlian pada jenjang S2 (Magister)dan S3 (doktor) Teknologi Pendidikan. Pada Tahun 1979 pendidikan keahlian teknologi pendidikan pada jenjang S1 diselenggarakan ditujuh IKIP (Padang, Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, dan UjungPandang). Pada jenjang pasca sarjana selain di IKIP Jakarta juga di IKIP Malang. Pendidikan ini secara umum ditujukan untuk menghasilkan tenaga profesi teknologi pendidikan yang bergerak dan berkarya dalam seluruh bidang pendidikan, dan mengusahakan terciptanya keseimbangan dan keselarasan hubungan dengan profesi lain, untuk terwujudkannya gagasan dasar perkembangan tiap individu pribadi manusia Indonesia Seutuhnya. Pendidikan keahlian Teknologi Pendidikan pada jenjang sarjana S1 ditujukan untuk penguasaan kemampuan : a) Memahami landasan teori/riset an aplikasi teknologi pendidikan. b) Merancang pola instruksional c) Memproduksi media pendidikan d) Mengevaluasi program dan produk instruksional e) Mengelola Media dan sarana belajar f) Memanfaatkan sarana,media,dan teknik instruksional g) Menyebarkan informasi dan produk teknologi pendidikan h) Mengoperasikan sendiri dan melatih orang lain dalam mengoperasikan peralatan audiovisual. Pada Jenjang S2 kompetensi lulusan adalah sebagai berikut : a) Menerapkan pendekatan sistem dalam rangka pengembangan pembelajaran, baik pada tingkat mikro/kelas maupun dalam konteks pendidikan maupun latihan. b) Merencanakan kurikulum, pemilihan strategi pembelajaran, serta penilaian pelaksanaannya. c) Merancang, memproduksi, dan menilai bahan bahan pembelajaran. d) Mengelola Lembaga sumber belajar. e) Melatih dan mendidik orang lain dalam berbagai aspek teknologi pendidikan. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 150
  • f) Menyebarkan konsep dan aplikasi teknologi pendidikan. Sedangkan pada jenjang S3 adalah sebagai berikut : a) Mampu mengkaji dan menganalisis teori/konsep dan temuan penelitian dibidang instruksional dan meramunya menjadi sutau teori/konsep pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik budaya Indonesia. b) Mampu mengidentifikasikan dan mengkaji kebijakan pendidikan dan masalah pelaksanaannya, dan menselaraskannya dengan perkembangan IPTEK dan SOSEKBUD. c) Mampu melaksanakan sendiri dan memimpin kegiatan penelitian dan pengembangan, baik untuk menguji teori instruksional, maupun menghasilkan inovasi dalam proses dan sistem pendidikan. 4. ORGANISASI PROFESI TEKNOLOGI PENDIDIKAN Di Indonesia, tenaga profesi itu terhimpun dalam wadah Ikatan Profesi Teknologi Pendidikan Indonesia ( IPTPI ) yayng didirikan pada tanggal 27 September 1987. Dasar pertimbangan pendirian organisasai profesi adalah karena makin kompleksnya usaha pendidikan ( termasuk penyuluhan dan pembinaan ) sumber daya manusia, sehingga dirasa perlu adanya forum profesi untuk saling bertukar pengalaman, peningkatan kemampuan dan untuk menjaga keselarasan antara perkembangan IPTEK dengan kondisi lingkungan dan kebutuhan belajar. Adapun Visi, Misi, dan Tujuan Teknologi Pendidikan adalah Sebagai berkut : a) Visi Dengan semangat kemitraan menjadi suatu lembaga yang tanggap dan tangguh dalam memberdayakan pemelajar ( learner ), melalui kegiatan merancang, mengembangkan, melaksanakan, menilai dan mengelola proses serta sumber belajar. b) Misi IPTPI mempunyai misi memimpin, memberikan keteladan & kepemimpinan dalam pengembangkan & peningkatan profesionalitas para anggotanya, agar mereka mampu untuk memberdayakan peserta didik, sesuai dengan perkembangan ilmu & teknologi belajar, sesuai Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 151
  • dengan perkembangan ilmu & teknologi serta kondisi & lingkungan, sehingga peserta didik tersebut mampu menguasai kompetensi yang diperlukan, serta meningkatkan kinerja & produktivitasnya. c) Tujuan Menghimpun sumber daya untuk menyumbangkn tenaga dan pikiran bagi pengembangan teknologi pendidikan sebagai suatu teori, bidang dan profesi di tanah air, bagi pembedayaan peserta didik / warga belajar serta kemanfaatannya bagi kemajuan bangsa Indonesia. 5. KODE ETIK PROFESI TEKNOLOGI PENDIDIKAN Ciri utama dalam profesi Teknologi Pendidikan adalah adanya kode etik, pendidikan dan latihan yang memadai, serta pengabdian yang terus menerus. Tujuan kode etik ini secara umum adalah : a) Melindungi dan memperjuangkan kepentingan peserta didik b) Melindungi kepentingan masyarakat, bangsa dan Negara c) Melindungi dan membina diri serta sejawat profesi dan d) Mengembangkan kawasan dan bidang kajian teknologi pendidikan. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 152
  • A. Kesimpulan Teknologi Pendidikan merupakan proses yang kompleks dan terpadu yang melibatkan orang, prosedur, ide, peralatan, dan organisasi untuk menganalisis masalah, mencari jalan pemecahan, melaksanakan, mengevaluasi, dan mengelola pemecahan masalah yang menyangkut semua aspek belajar manusia dalam situasi di mana kegiatan belajar itu mempunyai tujuan dan terkontrol. Teknologi Pendidikan dapat membentuk teori karena memenuhi kriteria teori, yaitu :adanya gejala yang belum dipahami, menjelaskan ( mengapa dan bagaimana ), rangkuman tentang apa yang telah diketahui, memberikan orientasi fakta yang diteliti, mensistematiskan, mengklasifikasi, menghubungkan gejala, mengidentifikasi kesenjangan, melahirkan strategi untuk keperluan riset, dan memprediksi Teknologi pendidikan memiliki teknik intelektual, yaitu pendekatan yang digunakan untuk memecahkan masalah, aplikasi praktis yaitu usaha untuk merealisasikan atau mengoperasionalkan pikiran, ide dan proses sehingga menghasilkan produk yang dapat dilihat, dan unik yaitu harus ada karakteristik khusus yang tidak dijumpai pada bidang lain Teknologi Pendidikan juga memiliki pendidikan dan pelatihan yang memadai, adanya komitmen terhadap tugas profesionalnya, adanya usaha untuk senantiasa mengembangkan diri sesuai dengan kondisi lingkungan dan tuntutan zaman, adanya standar etik yang harus dipatuhi, dan adanya lapangan pengabdian yang khas. B. Saran Mahasiswa diharapkan dapat memahami Teknologi Pendidikan didefinisikan sebagai konstruk teoritik, bidang garapan dan sebagai profesi, yang dilihat dari tiga perspektif secara keseluruhan. Dan juga saya sebagai penulis makalah ini meminta maaf jika dalam penulisan makalah ada salah kata, karena tidak ada manusia yang sempurna oleh karena itu maafkan kesalahan saya sebagi pembuat makalah ini Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 153
  • DAFTAR PUSTAKA Miarso, Yusufhadi., Menyemai Benih Teknologi Pendidikan, Jakarta : Pustekkom bekerjasama dengan Kencana, 2004. Suroso, Rifai., Tekhnologi Terkini, Semarang: PT. Putra Mediacom, 2001. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 154
  • Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 155
  • BAB VII PENGARUH PENERAPAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN A. ORGANISASI KURIKULUM Dari sekian banyak unsur sumber daya pendidikan, kurikulum merupakan salah satu unsur yang bisa memberikan kontribusi yang signifikan untuk mewujudkan proses berkembangnya kualitas potensi peserta didik. Jadi tidak dapat disangkal lagi bahwa kurikulum, yang dikembangkan dengan berbasis pada kompetensi sangat diperlukan sebagai instrumen untuk mengarahkan peserta didik menjadi: (1) manusia berkualitas yang mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah; dan (2) manusia terdidik yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri; dan (3) warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Pengembangan dan pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi merupakan salah satu strategi pembangunan pendidikan nasional sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pada dasarnya konsep kurikulum berkembang sejalan dengan perkembangan teori dan praktik pendidikan. Kurikulum mempunyai hubungan yang sangat erat dengan teori pendidikan. Kurikulum itu sendiri mempunyai kedudukan yang cukup sentral dalam seluruh kegiatan pendidikan dan menentukan proses pelaksanaandan hasil pendidikan. Kurikulum membentuk desain yang menggambarkan pola organisasi dari komponenkomponen kurikulum seperti tujuan, bahan ajar, stategi mengajar, media mengajar, evaluasi pengajaran, penyempurnaan pengajaran dan sebagainya. Dalam proses pengajaran ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu keseimbangan antara isi dan proses, isi kurikulum, proses belajar, dan kesiapan belajar agar proses pengajaran dapat berjalan secara efektif. Pengambilan keputusan pada organisasi kurikulum dimulai pada tingkat yang paling rendah dan sederhana sehingga akhirnya bisa mencapai kurikulum seperti sekarang. Teknologi pendidikan sangat berpengaruh pada penetapan kurikulum pendidikan. Penetapan kurikulum disesuaikan dangan masalah yang terdapat dalam pendidikan dan guna meningkatkan mutu Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 156
  • pendidikan. Tidak hanya itu, latar belakang dari penetapan kurikulum juga disesuaikan dengan perkembangan teknologi yang ada. Kurikulum berbasis kompetensi adalah ―outcomes-based curriculum‖ dan oleh karena itu pengembangan kurikulum diarahkan pada pencapaian kompetensi yang dirumuskan dari SKL. Demikian pula penilaian hasil belajar dan hasil kurikulum diukur dari pencapaian kompetensi. Keberhasilan kurikulum diartikan sebagai pencapaian kompetensi yang dirancang dalam dokumen kurikulum oleh seluruh peserta didik. Karakteristik kurikulum berbasis kompetensi adalah: 1. Isi atau konten kurikulum adalah kompetensi yang dinyatakan dalam bentuk Kompetensi Inti (KI) mata pelajaran dan dirinci lebih lanjut ke dalam Kompetensi Dasar (KD). 2. Kompetensi Inti (KI) merupakan gambaran secara kategorial mengenai kompetensi yang harus dipelajari peserta didik untuk suatu jenjang sekolah, kelas, dan mata pelajaran 3. Kompetensi Dasar (KD) merupakan kompetensi yang dipelajari peserta didik untuk suatu mata pelajaran di kelas tertentu. 4. Penekanan kompetensi ranah sikap, keterampilan kognitif, keterampilan psikomotorik, dan pengetahuan untuk suatu satuan pendidikan dan mata pelajaran ditandai oleh banyaknya KD suatu mata pelajaran. Untuk SD pengembangan sikap menjadi kepedulian utama kurikulum. 5. Kompetensi Inti menjadi unsur organisatoris kompetensi bukan konsep, generalisasi, topik atau sesuatu yang berasal dari pendekatan ―disciplinary–based curriculum‖ atau ―content-based curriculum‖. 6. Kompetensi Dasar yang dikembangkan didasarkan pada prinsip akumulatif, saling memperkuat dan memperkaya antar mata pelajaran. 7. Proses pembelajaran didasarkan pada upaya menguasai kompetensi pada tingkat yang memuaskan dengan memperhatikan karakteristik konten kompetensi dimana pengetahuan adalah konten yang bersifat tuntas (mastery). Keterampilan kognitif dan psikomotorik adalah kemampuan penguasaan konten yang dapat dilatihkan. Sedangkan sikap adalah kemampuan penguasaan konten yang lebih sulit dikembangkan dan memerlukan proses pendidikan yang tidak langsung. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 157
  • 8. Penilaian hasil belajar mencakup seluruh aspek kompetensi, bersifat formatif dan hasilnya segera diikuti dengan pembelajaran remedial untuk memastikan penguasaan kompetensi pada tingkat memuaskan (Kriteria Ketuntasan Minimal/KKM dapat dijadikan tingkat memuaskan). 1. LANDASAN PENYEMPURNAAN KURIKULUM 1. Landasan Yuridis Secara konseptual, kurikulum adalah suatu respon pendidikan terhadap kebutuhan masyarakat dan bangsa dalam membangun generasi muda bangsanya. Secara pedagogis, kurikulum adalah rancangan pendidikan yang memberi kesempatan untuk peserta didik mengembangkan potensi dirinya dalam suatu suasana belajar yang menyenangkan dan sesuai dengan kemampuan dirinya untuk memiliki kualitas yang diinginkan masyarakat dan bangsanya. Secara yuridis, kurikulum adalah suatu kebijakan publik yang didasarkan kepada dasar filosofis bangsa dan keputusan yuridis di bidang pendidikan. Landasan yuridis kurikulum adalah Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945, Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005, dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi. 2. Landasan Filosofis Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa (UU RI nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional). Untuk mengembangkan dan membentuk watak dan peradaban bangsa yang bermartabat, pendidikan berfungsi mengembangkan segenap potensi peserta didik ―menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warganegara yang demokratis serta bertanggungjawab‖ (UU RI nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional). Berdasarkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional maka pengembangankurikulum Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 158
  • haruslah berakar pada budaya bangsa, kehidupan bangsa masa kini, dan kehidupan bangsa di masa mendatang. Peserta didik yang mengikuti pendidikan masa kini akan menggunakan apa yang diperolehnya dari pendidikan ketika mereka telah menyelesaikan pendidikan 12 tahun dan berpartisipasi penuh sebagai warganegara. Atas dasar pikiran itu maka konten pendidikan yang dikembangkan dari warisan budaya dan kehidupan masa kini perlu diarahkan untuk memberi kemampuan bagi peserta didik menggunakannya bagi kehidupan masa depan terutama masa dimana dia telah menyelesaikan pendidikan formalnya. Dengan demikian sikap, keterampilan dan pengetahuan yang menjadi konten pendidikan harus dapat digunakan untuk kehidupan paling tidak satu sampai dua dekade dari sekarang. Artinya, konten pendidikan yang dirumuskan dalam Standar Kompetensi Lulusan dan dikembangkan dalam kurikulum harus menjadi dasar bagi peserta didik untuk dikembangkan dan disesuaikan dengan kehidupan mereka sebagai pribadi, anggota masyarakat, dan warganegara yang produktif serta bertanggungjawab di masa mendatang. 3. Landasan Teoritis Kurikulum dikembangkan atas dasar teori pendidikan berdasarkan standar dan teori pendidikan berbasis kompetensi. Pendidikan berdasarkan standar adalah pendidikan yang menetapkan standar nasional sebagai kualitas minimal hasil. belajar yang berlaku untuk setiap kurikulum. Standar kualitas nasional dinyatakan sebagai Standar Kompetensi Lulusan. Standar Kompetensi Lulusan tersebut adalah kualitas minimal lulusan suatu jenjang atau satuan pendidikan. Standar Kompetensi Lulusan mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan (PP nomor 19 tahun 2005). Standar Kompetensi Lulusan dikembangkan menjadi Standar Kompetensi Lulusan Satuan Pendidikan yaitu SKL SD, SMP, SMA, SMK. Standar Kompetensi Lulusan satuan pendidikan berisikan 3 (tiga) komponen yaitu kemampuan proses, konten, dan ruang lingkup penerapan komponen proses dan konten. Komponen proses adalah kemampuan minimal untuk mengkaji dan memproses konten menjadi kompetensi. Komponen konten adalah dimensi kemampuan yang menjadi sosok manusia yang dihasilkan dari pendidikan. Komponen ruang lingkup adalah keluasan lingkungan minimal dimana kompetensi tersebut digunakan, dan Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 159
  • menunjukkan gradasi antara satu satuan pendidikan dengan satuan pendidikan di atasnya serta jalur satuan pendidikan khusus (SMK, SDLB, SMPLB, SMALB). 4. Landasan Empiris Dewasa ini, kecenderungan menyelesaikan persoalan dengan kekerasan dan kasus pemaksaan kehendak sering muncul di Indonesia. Kecenderungan ini juga menimpa generasi muda, misalnya pada kasus-kasus perkelahian massal. Walaupun belum ada kajian ilmiah bahwa kekerasan tersebut bersumber dari kurikulum, namun beberapa ahli pendidikan dan tokoh masyarakat menyatakan bahwa salah satu akar masalahnya adalah implementasi kurikulum yang terlalu menekankan aspek kognitif dan keterkungkungan peserta didik di ruang belajarnya dengan kegiatan yang kurang menantang peserta didik. Oleh karena itu, kurikulum perlu direorientasi dan direorganisasi terhadap beban belajar dan kegiatan pembelajaran yang dapat menjawab kebutuhan ini. Berbagai elemen masyarakat telah memberikan kritikan, komentar, dan saran berkaitan dengan beban belajar siswa, khususnya siswa sekolah dasar. Beban belajar ini bahkan secara kasatmata terwujud pada beratnya beban buku yang harus dibawa ke sekolah. Beban belajar ini salah satunya berhulu dari banyaknya mata pelajaran yang ada di tingkat sekolah dasar. Oleh karena itu kurikulum pada tingkat sekolah dasar perlu diarahkan kepada peningkatan 3 (tiga) kemampuan dasar, yakni baca, tulis, dan hitung serta pembentukan karakter. 2. PRINSIP-PRINSIP PENGEMBANGAN KURIKULUM Pengembangan kurikulum didasarkan pada prinsip-prinsip berikut: Kurikulum satuan pendidikan atau jenjang pendidikan bukan merupakan daftar mata pelajaran. Atas dasar prinsip tersebut maka kurikulum sebagai rencana adalah rancangan untuk konten pendidikan yang harus dimiliki oleh seluruh peserta didik setelah menyelesaikan pendidikannya di satu satuan atau jenjang pendidikan tertentu. Kurikulum sebagai proses adalah totalitas pengalaman belajar peserta didik di satu satuan atau jenjang pendidikan untuk menguasai konten pendidikan yang dirancang dalam rencana. Hasil belajar adalah perilaku peserta didik secara keseluruhan dalam menerapkan perolehannya di masyarakat. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 160
  • 1. Standar kompetensi lulusan ditetapkan untuk satu satuan pendidikan, jenjang pendidikan, dan program pendidikan. Sesuai dengan kebijakan Pemerintah mengenai Wajib Belajar 12 Tahun maka Standar Kompetensi Lulusan yang menjadi dasar pengembangan kurikulum adalah kemampuan yang harus dimiliki peserta didik setelah mengikuti proses pendidikan selama 12 tahun. Selain itu sesuai dengan fungsi dan tujuan jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah serta fungsi dan tujuan dari masing-masing satuan pendidikan pada setiap jenjang pendidikan maka pengembangan kurikulum didasarkan pula atas Standar Kompetensi Lulusan pendidikan dasar dan pendidikan menengah serta Standar Kompetensi satuan pendidikan. 2. Model kurikulum berbasis kompetensi ditandai oleh pengembangan kompetensi berupa sikap, pengetahuan, keterampilan berpikir, dan keterampilan psikomotorik yang dikemas dalam berbagai mata pelajaran. Kompetensi yang termasuk pengetahuan dikemas secara khusus dalam satu mata pelajaran. Kompetensi yang termasuk sikap dan ketrampilan dikemas dalam setiap mata pelajaran dan bersifat lintas mata pelajaran dan diorganisasikan dengan memperhatikan prinsip penguatan (organisasi horizontal) dan keberlanjutan (organisasi vertikal) sehingga memenuhi prinsip akumulasi dalam pembelajaran. 3. Kurikulum didasarkan pada prinsip bahwa setiap sikap, keterampilan danpengetahuan yang dirumuskan dalam kurikulum berbentuk Kemampuan Dasar dapat dipelajari dan dikuasai setiap peserta didik (mastery learning) sesuai dengan kaedah kurikulum berbasis kompetensi. 4. Kurikulum dikembangkan dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan perbedaan dalam kemampuan dan minat. Atas dasar prinsip perbedaan kemampuan individual peserta didik, kurikulum memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memiliki tingkat penguasaan di atas standar yang telah ditentukan (dalam sikap, keterampilan dan pengetahuan). Oleh karena itu beragam program dan pengalaman belajar disediakan sesuai dengan minat dan kemampuan awal peserta didik. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 161
  • 5. Kurikulum berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik serta lingkungannya. Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik berada pada posisi sentral dan aktif dalam belajar. 6. Kurikulum harus tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, budaya, teknologi, dan seni. Kurikulum dikembangkan atas dasar kesadaran bahwa ilmu pengetahuan, budaya, teknologi, dan seni berkembang secara dinamis. Oleh karena itu konten kurikulum harus selalu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, budaya, teknologi, dan seni; membangun rasa ingin tahu dan kemampuan bagi peserta didik untuk mengikuti dan memanfaatkan secara tepat hasil-hasil ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. 7. Kurikulum harus relevan dengan kebutuhan kehidupan. Pendidikan tidak boleh memisahkan peserta didik dari lingkungannya dan pengembangan kurikulum didasarkan kepada prinsip relevansi pendidikan dengan kebutuhan dan lingkungan hidup. Artinya, kurikulum memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mempelajari permasalahan di lingkungan masyarakatnya sebagai konten kurikulum dan kesempatan untuk mengaplikasikan yang dipelajari di kelas dalam kehidupan di masyarakat. 8. Kurikulum diarahkan kepada proses pengembangan, pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. Pemberdayaan peserta didik untuk belajar sepanjang hayat dirumuskan dalam sikap, keterampilan, dan pengetahuan dasar yang dapat digunakan untuk mengembangkan budaya belajar. 9. Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan kepentingan nasional dan kepentingan daerah untuk membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kepentingan nasional dikembangkan melalui penentuan struktur kurikulum, Standar Kemampuan/SK dan Kemampuan Dasar/KD serta silabus. Kepentingan daerah dikembangkan untuk membangun manusia yang tidak tercabut dari akar budayanya dan mampu berkontribusi langsung kepada masyarakat di sekitarnya. Kedua kepentingan ini Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 162
  • saling mengisi dan memberdayakan keragaman dan kebersatuan yang dinyatakan dalam Bhinneka Tunggal Ika untuk membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia. 3. RAGAM PENGORGANISASIAN KURIKULUM Beragamnya pandangan yang mendasari pengembangan kurikulum memunculkan terjadinya keragaman dalam mengorgansiasikan kurikulum. Setidaknya terdapat enam ragam pengorganisasian kurikulum, yaitu: 1. Mata pelajaran terpisah (isolated subject); kurikulum terdiri dari sejumlah mata pelajaran yang terpisah-pisah, yang diajarkan sendiri-sendiri tanpa ada hubungan dengan mata pelajaran lainnya. Masing-masing diberikan pada waktu tertentu dan tidak mempertimbangkan minat, kebutuhan, dan kemampuan peserta didik, semua materi diberikan sama 2. Mata pelajaran berkorelasi; korelasi diadakan sebagai upaya untuk mengurangi kelemahan-kelemahan sebagai akibat pemisahan mata pelajaran. Prosedur yang ditempuh adalah menyampaikan pokok-pokok yang saling berkorelasi guna memudahkan peserta didik memahami pelajaran tertentu. 3. Bidang studi (broad field); yaitu organisasi kurikulum yang berupa pengumpulan beberapa mata pelajaran yang sejenis serta memiliki ciri-ciri yang sama dan dikorelasikan (difungsikan) dalam satu bidang pengajaran. Salah satu mata pelajaran dapat dijadikan ―core subject‖, dan mata pelajaran lainnya dikorelasikan dengan core tersebut. 4. Program yang berpusat pada anak (child centered), yaitu program kurikulum yang menitikberatkan pada kegiatan-kegiatan peserta didik, bukan pada mata pelajaran. 5. Inti Masalah (core program), yaitu suatu program yang berupa unit-unit masalah, dimana masalah-masalah diambil dari suatu mata pelajaran tertentu, dan mata pelajaran lainnya diberikan melalui kegiatan-kegiatan belajar dalam upaya memecahkan masalahnya. Mata pelajaran-mata pelajaran yang menjadi pisau analisisnya diberikan secara terintegrasi. 6. Ecletic Program, yaitu suatu program yang mencari keseimbangan antara organisasi kurikulum yang terpusat pada mata pelajaran dan peserta didik. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 163
  • Berkenaan dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, tampaknya lebih cenderung menggunakan pengorganisasian yang bersifat eklektik, yang terbagi ke dalam lima kelompok mata pelajaran, yaitu : 1) kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia; 2) kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian; 3) kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi; 4) kelompok mata pelajaran estetika; dan 5) kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan Kelompok-kelompok mata pelajaran tersebut selanjutnya dijabarkan lagi ke dalam sejumlah mata pelajaran tertentu, yang disesuaikan dengan jenjang dan jenis sekolah. Di samping itu, untuk memenuhi kebutuhan lokal disediakan mata pelajaran muatan lokal serta untuk kepentingan penyaluran bakat dan minat peserta didik disediakan kegiatan pengembangan diri. 4. TAHAPAN-TAHAPAN PENGORGANISASIAN KURIKULUM Pengaruh penerapan teknologi pendidikan pada organisasi kurikulum dapat dibagi menjadi tiga tahapan, yaitu : A. pengambilan keputusan dalam organisasi kurikulum dimulai pada yang paling rendah dan sederhana. Pada bagan berikut : Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 164
  • Perencanaan Kurikulum Penentuan Kurikulum Audiovisual Tradisioanal Implementasi Kurikulum B. Keputusan yang diambil dari sebuah sistem. Pengaruh teknologi pendidikan telah beranjak pada tingkat selanjutnya yaitu pengambilan keputusan dalam organisasi kurikulum di mulai pada pembuatan silabus atau pada perencanaan kurikulum. Berikut bagannya : PERENCANAAN KURIKULUM MEDIA PENENTUAN KURIKULUM IMPLEMENTASI KURIKULUM C. Pengaruh teknologi pendidikan telah berada pada puncak pengambilan keputusan. Dalam pengambilan keputusan di cantumkan sumber dan media yang digunakan untuk pembelajaran. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 165
  • PERENCANAAN KURIKULUM IMPLEMENTASI KURIKULUM PENENTUAN KURIKULUM SUMBER DAN MEDIA 5. FUNGSI DAN PERANAN KURIKULUM Dilihat dari sisi pengembangannya kurikulum memiliki beberapa fungsi sebagai berikut : (a) fungsi perspektif, yaitu mencegah kesalahan para pengembangan kurikulum terutama dalam melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan rencana kurikulum, (b) fungsi korektif, yaitu mengoreksi dan membenarkan kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh pengembang kurikulum, dan (c) fungsi konstruktif, yaitu memberikan arahan yang jelas bagi para pelaksana dan pengembang kurikulum untuk membangun kurikulum yang lebih baik lagi pada masa yang akan datang. Sementar Hilda Taba (1926) mengemukakan terdapatnya tiga fungsi kurikulum, yaitu (a) sebagi transmisi, yaitu mewariskan nilai-nilai kebudayaan, (b) sebagai trasformasi, yaitu melakukan perubahan atau rekontruksi social, dan (c) sebagai pengembangan individu. A. POLA INTRUKSIONAL sistem instruksional adalah metode yang digunakan dalam proses pembelajaran yang sering dipakai oleh tenaga pengajar, model instruksional yaitu suatu model yang terdiri atas empat komponen yang secara hakiki berbeda satu sama lainnya, model ini menitikberatkan pembuatan keputusan intelektual oleh guru sebelum dan sesudah pengajaran dan oleh karenanya, sebenarnya lebih berupa suatu model perencanaan dan penilaian dari suatu model ―prosedur mengajar‖ pertama menentukan tujuan-tujuan instruksional secara spesifik dalam bentuk perilaku siswa. Kedua mengadakan penilaian pendahuluan terhadap keadaan siswa pada saat ini Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 166
  • dalam hubungannya dengan tujuan-tujuan instruksional tersebut. Dan ketiga menilai pencapaian tujuan-tujuan tersebut oleh siswa. 1. Implementasi (Penggunaan) Sistem Instruksional Penggunaan sistem instruksional dalam pembelajaran didalam kelas dapat diklasifikasikan menjadi tiga tahap, yaitu : a. Tahap awal Tahap pembelajaran awal ini adalah langkah pertama sebelum materi pembelajaran berlangsung, yaitu memberikan pencerahan terhadap pola piker siswa tentang apa yang ingin diajarkan, diberikan bayangan sebelum memasuki tahap yang serius, tahap awal ini memiliki banyak teori dan metode yang bisa digunakan diantaranya adalah mengatur tatanan kelas yang nyaman dan epektif seperti group resume (resume kelompok) prosedurnya dibentuk seperti :  Bagilah peserta kedalam beberapa kelompok, terdiri dari 3 sampai 6 anggota.  Beritahukan kepada mereka bahwa kelas memiliki kesatuan bakat danpengalaman yang sangat hebat. Memberikan motivasi kepada setiap kelompok agar aktif dan bervariasi dalam menela‘ah materi. b. Tahap Inti Pada tahapan ini pengajar menguraikan materi yang diajarkan kepada siswa dengan menggunakan metode dan teknik yang nyaman dan mudah dimengerti oleh siswa sehingga siswa tidak mudah jenuh dan tidak cepat merasa bosan seperti yang ada dalam bukunya Mel Silberman yang menawarkan metode aktif dan variable salah satunya adalah Listening Team (tim pendengar) • Buatlah kelas menjadi empat kelompok • Masimg-masing kelompok diberi tugas, kelompok pertama sebagai penanya, kelompok kedua sebagai orang yang setuju, kelompok yang ketiga sebagai orang yang tidak setuju, sedangkan yang terakhir sebagai pemberi contoh. • Sampaikan pelajaran yang didasarkan dengan pelajaran • Suruhlah tiap-tiap tim untuk bertanya, sepakat dan sebagainya. c. Tahap Akhir Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 167
  • Setelah materi diberikan kepada siswa dan waktu telah hamper habis untuk pembelajaran maka tahapan yang paling akhir ialah bagaimana siswa belajar agar tidak lupa tentunya dengan berbagai strategi yang bisa digunakan salah satunya adalah Reviewing Strategies (meninjau ulang). Salah satu cara paling meyakinkan untuk menjadikan belajar tepat adalah menyertakan waktu untuk meninjau apa yang telah dipelajari. Materi yang telah ditinjau (review) oleh peserta didik mungkin disimpan lima kali lebih banyak dari materi yang tidak ditinjau. Hal itu karena peninjauan memudahkan peserta didik untuk mempertimbangkan informasi dan menemukan cara-cara untuk menyimpannya dalam otaknya. 2. Tujuan Pembelajaran Dengan Sistem Instruksional Tujuan instruksional yang dikembangkan pada saat ini adalah tujuan instruksional ganda, dalam artian bahwa tujuan instruksional ini memiliki dua komponen yaitu Tujuan Instruksional Umum (TIU) dan Tujuan Instruksional Khusus (TIK). a. Tujuan Instruksional Umum (TIU) Tujuan instruksional umum ini merupakan tujuan dari kurikuler, ialah tujuan pendidikan secara umum menjadi tujuan khusus dan operasional, sebab pada dasarnya tujuan pendidikan hanya dapat mungkin di capai bila tujuan itu di rumuskan ke dalam rumusan yang khusus dan operasional. Dalam kurikulum SLTP 1975 bidang studi agama islam, dapat dilihat bahwa tujuan kurikuler bidang studi agama islam di SMP yang berjumlah empat belas itu di jabarkan sehingga menjadi delapan puluh tujuan instruksional umum (TIU). Tujuan instruksional umum (TIU) pada akhir mata kuliah ini mahasiswa akan dapat : i) Menentukan langkah-langkah dalam pengembangan kurikulum dan proses membuat disain pendidikan. ii) Menjelaskan hubungan antara pengembangan dan desain pembelajaran. iii) Mengidentifikasi dan menyatakan alasan atau rasional memilih pendekatan kurikulum. iv) Mengembangkan silabus suatu mata kuliah menurut pemilihan sendiri yang meliputi: b) tujuan umum (TU) Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 168
  • c) rasional d) hasil belajar siswa e) persyaratan bagi siswa f) bacaan wajib dan bacaan pelengkap g) skala evaluasi h) kepustakaan i) Mengembangkan kurikulum suatu mata kuliah. ii) Membuat desain suatu rencana pembelajaran dari silabus mata kuliah. b. Tujuan Instruksional Khusus (TIK) Tujuan ini adalah langkah yang paling akhir dalam upaya membuat rumusan tujuan pendidikan yang paling khusus dan operasional. tujuan instruksional khusus (TIK) dapat di artikan sebagai rumusan tujuan yang berisi kualifikasi khusus yang di harapkan di miliki siswa setelah selesai mengikuti kegiatan belajar mengajar tertentu. Tujuan instruksional khusus adalah tujuan yang hendak di capai guru setiap kali mengajar. Maksud dari kedua tujuan instruksional ini adalah upaya untuk mengembangkan tujuan pendidikan secara universal yaitu tujuan pendidikan umum berfokuskan pada semua mata pelajaran yang ada disetiap sekolah dan madrasah, sedangkan tujuan instruksional khusus adalah tujuan pembelajaran yang terjadi pada saat pembelajaran berlangsung (proses pembelajaran), atau komponen-komponen yang akan dipaparkan untuk mengajar haruslah dikutip atau disajikan dalam berbentuk lembaran sebelum pelajaran itu berlangsung. Contohnya SAP ( Satuan Acara Perkuliahan) atau silabus perkuliahan yang disajikan oleh tenaga pengajar. Pada pola pembelajaran pengaruh penerapan teknologi pendidikan terletak pada tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Untuk itu, metode pembelajaran harus ditetapkan sesuai dengan tujuan yang akan dicapai. Macam-macam metode pembelajaran diantaranya : Metode Ceramah Metode Tanya jawab Metode Diskusi Metode Pemberian tugas Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 169
  • Metode Eksperimen Metode Demonstrasi Metode Bermain Sambil Belajar Metode Belajar Kelompok Dalam metodenya, pengaruh penerapan teknologi pendidikan juga membutuh pola dalam pembelajarannya. Yaitu : 1. Guru adalah salah satu-satunya sumber untuk membelajarkan anak didiknya. TUJUAN PEMBELAJARAN MATERI DAN METODE GURU SISWA 2. Dalam pembelajaran, guru dapat menggunakan media sebagai alat bantu dalam belajar. TUJUAN PEMBELAJARAN MATERI DAN METODE GURU + ALAT PERAGA SISWA 3. Pada pola ini, siswa belajar melalui media dan penjelasan yang disampaikan oleh guru. GURU TUJUAN PEMBELAJARAN MATERI DAN METODE SISWA MEDIA 4. Pola ini, guru tidak berada langsung di dalam kelas tetapi guru hanya terlibat dalam mendesain media pembelajaran yang akan digunakan siswa dalam pembelajarannya. TUJUAN PEMBELAJARAN MATERI DAN METODE Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com MEDIA SISWA Page 170
  • 3. Macam-Macam Pola Instruksional Metode pembelajaran adalah suatu cara atau jalan yang harus dilalui dalam proses belajar, pembelajaran memiliki dua unsur penting yakni siswa dan guru. Bagi siswa metode pembelajaran sangat penting dalam menentukan prestasi dan pengembangan potensi pribadi. Guru memiliki peranan penting dalam menerapkan metode pembelajaran di kelas untuk mencapai tujuan belajar yang diinginkan. Quantum learning sebagai salah satu metode belajar dapat memadukan antara berbagai sugesti positif dan interaksinya dengan lingkungan yang dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar seseorang. Lingkungan belajar yang menyenangkan dapat menimbulkan motivasi pada diri seseorang sehingga secara langsung dapat mempengaruhi proses belajar metode Quantum Learning dengan teknik peta pikiran (mind mapping) memiliki manfaat yang sangat baik untuk meningkatkan potensi akademis (prestasi belajar) maupun potensi kreatif yang terdapat dalam diri siswa. A. Pola Instruksional Tradisional Pembelajaran tradisional pada umumnya guru mempunyai kedudukan sebagai satusatunya sumber belajar dalam sistem instruksional. Guru memegang kontrol dan kendali sepenuhnya dalam menetapkan isi dan metode belajar, bahkan kadang-kadang juga dalam menilai kemajuan belajar mahasiswa. Pola instruksional ini dapat disebut dengan diagram. B. Pola Instruksional dengan Sumber Belajar Berupa Orang Dibantu Sumber Lain Kecenderungan standarisasi masukan pada dasarnya beranggapan bahwa adanya standar tersebut mempunyai nilai ekonomis, di samping juga dapat memperbaiki kontrol atas proses kegiatan. Nilai ekonomis yang diperoleh dengan adanya standar masukan, misalnya atas buku teks, satu bentuk dan desain gedung serta fasilitas sekolah, satu bentuk papan tulis dan lain-lain sumber. Perkembangan teknologi mula-mula dengan ciri instrumentasi sebagai perpanjangan anggota badan manusia mengubah orientasi, mengubah teknik, dan juga mengubah situasi belajar. Dalam situasi inilah maka dalam pola instruksional terdapat sub komponen baru yaitu alat yang dipakai oleh guru sebagai sarana untuk membantu pelaksanaan kegiatan. Pola instruksional yang memanfaatkan sumber belajar lain disamping guru. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 171
  • C. Pola Instruksional dengan Sumber Belajar Berupa Orang (Guru) Bekerja Sama Dengan Sumber Belajar Lain. Makin majunya ilmu dan cakrawala manusia mengakibatkan tiap generasi penerus harus belajar lebih banyak untuk menjadi manusia terdidik. Agar sistem pendidikan secara efektif, maka tidak memadai apabila dipakai sumber belajar yang berupa guru, buku, alat audio visual, dan lain-lain. Mulai dirasakan perlu adanya cara baru dalam mengkomunikasikan segala pengetahuan dan pesan baik secara verbal maupun non verbal. Alat tidak lagi merupakan hasil pengetahuan manusia, tetapi juga sarana untuk mengkomunikasikan pengetahuan dan ketrampilan khusus, di samping untuk mengembangkan terus pengetahuan, ketrampilan, dan teknik baru. Di samping itu mulai disadari bahwa standarisasi pada masukan belum dapat menjamin hasil yang baik, kiranya diperlukan adanya standarisasi dalam proses dengan jalan lebih memprogram proses itu sendiri. Dalam hubungan ini sumber belajar tertentu khusus dipersiapkan untuk dapat dipakai oleh peserta didik dalam kegiatan instruksional secara langsung. Sumber ini lazim berupa media yang dipersiapkan secara khusus oleh kelompok guru- media yang berinteraksi dengan peserta didik secara tidak langsung, yaitu melalui media. Guru dan guru media ini saling berinteraksi dengan peserta didik berdasarkan satu tanggung jawab bersama. D. Pola Instruksional dengan Belajar Mandiri Meningkatnya kebutuhan baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif, semakin dirasakan terbatasnya sumber belajar yang berupa guru. Di samping meningkatnya tuntutan profesional terhadap guru, juga berkembangnya lapangan kerja baru yang memberikan jaminan hidup yang lebih baik, akan membatasi jumlah guru yang baik. Memperbanyak guru yang baik tidak mungkin dapat dilaksanakan secara fisik, tetapi masih dimungkinkan memperbanyak karyanya berupa berbagai media instruksional. Guru yang baik dapat ditugaskan untuk mempersiapkan bahan pembelajaran yang lengkap secara sistematis dan terprogram dalam bentuk modul atau paket untuk keperluan belajar mandiri lainnya. Apabila peserta didik sudah mempunyai disiplin yang tinggi, latar belakang pengalaman cukup luas dan pola berpikir sudah lebih matang, maka interaksi langsung antar peserta didik dengan media yang dipersiapkan oleh guru ahli, dapat berjalan tanpa intervensi guru kelas. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 172
  • Dengan demikian kehadiran guru dapat sepenuhnya digantikan oleh sumber belajar yang diciptakannya. Media semacam ini disebut guru-media. Pola instruksional ini dapat digambarkan sebagai berikut. E. POLA INSTRUKSIONAL QUANTUM LEARNING Quantum learning ialah kiat, petunjuk, strategi, dan seluruh proses belajar yang dapat mempertajam pemahaman dan daya ingat, serta membuat belajar sebagai suatu proses yang menyenangkan dan bermanfaat. Beberapa teknik yang dikemukakan merupakan teknik meningkatkan kemampuan diri yang sudah populer dan umum digunakan. Namun, Bobbi DePorter mengembangkan teknik-teknik yang sasaran akhirnya ditujukan untuk membantu para siswa menjadi responsif dan bergairah dalam menghadapi tantangan dan perubahan realitas (yang terkait dengan sifat jurnalisme). Quantum learning berakar dari upaya Georgi Lozanov, pendidik berkebangsaan Bulgaria. Ia melakukan eksperimen yang disebutnya suggestology (suggestopedia). Prinsipnya adalah bahwa sugesti dapat dan pasti mempengaruhi hasil situasi belajar, dan setiap detil apa pun memberikan sugesti positif atau negatif. Untuk mendapatkan sugesti positif, beberapa teknik digunakan. Para murid di dalam kelas dibuat menjadi nyaman. Musik dipasang, partisipasi mereka didorong lebih jauh. Guru-guru yang terampil dalam seni pengajaran sugestif bermunculan. Prinsip suggestology hampir mirip dengan proses accelerated learning, pemercepatan belajar: yakni, proses belajar yang memungkinkan siswa belajar dengan kecepatan yang mengesankan, dengan upaya yang normal, dan dibarengi kegembiraan. Suasana belajar yang efektif diciptakan melalui campuran antara lain unsur-unsur hiburan, permainan, cara berpikir positif, dan emosi yang sehat. ―Quantum learning mencakup aspek-aspek penting dalam program neurolinguistik (NLP), yaitu suatu penelitian tentang bagaimana otak mengatur informasi. Program ini meneliti hubungan antara bahasa dan perilaku dan dapat digunakan untuk menciptakan jalinan pengertian siswa dan guru. Para pendidik dengan pengetahuan NLP mengetahui bagaimana menggunakan bahasa yang positif untuk meningkatkan tindakan-tindakan posistif – faktor penting untuk merangsang fungsi otak yang paling efektif. Semua ini dapat pula menunjukkan dan menciptakan gaya belajar terbaik dari setiap orang (Bobby De Porter dan Hernacki, 1992) Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 173
  • Beberapa hal yang penting dicatat dalam quantum learning adalah sebagai berikut. Para siswa dikenali tentang ―kekuatan pikiran‖ yang tak terbatas. Ditegaskan bahwa otak manusia mempunyai potensi yang sama dengan yang dimilliki oleh Albert Einstein. Selain itu, dipaparkan tentang bukti fisik dan ilmiah yang memerikan bagaimana proses otak itu bekerja. Melalui hasil penelitian Global Learning, dikenalkan bahwa proses belajar itu mirip bekerjanya otak seorang anak 6-7 tahun yang seperti spons menyerap berbagai fakta, sifat-sifat fisik, dan kerumitan bahasa yang kacau dengan ―cara yang menyenangkan dan bebas stres‖. Bagaimana faktor-faktor umpan balik dan rangsangan dari lingkungan telah menciptakan kondisi yang sempurna untuk belajar apa saja. Hal ini menegaskan bahwa kegagalan, dalam belajar, bukan merupakan rintangan. Keyakinan untuk terus berusaha merupakan alat pendamping dan pendorong bagi keberhasilan dalam proses belajar. Setiap keberhasilan perlu diakhiri dengan―kegembiraan dan tepukan.‖ B. PENGAMBILAN KEPUTUSAN TENTANG PENDIDIKAN A. Pengambilan Keputusan Pengambilan keputusan sangat penting dalam manajemen dan merupakan tugas utama dari seorang pemimpin (manajer). Pengambilan keputusan (decision making) diproses oleh pengambilan keputusan (decision maker) yang hasilnya keputusan (decision). Defenisi-defenisi Pengambilan Keputusan Menurut Beberapa Ahli : 1. G. R. Terry Pengambilan keputusan dapat didefenisikan sebagai ―pemilihan alternatif kelakuan tertentu dari dua atau lebih alternatif yang ada‖. 2. Harold Koontz dan Cyril O‘Donnel Pengambilan keputusan adalah pemilihan diantara alternatif-alternatif mengenai sesuatu cara bertindak—adalah inti dari perencanaan. Suatu rencana dapat dikatakan tidak ada, jika tidak ada keputusan suatu sumber yang dapat dipercaya, petunjuk atau reputasi yang telah dibuat. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 174
  • 3. Theo Haiman Inti dari semua perencanaan adalah pengambilan keputusan, suatu pemilihan cara bertindak. Dalam hubungan ini kita melihat keputusan sebagai suatu cara bertindak yang dipilih oleh manajer sebagai suatu yang paling efektif, berarti penempatan untuk mencapai sasaran dan pemecahan masalah. 4. Drs. H. Malayu S.P Hasibuan Pengambilan keputusan adalah suatu proses penentuan keputusan yang terbaik dari sejumlah alternative untuk melakukan aktifitas-aktifitas pada masa yang akan datang. 5. Chester I. Barnard Keputusan adalah perilaku organisasi, berintisari perilaku perorangan dan dalam gambaran proses keputusan ini secara relative dan dapat dikatakan bahwa pengertian tingkah laku organisasi lebih penting dari pada kepentingan perorangan. Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa pengambilan keputusan adalah proses pemilihan alternatif solusi untuk masalah. Secara umum pengambilan keputusan adalah upaya untuk menyelesaikan masalah dengan memilih alternatif solusi yang ada. B. Teori Pengambilan Keputusan 1. Teori Rasional Komprehensif Teori pengambilan keputusan yang paling dikenal dan mungkin pula yang banyak diterima oleh kalangan luas ialah teori rasional komprehensif. Unsur-unsur utama dari teori ini dapat dikemukakan sebagai berikut : a.Pembuat keputusan dihadapkan pada suatu masalah tertentu yang dapat dibedakan dari masalah-masalah lain atau setidaknya dinilai sebagai masalah-masalah yang dapat diperbandingkan satu sama lain. b.Tujuan-tujuan, nilai-nilai, atau sasaran yang mempedomani pembuat keputusan amat jelas dan dapat ditetapkan rangkingnya sesuai dengan urutan kePentingannya c.Berbagai altenatif untuk memecahkan masalah tersebut diteliti secara saksama. d.Akibat-akibat (biaya dan manfaat) yang ditmbulkan oleh setiap altenatif Yang diPilih diteliti. e.Setiap alternatif dan masing-masing akibat yang menyertainya, dapat diperbandingkan dengan alternatif-altenatif lainnya. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 175
  • f.Pembuat keputusan akan memilih alternatif‘ dan akibat-akibatnya‘ yang dapat memaksimasi tercapainya tujuan, nilai atau Sasaran yang telah digariskan. Teori rasional komprehensif banyak mendapatkan kritik dan kritik yang paling tajam berasal dari seorang ahli Ekonomi dan Matematika Charles Lindblom (1965 , 1964′ 1959)‘ Lindblom secara tegas menyatakan bahwa para pembuat keputusan itu sebenarya tidaklah berhadapan dengan masalah-masalah yang konkrit dan terumuskan dengan jelas. Lebih lanjut, pembuat keputusan kemungkinan juga sulit untuk memilah-milah secara tegas antara nilai-nilainya sendiri dengan nilai-nilai yang diyakini masyarakat. Asumsi penganjur model rasionar bahwa antara fakta-fakta dan nilai-nilai dapat dengan mudah dibedakan, bahkan dipisahkan, tidak pemah terbukti dalam kenyataan sehari-hari. Akhirnya, masih ada masalah‘ yang disebut ,,sunk_cost,,. Keputusan_-keputusan, kesepakatan-kesepakatan dan investasi terdahulu dalam kebijaksanaan dan program-program yang ada sekarang kemungkinan akan mencegah pembuat keputusan untuk membuat keputusan yang berbeda sama sekali dari yang sudah ada. Untuk konteks negara-negara sedang berkembang, menurut R‘s. Milne (1972), model irasionar komprehensif ini jelas tidak akan muduh diterapkan. Sebabnya ialah: informasi/data statistik tidak memadai ; tidak memadainya perangkat teori yang siap pakai untuk kondisikondisi negara sedang berkembang ; ekologi budaya di mana sistem pembuatan keputusan itu beroperasi juga tidak mendukung birokrasi di negara sedang-berkembang umumnya dikenal amat lemah dan tidak sanggup memasok unsur-unsur rasionar dalam pengambilan keputusan. 2. Teori Inkremental Teori inkremental dalam pengambilan keputusan mencerminkan suatu teori pengambilan keputusan yang menghindari banyak masalah yang harus dipertimbangkan (seperti daram teori rasional komprehensif) dan, pada saat yang sama, merupakan teori yang lebih banyak menggambarkan cara yang ditempuh oleh pejabat-pejabat pemerintah dalam mengambil kepurusan sehari-hari. Pokok-pokok teori inkremental ini dapat diuraikan sebagai berikut: Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 176
  •  Pemilihan tujuan atau sasaran dan analisis tindakan empiris yang diperlukan untuk mencapainya dipandang sebagai sesuatu hal yang saling terkait daripada sebagai sesuatu hal yang saling terpisah.  Pembuat keputusan dianggap hanya mempertimbangkan beberapa altematif yang langsung berhubungan dengan pokok masalah dan altematif-alternatif ini hanya dipandang berbeda secara inkremental atau marginal bila dibandingkan dengan kebijaksanaan yang ada sekarang.  Bagi tiap altematif hanya sejumlah kecil akibat-akibat yang mendasar saja yang akan dievaluasi.  Masalah yang dihadapi oleh pembuat keputusan akan didedifinisikan secara terarur. Pandangan inkrementalisme memberikan kemungkin untuk mempertimbangkan dan menyesuaikan tujuan dan sarana serta sarana dan tujuan sehingga menjadikan dampak dari masalah itu lebih dapat ditanggulangi.  Bahwa tidak ada keputusan atau cara pemecahan yang tepat bagi tiap masalah. Batu uji bagi keputusan yang baik terletak pada keyakinan bahwa berbagai analisis pada akhirnya akan sepakat pada keputusan tertentu meskipun tanpa menyepakati bahwa keputusan itu adalah yang paling tepat sebagai sarana untuk mencapai tujuan.  Pembuatan keputusan yang inkremental pada hakikatnya bersifat perbaikan-perbaikan kecil dan hal ini lebih diarahkan untuk memperbaiki ketidaksempunaan dari upaya-upaya konkrit dalam mengatasi masalahsosial yang ada sekarang daripada sebagai upaya untuk menyodorkan tujuan-tujuan sosial yang sama sekali baru di masa yang akan datang. Keputusan-keputusan dan kebijaksanaan-kebijaksanaan pada hakikatnya merupakan produk dari saling memberi dan menerima dan saling percaya di antara pelbagai pihak yang terlibat dalam proses keputusan tersebut. Dalam masyarakat yang strukturnya majemuk paham lnkremental ini secara politis lebih aman karena akan lebih gampang untuk mencapai kesepakatan apabila masalah-masalah yang diperdebatkan oleh berbagai kelompok yang terlibat hanyalah bersifat upaya untuk memodifikasi terhadap program-program yang sudah ada daripada jika hal tersebut menyangkut isu-isu kebijaksanaan mengenai perubahan-perubahan yang radikal yang memiliki sifat ‖ ambil semua atau tidak sama sekali. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 177
  • Karena para pembuat keputusan itu berada dalam keadaan yang serba tidak pasti khususnya yang menyangkut akibat-akibat dari tindakan-tindakan mereka di masa datang, maka keputusan yang bersifat inkremental ini akan dapat mengurangi resiko dan biaya yang ditimbulkan oleh suasana ketidakpastian itu Paham inkremental ini juga cukup rcalistis karena ia menyadari bahwa para pembuat keputusan sebenamya kurang waktu, kurang pengalaman dan kurang sumber-sumber lain yang diperlukan untuk melakukan analisis yang komprehensif terhadap semua altematif untuk memecahkan masalah-masalah yang ada 3. Teori Pengamatan Terpadu (Mixed Scanning Theory) Penganjur teori ini adalah ahli sosiologi organisasi Amitai Etzioni. Etzioni setuju terhadap kritik-kritik para teoritisi inkremental yang diarahkan pada teori rasional komprehensif, akan tetapi ia juga menunjukkan adanya beberapa kelemahan yang terdapat pada teori inkremental. Misalnya, keputusan-keputusan yang dibuat oleh pembuat keputusan penganut model inkremental akan lebih mewakili atau mencerminkan kepentingan-kepentingan dari kelompok-kelompok yang kuat dan mapan serta kelompok-kelompok yang mampu mengorganisasikan kepentingannya dalam masyarakat, sementara itu kepentingan-kepentingan dari kelompok-kelompok yang lemah dan yang secara politis tidak mampu mengorganisasikan kepentingannya praktis akan terabaikan. Lebih lanjut dengan memusatkan perhatiannya pada kepentingan/tujuan jangka pendek dan hanya berusaha untuk memperhatikan variasi yang terbatas dalam kebijaksanaankebijaksanaan yang ada sekarang, maka model inkremental cenderung mengabaikan peluang bagi perlunya pembaruan sosial (social inovation) yang mendasar. Oleh karena itu, menurut Yehezkel Dror (1968) gaya inkremental dalam pembuatan keputusan cenderung menghasilkan kelambanan dan terpeliharanya status quo, sehingga merintangi upaya menyempurnakan proses pembuatan keputusan itu sendiri. Bagi sarjana seperti Dror– yang pada dasamya merupakan salah seorang penganjur teori rasional yang terkemuka — model inkremental ini justru dianggapnya merupakan strategi yang tidak cocok untuk diterapkan di negara-negara sedang berkembang, sebab di negara-negara ini perubahan yang kecil-kecilan (inkremental) tidaklah memadai guna tercapainya hasil berupa perbaikan-perbaikan besarbesaran. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 178
  • Model pengamatan terpadu juga memperhitungkan tingkat kemampuan para pembuat keputusan yang berbeda-beda. Secara umum dapat dikatakan, bahwa semakin besar kemampuan para pembuat keputusan untuk memobilisasikan kekuasaannya guna mengimplementasikan keputusan-keputusan mereka, semakin besar keperluannya untuk melakukan scanning dan semakin menyeluruh scanning itu, semakin efektif pengambilan keputusan ‗tersebul Dengan demikian, moder pengamatan terpadu ini pada hakikatnya merupakan pendekatan kompromi yang menggabungkan pemanfaatan model rasional komprehensif dan moder inkremental dalam proses pengambilan keputusan. C.Kriteria pengambilan Keputusan Menurut konsepsi Anderson, nilai-nilai yang kemungkinan menjadi pedoman perilaku para pembuat keputusan itu dapat dikelompokkan menjadi 5 (lima) kategori, yaitu: (1) Nilai-nilai Politik Pembuat keputusan mungkin melakukan penilaian atas altematif kebijaksanaan yang dipilihnya dari sudut pentingnya altematif-altematil itu bagi partai politiknya atau bagi kelompok-kelompok klien dari badan atau organisasi yang dipimpinnya. Keputusan-keputusan yang lahir dari tangan para pembuat keputusan seperti ini bukan mustahil dibuat demi keuntungan politik‘ dan kebijaksanaan dengan demikian akan dilihat sebagai instrumen untuk memperluas pengaruh-pengaruh politik atau untuk mencapai tujuan dan kepentingan dari partai politik atau tujuan dari kelompok kepentingan yang bersangkutan. (2) Nilai-nilai organisasi Para pembuat kepurusan, khususnya birokrat (sipil atau militer), mungkin dalam mengambil keputusan dipengaruhi oleh nilai-nilai organisasi di mana ia terlibat di dalamnya‘ Organisasi, semisal badan-badan administrasi, menggunakan berbagai bentuk ganjaran dan sanksi dalam usahanya untuk memaksa para anggotanya menerima, dan bertindak sejalan dengan nilai-nilai yang telah digariskan oleh organisasi. Sepanjang nilai-nilai semacam itu ada, orang-orang yang bertindak selaku pengambil keputusan dalam organisasi itu kemungkinan akan dipedomani oleh pertimbangan-pertimbangan semacam itu sebagai perwujudan dari hasrat untuk melihat organisasinya tetap lestari, unuk tetap maju atau untuk memperlancar Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 179
  • program-program dan kegiatan-kegiatannya atau atau untuk mempertahankan kekuasaan dan hak-hak istimewa yang selama ini dinikmati. (3) Nilai-nilai Pribadi Hasrat untuk melindungi atau memenuhi kesejateraan atau kebutuhan fisik atau kebutuhan finansial‘ reputasi diri, atau posisi historis kemungkinan juga digunakanoleh para pembuat teputusan sebagai kriteria dalam pengambilan keputusan. Para politisi yang menerima uang sogok untuk membuat kepurusan tertentu yang menguntungkan si pemberi uang sogok, misalnya sebagai hadiah pemberian perizinan atau penandatanganan kontrak pembangunan proyek tertentu, jelas mempunyai kepentingan pribadi dalam benaknya. Seorang presiden yang mengatakan di depan para wartawan bahwa ia akan menggebut siapa saja yang bertindak inkonstirusional, jelas juga dipengaruhi oleh pertimbangan-pertimbangan pribadinya‘misalnya agar ia mendapat tempat terhormat dalam sejarah bangsa sebagai seseorang yang konsisten dan nasionalis. (4) Nilai-nilai Kebijaksanaan Dari perbincangan di atas, satu hal hendaklah dicamkan, yakni janganlah kita mempunyai anggapan yang sinis dan kemudian menarik kesimpulan bahwa para pengambil keputusan politik inr semata-mata hanyalah dipengaruhi oleh pertimbangan-penimbangan demi keuntungan politik, organisasi atau pribadi. Sebab, para pembuat keputusan mungkin pula bertindak berdasarkan atas penepsi mereka terhadap kepentingan umum atau keyakinan tertentu mengenai kebijaksanaan negara apa yang sekiranya secara moral tepat dan benar. Seorang wakil rakyat yang mempejuangkan undang-undang hak kebebasan sipil mungkin akan bertindak sejalan dengan itu karena ia yakin bahwa tindakan itulah yang secara moral benar, dan bahwa persamaan hak-hak sipil itu memang merupakan tujuan kebijaksanaan negara yang diinginkan, tanpa mempedulikan bahwa perjuangan itu mungkin akan menyebabkannya mengalami resiko-resiko politik yang fatal. (5) Nilai-nilai Ideologis Ideologi pada hakikatnya merupakan serangkaian nilai-nilai dan keyakinan yang secara logis saling berkaitan yang mencerminkan gambaran sederhana mengenai dunia serta berfungsi sebagai pedoman benindak bagi masyarakat yang meyakininya. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 180
  • Di berbagai negara sedang berkembang di kawasan Asia, Afrika dan Timur Tengah nasionalisme yang mencerminkan hasrat dari orang-orang atau bangsa yang bersangkutan untuk merdeka dan menentukan nasibnya sendiri — telah memberikan peran penting dalam mewamai kebijaksanaan luar negeri maupun dalam negeri mereka. Pada masa gerakan nasional menuju kemerdekaan, nasionalisme telah berfungsi sebagai minyak bakar yang mengobarkan semangat perjuangan bangsabangsa di negara-negara sedang berkembang melawan kekuatan kolonial. Di Indonesia, ideologi Pancasila setidaknya bila dilihat dari sudut perilaku politik regim, telah berfungsi sebagai resep untuk melaksanakan perubahan sosial dan ekonomi. Bahkan ideologi ini kerapkali juga dipergunakan sebagai instrumen pengukur legitimasi bagi partisipasi politik atau partisipasi dalam kegiatan pembangunan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok dalam masyarakat (Abdul Wahab, Solichin, 1987). D. Fungsi Dan Tujuan Pengambilan Keputusan Fungsi Pengambilan Keputusan : Individual atau kelompok baik secara institusional ataupun organisasional, sifatnya futuristik. Tujuan Pengambilan Keputusan : Tujuan yang bersifat tunggal (hanya satu masalah dan tidak berkaitan dengan masalah lain). Tujuan yang bersifat ganda (masalah saling berkaitan, dapat bersifat kontradiktif ataupun tidak kontradiktif) E. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan Komposisi kelompok. Ada 6 hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun komposisi kelompok. i. penerimaan tujuan umum; mempengaruhi kerjasama dan tukar informasi ii. pembagian (divisibilitas) tugas kelompok; tidak semua tugas dapat dibagi iii. komunikasi dan status struktur; biasanya yang osisinya tertinggi paling mendominasi dalam kelompok. iv. ukuran kelompok; semakin besar kelompok semakin menyebar opini, konsekuensinya adalah semakin lemah partisipasi individu dalam kelompok tersebut. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 181
  • v. Kesamaan anggota kelompok Keputusan kelompok akan cepat dan mudah dibuat bila anggota kelompok sama satu dengan yang lain. vi. Pengaruh (pengkutuban) polarisasi kelompok. Seringkali keputusan yang dibuat kelompok lebih ekstrim dibandingkan keputusan individu. Hal itu disebabkan karena adanya perbadingan sosial. Tidak semua orang berada di atas rata-rata. Oleh karena itu untuk mengimbanginya perlu dibuat keputusan yang jauh dari pendapat orang tersebut. F. Model Pengambilan Keputusan 1. Model Pengambilan Keputusan dalam Keadaan Kepastian (Certainty). Menggambarkan bahwa setiap rangkaian keputusan (kegiatan) hanya mempunyai satu hasil (pay off tunggal). Model ini disebut juga Model Kepastian/ Deterministik. 2. Model Pengambilan Keputusan dalam kondisi Berisiko (Risk). Menggambarkan bahwa setiap rangkaian keputusan (kegiatan) mempunyai sejumlah kemungkinan hasil dan masing-masing kemungkinan hasil probabilitasnya dapat diperhitungakan atau dapat diketahui. Model Keputusan dengan Risiko ini disebut juga Model Stokastik. 3. Model Pengambilan Keputusan dengan Ketidakpastian (Uncertainty). Menggambarkan bahwa setiap rangkaian keputusan (kegiatan) mempunyai sejumlah kemungkinan hasil dan masing-masing kemungkinan hasil probabilitasnya tidak dapat diketahui/ditentukan. Model Keputusan dengan kondisi seperti ini adalah situasi yang paling sulit untuk pengambilan keputusan. (Kondisi yang penuh ketidakpastian ini relevan dengan apa yang dipelajari dalam Game Theory) G. Langkah-langkah/Proses Pengambilan Keputusan Secara umum, langkah-langkah dalam proses pengambilan keputusan adalah sebagai berikut: 1. Proses identifikasi atau perumusan persoalan keputusan. Identifikasi masalah dapat dilakukan dengan berbagai cara. Penggunaan seven tools dalam manajemen biasanya dapat membantu proses identifikasi ini. 2. Penetapan parameter dan variabel yang merupakan bagian dari sebuah persoalan keputusan. Biasanya pemecahan masalah yang menggunakan model matematika sangat memerlukan adanya variabel yang terukur. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 182
  • 3. Penetapan alternatif-alternatif pemecahan persoalan. Alternatif pemecahan masalah didapatkan dari analisis pemecahaan masalah. 4. Penetapan kriteria pemilihan alternatif untuk mendapatkan alternatif yang terbaik. Biasanya kriteria pemilihan ini didasarkan pada pay off atau hasil dari keputusan. 5. Pelaksanaan keputusan dan evaluasi hasilnya. Tahap ini disebut tahap implementasi, dimana alternatif solusi yang terpilih akan diterapkan dalam jangka waktu tertentu dan setelah itu akan dievaluasi hasilnya berdasarkan peningkatan atau penurunan pay off atau hasil. Kesimpulan : Dari poin-poin diatas dapat kita ketahui bahwa dalam proses pengambilan keputusan hendaknya di awali dengan jenis keputusan yang akan diambil, setelah kita mengetahui jenisnya barulah kita tentukan langkah pengambilan keputusan yang meliputi proses identifikasi, penetapan parameter, alternatif, kriteria serta mengevaluasi hasilnya atau disebut tahap implementasi. Sehingga pada akhirnya terciptalah sebuah keputusan yang adil dan menguntungkan kedua belah pihak. Jika manajemen organisasi seperti itu seharusnya tidak ada lagi penyelewengan kekuasaan dalam pengambilan keputusan seperti kasus Gayus tersebut. Semoga pemegang kekuasaan pengambilan keputusan seperti Pengadilan atau Mahkamah Agung hendaknya perlu membangun sistem pengambilan yang terbaik demi terciptanya rasa keadilan bagi seluruh warga negara. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 183
  • DAFTAR PUSTAKA Arifin,Zainal. (2012). Konsep dan Model Pengembangan Kurikulum. Bandung. PT Remaja Rosdakarya. Nasution. (1989). Kurikulum dan Pengajaran. Bandung. PT Bumi Aksara. Harjanto. (2011). Perencanaan Pemgajaran. Jakarta. Rineka Cipta. http://joko1234.wordpress.com/2010/03/18/model-sistem-instruksional-pembelajaran Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 184
  • Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 185
  • BAB VIII PENERAPAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN DI INDONESIA A. Sistem Belajar Jarak Jauh A. Definisi pendidikan Jarak Jauh Menurut Moore dan Kearsly dalam Setijadi (2005;1) pendidikan jarak jauh adalah belajar yang direncanakan di tempat lain dan di luar tempat mengajar. Menurut Setijadi (2005) pendidikan terbuka dan jarak jauh di Indonesia terdiri atas beberapa jenis yaitu :  pendidikan dasar dan menengah terbuka dan jarak jauh yang terdiri dari SMP/MTs terbuka dan jarak jauh dan SMA/MA terbuka dan jarak jauh  pendidikan terbuka dan jarak jauh pada tingkat Pendidikan Tinggi yang salah satu contohnya adalah universitas terbuka  pendidikan non formal terbuka dan jarak jauh yang terdiri dari program kesetaraan program paket A, paket B, dan paket C  pelatihan profesional jarak jauh, contohnya adalah PMJJ-PPM (Pelatihan Manajemen Jarak Jauh PPM)  pendidikan guru jarak jauh, contoh FKIP universitas terbuka. Dengan demikian, pada dasarnya pendidikan terbuka dan jarak jauh adalah jenis pendidikan dimana peserta didik berjarak jauh dari pendidik, sehingga pendidikan tidak dapat dilakukan dengan cara tatap muka sesering pendidikan reguler. Karena itu penyampaian pesan pendidik kepada peserta didik harus dilakukan melalui media yang berkembang sejalan dengan perkembangan teknologi yang semakin maju. Media tersebut dapat berupa media cetak, radio, televisi, komputer, maupun yang sedang berkembang saat ini adalah dengan menggunakan internet dan teleconverence. Sebuah media dikembangkan sesuai dengan teknologi yang berkembang. Oleh karena itu teknologi berperan sangat penting dalam pencapaian tujuan pendidikan terbuka dan jarak jauh. Tujuan pendidikan terbuka dan jarak jauh ini pada akhirnya diharapkan peserta didik dapat belajar secara mandiri sehingga tercapai pemerataan pendidikan. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 186
  • B. Perkembangan Teknologi Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh Berikut ini adalah perkembangan teknologi yang digunakan dalam pendidikan terbuka dan jarak jauh (Pustekkom, 2005):  Tahun 1976 s.d 1990. pada tahun 1976 s.d 1990 pendidikan terbuka dan jarak jauh mulai dirintis karena banyak guru SD yang belum lulus D II PGSD. Untuk itu pemerintah mulai melakukan pemerataan pendidikan melalui universitas terbuka dan siaran radio pendidikan yang disiarkan untuk meningkatkan mutu pendidikan serta menyebarkan kesempatan memperoleh pendidikan khususnya di daerah terpencil. Radio dapat dikatakan sebagai ―primadona‖ teknologi untuk pendidikan terbuka dan jarak jauh pada masa itu. Teknologi yang kemudian berkembang setelah radio adalah televisi. Televisi dengan programnya siaran televisi pendidikan sekolah kemudian menjadi salah satu alternatif pendidikan terbuka dan jarak jauh. Televisi pendidikan sekolah merupakan cikal bakal terbentuknya televisi edukasi (TV E).  Tahun 1991 s.d 2005. pada masa 1991 s.d 2005 teknologi yang digunakan dalam pendidikan terbuka dan jarak jauh adalah komputer, jaringan internet, dan perangkat multimedia. Disamping itu teknologi televisi juga berkembang dengan dikembangkannya televise edukasi (TV E). Pada masa setelah tahun 2005 sampai sekarang, teknologi berbasis e-learning dan mobile terus berkembang melewati batas ruang dan waktu sehingga seakan tidak ada jarak yang memiahkan untuk megenyam pendidikan yang merata pada seluruh lapisan masyarakat dimanapun berada.  Kondisi Riil. Teorinya, teknologi yang berkembang saat ini memudahkan kita untuk menyelesaikan masalah pemerataan pendidikan di Indonesia. Tetapi kenyataanya masalah pemerataan pendidikan di Indonesia belum juga teratasi. Masih banyak peserta didik yang ada di daerah pedalaman yang masih tertinggal pendidikannya di banding dengan daerah perkotaan. Salah satu alasan terhambatnya pemerataan pendidikan di Inonesia adalah tidak meratanya sarana dan prasarana yang digunakan sebagai media pembelajaran. Teknologi yang berkembang belum sepenuhnya merata di salurkan ke seluruh pelosok negeri. Misalnya masih terbatasnya komputer yang berjaringan internet di pelosok papua atau daerah pedalaman lain. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 187
  • Pada penyelenggaraan pendidikan terbuka dan jarak jauh, diperlukan teknologi sebagai alat bantu pemerataan pendidikan. Beberapa teknologi pendidikan terbuka dan jarak jauh yang berkembang saat ini antara lain radio dengan program siaran radio pendidikan, televisi melalui program TV Edukasi (TV E), komputer dengan jaringan internet yang kemudian digunakan sebagai pembelajaran berbasis e-learning, dan teknologi multimedia lain. Semua teknologi itu jika digunakan pada seluruh pelosok negeri dapat mengatasi masalah pemerataan pendidikan di Indonesia. Tetapi kenyataannya, sumber daya daerah yang tidak sama, membuat perbedaan kemampuan daerah dalam memenuhi perkembangan teknologi yang maju sangat pesat. Tidak dipungkiri masih banyak daerah yang ‘tertinggal‘ untuk masalah teknologi. Seharusnya teknologi bukan untuk membebani suatu daerah tetapi untuk mempermudah daerah tersebut termasuk dalam pemerataan pendidikan melalui pendidikan terbuka dan jarak jauh. B. Penggunaan modul dan paket belajar bahan belajar yang dirancang secara sistematis berdasarkan kurikulum tertentu dan dikemas dalam bentuk satuan pembelajaran terkecil dan memungkinkan dipelajari secara mandiri dalam satuan waktu tertentu dan mencapai tujuab tertentu yang telah ditetapkan. Tujuan disusunnya modul adalahagar peserta dapat menguasai kompetensi yang diajarkan dalam diklat atau kegiatan pembelajaran dengan sebaik-baiknya. Bagi widiaiswara atau guru, modul juga menjadi acuan dalam menyajikan dan memberikan materi selama diklat atau kegiatan pembelajaran berlangsung. Fungsi modul ialahsebagai bahan belajar yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran peserta didik. Dengan modul peserta didik dapat belajar lebih terarah dan sistematis. Peserta didik diharapkan dapat menguasai kompetesi yang dituntut oleh kegiatan pembelajaran yang diikutinya. modul elektronik adalah penggabungan istilah modul dalam menggabungkan bahan belajar elektronil (e-book). dapat didefiniskan bahwa modul elektronik adalah sebuah bentuk penyajian bahan belajar mandiri yang disusun secara sistematis dalam unit pembelajaran terkecil untuk mencapai tujuan pembelajran tertentu, yang disajikan dalam format elektronik. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 188
  • Berdasarkan pengertian itu terdapat perbedaan prinsip pengembangan antara modul konvensional (cetak) dan modul elektronik. Perbedaan hanya pada penyajian bentuk fisik saja, sedangkan komponen-komponennya tidak ada perbedaan. Perbandingan modul cetak dan modul elektronik Modul Elektronik 1. Ditampilkan dengan Modul cetak menggunakan 1. Tampilannya hanya kumpulan kertas layar monitor/layar komputer yang berupa informasi 2. lebih praktis untuk dibawa keman- 2. jika mana,tidak peduli berapa banyak modul didalamnya. 3. menggunakan CD,memory card atau lainnya untuk menyimpan data. 4. biaya produksi lebih murah, tidak perlu biaya untuk memperbanyak. semakin banyak jumlah halamannya maka akan semakin besar pula ukurannya dan semakin berat. 3. tidak menggunakan CD,memory card atau lainnya untuk menyimpan data. 5. menggunakan sumber daya listrik dan 4. biaya produksinya jauh lebih mahal memerlukan komputer atau sejenisnya apalagi jika banyak warna, begitu untuk mengoperasikannya. juga 6. tahan lama dan tidak lapuk dimakan waktu 7. naskah dapat disusun linear arau non linear 8. dapat dilengkapi dengan audio dan vidio dalam penyajiannya biaya tambahan untuk memperbanyak, dan biaya lainnya. 5. tidak membutuhkan sumber daya khusus untuk menghidupkannya. 6. daya tahan kertas terbatas lamakelamaan akan mudah robek. 7. naskah hanya disusun secara linear 8. tidak dapat dilengkapi dengan audio dan hanya vidio dapat dalam penyajiannya, dilengkapi dengan ilustrasi saat penyajiannya. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 189
  • 1. Universitas terbuka Universitas tebuka adalah perguruan tingggi negeri (PTN) KE-45 di indonesia yang menerapkan sistem belajar terbuka dan jarak jauh, sistem belajar ini terbukti efektif untuk meningkatkan daya jangkau dan pemerataan kesempatan pendidikan tinggi yang berkualitas bagi semua warga negara indonesia, termasuk mereka yang tinggal di negara-negara terpencil, baik di seluruh nusantara maupun di berbagai belahan dunia. A. Latar Belakang Adanya keterbatasan waktu dan tempat dalam mengembangkan dan meningkatkan pendidikan serta meningkatkan kemampuan profesional. Latar belakang tersebut akhirnya membuat universitas terbuka memberikan kesempatan seluasnya kepada siapa saja untuk meningkatkan pengetahuan,keterampilan,dan kompetensi. a. Tujuan  Memberikan kesempatan yang luas bagi warga negara indonesia dan warga negara asing. Dimanapun tempat tinggalnya untuk memperoleh pendidikan tinggi.  Mengembangkan pelayanan pendidikan tinggi bagi mereka, yang karena bekerja atau karena alasan lain, tidak dapat melanjutkan belajar di perguruan tinggi tatap muka.  Mengembangkan program pendidikan akademik dan profesional yang disesuaikan dengan kebutuhan nyata pembangunan, yang belum banyak dikembangkan oleh perguruan tinggi lain.  Melaksanakan tridarma perguruan tinggi dengan cara yang lebih terbuka yaitu melalui sistem belajar jarak jauh (SBJJ) b. Ciri-ciri universitas terbuka  Tidak ada pembatasan jangka waktu penyelesaian studi dan tidak memeberlakukan sistem drop out.  Tidak ada pembatasan, baik tahun kelulusan ijazah SLTA maupun umur. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 190
  •  Waktu pendaftaran (registrasi) leluasa sepanjang tahun.  Ruang,waktu,dan tempat belajar yang fleksibel sesuai kondisi mahasiswa.  Penggunaan materi belajar multimedia, termasuk bahan belajar cetak baik yang dilengkapi dengan kaset audio dan video/CD,CD-ROM, siaran radio dan TV, maupun bahan belajar berbasis komputer dan internet. c. Pelakanaan Belajar Mengajar UT menerapkan sistem belajar jarak jauh dan terbuka. Istilah jarak jauh berarti pembelajaran tidak dilakukan secara tatap muka, melainkan menggunakan media, baik media cetak (modul)maupun non-cetak (audio/video, komputer/internet,siaran radio dan televisi). Makna terbuka adalah tidak ada pembatasan usia,tahun, ijazah,masa belajar,waktu registrasi, frekuensi mengikuti ujian,dan sebagainya batasan yang ada hanyalah bahwa, setiap mahasiswa UT harus sudah menamatkan jenjang pendidikan menengah atas ( SMA atau yang sederajat). Mahasiswa UT diharapkan dapat belajar secara mandiri. Cara belajar mandiri menghendaki mahasiswa untuk belajar atas prakarsa atau inisiatif sendiri. Belajar mandiri dapat dilakukan secara sendiri ataupun berkelompok, baik dalam kelompok belajar maupun dalam kelompok tutorial. UT menyediakan bahan ajar yang dibuat khusus untuk dapat di pelajari secara mandiri. Selain menggunakan bahan ajar yang disediakan oleh UT, mahasiswa juga dapat mengambil inisiatif untuk memamfaatkan perpustakaan, mengikuti siaran radio,mengikuti tutorial, serta-menggunakan sumber belajar lain seperti bahan belajar berbatuan komputer dan program audio/video. Apabila mengalami kesulitan belajar, mahasiswa dapat meminta informasi atau bantuan tutorial kepada ketua jurusan masing-masing. d. Kurikulum Mengikuti tiap program studi di universitas terbuka meliputi antara 48-50 mata kuliah dengan jumlah sks antara 145-146. Disamping harus menyelesaikan semua mata kuliah tersebut, mahasiswa harus menempuh ujian komprehensif tertulis (UKT) yaitu ujian tertulis (essay) sebagai pengganti pembuatan skripsi. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 191
  • Pada saat UKT biasanya mahasiswa dihadapkan kepada satu soal ( biasa berupa kasus) untuk bisa dijawab dengan pendekatan disiplin ilmu dari 4-5 mata kuliah inti dari masing-masing program studi.. e. Media dan Sumber balajar  Bahan ajar cetak: buku materi pokok (BMP), buku materi suplemen, buku petunujuk praktek dan pratikum, atau referensi lainnya.  Bahan ajar non-cetak: kaset audio,kaset video,siaran radio dan televisi, bahan ajar berbatuan komputer dalam disket atau CD.  Bahan ajar cetak dan non-cetak : audiografis. Bahan ajar cetak (modul)merupakan bahan ajar utama yang didesain untuk dapatdigunakan secara mandiri tanpa bantuan tutor. Modul-modul yang ada juga telah dilengkapi dengan bahan ajar non-cetak seperti kaset audiovideo,CD, siaran radio dan televisi, serta bahan ajar berbasis komputer dan internet (CAI dan web supplement). UT menjamin bahan ajar dan bahan ujian yang berkualitas.Bahan ajar dengan bahan ujian UT dikembangkan oleh penulis yang ahli dalam bidangnya yang merupakan dosen-dosen dari perguruan tinggi terkemuka di indonesia. Kualitas bahan ajar UT telah dikenal oleh masyarakat luas dan banyak digunakan oleh perguruan tinggi lain di indonesia. f. Tenaga Pendidik Dalam penyelenggaraan pendidikan, UT bekerja sama dengan semua perguruan tinggi negeri/swata serta instansi yang relevan yang ada di indonesia. Pada setip provinsi atau kota yang terdapat perguruan tinggi negeri, teredia unit layanan UT yang disebut layanan unit program belajar jarak jauh-universitas terbuka (UPBJJ-UT). Perguran tinggi negeri setempat berperan sebagai pembina UPBJJ-UT serta membantu dalam penulisan bahan ajar, tutoril,pratikum, dan ujian. g. Sumber Dana Terdapat dua sumber dana yang dikucurkan oleh universitas ke tingkat program studi, yaitu dana yang bersumber dari DIK-S (dana dari masyarakat) dan DIP (dana proyek/dana pembangunan dari pemerintah). Meskipun pada tingkat universitas, UT memiliki tiga sumber dana, yaitu DIK,DIP,dan DIK-S. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 192
  • Mulai tahun 2005 sumber dana DIK (dana rutin dari pemerintah) dan DIP digabungkan dan disebut sumber dana yang disebut dengan DIPA. Dana DIK terutama dipakai untuk penggajian dosen dan karyawan Lainnya dan pengelolaannya bukan mrupakan wewenang prodi. 2. SMA Terbuka SMA Terbuka adalah subsistem pendidian pada jenjang pendidikan menengah yang mengutamakan kegiatan belajar mandiri para peserta didiknya dengan bimbingan terbatas dari orang lain A. Latar belakang SMA Terbuka merupakan salah satu model layanan pendidikan alternatif jalur sekoalh tingkat menengah yang diselenggarakan oleh reguler.SMA Terbuka bukanlah lembaga atau UPT baru yang berdiri sendiri,melainkan menginduk pada SMA reguler yang telah ada. Dengan demikian,SMA reguler yang menjadi Sekolah Induk SMA Terbuka menyelenggarakan pendidikan dengan dual mode system (tugas ganda).Artinya ,sekolah induk SMU Terbuka sekaligus melayani dua kelompok peserta didik yang berbeda,dengan cara belajar yang berbeda . Dalam hal ini,Sekolah Induk SMU Terbuka diberi perluasan atau tambahan peran ,yaitu berupa layanan pendidikan dengan sisitem belajar jarak jauh yang diperuntukkan bagi peserta didik yang memiliki kendala tertentu. 1) Tujuan Perintisan SMU terbuka dilakukan dengan tujuan memberikan kesempatan belajar bagi lulusan SLTP/MTS yang karena berbagai kendala sosial ekonomi,geograsis,waktu dan lainnya maka tidak dapat menikuti pendidikan pada tingkat SLTA.Pada tahun 2001 dilakukan pemnatapan perintisan SMU terbuka dengan melibatkan unsur pemerintah daerah dan unsur dinas pendidikan kabupaten/kota. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 193
  • Perintisan SMU terbuka dilandasi oleh kerangka konseptual yang cukup matang bagi dari segi teori,filsafat,pola,pembelajaran,pola kelembagaan,maupun sisitem jaminan kualitasnya (quality assuranrea)uji coba SMU terbuka telah dilakukan pada tahun 2002/2003 di 7 lokasi. 2) Ciri-ciri SMA terbuka SMA terbuka merupakan pola pendidikan yang menerapkan sistem belajar jarak jauh pada jenjang pendidikan menengah yang kegiatan pembelajarannya dilaksanakan sevcara fleksibel melalui penerapan prinsi-prinsip belajar mandiri.pada hakekatnya sma terbuka sama dan sederajat dengan SMA reguler/konvensional. Perbedaanya hanya terletak pada aspek pembelajarannya dimana para peserta didik SMA terbuka belajar secara perseorangan maupun dalam kelompok kecil,(pustekom-depdiknas 2000)karakteristik pendidikan SMA terbuka dapat dilihat dari aspek tujan,peserta didik,bahan belajar,stategi pembelajaran ,evaluasi dan sertifikasi. 3) Pelaksanaan belajar mengajar  kegiatan belajar siswa tidak harus dilakukan dalam ruang kelas formal dengan tatap muka langsung dengan guru mata pelajaran .  secara periodik siswa berkonsultasi dengan staf sekolah (kepala sekolah ,wakil kepala sekolah,guru)untuk memecahkan kesulitandan masalah belajar.  secara teratur siswa belajar dan menelesaikan tugas-tugas individual. Dari informasi tersebut diatas dapat diruuskan bahwa model/sistem pendidikan SMU terbuka adalah model/sistem pendidikan SMU yang sebahagian besar kegiatan pembelajarannya dilaksanakan secra mandiri,dengan menggunakan bahan-bahan belajar yang dapat dipelajari peserta didik secara mandiri tanpa dengan seminimal mungkin bantuan orang lain. karena itulah para peserta didik SMU terbuka setiap harinya belajar mandiri di tempat kegiatan belajar (TKB) di bawah supervisi guru pamong ,baik secara individual maupun dalam bentuk kelompok-kelompok kelompok keil .guru pamong tidak bertugas mengajar karena memang mereka bukanlah orang yang berkualifikasi mengajar di SMU. 3. Kurikulum Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 194
  • Umumnya sam dengan kurikulum SMA biasa .namun terdapat perbedaan dalam hal waktu belajar.SMU terbuka tidak dituntut untuk datang setiap hari ke SMU reguler yang ditentukan tetapi mereka hanya datang belajar setiap sore(pukul 14.00 s/d 17.00)selama 5 hari setiap minggunya di TKB di bawah supervisi guru pamong . pada umumnya untuk setiap mata pelajaran minimal mendapat alokasi tutorial selama 2x45 menit perbulan.sedangkan untuk mata pelajaran yang sukar seperti bahasa inggris ,matematika, fisika ,dan mata pelajaran yang penting seperti bahasa indonesia,dalam sebulan minimal mendapat alokasi waktu tutorial 3x45 menit perbulan namun apabila SMU terbuka tertentu menganut pola tutorial dua hari seminggu.maka jumlah alokasi waktu tutorial untuk mata pelajaran yang sulit/penting minimal 4x45 menit dalam sebulan. Evaluasi hasil belajar yang dilaksanakan di SMU terbuka yang setara dengan yang dilaksanakan di SMU reguler adalah :  tes akhir modul (TAM) setara dengan tes tformatif atau ulangan harian pada SMU reguler.  Tes akhir unit setara dengan tes tengah semester (mid semester test) pada SMU reguler.  Tes akhir semester yang dilaksanakan pada setiap akhir semester adalah sama dengan ulangan umum pada SMU reguler.Tujuannya adalah untuk mengukur tingkat keberhasilan peserta didik setelah mempelajari sejumlah modul selama satu semester.  Ujian akhir merupakan ujian yang diselenggarakan untuk peserta didik SMU terbuka kelas III pada akhirtahun ajaran yang pelaksanaanya mengikuti ketentuan yang berlaku di SMU penyelenggara. Sertifikasi yang diterima oleh para peserta didik SMU reguler yang telah berhasil menyelesaikan pendidikannya di SMU adalah sama dengan yang diberikan kepada peserta didik SMU terbuka. 4. Media dan sumber belajar Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 195
  • Bahan belajar utama yang digunakan para pesrta didik SMU terbuka berbeda dengan yang digunakan di SMU reguler sekalipun acuan yang digunakan untuk pengembangan bahan belajar adalah sama yaitu kurikulum SMU yg berlaku . bahan belajar yang digunakan para peserta didik SMU terbuka adalh bahan belajar mandiri cetak yang disebut modul dan bahan ajar dalam bentuk media lainnya atau penunjang Bahan belajar yang digunakan peserta dididk SMU terbuka memang dirancang secara khusus agar dapat dipelajari secaara mandiri baik secara individual atau kelompok-kelompok kecil oleh peserta didik.bahasa yang digunakan dalam modul adalah bahasa yang komunikativ mudah dipahami dan para peserta didik untuk mengevalusi diri sendiri baik melalaui unpan balik segera (imediate feedbacks). Maupun kunci jawaban-jawaban soal latihan tugas yang tersedia dalam modul yang akan ditu njang oleh media non cetak yangterdiri dari program audio, vidio/vcd, dan media lainnya yang perlu mendapat perhatian untuk dapat meningkatkan mutu pembelejaran SMU terbuka 5. Tenaga pendidik Salah satu prinsipnya adalah mengoptimalkan pendayagunaan berbagai sumber daya yang ada di masyarakat termasuk tenaga gurunya,guru mata pelajaran yang terdapat d SMU reguler yang dijadikan sebagai sekolah induk SMU terbuka dengan memberikan konorarium tambahan 1. SMP Terbuka SMP Terbuka merupakan lembaga pendidikan formal yang tidak brdiri sendiri tetapi merupakan bagian dari SMP Induk yang dalam menyelenggarakan pendidikannya menggunakan metode belajar mandiri. A. Latar Belakang Trilogi Pembangunan memberikan tekanan pada pemerataan pembangunan yang hasilnya menuju pada terciptanya keadilan sosial bagiseluruh rakyat. Sesuai dengan prinsip konsep pemerataan perwujudan pelaksanaan kewajiban belajar. Adapun gambaran umum latar belakang berdirinya SMP terbuka adalah :  Kekurangan fasilitas pendidikan dan tempat belajar  Tenaga kependidikan yang tidak cukup Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 196
  •  Memperluas kesempatan belajar dalam rangka pemerataan pendidikan  Menanggulangi anak terlantar bagi anak yang tidak diterima di SMP Negeri a. Tujuan Permasalahan dalam pendidikan sangat kompleks. Salah satu alternative pemecahan dimulai dari penemuan konsep SMP terbuka oleh pemerintah yang diilhami oleh berbagai aspirasi masyarakat lapis bawah. Mereka mempunyai apresiasi yang tinggi terhadap pendidikan. Salah satu dari keinginan mereka adalah agar anak-anaknya dapat melanjutkan pendidikan setelah tamat dari sekolah dasar meskipun berbagai kendala menghimpit mereka. Mulai dari kendala keuangan, waktu, letak geografis dan kendala transportasi. Mereka mempunyai kemungkinan yang sangat keciluntuk mengeyam pendidikan di SMP reguler. b. Ciri-ciri SMP Terbuka  Tebuka bagi siswa tanpa pembatasan umur dan tanpa syarat-syarat akademik.  Terbuka dalam memilih program belajar untuk mencapai ijazah formal, untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan jangka pendek yang bersifat praktis, insidensial dan perorangan.  Terbuka dalam proses belajar mengajar yaitu tidak selalu diselenggarakan di ruang kelas secara tatap muka, akan tetapi juga media seperti radio, media cetakan, kaset, slide, model dan gambar-gambar.  Terbuka dalam keluar masuk kelas/sekolah sesuai waktu yang tersedia oleh siswa.  Terbuka dalam pengelolaan sekolah. Sekolah dikelola oleh pegawai negri dari orang-orang lain yang diperlukan partisipasinya seperti warga dan pimpinan masyarakat, orang tua siswa, dan pamong pemerintah setempat. c. Pelaksanaan belajar mengajar Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 197
  •  Rancangan operasional. Sebagai subsistem pendidikan yang baru di indonesia perlu diadakn persiapan yang matang.  Penyusuna bahan belajar. Penyusunan bahan ajar disusun oleh tim pengembangan kurikulum yang sudah ditugaskan.  Modul. Suatu pelajaran terkecil yang disusun menjadi suatu buku yang lengkap.  Program radio, kaset dan film bingkai. Naskah-naskah tersebut disusun oleh tim pengembangan kurikulum. Setelah di review oleh ahli bidang studi bersama ahli media kemudian di produksi dalam bentuk rekaman oleh balai produksi PUSTEKOM.  Perintisan. Karena merupakan subsistem pendidikan baru perlu diadakan perintisan untuk mengetahui cara penyelenggaraan dan pengelolaan sebaik-baiknya menurut keadaan dan kondisi setempat.  Lokasi daerah perintisan. Yang dijadikan kriteria memilih lokasi perintisan adalah keteserdiaan guru pembimbing dan pembina di daerah bersangkutan.  Penataran pelaksana. Penataran dapat dilakukan secara berantai artinya mereka yang telah pernah ditatar dapat menatar calon pelaksana SMP terbuka di daerah masingmasing. d. Kesulitan-kesulitan e. Orgnisasi dan pengelolaanPenyelenggaraan Smp terbuka menjadi tanggung jawab direktorat Dikmenum, Direktorat Jenderal Dikdasmen. f. Evaluasi system. Selain evaluasi hasil belajar dilakukan juga evaluasi sistem SMP Terbuka. g. Kurikulum. Kurikulum yang dipakai pada SMP terbuka adalah kurikulum yang berlaku pada saat itu, sama halnya dengan kurikulum yang dipakai pada SMP Negeri pada umumnya. h. Media dan sumber belajar. Modul masih menjadi pilihan utama sumber belajar. Bahan belajar yang digunakan peserta didik SMP terbuka memang di rancang secara khusus agar dapat dipelajari secara mandiri, baik secara individual maupun dalam kelompokkelompok kecil oleh para peserta didik. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 198
  • Dikatakan secara khusus dengan menpelajari modul, para peserta didik dikondisikan seolah-olah berintekrasi dengan guru. Bahasa yang digunakan di dalam modul adalah bahasa yang komunikatif, mudah dipahami, dan memungkinkan para peserta didik untuk mengevaluasi diri sendiri, baik melalui umpan balik segera (imediate feedbacks) maupun kunci jawaban soal-soal latihan/tugas yang tersedia di dalam modul dan akan ditunjang oleh media noncetak yang terdiri dari program audio, video dan media lainnya. Jadi kualitas bahan belajar perlu mendapat perhatian untuk dapat meningkatkan mutu pembelajaran di SMP Terbuka. Oleh karena itu, pengembangan bahan belajar dilakukan secara sistematis sehingga dihasilkan bahan belajar yang berkualitas, baik segi isi materi, penyajian, maupun tampilan. Dengan demikian bahan belajar tersebut menarik dan mudah untuk di pelajari. i. Tenaga pendidik. Tenaga kependidikan kepala sekolah, kepala sekolah dari SMP Terbuka adalah kepala sekolah induk.  Guru Bina. Guru bina adalah guru pada sekolah induk yang diberi tugas untuk mengajar di SMP Terbuka sesuai mata pelajaran yang ditentukan.  Guru Pamong. Guru pamong adalah pembimbing belajar mandiri siswa yaitu anggota masyarakat yang peduli akan pendidikan. Dengan ketentuan minimal SMA, dan berada pada lingkungan sekitar tempat kegiatan belajar. j. Sumber Dana. Siswa SMP Terbuka sepenuhnya dibebaskan dari pungutan apapun,. Hal tersebut dikarenakan biaya operasional SMP Terbuka sepenuhnya dibiayai oleh pemerintah. 2. SD Kecil SD Kecil adalah sekolah dasar yang pada umunya terdapat di daerah terpencil dengan sistem pendidian yang berbeda dengan SD Konvensional. Jumlah siswa maksimal 60 orang kelas I sampai dengan kelas IV dengan dua orang guru kelas dan satu kepalaa sekolah, proses belajar mengajar di selenggarakan dengan menggunakan modul. a. Latar Belakang Didirikan untuk memberikan tempat belajar bagi siswa yang tidak bisa sekolah di SD reguler karena jaraknya terlalu jauh. SDK biasanya didirikan di daerah terpencil jauh Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 199
  • dari perkotaan dengan kondisi jalan terjal, becek, atau berbatuan. SDK menampung anakanak warga dengan kondisi ekonomi yang sangat miskin. Siswa belajar tanpa sepatu, seragam, dan tanpa biaya apapun. b. Tujuan SD Kecil SDK didirikan oleh warga secara gotong-royong didaerah terpencil yang jauh dari perkotaan. Jarak dari pusat kota kecamatan tidak kurang dari 15 km. dengan kondisi jalan terjal, tanah becek atau bebatuan serta sulit dilewati dengan kendaraan bermotor roda dua. Tujuannya untuk memberikan tempat belajar bagi siswa yang tidak bisa sekolah di SD reguler karena jaraknya terlalu jauh. Lokasi SDK di tengah-tengah hutan atau diatas pegunungan yang sulit di-akses oleh masyarakat pada umumnya. SDK untuk manampung anak-anak warga dengan kondisi ekonomi sangat miskin. Siswa belajar tanpa sepatu,seragam, dan biaya apapun. c. Ciri-ciri SD kecil  Kelas yang ada lebih seddikit dari SD biasa (tiga kelas)  Jumlah murid lebih kecil (20/30 orang)  Jumlah guru lebih sedikit dari guru SD biasa(tiga orang termasuk kepala sekolah)  Pendekatan belajar meliputi belajar sendiri,yaitu mempelajari modul, belajar kelompok,klasikal.  Murid yang pandai dijadikan tutor untuk mengajar murid-murid lain. d. Pelaksanaan belajar mengajar Siswa mulai belajar pukul 08:00 WIB, dan pulang pukul 12:00 WIB. Apabila pukul 08:00 belum ada guru yang datang,maka siswa yang lebih tinggi membantu belajar siswa yang dibawahnya. Siswa kelas VI membantu siswa kelas III, siswa kelas V membantu kelas II dan kelas IV membantu belajar siswa kelas I Selanjutnya, apabila guru yang ditunggu belum datang juga sampai jam 10:00 WIB, maka semua siswa pulang ke rumah masing0masing secara bersama-sama. e. Kurikulkum Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 200
  • Untuk kurikulum yang digunakan biasanya sama dengan kurikulum SD Regular umumnya. Namun, biasanya yang banyak diajarkan adalah materi pelajaran Ujian Nasional seperti Bahasa Indonesia, Matematika, IPA dan IPS. Setelah kelas VI, siswa yang akan mengikuti UN/UNAS harus bergabung dengan SD reguler terdekat, karena SDK tidak mengadakan UN/UNAS sendiri. Bahkan tidaka sedikit siswa yang baru kela V bisa diikutkan UN/UNAS, bila mana siswa dianggap mampu mengikuti UN/UNAS. Jadi SDK seperti sekolah akselari di kotakota besar. f. Media dan sumber belajar Sama dengan SD regular, umumnya menggunakan buku-buku yng ada dan mediamedia yang membantu dalam proses penyampaian pesan ilmu pengetahuan. g. Tenaga pendidik Guru tetap(PNS) satu orang sekaliigus sebagai kepala sekolah dibantu oleh tenaga guru honorer atau sukarelawan pemuda-pemudi warga setempat yang berpendidikan lulusan SLTP atau SLTA. h. Sumber dana Pemerintah membiayai pendanaan pada SDK, karena ditujukkan untuk anak-anak yang tidak mampu dan terpencil. Siswa tidak di pungut biaya aapun. 3. SD Pamong SD Pamong adalah lembaga pendidikan yang di selenggarakan oleh masyarakat, orang tua, dan guru untuk memberikan pelayanan bagi anak putus sekolah, atau anak yang tidak dapat dengan secara teratur belajar di sekolah. A. Latar Belakang Banyak anak-anak di desa-desa Asia Tenggara ternyata putus sekolah. Bukan karena mereka bodoh, tapi karena mereka tidak bisa bersekolah seperti biasa. Mereka harus membantu orang tuanya justru ketika kam sekolah, maka lahirlah di indonesia sistem sekolah SD Pamong, di terapkan di Kebak Kramat sejak 1974, dan di Gianyar sejak 1977. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 201
  • 1. Tujuan  Membantu anak-anak yang tidak sepenuhnya dapat mengikuti pendidikan sekolah atau membantu siswa yang drop-out.  Membantu anak-anak yang tidak mau trikat oleh tempat dan waktu dalam belajar. Oleh karena itu belajar bisa sambil menggembalakan ternak, waktu istirahat, dll.  Mengurangi penggunaan tenaga guru sehingga rasio guru terhadap murid dapat menjadi 1:200. Pada SD biasa 1:40 atau 1:50  Meningkatkan pemerataan kesempatan belajar, dengan pembiayaan yang sedikit dapat di tampung sebanyak mungkin siswa Dengan demikian, tujuan proyek pamong untuk menentukan alternatif sistem penyampaian pendidikan dasar yang bersifat efektif, ekonomis, dan merata yang sesuai dengan kondisi kebanyakan daerah di indoneia. 2. Ciri-ciri SD Pamong a. Pada umunya Guru dan Pengelola Lembaga pencari murid, berbeda dengan SD reguler yang muridnya telah tersedia. b. Pembelajaran di tentukan oleh kemauan siswa. Misalnya, dia bisa belajar malam hari, maka guru pamong harus mengajarnya pada malam tersebut. c. Biasanya pengelolaan kelasnya terbatas, misalnya hanya untuk kelas IV, V, dan VI saja d. Kegiatan belajarnya di tentukan dalam setiap minggunya, misalnya belajar hanya di laksanakan selama 2 hari, selanjutnya hanya di beri tugas sesuai dengan modul. 3. Pelaksanaan belajar mengajar. Hari belajar siswa di tentukan sesuai dengan kemauan siswa itusendiri. Jam belajarnya pun juga ditentukan 4. Kurukulum. Umumnya sama dengan kurikulum SD reguler. Namun, terdapat perbedaan dalam hal lamanya waktu belajar siswa. 5. Media dan Sumber Belajar. Modul di anggap efektif dalam sumber belajar. Karen amodul dianggap mampu memperjelas dan mempermudah cara belajar siswa. 6. Tenaga pendidik Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 202
  • a. Biasanya terdiri dari 5 orang guru. Bisa guru tetap (PNS) ataupun guru honorer. b. Terdiri dari 3 orang guru kelas, 1 guru gama dan 1 orang guru bertinda sebagai kepala sekolah. c. Sumber dana d. Karena sifatnay membantu anak-anak yang putus sekolah karena harus membantu orang tua mereka untuk bekerja, maka pendanaan SD pamong masih di biayai oleh pemerintah setempat . 4. Sistem guru kunjung A. Latar Belakang Sistem guru kunjung di adakan dengan maksud untuk membantu proses belajar siswa yang terisolir dan terpencil. Guru kunjung juga berguna dalam menunjang eksplorasi anak di tiap tema pembelajaran. Di datangkan guru kunjung yang kompeten di bidang yang sedang di pelajari anak di sekolah. Anak-anak dapat bertanya langsung kepada ahlinya. B. Tujuan 1) Membantu proses pemahaman siswa pada suatu bidang mata pelajaran 2) Membantu siswa yang tidak mampu belajar karena berada pada daerah terpencil yang jauh dari sekolah. C. Ciri-ciri guru pamong 1) Guru yang datang langsung ke daerah atau sekolah yang di maksud. 2) Guru kunjung yang datang biasanya di undang ataupun menerima perintah langsung dari pemerintah setempat untuk mendatangi sebuah lokasi ataupun wilayah. D. Pelaksanaan mengajar mengajar. Belajar yang di lakukan seperti belajar biasanya. Hanya terdapat perbedaan dari segi kenapa guru tersebut di datangkan. Jika karena permintaan sekolah, maka belajar pun seperti belajar biasa. Jika guru kunjung datang ke suatu daerah terpencil, maka pembelajaran pun disesuaikan dengan keadaan yang ada. Misalnya dalam segi tempat belajar dan muridyan. Biasanya guru kunjung untuk suatu daerah terpencil mengajar para murid yang berumur 7-12 tahun. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 203
  • E. Kurikulum. Untuk guru yang mengunjungi suatu daerah terpencil, kurikulum yang di gunakan di sesuaikan dengan keadaan murid setempat. Ambil yang paling bawah pengetahuan yang di ketahui oleh para murid. F. Media dan sumber belajar yang di gunakan. Biasanya di gunakan modul sebagai penunjang sumebr blajar dan pemanfaatan media yang mungkin bisa di gunakan. G. Tenaga pendidik. Biasanya guru atau tenaga ahli yang sudah mahir pada bidangnya, guru tersebut mampu dalam menghadapi para murid yang mempunyai kemampuan yang tidak merata dan mampu untuk menguasai pembelajarn yang biasanya yang terdiri dari puluhan murid. H. Sumber dana. Jika guru tersebut d datangkan pada daerah yang terpencil, maka pemerintahlah yang mengatur dana. Atau bia juga dengan dana pribadi guru tersebut karena keinginannya untuk membantu proses pendidikan anak-anak di C. RADIO PENDIDIKAN A. Pengertian Radio Pendidikan Radio menurut ensiklopedia Indonesia yaitu penyampaian informasi dengan pemanfaatan gelombang elektromagnetik bebas yang memiliki frekuensi kurang dari 300 GHz. Sedangkan istilah ―Radio Siaran‖ atau ―Siaran Radio‖ yaitu berasal dari ―Radio broadcast‖ (Inggris) atau ―Radio Omreop‖ (Belanda) artinya yaitu penyampaian informasi kepada khalayak berupa suara berjalan satu arah dengan memanfaatkan gelombang radio sebagai media. Radio pendidikan adalah media yang menyampaikan pesan-pesan pembelajaran melalui CD Audio atau disiarkan melalui station pemancar radio (Sri Wahyuni:2008). Sedangkan pengertian penyiaran radio menurut Undang- undang No.32/2002 yaitu Penyiaran radio adalah media komunikasi massa dengar, yang menyalurkan gagasan dan informasi dalam bentuk suara secara umum dan terbuka, berupa program yang teratur dan berkesinambungan. B. Latar Belakang Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 204
  • Proses belajar mengajar merupakan suatu kegiatan melaksanakan kurikulum suatu lembaga pendidikan, agar dapat mempengaruhi para siswa mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Tujuan pendidikan pada dasarnya mengantarkan para siswa menuju pada perubahanperubahan tingkah laku baik intelektual, moral maupun social agar dapat hidup mandiri sebagai individu dan makhluk social. Bagi sebagian orang membaca buku merupakan hal yang membosankan. Banyak orang yang mencari cara belajar tanpa harus sering membuka buku. Makanya muncullah banyak cara atau metode belajar yang asyik. Salah satunya dengan mendengarkan radio. Media radio adalah salah satu media yang dapat meningkatkan mutu belajar mengajar dikelas maupun di luar kelas. Indonesia memiliki banyak penduduk dan kaya akan kekayaan alam, namun dalam segi pendidikan Indonesia cenderung kekurangan dibanding dengan Negara lain. Permasalahan pendidikan nasional meliputi kesempatan memperoleh pendidikan yang belum merata, kualitas relevansi pendidikan yang masih rendah, serta lemahnya manajemen pendidikan. Dengan potensi radio yang dapat menjangkau kalangan dan daerah manapun, radio sangat cocok untuk dijadikan media dalam pendidikan. Baik pendidikan formal maupun non formal. Adanya media radio pendidikan merupakan perkembangan baru yang memberi nuansa positif dalam penyebar luasan informasi pendidikan. Meningkatnya pemahaman masyarakat tentang program pendidikan akan meningkatkan kemauan masyarakat untuk terlibat dalam mensukseskan program-program pendidikan yang dicanangkan pemerintah. Secara sederhana dapat kita sadari bahwa program siaran pendidikan dari media radio akan memberi pembelajaran kepada masyarakat pendengar yang akhirnya akan meningkatkan wawasan dan pengetahuan masyarakat. C. Karakteristik Radio Adapun karakteristik radio adalah sebagai berikut (Effendi, 1993 : 139) : 1) Radio siaran bersifat langsung. Makna langsung sebagai sifat radio siaran adalah bahwa suatu pesan yang akan disiarkan dapat dilakukan tanpa proses yang rumit. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 205
  • 2) Radio siaran menembus jarak dan rintangan. Bagi radio tidak ada jarak waktu, begitu suatu pesan diucapkan seorang penyiar atau orator, pada saat itu juga dapat diterima oleh khalayak. Bagi radio tiada pula jarak ruang, seberapapun jauhnya sasaran yang dituju radio dapat mencapainya. Daerah-daerah yang terbatas oleh gunung, lembah, padang pasir, ataupun samudra sekalipun tidak menjadi suatu halangan bagi siaran radio. Suatu pesan yang disiarkan dari suatu tempat di suatu negara dapat disampaikan secara seketika di tempat lain, Negara lain dan benua lain. 3) Radio siaran mengandung daya tarik. Sebelum pesawat televisi muncul sebagai pelengkap rumah tangga, sekitar tahun limapuluh-an, pada waktu itu hanya terdapat dua jenis media massa yaitu surat kabar atau majalah dan radio. Radio mempunyai unsur daya tarik tersendiri karena ada tiga hal yang menyebabkannya demikian, antara lain : a) Kata-kata lisan (spoken words) b) Musik (music) c) Efek suara (sound efek) Berkaitan dengan ketiga hal diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kata-kata lisan dapat membangun efek theatre of mind. Radio hanya menempilkan suara, bisa menumbuhkan akibat lain bagi pendengarnya, yaitu imajinasi. Imajinasi yang biasanya muncul di benak pendengar adalah permainan sound effect yang bisa menciptakan suasana visual pendengarnya. Selain itu pengaturan musik pada siaran radio diharapkan dapat lebih memikat pendengarnya mengingat radio adalah media selintas dengar maka penyampaian informasinya harus banyak menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh siapapun yang mendengarnya. Bahkan penggunaan bahasa ilmiah harus segera diikuti bahasa awam. Penyampaian pesan melalui radio siaran dilakukan dengan menggunakan bahasa lisan, kalaupun ada lambang-lambang nonverbal yang digunakan jumlahnya sangat minim, misalnya tanda waktu pada saat akan memulai acara warta berita dalam bentuk bunyi telegraf atau bunyi salah satu alat musik. Dengan dihiasi musik dan didukung dengan efek suara yang menarik maka kemasan acara yang disajikan oleh radio menjadi lebih menarik dan radio terkesan menjadi lebih hidup. Menurut Dodi Mawardi, ada sembilan karakteristik media radio yaitu : Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 206
  •  Theater of Mind (Media radio memiliki kemampuan untuk mengembangkan imajinasi pendengar).  Personal (Media radio mampu menyentuh pribadi pendengar).  Sound Only (Media radio hanya menggunakan suara dalam menyajikan informasinya).  At Once (Media radio dapat diakses cepat dan seketika).  Heard Once (Media radio di dengar secara sepintas).  Secondary Medium Half Ears Media (Media radio bisa menjadi teman dalam beraktifitas).  Mobile / Portable (Media radio mudah dibawa kemana saja).  Local (Media radio bersifat lokal, hanya di daerah yang ada frekuensinya).  Linear (Media radio tersusun secara sistematis). D. Kelebihan dan Kelemahan Radio Kelebihan radio menurut Munthe (1996 : 12), yaitu : 1. Lambang komunikasi radio bersifat auditif. Karenanya radio tidak menuntut pasarnya untuk memiliki kemampuan membaca, tidaknmenuntut kemampuan melihat, melainkan sekedar kemampuan mendengar. 2. Radio mempunyai kemampuan daya tangkap yang tinggi, meskipun pesawatnya berukuran kecil, serta harganya relatif murah. Sehingga orang dapat membawanya kemana-mana, mendengarnya dimana-mana. Jadi siapa saja, kapan saja, dimana saja, mengenai apa saja, orang bisa mendengarkan acara siaran radio. Karenanya pemakaian radio telah memasyarakat, mulai dari kalangan paling bawah hingga kalangan tingkat atas. 3. Penggunaan radio amat praktis, hanya tinggal memutar tuning pengubah gelombang dan mencari siaran yang memenuhi seleranya. 4. Ketika mendengarkan radio, seseorang dapat sambil mengerjakan aktivitas lainnya. 5. Radio memiliki kelebihan dalam kecepatan menyampaikan pesan dibanding media massa lain seperti Televisi, Surat Kabar. Pesan yang disampaikan melalui radio akan sampai ke pendengar sesaat setelah diudarakan, secara serentak pada waktu bersamaan diberbagai penjuru. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 207
  • Media radio juga mempunyai beberapa kelemahan yang harus diperhatikan agar media ini semakin perfect. Kelemahan tersebut antara lain: 1. Karena sifatnya yang auditif, dalam penggunaan media ini harus benar-benar konsentrasi khususnya indera pendengaran kita karena hanya sekilas saja, tidak ada siaran ulang. 2. Media ini belum mampu untuk menyajikan hal-hal yang sifatnya kompleks seperti rumus-rumus matematika, fisika, dan kimia sehingga kurang efektif jika diterapkan pada materi yang sifatnya berhitung. 3. Materi yang disajikan kurang mendalam. Radio sangat sukar menyiarkan acara-acara yang banyak ragamnya. Hal ini terjadi karena alat pendengaran manusia lebih rendah daya tangkapnya daripada alat penglihatan. 4. Tidak dapat diterapkan pada audience yang mengalami gangguan dengan pendengaran, karena radio membutuhkan konsentrasi yang cukup pada indera pendengar. E. Diklat guru SD melalui siaran radio pendidikan a. Latar Belakang Masalah guru SD masih belum terpecahkan. Penyebaran guru yang tidak merata yang mengakibatkan menumpuknya guru di suatu daerah dan terjadinya kekurangan guru di daerah lain, terutama di daerah pedalaman dan daerah terpencil, banyaknya guru yang kurang layak berkenaan dengan latar belakang pendidikannya, serta tidak meratanya kesempatan memperoleh pendidikan untuk meningkatkan profesionalisme maupun kualifikasi guru, masih perlu di fikirkan pemecahannya. Berbagai masalah tersebut menyebabkan rendahnya mutu guru SD yang pada gilirannya berakibat pada rendahnya mutu pendidikan. Namun mengingat besarya jumlah guru SD dan adnya keterbatasan pembiayaan oleh pemerintah. Program penyetaraan D-II guru SD mengalami berbagai kendala, antara lain terlalau sedikitnya jumlah guru yang terlayani oleh program tersebut setiap tahunnya. Akibatnya guru yang belum memiliki kesempatan untuk mengikuti Program Penyetaraan D-II terpaksa menunggu sangat lama untuk mendapatkan beasiswa dan menjadi mahasiswa Program Penyetaraan D-II. Sementara itu pemecahan lain dengan memberikan kesempatan membiayai diri sendiri tidak mampu mengatasi masalah ini karena ketidakmampuan guru dalam bidang ekonomi. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 208
  • Ada dua hal yang mendukung dipilihnya pemanfaatan media radio sebagai upaya diklat bagi guru SD yang belum mendapatkan kesempatan mengikuti Program Penyetaraan D-II: Pertama ialah adanya pengalaman pusat teknologi komunikasi pendidikan dan kebudayaan (Pustekkom Dikbud) yang sejak 1977 telah melakukan siaran radio pendidikan di 12 provinsi, walaupun belum bisa mencapai hasil seperti apa yang di harapkan. Salah satu penyebabnya ialah kondisi ekonomi guru SD, terutama yang tinggal di daerah terpencil, memprihatinkan. Kondisi itu tentu saja mempengaruhi minat mereka untuk meningkatkan kemampuan dan pengetahuaanya. Mereka akan mengutamakan kegiatan yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan pokok terlebih dahulu. Ini tercermmin dari berbagai kendala yang di temukan dalam penyelenggaraan siaran radio pendidikan yang diselenggarakan Pustekkom tersebut. Alasan kedua, pilihannya radio sebagai media ialah adanya kerjasama antara Departemen Penerangan dengan Departeman Pendidikan dan Kebudayaan yang di tuangkaan dalam keputusan bersama antara direktur jendral radio dengan, televisi, dan film Nomor 08/KEP/DIRJEN/RTF/1977 dengan kepala badan penelitian dan pengembangan pendidikan dan kebudayaan Nomor 12/KEP/DIKRAD/1998 dengan kepala pustekkom dikbud Nomor 0491/G6/LL/1998 tentang kelompok kerja penyelemggaraan siaran radio pendidikan dan kebudayaan program nasional. Dengan adanya naskah kerjasama tersebut, maka penyiaran program siaran radio pendidikan sepenuhnya mandapat dukungan dari direktorat radio yang membawahi Radio Republik Indonesia sseluruh Indonesia. b. Tujuan 1. Tujuan Umum Secara umum tujuan SRP adalah untuk menunjang pelaksanaan pembangunan pendidikan, khususnya pendidikan dasar dengan mengintegrasikan penerapan media dan teknologi komunikasi secara terencana dan terarahsebagai suatu sub-sistem dalam system pendidikan dasar 2. Tujuan  Meningkatkan mutu sikap pengetahuan dan kemampuan professional guru dan calon guru SD  Memperluas kesempatan memperoleh pendidikan  Memperkaya sumber belajar Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 209
  •  Melaksanakan berbagai penerangan pendidikan  Membantu terciptanya prinsip belajar seumur hidup dan masyarakat gemar belajar. c. Sasaran Sasaran utama program diklat SRP adalah guru-guru SD dan madrasah ibtidaiyahyang tinggal dan bertugas di daerah terpencil yang secara geografis sullit transportasi dan komunikasinya. Dengan kesediaan tinggal dan mengabdikan diri di daerah terpencil, guru itu telah teruji dan terbukti memiliki dedikasi dan loyalitas tinggidalam menjalankan tugasnya. d. Materi Pembelajaran Mengingat bahwa tujuan program diklat SRP adalah untuk mendukung upaya peningkatan kualifikasi guru SD menjadi setara D-II PGSD. Dengan demikian diharapkan para peserta diklat SRP telah terbiasa belajar mandiri dan telah mengenal materi program penyetaraan D-II PGSD sehingga apabila nantinya mendapatkan kesempatan mengikuti program penyetaraan D-II PGSD, mereka tidak akan mengalami kesulitan dan mengikuti kegiatan belajar mengajar sehingga dapat menyelesaikan studinya tepat waktu. e. Penilaian Hasil Belajar Penilaian hasil belajar, yang selanjutnya disebut penilaian, dilakukan untuk mengukur kemampuan peserta dalam memahami materi pembelajaran yang disampaikan selama satu paket. Dengan demikian, penilaian dilakukansetiap akhir paket atau enam bulan sekalisehingga untuk keseluruhan paket ssetiap peserta harus mengikuti enam kali penilaian. Peserta yang lulus berhak mendapatkan Surat Tanda Tamat Pendidikan dan Pelatihan (STTPL) yang ditandatangani oleh coordinator administrasi Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan selaku Ketua Panitia Penilaian Daerah. f. Penilaian Penyelenggaraan Program Penilaian terhadap penyelenggaraan efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan program diklat SRP dilakukan untuk mengetahui sampai dimana setiap komponen dan mekanisme penyelenggaraan dapat berjalan sebagaimana yang telah Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 210
  • direncanakan. Penilaian ini dilakukan secara bersama-sama antara Dikgutentis dan Pustekkom Dikbud. Kegiatan penilaian dilakukan terhadap seluruh komponen organisasi penyelenggaraan program diklat SRP di daerah, dari tingkat provinsi secara menyeluruh. Penilaian terhadap penyelenggaraan program ini dilakukan setahun sekali. Hasil dari penilaian ini digunakan sebagai bahan untuk perbaikan dan penyempurnaan system penyelenggaraan program diklatSRP, baik bagi pihak Dit. Dikgutentis maupun pustekkom dikbud. F. Tujuan dan Sasaran Siaran Radio Pendidikan Secara umum, tujuan penataran guru SD melalui siaran radio pendidikan adalah untuk menunjang pembangunan pendidikan, khususnya pendidikan dasar dengan mengintegrasikan penerapan media dan teknologi komunikasi secara terencana dan terarah sebagai suatu sub sistem dalam pendidikan dasar. Secara khusus, siaran radio untuk penataran guru SD dimaksudkan untuk: g. Meningkatkan mutu pengetahuan dan kemampuan profesional guru dan calon guru SD h. Memperluas kesempatan memperoleh pendidikan i. Memperkaya sumber belajar j. Membantu terciptanya prinsip belajar seumur hidup dan masyarakat gemar belajar. Sasaran program ini adalah guru SD terutama yang berada di daerah terpencil di sebelas propinsi, yaitu Irian Jaya, Maluku, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, NTT, NTB, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat dan termasuk dua propinsi daerah eksperimen yaitu Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. G. Strategi Siaran pendidikan Materi penataran disajikan melalui media radio yang disiarkan oleh RRI daerah, Radio Pemerintah Daerah (RPD), dan Radio Swasta Niaga (RSN) setiap pagi hari dan sore harinya siaran ulang, selama enam hari dalam seminggu. Sementara setiap minggu disiarkan program lokal yang berisi jawaban-jawaban umpan balik dari para guru. Di setiap SD, dibentuk kelompok Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 211
  • belajar (pendengar) yang terdiri dari guru-guru SD atau kelompok yang lebih besar dari SD yang berdekatan. Kelompok belajar ini diketuai oleh kepala sekolah. Seorang sekretaris yang dipilih dari anggota kelompok belajar. Selain media radio, anggota kelompok belajar dilengkapi dengan buku petunjuk pemanfaatan yang berisi bagaimana belajar melalui radio, persiapan yang perlu dilakukan sebelum mendengarkan siaran, kegiatan selama mendengarkan, serta tugas yang harus dilaksanakan setelah mendengarkan siaran. Dengan keterbatasan durasi siaran yang hanya sekitar 20 menit siaran per topik maka para guru diberikan buku Bahan Penyerta (BP) siaran. BP tersebut berisi judul program yangdisiarkan, tujuan umum dan khusus, serta ringkasan dari materi penataran. Agar para guru tidak mengalami kesulitan pada saat mendengarkan siaran, pada BP disajikan arti dari kata sulit, tugas setelah mendengarkan siaran, serta buku sumber. Pada sore harinya guru dapat mendengarkan siaran ulang secara individual di rumah masing-masing. D. TELEVISI EDUKASI A. Latar Belakang Indonesia merupakan sebuah negara yang luas. Indonesia memiliki lebih dari 17.000 pulau. Di pulau - pulau inilah tersimpan potensi sumber daya manusia yang diperlukan bagi kemajuan bangsa. Oleh karena itu perlulah di buat sebuah pendidikan yang layak. Untuk itu dibangun berbagai sarana dan diadakan berbagai buku agar seluruh rakyat dapat menikmati pendidikan. Namun karena wilayah yang begitu luas maka proses pembangunan berjalan dengan lambat, salah satu cara yang dapat digunakan yaitu memanfaatkan perkembangan teknologi komunikasi dan informasi. Maka dengan itu Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (pada waktu itu) menugaskan kepada Pustekkom sebagai unit khusus yang menangani pendayagunaan teknologi pendidikan untuk melakukan persiapan-persiapan ke arah pemanfaatan media televisi guna mendukung peningkatan dan pemerataan pendidikan. Maka sejak tahun 1978 Pustekkom melaksanakan pengembangan dan produksi program-program media televisi pendidikan. Hingga tahun 2007 program televisi yang telah diproduksi mencapai jumlah 5.163 judul. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 212
  • Untuk merealisasikan siaran televisi pendidikan, pada tahun 1980-an Pustekkom melakukan kerjasama di bidang penyiaran program televisi pendidikan dengan TVRI. Program yang disiarkan sangat popular saat itu, yaitu serial Aku Cinta Indonesia (ACI). Namun kerjasama tersebut tidak dapat berlanjut karena adanya perbedaan-perbedaan dalam aspek kebijakan dan teknis. Pada tahun 1990-1995, Pustekkom melakukan kerjasama di bidang penyiaran dengan Televisi Pendidikan Indonesia (TPI), yaitu sebuah televisi swasta yang pada awalnya dirancang sebagai televisi yang mengemban misi pendidikan. Meskipun kerjasama ini cukup berhasil, namun harus berakhir karena pihak TPI telah mengubah kebijakan menjadi sebuah stasiun televisi komersial. Untuk keperluan koordinasi dalam manajemen pendidikan antara pusat dengan Dinas Provinsi (waktu itu kanwil), maka pada tahun 1994-1995 diadakan teleconverence antara Menteri Pendidikan Nasional dengan seluruh Dinas Pendidikan Provinsi di Indonesia. Bahkan pada 2 Mei 1994 dalam rangka hari Pendidikan Nasional diadakan teleconverence antara Wakil Presiden (Tri Sutrisno) di Yogyakarta dengan 4 Dinas Pendidikan. Pada tahun 1996 1998 Pustekkom juga pernah bekerjasama dengan Cakra-warta (Indovision) menyiarkan siaran pendidikan di Quick Channel. Menyadari begitu pentingnya siaran televisi pendidikan bagi bangsa Indonesia, sesuai amanat UUD 1945 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa, maka pada tahun 2003, Depdiknas (Pus. tekkom) mulai melakukan persiapan untuk mempunyai stasiun televisi yang khusus menyiarkan pendidikan, dan pada tanggal 12 Oktober 2004, Mendiknas, Malik Fajar meresmikan Stasiun Televisi Pendidikan yang diberi nama Televisi Edukasi (TVE). B. Pengertian TV Edukasi Televisi Edukasi (TVE) adalah stasiun TV yang mengkhususkan diri pada siaran pendidikan. TV edukasi adalah salah satu stasiun televisi yang dimiliki oleh Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi (Pustekkom) Departemen Pendidikan Nasional. Siaran televisi pendidikan dapat menjangkau seluruh wilayah di Indonesia dan telah disiarkan oleh TVE, TVRI dan televisi swasta lainnya. Penyelenggaraan siaran televisi pendidikan merupakan salah satu strategi untuk memperbaiki kondisi dunia pendidikan baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 213
  • Sejalan dengan hal di atas Pustekkom pada tahun 2004 sampai dengan 2005 telah merintis lokasi pemanfaatan siaran di 260 lokasi yang meliputi SMP, termasuk SMP terbuka dan SMA Terbuka. Pada tahun 2006 Depdiknas juga telah membagikan perangkat penerima siaran Televisi Edukasi kepada 28.376 SMP/MTs di Indonesia yang berada di Kabupaten pada 33 propinsi. Sedangkan pada akhir tahun 2007 Pustekkom Depdiknas telah membagikan ke SMP/MTs di kota seluruh Indonesia televisi, DVD player, parabola dan genset (bagi daerah terpencil) untuk memanfaatkan siaran TVE. Televisi sebagai alat pendidikan Televisi merupakan alat yang digunakan sebagai sarana komunikasi searah yang sangat efektif untuk menyampaikan pesan-pesan kehidupan. Televisi dianggap sebagai media pembelajaran yang efektif dan menarik, karena alat ini dapat merekam dan menangkap objek gambar hidup yang sebenarnya, dari tempat yang jauh dapat dilihat dan dinikmati oleh pemirsa seolah-olah kejadian itu berada didepan matanya. Dengan menyadari bahwa televisi menjadi sebuah alat yang sangat potensi untuk memberikan informasi dan sekaligus sebagai alat pembelajaran kepada setiap yang menikmati, maka program penyiaran dan pertunjukannya haruslah dikemas dengan berpedoman etika dan nilai-nilai budaya yang positif. Perkembangan jaringan penyiaran lewat televisi, sejalan dengan perkembangan peradaban zaman yang begitu pesat, maka informasi dari tempat yang jauh, bahkan dari manca negara sekalipun dalam waktu sekejap dapat dilihat dan diikuti perkembangannya. Dengan jaringan komunikasi dan informasiyang mudah dan efektif untuk penyampaian pesan, maka dunia pendidikan seharusnya juga ikut mengambil peran dalam penanganan media televisi ini sebagai pusat sumber belajar. Artinya, para perencana dan praktisi pendidikan tidak hanya sebagai penonton dari luar arena program pertelevisian indonesia. Tapi ikut ambil bagian penayangan program kependidikan yang dikemas untuk kepentingan pembinaan ahlak, moral dan nilai-nilai budaya indonesia. Rancangan program TV Dengan memperhatikan media TV sangat bermanfaat dan diperlukan sekali dalam proses pembelajaran, namun pada sisi lain sarana tersebut belum mampu dijangkau untuk dilaksanakan Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 214
  • didalam sistem pendidikan, maka untuk mewujudkan kebijakan seperti , guru berupaya untuk merancang program pembelajaran yang membutuhkan media TV, dengan cara: 1. Memberikan arahan yang jelas kepada peserta didik untuk dapat melihat program TV yang ada nilai-nilai pendidikan yang bersifat positif. 2. Membimbing peserta didik untuk memilih program acara yang sesuai dengan tingkat umur dan kejiwaanya. 3. Memberikan pemahaman tentang program tayangan TV yang ada relevansinya dengan program pendidikan yang diajarkan disekolahan. 4. Memberi tugas kepada peserta didik untuk mencatat atau mengidentifikasi programprogram acara TV yang bernilai edukasi(pendidikan). 5. Memberi tugas untuk menganti atau menonton program tayangan yang sesuai dengan nilai-nilai yang dikembangkan disekolah, misalnya berita, dialog interaktif, profil tokoh, dan sejenisnya, kemudian berakhir dengan membuat laporan pengamatan. 6. Membekali sikap mental peserta didik untuk tidak meniru setiap perilaku tokoh atau bintang film atau penyanyi yang tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya ketimuran. Karakteristik Media Televisi.Setiap media komunikasi pasti memiliki karakteristik tertentu. Tidak ada satu media pun yang dapat di pergunakan untuk memenuhi segala macam tujuan komunikasi. Beberapa karakteristik media televisi adalah sebagai berikut: 1. Memiliki jangkauan yang luas dan segera dapat menyentuh rangsang penglihatan dan pendengaran manusia. 2. Dapat menghadirkan objek yang amat kecil atau besar, berbahaya, atau yang langka. 3. Menyajikan pengalaman langsung kepada penonton. 4. Dapat dikatakan ―meniadakan‖ perbedaan jarak dan waktu. 5. Mampu menyajikan unsur warna, gerakan, bunyi, dan proses dengan baik. 6. Dapat mengkoordinasi pemanfaatan berbagai media lain, seperti film, foto, dan gambar dengan baik. 7. Dapat menyimpan berbagai data, informasi, dan serentak menyebarluaskannya dengan cepat ke berbagai tempat yang berjauhan. 8. Mudah ditonton tanpa perlu menggelapkan ruangan. 9. Membangkitkan perasaan intim atau media personal. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 215
  • 10. Memiliki sifat masal 11. Penyajian materi pelajaran lebih jelas dan menarik, karena adanya kombinasi teknologi audio dan visual. 12. Memberikan layanan pendidikan untuk semua jenjang, jalur, dan jenis pendidikan. 13. Media pembelajaran yang by desaign (berbasis kurikulum). 14. Penyajian program dikemas secara menyenangkan, santun, dan mencerdaskan. 15. Dapat diakses melalui satelit (parabola). Manfaat dan Tujuan Televisi Pendidikan A. Tujuan TVE 1) Memberikan layanan siaran pendidikan berkualitas untuk menunjang tujuan pendidikan nasional. 2) TVE diharapkan akan mampu memberikan layanan pendidikan khusus bagi para siswa pendidikan dasar (TK-PT), terutama di daerah-daerah pinggiran dan terpencil yang tidak mampu dijangkau oleh layanan pendidikan secara konvensional. 3) untuk menunjang program penuntasan wajib belajar. 4) Membantu mencerdaskan kehidupan bangsa. 5) Membantu mewujudkan hak semua warga negara Indonesia untuk memperoleh pengajaran, 6) Mempunyai misi untuk mewujudkan manusia – manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya sendiri serta bersama – sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa, B. Manfaat TVE Manfaat TVE yaitu : 1) Menunjang program penuntasan wajib belajar. 2) Memberikan layanan pendidikan terutama di daerah terpencil. 3) Mengatasi perbedaan kealitas tenaga pengajar. 4) Menyediakan bahan ajar bermutu. 5) Memotivasi siswa dalam belajar. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 216
  • 6) Televisi dapat memberikan kejadian – kejadian yang sebenarnya pada saat suatu peristiwa terjadi dengan di sertai komentar penyiarnya, 7) Televisi pendidikan sebagai salah satu bentuk peran serta masyarakat, 8) Televisi dengan gambar audio visual sangat membantu dalam mengembangkan daya kreasi, 9) Menyebarkan informasi di bidang pendidikan dan berfungsi sebagai media pembelajaran masyrakat, 10) .Memberikan pesan yang dapat diteima secara lebih merata oleh peserta didik 11) .Sangat bagus untuk menerangkan suatu proses, 12) Mengatasi keterbatasan ruang dan waktu, 13) Lebih realistis, dapat diulang-ulang dan dihentikan sesuai dengan kebutuhan, 14) Memberikan kesan yang mendalam, yang dapat mempengaruhi sikap peserta didik. C. Pemanfaatan TVE Ada 3 pola atau cara pemanfaatan program siaran TVE yang sejauh ini telah dimanfaatkan, yaitu sebagai berikut: 1) Pemanfaatan Program Siaran TVE sesuai dengan Jadwal Siaran TVE (Pemanfaatan Siaran TVE secara langsung). Dimana agar pembelajaran selaras dengan jam tayang TVE, maka guru mendownload jadwal tersebut dari situs TVE di internet, atau melalui situs pencari (misal: Google). Selain itu, guru dapat merelay siaran dari TVRI, karena TVE telah melakukan kerjasama dengan stasiun TVRI, program TVE yang ditayangkan adalah diprioritaskan pada mata pelajaran matematika, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris untuk peserta didik SMP dan MTs. 2) Pemanfaatan Siaran TVE sebagai Penugasan. Berdasarkan jadwal tayangan siaran TVE yang ada, guru menugaskan para peserta didiknya untuk mengikuti tayangan siaran TVE tentang mata pelajaran tertentu pada waktu tertentu. Peserta didik dapat melaksanakan tugas ini di sekolah atau di rumah, baik secara perseorangan maupun dalam bentuk kelompok kecil. Untuk membantu pelaksanaan tugas ini, guru hendaknya memberikan format laporan hasil penugasan disertai penjelasan seperlunya. Guru juga menginformasikan batas waktu penyerahan hasil pelaksanaan tugas dan cara-cara penyajiannya di kelas. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 217
  • Pada hari dan waktu yang telah ditetapkan, guru meminta para peserta didiknya untuk manyajikan hasil tugas yang telah dikerjakan di hadapan teman sekelasnya. Peserta didik yang belum mendapat kesempatan untuk menyajikan hasil tugasnya, berperan untuk mengkaji dan memberikan pendapat, tanggapan atau komentar. Melalui aktivitas pembelajaran yang demikian ini, peserta didik dilatih menyusun bahan presentasi, memberikan pendapat, tanggapan atau komentar, dan sekaligus juga berlatih berdiskusi, dan membuat rangkuman/kesimpulan. Pada akhir kegiatan, guru dapat memberikan arahan atau hal-hal yang dinilai penting untuk pengembangan kemampuan peserta didik. 3) Pemanfaatan Program Siaran TVE sebagai Pengisi Jam Pelajaran Kosong. Apabila guru berhalangan hadir karena sesuatu hal, maka guru piket atau guru serumpun dapat mengisi jam pelajaran kosong yang ada dengan menayangkan siaran TVE. Intinya adalah bahwa peserta didik tetap dapat belajar sekalipun guru mata pelajaran tertentu berhalangan hadir misalnya. Kegiatan pembelajaran tetap dapat berjalan sebagaimana biasanya. Guru piket atau guru serumpun tinggal menyelenggarakan kegiatan pembelajaran mengikuti RPP yang telah disiapkan sebelumnya. Apabila ada hal-hal yang berkembang selama kegiatan pembelajaran berlangsung, guru pengganti (guru piket atau guru serumpun) dapat mencatatnya dan menyampaikannya kepada guru mata pelajaran yang bersangkutan untuk dilakukan tindak lanjut. Program Siaran Televisi Edukasi Jenis-jenis materi siaran televisi edukasi yaitu : a) Formal  TK siarannya : Pengetahuan, Moral (Story Telling)  SD siarannya : Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, IPS dan PPKN.  SMP siarannya : Matematika, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Ekonomi, Penjas, Geografi, Fisika, Biologi, dan Seni. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 218
  •  SMA, siarannya : Biologi, Kimia, Fisika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris. b) Nonformal Siaran nonformal yaitu untuk Paket B, paket C, dan keterampilan atau kursus. c) Informal Siaran informal berupa pentas dongeng, Lensa Siswa (Lensis), Ungkapan Budaya, Dokumentasi, Sinema Elektronik (sinetron), Fisika itu asyik, dan lainlain. d) Informasi Pendidikan Siarannya berupa Straigh News, Featur, dan lain-lain. e) Strategi pengembangan TV pendidikan Dalam buku menyemai benih teknologi pendidikan (2007:419) kita mengenal beberapa strategi pengembangan penggunaan media massa: 1. Strategi perintisan/percontohan Merupakan cara yang dilakukan dengan menciptakan suatu model yang terbatas yang diawasi secara cermat terlebih dahulu. Strategi ini memang mempunyai landasan ilmiah yang lebih mantap karena berbagai komponen pengembangan dicobakan, dinilai, dan disempurnakan. 2. Strategi penahapan Strategi ini dilakukan bilamana semua data telah dapat diketahui. Strategi ini sesuai dengan konsep pendidikan diatas yaitu tiap mata acara diusahakan dalam bentuk paket. Proses yang dilakukan selangkah demi selangkah. Misalkan saja mata pelajaran bahasa indonesia. Dimulai tentang topik cara membaca cepat, setelah materi yang diberikan selesai baru dilanjutkan dengan topic yang lainnya. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 219
  • Selain dengan cara diatas TV Edukasi juga melakukan kerja sama dengan TV lokal. Diantaranya adalah: PKTV Jogja Medianet Fa TVE Magelang jar TV TVE Situbondo BMS TV Favorit TV Ruai TV Kepri Cyber School (KCS TV) Jimbarwana TV Tasik TVC Megaswara TV Adi TV Jogja Banten TV Palembang TV (Pal TV) TV5D Celebes TV Jember TV Agung Bengkulu TV TV Anak Spacetoon (Sekarang NET) Siger TV Mitra Vision Ira Vision Telkom Vision TV Bukittingi (mantan jaringan SINDOtv) Pontianak Channel TVKU SINDOtv Malang SINDOtv Mataram Polonia TV TV9 Surabaya Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 220
  • Skynindo Mandala News TV Bali TV Meg TV Bondowoso TVE Kediri Arek TV Surabaya TVE Medan TVRI Jadwal siaran TVE : 1) TVE saluran 1 a) Parabola : Senin s/d Sabtu 24 jam. Minggu dan hari libur. 05.00 17.00-WIB b) TVRI : Senin s/d Jumat 07.00 – 08.00 WIB dan 14.00 – 15.00 WIB. c) TV Lokal : sesuai jadwal TV lokal d) TV kabel : 24 jam 2) TVE saluran 2 a) Parabola : Senin s/d Sabtu, 12.00 – 20.00 WIB. Minggu dan hari libur, 12.00 – 17.00 WIB b) TV Kabel :8 jam Proses kerja sama yang dilakukan adalah dengan penggabungan program. Jadi TV Edukasi dapat menyiarkan programnya pada TV yang lain. Implementasi Televisi Pendidikan dengan PAI Teknologi televisi penyiaran bisa sangat bermanfaat bagi guru di ruang kelas dengan mempertimbangkan kebutuhan para siswa,menggunakan televise penyiaran mungkin efektif bagi penyediaan kesempatan belajar jarak jauh. Selanjutnya banyak operator kabel memberikan sekolah-sekolah pemrograman khusus,panduan guru,dan bahkan layanan computer khusus. Banyak sumber program yang tersedia via kabel tidak terpancar ulang dari penyiaran, tetapi hanya dipancarkan hanya menggunakan kabel. Sejumlah cara seperti ini menawarkan pemrograman berkualitas tinggi yang cocok digunakan di sekolah. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 221
  • Dalam kaitannya dengan proses pembelajaran pendidikan agama Islam (PAI), televisi pendidikan bermanfaat untuk menghemat waktu pembelajaran contohnya ketika seorang anak bisa mempraktekkan tata cara berwudhu dirumah setelah melihat secara langsung praktek berwudhu yang ditayangkan di televisi. Anak akan lebih menangkap keterangan yang didapat melalui televisi karena televisi tentunya menghadirkan tidak hanya dalam bentuk suara namun juga dilengkapi dengan gambar serta visualisasinya. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN PESAN PEMBELAJARAN LEWAT TELEVISI Beberapa penelitian menunjukkan bahwa siswa yang belajar melalui program televisi untuk berbagai mata pelajaran dapat menguasai mata pelajaran tersebut sama seperti mereka yang mempelajarinya melalui tatap muka dengan guru kelas. Meskipun televisi memiliki ber bagai kelebihan dalam menyampaikan pesan dan materi pelajaran, televisi juga mempunyai kelemahan seperti berikut ini : A. Kelebihan 1. Televisi dapat memancarkan berbagai jenis bahan audio-visual termasuk gambar diam,film,objek,spesimen,drama. 2. Televisi bisa menyajikan model dan contoh-contoh yang baik bagi siswa. 3. Televisi dapat membawa dunia nyata kerumah dan ke kelas-kelas, seperti orang, tempat-tempat,dan peristiwa-peristiwa,melalui penyiaran langsung atau rekaman. 4. Televisi dapat memberikan kepada siswa peluang untuk melihat dan mendengar sendiri. 5. Televisi dapat menyajikan program-program yang dapat dipahami oleh siswa dengan usia dan tingkatan pendidikan yang berbeda-beda. 6. Televisi dapat menyajikan visual dan suara yang amat sulit diperoleh pada dunia nyata; misalnya ekspresi wajah, dan lain-lain. 7. Televisi dapat menghemat waktu guru dan siswa, misalnya dengan merekam siaran pelajaran yang disajikan dapat diputar ulang jika diperlukan tanpa harus melakukan proses itu kembali. Disamping itu, televisi merupakan cara yang ekonomis untuk menjangkau sejumlah besar siswa pada lokasi yang berbeda-beda untuk penyajian yang bersamaan. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 222
  • 8. Televisi dapat menerima, menggunakan dan mengubah atau membatasi semua bentuk media yang lain, menyesuaikannya dengan tujuan-tujuan yang akan dicapai. 9. Televisi merupakan medium yang menarik, modern dan selalu siap diterima oleh anak-anak karena mereka mengenalnya sebagai bagian dari kehidupan luar sekolah mereka. 10. Televisi sifatnya langsung dan nyata. Dengan televisi siswa tahu kejadiankejadian mutakhir, mereka bisa mengadakan kontak dengan orang-orang besar/terkenal dalam bidangnya, melihat dan mendengarkan mereka berbicara. 11. Hampir setiap mata pelajaran bisa di televisikan 12. Televisi dapat meningkatkan pengetahuan dan kemampuan guru dalam hal mengajar. B. Kelemahan 1. Televisi hanya mampu menyajikan komunikasi satu arah. 2. Televisi pada saat disiarkan akan berjalan terus dan tidak ada kesempatan untuk memahami pesa-pesannya sesuai dengan kemampuan individual siswa. 3. Guru tidak memiliki kesempatan untuk merevisi film sebelum disiarkan. 4. Layar pesawat televisi tidak mampu menjangkau kelas besar sehingga sulit bagi semua siswa untuk melihat secara rinci gambar yang disiarkan. 5. Kekhawatiran muncul bahwa siswa tidak memiliki hubungan pribadi dengan guru, dan siswa bisa jadi bersikap pasif selama penayangan. 6. Harga pesawat TV relatif murah. 7. Jika akan dimanfaatkan di kelas jadwal siaran dan jadwal pelajaran di sekolah sering kali sulit disesuaikan. 8. Program di luar kontrol guru, dan 9. Besarnya gambar dilayar relatif kecil dibanding dengan film, sehingga jumlah siswa yang dapat memanfaatkan terbatas. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 223
  • Media televisi selain sebagai media massa, kita menganal adanya program Televisi Siaran Terbatas (TVST) atau Closed Circuit Television. Pada TVST sebagai suatu media distribusi TV, alat pengirim dan alat penerima secara fisik dihubungkan dengan kabel. PKP (Pendekatan Keterampilan Proses) dan CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) Pengertian CBSA CBSA adalah pendekatan pengajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk aktif terlibat secar fisik, mental, intelektual, dan emosional dengan harapan siswa memperoleh pengalaman belajar secara maksimal, baik dalam ranah kognitif, afektif, maupun psikomotor. Rasionalisasi CBSA dalam pembelajaran Rasional atau dasar pemikiran dan alasan usaha peningkatan CBSA dapat ditinjau kembali pada hakikat CBSA dan tujuan pendekatan itu sendiri. Dengan cara demikian pembelajar dapat diketahui potensi, tendensi dan terbentuknya pengetahuan, keterampilan dan sikap yang dimilikinya. Pada dasarnya dapat diketahui bahwa baik pembelajar. materi pelajaran, cara penyajian atau disebut juga pendekatan-pendekatan berkembang. Gage dan Berliner secara sederhana mengungkapkan bahwa belajar dapat didefinisikan sebagai suatu proses yang mebuat seseorang mengalami perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman yang diperolehnya. Dengan demikian, dalam belajar orang tidak mungkin melimpahkan tugas-tugas belajarnya kepada orang lain. Orang belajar adalah orang yang mengalami sendiri proses belajar. Bertolak dari pemikiran-pemikiran yang terkandung dalam konsep belajar seumur hidup dan konsep belajar serta kenyataan proses pembelajaran, maka peningkatan penerapan CBSA merupakan kebutuhan yang harus segera terpenuhi. Dengan penerapan CBSA, siswa diharapkan akan lebih mampu mengenal dan mengembangkan kapasitas belajar dan potensi yang dimilikinya secara penuh. Di sisi lain, guru diharapkan bekerja secara profesional, guru dapat merekayasa sistem pembelajaran yang mereka laksanakan secara sistematis, dengan pemikiran mengapa dan bagaimana menyelenggarakan kegiatan pembelajaran aktif (Raka Joni, 1992:11). Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 224
  • Sehingga di kemudian hari penerapan CBSA pada gilirannya akan mencetak guru-guru yang potensial dalam menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan alam dan sosial budaya. Dimensi-dimensi CBSA a. Dimensi subjek didik  Keberanian mewujudkan minat, keinginan, pendapat serta dorongandorongan yang ada pada siswa dalam proses belajar-mengajar.  Keberanian tersebut terwujud karena memang direncanakan oleh guru, misalnya dengan format mengajar melalui diskusi kelompok, dimana siswa tanpa ragu-ragu mengeluarkani pendapat.  Keberanian untuk mencari kesempatan untuk berpartisipasi dalam persiapan maupun tindak lanjut dan suatu proses belajar-mengajar maupun tindak lanjut dan suatu proses belajar mengajar. Hal terwujud bila guru bersikap demokratis.  Kreatifitas siswa dalam menyelesaikan kegiatan belajar sehingga dapat mencapai suatu keberhasilan tertentu yang memang dirancang oleh guru.  Kreatifitas siswa dalam menyelesaikan kegiatan belajar sehingga dapat mencapai suatu keberhasilan tertentu, yang memang dirancang oleh guru.  Peranan bebas dalam mengerjakan sesuatu tanpa merasa ada tekanan dan siapapun termasuk guru. b. Dimensi Guru  Adanya usaha dan guru untuk mendorong siswa dalam meningkatka kegairahan serta partisipasi siswa secara aktif dalam proses belajarmengajar.  Kemampuan guru dalam menjalankan peranannya sebagai inovator dan motivator.  Sikap demokratis yang ada pada guru dalam proses belajar-mengajar. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 225
  •  Pemberian kesempatan kepada siswa untuk belajar sesuai dengan cara serta tingkat kemampuan masing-masing.  Kemampuan untuk menggunakan berbagai jenis strategi belajar-mengajar serta penggunaan multi media.  Kemampuan mi akan menimbulkan lingkuñgan belajar yang merangsang siswa untuk mencapai tujuan. c. Dimensi Program Tujuan instruksional, konsep serta materi pelajaran yang memenuhi kebutuhan, minat serta kemampuan siswa; merupakan suatu hal yang sangat penting diperhatikan guru. Program yang memungkinkan terjadinya pengembangan konsep maupun aktivitas siswa dalam proses belajar-mengajar. Program yang fleksibel (luwes); disesuaikan dengan situasi dan kondisi. d. Dimensi situasi belajar-mengajar  Situasi belajar yang menjelmakan komunikasi yang baik, hangat, bersahabat, antara guru-siswa maupun antara siswa sendiri dalam proses belajar-mengajar.  Adanya suasana gembira dan bergairah pada siswa dalam proses belajarmengajar. Manfaat CBSA 1. untuk mengantarkan siswa ke kedewasaan dalam arti perkembangan yang optimal. Perkembangan yang optimal mempunyaiarti yang luas, yaitu pertama-tama peserta didik mengembangkan segalapotensi yang ada padanya sehingga dapat mencapai kepuasan diri yangsepenuhnya. 2. Peran serta siswa dalam berbagai kegiatan belajar secara aktif akanmeningkat keterlibatan mental siswa yang bersangkutan dalam rosesbelajar-mengajar 3. Kegiatan belajar mengajar dengan memberikan keleluasaan kepada siswa untuk berkomunikasi dua arah itu memberikan peluang bagi guru untuk memperoleh bahkan dalam rangka menilai keberhasilan pembelajaranyang dilaksanakan Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 226
  • 4. Untuk meningkatkan kemampuan siswa dan guru itu sendiri. RAMBU-RAMBU PENYELENGGARAAN CBSA Hakikat CBSA adalah ketrlibatan intelektual-emosional siswa secara optimal dalam proses pembelajaran; dan setiap proses pembelajaran memiliki kadar CBSA yang berbeda-beda. Rambu-rambu CBSA adalah gejala-gelaja yang tampak pada perilaku siswa dan guru baik dalam program maupun dalam proses pembelajaran. Rambu-rambu yang dimaksud adalah: 1.Kuantitas dan kualitas pengalaman yang membelajarkan. 2.Prakarsa dan keberanian siswa dalam mewujudkan minat, keinginan, dan dorongan-dorongan yang ada pada dirinya. 3. Keberanian dan keinginan siswa untuk ikut serta dalam proses pembelajaran. 4.Usaha dan kreativitas siswa dalam proses pembelajaran. 5. Keingintahuan yang ada pada diri siswa. 6.Rasa lapang dan bebas yang ada pada diri siswa. 7.Kuantitas dan mualitas usaha yang dilakukan guru dalam membina dan mendorong keaktifan siswa. 8. Kualitas guru sebagai inovator dan fasilitator. 9.Tingkat sikap guru yang tidak mendominasi dalam proses pembelajaran. Rambu-rambu CBSA tersebut, akan dapat digunakan untuk m,engetahui kadar ke-CBSA-an suatu proses pembelajaran apabila dirumuskan kembali ke dalam bentuk panduan observasi atau instrumen lain. Penerapan CBSA Konsekuensi yang harus diterima dari adanya pembelajaran berdasarkan siswa ialah: Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 227
  • 1. Guru merupakan seorang pengelola (manager) dan perancang (designer) dari pengalaman belajar. 2. Guru dan siswa menerima peran kerja sama (partnership). 3. Bahan-bahan pembelajaran dipilih berdasarkan kelayakannya. 4. Penting untuk melakukan identifikasi dan penuntasan syarat-syarat belajar (learning requirements). 5. Siswa dilibatkan dalam pembelajaran. 6. Tujuan ditulis secara jelas. 7. Semua tujuan diukur/dites. Konsekuensi tersebut menuntut guru agar guru memiliki khasanah pengetahuan yang luas tentang teknik/cara penyampaian atau sistem penyampaian, dan guru juga harus memiliki kriteria tertentu untuk memilih sistem penyampaian yang tepat untuk memberikan pengalaman belajar kepada siswa yang terlibat dalam proses pembelajaran. Menurut Ausubel (1978), untuk dapat melihat lebih jelas kadar ke-CBSA-an dan kebermaknaan suatu proses pembelajaran, ada dua dimensi yang dapat dipertentangkan, yaitu: 1. kebermaknaan bahan dan/atau proses pembelajaran, terentang dari belajar hapalan tanpa pemahaman (rote learning) sampai belajar penuh kebermaknaan (meaningfull learning). 2. modus-modus pembelajaran, diklasifikasikan menjadi belajar reseptif, belajar dengan penemuan terbimbing, dan belajar dengan penemuan mandiri. Ada prasyarat tertentu yang harus dimiliki oleh guru untuk meningkatkan kadar CBSA suatu proses pembelajaran. Peningkatan kadar CBSA dari suatu proses pembelajaran berarti pula mengarahkan proses pembelajaran yang berorientasi pada siswa atau dengan kata lain menciptakan pembelajaran berdasarkan siswa. Untuk dapat mengolah dan merancang program pembelajaran dan proses, seorang guru hendaknya mengenal faktor-faktor penentu kegiatan pembelajaran. Faktor-faktor penentu tersebut adalah: 1. Karakteristik tujuan, yang mencakup pengetahuan, keterampilan, dan nilai yang ingin dicapai atau ditingkatkan sebagai hasil kegiatan. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 228
  • 2. Karakteristik mata pelajaran / bidang studi, yang meliputi tujuan, isi pelajaran, urutan, dan cara mempelajarinya. 3. Karakteristik siswa, mencakup karakteristik perilaku masukan kognitif dan afektif, usia, jenis kelamin, dan yang lain. 4. Karakteristik lingkungan / setting pembalajaran, mencakup kuantitas dan kualitas prasarana, alokasi jam pertemuan, dan yang lainnya. 5. Karakteristik guru, meliputi filosofinya tentang pendidikan dan pembelajaran, kompetensinya dalam teknik pembelajaran, kebiasaannya, pengalaman pendidikannya, dan yang lainnya . Agar seorang guru mampu menyelenggarakan kegiatan pembelajaran yang memiliki kadar CBSA tinggi, maka dalam memilih dan menentukan teknik pembelajaran atau sistem penyampaian hendaknya benar-benar mempertimbangkan kemanfaatan dari teknik pembelajaran yang dipilihnya. Teknik pembelajaran yang dapat diartikan sebagai prosedur rutin atau suatu cara yang telah ditentukan sebelumnya untuk menyampaikan pesan dengan bahan, alat, latar, dan orang , pada akhirnya akan membentuk sistem instruksional. Oleh kareba itu pentingnya teknik pembelajaran ini, maka pemanfaatan teknik pembelajaran itu hendaknya bersesuaian dengan karakteristik, karakteristik guru, karakteristik tujuan, karakteristik mata pelajaran / bidang studi, dan karakteristik bahan alat pembelajaran. PENDEKATAN KETERAMPILAN PROSES SEBAGAI BAGIAN DARI CBSA 1. Rasionalisasi Pendekatan Keterampilan Proses dalam Pengajaran Terdapat dua aspek penting dalam kegiatan pembelajaran, yaitu aspek hasil belajar yakni perubahan perilaku pada diri siswa, dan aspek proses belajar yakni sejumlah pengalaman intelektual, emosional, dan fisik pada diri siswa. Tujuan pokok penyelenggaraan kegiatan pembelajaran mengandung makna untuk meletakkan landasan bagi belajar seumur hidup. Tujuan pokok penyelenggaraan kegiatan pembelajaran di sekolah secara operasional adalah membelajarkan siswa agar mampu memproses dan memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap bagi dirinya sendiri. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 229
  • Kegiatan pengajaran seringkali didasarkan pada dua premis yang terkadang tidak diungkapkan secara jelas, yaitu: 1. Premis pertama mengungkapkan bahwa siswa belajar sesuatu bukan karena hal yang dipelajari menarik atau menyenangkan baginya, tetapi siswa belajar hanya ingin menghindarkan diri dari ketidaksenangan bila ia tidak belajar. 2. Premis kedua mengungkapkan bahwa guru merupakan ‖motor penggerak‖ yang membuat siswa terus-menerus belajar, dari pihak siswa tiada kegiatan belajar spontan. Adanya dua premis tersebut mengakibatkan kegiatan pembelajaran cenderung menjadi kegiatan ‖penjajahan‖ atau ‖penjinakan‖, daripada sebagai kegiatab pemanusiaan. Untuk mengidealkan kegiatan pembelajaran di sekolah, salah satunya dengan penerapan Pendekatan Keterampilan Proses (PKP), yang didasarkan pada hal berikut: a. Percepatan perubahan ilmu pengetahuan dan teknologi. Perlu mengembangkan keterampilan memperoleh dan memproses semua fakta, konsep, dan prinsip pada diri siswa. b. Pengalaman intelektual, emosional, dan fisik dibutuhkan agar didapatkan hasil belajar yang optimal. c. Penanaman sikap dan nilai sebagai pengabdi pencarian abadi kebenaran ilmu. Hal ini menuntut adanya pengenalan terhadap tata cara pemrosesan dan pemerolehan kebenaran ilmu yang bersifat kesementaraan. 2. Pengertian Pendekatan Keterampilan Proses dan Keterkaitannya dengan CBSA Pendekatan keterampilan proses dapat diartikan sebagai wawasan atau anutan pengembangan keterampilan-keterampilan intelektual, sosial, dan fisik yang bersumber dari kemampuankemampuan mendasar yang pada prinsipnya telah ada dalam diri siswa (Depdikbud, 1986 b:7). PKP dimaksudkan untuk mengembangkan kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa. Pendekatan keterampilan proses ini adalah: 1. PKP sebagai wahana penemuan dan pengembangan fakta, konsep, dan prinsip ilmu pengetahuan bagi diri siswa. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 230
  • 2. Fakta, konsep, dan prinsip ilmu pengetahuan yang itemukan dan dikembangkan siswa berperan pula menunjang pengembangan keterampilan proses pada diri siswa. 3. Interaksi antara pengembangan keterampilan proses dengan fakta, konsep, serta prinsip ilmu pengetahuan, pada akhirnya akan mengembangkan sikap dan nilai ilmuwan pada diri siswa. PKP tidak mungkin dilaksanakan dalam kegiatan pembelajaran yang tidak menerapkan CBSA, PKP berjalan secara optimal apabila kadar CBSA proses pembelajaran tinggi, dan sebaliknya. Dengan kata lain, PKP berinteraksi secara timbal-balik dengan penerapan CBSA dalam proses pembelajaran. 3. Jenis-Jenis Keterampilan dalam Keterampilan Proses Ada berbagai keterampilan dalam keterampilan proses, yaitu terdiri dari: 1. Keterampilan dasar (basic skills), yang terdiri dari enam keterampilan, yakni: mengobservasi, mengklasifikasi, memprediksi, mengukur, menyimpulkan, dan mengkomunikasikan. 2. Keterampilan-keterampilan terintegrasi (integrated skills), terdiri dari: mengidentifikasi variabel, membuat tabulasi data, menyajikan data dalam bentuk grafik, menggambarkan hubungan antar-variabel, mengumpulkan dan mengolah data, menganalisa penelitian, menyusun hipotesis, mendefinisikan variabel secara operasional, merancang penelitian, dan melaksanakan eksperimen. (Funk, 1985: xiii) Keterampilan proses tersbut dikelompokkan menjadi beberapa keterampilan proses, yaitu: a. Mengamati Kemampuan mengamati merupakan keterampilan paling dasar dalam proses dan memperoleh ilmu pengetahuan serta merupakan hal terpenting untuk mengembangkan keterampilanketerampilan proses yang lain. Mengamati memiliki dua sifat utama, yaitu sifat kualitatif (apabila dalam pelaksanaannya hanya menggunakan pancaindera untuk memperoleh informasi, contoh: menentukan warna), dan sifat kuantitatif (apabila dalam pelaksanaannya selain Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 231
  • menggunakan pancaindra, juga menggunakan peralatan lain yang memberikan informasi khusus dan tepat, contoh: menentukan suhu air yang mendidih dengan bantuan termometer) b. Mengklasifikasikan Merupakan keterampilan proses untuk memilah berbagai objek peristiwa berdasarkan sifat-sifat khususnya, sehingga didapatkan golongan/kelompok sejenis dari objek peristiwa yang dimaksud. Contoh: mengklasifikasikan cat berdasarkan warna. c. Mengkomunikasikan Dapat diartikan sebagai menyampaikan dan memperoleh fakta, konsep, dan prinsip ilmu pengetahuan dalam bentuk suara, visual, atau suara visual. Contoh: mendiskusikan suatu masalah, membuat laporan. d. Mengukur Yaitu membandingkan yang diukur dengan satuan ukuran tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya. Contohnya mengukur berat badan. e. Memprediksi Merupakan suatu ramalan dari apa yang kemudian hari mungkin dapat diamati. Contohnya memprediksi waktu yang dibutuhkan untuk menempuh jarak tertentu dengan menggunakan kendaraan yang kecepatannya tertentu. f. Menyimpulkan Dapat diartikan sebagai suatu keterampilan untuk memutuskan keadaan suatu objek atau peristiwa berdasarkan fakta, konsep, dan prinsip yang diketahui. Contoh: berdasarkan pengamatan diketahui bahwa api lilin mati setelah ditutup dengan gelas rapat-rapat, siswa dapat menyimpulkan bahwa lilin dapat menyala bila ada oksigen. Keterampilan proses terintegrasi pada hakikatnya merupakan keterampilan-ketrampilan yang diperlukan untuk melakukan penelitian. Keterampilan terintegrasi tersebut ialah: a. Mengenali variabel Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 232
  • Variabel dapat diartikan sebagai konsep yang mempunyai variasi nilai atau konsep yang diberi lebih dari satu nilai. Pengenalan terhadap variabel berguna untuk merumuskan hipotesis penelitian. Ada dua macam varabel, yakni variabel termanipulasi (manipulated variabel, atau variabel bebas, yaitu variabel yang dengan sengaja diubah-ubah dalam suatu situasi dan diselidiki pengaruhnya), variabel hasil (responing variabel, atau variabel terikat, yaitu variabel yang diramalkan akan timbul dalam hubungan yang fungsional dengan atau sebagai pengaruh dari variabel bebas). Kegiatan untuk mengembangkannya di antaranya menentukan variabel yang ada dalam suatu pernyataan. b. Membuat tabel data Fungsinya untuk menyajikan data yang diperlukan penelitian. Kegiatannya di antaranya adalah membuat tabel frekuensi, membuat tabel silang. c. Membuat Grafik Adalah kemampuan mengolah data untuk disajikan dalam bentuk visualisasi garis atau bidang datar dengan variabel termanipulasi selalu pada sumbu datar dan variabel hasil selalu ditulis sepanjang sumbu vertikal. d. Menggambarkan hubungan antar-variabel Dapat diartikan sebagai kemampuan mendeskripsikan hubungan antar-variabel termanipulasi dengan variabel hasil/hubungan atara variabel-variabel yang sama. Kegiatannya antara lain menggambrkan hubungan variabel timbal-balik, dan hubungan variabel simetris. e. Mengumpulkan dan mengolah data Adalah kemampuan memperoleh informasi/data dari orang atau sumber informasi lain dengan cara lisan, tertulis, atau pengamatan dan mengkajinya lebih lanjut secara kuantitatif atau kualitatif sebagai dasar pengujian hipotesis. Kegiatannya antara lain membuat instrumen pengumpulan data, menentukan tingkat signifikansi hasil perhitungan. f. Menganalisis penelitian Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 233
  • Merupakan kemampuan menelaah laporan penelitian orang lain untuk meningkatkan pengenalan terhadap unsur-unsur penelitian. Kegiatan untuk mengembangkannya antaranya mengenali rumusan hipotesis. g. Menyusun hipotesis Sebagai kemampuan untuk menyatakan ‖dugaan yang dianggap benar‖ mengenai adanya suatu faktor yang terdapat dalam satu situasi, maka akan ada akibat tertentu yang dapat diduga akan timbul. Kegiatannya antara lain menyusun hipotesis kerja, menyusun hipotesis nol. h. Mendefinisikan variabel Dapat diartikan sebagai kemampuan mendeskripsikn variabel beserta segala atribut sehingga tidak menimbulkan penafsiran ganda. Kegiatan antaranya mengenal atribut variabel bebas. i. Merancang penelitian Sebagai suatu kegiatan untuk mendeskripsikan variabel-variabel yang dimanipulasi dan direspons dalam penelitian secara operasional, kemungkinan dikontrolnya variabel hipotesis yang diuji dan cara menujinya, serta hasil yang diharapkan dari penelitian yang akan dilaksanakan. Contoh kegiatannya adalah mengenali, menentukan, dan merumuskan masalah yang akan diteliti. j. Bereksperimen Sebagai keterampilan untuk mengadakan pengujian terhadap ide-ide yang bersumber dari fakta, konsep, dan prinsip ilmu pengetahuan sehingga dapat diperoleh informasi yang menerima atau menolak ide-ide itu. Contoh kegiatannya adalah menguji kebenaran pernyataan bahwa semua zat memuai bila terkena panas. Penerapan Keterampilan Proses dalam Pembelajaran Untuk dapat menerapkan PKP dalam pembelajaran, kita perlu mempertimbangkan dan memperhatikan karakteristik siswa dan karakteristik mata pelajaran/bidang studi. Selain itu, kita Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 234
  • perlu menyadari bahwa dalam suatu kegiatan pembelajaran dapat terjadi pengembangan lebih dari satu macam keterampilan proses. Mengingat keterampilan terintegrasi dalam PKP merupakan keterampilan melaksanakan suatu kegiatan penelitian, maka penerapannya dalam pembelajaran hendaknya dilakukan dengan urutan yang hierarkis. Dengan kata lain, sebelum satu keterampilan dikuasai siswa jangan berpindah kepada keterampilan yang lainnya. Kadar CBSA dalam Pembelajaran Mc Keachie mengemukakan 7(tujuh) dimensi proses pembelajaran yang mengakibatkan terjadinya kadar ke-CBSA-an.Adapun dimensi-dimensi yang dimaksud adalah: a.Partisipasi siswa dalam menetapkan tujuan kegiatan pembelajaran b.Tekanan pada aspek afektif dalam belajar. c.Partisispasi siswa dalam kegiatan pembelajaran,terutama yang berbentuk interaksi antarsiswa. d.Kekohesifan(kekompakan) kelas sebagai kelompok. e.Kebebasan atau lebih tepat kesempatan yang diberikan kepada siswa untuk mengambil keputusan-keputusan penting dalam kehidupan sekolah,dan f.Jumlah waktu yang digunakan untuk menanggulangi masalah pribadi siswa,baik yang berhubungan maupun yang tidak berhubungan dengan sekolah/pembelajaran. Kesadaran dan kesengajaan melibatkan diri dalam proses pembelajaran pada diri siswa dan guru akan dapat memunculkan berbagai interaksi pembelajaran.Lindgren mengemukakan 4(empat) kemungkinan interaksi pembelajaran,yakni; a. Interaksi satu arah,dimana guru bertindak sebagai penyampai pesan dan siswa penerima pesan. b. Interaksi dua arah antara guru-siswa,dimana guru memperoleh balikan dari siswa. c. Interaksi dua arah antara guru-siswa,dimana guru mendapat balikan dari siswa. Selain itu,siswa saling berinteraksi atau salin belajar satu sama lain. d. Interaksi optimal antara guru-siswa,dan antara siswa-siswa. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 235
  • Raka joni(1992:19-20) mengungkapkan bahwa sekolah yang CBSA dengan baik mempunyai karakteristik berikut: (1) Pembelajaran yang dilakukan lebih berpusat pada siswa. (2) Guru adalah pembimbing dalam terjadinya pengalaman belajar. (3) Tujuan kegiatan tidak hanya untuk sekedar mengejar standar akademis. (4) Pengelolaan kegiatan pembelajaran lebih menekankan pada kreativitas siswa. (5) Penilaian. Kadar CBSA bergantung pada dan dipengaruhi oleh keaktifan siswa dalam merencanakan,melaksanakan,dan menilai proses pembelajaran dan hasil pembelajaran. E. CAI (Computer Assisted Instruction ) dan INTERNET A. CAI(Computer Assisted Instruction) Kemajuan teknologi modern adalah salah satu faktor yang turut menunjang keberhasilan pendidikan. Peranan teknologi sangat berpengaruh pada proses penyampaian pesan terutama dalam proses pendidikan. Media merupakan alat perantara untuk menyampaikan pesan pembelajaran. Media dapat berfungsi untuk memberikan pengalaman konkrit, motivasi belajar serta mempertinggi daya serap dan minat belajar siswa. Terdapat dua macam pembelajaran berbasis komputer yaitu Computer Assisted Instruction (CAI) dan Computer Managed Instruction (CMI). Dalam CAI, siswa berinteraksi langsung (online) dengan komputer sedangkan CMI membantu guru dalam mengadministrasi proses pembalajaran dan siswa tidak online dengan komputer. CAI (Computer Assisted Instruction) adalah suatu sistem penyampaian materi pelajaran yang berbasis mikroposesor yang pelajarannya dirancang dan diprogram ke dalam sistem tersebut. Atau dengan kata lain, CAI adalah Semua materi atau aktivitas pembelajaran yang disajikan melalui komputer. Dalam mode ini, komputer bisa menampilkan pembelajaran, menggunakan berbagai jenis media (teks, gambar, suara, video), menyediakan aktivitas dan suasana pembelajaran, kuis atau dengan menyediakan interaksi dari siswa, mengevaluasi jawaban siswa, Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 236
  • menyediakan umpan balik dan menentukan aktivitas tindak lanjut yang sesuai sehingga siswa dapat berinteraksi secara aktif. CAI dapat berbentuk tutorial, drills and practice, simulasi, dan permainan. Media pembelajaran berbasis CAI ini memiliki kemampuan dalam mengintegrasikan komponen warna, musik, dan animasi grafik (graphic animation). Media pembelajaran berbasis CAI ini juga mampu memberikan balikan (feedback) sehingga siswa dapat aktif berinteraksi dengan media yang diproduksi. Bentuk pembelajaran CAI yang diberikan adalah bentuk tutorial bercabang. Dengan perkembangan multimedia komputer saat ini, wujud media pembelajaran tidak harus secara fisik hadir di hadapan siswa. Menurut Mayub (2005:21), media pembelajaran ini bisa dirancang dan dibuat dengan program yang sederhana dengan sistem multimedia yang baik, penggunaannya mudah dan mobilitasnya tinggi. CAI efektif dalam mencapai tujuan pembelajaran baik mengajarkan prinsip dan suplemen. CAI juga bertujuan membuat banyak waktu belajar atau membuat belajar lebih singkat. Tipe-Tipe CAI Ada lima tipe CAI yang sering dipergunakan ( Patterson, Strickland, 1986) yaitu : 1. Drill and Practice (Latihan dan Praktek). Tipe Drill and Practice menyajikan materi pelajaran untuk dipelajari secara berulang. Tipe program ini adalah cocok dipergunakan sewaktu pengajar menyajikan latihan soal dengan disertai umpan balik. Tipe perangkat lunak ini sering kali dipergunakan untuk menambah pelajaran pada bidang matematika atau faktual. Selama pelaksanaan latihan-latihan soal pada Drill and Practice, komputer dapat menyimpan jawaban yang salah, laporan nilai, contoh jawaban yang salah dan pengulangan dengan contoh-contoh masalah yang telah dijawab secara tidak benar. 2. Tutorial. Tipe Tutorial ini menyajikan materi yang telah diajarkan atau menyajikan materi baru yang akan dipelajari. Pada program ini memberi kesempatan untuk menambahkan materi pelajaran yang telah dipelajari ataupun yang belum dipelajari sesuai dengan kurikulum yang ada. Tutorial yang baik adalah memberikan layar bantuan untuk memberikan keterangan selanjutnya atau ilustrasi selanjutnya. Dan juga untuk Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 237
  • menerangkan segala informasi untuk menyajikan dan bagaimana menyajikannya. Ketika kita mengevaluasi Tutorial, kita perlu untuk mengevaluasi jika Tutorial tidak hanya menyajikan informasi tapi juga harus menerangkan jawaban-jawaban yang salah. Sewaktu program ini menerangkan jawaban- jawaban yang salah, program ini harus mempunyai kemampuan untuk melanjutkan pelajaran dari poin dengan memberi umpan balik pada informasi yang salah dimengerti sebelum melanjutkan ke informasi baru. 3. Simulation (simulasi). Tipe simulasi memberikan kesempatan untuk menguji kemampuan pada aplikasi nyata dengan menciptakan situasi yang mengikutsertakan siswa-siswa untuk bertindak pada situasi tersebut. Simulasi dipergunakan untuk mengajar pengetahuan prosedural seperti belajar bagaimana untuk menerbangkan pesawat atau mengemudikan mobil. Program simulasi yang baik dapat memberikan suatu lingkungan untuk situasi praktek yang tidak mungkin dapat dilakukan di ruang kelas atau mengurangi resiko kecelakaan pada lingkungan sebenarnya. 4. Problem Solving (Memecahkan Masalah). Tipe Problem Solving menyajikan masalahmasalah untuk siswa untuk menyelesaikannya berdasarkan kemampuan yang telah mereka peroleh. Program ini memberikan aplikasi dasar strategi pemecahan masalah, analisis akhir, mencari ruang permasalahan, dan inkubasi Program ini akan membantu siswa untuk menciptakan dan mengembangkan strategi pemecahan masalah mereka. 5. Instructional/ Educational Games. Tipe Instructional atau Educational Games merupakan program yang menciptakan kemampuan pada lingkungan permainan. Permainan diberikan sebagai alat untuk memotivasi dan membuat siswa untuk melalui prosedur permainan secara teliti untuk mengembangkan kemampuan mereka A. Karakteristik CAI 1) Berdasarkan tujuan pembelajaran. 2) Sesuai dengan karakteristik siswa. 3) Memaksimalkan interaksi 4) Individualisasi Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 238
  • 5) Mempertahankan minat siswa 6) Pendekatan kepada siswa secara positif 7) Menyediakan bermacam-macam umpan balik 8) Sesuai dengan lingkungan pembelajaran 9) Mengevaluasi kinerja yang tepat 10) Menggunakan komputer dengan bijak 11) Berdasarkan pada prinsip disain instruksional 12) Telah dievaluasi secara mendalam B. Kelebihan CAI 1) Meningkatkan interaksi 2) Individualisasi 3) Kelebihan secara administratif dan Biaya 4) Motivasi 5) Umpan balik segera/cepat 6) Mudah menyimpan data 7) Integritas pembelajaran 8) Kendali siswa C. Kekurangan CAI 1) Perangkat Keras (Hardware) yang mahal 2) Kesulitan untuk mereview materi 3) Bergantung pada kemampuan membaca dan visual 4) Butuh keterampilan pengembangan tambahan 5) Waktu pengembangan yang lama 6) Terbatasnya belajar incidental 7) Persepsi hanya dari input yang telah terprogram B. INTERNET Sejarah internet perkembangan internet diawali dengan dibangunnya jaringan ARPANet pada tahun 1969. ARPA (Advanced Research Project Agency) merupakan sebuah jaringan yang dikembangakan oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat yang tugasnya untuk melakukan Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 239
  • penelitian terhadap jaringan komputer dengan teknologi packet switching. Jaringan tersebut semula hanya beranggotakan beberapa komputer di beberapa universitas di Amerika Serikat, seperti University of California-Los Angeles dan Stanford Research Institute. Di awal perkembangannya, jaringan tersebut hanya digunakan khusus untuk kalangan akademik dan militer. Istilah internet sendiri muncul sekitar tahun 1983 dengan ditemukannya protocol TCP/IP (Transmission Control Protocol/Intenet Protocol) yang memberikan sumbangan besar terhadap perkembangan jaringan. Internet merupakan salah satu produk teknologi informasi dan komunikasi yangcukup banyak mempengaruhi berbagai sektor, termasuk pendidikan. Bahkan internet dianggap sebagai dunia baru yang penuh pesona yang dapat memikat siapa saja yang Berinteraksi dengannya. Yang dimanfaatkan oleh guru untuk dapat menawan hati para siswa untuk lebih gemar dan giat belajar, begitu pula oleh staf administrasi pendidikan.Internet merupakan singkatan dari Interconnected Network. Jika diterjemahkan secara langsung berarti jaringan yang saling terhubung. Internet adalah gabungan jaringan komputer di seluruh dunia yang membentuk suatu system jaringan formasi global. Semua komputer yang terhubung ke internet dapat mengakses semua informasi yang terdapat di internet secara gratis. Internet dapat digunakan sebagai sarana pertukaran informasi dari satu komputer ke komputer lain tanpa dibatasi oleh jarak fisik kedua komputer tersebut. Peranan internet yang sangat penting adalah sebagai sumber data dan informasi serta sebagai sarana pertukaran data dan informasi. Internet dalam pembelajaran Dengan kecanggihan internet memungkinkan seorang dosen atau guru tidak harus datang ke kelas untuk menyampaikan materi tetapi cukup dilakukan melalui internet misalnya dengan menggunakan teleconference. Internet bisa saja mengabaikan jarak, sehingga ketika kita butuh informasi dariseorang pakar di luar negeri dengan segera kita dapatkan. Pada akhirnya, pemanfaatan dan pengembangan internet menjadi suatu penunjang yang sangat penting dalam peningkatan kualitas pendidikan. Dengan pengaplikasian sebagaimana dijelaskandiatas, maka kualitas pendidikan kita yang tertinggal jauh dengan negara lain mempunyai peluang yang besar untuk bisa setara atau melebihi negara yang telah maju. Keuntungan internet Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 240
  • 1) Penggunaan internet dewasa ini telah merambah ke berbagai kehidupan, baik di bidang sosial, budaya, ekonomi, kesehatan, politik, maupun pendidikan. Internet sangat dibutuhkan dalam bertukar informasi dan berkomunikasi secara cepat tanpa ada batasan wilayah, ruang dan waktu. Dengan internet semua pekerjaan menjadi sangat mudah dan sangat efisien terhadap waktu. Internet juga bisa digunakan untuk memperluas pengetahuan serta memperluas pergaulan kita sebagai makhluk sosial. 2) Penggunaan internet yang tepat akan sangat bermanfaat bagi kemajuan pemikiran dan peradaban bagi bangsa yang selalu menginginkan perubahan ke arah positif. Internet merupakan bagian dari teknologi informasI. a) Efisiensi waktu b) Komunikasi c) Sistem publikasi web d) Keseragaman informasi e) Meningkatkan kerjasama f) Efektifitas biaya Kelemahan dari internet a. Informasi yang salah atau tidak sesuai sehingga mengurangi efektifitasnya b. Interaksi di intranet yang mungkin tidak bertanggung jawab c. Perlu pelatihan khusus untuk anggota dalam menggunakan internet d. Perlu tenaga ahli untuk membangun dan mengembangkan internet di sebuah organisasi e. Bisa terjasi overload (data penuh) akibat pengiriman pesan antar pengguna yang tidak terkontril dengan baik. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 241
  • DAFTAR PUSTAKA Arsyad, Azhar. 2011. Media Pembelajaran. Jakarta: Rajawali Pers Dick, W., Carey, L., & Carey, J.O. 2003. The Systemic Design of Instruction. New York : Harper Collins Publisher Inc. Hermawan, A.H dkk. 2008. Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Universitas Terbuka Peraturan Menteri No. 41 tahun 2007 tentang Standar Proses Sujarwo. 2012. Model-model Pembelajaran: suatu strategi mengajar. Yogyakarta Himpunan Peraturan Perundang-undangan. 2009. Undang-undang Sisdiknas nomor 20 tahun 2003. Bandung: Fokus Media Prawiradilaga Dewi S dan Siregar Eveline, Mozaik Teknologi Pendidikan, Jakarta : Kencana Sukardjo M dan Komarudin Ukim, Landasan Pendidikan, Jakarta : PT Raja grafindo Persada, 2010 Syukur Fatah, Teknologi Pendidikan, Semarang:RaSail Media Group, 2008 Seels Barbara B dan Richey Rita C, Teknologi Pembelajaran, Jakarta:Universitas Negeri Jakarta, 1994 Warsita Bambang, Teknologi Pembelajaran, Jakarta: Rineka Cipta, 2008 Miarso Yusufhardi, Menyemai Benih Teknologi Pendidikan, Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 242
  • Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 243
  • BAB IX PENERAPAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN Dl NEGARA MAJU DAN NEGARA BERKEMBANG A. Negara Berkembang 1. Pengertian Negara berkembang adalah negara yang rakyatnya memiliki tingkat kesejahteraan atau kualitas hidup taraf sedang atau dalam perkembangan. Suatu negara digolongkan sebagai negara berkembang jika negara tersebut belum dapat mencapai tujuan pembangunan yang telah ditetapkan atau belum dapat menyeimbangkan pencapaian pembangunan yang telah dilakukan. Ciri-ciri negara berkembang antara lain sebagai berikut: a) Pertanian termasuk peternakan dan perikanan hanya untuk memenuhi kebutuhan sendiri dan keluarga. b) Pada umumnya aktivitas masyarakat menggunakan sarana dan prasarana tradisional. c) Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berdasarkan pengalaman dan lamban. d) Pendapatan relatif rendah. e) Pendidikan penduduknya rata-rata rendah. f) Sifat penduduk kurang mandiri. g) Sangat tergantung pada alam. h) Tingkat pertumbuhan penduduk tinggi i) Angka harapan hidup rendah. j) Intensitas mobilitas rendah k) laju pertumbuhan dan jumlah penduduk relatif tinggi l) persebaran penduduk tidak merata m) tingginya angka beban tanggungan n) kualitas penduduk relatif rendah; sehingga mengakibatkan tingkat produktivitas penduduk juga rendah. o) Angka kemiskinan dan pengangguran relatif tinggi Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 244
  • p) Rendahnya pendapatan perkapita. q) Produktivitas Masyarakatnya Masih Didominasi Barang-Barang Primer. r) Sumber Daya Alam Belum dapat Dimanfaatkan secara Optimal s) Ketergantungan terhadap Negara Maju t) Keterbatasan Fasilitas Umum u) Tingkat Kesadaran Hukum, Kesetaraan Gender, dan Penghormatan terhadap Hak Asasi Manusia v) Tingkat Pendidikan Masih Rendah w) Tingkat Pendapatan Masih Rendah x) Tingkat Kesehatan 2. Latar Belakang Tolok ukur atau indikator dalam penggolongan negara sebagai negara berkembang sebagai berikut: a. Pendapatan Perkapita Pendapatan perkapita merupakan indikator terpenting dalam mengukur tingkat kesejahteraan rakyat suatu negara. Sebuah negara dikatakan tidak makmur apabila rakyatnya memiliki pendapatan perkapita yang rendah. Namun demikian, tingginya pendapatan perkapita bukan penentu kemakmuran suatu negara. Meskipun negara itu pendapatan perkapitanya tinggi, namun jika terjadi perang saudara di dalam negara tersebut, maka tidak dapat disebut sebagai negara makmur/sejahtera. Karena dengan adanya peperangan banyak menimbulkan kematian, penderitaan, dan rasa tidak aman. b. Jumlah Penduduk Miskin Tingkat kesejahteraan rakyat suatu negara dapat dilihat dari angka kemiskinan. Suatu negara dikatakan berkembang apabila rakyatnya yang hidup miskin berjumlah tinggi. c. Tingkat Pengangguran Di negara berkembang umumnya tingkat penganggurannya tinggi. d. Angka Kematian Bayi dan Ibu Melahirkan Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 245
  • Salah satu ciri yang membedakan antara negara maju dan negara berkembang adalah angka kematian bayi dan ibu melahirkan. Di negara berkembang angka kematian bayi dan ibu melahirkan relatif tinggi. Hal ini disebabkan penduduk tidak mampu membeli makanan yang bergizi, tidak mampu membeli pelayanan kesehatan dan obat-obatan yang memadai, karena pendapatannya rendah. e. Angka Melek Huruf Angka melek huruf menunjukkan jumlah penduduk yang dapat membaca dan menulis. Suatu negara dikatakan berkembang apabila angka melek hurufnya rendah atau angka buta hurufnya tinggi. B. Penerapan Teknologi Pendidikan di Negara Berkembang Menurut analisa G. Pracharopoulus Negara berkembang investasi dalam sumber daya manusiawi mempunyai nilai ekonomis yang lebih tinggi dari investasi dalam bidang fisik, sena dalam bidang pendidikan berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi. Dean Jamison membuat analisa pendidikan di Indonesia yang satu kesimpulan yaitu : a. Untuk mempertahankan angka partisipasi pendidikan dasar pada taraf yang tetap belanja pendidikan harus dilipat duakan pada tahun berikutnya. b. Angka partisipasi akan turun menjadi 15% bila pertambahan c. belanja pendidikan sama dengan kenaikan ongkos nyata. 1. Tujuan Penerapan TP Di Negara Berkembang Diniger memanfaatkan media teknologi komunikasi dalam system pendidikan nasional. Pada tahun 1964 siaran televise pendidikan dikembangkan, sasaran umatnya adalah para guru sekolah dasar. Sasaran lain yang harus cepat terselesaikan di niger adalah pemberantas buta huruf. 2. Kegiatan Penerapan TP di Negara Berkembang a. meningkatkan mutu pembelajaran Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 246
  • Di Negara berkembang diperlukan perubahan pola belajar dan perubahan karakteristik guru serta media pembelajaran yang lebih menunjang pembelajaran agar lebih efektif dan efisien. b. melatih guru Diperlukan tenaga yang profesinal agar mutu pendidikan dapat meningkat. Uapaya yang dilakukan seperti memberikan pelatihan kepada guru dalam memberikan materi pelajaran baik dalam bentuk perbaharuan materi yang dapat diambil dari internet yang sebelumnya hanya menggunakan pedoman buku saja. Dan juga dibutuhkan media pembelajaran yang meransang minat siswa untuk belajar. c. memperluas jangkauan sekolah Sekolah-Sekolah berada di daerah tertentu membutuhkan perubahan yang lebih baik dari sebelumnya, yang pada awalnya informasi didapatkan hanya dengan melalui surat kabar atau pemberitahuan di televise. Untuk mengatasi hal ini sebaiknya diadakan seminar dan penyuluhan untuk memanfaatkan teknologi elektronik agar bisa mendapatkan informasi yang lebih up to date. d. pembelajaran pendidikan dasar dan buta huruf Pendidikan Dilakukan Untuk Memberantas Buta Huruf Yang Masih Banyak Dijumpai di Negara berkembang, hal ini dilakukan agar tercapai pendidikan yang merata disetiap warga. Dan dengan modal bisa membaca tersebut mereka dapat memperolah informasi yang lebih dari sebelumnya yang pada akhirnya bisa menggunakan teknologi. e. kegiatan pendidikan orang dewasa dan pembangunan masyarakat Tidak semua Negara berkembang memiliki media yang sama dalam menunjang system pendidikan. 3. Sasaran Penerapan TP di Negara Berkembang Pada Negara berkembang sasaran teknologi pendidikan masih mengutaman pendidik.karena kebanyakan para pendidik di Negara berkenbang belum propesiaonal dalam pembelajaran menggunakan media. contoh: Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 247
  • a. Niger sasarannya guru-guru sekolah dasar dan masyarakat b. Pandaigading sasarannya karyawan menengah berbagai perusahaan c. Aljazir sasarannya guru dan calon guru d. Kolombia sasarannya anak-anak SD e. Peru sasarannya anak-anak TK dan calon pekerja tamatan SD f. Muanghtai sasarannya murit SD kelas 3-5 g. Hondurus sasarannya masyrakat dan anak-anak usia sekolah 4. Pengelolaan TP di Negara Berkembang Suatu team study mengajukan alternatif dipakainya media radio untuk pendidikan dasar di Indonesia khususnya penyebaran kuruikulum baru. 5. Latar Belakang Penerapan TP di Negara Berkembang Dalam dunia pendidikan masalah yang rata-rata dialami dan harus mendapatkan penyelesaian segera adalah kesempatan belajar mengingat masa depan dan kelanjutan kehidupan bangsa sangal tergantung dari kecerdasan warganya. Dalam usaha pengembangan pendidikan bagi negara berkembang terlihat dan terasa kepincangan serta berbagai masalah. 6. Sumber Belajar di Negara Berkembang Memanfaatkan media televisi untuk mengatasi masalah ketidakseimbangan antara yang memperoleh pendidikan di kota dan di desa. Televisi pendidikan sekolah ini berada langsung dibawah Menteri Pendidikan sedangkan tenaga pengelolanya ahli dibidang paedagogy. 7. Kendala Penerapan TP di Negara Berkembang Kendala yang dihadapi yaitu :  Banyaknya orang yang buta huruf rendahnya produktifitas warganyav mendesaknya kebutuhan pendidikan itu sendiri  Kekurangan baik sarana maupun jumlah guru terlebih guru vans berkualitas tinggi Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 248
  •  dana yang diperlukan terbatas sekali sehingga untuk memperoleh guru yang baik sukar dicapai Tampaknya memanfaatkan media komunikasi merupakan alternatif pemecahan. namun tetap ada berbagai masalah yang timbul yaitu masalah dana dan tenaga yang diperlukan. Dalam hubungan ini bantuan internasional merupakan alternatif yana menjadi pilihan, dimana dana yang besar sangat diperlukan. 8. Sumber Dana Penerapan TP di Negara Berkembang Persoalan biaya bagi negara berkembang merupkan problem tersendiri yang seringkali bahkan merupakan faktor penentu utama untuk dapat tidaknya diterapkan teknologi pendidikan. Ciri teknologi adaiah adanya peralatan dan memerlukan biaya investasi yang mahal. Banyak negara berkembang yang kekurangan guru bermutu. sedangkan guru yang diperlukan untuk mendidik sangat kecil jumlahnya. Belum lagi masalah dana yang harus disediakan untuk pendidikan ini. Salah satu negara berkembang adaiah Indonesia. Indonesia pernah menyediakan dana pendidikan hanya 4% saja. Menurut para ahli anggaran yang paling ideal adaiah 25% dari semua anggararan C. Teknologi Pendidikan di Beberapa Negara Berkembang 1. Myanmar Dibandingkan dengan Laos, Vietnam, Kamboja, Thailand, dan Negara negara lainnya, Miyanmar adalah Negara dengan wilayah daratan terluas (678.000 km2) di Asia Tenggara, setelah Indonesia. Dari segi jumlah penduduknya sekitar 42,5 juta orang Negara ini menduduki urutan kelima (perkiraan Juli 2003) setelah Thailand. Pemerintah percaya bahwa pendidikan akan mampu membawa Miyanmar menjadi bangsa yang maju dan moderen. Visi Departemen Pendidikannya adalah menciptakan system pendidikan yang mampu mewujudkan masyarakat belajar yang siap menjawab tantangan abad pengetahuan. Untuk itu mutu pendidikan dan efesiensi internal maupun eksternal akan ditingkatkan sementara kesempatan belajar akan diperluas. Reformasi pendidikan, yang meliputi berbagai komponen strategis telah pula dilaksanakan. Untuk mempercepat jalannya Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 249
  • reformasi Rencana Khusus Pengembangan Pendidikan telah disiapkan pada tahun 20012002 yang lalu. Salah satu kawasan yang menjadi fokusnya adalah penguasaan teknologi baik ditingkat pendidikan dasar maupun pendidikan tinggi untuk menyiapkan tenaga yang berkemampuan teknologi komunikasi dan informasi yang diperlukan dalam lingkungan kerja berbasis teknologi. Di jenjang pendidikan dasar dari 10 butir rencana yang ada satu berhubungan dengan teknologi komunikasi dan informasi sementara dijenjang perguruan tinggi ada 36 program yang terfokus pada 6 kawasan yaitu pengembangan sumber daya manusia, penggunaan teknologi, penelitian, masyarakat belajar sepanjang hayat, peningkatan mutu pendidikan dan pelestarian nilai-nilai dan identitas nasional. Khusus dalam pendayaagunaan teknologi kegiatan diarahkan pada penciptaan lingkungan akademis yang akan menghadirkan pengetahuan yang dinamis dan mendayagunakan teknologi sesuai dengan perkembangan zaman. Lebih lanjut pendayagunaan teknologi ditempatkan sebagai salah satu dari 6 kawasan utama Rencana Jangka Panjang 30 Tahun Pendidikan mereka (2001/2002 – 2030/2031) untuk meningkatkan pelayanan mampu akses ke pengetahuan bagi seluruh warganya terlepas dari usia, latar belakang pengalaman dan pendidikan mereka. Untuk itu investasi telah dilakukan besar-besaran agar bisa : - mempromosikan teknologi komunikasi dan informasi bukan saja sebagai teknologi pengajaran tetapi juga sebagai teknologi belajar; - meningkatkan keterampilan elektronik dan teknologi komunikasi dan informasi semua warga belajar di perguruan tinggi; dan - mengajarkan teknologi mikro sejak tingkat sarjana muda dan memprioritaskan penelitian yang berkaitan dengannya. Sejak 1 Januari 2001 Miyanmar juga telah merintis e-education untuk menciptakan kesempatan belajar yang lebih luas dan lebih efektif. Visinya adalah untuk membantu penciptaan bangsa yang berkembang, modern dan tentram damai serta membentuk suatu masyarakat belajar yang mampu menjawab tantangan abad pengetahuan. Tujuan umum e-education di Miyanmar adalah untuk :  menciptakan lingkungan akademis yang kaya akan pengetahuan yang dinamis dan mendayagunakan teknologi sesuai dengan perkembangan zaman; Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 250
  •  membantu perubahan status dari tenaga kerja ke tenaga belajar;  mengantarkan Myanmar memasuki masyarakat yang didominasi pengetahuan;  membawa Myanmar ke dalam masyarakat belajar; dan  meningkatkan mutu pendidikan di Myanmar ke taraf internasional. Pada jenjang pendidikan dasar e-education di Myanmar dimaksudkan untuk mengembangkan populasi melek teknologi mulai usia dini dan memfasilitasi proses belajar yang mendayagunakan teknologi. Untuk itu lebih dari 3000 sekolah telah dilengkapi dengan kelas multimedia yang memiliki berbagai peralatan teknologi seperti misalnya TV, Video Cassett players, kaset audio, OHP dan proyektor multimedia, pusatpusat untuk mendengarkan yang dilengkapi dengan kaset dan headphone, laboraturium bahasa interaktif, dan kelas berbantuan computer. Kecuali itu1301 sekolah telah pula dilengkapi fasilitas latihan computer untuk memasyarakatkan melek computer di lingkungan siswa pendidikan dasar. Siswa, orang tua, guru dan masyarakat sekitar kini juga telah memiliki akses kediskusi mata pelajaran dan berbagai informasi pendidikan yang disampaikan lewat pusat belajar education yang ada di 257 pendidikan dasar. Jumlah ini ditambah lagi pada tahun 2002-2003 menjadi 406 buah. Peluncuran education kemudian ditindak lanjuti dengan kegiatan-kegiatan sebagai berikut : Pengembangan system internet, pendidikan yang dapat mengakses internet, pendirian pusat-pusat sumber belajar multimedia (Multi media resauces center) agar memungkinkan pendayagunaan teknologi komunikasi dan informasi bukan saja sebagai teknologi mengajar tetapi juga teknologi belajar; dan pendirian pusat-pusat belajar elektronik (E-Learning centers) yang memanfaatkan teknologi informasi untuk menunjang pendidikan terbuka dan jarak jauh. Sebelum computer memasuki area pendidikan sejak tahun 1953, Myanmar sudah mendayagunakan radio untuk menunjang pendidikan. Departemen audio visual pendidikan didirikan dibawah Direktorat pendidikan pada tahun 1953. Lembaga inilah yang menyiapkan program siaran radio yang kemudian disiarkan oleh Burma Broadcasting Service (BBS). Program radio juga disiarkan BBS untuk menunjang perkuliahan di perguruan tinggi (University Correspondent Course). Pada tahun 1992 dengan berdirinya UDE (University of Distance Education), Divisi Audiovisual pada Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 251
  • UDE bertanggung jawab atas pengadaan program-program radio dan TV, Sementara penyiarannya dilakukan oleh radio dan TV Myanmar. Selain siaran, UDE juga mendistribusikan kopi kaset lewat cabang-cabangnya di 21 universitas setempat. Mereka juga menyiarkan pelajaran lewat radio untuk program BA dan Diploma dalam bidang pendidikan sejak 1981. Jumlah pelajaran lewat radio naik dari 353 di tahun 1992 menjadi 984 per tahun di tahun 2001. Sementara itu pelajaran lewat TV juga bertambah jumlahnya dari 21 program ke 101 program di tahun yang sama. Pada saat ini setiap hari ada pelajaran lewat radio diudarakan selama dua jam dan 10 pelajaran lewat TV disiarkan setiap minggunya. 2. Malaysia Dengan total populasi sebanyak 23,1 juta orang (2003( Malaysia merasakan bahwa pendidikan telah memberikan platform yang kokoh yang memungkinkannya menjadi slah satu Negara yang ekonominya berkembang secara pesat di Asia Timur. Saat ini Malaysia sebagai pusat unggulan akademis regionalserta menjadikan pendidikan sebagai komoditi eksport bermutu tinggi. Untuk itu sudah sejak lama Malaysia mendayagunakan teknologi untuk pendidikannya. Radio dan TV Pendidikan sebagai aplikasi teknologi untuk pendidikan mereka memanfaatkan untuk menunjang pembangunan pendidikan mereka. Di bawah tangung jawab Bagian Teknologi Pendidikan, Departemen Pendidikan Malaysia, sejak 1972 radio dan televisi digunakan untuk menunjang proses belajar mengajar di SD dan SL. Program yang disiarkan untuk Standar I s/d VI meliputi bahasa (Bahasa Melayu, Bahasa Inggris, Bahasa Cina, dan Bahasa Tamil), Agama Islam , Musik, Geigrafi, Sejarah, Kewarganegaraan dan Sastra Melayu. Sejak Januari 2000 program-program tersebut disiarkan melalui Saluran Astro 28 mulai jam 9 pagi hingga jam 5 petang. Dijenjang Perguruan Tinggi radio juga digunakan untuk menunjang bahan belajar cetak pendidikan terbuka dan jarak jauh di University of Science Malaysia (USM) mulai tahun 1979. Tujuannya adalah untuk menjembatani hubungan mahasiswa dan universitas, menunjang proses belajar-mengajar dan memberikan identitas status mahasiswa penuh waktu. Setiap Minggu sore pelajaran diudarakan selama 20-30 menit Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 252
  • dalam bentuk kuliah, tanya jawab atau diskusi. Interaksi dua arah dimungkinkan dengan menggunakan telepon. Dalam decade teakhir abad 20 (1990-2000) pemerintah Malaysia telah menyadari bahwa mereka tak mungkin lagi melaksanakan pembangunan bangsa dan negaranya terisolasi dari perkembangan teknologi dunia. Pendekatan yang berimbang perlu dilakukan untuk mengambil manfaat sebanyak – banyaknya dan mengurangi dampak negative dari globalisasi. Mereka tanggapi tantangan perkembangan teknologi baru, kemajuan ekonomi dan aspirasi social dengan jalan merumuskan kembali focus system pendidikan mereka. Berbagai strategi reformasi, dan penyesuaian kebijakan maupun kelembagaan yang dipandang perlu dilakukan untuk menjawab tantangan persaingan global ini. Sebagi langkah pertama menuju abag informasi dan lingkungan yang global Visi 2020 yang diprakarsai pada tahun 1990-an diluncurkan yang memungkinkan Malaysia melompat menjadi negara industri dan ekonominya berbasis pengetahuan. Malaysia memerlukan sistem pendidikan yang berkelas dunia. Aspirasi ini tertuang dalam Misi Departemen Pendidikan; mengembangkan sistem pendidikan yang bermutu internasional yang akan mewujudkan potensi setiap individu secara maksimal serta memnuhi aspirasi bangsa Malaysia. Menyadari pentingnya teknologi bagi percaturan global Malaysia mengambil langkah-langkah agresif dan terencana baik dalam pemanfaatan teknologi (ICT). Departemen Pendidikan dengan tegas menggariskan bahwa ICT hanyalah alat, bukan tujuan. Semua unit di bawah departemen ini secara aktif terlibat dalam penrapan ICT dalam kebijakan pendidikan. Kerja sama yang baik digalakan antar unit untuk mengembangkan media-media baru untuk memperkaya kurikulum, meningkatkan proses belajar-mengajar yang lebih berorientasi pada siswa, menunjang perbaikan struktur organisasi sekolah yang lebih memberikan wewenang pada tingkat sekolah serta memperkuat hubungan antara sekolah dan masyarakat termasuk kalangan swasta. Kebijakan dalam ICT juga mengarah pada pencapaian tujuan jangka panjang 2020 tersebut. ICT digunakan untuk mengurangi kesenjangan digital antar sekolah, sebagai alat belajar-mengajar dan untuk meningkatkan produktivitas, efektivitas serta efesiensi pengelolaan pendidikan. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 253
  • Untuk mewujudkan misi 2020 tersebut diciptakanlah Multimedia Super Corridor (MSC) yang dimaksudkan untuk menarik perusahaan terkemuka kelas dunia untuk menempatkan industri multimedianya di Malaysia, melakukan penelitian, mengembangkan produk-produk dan teknologi baru serta mengekspornya dari sana. Koridor ini juga diharapkan dapat memberikan lingkungan yang ideal bagi tumbuhnya perusahaan-perusahaan kelas menengah Malaysia dalam bidang multimedia menjadi perusahaan kelas dunia. Kesempatan juga diberikan pada negara-negara lain untuk menggunakan fasilitas yang ada di sana sebagai tempat uji global aplikasi multimedia mereka serta sebagai hub bagi operasi regionalnya di Asia. MSC bukanlah sekadar suatu tanaman teknologi tetapi merupakan wahana transformasi lanscape sosial dan ekonomi Malaysia. Sebagai suatu rencana jangka panjang yang merentang dari 1996 hingga 2020 MSC ditargetkan dalam 3 tahap perkembangan:  Tahap pertama (1996 – 2003) adalah tahap diciptakannya koridor ini.  Tahap kedua (2004 – 2010) dibangunnya koridor serupa ditempat lain di Malaysia serta dihubungkannya MSC dengan koridor tersebut dan dengan cybercities Negara lain. Pada saat ini telah ada dua kota pintar di sana yaitu Putrajaya dan Cyberjaya. Diharapkan pada tahap tersebut kerangka global hukum cyber dapat diharmoniskan dan paling tidak 4-5 kota pintar di Malaysia akan terhubungkan dengan cybercities global.  Pada tahap ketiga (2011-2020) Malaysia akan evolve ke dalam satu MSC dan bangsa tersebut akan berfungsi sebagai tes bed global aplikasi multimedia baru. Pengadilan cyber internasional diharapkan dapat didirikan di Malaysia dan 12 kota pintar di Malaysia akan ternhubungkan dengan global information higway. Walaupun arsitek utama MSC ini adalah pemerintah namun implementasinya pada umumnya dikemudikan oleh sector swasta. Salah satu provider telekomunikasi di MSC adalah Telkom Malaysia, yang merupakan investor utama serta yang membangun jaringan telekomunikasi di sana. Sejalan dengan visi 2020 tersebut ada 6 aplikasi flagship MSC mulai diluncurkan pada tahun 1997; E-government, Multipurpose Card, Telehealt, R & D Custer, e-bussiness dan Smart School. Aplikasi teakhir, Smart School, proyek Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 254
  • rintisannya dimulai pada tahun 1999 untuk mereformasi system sekolah di Malaysia dan mentranspormasikan proses belajarnya dari budaya menghafal dan berorientasi pada ujian ke budaya berfikir, kreatif dan pemecahan masalah. Konsep dasar Smarat School ini dirancang oleh suatu Satgas gabungan antara Departemen Pendidikan dan kalangan industri. Wakil Departemen Pendidikan antara lain adalah Pusat Pengembangan Kurikulum, Bagian Pendidikan Guru, Bagian Teknologi Pendidikan dan Sindikat Pengujian.Tim Pengembangan Smart School juga gabungan antara pendidik dan analis sistem. Sebanyak 90 sekolah telah dipilih sebagai lokasi ristisan awal Smart School. Departemen Pendidikan Malaysia telah melatih 1.720 guru-guru dalam hal metode mengajar di Smart School untuk menjamin keberhasilan proyek ini. Program pelatihan selama 14 minggu dirancang khusus untuk membekali mereka dengan keterampilan teknologi informasi, kemampuan berfikir kritis dan kreatif serta kemampuan mengelola sekolah khusus ini. Pelatihan juga dilakukan untuk para kepala sekolahnya. Menurut rencana 10.000 orang guru akan dilatih yang nantinya diharapkan bisa melatih rekan sekerjanya. Di akhir proyek rintisan ini di tahun 2002 yang lalu, ada 87 sekolah (83 Sekolah Menengah dan 4 Sekolah Dasar) disemua Negara bagian Malaysia telah mengambil bagian aktif dalam program ini dan pada saat yang bersamaan telah dihasilkan sejumlah 1494 judul topic pelajaran Bahasa Melayu, Bahasa Inggris, IPA, Matematika serta system pengelolaan sekolah terpadu, pusat bantuan belajar, Pusat Data, administrasi yang terlatih, guru-guru dan coordinator IT dari semua sekolah rintisan. Tiga sekolah lainnya (satu SD dan dua SL) tidak dapat memenuhi batas waktu kontrak sehingga tidak diikutsertakan dalam kegiatan ini. Keberhasilan proyek ini banyak ditentukan oleh para agen perubahan di berbagai tingkatan: departemen, Negara bagian, dan sekolah. Ditingkat departemen, menteri, Sekretaris Jendral dalam kapasitasnya sebagai ketua Komosi Pengarah Smart School, Direktur Bagian teknologi Pendidikan yang berfungsi sebagai kepala proyek perintisan Smart School dan wakil direkturnya yang menangani pelaksanaannya dari hari kehari. Ditingkat Negara bagian wakil direktur Departemen Pendidikan Negara Bagian bertindak sebagai Ketua Tim Penunjang Strategis Smart School sedang Kepala Pusat Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 255
  • Sumber belajar Negara Bagian bertindak sebagai wakilnya. Di tingkat sekolah kunci perubahan terletak pada kepala sekolah, yang menyusun rencan pengelolaan perubahan sekolah, yang menyusun rencana pengelolaan perubahan jangka pendek maupun panjang dan kegiatan para stakeholder utama di sekolah. Orang tua dan masyarakat melalui BP3 masing-masing sekolah juga aktif dilibatkan dalam mengelola perubahan ini. Untuk menunjang keberhasilan program ini Telekom Malaysia memberikan harga khusus pemanfaatan jasa telekomunikasi kepada sekolah-sekolah dan Departemen Pendidikan. Perusahaan lain, Maxis, bersama Telekom Malaysia memberikan akses Internet dan telepon ke 220 sekolah terpencil dan masyarakat sekitarnya di Sabah dan Serawak. Microsoft juga memberikan harga khusus kepada sekolah dan lembaga pendidikan lainnya. Kecuali Smart School program pendidikan lainnya yang memanfaatkan ICT adalah pengajaran IPA dan matematika dengan menggunakan bahasa Inggris, program komputerisasi sekolah, dan The Universal Service Provision Project yang kesemuanya dimaksud untuk memberikan akses yang sama pada pendidikan yang bermutu bagi setiap anak terlepas dari latar belakang agama, budaya, dan sukunya. 3. Singapura Singapura relative lebih maju dibandingkan dengan Negara lain di Asia Tenggara dalam pendayagunaan teknologi informasi. Dengan 500.000 siswa dan 23.000 guru di 370 sekolah, mereka sadar betul bahwa kesejahteraan bangsa terletak pada kualitas orang-orangnya, komitmen mereka pada Negara dan masyarakat, kemauan mereka untuk berusaha dan tahan banting, kemampuan mereka untuk berfikir, berprestasi dan menang. Masa depan Singapura tergantung upaya mereka memperbaharui dan meregenerasi kepemimpinan dan kewarganegaraan mereka, membangun berdasarkan pengalaman masa lampau, belajar dari lingkungan yang ada dan mempersiapkan generasi yang tangguh dalam menjawab tantangan masa depan. Generasi yang akan datang tergantung pada bagaimana anak-anak dibesarkan di rumah dan dididik di sekolah. Oleh karena itu Singapura menaruh perhatian yang amat serius pada pendidikan. Mereka yakin betul bahwa kini tidak lagi cukup membekali anak-anak Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 256
  • dengan solusi-solusi lama yang telah ada selama ini tetapi haruslah dengan pengetahuan dan kemampuan serta nilai-nilai yang memungkinkan mereka memecahkan masalah yang akan mereka hadapi di masa mendatang. Misi Departemen Pendidikan Singapura adalah menciptakan masa depan bangsa karena dengan membentuk manusia yang akan menentukan masa depan bangsanya. Departemen Pendidikan memberikan pendidikan yang berimbang dan paripurna, mengembangkan setiap anak dan individu ke potensi mereka yang maksimal dan membimbing mereka menjadi warga negara yang baik, sadar akan tanggung jawab mereka kepada keluarga, masyarakat, dan negaranya. Karena mereka yakin betul bahwa kemampuan berpikir kreatif dan kemampuan belajar amatlah penting bagi masa depan maka visi pendidikan di Singapura adalah Thinking School, Learning Nation.Visi ini, yang secara resmi diberlakukan pada tahun 1997, diyakini akan membawa Singapura menjadi bangsa yang berfikir dan memiliki warga negara yang siap serta mampu memberikan kontribusi bagi perkembangan dan kesejahteraan Singapura. Untuk teknologi komunikasi dan informasi, dengan penekanan pada computer, tidak lagi pada radio dan TV, digunakan secara luas untuk mengembangkan kemampuan komunikasi dan belajar mandiri. Program-program berbasis computer telah digunakan di sekolah untuk mempersiapkan siswa-siswa menghadapi tantangan abad 21. Rencana induk pendayagunaan teknologi informasi di pendidikan telah mereka susun. Rencana ini merupakan cetak biru bagi pemanfaatan teknologi informasi di sekolah-sekolah dan memberikan akses ke lingkungan sekolah yang diperkaya dengan teknologi informasi kepada setiap anak. Teknologi informasi digunakan untuk membekali generasi muda dengan kemampuan berkomunikasi yang diyakini sangat strategis dalam menyiapkan tenaga kerja yang unggul untuk masa depan. Tujuan rencana induk tersebut adalah untuk: - meningkatkan hubungan antara sekolah dengan dunia sekitar. Guru dan murid bisa berkomunikasi dan berkolaborasi dengan lembaga lain sehingga memungkinkan mereka untuk memperluas perspektif di lingkungan yang semakin global ini; Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 257
  •  melahirkan kegiatan-kegiatan yang inovatif di pendidikan. Strategi belajar-mengajar yang baru akan membuka kemungkinan baru bagi kurikulum dan penilaiannya. Sekolah-sekolah memiliki kebebasan untuk memanfaatkan sumber-sumber berbasis teknologi informasi;  meningkatkan berfikir kreatif, belajar sepanjang hayat dan tanggung jawab sosial. Strategi belajar yang menggunakan teknologi informasi akan membantu mengembangkan kemampuan setiap anak untuk berfikir secara inovatif dan luwes, untuk bekerja sama satu sama lain dan untuk membuat keputusan yang bisa diterima akal sehat; dan  untuk meningkatkan efisien serta efektivitas pengelolaan pendidikan. Untuk mencapai semua tujuan tersebut di atas empat strategi berikut ini ditempuh oleh Singapura;  Pada dimensi kurikulum dan penilaian, mereka upayakan perimbangan antara perolehan pengetahuan faktual, penguasaan konsep dan keterampilan. Setiap anak diarahkan untuk aktif dan mampu belajar mandiri, sementara penilaian juga akan mengukur kemampuan siswa dalam mendapatkan informasi, berfikir dan berkomunikasi;  Pengembangan perangkat lunak pendidikan digalakkan untuk memenuhi tuntutan kurikulum, pemanfaatan sumber belajar Internet dalam belajar mengajar dipermudahan, sementara pengadaan perangkat lunak pendidikan bagi sekolah diperlancar dan diusahakan sampai ke sekolah tepat waktu;  Dari segi gurunya, setiap guru dilatih dalam memanfaatkan teknologi informasi. Guru-guru inti yang akan melatih guru lainnya dibekali dengan kemampuan dasar pendayagunaan teknologi informasi di kelas dan tak lupa melibatkan perguruan tinggi serta kalangan industri sebagai partner;  Infrastruktur teknologi dan fisik secara terus-menerus mereka tingkatkan sehingga mampu memberikan rasio siswa; komputer menjadi 2 : 1, memberikan akses ke teknologi informasi untuk menunjang semua pelajaran di sekolah, mengusahakan rasio guru; komputer juga 2 : 1, dan menghubungkan semua sekolah lewat Wide Area Network (WAN) serta memberikan layanan multi-media berkecepatan tinggi. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 258
  • 4. Vietnam Pemerintah Vietnam telah bertekad untuk mencapai tujuan jangka panjangnya, mewujudkan Vietnam sebagai Negara industri pada tahun 2020. Untuk itu pendidikan dan pelatihan menjadi prioritas utama dalam agenda nasional mereka karena diyakini bahwa pendidikan dan pelatihan di samping ilmu dan teknologi merupakan faktor kunci pembangunan ekonomi dan masyarakat Vietnam. Dengan jumlah penduduk sebanyak 81,6 juta orang, selama ini disadari bahwa mutu dan kesempatan belajar merupakan salah satu masalah utama pendidikan di sana. Secara bertahap tingkat pendidikan warga masyarakatnya akan ditingkatkan dengan target sasaran wajib belajar SD tuntas pada tahun 2000, SLTP pada tahun 2010 dan SLTA pada 2020. Untuk itu salah satu upaya yang mereka lakukan adalah mendayagunakan teknologi untuk pendidikan, mulai dari radio, TV, hingga komputer dan internet. Dari 4 saluran TV yang ada, saluran kedua (VTV2) yang disiarkan melalui satelit Thai (Thaicom) digunakan untuk pendidikan. Walaupun Radio Nasional Vietnam didirikan pada tahun 1945 namun pendayagunaannya untuk pendidikan khususnya pendidikan jarak jauh baru dimulai tahun 1960. Sejak berdirinya Universitas Terbuka Hanoi dan Ho Chi Minh pada tahun 1993 pendayagunaan radio dan TV untuk pendidikan semakin meningkat walaupun media cetak masih tetap menjadi media utama penyampaian materi pelajaran. Ada dua macam program yang disiarkan: program tanpa gelar, seperti ekonomi, bahasa asing, pertanian bahasa Vietnam, turisme, dan lain-lain; dan program gelar seperti misalnya businnesmanagement, akuntansi, bahasa asing, dancomputing. Sampai saat ini lebih dari 6000 program dengan masa putar @ 20 menit telah diproduksi dan disiarkan. Kecuali kedua perguruan tinggi tersebut perguruan tinggi lain juga yang menawarkan kuliah jarak jauh lewat TV untuk mata pelajaran tertentu seperti misalnya pelajaran bahasa asing. Vietnam juga telah memiliki Action Plan Pemanfaatan Teknologi Komunikasi dan informasi untuk periode 2001-2005. Rencana ini terfokus pada pengintegrasian teknologi komunikasi dan informasi ke dalam proses belajar-mengajar di sekolah sejak jenjang SD hingga Sekolah Lanjutan. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 259
  • Lembaga yang menangani pendayagunaan teknologi komunikasi dan informasi di Vietnam adalah Pusat Teknologi Informasi (Center for Information Technologi) di bawah Departemen Pendidikan dan Pelatihan (Ministry of Education and Training). Tugas pokoknya adalah untuk mengembangkan teknologi pendidikan di tingkat nasional, memimpin proyek jaringan pendidikan nasional dan bekerja sama dengan semua unit di Departemen Pendidikan dan Pelatihan khususnya berkaitan dengan teknologi komunikasi dan informasi. Kerangka pembangunan masyarakat dan ekonomi Vietnam memberikan peranan strategis pada teknologi komunikasi dan informasi (ICT) dalam mempercepat peralihan Vietnam menjadi masyarakat berbasis pengetahuan dan mengantarkan negeri ini memasuki ekonomi global. Beberapa kebijakan strategis telah diambil sejak beberapa tahun terakhir ini untuk mencapai target dan tujuan teknologi komunikasi dan informasi selama periode 2001-2010. Arah Kebijakan (Policy Directive)nomor 58 adalah salah satu dokumen penting yang dikeluarkan oleh Partai Komunis Vietnam (CVP) bulan Oktober 2000 yang lalu. Dokumen ini memberikan rujukan kebijakan resmi pemerintah untuk merencanakan dan melaksanakan program-program yang mengarah pada pencapaian tujuan pengembangan dan penggunaan teknologi komunikasi dan informasi berikut;  menciptakan lingkungan yang memungkinkan penggunaan dan pengembangan teknologi komunikasi dan informasi untuk menunjang modernisasi;  menjamin digunakannya secara meluas dan efisien teknologi komunikasi dan informasi di semua sektor;  mengembangkan jaringan informasi nasional untuk mencapai tingkatan global baik dalam hal cakupan, mutu maupun biaya;  mengembangkan sumber daya manusia untuk menunjang pengembangan dan penggunaan teknologi komunikasi dan informasi; serta  mengembangkan industri teknologi komunikasi dan informasi sebagai ujung tombak sektor ekonomi yang dapat memberikan kontribusi pada pertumbuhan GDP. Untuk melaksanakan arahan tersebut sejumlah keputusan pemerintah telah dikeluarkan, termasuk pembentukkan Komisi Pengarah Teknologi Komunikasi dan Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 260
  • Informasi Antar Departemen yang bertugas mengembangkan Rencana Induk Teknologi Komunikasi dan Informasi Nasional (2001-2005) di atas. Kecuali itu pemerintah telah pula menetapkan terget teknologi komunikasi dan informasi untuk 2005 yang terdiri dari 4 kawasan program pemerintah yang menitik beratkan pada industri teknologi informasi sebagai berikut; - pengembangan sumber daya manusia teknologi informasi; - pengembangan industri perangkat lunak; dan - pengembangan industri perangkat keras. Di tingkat departemen dan provinsi Rencana Kerja pengembangan teknologi komunikasi dan informasi juga telah dirumuskan seperti misalnya Rencana Induk IT untuk e-commerce (Departemen Perdagangan), Rencana Induk IT untuk Pendidikan dan Pelatihan (Departemen Pendidikan dan Pelatihan), Rencana Induk Telekomunikasi (Departemen Science dan Telekomunikasi) dan Rencana Induk untuk Pertanian dan Pembangunan Pedesaan (Departemen Pertanian dan Pembangunan Masyarakat Desa). Untuk menggalakan sector IT yang relative masih muda ini di Vietnam, pemerintah memberikan dukungan kuat, disamping landasan-landasan legal pengembangan dan pendayagunaan teknologi komunikasi dan informasi juga memberikan insentif pajak serta subsidi pada perusahaan-perusahaan IT serta industri perangkat lunak. Taman-taman IT dan perangkat lunak dibangun di mana-mana di seluruh negeri. Sumber daya manusia juga disadari amat penting dalam pengembangan dan pendayagunaan teknologi komunikasi dan informasi. Reformasi pendidikan menargetkan kapasitas teknologi informasi sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi sampai tahun 2005. Menyadari mutu pendidikan dan pelatihan belum mampu memenuhi tuntutan perkembangan sosial ekonomi yang ada pemerintah akan meningkatkan infrastruktur Internet termasuk pemberian akses ke seluruh perguruan tinggi dan 70% dari Sekolah Lanjutan pada tahun 2005. Departemen Pendidikan dan Pelatihan memandang penggunaan IT sebagai alat belajar-mengajar yang mampu memberikan kemampuan berfikir inovatif, memecahkan masalah secara mandiri, mencari serta memproses informasi dalam rangka perwujudan belajar sepanjang hayat bagi semua. Untuk itu Rencana Induk Departemen Pendidikan Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 261
  • dan Pelatihan telah menggariskan penyempurnaan kurikulum dan metode mengajar, pengembangan infrastruktur dan jaringan komputer serta pengembangan materi lokal untuk menunjang pengembangan sistem pendidikan. Vietnam memiliki 20.000 lembaga pendidikan, 10.000 SD, 5000 SLTP, 1500 SLTA di Vietnam dengan jumlah siswa sekitar 22 juta orang. Pada saat ini ada 20.000 lulusan perguruan tinggi dalam bidang IT sementara itu setiap tahunnya dihasilkan 2500 lulusan dari 20 perguruan tinnggi jurusan IT di negeri ini. Namun jumlah tersebut ternyata masih di bawah target pemerintah yang mengharapkan bahwa pada tahun 2005 mereka memiliki 50.000 tenaga professional IT. 5. Filipina Pendidikan telah sejak lama dipandang sebagai unsur kunci pembangunan bangsa dan Negara di Filipina, karena akan menghasilkan tenaga kerja yang mampu berpikir dan terampil yang akan memberikan kontribusi pada pertumbuhan ekonomi negaranya. Oleh karena itu, Undang-undang di Filipina mewajibkan Negara untuk melindungi dan memasyarakatkan hak semua warga negara untuk memperoleh pendidikan yang bermutu pada semua jenjang dan jalur dan harus mengambil langkahlangkah yang tepat untuk membuat pendidikan pendidikan dapat terjangkau oleh semua individu. Dengan jumlah penduduk sebanyak 84,6 juta orang (juli 2003) mutu pendidikan dan perluasan kesempatan belajar adalah salah satu tantangan utama pembangunan pendidikan di sana. Untuk itu tidak ketinggalan pula teknologi pendidikan juga dimanfaatkan di Filipina. Negara tetangga yang satu ini mulai memanfaatkan radio untuk pendidikan tahun 1959 walaupun siaran radio telah ada sejak 1922. Namun siaran yang ditangani bersama oleh Philippine Broadcasing Service bersama Biro Sekolah Negeri (Bureau of Public Schools) ini tidak bertahan lama. Sebenarnya dalam skala kecil siaran pendidikan untuk petani sudah dimulai pada tahun 1952 di provinsi Iloilo, dengan nama Farmer’s School on the Air.Setelah diadopsi oleh National Collage Industries Development Authoritypada tahun 1963 program ini disiarkan secara nasional dari Manila. Pada tahun 1967 University of the Philippines Los Banos (UPLB) memulai eksperimen siaran radio untuk Schools on the Air. Program ini berjalan hingga tahun Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 262
  • 1980-an. Antara tahun 1967 hingga 1990 Radio DZLb, statsiun siaran radio pendidikan pedesaan UPLB menyelenggarakan paling tidak 28 School on the Air dalam berbagai topic dalam mata pelajaran pertanian dan kesehatan. Tujuan umum pendidikan di semua jenjang di Filipina mengarah pada pengemabangan kemampuan berpikir tingkat tinggi (abstraksi, perencanaan, berfikir kritis dan pemecahan masalah). Untuk itu kebijakan penggunaan teknologi dalam pendidikan menggariskan bahwa teknologi komunikasi dan informasi akan digunakan sebagai alat perantara (mediating tool) dalam pendidikan untuk memungkinkan siswa terlibat dalam kegiatan berfikir tingkat tinggi. Walaupun tidak ada satu unit khusus yang ditugasi menangani pendayagunaan teknologi untuk pendidikan, berbagai proyek pendayagunaan teknologi untuk pendidikan dilaksanakan. Salah satunya adalah apa yang mereka sebut Ekswela ng Bayan (Strong Republic Schools)di mana bermacam teknologi mulai dari cetak, rekaman video, televise kabel dan Internet digunakan untuk meningkatkan pelajaran Bahasa Inggris, Bahasa Filipina, Matematika, dan IPA di sekolah Dasar. Sejumlah 8.000 guru dan 200.000 siswa telah memetik manfaat dari program ini dan menurut rencana akan disebarluaskan ke pendidikan luar sekolah. Kerja sama antar departemen juga dilakukan di Filipina untuk menggalakan teknologi di pendidikan. Departemen Perdagangan dan Industri, misalnya telah menjalin kerja sama dengan Departemen Pendidikan dalam proyek komputerisasi yang mereka sebut PCs for Public School. Selama tahun 2001-2003 lalu Departemen Perdagangan dan Industri mendapatkan bantuan sebesar US $ 12 juta dari Pemerintah Jepang untuk melengkapi 1.000 sekolah negeri dengan masing-masing sekolah 20 perangkat komputer. Menurut rencana pada tahun 2004-2005 ini peralatan serupa juga diberikan ke 1.000 sekolah lainnya. Departemen Pendidikan bertanggung jawab atas pemilihan sekolah, mensupervisi pemasangan peralatan tersebut di sekolah dan menciptakan mekanisme monitoring serta evaluasi pendayagunaannya. Kerja sama serupa di tingkat provinsi sekolah juga dilakukan antara Departemen Pendidikan dan Departemen Science dan Teknologi. Fungsi kebijakkan dan religius dilakukan bersama oleh Departemen Transportasi dan Komunikasi serta Komisi Telekomunikasi Nasional. Tanggung jawab dalam Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 263
  • pembuatan kebijakan dan koordinasi Rencana dan Kegiatan ICT Nasional dilakukan oleh Information Technologi and Electronic Commerce Council, suatu lembaga gabungan pemerintah – swasta yang dibentuk tahun 2000, langsung dipimpin oleh presiden. Untuk menarik minat sektor swasta dalam menyukseskan pendayagunaan teknologi untuk pendidikan Filipina memiliki kebijakan pemberian keringanan pajak bagi pihak swasta yang menyumbang fasilitas teknologi komunikasi dan informasi ke sekolah negeri (Adopt-a-School Act, 1998). Menyadari pentingnya sumber daya manusia dalam pendayagunaan teknologi ini, Departemen Pendidikan Filipina telah melaksanakan berbagai program pelatihan bagi tenaga pendidiknya. Dari sekitar 4,500 Sekolah Lanjutan Negeri 986 sekolah telah mendaptakn pelatihan. Sampai akhir 2003 lalu 56,4% sekolah Lanjutan Negeri telah memiliki paling tidak satu komputer. Diperkirakan pada akhir 2005 nanti 75% sekolah Negeri akan memiliki komputer. Bila sasaran ini tercapai perhatian akan dialihkan ke Sekolah Dasar. Sementara itu hampir semua lembaga pendidikan dan pelatihan guru telah memasukan pelajaran tentang komputer dalam kurikulum mereka sebagai salah satu persyaratan kelulusan. 6. Brunei Darussalam Brunei, sebagai negara terkecil dalam jumlah penduduknya tak ketinggalan pula dalam mendayagunakan teknologi untuk pendidikan. Dengan populasi sekitar 358.098 (perkiraan 2003), 123 SD Negeri, 26 SLTP dan 70 sekolah swasta seluruh wilayah Brunei dapat dijangkau dengan alat transportasi air, darat maupun udara. Televisi digunakan untuk membantu peningkatan proses belajar-mengajar. Pemerintah telah menggariskan kebijakannya untuk memberikan pendidikan yang bermutu untuk seluruh warga negaranya. Tantangan yang dihadapi Pemerintah Brunei adalah bagaimana menghasilkan orang Brunei yang dapat berperan dalam kehidupan masyarakat yang makin berorientasi pada teknologi canggih tanpa kehilangan identitas Melayu dan Islamnya. Wajib belajar 12 tahun telah lama diberlakukan, sementara pendidikan mulai dari usia 5 tahun hingga PT untuk semua warga negaranya tidak dipungut biaya sama sekali karena semuanya ditanggung oleh negara. Pada tahun 1978 pelajaran Bahasa Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 264
  • Inggris dan IPA mulai diudarakan ke 57 SD rintisan. Pemanfaatan TV untuk pendidikan dimaksudkan untuk memperluas dan meningkatkan cakupan pelajaran dan membuat proses belajar-mengajar lebih menarik serta memperluas pengalaman siswa dengan pendengaran dan penglihatan. Mata pelajaran yang disampaikan lewat TV pendidikan mereka adalah Bahasa Inggris, IPA, prasekolah, Seni dan Kerajinan, Berhitung dan pengetahuan umum. Departemen Pendidikan bertanggung jawab atas penyediaan perangkat TV, generator dan bahan bakar untuk semua SD, sementara Departemen Radio dan TV Brunei bertanggung jawab atas aspek teknisnya seperti misalnya penyiaran program. Pada tahun 1985 peranan TV Pendidikan diperluas dan diberi nama baru Education Media and Resource Unit. Unit ini terus memproduksi programprogram pendidikan untuk SD dan SLTP dalam bentuk tapemaupun siaran. Guru dapat meminjam atau mengopinya. Brunei juga memiliki program radio untuk sekolah (School to School) yang memberikan kesempatan pada siswa-siswa untuk memamerkan karya-karya kreatif mereka dalam bahasa Inggris, seperti misalnya puisi, kajian buku, Film atau drama. Pada tahun 1999 Pemerintah Brunei mengambil prakarsa dalam mengintegrasikan pendayagunaan ICT dalam berbagai pelajaran terutama untuk membuat jenjang SD melek komputer melalui Project ICT for Government Primery School. Dari 8 kebijakan pendidikan, pendayagunaan teknologi komunikasi dan informasi pendidikan digarisbawahi untuk memungkinkan siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang relevan dan perlu dalam menghadapi dunia kerja yang terus-menerus berubah. Departemen Teknologi Komunikasi dan Informasi dibentuk di bawah Kementrian Pendidikan dengan tugas utama melaksanakan kebijakan dan proyek-proyek Kementrian Teknologi Komunikasi dan Informasi dan bertindak sebagai focal popint untuk segala masalah yang berkaitan dengan ICT pada jenjang nasional regional maupun internasional. Unit ini juga bertanggung jawab untuk mengembangkan pendayagunaan ICT di sekolah di seluruh negara Brunei Darussalam. Pada tahap pertama sebanyak 50 SD terpilih untuk berperan serta dalam proyek ini. Masing-masing sekolah mendapatkan laboratorium komputer yang dilengkapi dengan 13 PCs yang terhubungkan satu sama lain, printer warna, headphones, Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 265
  • micriphones, dan Pengintegrasian ICT ke dalam kurikulum SD juga diberikan pada 100 orang gurunya, dua orang guru dari masing-masing sekolah. Tahap kedua dimulai pada tahun 2001 dengan melibatkan 72 SD Negeri dan 26 SLTP. Masing-masing SD menerima 20 PC multimedia sedangkan SLTP-nya menerima 33 perangkat fasilitas serupa. Pelatihan juga diberikan pada 146 guru SD Negeri dan semua guru serta Kepala Sekolah Lanjutan yang terlibat dalam proyek tersebut. Pada tahun 2002 Departemen ICT memulai proyek Internet for Scoolsyang terdiri dari 5 subproyek berikut :  Internet Connectivity & Accessibility for Secondary & Primary Scools & Ministry of Education;  Computer Hardware & Software for Secondary & Primery Schools,  Computer Hardware & Software for ICT Services & Resource Centers in Ministry of Education;  Network Infrastructure for Resource Center in Ministry of Education;  Site Preporation for Resource Center in Ministry of Education. Berbagai inisiatif serupa yang dimaksudkan untuk memasyarakatkan ICT dalam pendidikan terus dilakukan oleh Departemen Pendidikan Brunei bekerja sama dengan Departemen ICT dan lembaga terkait. 1. Perkembangan Teknologi Pendidikan di Negara Berkembang Menurut analisa G. Pracharopoulus Negara berkembang investasi dalam sumber daya manusiawi mempunyai nilai ekonomisyang lebih tinggi dari investasi dalam bidang fisik, sena dalam bidang pendidikan berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi. Dean Jamison membuat analisa pendidikan di Indonesia yang satu kesimpulan yaitu : a. Untuk mempertahankan angka partisipasi pendidikan dasar pada taraf yang tetap belanja pendidikan harus dilipat duakan pada tahun berikutnya. b. Angka partisipasi akan turun menjadi 15% bila pertambahan belanja pendidikan sama dengan kenaikan ongkos nyata. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 266
  • A. Peranan dan Kecendrungan Teknologi Pendidikan Teknologi pendidikan dapat dikatakan sebagai alternatif pemecahan berbagai masalah pendidikan. Suatu komisi yang dibentuk oleh AECT memmuskan TP sebagai suatu bidang yang berkepentingan dengan kegiatan manusia yang secara sistematis mengidentifikasi,mengembangkan. mengorganisasikan segala macam sumber belajar. termasuk pengelolaan. Aplikasi teknologi pendidikan dapat diamati dengan : a. adanya system peralatan untuk menyajikan informasi b. terintegrasinya system peralatan tersebut sebagai suatu sub system dalam system pendidikan c. dilaksanakannya salah satu kegiatan seperti : 1) Perubahan fisik dan tempat belajar 2) Hubungan guru dan murid yang tidak langsung 3) Aktifitas anak didik yang relative bebas dari control guru 4) Perubahan peranan dan kecakapan guru 5) Jumlah, macam dan komposisi biaya yang berbeda. dipakai dalam kelompok baik kecil maupun besar, seperti proyektor film, overhead, kaset. pita. Dll 6) dipakai secara individual seperti mesin belajar. computer dan teks pengajaran individual. Lima kecendrungan dari segi penggunaan yaitu : 1) meningkatkan mutu pendidikan 2) melatih/menatar guru 3) memperluasjangkauan sekolah Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 267
  • 4) pendidikan dasar dan buta huruf 5) pendidikan orang dewasa dan pembangunan masyarakat B. Proses Pengembangan Proses pengembangan dapat dianalisis kedalam 3 kelompok : perencanaan.pelaksanaan. dan penilaian. Perencanaan merupakan proses permulaan sebelum adanya keputusan kebijakan. Pelaksanaan kegiatan pengembangan merupakan lanjut perubahan peranan dan kecakapan guru an dari perencanaan,dimana dalam pelaksanaan ini bertujuan untuk menjalanka.n apa-apa yang sebelumnya telah direncanakan Peniaian merupakan kegiatan mengevaluasi apa yang telah dilaksanakan,apakah sudah maxsimal atau sama sekali tidak berpengaruh terhadap suatu kegiatan 1. Perkembangan Teknologi Pendidikan di Negara Maju Pemanfaatan siaran radio pendidikan meluas sampai ke daerah daerah terpencil yang jauh dari lokasi sekolah.medi pembelajarn tidak hanya radio pendidikan,ttetapi juga menggunakan televise pendidikan,dimana yang pada mulanya itu hanya di gunakan untuk hiburan,tetapi karena kemajuan teknologi dan kemampuan berfikir yang cepat,maka mereka menjadikannya sebagai mebia untuk pembelajaran. Perbedan Tujuan Penerapan Teknologi Pendidikan di Negara Maju dan Berkembang A. Tujuan penerapan teknologi pendidikan di Negara maju Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 268
  • Di Australia dan new Zealand pemanfaatan siaran radio untuk pendidikan telah meluas sampai daerah terpencil. Di jepang media pembelajaran yang dgunakan adalah tv dan alay komunikasi lainnya. Pada mulanya hanya untuk hiburan dan alat-alat panyampaian pesan penerapan dan kemudian para ahli melihat media ini untuk dimanfaatkan untuk pendidikan. B. Tujuan penerapan teknologi pendidikan di Negara berkembang Diniger memanfaatkan media teknologi komunikasi dalam system pendidikan nasional. Pada tahun 1964 siaran televise pendidikan dikembangkan, sasaran umatnya adalah para guru sekolah dasar. Sasaran lain yang harus cepat terselesaikan di niger adalah pemberantas buta huruf. Perbedaan Kegiatan Penerapan Teknologi Pendidikan di Negara Maju dan Berkembang 1. Kegiatan penerapan TP di Negara maju Kegiatan penerapan TP di Negara maju dalam pembelajaran biasa dan tumbuh serta berkembang antara lain: a. Kegiatan pemanfaatan TP secara massa Teknologi pada Negara maju telah digunakan oleh semua orang, dari masyarakat kecil, kalangan pejabat dan petinggi Negara dan yang paling utama tentu digunakan oleh para pelajar dan berbagai ahli. Contoh teknologi yang dimanfaatkan adalah internet yang mereka gunakan sesuai dengan profesi yang mereka miliki. b. Kegiatan kelompok belajar Disini kelompok belajar ini dimanfaatkan untuk menunjang pembelajaran dan disinilah para pelajar bisa bertukar pikiran dan menyelesaikan suatu persoalan dengan jalan bersama untuk memperoleh hasil yang maksimal. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 269
  • c. Kegiatan belajar individual Kegiatan seperti ini mungkin lebih efektif dilakukan oleh kalangan tertentu, karena dengan belajar secara individual mereka dapat mengembangkan potendi yang terdapat didalam dirinya. Kegiaatanya biasanya menggunakan berbagai media seperti mesin belajar, computer dan teks pengajaran individual terprogram. Hampir semua sekolah di Negara maju sudah dilengkapi dan memanfaatkan berbagai media elektronik dan fotografi. Di Australia dan New Zealand untuk melayani peserta didik yang jauh terpencil yang tidak ada sekolah terdekat dari pemukimannya, mereka dapat mengikuti pelajaran melalui siaran radio sekolah dari tempat masing-masing pada jam siaran. Sedangkan di Inggris mengembangkan siaran radio untuk pendidikan tinggi guna melayani mahasiswa yang tersebar di seluruh Inggris. 2. Kegiatan penerapan TP di Negara berkembang dalam usaha : a. meningkatkan mutu pembelajaran Di Negara berkembang diperlukan perubahan pola belajar dan perubahan karakteristik guru serta media pembelajaran yang lebih menunjang pembelajaran agar lebih efektif dan efisien. b. melatih guru Diperlukan tenaga yang profesinal agar mutu pendidikan dapat meningkat. Uapaya yang dilakukan seperti memberikan pelatihan kepada guru dalam memberikan materi pelajaran baik dalam bentuk perbaharuan materi yang dapat diambil dari internet yang sebelumnya hanya menggunakan pedoman buku saja. Dan juga dibutuhkan media pembelajaran yang meransang minat siswa untuk belajar. c. memperluas jangkauan sekolah Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 270
  • sekolah-sekolah berada di daerah tertentu membutuhkan perubahan yang lebih baik dari sebelumnya, yang pada awalnya informasi didapatkan hanya dengan melalui surat kabar atau pemberitahuan di televise. Untuk mengatasi hal ini sebaiknya diadakan seminar dan penyuluhan untuk memanfaatkan teknologi elektronik agar bisa mendapatkan informasi yang lebih up to date. d. pembelajaran pendidikan dasar dan buta huruf pendidikan dilakukan untuk memberantas buta huruf yang masih banyak dijumpai di Negara berkembang, hal ini dilakukan agar tercapai pendidikan yang merata disetiap warga. Dan dengan modal bisa membaca tersebut mereka dapat memperolah informasi yang lebih dari sebelumnya yang pada akhirnya bisa menggunakan teknologi. e. kegiatan pendidikan orang dewasa dan pembangunan masyarakat Tidak semua Negara berkembang memiliki media yang sama dalam menunjang system pendidikan. . Perbedaan Sasaran Penerapan Teknologi Pcndidikan di Ncgara Maju dan Negara Berkembang 1. Sasaran penerapan TP di negara maju Di negara maju pemanfaatan media komunikasi dapat mencapai sasaran anak/mahasiswa tidak hanya dalam kelas tapi juga terdapat pada beberapa kelas. Sasaran TP di negara maju adalah siswa&mahasiswa. 2 .Sasaran penerapan TP dinegara berkembang Pada Negaraberkembang sasaran teknologi pendidikan masih mengutaman pendidik.karena kebanyakan para pendidik di Negara berkenbang belum propesiaonal dalam pembelajaran menggunakan media.contoh: Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 271
  • a. Niger sasarannya guru-guru sekolah dasar dan masyarakat b. Pandaigading sasarannya karyawan menengah berbagai perusahaan c. Aljazir sasarannya guru dan calon guru d. Kolombia sasarannya anak-anak SD e. Peru sasarannya anak-anak TK dan calon pekerja tamatan SD f. Muanghtai sasarannya murit SD kelas 3-5 g. Hondurus sasarannya masyrakat dan anak-anak usia sekolah Perbedaan Pengelolaan Teknologi Pendidikan di Negara Maju dan Negara Berkembang 1. Pengelolaan TP di negara maju Dirumuskan suatu system yang cukup ambisius yaitu dalam waktu yang singkat harus dapat diperluas usaha pembaharuan pendidikan dengan meningkatkan mutu.alternatif yang dikembangkan dan yang dipilih mempunyai kaitan langsung juga prioritas program yaitu industrialisasi. 2. Suatu tem study mengajukan alternatif dipakainya media radio untuk pendidikan dasar di Indonesia khususnya penyebaran kuruikulum baru. Perbedaan latar belakang penerapan Teknologi Pendidikan di negara maju dan negara berkembang 1. Latar belakang Pengelolaan TP dinegara berkembang Dalam dunia pendidikan masalah yang rata-rata dialami dan harus mendapatkan penyelesaian segera adalah kesempatan belajar mengingat masa depan dan kelanjutan kehidupan bangsa sangal tergantung dari kecerdasan warganya. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 272
  • Dalam usaha pengembangan pendidikan bagi negara berkembang terlihat dan terasa kepincangan serta berbagai masalah. 2. Latar belakang penerapan TP di negara maju Media komunikasi pada mulanya adalah alat hiburan dan alat penyampaian pcsan-pesan penerangan. Kemudian para ahli melihat potensi yang ada pada media ini untuk dimanfaakan bagi pendidikan. Perbedaan penerapan sumber belajar di negara maju dan berkembang 1. Sumber belajar di negara maju Penyampaian kuliah secara massal melalui pemancar adalah biasa dan tumbuh serta berkembang dengan baik. Siaran radio untuk pendidikan tinggi dan siaran televisi sebagai media pembelajaran. 2. Sumber belajar di negara berkembang Memanfaatkan media televisi untuk mengatasi masalah ketidakseimbangan antara yang memperoleh pendidikan di kota dan di desa. Televisi pendidikan sekolah ini berada langsung dibawah Menteri Pendidikan sedangkan tenaga pengelolanya ahli dibidang paedagogy. Perbedaan kendala penerapan Teknologi Pendidikan di negara maju danberkembang 1. Kendala di negara berkembang Kendala yang dihadapi yaitu :  Banyaknya orang yang buta huruf rendahnya produktifitas warganya mendesaknya kebutuhan pendidikan itu sendiri  Kekurangan baik sarana maupun jumlah guru terlebih guru yang berkualitas tinggi  dana yang diperlukan terbatas sekali sehingga untuk memperoleh guru yang baik sukar dicapai Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 273
  • Tampaknya memanfaatkan media komunikasi merupakan alternatif pemecahan. namun tetap ada berbagai masalah yang timbul yaitu masalah dana dan tenaga yang diperlukan. Dalam hubungan ini bantuan internasional merupakan alternatif yana menjadi pilihan, dimana dana yang besar sangat diperlukan. 2. Kendala penerapan TP di negara maju Di negara maju jika ada masalah yang timbul mereka akan melakukan penelitian serta perbandingan dengan masing-masing pesan yangdisampaikan sendiri. Terhadap kekurangan dan kesalahan yang terjadi selalu diadakan perbaikan. Sumber Dana Penerapan Teknologi Pendidikan di Negara Maju dan Berkembang 1. Sumber dana pendidikan di negara maju Penyampaian pembelajaran atau kuliah secara massal melalui pemancar adaiah biasa dan berkembang dengan baik. Hampir semua sekolah dinegara maju dilengkapi media pembelajaran elektronika dan fotografi. Untuk terus meningkatkan mutu pendidikan di negara maju memang memerlukan dana yang tidak sedikit. Sumber dana yang didapat dalam meningkatkan mutu pendidikan ini merupakan anggaran belanja di negara masing-masing. Dan ditambah dengan dana-dana lainnya, baik berasal dari dalam maupun luar negri. 2. Sumber dana pendidikan di negara berkembang Persoalan biaya bagi negara berkembang merupkan problem tersendiri yang seringkali bahkan merupakan faktor penentu utama untuk dapat tidaknya diterapkan teknologi pendidikan. Ciri teknologi adaiah adanya peralatan dan memerlukan biaya investasi yang mahal. Banyak negara berkembang yang kekurangan guru bermutu. sedangkan guru yang diperlukan untuk mendidik sangat kecil jumlahnya. Belum lagi masalah dana yang harus disediakan untuk pendidikan ini. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 274
  • Salah satu negara berkembang adaiah Indonesia. Indonesia pernah menyediakan dana pendidikan hanya 4% saja. Menurut para ahli anggaran yang paling ideal adaiah 25% dari semua anggararan GURU PROFESIONAL BERBASISKAN ILMU DAN TEKNOLOGI A. Pengertian Guru Professional Guru professional adalah guru yang mengenal dirinya. Yaitu, dirinya adalah pribadi yang dipanggil peserta didik dalam belajar. Guru dituntut untuk mencari tahu terus menerus bagaimana sehasusnya peserta didik itu belajar. Profesionalisme guru mempunyai makna penting yaitu: 1. profesionalisme memberikan jaminan perlindunga kepada kesejahteran masyarakat umum. 2. profesionalisme guru merupakan suatu cara untuk memperbaiki profesi pendidikan yang selama ini dianggap oleh sebagian masyarakat rendah. 3. profesionalisme memberikan kemungkinan perbaikan perkembangan diri yang memungkinkan guru dapat memberikan pelayanan sebaik mungkin. Kualitas profesionalisme ditunjukan oleh lima sikap yaitu: 1. keinginan untuk menampilkan perilaku yang mendekati standar ideal. 2. meningkatkan dan memelihara citra profesi 3. keinginan untuk senantiasa mengejar kesempatan pengembangan profesionalismeyang dapat meningkatkan dan memperbaiki kualitas pengetahuan dan keterampilannya. 4. mengejar kualitas dan cita-cita dalam profesi 5. memiliki kebanggaan terhadap profesinya. B. Guru Profesional Berbasis IT Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 275
  • Guru berbasi IT adalah guru yang dalam proses pengajaranna menggunakan media yang berupa informasi dan teknologi yang selalu diperbarui,dan menyampaikannya kepada peserta didik dengan metode yang dapat dengan mudah dapat menbuat peserta didik mengerti. Karakteristik guru yang berbasis IT: 1. Dalam mengajar ia harus professional 2. menggunakan suatu media. Guru berbasis IT sangat dibutuhkan pada saat sekarang ini,terutama untuk Negara yang sedang berkenbang seperti Negara Indonesia sekarang ini INOVASI PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN A. Pengertian Perubahan yang terjadi dalam dunia pendidikan pada masa tertentu agar memperoleh hasil yang lebih baik dari sebelumnya. Berbagai pembaharuan dilakukan agar pendidikan tersebut bisa berjalan dengan transparan dan dapat dilakukan dimana saja dengan berbagai perkembangan didalam dunia pendidikan. B. Tujuan Inovasi dalam Pendidikan a. Mengatur ketinggian yang dihasilkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat mengglobalisasi pada saat sekarang ini. b. Mengusahakan terselenggaranya pendidikan bagi setiap warga Negara, dimana pada saat sekarang ini banyak warga yang belum mengecap bagaimana pendidikan. c. Tercapainya perubahan yang baru berkembang dalam pembelajaran agar menghasilkan system pendidikan dan pembelajaran yang maksimal dan dapat dimanfaatkan oleh masyarat. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 276
  • Inovasi pendidikan dan pembelajaran yang mengacu pada informasi dan teknologi seperti pembelajaran yang dilakukan dengan menggunakan computer dan internet dimana semua ilmu pengetahuan terdapat disana, dan juga memudahkan dalam melakukan pekerjaan. No Perbedaan Negara Berkembang 1 Negara Maju Kemajuan suatu Negara akan Nampak Teknologi apabila memiliki sumber daya sebenarnya di terapkan di manusia yang unggul.Oleh karena itu Negara Latar Pendidikan maju, tinggal Belakang pendidikan masyarakat agar menjadi bagaimana mereka PenerapanTeknologi tenaga-tenaga ahli yang terdidik dan menciptakan Teknologi di Pendidikan telatih,yaitu dengan menerapkan bidang pendidikan teknologi pendidikan dengan tujuan lebih mempermudah Tujuan Penerapan Teknologi Teknologi Pendidikan sehingga berlangsungnya masalah pendidikan dapat pendidikan itu. 2 canggih yang teralasi. pendidikan di setiap Tujuan tp di negara maju Negara pada dasarnya bertujuan guna lebih menitik beratkan pada pencapaian pemerataan pendidikan di penciptaan seluruhlapisan peningkatan masyarakat mutu metode-metode dan pendidikan yang lebih pengetahuan modern, sehingga pelayanan peserta didik pendidikan terasa lebih terbukadan dan mudah di dapat 3 Kegiatan lakukan penerapan yang di dalam Teknologi Pendidikan o Penyampaian materi pelajaran secara audio maupun visual. o Melatih siswa menjawab lembar pertanyaan. o Melatih o Pratukum labor o Pemberian objek untuk oleh diteliti peserta didik. siswa,melakukan o Mendorong peserta perbandingan,pengamatan,pen didik untuk gembangan melekukan karya dan terhadap suatu objek. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com penelitian yang di Page 277 jadikan
  • sebagai evaluasi. 4 Sumber belajar yang Sumber belajar secara umum masih Sumber belajar pada Negara dipakai penerapan dalam memakai sumber belajar yang lama, maju rata-rata sudah sangat Teknologi Seperti buku cetak,miniature manusia Pendidikan canggih, seperti simulator, ruang laboraturium, komputer, dan internet, laboraturium simulasi biologi dan telekomfren 5 Pengelolaan dilakukan yang Secara umum pengelolan pendidikan Pengelolaan pendidikan di di dalam pada Negara berkembang masih di Negara maju sudah merata di teknologi pendidikan laksanakan oleh pemerintah pusat lakukan, baik dengan cara berkoordinasi dengan pemerintah itu pusat oleh maupun pemerintah daerah, hanya beberapa yayasan atau pihak swasta. yayasan atau pihak semata yang Bahwa benar-benar mampu yang beberapa Negara dapat maju, peran swasta dalam menyelenggarakan pendidikan. pendidikan lebih dominasi dari pada pendidikan 6 Kelompok sasaran Penerapan Teknologi Pendidikan o Masyarakat yang memiliki mendidik keterbatasan ekonomi untuk melaksanakan pendidikan. peneliti yang atau memanfaatkan Ilmiah o Para profeson atau belum belum o Mahasiswa dan Siswa Menengah Kejuruan. pendidikan dasar dan menengah. o Para Guru dan Dosen Sumber Dana o Pemerintah (APBN & APBD) o Pemerintah o Donatur dari pengusaha atau 7 o Donatur konglomerat. o Yayasan o Swasta. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com dan penciptaan ilmu o Masyarakat pernah o Para Page 278
  • DAFTAR PUSTAKA http://rusydinatp12.blogspot.com/2012/11/pendayagunaan-teknologi-pendidikan-di.html Miarso, Yusufhadi. (2004). Menyemai benih Teknologi Pendidikan. Jakarta Pustekkom Diknas bekerjasama dengan Kencana Bambang,Warsita. (2008). Teknologi Pembelajaran dan aplikasinya. Jakarta: Rineka Cipta. http://iisindra.blogspot.com/2011/05/pendayagunaan-teknologi-pendidikan-di.html Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 279
  • Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 280
  • BAB X PENERAPAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN DAN PENGARUHNYA TERHADAP PENDIDIKAN SAAT INI DAN MASA DEPAN A. Latar Belakang Teknologi Pendidikan adalah proses yang kompleks dan terpadu yang meliputi orang, pesan tau ide, prosedur, alat, bahan, lingkungan ( organisasi ) untuk menganalisis masalah mencari cara permasalahan tersebut melaksanakannya, dan mengevaluasi, mengelola yang menyangkut aspek belajar manusia. Teknologi pembelajaran merupakan teori dan praktek tentang perancangan, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan, serta penilaian proses dan sumber untuk belajar. Pendidikan dalam arti luas adalah proses yang berkaitan dengan upaya untuk mengembangkan pada diri seseorang tiga aspek dalam kehidupannya, yakni, pandangan hidup, sikap hidup dan keterampilan hidup. Upaya untuk mengembangkan ketiga aspek tersebut bisa dilaksanakan di sekolah, luar sekolah dan keluarga. Kegiatan di sekolah direncanakan dan dilaksanakan secara ketat dengan prinsip-prinsip yang sudah ditetapkan. Bangsa Indonesia telah mengalami berbagai bentuk praktek pendidikan: praktek pendidikan Hindu, pendidikan Budhis, pendidikan Islam, pendidikan zaman VOC, pendidikan kolonial Belanda, pendidikan zaman pendudukan Jepang, dan pendidikan zaman setelah kemerdekaan (Somarsono, 1985). Berbagai praktek pendidikan memiliki dasar filosofis dan tujuan yang berbeda-beda. Beberapa praktek pendidikan yang relevan dengan pembahasan ini adalah praktek-praktek pendidikan modern zaman kolonial Belanda, praktek pendidikan zaman kemerdekaan sampai pada tahun 1965, dan praktek pendidikan dalam masa pembangunan sampai sekarang ini. B. Rumusan Masalah Dalam makalah ini penulis mengangkat sebuah rumusan masalah yaitu Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 281
  • 1. Bagaimana Pengaruh TP dalam Pendidikan ? 2. Bagaimana Penerapan TP terhadap pendidikan masa kini ? 3. Bagaimana Penerapan TP terhadap pendidikan Masa Depan ? 4. Bagaimana Aplikasi TP pada Usia SD, SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi ? C. Tujuan Penulisan Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah : 1. Untuk mengetahui bagaimana penerapan TP terhadap dunia pendidikan saat ini dan masa depan. 2. Untuk mengetahui paradigam pendidikan masa depan 3. Untuk mengetahui pengaruh Teknologi Pendidikan terhadap dunia pendidikan saat ini dan masa depan. D. Manfaat Penulisan Adapun manfaat yang ada dalam makalah ini adalah mahasiswa dapat mengaplikasikan penerapan Teknologi Pendidikan dan pengaruhnya terhadap dunia pendidikan saat ini dan masa yang akan datang. PEMBAHASAN Sebelum membahas penerapan teknologi pendidikan terlebih dahulu perlu diketahui pengertian teknologi. Kata Teknologi seringkali oleh masyarakat diartikan sebagai alat elektronik. Tapi oleh ilmuwan dan ahli filsafat ilmu pengetahuan diartikan sebagai pekerjaan ilmu pengetahuan untuk memecahkan masalah praktis. Jadi teknologi lebih mengacu pada usaha untuk memecahkan masalah manusia. Menurut Yp Simon (1983), teknologi adalah suatu displin rasional yang dirancang untuk meyakinkan penguasaan dan aplikasi ilmiah. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 282
  • Menurut (An) Teknologi tidak perlu menyiratkan penggunaan mesin, akan tetapi lebih banyak penggunaan unsur berpikir dan menggunakan pengetahuan ilmiah. Menurut Paul Saetiles (1968). Teknologi selain mengarah pada permesinan, teknologi meliputi proses, sistem, manajemen dan mekanisme kendali manusia dan bukan manusia. Pengertian Teknologi Pendidikan diabad ke dua puluh meliputi lentera pertama proyektor slide, kemudian radio dan kemudian gambar hidup. Sedangkan abad 19 ke bawah sampai lima belas teknologi lebih diartikan papan tulis dan buku. Menurut Prof. Sutomo dan Drs. Sugito, M.Pd. Teknologi Pendidikan adalah proses yang kompleks yang terpadu untuk menganalisis dan memecahkan masalah belajar manusia/ pendidikan. Menurut ‖Mackenzie, dkk‖ (1976) Teknologi Pendidikan yaitu suatu usaha untuk mengembangkan alat untuk mencapai atau menemukan solusi permasalahan. Jadi Teknologi Pendidikan adalah segala usaha untuk memecahkan masalah pendidikan. Lebih detail dapat diuraikan bahwa: 1. Teknologi Pendidikan lebih dari perangkat keras. Ia terdiri dari desain dan lingkungan yang melibatkan pelajar. 2. Teknologi dapat juga terdiri segala teknik atau metode yang dapat dipercaya untuk melibatkan pelajaran; strategi belajar kognitif dan keterampilan berfikir kritis. 3. Belajar teknologi dapat dilingkungan manapun yang melibatkan siswa belajar secara aktif, konstruktif, autentik dan kooperatif seta bertujuan. Sistem Belajar Mandiri Salah Satu Aplikasi Teknologi Pendidikan Penerapan teknologi pendidikan sangatlah luas dalam satu rangkaian sistem yaitu yang bersifat mikro dan bersifat makro.Teknologi pendidikan merupakan suatu konsep yang masih relatif baru. Secara ringkas dapat disebutkan bahwa teknologi pendidikan sebagai suatu konsep, mengandung sejumlah gagasan dan rujukan. Gagasan yang ingin diwujudkan adalah agar setiap pribadi dapat berkembang semaksimal mungkin dengan jalan memanfaatkan teknologi sedemikian rupa sehingga selaras dengan perkembangan masyarakat dan lingkungan.Rujukan konsep itu merupakan hasil sintesi dari gejala yang diamati dan kecenderungan yang ada. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 283
  • Analisis empirik terhadap sistem belajar mandiri yang dilakukan untuk menghasilkan manfaat penerapan teknologi instruksional : a. Meningkatkan produktifitas pendidikan dengan jalan : a) Memperlaju penerapan bahan b) Membantu guru untuk menggunakan waktunya secara lebih baik c) Mengurangi beban guru dalam menyajikan informasi, sehingga guru dapat lebih banyak membina dan mengembangkan kegiatan belajar anak didik b. Memberikan kemungkinan pendidikan yang sifatnya lebih individual dengan jalan : a) Mengurangi kontrol guru yang kaku dan tradisional b) Memberikan kesempatan anak didik untuk berkembang sesuai perkembangan perorangan mereka. c. Memberikan dasar pembelajaran yang lebih ilmiah dengan jalan: a) Perencanaan program pembelajaran secara bersistem b) Pengembangan bahan ajaran yang dilandasi penelitian d. Memungkinkan belajar lebih akrab, karena dapat : a) Mengurangi jurang pemisah antara pelajaran didalam dan diluar sekolah b) Memberikan pengalaman tangan pertama e. Memungkinkan pemerataan pendidikan yang bermutu, terutama dengan : a) Dimanfaatkan bersama tenaga atau kejadian langka b) Didatangkannya pendidikan kepada mereka ytang memerlukan Analisis ini dilakukan dengan harapan bahwa keberadaan teknologi pendidikan dapat dimanfaatkan dan benar-benar mampu menjadi solusi terhadap pemecahan semua permasalahan bejara, baik yang bersifat mikro ataupun makro. Dalam konsep teknologi pendidikan, dibedakan istilah pembelajaran (instruction) dan pengajaran (teaching). Pembelajaran, disebut juga kegiatan pembelajaran instruksional, adalah usaha mengelola lingkungan dengan sengaja agar seseorang membentuk diri secara positif tertentu dalam kondisi tertentu.Sedangkan pengajaran adalah usaha membimbing dan mengarahkan pengalaman belajar kepada peserta didik yang biasanya berlangsung dalam situasi resmi atau formal. Reigeluth dan Merrill (1983) berpendapat bahwa pembelajaran sebaiknya didasarkan pada teori pembelajaran yang bersifat preskiptif, yaitu teori yang Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 284
  • memberikan ‖resep‖ untuk mengatasi masalah belajar. Teori pembelajarn yang prespektif itu harus memerhatikan tiga variabel, yaitu variabel kondisi, metode, dan hasil. Kerangka teori instruksional itu dapat digambarkan sebagai berikut : 1. Kondisi Karakteristik Pelajaran 2. Karakteristik Siswa Pembelajaran 3. Tujuan Hambatan 4. Metode Pengorganisasian Bahan Pelajaran 5. Strategi Penyampaian 6. Pengelolaan Kegiatan Pembelajaran Karakteristik siswa meliputi pola kehidupan sehari-hari, keadaan sosial ekonomi, kemampuan membaca, dan sebagainya.Karakteristik pelajaran meliputi tujuan apa yang ingin dicapai dalam pelajaran tersebut, dan apa Tujuan hambatan untuk pencapaian itu. Misalnya saja kemampuan berbahasa Inggris yang umumnya lemah merupakan hambatan untuk mempelajari teks berbahasa Inggris. Pengorganisasiaan bahan pelajaran, meliputi antara lain bagaimana merancang bahan untuk keperluan belajar mandiri. Strategi penyampaian meliputi pertimbangan panggunaan media apa untuk menyajikan nya, siapa dan atau apa yang akan menyajikan, dan sebagainya. Sedang pengelolaan kegiatan meliputi keputusan untuk mengembangkan dan mengelola serta dan bagaimana digunakannya bahan pelajaran dan strategi penyampaian. Berdasarkan kerangka teori itu setiap metode pembelajaran harus mengandung rumusan pengorganiasasian, bahan pelajaran, strategi penyampaian, dan pengelolaan kegiatan, dengan memerhatikan faktor tujuan belajar, hambatan belajar, karakteristik siswa, agar dapat diperoleh efektivitas, efisiensi, dan daya tarik pembelajaran. Dalam inovasi pendidikan tidak bisa lepas dengan masalah revolusi metode, kurikulum yang inovatif, teknologi serta SDM yang kritis untuk bisa menghasilkan daya cipta dan hasil sekolah sebagai bentuk perubahan pendidikan. Sekolah harus mempunyai orientasi bisnis pelanggan yang memiliki daya saing global. Untuk itu ada lima teknologi baru yang dapat menciptakan sistem pendidikan yang lebih baik. 1. Lima macam Teknologi Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 285
  • Sistem Berpikir Sistem berpikir menjadikan kita untuk lebih hati-hati dengan munculnya tiap mode di dunia pendidikan. Hal ini untuk mengantisipasi terjadinya perubahan yang tidak kita inginkan. Tanpa sistem berpikir kita akan sulit untuk mengadakan peningkatan riil di bidang pendidikan. Jadi sistem berpikir menghadirkan konsep sistem yang umum, dimana berbagai hal saling terkait Desain System Desain sistem adalah teknologi merancang dan membangun sistem yang baru. Perubahan yang dimaksud adalah perubahan yang cepat yang meningkatkan harapan. Desain sistem memberi kita peralatan untuk menciptakan suatu system yang baru dan suatu strategi untuk perubahan. Kualitas pengetahuan Mutu atau kualitas pengetahuan merupakan teknologi yang memproduksi suatu produk atau jasa/ layanan yang sesuai harapan dan pelanggan. Ilmu pengetahuan yang berkualitas telah menjadi alat yang sangat berharga dalam inovasi pendidikan/ sekolah. Manajemen Perubahan Manajemen perubahan adalah suatu cara untuk memandu energi kreatif ke arah perubahan positif. Dapat juga diartikan sistem pemikiran yang berlaku untuk aspek manajemen inovasi tentunya dengan berorientasi pada POAC (Perencanaan, Organisasi, Aktualisasi dan Kontrol). Teknologi pembelajaran Disini ada dua bagian yaitu peralatan Pelajar elektronik (Komputer, multimedia, Internet, telekomunikasi), dan pembelajaran yang didesain, metode dan strateginya diperlukan untuk membuat peralatan elektronik yang efektif. Pelajaran elektronik ini mengubah cara mengkomunikasikan belajar. Jadi teknologi pembelajaran adalah sistem pemikiran yang berlaku untuk instruksi dan belajar. Kelima teknologi tersebut merupakan suatu keterpaduan untuk menuju inovasi pendidikan sehingga dalam memecahkan masalah pendidikan perlu kombinasi peralatan/ alat elektronik, orang-orang, proses, manajemen, intelektual, untuk perubahan yang efektif. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 286
  • Pengaruh Teknologi Pendidikan Secara operasional teknologi pendidikan dapat dikatakan sebagai proses yang bersistem dalam membantu memecahkan masalah belajar pada manusia. Kegiatan yang bersistem mengandung dua arti, yaitu pertama yang sistemik atau beraturan, dan kedua yang sistemik atau beracuan pada konsep sistem. Kegiatan yang beraturan adalah kegiatan untuk memenuhi kebutuhan yang dilakukan dengan langkah-langkah mengkaji kebutuhan itu sendiri terlebih dahulu, kemudian merumuskan tujuan, mengidentifikasikan kemungkinan pencapaian tujuan dengan mempertimbangkan kendala yang ada, menentukan kriteria pemilihan kemungkinan, memilih kemungkinan yang terbaik, mengembangkan dan menguji cobakan kemungkinan yang dipilih, melaksanakan hasil pengembangan dan mengevaluasi keseluruhan kegiatan maupun hasilnya. Pendekatan yang sistemik adalah yang memandang segala sesuatu sebagai sesuatu yang menyeluruuh (komprehensif) dengan segala komponen yang saling terintegrasi.Keseluruhan itu lebih bermakna dari sekadar penjumlahan komponen-komponen. Tiap komponen mempunyai fungsi sendiri, dan perubahan pada tiap komponen akan mempengaruhi komponen lain serta sistem sebagai keseluruhan. Pendekatan ini juga memperhatikan bahwa pendidikan sebagai suatu sistem terdiri dari berbagai lapis sistem: makro, meso dan mikro. Pendidikan di dalam kelas merupakan lapis terbawah atau terkecil atau suatu sistem mikro.Sedangkan pendidikan nasional merupakan sistem makro atau yang paling atas.Masalah belajar yang dipecahkan banyak ragamnya. Ada masalah dalam skala mikro, yaitu masalah yang dihadapi guru dalam satu kelas untuk mata pelajaran tertentu, dan ada masalah makro, yaitu masalah pendidikan nasional, misalnnya ketersediaan kesempatan belajar pada jenjang pendidikan lanjut. Pembelajaran adalah suatu usaha yang disengaja, bertujuan, dan terkendali agar orang lain belajar atau terjadi perubahan yang relatif menetap pada diri orang lain. Usaha ini dapat dilakukan oleh seseorang atau suatu tim yang memiliki kemampuan dan kompetensi dalam merancang dan atau mengembangkan sumber belajar yang diperlukan. Pengertian ini dibedakan dengan pengajaran yang telah terlanjur mengandung arti sebagai penyajian bahan ajaran yang dilakukan oleh seseorang pengajar. Pembelajaran Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 287
  • tidak harus diberikan oleh pengajar, karena kegiatan itu dapat dilakukan oleh perancang dan pengembang sumber belajar, misalnya seorang teknolog pembelajaran atau suatu tim terdiri dari ahli media dan ahli materi ajaran tertentu. Keberhasilan proses belajar mengajar dapat terjadi dari upaya berbagai komponen dan salah satunya adalah strategi pembelajaran, yang menjadi salah satu bahan kajian dalam teknologi pendidikan. Semua bentuk teknologi adalah sistem yang diciptakan manusia untuk sesuatu tujuan tertentu, yang pada intinya adalah mempermudah manusia dalam memperingan usahanya, meningkatkan hasilnya, dan menghemat tenaga serta sumber daya yang ada. Setiap teknologi, tidak terkecuali teknologi pendidikan, merupakan proses untuk menghasilkan nilai tambah, sebagai produk atau piranti untuk dapat digunakan dalam aneka keperluan, dan sebagai sistem yang terdiri atas berbagai komponen yang saling berkaitan untuk suatu tujuan tertentu. Melihat penjelasan diatas untuk itu penulis mengakat tema ‖Strategi Pembelajaran dengan Konsep Dasar Pola Sistem Belajar Mandiri‖. Dengan tujuan penulisan untuk mengetetahui strategi pembelajaran dengan Konsep Dasar Pola Sistem Belajar Mandiri Teknologi Pendidikan Dalam Meningkatkan Produktivitas Pendidikan Produktivitas dalam dunia pendidikan berkaitan dengan keseluruhan proses perencanaan, penataan dan pendayagunaan sumber daya untuk merealisasikan tujuan pendidikan secara efektif dan efisien. Sejauh mana pencapaian produktivitas pendidikan dapat dilihat dari out put pendidikan yang berupa prestasi, serta proses pendidikan yang berupa suasana pendidikan. Prestasi dapat dilihat dari masukan yang merata, jumlah tamatan yang banyak, mutu tamatan yang tinggi, relevansi yang tinggi dan dari sisi ekonomi yang berupa penyelenggaraan penghasilan. Sedangkan proses atau suasana tampak dalam kegairahan belajar, dan semangat kerja yang tinggi serta kepercayaan dari berbagai pihak. Satu hal yang perlu disadari adalah bahawa produktivitas pendidikan harus dimulai dari menata /SDM tenaga pendidik dan tenaga kependidikan. Hal kedua adalah bahwa penataan SDM harus dilaksanakan denagn prinsip efektivitas dan efisiensi karena efektifitas dan efisiensi adalah kriteria dan ukuran yang mutlak bagi produktivitas pendidikan. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 288
  • Dalam meningkatkan produktivitas pendidikan, teknologi pendidikan memiliki ciri-ciri inovasi pendidikan yang dapat dikenal dengan beberapa identifikasi, namun menurut ashby 1967 ada empat ciri-ciri inovasi pendidikan : i. Ketika masyarakat /orang tua mulai sibuk dengan peran keluar sehingga tugas pendidikan anak sebagian digeser dari orang tua pindah ke guru atau dari rumah ke sekolah. ii. Terjadi adopsi kata yang ditulis ke instruksi lisan iii. Adanya penemuan alat untuk keperluan percetakan yang mengakibatkan ketersediaan buku lebih luas. iv. Adanya alat elektronika yang bermacam-macam radio, telepon, TV, computer, LCD proyektor, perekan internet, LAN, dsb ). Keempat perubahan di atas di dunia pendididkan telah menimbulkan banyak masalah, dan untuk itulah kelima teknologi yang dibahas pada point sebelumnya sangat membantu untuk solusi pemecahan. Perubahan pendidikan/sekolah yang dinginkan sekolah sesuai visi dan misinya tentunya sangat tergantung pada lima teknologi tersebut yaitu sistem berfikir, system desain, ilmu pengetahuan yang berkualitas, manajemen. Sekarang sekolah negeri maupun swasta mulai berusaha keras untuk mengatur kembali sistem pendidikan mereka. Banyak program sekolah yang ditawarkan pada masyarakat baik itu jurusan maupun status sekolah yaitu SSN, unggul, model, internasional, akselerasi dan sarana prasarananya. Yang jelas perubahan sekolah untuk menghadapi dunia global harus disiapkan dari unsur SDM yang berkualitas sehingga mampu berfikir membuat desein pendidikan, punya kiat manajemen yang baik dan tidak gagap terhadap pendidikan. Jadi dapat dikatakan bahwa antara inovasi pendidikan dengan teknologi pendidikan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Inovasi merupakan okbyek dan teknologi pendidikan merupakan subyeknya. Dalam inovasi pendidikan butuh SDM dan peralatan yang menunjang inovasi pendidikan, sebaliknya SDM dan alat tidak akan berfungsi tanpa digunakan untuk sasaran/tujuan yang pasti dan bermanfaat dimasa datang. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 289
  • Dalam meningkatkan produktivitas pendidikan , Teknologi Pendidikan mendukung konstruksi mempunyai manfaat sebagai berikut: Teknologi Pendidikan sebagai peralatan mewakili gagasan pelajar untuk pengetahuan: - Untuk pemahaman dan kepercayaan - Untuk organisir produksi, multi media sebagai dasar pengetahuan pelajar. Teknologi pendidikan sebagai sarana informasi untuk menyelidiki pengetahuan yang mendukung pelajar : Untuk mengakses informasi yang diperlukan. Untuk perbandingan perspektif, kepercayaan dan pandangan dunia. Teknologi pendidikan sebagai media sosial untuk mendukung pelajaran dengan berbicara. Untuk berkolaborasi dengan orang lain. Untuk mendiskusikan, berpendapat dan membangun konsensus antara anggota sosial. Teknologi pendidikan sebagai mitra intelektual untuk mendukung pelajar. Untuk membantu pelajar mengartikulasikan dan memprentasikan apa yangmereka ketahui. Teknologi pendidikan dapat meningkatkan mutu pendidikan/sekolah. Tekonologi pendidikan dapat meningkatkan fektifitas dan efisiensi proses belajar mengajar. Teknologi pendidikan dapat mempermudah mencapai tujuan pendidikan. Quantum Learning Banyak sekolah-sekolah saat ini menerapkan sistim quantum learning, bahwa tingkat kepercayaan banayak pendidik semakin besar pada praktek. Sesuatu yang dipahami dengan lebih mendalam melalui pengalaman nyata dilapangan. Dimana membiarkan tiap murid menganalisa dan berpikir kritis dari pengetahuan yang mereka peroleh. Siswa dikelompokkan terlebih dahulu, sesuai dengan Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 290
  •  Kulitas intelegensi  Kualitas emosional  Kualitas sprrittual Setiap siswa dianggap sebagai individu mandiri dan bebas, mampu memilih kategori unggulan buat mereka sendiri dan mencapainya. Misalnya, jika siswa suka seni, maka yang menjadi fokus pendidikanya adalah pengetahuan dibidang kesenian, sedangkan pengetahuan lain dianggap sebagai pelengkap. Kelemahannya :  metode pengajaran seperti ini relatif baru dan membutuhkan sarana dan prasarana yang tidak sedikit.  Membutuhkan dana yang relatif tinggi  Terdapatnya tingkat persaingan dengan sekolah swasta Pemecahanya :  Bagaimana memicu kesadaran pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan yang lebih komleks. Pendidikan yang baik adalah investasi yang tak ternilai untuk kemajuan bangsa. Maka, untuk menstandarkan materi-materi pendidikan yang diberikan dalam sekolh, disusunlah kurikulum oleh pemerintah sebagai pedoman sistematis yang wajib dilaksanakan bagi institusiinstitusi pendidikan di Indonesia dalam materi pelajaran. Penerepan teknologi pendidikan masa kini Dijaman reformasi saat ini pendidikan mengalami : Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 291
  • 1. Kurikulum yang dikeluarkan pemerintah senantiasa berubah cepat 2. Setiap kali mentri pendidikan berganti kurikulum ikut berbah. Apakah berganti kurkulum itu baik? Sebenarnya tergantung, apabila kurikulum baru memang lebih efektifdan cocok dengan realita dilapangan, maka itu baik. Tapi, apabila kurikulum itu tidak efektif dan sulit direalisasikan dengan sempurna, maka akan terjadilah kebingungan 3. Tidak adanya sekolah yang secara khusus menghasilkan peserta didik untuk menjadi pemimipin. Pendidikan berbeda dengan pengajaran ;  Pendidikan mempunyai arti luas, yaitu pendidikan dapat berlangsung dimasyarakat, dikeluarga, tempat bekerja dan tempat lainnya. Pengajaran dalam prosesnya harus berlangsung secara teorganisir melalui institusi (formal) persekolahan termasuk diperguruan tinggi tentunya. PERAN TEKNOLOGI INFORMASI BAGI PENDIDIKAN DI ERA GLOBALISASI Reformasi yang dapat di lakukan teknologi informasi dapat mencakup tiga hal, yaitu: • Cara kita belajar • Apa yang kita pelajari • Tempat dan waktu kita belajar 1. Cara kita belajar Mengenai cara kita belajar, terkait dengan metode pembelajaran. Pada pembelajaran konvensional, guru memainkan peranan yang lebih besar sehingga tingkat ketergantungan siswa Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 292
  • terhadap guru menjadi lebih besar juga. Sedangkan pada pembelajaran berbasis teknologi informasi pembelajaran terpusat kepada siswa sehingga guru hanya sebagai pendamping atau konsultan saja 2. Ape yang kita pelajari? Terkait dengan apa yang kita pelajari. Pada pembelajaran berbasis teknologi informasi (TI) mengubah pola pembelajaran tidak hanya terhadap apa yang seharusnya di pelajari oleh para siswa, melainkan juga apa yang dapat di peroleh oleh para siswa jika dapat mengoptimalkan peran TI. Hal ini mengindikasikan bahwa TI dapat menyediakan sumberdaya pembelajaran yang tidak terbatas seperti internet, intranet, audio/video, dan media berbasis teknologi lainnya. 3. Tempat dan waktu kita belajar Ruang dan waktu belajar adalah salah satu hal yang membatasi proses pembelajaran sehingga tidak dapat berlangsung secara maksimal. Dengan hadirnya TI maka para siswa dapat memilih sendiri tempat dan waktu serta ritme pembelajaran karena TI menawarkan kebebasan memilih ketiga hal tersebut sesuai kebutuhan setiap siswa. Seiring dengan kehadiran teknologi informasi, proses pembelajaran bagi para siswa tidak hanya melalui cara konvensional dengan adanya tatap muka secara langsung antara guru dengan murid, tetapi pembelajaran juga dapat menggunakan sarana-sarana teknologi sehingga antara guru dan murid tidak harus bertatap muka secara langsung. Berdasarkan hal di atas, sangat jelas bahwa metode pendidikan berbasis TI memiliki prospek yang cerah di masa depan karena menawarkan berbagai keunggulan yang tidak di miliki oleh proses pendidikan formal pada umumnya. Selain itu metode pendidikan berbasis TI juga menawarkan pendidikan murah bagi para siswa karena para siswa dapat memperoleh bahan pembelajaran dari berbagai sumber yang gratis tentunya tidak seperti pendidikan konvensional yang harus membeli buku-buku yang kian hari kian mahal. Dengan kata lain, metode pendidikan berbasis TI harus segera di kembangkan di Indonesia untuk mendukung UU No 20 Tahun 2003 untuk mewujudkan pendidikan murah yang terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat. Globalisasi membawa akibat terjadinya perubahan yang terus menerus dan semakin cepat. Sejalan dengan pencapaian tujuan pendidikan, perlu diupayakan suatu sistem pendidikan yang mampu membentuk kepribadian dan ketrampilan peserta didik yang unggul, yakni beriman Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 293
  • dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, manusia yang kreatif, cakap, terampil, jujur, dapat dipercaya, disiplin, bertanggung jawab dan memiliki solidaritas sosial yang tinggi, maka dibentuklah empat pilar pendidikan yang dijadikan fondasi pendidikan pada era informasi dan jaringan global ini dalam meraih dan merebut pasar internasional. Penerepan teknologi pendidikan masa depan Di era global seorang pemimpin perlu diajarkan dan dikenalkan secara dini dalam sistem pendidikan nasional agar pada saatnya mereka dibutuhkan minimal telah memiliki kapasitas dan aksesibilitas yang memadai untuk memimpin. Agar dari masyarakat sudah diberdayakan akan lahir pemimipin-pemimpin bangsa yang efektif. Sifat-sifat positif yang harus dimiliki olehh seorang pemimipin :  Kreatif  Bermoral  Pemberani  Intelektula (pengetahuan yang tinggi)  Memiliki komitmen Pemimpin yang sejati : Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 294
  •  Pemimpin yang bisa menjadi simbol moraldan pemersatu bagi komunitasnya  Pemimipin yang bisa menjadi agent menuju kesejahteraan, kemakmuran.  Pemimipin yang bisa membawa komunitasnya melangkah maju jauh kedepan. Dengan meningkatkan anggran belanja untuk pendidikan, serta peningkatan kuaitas para guru, sistem pendidikan di Indonesia akan lebih baik. Dan ini akan menghasilkan SDM Indonesia yang berkompetensi. Lalu dengan penerepan teknologi Indonesia dapat membuat kualitas dan kuantitas produk yang dihasilkan dari SDA pun meningkat. Dari integrasi SDM dan SDA Indonesia ini, maka perbaikan ekonomi pun dapat terwujud dan dapt menciptakan kesejahteraan bagi bangsa indonesia. Perkembangnya pendidikan terbuka dengan modus belajar jarak jauh (Distance Learning). Kemudahan untuk menyelenggarakan pendidikan terbuka dan jarak jauh perlu dimasukan sebagai strategi utama. Sharing resource bersama antar lembaga pendidikan / latihan dalam sebuah jaringan. Perpustakaan & instrumen pendidikan lainnya (guru, laboratorium) berubah fungsi menjadi sumber informasi daripada sekedar rak buku. Penggunaan perangkat teknologi informasi interaktif, seperti CD-ROM Multimedia, dalam pendidikan secara bertahap menggantikan TV dan Video. Dengan adanya perkembangan teknologi informasi dalam bidang pendidikan, maka pada saat ini sudah dimungkinkan untuk diadakan belajar jarak jauh dengan menggunakan media internet untuk menghubungkan antara mahasiswa dengan dosennya, melihat nilai mahasiswa secara online, mengecek keuangan, melihat jadwal kuliah, mengirimkan berkas tugas yang diberikan dosen dan sebagainya, semuanya itu sudah dapat dilakukan. Pendidikan jarak jauh telah merupakan alternatif pendidikan yang cukup digemari. Metoda pendidikan ini diikuti oleh para mahasiswa, karyawan, eksekutif, bahkan ibu rumah Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 295
  • tangga dan orang lanjut usia (pensiunan). Beberapa tahun yang lalu pertukaran materi dilakukan dengan surat menyurat, atau dilengkapi dengan materi audio dan video. Saat ini hampir seluruh program distance learning di Amerika, Australia dan Eropa dapat juga diakses melalui internet. Studi yang dilakukan oleh Amerika, sangat mendukung dikembangkannya e-learning, menyatakan bahwa computer based learning sangat efektif, memungkinkan 30% pendidikan lebih baik, 40% waktu lebih singkat, dan 30% biaya lebih murah. Bank Dunia (World bank) pada tahun 1997 telah mengumumkan program Global Distance Learning Network (GDLN) yang memiliki mitra sebanyak 80 negara di dunia. Melalui GDLN ini maka World Bank dapat memberikan e-learning kepada mahasiswa 5 kali lebih banyak (dari 30 menjadi150mahasiswa)dengan biaya 31% lebih murah. Kecenderungan global & regional dalam pemanfaatan teknologi komunikasi dan informasi untuk pendidikan Pertama, proses investasi dan re-investasi yang terjadi dalam dunia industri berlangsung sangat cepat, menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan yang sangat cepat pula pada dunia organisasi kerja, struktur pekerjaan, struktur jabatan dan kualifikasi tenaga kerja yang dibutuhkan. Kedua, perkembangan industri, komunikasi dan informasi yang semakin cepat akan melahirkan ‖knowledge worker‖ yang semakin besar jumlahnya. Knowledge worker adalah pekerjaan yang berkaitan erat dengan proses informasi. Ketiga, berkaitan dengan dua kecendrungan pertama, maka muncul kecendrungan bahwa pendidikan bergeser daari ide back to basic ke arah ide the forward to future basic, yang mengandalkan pada penigkatan kemampuan TLC (how to think, how to learn, how to create). How to think menekankan pada pengembangan critical thinking, how to learn menekankan pada kemampuan untuk bisa secara terus-menerus dan mandiri emnguasai dan mengolah informasi dan how to create menekankan pada pengembangan kemampuan untuk dapat memcahkan problem yang berbeda-beda. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 296
  • Keempat, berkembang dan meluasnya ide demokratisasi yang bersifat substansi, yang antara lain dalam dunia pendidikan akan terwujud dalam munculnya tuntutan pelaksaan school based management dan sitespecific soluion. Seiring dengan itu, karena kreatifitas guru, maka akan bermunculan berbagai bentuk praktek pendidikan yang berbeda satu sama lain, yang kesemuanya untuk menuju pendidikan yang efekti dan efisien. Kelima, semua bangsa akan mengalami krisis demi krisis yang tidak hanya dapat dianalisis dengan metode sebab akibat sederhan tetapi memerlukan sistim yang saling bergantungan. Kecendurangan – kecendrungan tersebut diatas menuntut kualitas sumber daya mnusia yang berbeda dengan kualitas yang ada dewasa ini. Kecenderungan dunia pendidikan di Indonesia di masa mendatang Dengan adanya perkembangan teknologi informasi dalam bidang pendidikan maka pada saat ini sudah dimungkinkan untuk diadakan belajar jarak jauh dengan menggunakan media internet untuk menghubungkan antara mahasisiw denagan dosennya, melihat nilai mahasiswa secara online, memngecek keuangan, melihat jadwal kuliah, mengirimkan berkas tugas yang diberikan dosen dan sebagainya, semuanya itu sudah dapat dilakukan. Pendidikan jarak jauh telah merupakan alternatif pendidikan yang cukup digemari. Metoda pendidikan ini diikuti oleh para mahasiswa, karyawan, eksekutif, bahkan ibu rumah tangga dan orang lanjut usia (pensiunan). Setiap pembahasan tentang masa depan senantiasa mengandung ketidakpastian, tak terkecuali pembahasan pendidikan masa depan. Kecendrungan yang diidentifikasikan berikut ini merupakan ramuan dari berbagai sumber (miarso,1990) namun belum merupakan ramuan yang komprehensif. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 297
  • 1. Belajar Menyelidik Yaitu meliputi kemampuan seseorang dalam menggunakan proses dan prosedur yang intelektual, untuk memecahkan masalah akademis maupun praktis yang dihadapinya. Prinsip ini dalam pelaksanaannya dicerminkan dengan berkurangnya penjelasan atau ceramah dari guru, dan dengan meningkatnya kegiatan meneliti baik secara mandiri maupun kelompok oleh peserta didik. 2. Belajar Mandiri Yaitu berupa pengarahan dan pengontrolan diri dalam memperoleh dan menggunakan pengetahuan. Kemampuan ini penting karena keberhasilan dalam kehidupan, akan diukur dari kesanggupan bertindak dan berpikir sendiri, dan tidak tergantung kepada orang lain. 3. Belajar Sendiri Bentuk pertama telah dikembangkan dalam sistem PAMONG , PPSP, SMP terbuka, Universitas Terbuka dengan digunakannya modul belajar. Bentuk kedua pernah dikembangkan dalam sekolah laboratorium IKIP malang yang dipimpin oleh Prof. Dr. S.Pakasi. 4. Belajar Struktur Bidang Studi Mempelajari struktur ini dapat dilakukan melalui pemahaman konsep, prinsip, prosedur da model teoritik. Cara ini akan lebih ekonomis dan praktis. Dengan menguasai struktur fakta dan informasi selanjutnya dapat disimpan dalam berbagai macam sarana bantu yang dapat diambil kembali sewaktu – waktu diperlukan. 5. Belajar Mencapai Penguasaan Prinsip ini berasumsi bahwa setiap peserta didik mampu menguasai apa yang dipelajarinya. Penguasaan atas tujuan ini merupakan standar bagi semua peserta didik, dengan ketentuan bahwa tiap peserta didik mendapat tugas yang sesuai dengan kemampuannya, serta bahwa kepada mereka itu dapat disediakan bahan, waktu, dan bimbingan yang diperlukan untuk keberhasilannya. Dengan prinsip ini maka peranan utama guru adalah Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 298
  • mengelola kegiatan belajar peserta didik dan memberikan bimbingan yang diperlukan. 6. Pendidikan Untuk Perkembangan Kepribadian Perkembangan ini merupakan perkembangan segala aspek kepribadian secara utuh, bukan hanya menekankan pada aspek koqnitif saja melainkan pula keyakinan, minat, dan nilai yang membentuk pribadi seseorang. 7. Mengutamakan Kepentingan Peserta Didik Perlu diadakan berbagai macam kemungkinan, dan disediakan kemudahan untuk mengikuti salah satu kemungkinan itu disebabkan kondisi dan karakteristik masing-masing peserta didik yang berbeda. Misalnya, bagi peserta didik yang tinggalnya di daerah terpencil dan terisolasi atau mereka yang karena alasan fisik, sosial dan ekonomi tidak dapat mengikuti pendidikan reguler, harus dapat diberikan program pendidikan kompensatoris, dengan derajat dan pengakuan yang setaraf dengan program regular. 8. Pesebaran Waktu pendidikan itu berlangsung sepanjang waktu, terutama waktu jaga setiap orang. Dalam suatu sistem pendidikan hendaknya keterpaduan antara pendidikan di dalam sekolah dan di luar sekolah, sehingga perolehan suatu kemampuan tidak hanya dibatasi dan dihargai sewaktu seseorang bersekolah, atau didasarkan pada ijazah atau tanda tamat belajar. 9. Persebaran Tempat Pendidikan itu pada dasarnya dapat berlangsung dimana saja, namun bilamana dikehendaki agar pendidikan itu terarah dan terawasi perlu ditata terlebih dahulu bentuk kelembangaan dan tata caranya.penataan ini tidak harus dilakukan secara formal dalam suatu bentuk perundingan khusus, melainkan dapat pula berkembang sebagai suatu kebiaasaan dalam masyarakat . 10. Keanekaragaman Sumber Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 299
  • Guru hanyalah salah satu sumber insani, dan disamping itu maih ada lagi sumber non insani. Sumber-sumber insani ini harus pula dilengkapi dengan sumber non insani berupa lingkungan, alat, media, dan sebagainya. 11. Diferensiasi Peranan Guru harus berbagi peranan dengan orang lain yang mempunyai tugas dan fungsi khusus. Semua orang tergabung ke dalam suatu tim instruksional, dan masing-masing orang di samping mempunyai keahlian dalam bidang tanggung jawabnya, juga memahami perananya. 12. Ekonomi Pendidikan Pendidikan sebagai suatu proses menciptakan hasil, tidak mungkin terbebas dari pertimbangan ekonomi. Ditinjau dari segi anggran, komponen pembiayaan untuk guru merupakan jumlah yang terbesar, oleh karena itu harus bisa digunakan seefisien dan seefktif mungkin. 13. Pendekatan Ilmiah Pendidikan merupakan kepentingan semua orang. Tetapi itu tidak berarti bahwa pendidikan itu merupakan ―common sense‖ yang dapat dimengerti dan diketahui oleh orang awam. Pendidikan sebagai suatu disiplin keilmuan berkembang sesuai dengan perkembangan daya pikir, keadaan dan kebutuhan manusia. Dalam Teknologi Pendidikan terdapan gejala-gejala dalam perkembangnya, salah satunya dalam bidang garapa teknologi pendidikan. Adpaun gejala tersebut ialah : 1. Adanya orang-orang belajar yang belum memperoleh perhatian yang cukup tentang kebutuhannya, kondisinya, dan tujuannya. Untuk masa mendatang diharapkan dengan perkembangan teknologi pendidikan ini orang tua mampu mengenal karakteristik, kebutuhan, dan tujuan anak mereka dalam memperoleh pendidikan. 2. Adanya sibelajar yang tidak cukup memperoleh pendidikan dari sumber-sumber sedekala (tradisional), dan karna itu perlu dikembangkan dandigunakan sumber-sumber baru. 3. Adanya sumber-sumber baru berupa orang (misalnya penulis buku ajar dan pembuat media Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 300
  • instruksional), isi pesan (yang tertulis dalam buku, tersaji dalam media, dan sebagianya), bahan (misalnya buku, dan perangkat lunak televisi), alat ( pesawat televisi dan sebaginya), cara – cara tertentu dalam memanfaatkan orang, pesan, bahan dan alat, serta lingkungan tempat proses belajar itu berlangsung(AECT, 1986). 4. Adannya kegiatan yang bersistem dalam mengembangkan sumber0sumber belajar itu yang bertolak dari landasan teori tetentu dan hasil penelitian, yang kemudian dirancang, dipilih, diproduksi, disajikan, diguankan, disebarkan, dinilai, dan disempurnakan. 5. Adanya pengelolaan atas kegiatan belajar yang memanfaatkan berbagai sumber, kegiatan mengahasilkan dan atau memilih sumber belajar, serta orang dan lembaga yang terlibat langsung dalam kegiatan-kegiatan tersebut. Hal ini dilakukan agar kehiatan lebih berdaya guna, berhasil guna dan produktif. Dalam menghadapi masalah internal pendidikan dan tantangan masa depan, sebenarnya pemerintah sudah menyadari perlunya kebijakan dan strategi pengembangan pendidikan yang bersifat inovatif, yaitu tidak terkait dengan tradisi yang ada. Dapat kiranya diramalkan arah kecendrungan pendidikan mendatang secara umu adalah sebagai berikut: a. Pendidikan terbuka dengan modus belajar jarak jauh akan menjambah pendidikan yang berada di luar jangkauan pendidikan tatap muka konfensional yang bersifat klasikal. b. Lembaga-lembaga pendidikan atau latihan yang mempunyai satu kepentingan untuk memanfaatkan sumber-sumber secara bersama akan berkolaborasi dalam suatu jaringan pendidikan jarak jauh. c. Pendidikan profesi dan politeknik secara bertahap akan memanfaatkan kemampuan jaringan email dan elibrary Untuk akses data atau informasi yang bersangkutan. d. Daerah – daerah pelosok jauh dan terpencil secara bertahap melalui kantong-kantong eksprimentasi akan diperkenankan dengan penggunaan teknologi yang tepat guna e. Penggunaan CD ROOM multimedia dalam pendidikan secara bertahap akan dapat menggantikan TV dan Radio karna sifatnya yang luwes. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 301
  • Sedangkan lembaga pendidikan terutama perguruan tinggi sejumlah pilihan alternatif untuk memanfaatkan Teknologi Komunikasi dan Informasi sebagai berikut : A. Perpustakaan Elektronik Merupakan arsip buku-buku dengan dibantu teknologi informasi dan internet dapat dengan mudah mengubah konsep perpustaan yang pasif menjadi lebih agresif dalam berinteraksi dengan penggunanya. B. Surat Elektronik (E-mail) Dengan aplikasi sederhana seperti e-mail, seseorang dosen, pengelola, orang tua dan mahasiswa dapat dengan mudah berhubungan dengan lainnya dalam kegiatan belajar di luar kampus, mahasiswa yang menghadapi kesulitan materi dapat bertanya lewat e-mail ke dosennya. C. Ensiklopedia Diharapkan ensiklopedia di masa mendatang tidak hanya berisi tulisan dan gambar tetapi juga video audio bahkan gerakan. Data dan informasi yang terkandung dalam ensiklopedia juga telah tersedia di internet. D. Sistem distribusi bahan belajar secara elektronis atau digital Berdasarkan pengalaman selama ini yang tinggal di daerah terpencil karena keadaan gografisnya mengalami kesulitan dalam mendapatkan bahan belajar cetak (modul) E. Teledukasi Dan Latihan Jarak Jauh dalam Cyber System Penddidika dan pelatihan jarak jauh di perlukan untuk memudahkan akses serta pertukaran data, pengalaman, dan sumber daya dalam rangka peningkatan mutu dan keterampilan profesional dari sumber daya manusia di indonesia. F. Pengelolaan Informasi Perguruan tinggi sering di anggap sebagai gudangnya ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan tersebut disimpan dalam berbagai bentuk dokumen yang sebagian besar yang tercetak dalam buku, makalah atau laporan. G. Video Teleconference Keberadaan teknologi informasi videoteleconference memungkikan bagi mahasiswa di seluruh dunia utuk saling berkenalan da berhubungan satu dengan yang lainnya. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 302
  • Aplikasi Penerapan TP Pada Usia SD, SMP, SMA, Perguruan Tinggi Penerapan teknologi pendidikan dapat berwujud dalam berbagaibentuk upaya memecahkan masalah pendidikan dan pembelajaran,khususnya dalam perluasan akses dan peningkatan mutu pendidikan, yaitu: a) menerapkan prosedur pengembangan pembelajaran dalam penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), struktur dan muatan kurikulum, kalender pendidikan, silabus dan perangkat pembelajaran lain, seperti Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP); b) menerapkan prosedur pengembangan pembelajaran dalam penyusunan bahan belajar, modul, buku teks, atau buku elektronik (e-book); c) menerapkan metode pembelajaran yang lebih menekankan kepada penerapan teoriteori belajar mutakhir, seperti teori belajar konstruktivisme dan paradigma baru pendidikan lainnya; d) mengembangkan dan memanfaatkan berbagai jenis media yang sesuai dengan kebutuhan dan dengan mengindahkan prinsip-prinsip pemanfaatannya secara efektif dan efisien (Purwanto, 2005:18) dan e) mengembangkan strategi pembelajaran untuk membangun danmenemukan jati diri melalui proses pembelajaran yang aktif, interaktif,kreatif, efektif dan menyenangkan (PAKEM). Sesungguhnya pemanfaatan teknologi untuk keperluan pendidikandalam hal fungsinya sebagai media pembelajaran bukanlah merupakan hal baru. Sejarah teknologi pendidikan, khususnya pemanfaatan media massa dalam konteks pendidikan, merupakan bagian dari suatu revolusi (Cuban, 1986). Penggunaan buku, film, radio, TV dan multimedia interaktif telah menjadi harapan masyarakat sebagai sarana untuk bisa membantu memecahkan berbagai masalah proses pembelajaran dalam sistem pendidikan, merupakan upaya pemanfaatan teknologi untuk menunjang peningkatan kualitas proses belajar dan pembelajaran yang dilakukan secara tradisional. Dibandingkan dengan penggunaan media lain sebagai mediapembelajaran, Internet menjanjikan kemungkinan yang lebih lugs danmemiliki dampak yang lebih serius terhadap Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 303
  • masyarakat, balk masyarakat politik maupun masyarakat pendidikan. Sebagai contoh ialah Televisi yang sebagai media massa pemanfaatannya lebih menonjol pada aspek hiburan, walaupun sesungguhnya sebagai media massa dia juga mempunyai peran/fungsi yang lain yaitu pengawasan lingkungan, korelasi antar bagian dalam masyarakat dan sosialisasi atau pewarisan nilai-nilai (Lasswell dan Wright, 1975). Sedangkan komputer/Internet pemanfaatannya lebih luas lagi yaitu mencakup bidang-bidang pekerjaan, sekolah (pendidikan), permainan/hiburan dan perdagangan balk dalam lingkup individu, lingkup keluarga, institusi maupun bisnis. Dengan demikian trend ke depan menunjukkan bahwa model-model pembelajaran yang berbasis teknologi informasi dan komunikasi atau ICT ini makin berkembang. Sistem pembelajaran yang inovatif, sebagai bentuk aplikasi konsepteknologi pendidikan, telah berhasil diciptakan dan bahkan dilembagakan dalam sistem pendidikan nasional. Sistem itu antara lain SD PAMONG (Pendidikan Anak oleh Masyarakat, Orang tua dan Guru), SD Kecil, SMP Terbuka, MTs Terbuka, SMA Terbuka, Universitas Terbuka, dan berbagai sistem pembelajaran jarak jauh yang diselenggarakan oleh berbagai lembaga Diklat, Diklat guru SD melalui Siaran Radio Pendidikan (Diklat SRP), Diklat bahasa Inggris guru SD sistem jarak jauh, Siaran Radio Pendidikan untuk Murid Sekolah Dasar (SRPM SD), IDLN, SEAMOLEC, pendidikan di rumah (Home schooling), dan lain-lain. Selain itu berbagai strategi belajar dan pembelajaran yang inovatif, sebagai bentuk aplikasi konsep teknologi pendidikan, yaitu: belajarberbasis masalah, belajar berbasis aneka sumber (BEBAS), pembelajaran elaboratif, pembelajaran yang aktif, interaktif, kreatif, efektif dan menyenangkan (PAKEM), pembelajaran berbasis teknologi informasi dan komunikasi atau ICT, seperti e-dukasi net, ASEAN SchoolNet, serial televisi ACI (Aku Cinta Indonesia =Amir Cici dan Ito), siaran Televisi Edukasi (TVE), dan lain lain . Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 304
  • Daftar Pustaka Rusjdy S. Arifin. 2005. Jejak Langkah Perkembangan Teknologi Pendidikan di Indonesia. Jakarta: Pustekkom Diknas Yusufhadi Miarso. 2004. Menyemai Benih Teknologi Pendidikan. Jakarta: Pustekkom Diknas Fred Percial dan Henry Willington. (1998). Teknologi Pendidikan. Jakarta: Erlangga Zamroni.2001.Pradigma Pendidikan Masa Depan.Yogyakarta:Bigraf Publishing Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 305
  • PENUTUP Kesimpulan Meskipun perkembangan teknologi pendidikan tampak berjalan dengan pesat, namun aplikasinya dalam pendidikan sumber daya manusia masih terbatas. Masih banyak peluang yang belum dapat dimanfaatkan. Perkembangan keahlian mengalami proliferasi sedemikian rupa, sehingga banyak orang yang merasa dirinya berkeahlian, dan kemuadian berusaha menunjukkan keahliannya itu, yang sebenarnya merupakan keahlian semu, kepada klien yang memerlukan. Tidak dapat diangka lagi bahwa perkembangan Teknologi Pendidikan telah memengaruhi seluruh pola ehidupan masyarakat bahkan budaya kita, termasuk dibidang pendidikan. Masyarakat indonesia, dalam memasuki era industrialisasi dan kemudian era informasi haruz lah melek teknologi tidak hanya dalam arti menjadi konsumen produk teknologi, melainkan pula sebagai masyarakat yang mampu menguasai dan mengembangan teknologi. Sumbangan pendidikan untuk terwujudnya masyarakat yang maju dan melek teknologi sangat penting sekali. Namun smentara itu kebijakan dan program pendidikan belum mampu memberikan respon yang memadai. Dengan adanya perkembangan teknologi informasi dalam bidang pendidikan maka pada saat ini sudah dimungkinkan untuk diadakan belajar jarak jauh dengan menggunakan media internet untuk menghubungkan antara mahasisiw denagan dosennya, melihat nilai mahasiswa secara online, memngecek keuangan, melihat jadwal kuliah, mengirimkan berkas tugas yang diberikan dosen dan sebagainya, semuanya itu sudah dapat dilakukan. Pendidikan jarak jauh telah merupakan alternatif pendidikan yang cukup digemari. Metoda pendidikan ini diikuti oleh para mahasiswa, karyawan, eksekutif, bahkan ibu rumah tangga dan orang lanjut usia (pensiunan). Saran Semoga makalah akhir ini bias bermanfaat bagi pembaca dan mampu menambah wawasan untuk kita semua. Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 306
  • PEMBAGIAN TUGAS 1. ANDRI SAPUTRA ( BAB V) 2. ROMI DWISYAHRI (BAB IV DAN BAB VI) 3. DELLA DENADA (BAB IX) 4. MUSTIKA RIZANA (BAB VIII ,COVER) 5. MENTARI ELVA (BAB VII) 6. DELLIATI (BAB I DAN BAB II) 7. SEPTA PRATIWI (BAB III) Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 307
  • DAFTAR PUSTAKA KESELURUHAN Miarso, Yusuf Hadi. 1986. Definisi Teknologi Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers. Miarso, Yusufhadi. 2011. Menyemai Benih Teknologi Pendidikan. Jakarta : Kencana Prenada Nasution.1987. Teknologi Pendidikan. Bandung: Jemmars. Nasution.2008. Teknologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. Seels, B. B., & Richey, R. C. 1994. Teknologi pendidikan definisi dan kawasanya. Washington, DC: Association for Educational Communications and Technology. Danim, Sudarwan, Media Komunikasi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995) Nasution, M.A, Prof. Dr, Teknologi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008) Sadiman, Arif, Media Pendidikan, (Jakarta: Rajawali, 1986) Sudjana, Dr. Nana, Teknologi Pengajaran, (Bandung: CV. Sinar Baru, 1989) Syukur, Drs. Fatah, Teknologi Pendidikan, (Semarang: Rasail, 2005) Arif AM, M. 2010. Teknologi Pendidikan. Kediri: STAIN Kediri Press. B. Uno, Hamzah. 2009. Perencanaan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara. Dewi Salma Prawiradilaga dan Evaline Siregar. 2007. Mozaik Teknologi Pendidikan. Jakarta: Universitas Negeri Jakarta, Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Fakultas, Fakultas Ilmu Pendidikan. Fred Percival dan Henry Ellington, 1998, Teknologi Pendidikan, Jakarta: Erlangga http://www.oocities.org/teknologipembelajaran/definisi_teknologi_pembelajaran.html http://tepenr06.wordpress.com/2011/09/27/sejarah-perkembangan-teknologi pembelajaran/ http://www.infodiknas.com/115perkembangan-definisi-dan-kawasan-teknologi-pembelajaranserta-perannya-dalam-pemecahan-masalah-pembelajaran/ Nanna Sudjana dan Ahmad Rivai.2007. Teknologi Pengajaran, Bandung: Sinar Baru Algensind Miarso, Yusufhadi., Menyemai Benih Teknologi Pendidikan, Jakarta : Pustekkom bekerjasama dengan Kencana, 2004. Suroso, Rifai., Tekhnologi Terkini, Semarang: PT. Putra Mediacom, 2001. Arifin,Zainal. (2012). Konsep dan Model Pengembangan Kurikulum. Bandung. PT Remaja Rosdakarya. Nasution. (1989). Kurikulum dan Pengajaran. Bandung. PT Bumi Aksara. Harjanto. (2011). Perencanaan Pemgajaran. Jakarta. Rineka Cipta. http://joko1234.wordpress.com/2010/03/18/model-sistem-instruksional-pembelajaran Arsyad, Azhar. 2011. Media Pembelajaran. Jakarta: Rajawali Pers Dick, W., Carey, L., & Carey, J.O. 2003. The Systemic Design of Instruction. New York : Harper Collins Publisher Inc. Hermawan, A.H dkk. 2008. Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Universitas Terbuka Peraturan Menteri No. 41 tahun 2007 tentang Standar Proses Sujarwo. 2012. Model-model Pembelajaran: suatu strategi mengajar. Yogyakarta Himpunan Peraturan Perundang-undangan. 2009. Undang-undang Sisdiknas nomor 20 tahun 2003. Bandung: Fokus Media Prawiradilaga Dewi S dan Siregar Eveline, Mozaik Teknologi Pendidikan, Jakarta : Kencana Sukardjo M dan Komarudin Ukim, Landasan Pendidikan, Jakarta : PT Raja grafindo Persada, 2010 Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 308
  • Syukur Fatah, Teknologi Pendidikan, Semarang:RaSail Media Group, 2008 Seels Barbara B dan Richey Rita C, Teknologi Pembelajaran, Jakarta:Universitas Negeri Jakarta, 1994 Warsita Bambang, Teknologi Pembelajaran, Jakarta: Rineka Cipta, 2008 Miarso Yusufhardi, Menyemai Benih Teknologi Pendidikan, Jakarta: Kencana Prenada Media Group. http://rusydinatp12.blogspot.com/2012/11/pendayagunaan-teknologi-pendidikan-di.html Miarso, Yusufhadi. (2004). Menyemai benih Teknologi Pendidikan. Jakarta Pustekkom Dikna. bekerjasama dengan Kencana Bambang,Warsita. (2008). Teknologi Pembelajaran dan aplikasinya. Jakarta: Rineka Cipta. http://iisindra.blogspot.com/2011/05/pendayagunaan-teknologi-pendidikan-di.html Rusjdy S. Arifin. 2005. Jejak Langkah Perkembangan Teknologi Pendidikan di Indonesia. Jakarta: Pustekkom Diknas Yusufhadi Miarso. 2004. Menyemai Benih Teknologi Pendidikan. Jakarta: Pustekkom Diknas Fred Percial dan Henry Willington. (1998). Teknologi Pendidikan. Jakarta: Erlangga Zamroni.2001.Pradigma Pendidikan Masa Depan.Yogyakarta:Bigraf Publishing Pengantar Teknologi Pendidikan http://romidwisyahri95.blogspot.com Page 309
  • BIODATA KELOMPOK Pengantar Teknologi Penndidikan Page 310
  • Pengantar Teknologi Penndidikan Page 311